INTERAKSI SOSIAL NASABAH NPL (NON PERFORMING LOAN) TERHADAPPIHAK PENAGIH PADA
BANK XDI KOTA MEDAN
TESIS
OLEH
EBEN EZER PASARIBU 177047004
STUDI PROGRAM MAGISTER SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
INTERAKSI SOSIAL NASABAH NPL (NON PERFORMING LOAN) TERHADAP PIHAK PENAGIH PADA
BANK X DI KOTA MEDAN
Tesis
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sosiologi dalam Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara
OLEH
EBEN EZER PASARIBU 177047004
STUDI PROGRAM MAGISTER SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Judul Tesis : Interaksi Sosial Nasabah NPL (Non Performing Loan) Terhadap Pihak Penagih Pada Bank X Di Kota Medan
Nama Mahasiswa: Eben Ezer Pasaribu Nomor Pokok : 17704700004
Program Studi : Magister Sosiologi
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Prof. Rizabuana,M.Phil,PhD)(Drs.Zulkifli,MA)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi Dekan
(Prof.Rizabuana,M,Phil,PhD) Dr.MuryantoAmin,S.Sos,M.Si)
Tanggal Lulus : 13 Desember 2019
Telah diuji pada
Tanggal: 13 Desember 2019
______________________________________
PANITIA PENGUJI TESIS
KETUA : Prof.Rizabuana,M,Phil,PhD Anggota : 1. Drs.Zulkifli,MA
2. Prof.Dr.Sismudjito,M.Si
3. Dr.Bengkel Ginting,M.Si
PERNYATAAN
INTERAKSI SOSIAL NASABAH NPL (NON PERFORMING LOAN) TERHADAP PIHAK PENAGIH PADA BANK X DI KOTA
MEDAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sosiologi pada program studi Magister Sosiologi Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangn yang berlaku.
Medan, Desember 2019 Penulis
Eben Ezer Pasaribu
INTERAKSI SOSIAL NASABAH NPL (NON PERFORMING LOAN) TERHADAPPIHAK PENAGIH PADA BANK X
DI KOTA MEDAN
ABSTRAK
Interaksi Sosial antara debitur dan collector adalah interaksi atas dasar kerjasamaa (cooperation) bersifat simbiosis mutualisme. Kerjasama tersebut diikatkan dalam kontrak perjanjian kredit oleh pihak bank dengan membayarkan sejumlah bunga uang yang sudah ditetapkan, namun tak jarang pembayaran cicilan kredit macet, maka collector sebagai bagian dari Bank melakukan penagihan. Para collector sering mendapatkan kendala, debitur tidak ada di rumah, dan bahkan sulit dijumpai, sementara jika dijumpai di rumah, alasan debitur tidak mampu membayar, dan berbagai alasan lainnya. Oleh sebab itu, collection diharapkan mampu melakukan berbagai macam pola interaksi sosial, karena tak jarang collector mendapatkan perlawanan dan kekerasan dari pihak debitur.
Pola pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara dengan informan kunci dan informan biasa, baik itu debitur lancar, debitur tidak lancar, dan collection dari persepktif interaksi sosial. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu bank milik BUMN di Kota Medan, terutama pada devisi Kredit Mikro. Penentuan informan mengacu pada catatan laporan bulanan debitur terhadap kronologi pembayaran cicilan kredit, sehingga tidak begitu menyulitkan bagi peneliti dalam proses pengumpulan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola interaksi debitur dan collection mengalami dinamika, disebabkan oleh faktor ekonomi. Dimanika sosial umumnya debitur sulit dijumpai di lokasi dengan berbagai alasan, apalagi uang kredit tersebut digunakan untuk konsumsi, sehingga debitur kesulitan untuk melunasi cicilan kredit perbulan. Model pendekatan yang sering digunakan oleh debitur menggunakan pendekatan sosial budaya. Jika ia orang dari Etnis Batak, maka diusahakan collection yang melakukan penagihan adalah collection etnis Batak, dengan menggunakan berbagai istilah garis kekerabatan dalam struktur daliha natolu. Model pendekatan lain adalah membangun komunikasi debitur dan collection untuk menemukan kendala sekaligus mencari solusi, biasanya melalui penghitungan kembali. Pada akhirnya, interaksi sosial antara debitur dan collection selalu terjadi dominasi ekonomi, yang mewajibkan debitur melunasi cicilan, karena terperangkap pada agunan yang nilainya lebih tinggi dari nilai pinjaman kredit. Maka yang perlu diperhatikan dalam pola pendekatan ini adalah penggunaan kredit pada sektor produksi, bukan konsumsi, dan ia hanya bisa didekatkan melalui pendekatan humanis.
Kata Kunci: Interaksi Sosial, Debitur, Collection, Kredit
INFLUENCE OF SOCIAL INTERACTIONS OF CUSTOMERS WITH NON PERFORMING LOANS ON DEBT COLLECTORS IN BANK X IN MEDAN
ABSTRACT
Social interaction between debtors and debt collectors is the cooperation based interaction with mutualism symbiosis. It is bound by a loan agreement to the bank by paying certain amount of money; however, bad credit often occurs that some banks send debt collectors to collect the payment. Debt collectors frequently encounter obstacles, namely, the debtor is not at home and is even difficult to meet. Meanwhile, when they manage to meet the debtor at home, the debtor give reason such as inability to pay, etc. therefore, it is expected that the collectors be capable of performing various kinds of social interactions because they frequently encounter debtors’ resistance and violence.
This research uses qualitative method and conducts interviews with key informant and ordinary informant, either debtors with good credit or with bad credit, and collectors in the perspective of social interaction. This research is conducted in one of banks belonging to BUMN (State Owned Enterprise) in Medan, particularly the Micro Credit Division. The selection of informants refers to the notes in debtors’ monthly reports concerning the chronology of their installment payment that facilitates the data collection of this research.
The results demonstrated that the interaction patterns between the debtor and debt collectors are dynamic, resulted from economic factor. The social dynamics that are generally found are that the debtor is difficult to meet at the research location using various reasons, moreover the installment payment has to be used for consumption, so that the debtors have difficulties to pay their monthly installment. The debtors frequently use social-culture approach model. If the debtor is a Bataknese, the debt collector has to be a Bataknese as well, so that they can apply kinship line in dalihanatolu structure. The other approach is to build communication with the debtor; and in case of encountering problems, the debt collector will be able to find the solution which is usually to make recalculation. Finally, the social interactions between debtors and debt collectors always result in economic domination; that obliges the debtor to settle their installment, because they are bound with the collateral which costs higher than the value of the loan. It is important to notice that the loan is used in production sector, not consumption, and the debtor can only be approached through humanistic approach.
