BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.3. Hasil dan Pembahasan
4.3.4. Pola Kerja sama (corporation)
Kerjasama merupakan proses interaksi yang dapat terjadi apabila adanya kesadaran dari orang-orang bergerak untuk mencapai tujuan bersama
dan manfaat bersama. Kerjasamadapat terjadi
karenaorangperoranganterhadapkelompoknya (in-group) maupun kelompok lainnya (out-group). Kerjasama dapat menjadi semakin kuat ketika adanya ancaman dari luar, menyinggung kesetiaan personal atau kelompok akan
nilai-nilai tradisional atau institusional sudah tertanam. Ketidakpuasaan dan kekecewaan dalam jangka waktu yang lama dapat menciptakan kerjasama yang agresif.
Interaksi sosial berupa kerjasama dapat dilihat pada antara collectordan debitur berupa keringanan atau bahkan membebaskan denda keterlambatan, keloanggaran batas waktu pelunasan, waktu penagihan yangdisepakati. Seperti gambaran yang terjadi dilapangan atas nama debitur sutini, ibu sutini sudah menjalankan usaha lebih kurang 10 tahun,di samping pekerjaan sehari hari sebagai pegawai di perkebunan PTPN. Untuk memperbesar usahanya ibu sutini meminjam uang sebesar rp 100 juta untuk menambah modal usaha ternak lembu dan kambing. Dimana usaha ternak ibu sutini sebelumnya masih dalam keadaan lancar dengan penjualan hasil pembesaran dan pengembangbiakan ternak. Setelah cukup usia ternak dan besarnya ternak biasanya selalu ada saja yang datang untuk membeli ternak tersebut ke rumah ibu sutini. Baik dari pedagang daging untuk di jual ke pasar juga dari masyarakat untuk di konsumsikan. Bahkan terutama lagi pada waktu hari Qurban. Maka ternak ibu sutini banyak terjual. Dan inilah sebagai usaha tambahan diluar pekerjaan ibu sutini dengan suaminya. Pada waktu mengadakan pinjaman di bank yang sudah berjalan setengan tenor atau 18 bulan dari perjanjian kredit 36 bulan. Suami dari ibu sutini terkena stroke yang mengakibatkan terjadi kelumpuhan sebelah badan yang mengakibatkan perlunya biaya yang cukup besar untuk pengobatan. Baik itu pengobatan melalui rumah sakit juga melalui pengobatan alternatif. Dengan besarnya biaya yang dikeluarkan,maka angsuran kredit ibu sutini semakin lama semakin bertambah tunggakan bulan yang mengakibatkan terjadinya kredit macet /NPL. Didalam perjalanan kredit yang sudah macet tersebut,pihak penagih selalu datang untuk mencari solusi walaupun berat ibu sutini untuk membayar dan mengasur tunggakan kredit sampai lancar diakibatkan biaya yang selalu membebani keadaan suami yang stroke, namun ibu sutini tetap melakukan pembayaran walaupun tidak sesuai lagi dengan besarnya tunggakan yang sudah berjalan. Dalam hal ini pihak penagih dengan sabar tetap berkunjung ke rumah ibu sutini walaupun mengetahui keadaan yang sudah menimpa ibu sutini dan tetap menerima angsuran bulanan walaupun angsuran bu sutini sudah mencapai 5 bulan tunggakan.
Setelah berjalan 5 bulan kemudian, stroke yang diderita suami dari ibu sutini lambat laun semakin membaik dan tidak memerlukan biaya lagi, sehingga penghasilan bu sutini kembali lagi mulai lancar.dan usaha ternak bu sutini semakin bertambah lagi. Karena merasa malu dengan tunggakan yang sudah mencapai 5 bulan sementara ibu sutini setiap bulannya hanya mampu membayar 1 bulan. Maka pada saat ternak lembu ibu sutini sudah saatnya di jual, bu sutini meminta kepada pihak bank untuk melunasi hutangnya tapi dengan memohon agar bunga dan denda kredit tidak dibebankan lagi. Dalam hal ini pihak bank memberikan permohonan ibu sutini dengan alasan situasi keadaan debitur yang tidak mampu lagi untuk membayar. Maka ibu sutini melunasi sisa hutangnya dengan hanya membayar hutang pokok yang ada tanpa membebani bunga dan denda.
Bagi penagih/collector sebagai orang yang bertugas untuk menyelesaikan tunggakan debitur harus selalu sabar dan menghargai kondisi situasi ekonomi debitur karena membayar hutang juga memerlukan waktu untuk memulihkan kondisi usaha. Dan tugas seorang collector juga harus sesuai dengan prosedur yang harus dijalankan dari perusahaan dengan menggunakan sikap prilaku dan budaya yang harus di jalankan sesuai aturan yang ditetapkan. dalam hal ini juga kita melihat bahwa bank sebagai kapitalis juga mempunyai rasa humanis terhadap debitur yang sudah tidak mampu membayar. Walaupun di satu sisi juga untuk membersihkan kredit macet yang masuk dalam daftar hitam.
Lebihn lanjut Charles H. Cooley menjelaskan mengenai kerjasama adalah sebagaiberikut:
“Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaanmempunyaicukuppengetahuandanpengendalianterhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut;
kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerja sama yangberguna”.
Interaksi yang yang terjadi antara collectordan debitur menunjukkan kerjasama dalampenyelesaiantagihanhutang, yang tujuan juga membantu
debitur dan di sisi lain juga berupaya mendapatkan nilai tagihan semaksimal mungkin dari sudut pandang collector.
4.3.5. Akomodasi(accomodation)
Akomodasimerujuk pada suatu keadaan adanya keseimbangan dalam interaksi orang-perorangan atau kelompok-kelompok kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat.
Akomodasi merupakan upaya manusia untuk mencapai kesetabilan dengan meredakan pertentangan. Ketikacollector melakukan penagihan kepadadebiturmelalui kunjungan langsung ke rumah maupun ke tempat usaha, dalam hal inicollectormelakukanupaya pendekatandengancaraakomodasiini.
Karena beragamnnya karakter debitur untuk menghindari kesalahpahaman dan ketegangan maka debt collector melakukan akomodasi.
Lebih lanjut faktor budaya dan etnisitas juga sangat sangat mempengaruhi interaksi collector-debitur yang terjadi. Sebagai contoh debitur etnisBatak Toba, cenderung berkarakter keras, merasa dipihak yang benar, hukum
dianggap lemah,
mementingkanurusanpribadinyasendiri.Berikuthasilwawancaradengan bapak M. Cholis( nama samaran ) selakudebitur :
“Saya gak mau membayar kalo cara yang dipakai tidak sopan, sayasudahbilangkalauhariinisayatidakadauang,kalaumaubulan
depansayaakanmembayardankalautidakmauyajanganmemaksa, saya kan sudah bilang saya tidak ada uang. Sebenarnya kalaubilang baik-baik kan enak jangan datang menagih utang dengan marah- marah, itu bukan cara menyelesaikan masalah tapi menambah masalah, masalah saya sudah banyak mikirin bayar anak sekolah, usaha saya, malah anda menambah masalah, kalau emang saya ada uang pasti saya akan membayar.”
Di antara debt collector terkadang ada persaingan untuk mendapatkan nilai tagihan yang merupakan prestasi kinerja. Demikian juga debitur menunjukkan adanya persaingan bidang usaha di antara debitur. Berikut
adalah beberapa bentuk persaingan yaitu sebagai berikut:
a) PersainganEkonomi terjadi karena adanya keterbatasan barang dibandingkan dengan permintaan konsumen.
b) Persaingankebudayaan terjadi ketika adanya perdagangan yang melibatkan dua atau lebih unsur budaya yang berbeda.
c) Persaingan kedudukan danperanan menyangkut adanya keinginan untuk memperoleh posisi yang terpandang di dalam masyarakat.
d) Persainganrasbiasanya juga terkait dengan kebudayaan, hanya saja ras menyangkut asal dan keturunan manusia atau suatu kelompok dalam masyarakat. Beberapa ras yang berbeda dapat berbagi suatu kebudayaan yang sama.