Keywords: social interaction, Debtor, Collection, Credit
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah yang maha pengasih, yang dengan berkat-Nya masih memberi kesehatan serta kesempatan untuk menyelesaikan penulisan tesis ini. Perjalanan panjang proses penulisan tesis ini cukup membuat penulis hampir patah arang, namun dengan semangat dan dukungan dari keluarga dan teman-teman, akhirnya tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Muryanto Amin,S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Bapak Prof. Rizabuana Ismail, PhD, pembimbing utama sekaligus ketua prodi Magister Sosiologi, Bapak Drs. Zulkifli, M.A., selaku pembimbing dua yang sangat memberikan bantuan, semangat, gagasan serta dorongan dalam penulisan tesis ini. Bapak Prof.Dr.Sismudjito,M.Si dan Bapak Dr.Bengkel Ginting.M.Si sebagai penguji tesis yang telah memberikan kriktik yang membangun, saran dan masukan untuk perbaikan tesis ini. dan Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan berkontribusi dalam penulisan tesis ini, yaitu Dr. Fikarwin Zuska, M.A., sebagai dosen, sekaligus dosen diskusi dan Bapak Drs. Henry Sitorus, M.Si sebagai sekretaris Magister Sosiologi yang telah banyak memberikan masukan selama awal penulisan sampai dengan saat ini. Segenap dosen, staff dan seluruh pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penghargaan dan ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada orangtua saya, isteri saya Hamida Hernawati Sihombing serta anak belahan jiwa
saya,Celina Benita br. Pasaribu dan Raisa Beatrice br. Pasaribu yang menjadi penyemangat dalam penulisan tesis ini. Terima kasih pula saya haturkan kepada rekan-rekan sesama karyawan Bank Mandiri wilayah Medan yang telah memberi semangat kepada saya dalam menyelesaikan tesis ini.
Tak lupa pula kepada Rekan-rekan almamater dan teman-teman seangkatan yaitu : bang Donal,Slamet Haryono, Rita, Ismail, Septi, Santi, Jeni yang selalu terus memberikan dorongan dan semangat saya dalam menyelesaikan tesis ini.
Penulis menyadari tidak luput dari kesalahan baik dalam informasi maupun sistematika penulisan. Untuk itu saya berharap sumbangan kritikan dan saran yang membangun untuk perbaikan tesis saya.
Medan, Desember 2019
Penulis
Eben Ezer Pasaribu
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... ... i
ABSTRACT... ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR BAGAN, GRAFIK, DAN MATRIKS ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ……… 1
1.2. Rumusan Masalah………..… 15
1.3. Tujuan Penelitian……….….. 15
1.4. Manfaat Penelitian ……….……... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu ... 17
2.2. Landasan Teoti Interaksi ... 21
2.2.1. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial ... 25
2.2.2. Jenis-Jenis Interaksi Sosial ... 26
2.2.3. Teori Resistensi ... 26
2.3. Pola komunikasi Collector dengan pelanggan ... 28
2.4. Konsep kredit dalam Perbankan ……… ... 29
2.4.1. Manfaat dan Prinsip kredit ……... 30
2.4.2. Penggolongan Kolektibilitas Kredit ……… 31
2.5. Faktor-Faktor Penyebab Pembiayaan Bermasalah …….… 34
2.5.1. Character Buruk ………... 34
2.5.2. Capacity Rendah ……….. 35
2.5.3.Collateral tidak mencukupi ……… 35
2.5.4. Capital tidak memadai ……….….... 35
2.5.4. Condition of Economy tidak mendukung ………... 36
2.6. Konsep Penelitian ………... 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian ... 38
3.2. Lokasi Penelitian... 38
3.3. Informan Penelitian ... 39
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 40
3.4.1. Observasi ... 40
3.4.2. Wawancara ... 40
3.4.3. Dokumentasi ... 41
3.5. Analisis Data ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 4.1. DeskripsiUmum Tentang Bank X ... 44
4.1.1. Perkembangan Bank X ... 44
4.1.2. Kode Etik Collection ... 48
4.1.3. Sistem Jerja Devisi Collection ... 49
4.4.4. Deskripsi Jabatan PT.Bank X ... 51
4.1.5. Aspek Kegiatan Perusahaan... 52
4.1.6. Fungsi Bank X ... 52
4.1.7. Tugas Bank X ... 53
4.1.8. Jumlah Debitur ... 53
4.1.9. Jenis Produk Kredit Mikro ……….………. 53
4.2. Karakteristik Informan ………..……. 54
4.2.1. Karakteristik Debitur ……….... 54
4.2.2. Karakteristik Penagih Utang (collector) ………..…... 59
4.2.3. Karakteristik Karyawan di Bank X ………..………. 62
4.3. Hasil dan Pembahasan ……… 63
4.3.1. Interaksi Pemberian Kredit ………..…. 66 4.3.2. Interaksi Kultural Perbankan ………..….. 95
4.3.3. Pola Komunikasi Collector ………..……. 69
4.3.4. Pola Kerja sama (corporation) ………..…. 71
4.3.5. Akomodasi (accommodation) ………..…. 74
4.3.6. Kontravensi (contravention) ………..….... 76 4.3.7. Pertentangan (pertikaian atau conflict) ……….. 77 4.3.8. Kredit dalam perspektif Ekonomi Kapitalis ………... 78 4.4. Keterbatasan Penulis ………..…..………….. 81
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan………. 83 5.2. Saran ………..….. 84
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
Tabel 1.1. Tabel Hasil Observasi Kredit Macet dan Lancar Bank x ... 9 Tabel 5.1 Tabel Daftar Jenis usaha tahun 2019 ………. 58
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
Gambar 1.1. Kredit bermasalah PT Bank X ... 7
DAFTAR BAGAN, GRAFIK, DAN MATRIKS
Daftar Judul Halaman
Bagan 3.1. Konsep Penelitian ... 37
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Setiap manusia selalu berkeinginan untuk berinteraksi. Interaksi sosial timbul karena manusia selain sebagai makhluk individual, juga merupakan makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individual mempunyai dorongan atau motif untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri, sedangkan manusia sebagai makhluk sosial mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Dorongan atau motif sosial inilah yang mendorong manusia untuk mencari manusia lainnya untuk mengadakan hubungan atau mengadakan interaksi sosial (Sandstrom, 2014).
Kecenderungan manusia untuk berhubungan dengan orang lain, mendorong terjadinya komunikasi dua arah yang mengandung aksi dan reaksi (Fatnar & Anam, 2014). Aksi dapat diartikan suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan seseorang, sedangkan reaksi adalah suatu respon terhadap keberadaan orang lain. Tanpa adanya aksi dan reaksi, maka interaksi sosial tidak terjadi.
Interaksi sosial hanya akan dapat berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari kedua belah pihak.
Menurut Herimanto dan Winarno (2008), ada dua sifat interaksi sosial, yaitu interaksi sosial asosiatif dan interaksi sosial disosiatif. Interaksi sosial asosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang memiliki sifat positif, seperti kerja sama (cooperation), akomodasi (accomodation), asimilasi (assimilation), akulturasi (aculturation), dan paternalism, sedangkan interaksi sosial disosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang bersifat negatif, seperti persaingan (competition), kontraversi, pertikaian, pertentangan atau conflict.