Persaingan antara debitur untuk meningkatkan usahanya mau-tidak mau harus bekerjasama dan akomodatif terhadap collector, hanya dengan demikian maka ada kemungkinan debitur untuk melakukan penambahan modal. Ketika debitur tidak akomodatif maka akan kesuilan untuk memperoleh pinjaman sehingga tidak dapat bersaing diantara sesama debitur.
Demikian wawancara dengan debitur ibu Suparmi ( nama samaran ) : Sayamelakukanpinjamankembalidibankbtpnkarenainginmena mbah modal usaha, apalagi sekarang mendekati bulan puasa biasanaya klo di bulan puasa banyak orang yang belanja di pasar turi untuk membeli pakaian. Penjual pakaian dipasar turi sangat banyak sehingga saya harus berani bersaing dengan pedagang lain.
Makanya saya dengan
pihakbankharusmenjalinkerjasamayangbaikdengancaratidaksampe terlambatdalammelakukanpembayaranangsuran.Kalausayatidakbisa membayarkekantorbiasanyasayateleponpihakbankdandebt collector yang mengambil ke sini. Sebenarnya tempat usaha saya dekat dengan kantor Bank X tapi kalau saya lagi repot ya saya suruh pihak bank ambil ke tempat usahasaya.
4.3.6. Kontravensi(kontravention)
Kontravensi merupakansikapmentalyangtersembunyiatas orang lain atau atas unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Kontravensi merupakan bentuk prosessosial di antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian.
Adanya kontravensi dapat dilihat melalui oleh adanya tanda-tanda ketidakpastian tentang diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, keraguan terhadap kepribadian seseorang. Situasi kontravensi bisa terjadi pada collector dalam melakukan penagihan kepada
debitur.Pada suatu titik
kontravensidapatberubahmenjadikebencian,tetapibelummenjadipertentanganat aupertikaian. Sebagai contoh adalah situasi dimana kedatangan collector membuat malu keluarga dan tetanggadebitur, namun tidak sampai terjadi pertikaian danpertentangandiantara mereka.Berikutwawancaradengannama samaran bapakHernandes seorang pengusaha toko baju di pasar Delitua yaitu:
“Sebetulnya saya tidak merasa nyaman ketika rumah saya didatangi debt collector ke rumah karena saya malu dengan ibu saya dan tetangga saya, padahal saya hanya kurang satu juta lima ratus ribu sayamerasadikejar-kejarolehdebt collector.Padaawalsayamerasa malu tapi lama-kelamaan sudah biasa karena ya emang saya masih belum ada uang ya saya hanya membuat janji aja kepadadebt collector. Pada awalnya ibu saya kaget dengan kedaatangan debt collector ke rumah untuk menagih hutang, dikira oleh ibu, saya mempunyai hutang yang banyak setelah saya member penjelasan ke ibu akhirnya ibu saya merasatenang”.
Menurut Leopold Von Wiese dan Howard Becker kontravensi ada 5 macam yaitu:
1) Yang umum meliputi perbuatan-perbuatan seperti penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalang haling, protes, gangguan-gangguan, perbuatan kekerasan, dan mengacaukan rencana pihaklain;
2) Yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang lain di muka
umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca, mencerna, memfitnah, melemparkan beban pembuktian kepada pihak lain, dan seterusnya.
3) Yang intensif menyangkut penghasutan, menyebarkan desas-desus, mengecewakan pihak-pihak lain danseterusnya.
4) Yang rahasia, umpamanya mengumumkan rahasia pihak lain, perbuatan khianat, danseterusnya,
5) Yang taktis, misalnya mengejutkan lawan, mengganggu atau membingungkan pihak lain, umpama dalam kampanye partai-partai politik dalam pemilihanumum.
4.3.7. Pertentangan (pertikaian atauconflict)
Sebagaimana kita ketahui bahwa pertentangan atau pertikaian adalah merupakan proses sosial ketika seorang individu atau sejumlah kelompok berusaha untuk mencapai tujuannya melaluipenentangan pada pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Dimana tujuan tersebut
yang dilakukan dalam tindakan
pribadimaupunkelompokmenyadariadanyaperbedaan-perbedaan misalnya dalam ciri-ciri badaniah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, dan seterusnya dengan pihak lain. Ciri tersebut dapat mempertajamperbedaanyangadahinggamenjadisuatupertentanganatau
pertikaian (conflict).
Perasaan memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaan-perbedaan tersebut sedemikian rupa sehingga masing-masing pihak berusaha untuk menghancurkan. Perasaan tersebut biasanya berwujud amarah dan rasa benci yang menyebabkan dorongan-dorongan untuk melukai atau menyerang pihak lain, atau untuk menekan dan menghancurkan individu atau kelompok yang menjadi lawan. Penyebab pertentangan antara lain adalah:
1. Perbedaan antaraindividu-individu, baik itu perbedaan perasaan maupun pendirian yang berbeda.
2. Perbedaankebudayaan, adanya perbedaan pola-
3. polakebudayaanyangmenjadilatarbelakangpembentukandan
perkembangan kepribadian tersebut. Seorang secara sadar maupun tidak sadar, sedikit banyaknya akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya. Selanjutnya, keadaan tersebut dapat pula menyebabkan terjadinya pertentangan antara kelompokmanusia.
4. Perbedaan Kepentingan, di antara individu atau kelompok juga bisa menjadi penyebab pertentangan. Kepentingan tersebut terdiri atas kepentingan ekonomi,politik,danlainsebagainya.
4.3.8. Kredit dalam perspektif Ekonomi Kapitalis
Menarik memahami pola interaksi sosial dalam sistem perbankan terhadap debitur pada umumnya. Bila dikaji dari hubungan debitur dengan pihak Bank secara implisit, bank sebagai pemberi dan penagih selalu mendapatkan profit dari setiap debitur. Padahal bila dianalisis lebih mendalam, kredit yang diberikan kepada debitur berasal dari uang nasabah itu sendiri atau orang lain. Bank dalam hal ini sebagai pihak pengelolah “uang” dan kemudian diberikan kepada debitur dengan membayarkan sejumlah bunga sesuai yang sudah ditetapkan.
Sebagai lembaga keuangan, bank memegang peran penting sebagai perantara dalam menghimpun dana dan mendistribusikan dari dan untuk masyarakat, baik dalam bentuk tabungan maupun pemberian kredit. Sebagai lembaga perantara antara penabung dan peminjam, bank dapat berfungsi ganda, yaitu sebagai debitor dan juga kreditor.
Bank berstatus debitor bila berhadapan dengan penabung, karena bank harus memenuhi prestasinya dalam bentuk pembayaran bunga (bank konvensional) dan bagi hasil (bank syariah) dalam waktu yang telah disepakati.
Sebaliknya bank dapat berstatus sebagai kreditor dan berhak menerima prestasi dalam bentuk pembayaran cicilan hutang baik terhadap pokok dan bunganya dari peminjam (debitur) sebagai akibat dari suatu perjanjian pembiayaan.