Ada berbagai macam interaksi sosial yang terjadi antara penjual dan pembeli, baik itu di pasar tradisional maupun pasar modern adalah bentuk transaksi perdagangan. Interaksi sosial dapat diamati dari hubungan pemerintah pusat dan daerah mencakup isi yang sangat luas, bisa terkait dengan isu nasionalisme dan nation building, bisa pula dengan isu demokrasi nasional dan demokrasi lokal, dan oleh karena itu terkait pula dengan isu hubungan antara negara dan masyarakat. Interaksi sosial juga dapat dipahami antara Civil Society
dan State. Diantara konsep civil society yang tidak sistematik tersebut terdapat space yangharus diisi untuk terciptanya civil society, yang paling banyak diharapkan dapatmemainkan peranan mengisi ruang publik di dalam civil sosiety adalah kalangan LSMatau NGO. LSM dan NGO sebagai organisasi yang dapat menjadi sumber daya politik potensial dalam rangka menyiapkan civil society.
Menurut Aliffiati (2014), interaksi sosial bisa dipahami melalui Interaksi Antara Umat Beragama. Interaksi antarwarga perumahan Dalung Permai yang latar belakangnya beragam khususnya berbeda agama, secara umum berjalan lancar atau harmonis. Konflik yang terjadi diantara mereka dapat terselesaikan sehingga kehidupan sosial di lingkungan mereka relatif berjalan normal. Interaksi antar umat beragama di perumahan Bumi Dalung Permai terwujud dalam aktivitas interaksi yang dibangun melalui dialog.
Interaksi sosial dapat dipahami dalam konteks sosiologi ekonomi antara tauke dan petani sawit dalam hubungan patron-klien. Hubungan antara tauke dan petani sawit disini adalah hubungan ketergantungan dan kepentingan, dimana petani sawit meminjam uang kepada tauke dan tauke butuh Tandan Buah Segar (TBS), dimana masing-masing diantara mereka akan menjaga dan memelihara hubungan yang ada, kepentingan ini akan dijaga dengan sebaik-baiknya, dalam menjaga kepentingan ini mereka harus menghormati norma-norma yang ada agar hubungan yang sudah terpelihara tidak rusak begitu saja.Akhirnya hubungan yang semula hanya untuk kepentingan dan ketergantungan lama kelamaan berubah menjadi hubungan sosial (Syaputra, 2018).
Interaksi sosial pengguna gadgetdapat berguna bagi siswa dalam mengembangkan pemikiran sosial, yang berkenaan dengan pengetahuan dan keyakinan mereka tentang masalah hubungan dan keterampilan sosial (Sumantri, 2008: 48). Peningkatan jumlah penggunaan gadget serta cara berkomunikasi yang berubah serta memunculkan suatu kesenangan dalam penggunaan alat-alat teknologi guna membantu dan mempermudah aktivitas manusia, tetapi disatu sisi penggunaan teknologi yang semakin meningkat justru menurunkan intensitas hubungan individu.
Interaksi sosial sosial dapat dipahami dalam konsep hubungan industrial yang dapat diterapkan secara baik di suatu negara, belum tentu dapat diterapkan
dengan baik di negara lain. Para ahli hubungan industrial berpendapat bahwa sistem hubungan industrial yang paling tepat bagi suatu negara adalah sistem yang sesuai dengan nilai sosial budaya negara yang bersangkutan. Sistem hubungan industrial yang diyakini paling tepat dengan kondisi Indonesia adalah hubungan industrial Pancasila yang berlandaskan pada nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia. Hak berserikat dalam hubungan industrial yang diimplementasikan melalui serikat pekerja, mempunyai fungsi untuk menciptakan suatu sistem hubungan industrial dengan menitikberatkan prinsip kemitraan dan kesamaan kepentingan untuk dapat memberdayakan peran pekerja secara optimal.
Penelitian Muryanto Amin (2014), dilatari oleh munculnya para
”preman” sebagai aktor lokal di Sumatera Utara yang berperan mendukung Syamsul Arifin sebagai calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Sebagian aktor lokal itu berasal dari kader Pemuda Pancasila. Mereka mengandalkan kekerasan dan uang yang dimiliki untuk memperoleh serta memaksimalkan akses sumber daya dari pemerintah daerah. Untuk menjelaskan model relasi jaringan yang digunakan Pemuda Pancasila sebagai modal memenangkan calon gubernur yang didukung.
Model relasi yang terjalin antara Pemuda Pancasila dengan birokrasi, pengusaha, dan media cetak lokal dilakukan atas dasar hubungan yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme. Jalinan relasi jaringan tersebut dilakukan dengan cara yang beragam, saling mengait, dan penuh intrik untuk mempertahankan akses kekuasaan dan memanfaatkan sumber daya yang dikuasai.
Pemuda Pancasila tetap ingin memperoleh akses sumber daya yang dikuasai negara di tingkat lokal. Sementara, para pejabat birokrasi, pengusaha, dan pengelola media cetak lokal membutuhkan kekuatan Pemuda Pancasila untuk mempertahankan kekuasaan dan usaha mereka seperti menghindari ancaman dan menjaga keamanan di lokasi-lokasi kekuasaan dan usaha mereka.
Interaksi Sosial dalam kekuasaan antara pemerintah kota dengan pelaku sektor informal (Pedagang Kaki Lima), preman dan aparat. Dalam penelitian Siswono (2009) ditemukan bahwa kebijakan Peraturan Daerah yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Depok memunculkan berbagai respon pelaku pasar.
Kehidupan mereka teracam oleh tindakan operasi penertiban petugas Satpol PP sebagai salah satu aparat.
Penelitian Siswono (2009),hubungan-hubungan kekuasaan dalam konteks penguasaan ruang publik tersebut, seolah menjadi perebutan antara pihak PKL dengan Preman dan Aparat yang ingin melaksanakan aktivitas sehari-hari serta tugasnya, dipandang sebagai sebuah perspektif, pengetahuan, dan kekuasaan yang bebas diinterpretasikan oleh seorang peneliti Antropologi. Sikap negosiasi dan akomodasi yang dilakukan para PKL yang terjadi di trotoar bekerja terkait satu sama lain dan saling membutuhkan, menyebabkan posisi mereka semakin menunjukkan penguasaannya. Para pelaku seperti preman dan aparat yang terlibat dalam melakukan strategi negosisasi dan akomodasi merupakan praktik-praktik sosial yang menandai bekerjanya kekuasaan, karena adanya hubungan antara struktur dan agensi (Giddens, 1984).
Pola interaksi sosial juga terjadi dalam sistem perbankan yang menjadi obyek penelitian. Sistem perbankan antara debitur yang terjadi dalam hubungan saling membutuhkan. Lebih jauh lagi pola interaksi tersebut terjalin dalam hubungan dominasi dan subordinat atau kapitalisme dan marginal sebagai sifat dari kapitalisme semu. Bank dalam hal ini menyediakan uang untuk dikelolah oleh pihak kedua (subordinat), dengan bunga, sementara peminjam (debitur) menjalankan uang tersebut.