Salah satu sumber dana bagi bank adalah dengan menyalurkan kredit kepada masyarakat, baik perorangan maupun badan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif atau kebutuhan produktif. Itulah sebabnya,
setiap orang atau badan usaha yang ingin meningkatkan kebutuhan konsumtif atau produktifnya tetapi tidak memiliki modal yang cukup, sangat memerlukan pendanaan dari bank, antara lain dengan cara meminjam kredit. Sebenarnya, dana yang disalurkan oleh bank kepada masyarakat dalam bentuk kredit tersebut bukanlah dana milik bank sendiri tetapi dana yang berasal dari masyarakat yang menyimpan uangnya di bank tersebut. Sehingga penyaluran kredit harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian (prudence) sebagai salah satu prinsip dasar dalam etika bisnis (Wilamarta, 2007:49).
Dalam penelitian ini dapat dideskripsikan secara kritis rentetan interaksi sosial dalam sistem kredit di perbankan. Sistem Kredit melalui pinjaman kepada debitur, dikenakan bunga uang sesuai dengan ketentuan perbankan, sekalipun dapat proses pembayaran kredit tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pada suatu kesempatan diskusi dengan pihak collection Devisi NPL, peneliti pernah melontarkan suatu pertanyaan mendasar tentang dampak dari mengambil kredit dari salah satu bank dimana ia bekerja. Informan x yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan sebagai berikut:
“Sejujurnya dari semua debitur yang saya kenal selama saya bekerja di Bank X hampir dipastikan bahwa debitur tidak ada yang beruntung. Bila dipersentasekan hanya 20 persen yang dinyatakan berhasil memperoleh profit dari penyaluran kredit di bank, dimana ia bekerja. Memang belum ada data valid tentang 20 persen itu, tetapi bisa saya gambarkan dalam setiap tahun. Memang pada awal meminjam, debitur merasa terbantu, tetapi itu hanya sesaat, ketika ada hal yang mendesak, tetapi hal yang paling memberatkan adalah melunasi cicilan kredit itu setiap bulannya. Perputaran modal pinjaman kredit itu, karena untungnya habis hanya untuk melunasi cicilan perbulan”.
Pernyataan ini tentu menarik untuk dikaji lebih mendalam dalam perspektif ekonomi kapitalisme konteks kredit dalam perbankan. Awalnya mulanya debitur mengajukan permohonan pinjaman di Bank X karena kekurangan modal atau ada keperluan yang sangat mendesak, setelah itu pihak bank mempertimbangkan dengan segala bentuk agunan yang ditawarkan oleh calon
debitur, hingga permohonan itu diterima dan dicairkan sejumlah uang dengan perjanjian.
Biasanya ada beberapa debitur pada pembayaran cicilan kredit pertama sampai ketiga berjalan dengan baik, tapi sering pada cicilan kredit berikutnya mulai macet. Maka mulai diberikan surat peringatan pertama sampai surat peringatan ketiga dengan segala bentuk masalah dan strategis pola-pola interaksi yang dipraktekan, hingga sampai pada penyitaan agunan kredit.
Bila dicermati pola interaksi ini, maka dapat ditemukan bahwa bank pada dasarnya tidak pernah rugi, sekalipun menghadapi kendala kredit macet, dan menghambat pertumbuhan kredit Bank X, namun ia telah mendapatkan untung, dari bunga yang sudah ditetapkan. Apa yang pernah dikemukakan oleh Nugroho (2001:2), orientasi profit sebagai tujuan individual merupakan karakteristik utama dari sistem ekonomi pasar, atau kemudian dapat dikatakan dengan jelas bahwa sistem ini merupakan bentuk ekonomi kapitalis.
4.4.Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini tidaklah sempurna baik dari segi penulisan terlebih dalam pengambilan dan analisis data. Berbagai kelemahan yang perlu saya akui adalah obyektivitas dalam penelitian. Dalam proses wawancara sering sekali arah pemikiran saya masih terkait dengan regulasi perbankan dalam sistem kredit, apalagi sudah lama berhenti mempelajari studi sosiologi. Terlebih lagi dalam proses wawancara, kadang-kadang dipengaruhi oleh mindset seorang karyawan bank, maka langkah yang saya lakukan berhenti sejenak dalam proses wawancara sembari melihat kembali tujuan awal, sekaligus untuk menghindari bias data.