Dinamika interaksi antara kapitalisme dan debitur dalam sejarah telah menentukan signifikasi perubahan struktur sosial (ekonomi, politik, dan budaya) yang didasarkan pada sistem ekonomi uang dan ekonomi kredit. Praktik utang- piutang diperbankan menjadi salah satu bentuk dinamika sosial dalam sistem perekonomian dalam masyarakat. Pada gilirannya pokok persoalan, yang selalu
mengundang tanya jawab, mengerucut pada eksistensi sistem perbankan yang mendeterminasi kehidupan manusia modern (Rozi, 2016:129).
Pratik uang-piutang telah menghilangkan ruh kemanusiaan yang terdapat pada praktik pinjam-meminjam (barang), dan menciptakan keterasingan manusia dari kehidupannya sendiri dan masyarakat. Pada masa ini, sistem itu justru dijalankan oleh perbankan yang menganut sistem yang disebut fractional reserve (sistem dana cadangan sebagian). Karenanya bersama-sama dengan bunga, lembaga perbankan telah menjadi faktor penentu dan penggerak utama dari sistem keuangan dan perekonomian pada umumnya, yang lantas memperlihatkan sosoknya selayaknya “vampir pengisap darah” yang tak kenal belas kasihan (Rozi, 2016:136).
Dalam konteks debt based money system, pengenaan bunga (dalam utang piutang) dimana bunga tidak pernah diedarkan oleh pihak perbankan (selaku kreditur), maka suatu perekonomian (nasabah, debitur, masyarakat) mustahil secara keseluruhan dapat membayar bunga dan mengembalikan sebagai pokok utangnya. Sistem ini menciptakan situasi dimana tidak dimungkinkan semua anggota masyarakat (debitur) dapat melunasi utangnya. Ada sebagian dari mereka yang harus merelakan atau menjual asset riil (yang diagunkan) agar melunasi utang-utangnya. Mereka adalah kelompok yang kalah bersaing dalam suatu perekonomian (Rozi, 2016:138).
Sistem kredit bermasalah (utang) yang dipinjamkan ke salah lembaga perbankan, turut mempengaruhi angka pertumbuhan pendapatan di perbankan.
Menurut Boudriga, Neila & Sana (2012), cara efektif untuk mengurangi kredit macet adalah melalui penguatan sistem hukum dan meningkatkan transparasi dan
demokrasi, dari pada fokus pada masalah regulasi dan pengawasan. Menurut rilis tahun 2017 di Indonesia, ada tiga Bank Besar yang mengalami kredit bermasalah, seperti pada gambar berikut.
Sumber: PT Bank X (Persero) Tbk , Bank BNI , Bank Permata Tbk Gambar 1.1. Kredit Bermasalah Tiga Bank Besar
Kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di sektor perbankan masih menunjukkan peningkatan sepanjang semester pertama2017. Dari tiga bank besar yang telah mempublikasikan laporan keuangan per Juni 2017, dua bank mencatat kenaikan NPL.Kreditbermasalah Bank Permata pada semester pertama 2017 naik 13 basis poin (bps) menjadi 4,72 persen dari periode yang sama tahunsebelumnya.
Demikian pula kredit bermasalah Bank X juga meningkat 5 bps menjadi 3,79 persen dari sebelumnya 3,74persen. Sementara kredit seret Bank BNI justru turun 12 bps menjadi 2,83 persen dari sebelumnya 2,95 persen.Meskipun mencatatkenaikan kredit bermasalah, ketiga bank tersebut berhasil mencatat pertumbuhan laba dalam enam bulan pertama tahun ini. BankPermata pada paruh
pertama tahun ini mampu mencatatkan laba Rp 620,57 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnyarugi Rp 835,67 miliar. Kemudian Bank X mencatat pertumbuhan laba 33,65 persen menjadi Rp 9,46 triliun dari sebelumnya Rp7,08 trilun. Demikian pula Bank BNI juga menorehkan pertumbuhan laba 46,68 persen menjadi Rp 6,41 triliun dari sebelumnya Rp 4,37 triliun.
Laporan Daily Economic and MarketBank X, 24 Oktober 2017 mencatat tingginya NPL masih akan menghambat peningkatan pertumbuhan kredit.NPL tercatat mengalami kenaikan menjadi 3,05%, dari NPL bulan sebelumnyayang sebesar 3,00%. Berdasarkan sektor, NPL sektor perdagangan besar dan eceran turun menjadi 4,42% dari 4,56% pada bulan sebelumnya, sedangkan NPL sektor manufaktur mengalami kenaikan menjadi 3,70% dari 3,31%. Sementara itu NPL sektor pertambangan melonjak menjadi 8,02% dari 7,49%. Masihtingginya NPL akan menghambat perbankan mendorong peningkatan pertumbuhan kredit pada tahun ini (Mandiri, 2017).
Berdasarkan data ketiga bank di atas dan laporan khusus Kredit NPL di Bank X, ini juga menunjukkan bahwa tingkat “utang” atau kredit macet oleh debitur di bank cukup tinggi. Debitur tersebut sering dikelompokkan sebagai kelompok masyarakat yang kalah bersaing dalam ekonomi tersebut ditemukan beberapa kasus nasabah yang bermasalah, terutama di kredit ekonomi mikro, terutama ketidakmampuan membayar kembali utang-piutang di bank.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa debitur tidak mampu membayar bisa terjadi karena analisis kredit yang tidak sejalan dengan nilai agunan, atau penilaian terhadap penghasilan perbulan debitur, atau debitur mengalami sakit berat sehingga tidak mampu membayar cicilan bunga bank tersebut.
Tabel 1.1. Hasil Observasi kredit Macet dan Kredit Lancar Bank X
Kredit Data yang diharapkan
1. Kredit Lancar Debitur Bertanggung Jawab atas segala kreditnya.
Usaha debitur lancar
Ada kemauan untuk membayar
Kemampuan bayar dan niat bayar dari debitur
Penggunaan keuangan dengan baik 2. Kredit Macet Tidak ada kemauan untuk membayar
Usaha menurun
Karakter
Antara kemauan membayar dan karakter debitur
Fiktif
Atas nama pinjaman kredit
Debitur sakit/meninggal dunia
Pertengkaran/perceraian dalam keluarga
Malu
Menurut Siregar (2013), terdapat dua karakter buruk nasabah bank, yaitu:
pertama, ada niatan debitur untuk melakukan kecurangan terhadap bank, diantaranya dengan melakukan pemalsuan dokumen. Hal ini dilakukan sejak awal dijukannya pinjaman.Kedua, penyelahgunaan terjadi di tengah pembiayaan, pada awalnya berjalan normal. Atas kredit bermasalah tersebut, jika dilakukan upaya penagihan terdapat dua respon, yaitu: pertama, nasabah akan menghindari penagihan atau membayar sekedarnya setelah dilakukan upaya penekanan. Kedua, nasabah tetap tidak akan membayar, sekalipun dengan berbagai upaya tekanan dilakukan.