Kemudian saya juga membandingkan pernyataan dari pihak lain untuk mengkonfirmasi pernyataan salah satu pihak sehigga data yang saya kumpulkan akan semakin valid.
Dalam proses penyajian pun, framing pola pikir yang saya kembangkan sering sekali masih sebatas regulasi, sehingga dalam proses penulisan, saya harus membaca lagi referensi tentang kajian-kajian sosiologi, sehingga pemikiran-pemikiran yang saya sampaikan sejalan dengan temuan-temuan di lapangan dari perspektif sosiologi.
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
1. Pola interaksi yang terbentuk sebagai pola interaksi mutualisme berdampak pada sistem perbankan, yang bisa membuat debitur tidak mampu membayar bunga uang tersebut, dan pada umumnya mereka hanya mampu membayar tiga bulan berturut-turut dan pada bulan selanjutnya mulai macet.
2. Interaksi sosial antara penagih dan debitur menimbulkan berbagai dinamika sosial, baik debitur yang lancar maupun tidak lancar. Dinamika sosial diinterpretasi atasrespon saat proses penagihan, sehingga pola pendekatan pada debitur tidak lancar pada orang Batak Toba dan Karo sedikit berbeda dengan pendekatan dengan Etnis Jawa Kelahiran Sumatera 3. Adanya hambatan komunikasi verbal dapat menimbulkan permasalahanyang dapat diatasi dengan penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia secara berselang-seling.
4. Dalam rangka mencegah dan meminimalisir kesalahpahaman dan ketegangandalamproses penagihankedebitur,makacollector menggunakan polainteraksiakomodasi. Dengan demikianterhindarkan dari situasi keteganan kemudian memunculkan penyelesaian.
5.2. Saran
1. Perlunya meningkatkan mentalitas yang adaptif dan kooperatif bagi collector dalam menjalankan tugasnya sehingga dapat memaksimalkan
kinerja penagihan dan menghindari risiko adanya pertentangan dengan debitur. Hal ini dapat ditingkatkan melalui berbagai progran pelatihan dan pengembangan soft skill.
2. Perlunya kesadaran bagi debitur untuk menjaga nama baik dengan kerjasama melakukan pembayaran tepat waktu. Hal ini diperlukan bagi debitur ketika akan meningkatkan usaha dengan mengajukan penambahan modal usaha melalui kredit bank.
3. Guna mengurangi kredit macet, pihak perbankan dapat menawarkan kerjasama pembiayaan secara kolektif kepada tempat kerja dan masyarakat yang mempunyai usaha-usaha kecil dan menengah sehingga mucul itikad baik yang dapat diawasi oleh pihak lain yang lebih kredibel.
DAFTAR PUSTAKA
Abdelkader Boudriga, Neila Boulila Taktak, Sana Jellouli, (2009) "Banking supervision and nonperforming loans: a cross‐country analysis", Journal of Financial Economic Policy, Vol. 1 Issue: 4, pp.286-318,
Adrienne Roberts . "Household Debt and the Financialization of Social Reproduction: Theorizing the UK Housing and Hunger Crises" In RiskingCapitalism. Published online: 20 Oct 2016; 135-164.
Aliffiati. 2014. “Interaksi Sosial Antarumat Beragama di Perumahan Bumi
Dalung Permai Desa Dalung, Kuta Utara, Badung”. Jurnal Kajian Bali, 4 (1): 169-184.
Amuakwa, Frenklin-Mensah. 2015. Determinats of non-performing laons in Ghana Banking Industry. International Journal Computaional Economics and Economentrics, 5(1):35-54.