Banyak alasan yang kemudian dilontarkan oleh nasabah terkait dengan kemoloran pembayaran atau pun tidak dibayarnya sama sekali suatu hutang kredit oleh nasabah. Disinilah pihak bank menggunakan jasa debtcollector/pihak ketiga
untuk melakukan penagihan terhadap kemoloran pembayaran oleh nasabah, yang mempunyai kemampuan tertentu untuk mempercepat pengembalian hutang kredit yang belum terbayar tersebut dengan cara yang lebih efektif. Apabila berhasil pihak ketiga tersebut akan mendapat balas jasa tertentu dari bank, biasanya sebesar presentase tertentu dari jumlah tunggakan kredit dan bunga tertagih.
Dalam hal penagihan kredit seperti itu, secara hukum pihak ketiga yang bertugas dalam hal penagihan bertindak untuk dan atas nama kreditur. Sepanjang tindakan pihak ketiga tidak menyimpang, dari peraturan hukum, lessor pemberi kuasa tidak akan mengalami kesulitan.
Kelancaran debitur melakukan pelunasan pembayaran kredit mempengaruhi keuntungan yang diperoleh oleh lembaga pembiayaan. Selanjutnya lembaga pembiayaan ataupun perbankanmelengkapi diri dengan struktur organisasi yang bertugas untuk memastikan setiap debitur dapat melunasi hutang tepat pada waktu. Keberadaan debt collectoratau penagih hutang dalam lembaga pembiayaan atau perbankanmenjadi polemik yang perlu untuk ditelusuri lebih dalam dan dicarikan solusinya. Dalam praktiknya debt collector melakukan penagihan kepada debitur terkadang kebablasan sampai ada unsur kekerasan.
(Tony, 2013: 3).
Penggunaan jasa debt collector sebagai pihak ketiga dalam penagihan kredit macet diperbolehkan, hanya saja harus berprinsip pada kehati-hatian agar tidak menimbulkan kerugian pada konsumen, oleh sebab itu pola interaksi yang terbangun juga harus baik agar citra perbankan juga baik di mata konsumen.
Menurut Astuti (2017) dalam praktinya cukup sering para debtcollector bertindak tidak sesuai dengan etika dan aturan yang berlaku yang berlaku. Seringkali debt
collector dalam melakukan jasa penagihan hutang bekerja secara tidak profesional
bahkan kadang cenderung melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga akan menimbulkan kerugian bagi nasabah maupun bank penerbit kartu kredit, karena tidak sesuai dengan yang diharapkannya, bahkan pernah terjadi sampai masuk ranah pidana karena debt collector melakukan kekerasan kepada nasabah bank sampai meninggal dunia, atau bahkan mencabuli korban
Hasil wawancara awal dengan para nasabah terkait perilaku debt collector dalam melakukan penagihan cukup beragam, ada yang normatif ada juga yang cenderung pengarah pada pemaksaan. Beberapa tindakan yang dilakukan debt collector yang cenderung merugikan konsumen antara lain, mempermalukan
debitur pada keluarga atau tempat kerja, debt collector menelpon kerabat terdekat atau atasan debitur dan menjelek-jelekkan debitur. Debt collector juga tak jarang datang langsung ke sekitar rumah debitur dan menjelekkan pada masyarakat sekitar.Terkadang debitur juga menunjukkan karakter kurang baik kepada debt collector, yang disebabkan karena perbedaan karakteristik kesukuannya. Dengan
demikian hal ini menunjukan karaktersistik interaksi debt collector-debitur yang berbeda-beda. Debitur yang dalam keadaan bangkrut sering tidak kooperatif untukmelakukan penyelesaian tagihan hutang. Debitur yang mengalami kemajuan usahanya jauh lebih kooperatif dalam interaksi penagihan (Supriyadi, 2012: 4)
Interaksi sosial antara debt collector dengan debiturdalam proses
penagihan dimulai dengan menghubungi nasabah via telepon atas kewajibannya yang jatuh tempo. Selanjutnya surat peringatan dikirimkan oleh debt
collectorsampai tiga kali, secara bertahap. Langkah selanjutnya adalah mendatangi rumah nasabah untuk melakukan komunikasi langsung.
Pola Interaksi sosial antara debitur dengan debt collector lain halnya yang dilakukan oleh Bank Syariah Islam, Malaysia. Menurut Haniffa dan Hudaib (dalam Amin, et al. 2007), debitur harus diberikan pendekatan yang tepat sesuai dengan cara Islam. Para debitur diharapkan lebih toleran dengan debitur
dibandingkan dengan bank konvensional. Dalam keadaan tertentu, debitur berhak
menerima zakat dan utang yang dianggap sebagai amal. Selain itu, bank syariah harus menunjukkan dan berkomunikasi tentang kebijakan utang dalam laporan tahunan. Bank diharapkan mampu memberikan laporan kebijakan utang, jenis utang, dan utang yang dihapuskan jika ada.
Pada dasarnya komunikasi merupakan proses penyampaian pesan informasi kepada penerima. Dalam proses penyampaian tersebut berpeluan adanya gangguan (noise). Model komunikasi yang digunakan debt collector pada debitur melalui perrtukaran pesan dengan tujuan agar debitur melunasi hutangnya (Roberts, 2016). Jika terjadi kegagalan komunikasi secara persuasif dalam proses penagihan, maka akan dilakukan tindakan hukum berupa penyitaan barang, misalnya rumah atau kendaraan yang dijaminkan. Dalam proses penagihan, debt collector terkadang menggunakan kekerasan. Hal ini menimbulkan stigma negatif dari masyarakat terhadap debt collector. Sementara itu perusahaan perbankan mempunyai tatacara penagihan termasuk di dalamnya model komunikasi yang digunakan.
Berbagai bentuk atau model digunakan oleh pihak perbankan untuk melakukan penagihan, pada umumnya dapat disimpulkan sebagai berikut. Pihak bank melakukan negosiasi kepada debitur yang bermasalah melalui telepon, surat peringatan, kunjungan kerumah, dan sampai pada penyitaan aset sebagai agunan pinjaman, tentu dengan SOP yang terstruktur untuk menghindari dari
penyimpangan dari hukum. Ini sering sekali ditemui kendala, bahkan sering memunculkan resistensi dari pihak nasabah ketika asset dilakukan penyitaan (Florin, 2014).
Pemikiran ini sejalan dengan istilah yang dikemukakan oleh Rozi (2016:147) dengan istilah fractional reserve yang memaksa debitur untuk menghasilkan laba. Apabila debitur mengalami kerugian dalam kegiatan usaha, yang berarti tidak tercipta nilai baru, sehingga uang itu dinyatakan mengalami kegagalan dalam menjalankan fungsinya sebagai alat penyimpanan nilai, maka ia (debitur) tetap harus mengganti “nilai-fiktif” itu dengan “nilai riil’, karena uang itu terlanjur eksis, misalnya dengan penyitaan asset yang diagunkan. Sistem bungan dan fractional reserve bisa dipahami sebagai sarana bagi akumulasi capital, yang merupakan gejala utama bagi sistem ekonomi capital.
Sistem Ekonomi Perbankan sebagai sistem ekonomi kapitalisme sejalan dengan temuan Breton dan Caron (2008), sistem kapitalisme adalah profit. Ini sejalan dengan teori ekonomi klasik. Profit telah menajdi a contrario yang telah menjadi excessiveness, menjadi tanda bank yang sehat dalam sistem ekonomi kapitalisme.
Realitas ini melahirkan asumsi baru dalam penelitian ini melalui berbagai kendala yang dialami oleh bank terkait dengan debitur bermasalah sebagai aspek resistensi yang dilakukan oleh debitur terhadap kapitalisme ekonomi perbankan.
Kapitalisme ekonomi (perbankan) tidak ada istilah rugi terhadap nasabah, karena ada jaminan dari nasabah. Pihak perbankan hanya mengenal untung yang
dijalankan oleh pihak debitur. Dengan itu juga, resistensi yang dilakukan oleh debitur bukan semata-mata lari dari tanggung jawab melainkan dipahami sebagai resistensi terhadap kapitalis.
James Scott (2000) menjelaskan berbagai bentuk resistensi. Ada
perlawanan yang yang dilakukan sehari-hari, informal, dan tidak terbuka. Di sisi lain ada juga perlawanan yang dilakukan secara terbuka. Perlawanan yang
dilakukan dalam sehari-hari dapat dalam bentuk berpura-pura bodoh,
memperlambat pekerjaan, melarikan diri, pencurian, sabotase dan sebagainya.
Perlawanan model tersebut biasanya tidak terkoordinir dan tidak terencana.
Bentuk-bentuk resistensi yang dihadapi oleh pihak debt collector
perbankan terhadap debitur bermasalah ditemukan dalam salah satu Bank BUMN, tempat peneliti bekerja sehari-hari. Sebagai pihak bank dan penagih debitur sering sekali mendapatkan permasalahan yang kadang berujung pada pelaporan dan penyitaan dengan menggunakan pihak kepolisian. Sebagai akademisi, tentu harus melihat fakta sosial sebagai suatu bentuk dominasi kekuasaan kapitalisme melalui sistem perbankan. Oleh sebab itu, peneliti mengangkat topik interaksi sosial antara penagih dan debitur sebagai rangkaian resistensi nasabah bermasalah dalam kaitan dengan kapitalisme sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi
ekonomi.
1.2. Rumusan Masalah
Penelitian interaksi sosial debitur dan penagih dalam sistem perbankan, ditemukan berbagai dinamika sosial yang menyebabkan debitur tidak mampu membayar tagihan yang sudah ditetapkan. Maka diperlukan pola-pola interaksi sosial, sehingga debitur tidak lancar dapat melunasi tagihan yang sudah
ditetapkan. Pola tersebut dapat diamati dari nilai kredit, karakteristik debitur dan aspek sosial budaya yang tidak bisa dipisahkan dari pola-pola pendekatan tersebut. Oleh sebab itu, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
“Bagaimana interaksi sosial nasabah bermasalah kredit NPL terhadap pihak penagih pada Bank X di kota Medan?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara garis besar berusaha menganalisis interaksi sosial antara debitur dan penagih dari pihak perbankan dari perspektif sosiologis. Ini disebabkan oleh beberapa fenomena sosial dimana terjadi aksi kekerasan terhadap debitur atau penagih yang dilakukan oleh pihak penagih atau pihak debitur dan atau pihak ketiga (preman) ketika ada kunjungan penagihan yang dilakukan oleh bank. Oleh sebab itu, diperlukan pola-pola pendekatan sosial budaya, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pola ini kemudian diinterprestasikan dalam kajian-kajian ilmiah, sehingga ke depan ditemukan kesesuaikan dengan teori-teori sosial.
1.4. Manfaat Penelitian
Secara teoritis hasil penelitian akan memperlihatkan interaksi sosial antara debitur dan penagih dalam perbankan. Pola-pola ini akan diinterprestasikan dalam kajian-kajian sosial dengan mengamati pola komunikasi, pola sosial budaya dan karakter debitur serta resistensi. Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teroritis bagi pengembangan konsep interaksis
sosial dan teori resistensi sebagai bagian dari kajian sosiologi ekonomi yaitu analisis resistensi hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman yang luas terhadap senjata orang kalah melakukan resistensi terhadap kapitalisme ekonomi perbankan.
Untuk penelitian lanjutan, hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong peneliti lain untuk melakukan studi lanjutan atau studi komparatif tentang senjata orang kalah di dalam setiap aspek pendidikan kaum marginal. Sehingga memperkaya hasil kajian empirik, dapat studi lanjutan peneliti diharapkan dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk mengelaborasi resistensi terutama dalam ranah kekuasaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitian penagihan debitur yang bermasalah dari perspektif sosiologi masih kurang. Penelitian pada umumnya masih dari aspek hukum dan ekonomi manajemen. Untuk menyokong pembangunan nasional diperlukan peran lembaga- lembaga keuangan. Dalam rangka tersebut maka P.T. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat melakukan kegiatan-kegiatan perbankan diantaranya penyaluran dana lewat pemberian kredit. Kegiatan penyaluran kredit oleh bank mengandung resiko adanya kredit yang bermasalah. Untuk mengetahui permasalahan kredit bermasalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelamatan kredit bermasalah pada umumnya dilakukan dengan penjadwalan kembali, persyaratan kembali, penataan kembali. Akibat hukumnya adalah dilakukan perubahan klausul perjanjian kredit atau membuat perjanjian kredit baru. Dalam penyelamatan kredit ini PT. BPD SUMBAR mengalami kendala di lapangan, sebagian besar disebabkan oleh watak atau kepribadian debitur yang kurang baik (Putra, 2011).
Penggunaan jasa debt collectoroleh Bank dalam melakukan penagihan hutang sudah menjadi hal yang wajar dan telah dilakukan sejak lama. Bank Indonesia sebenarnya tidak melarang adanya penggunaan jasa debt collectortetapi penggunaan jasa ini harus sesuai dengan ketentuan yang telah diatur oleh Bank Indonesia sebagaimana yang terdapat dalam PBI No. 11/11/PBI/2009 yang telah disempurnakan dengan PBI 14/2/PBI/2012 dan SEBI 11/10/DASP. Kasus meninggalnya salah seorang nasabah Citibank yang memiliki tunggakan hutang kartu kredit akibat ulah debt collectormenunjukkan masih adanya tindakan remanisme oleh debt collectoryang melakukan penagihan hutang. Menurut pemeriksaan yang dilakukan Bank Indonesia, Citibank terbukti melakukan beberapa kesalahan yang menunjukkan bahwa Citibank tidak menegakkan peraturan yang disusun oleh Bank Indonesia terkait dengan penggunaan jasa debtcollectorsehingga Citibank dijatuhi sanksi oleh Bank Indonesia (Batari, 2012).