Anthony Gidden 1984 Constitution of Society: The Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press 1984
Ardianto, Elvinaro. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung : Simbiosa Rekatam
Astuti, Nanin Koeswidi . 2017. Perbuatan Melawan Hukum Dalam Penagihan Utang Kartu Kredit Oleh Debt Collector Dan Pertanggungjawaban Bank. Tô-râ: Volume 3 Nomor 3, Desember 2017, Nanin Koeswidi Astuti, hal. 653-662
Basrowi. 2014. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Batari, Dea. 2012. Aspek Hukum Penggunaan Jasa Debt Collector Dalam Penagihan Hutang Kartu Kredit Dalam Sistem Perbankan (Studi Kasus:
Citibank). Depok: Pascasarjana Ilmu Hukum UI. (Tesis).
Bungin, Burhan. 2009. Sosiologi Komunikasi: teori, paradigma, dan diskursi teknologi komunikasi di masyarakat. Jakarta: Kencana.
Creswell, J.W., 2014. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. London: Sage Publication.
Denzin, K. Norman dan Yvonnas S. Handbook of Qualitative Research.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Doni Harfiyanto, Cahyo Budi Utomo, Tjaturahono Budi. 2015. “Pola Interaksi Sosial Siswa Pengguna Gadget Di Sma N 1 Semarang”. Journal of Educational Social Studies, 4 (1): 1-5.
Eko Siswono, 2009. “Resistensi Dan Akomodasi: Suatu Kajian Tentang Hubungan-Hubungan Kekuasaan Pada Pedagang Kaki-Lima (PKL), Preman dan Aparat di Depok, Jawa Barat”. Depok: Pascasarjana Antropologi UI (Disertasi).
Elly M. Setiadi-Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi: Pemahaman fakta dan Gejala Permasalahn Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta:
Kencana.
Florin, Bogdan,. 2014. Non-Performing Loans-Dimension of the non-quality of Bank Lending/Loans and thier Spesific Connections. Journal Theoretical and Applied Economics, 21(5):127-146.
Gaétan Breton, Marie‐Andrée Caron, (2008) "Elements for sociology of profit", Society and BusinessReview, Vol. 3 Issue: 1, pp.72-90,
Gerungan, W.A. 1996. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.
Hanudin Amin, Abdul Rahim Abdul Rahman, Stephen Laison Sondoh Jr, Ang Magdalene Chooi Hwa,(2011) "Determinants of customers' intention to use Islamic personal financing: The case of MalaysianIslamic banks", Journal of Islamic Accounting and Business Research, Vol. 2 Issue: 1, pp.22-42
Hernawan, J. 1995. Analisis Faktor-faktor Ekonomi dan Non Ekonomi Terhadap Tingkat Pengembalian Kredit Tebu Rakyat. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Hidayati, E N. 2003. Prilaku Pengusaha Kecil dan Menengah dalam Menggunakan dan Mengembalikan kredit. (Kasus Pengusaha Kecil dan Menengah Pengambil Kredit Umum Pedesaan di BRI Unit Pasar Blok A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Lubis A. Yusuf. 2014. Posmodernisme: Teori dan Metode. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Mardianingsih. 2006. Analisis Penyaluran dan Pengembalian Kredit Dana Bergulir Sebagai Modal Pendanaan Usaha Mikro di Wilayah Pembangunan Bogor Barat. Skripsi. Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Martin, Roderick. 1993. Sosiologi Kekuasaan. Jakarta: PT RajaGrasindo Persada.
Mudhoffir, A. Mughis. 2013. Teori Kekuasaan Michael Foucault: Tantangan Bagi Sosiologi Politik. Sosiologi Masyarakat, 18(1):75-100.
Muhardini, D. 1999. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengembalian Kredit Motorisasi Nelayan Di Kelurahan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Tingkat II Sukabumi, Jawa Barat. Skripsi. Program Studi
Muhardini, D. 1999. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengembalian Kredit Motorisasi Nelayan Di Kelurahan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Tingkat II Sukabumi, Jawa Barat. Skripsi. Program Studi