Penelitian Bogdan Florin (2014) mengulas mengenai studi Non Performing Loan (NPL) dengan mengacu pada analisis pinjaman yang diberikan Bank kepada Debitur. Pinjaman Bank dilakukan berdasarkan proses yang kompleks, berpusat pada prinsip-prinsip dasar kredit, dengan asumsi, pertama dan obyektif. Kelemahan Jurnal ini: masih cenderung membahas dari persepktif teori ekonomi perbankan, namun kurang mengelaborasi analisis pada kondisi debitur sehingga mengalami keterlambatan dalam Pembayaran Pijaman.
Hermawan (1995) dalam penelitiannya menyatakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh nyata dalam pengembalian kredit tebu rakyat adalah luas lahan, produktivitas usaha, penghasilan lain di luar tebu rakyat, umur, dan tingkat pendidikan petani. Sementara itu jumlah tanggungan dan jumlah musim tanam tidak berpengaruh terhadap kemampuan pengembalian kredit tebu rakyat.
Selanjutnya Sarianti (1998) menyatakan bahwa besarnya pendapatan petani plasma kelapa hibrida tidak cukup untuk membayar cicilan kredit, karena hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang ditargetkan.
Penelitian Franklin Amuakwa-Mensah (2015), secara spesifik membahas tentang kondisi perbankan di Ghana sehingga menyebabkan bank tidak berjalan semestinya. Analisis ini dengan melihat NPL, kualitas pinjaman dari tahun ke tahun, nilai tukar perkapital dan lain sebagainya. Kekurangan dalam penelitian ini belum membahas aspek sosial dari debitur sehingga mengalami kendala dalam hal pembayaran kewajiban di Bank.
Penelitian yang dilakukan Muhardini (1999) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengembalian kredit motorisasi nelayan, di antaranya adalah pengalaman usaha penangkapan, tagihan kredit dan asset. Semua variabel sosial ekonomi berpengaruh langsung terhadap kemampuan pengembalian kredit motorisasi nelayan. Variabel tersebut adalah pengalaman usaha penangkapan, umur, jarak dari rumah nelayan ke KCD, modal, aset , pendidikan formal, jumlah tanggungan, status pengusahaan kapal, frekuensi penyuluhan, tagihan kredit dan hubungan personal. Selanjutnya sebanyak 54,55 % penerima kredit motorisasi memperoleh peningkatan penghasilan, 45,45 % sisanya tidak mendapat peningkatan penghasilan.
Hidayati (2003) dalam penelitiannya menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan kredit dengan kemampuan pengembalian kredit. Dari 23 responden yang menggunakan kredit sesuai dengan usahanya, terdapat 21 responden mengembalikan kreditnya secara tertib dan lancar. Lebih lanjut umur merupakan salah satu faktor karakteristik individu yang berpengaruh terhadap kemampuan pengembalian, semakin tua umur debitur kemampuan pengembalian kreditnya semakin tidak lancar. Faktor pengalaman mengambil kredit juga berpengaruh nyata dalam kemampuan pengembalian kredit, semakin sering debitur mengambil kredit, semakin tidak lancar pengembalian kreditnya.
Berdasarkan penelitian Panggabean (2005) faktor penyebab tunggakan tidak bisa digeneralisasi, karena sangat tipikal, bervariatif pada masing-masing nasabah. Secara mendasar penyebab adanya tunggakan adalah adanya penyimpangan peruntukkan dan pengeluaran rumah tangga. Sektor usaha perdagangan adalah sektor usaha dengan resiko paling kecil, sehingga paling potensial dalam penerimaan kredit.
Mardianingsih (2006), memberikan rekomendasi terkait penyaluran dan pengembalian kredit dana bergulir sebagai berikut : pertama, kegiatan penyuluhan sebaiknya dengan metode yang tepat dan dilakukan secara rutin agar tidak terjadi penyalahgunaan pinjaman. Kedua, perlu adanya wadah pertemuan bulanan antara anggota dan pengurus. Ketiga, faktor personal seperti umur, pengalaman usaha, besaran kredit, pendapatan usaha dan jangka waktu kredit perlu untuk menjadi bahan pertimbangan dalam peberian kredit. Keempat, pelu dilakukan pembenahan instrumen pengawasan Raksa Desa. Kelima, perlu adanya penambahan tenaga pendamping lapangan.
Afitri (2007) dalam penelitiannya berkesimpulan bahwa jumlah nasabah terdapat 66,3 % nasabah dengan pola pengembalian lancar, sisanya sebanyak 33,7
% tidak lancar. Berdasarkan umur, nasabah terbanyak adalah umur 36-49 tahun adalah yang paling banyak, sekaligus pola pengembaliannya tidak lancar.
Demikian juga dengan karakteristik jumlah tanggungan keluarga, omzet usaha perbulan, penggunaan pinjaman dan frekuensi peminjaman berada pada kategori umur yang sama. Selanjutnya Sari (2007) dalam penelitiannya berkesimpulan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi Kupedes adalah aset, pendapatan, keluarga, pengalaman kredit, modal usaha dan agunan.
Taufiq (2007) dalam penelitiannya berkesimpulan bahwa karakteristik Individu debitur seperti usia produktif, tanggungan keluarga sebanyak tiga orang, berpendidikan SD dan mengikuti pembinaan saja tidaklah cukup dalam kredit kupedes sektor agribisnis, karena banyak mengalami penunggakan. Untuk mengurangi risiko penunggkan perlu dilakukan penambahan kriteria penilaian seperti kepribadian calon debitur, aksesibilitas transportasi. Selain itu dapat pula dilakukan dengan meningkatkan komunikasi dengan nasabah, termasuk diantaranya tokoh masyarakat setempat (Roberts, 2016).
Kajian-kajian penelitian terdahulu dari aspek hukum, ekonomi, dan manajemen perbankan merupakan suatu referensi bagaimana resistensi yang dilakukan oleh debitur terhadap kapitalisme ekonomi. Memang disisi lain, aspek tanggung juga merupakan hal yang penting, tetapi yang paling penting bagaimana ekonomi itu dimonopoli oleh kapitalisme. Oleh sebab itu, bentuk-bentuk resistensi yang dilakukan oleh debitur yang bermasalah merupakan kajian sosiologi ekonomi.
2.2.Landasan Teori Interaksi Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial, dimana manusia bergantung dan membutuhkan individu lain atau makhluk lainnya. Dalam hidup bermasyarakat, manusia dituntut untuk berinteraksi dengan sesama secara baik agar tercipta masyarakat yang tentram dan damai.Interaksi adalah suatu rangkaian tingkah laku yang terjadi antara dua orang atau lebih dari dua atau beberapa orang yang saling mengadakan respons secar timbal balik. Oleh karena itu, interaksi dapat pula diartikan sebagai saling mempengaruhi perilaku masing-masing. Hal ini bisa terjadi antara individu dan individu lain, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dan kelompok lain.
Menurut Gerungan (1996) secara lebih mendalam menyatakan interaksi sosial adalah proses individu satu dapat menyesuaikan diri secara autoplastis kepada individu yang lain, dimana dirinya dipengaruhi oleh diri yang lain.
Individu yang satu dapat juga menyesuaikan diri secara aloplastis dengan individu
lain, dimana individu yang lain itulah yang dipengaruhi oleh dirinya yang pertama.
Menurut Basrowi (2014) mengemukakan interaksi sosial adalah hubungan dinamis yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok, maupun orang dengan kelompok manusia. Bentuknya tidak hanya bersifat kerjasama, tetapi juga berbentuk tindakan, persaingan, pertikaian dan sejenisnya.
Menurut Partowisastro (2003) interaksi sosial ialah relasi sosial yang berfungsi menjalin berbagai jenis relasi sosial yang dinamis, baik relasi itu berbentuk antar individu, kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok.
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki perilaku yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.
Menurut Soerjono Soekanto bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, sedangkan bentuk khususnya adalah aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis menyangkut hunbungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adaanya komunikasi (Bungin, 2009: 55).
Setiap individu yang berhubungan dengan individu yang lain, baik hubungan sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok, hubungan sosial itu memiliki aspek-aspek sebagai berikut (Santoso, 2004)
1) Adanya hubungan, Setiap interaksi tentu terjadi karena adanya hubungan antara individu dengan individu maupun antara individu dengan kelompok, serta hubungan antara kelompok dengan kelompok.
Hubungan antara individu dengan individu ditandai antara lain dengan tegur sapa, berjabat tangan, dan bertengkar.
2) Ada individu, Setiap interaksi sosial menuntut tampilnya individu individu yang melaksanakan hubungan. Hubungan sosial itu terjadi karena adanya peran serta dari individu satu dan individu lain, baik secara person atau kelompok.
3) Ada tujuan, Setiap interaksi sosial memiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi individu lain.
4) Adanya hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok, Interaksi sosial yang ada hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok.
Tiap-tiap individu memiliki fungsi dalam kelompoknya. Individu di dalam kehidupannya tidak terlepas dari individu yang lain, oleh karena itu individu dikatakan sebagai makhluk sosial yang memiliki fungsi dalam kelompoknya.
Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosila yang dimaksud dapat berupa hubungan antar individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadannya oleh mereka yang menggunakannya.
Menurut H. Bonner, interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, diman kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.
Definisi ini menggambarkan kelangsungan timbal-baliknya interaksi sosial antara dua atau lebih manusia itu.
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, tanpa interaksi sosial tidak ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang- orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian dan lain sebagainya.
Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah tindakan yang bermakna terhadap sesuatu dan juga bagi manusia. Interaksi antara seseorang dengan sesamanya memberikan makna terhadap sesuatu, bersifat tidak tetap dan dapat dirubah. Perubahan atas makna tersebut terjadi karena adanya penafsiran atas sesuatu. Selanjutnya adanya kontak sosial dan komunikasi antara dua
individu atau kelompok melahirkan interaksi sosial. Ciri fisik dan penampilan menjadi sumber informasi ketika dimulainya interaksi sosial atau komunikasi atau interaksi sosial.
Ruang dalam interaksi sosial menurut Robert T. Hall dan W.I. Thomas yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik. Pada dimensi waktu menunjukkan adanya batasan toleransi yang mempengaruhi bentuk interaksi.
Selanjutnya dimensi situasi merupakan penafsiran seseorang sebelum bereaksi.
Situasi yang dimaksud didefinisikan oleh individu dan masyarakat.
2.2.1. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Soerjono Sukanto (2015) interaksi sosial terjadi hanya jika adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Kontak sosial tidak harus terjadi hubungan badaniah, orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lain melalui berbagai media seperti telepon, radio atau media lainnya. Kontak sosial memiliki beberapa sifat, yaitu kontal sosial positif dan kontak sosial negatif. Kontak sosial positif adalah kontak sosial yang mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah kepada suatu pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan kontak sosial. Selain itu kontak sosial juga memiliki sifat primer atau sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, sebaliknya kontak yang sekunder memerlukan suatu perantara.
Komunikasi tafsiran seseorang kepada orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan. Dengan adanya komunikasi sikap dan perasaan kelompok dapat diketahui oleh kelompok lain atau orang lain.
Hal ini kemudian menentukan reaksi apa yang akan dilakukannya.
Dalam komunikasi kemungkinan sekali terjadi berbagai macam penafsiran terhadap tingkah laku orang lain. Seulas senyum misalnya, dapat ditafsirkan sebagai keramah tamahan, sikap bersahabat atau bahkan sebagai sikap sinis dan sikap ingin menunjukan kemenangan. Dengan demikian komunikasi memungkinkan kerja sama antar perorangan dan atau antar kelompok. Tetapi
disamping itu juga komunikasi bisa menghasilkan pertikaian yangterjadi karena salah paham yang masing-masing tidak mau mengalah.
2.2.2. Jenis-Jenis Interaksi Sosial
Interaksi antara Individu dan Individu. Pada saat dua individu bertemu, interaksi sosial sudah mulai terjadi. Walaupun kedua individu itu tidak melakukan kegiatan apa-apa, namun sebenarnya interaksi sosial telah terjadi apabila masing- masing pihak sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan dalam diri masing-masing. Hal ini sangat dimungkinkan oleh faktor-faktor tertentu, seperti bau minyak wangi atau bau keringat yang menyengat, bunyi sepatu ketika sedang berjalan dan hal lain yang bisa mengundang reaksi orang lain.
Interaksi antara Kelompok dan Kelompok. Interaksi jenis ini terjadi pada kelompok sebagai satu kesatuan bukan sebagai pribadi-pribadi anggota kelompok yang bersangkutan. Contohnya, permusuhan antara Indonesia dengan Belanda pada zaman perang fisik. Interaksi antara Individu dan Kelompok. Bentuk interaksi di sini berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Interaksi tersebut lebih mencolok manakala terjadi perbenturan.
2.2.3 Teori Resistensi
James C. Scott (2000) mejelaskan secara gamblang mengenai perlawanan terhadap eksploitasi penguasa oleh kelompok marginal dan lemah. Bentuk perlawanan secara de facto merupakan perlawanan secara terbuka. Hasil dari perlawanan lebih nyata dan terasa, diantaranya adalah dengan berpura-pura bodoh. Petani menggunakan cara ini untuk mengalahkan dominasi orang-orang kaya yang mencoba menyerobot pekerjaan, sewa, makanan dan bunga pinjaman dari mereka yang lemah. Beberapa bentuk perlawanan model ini adalah dengan upaya memperlambat pekerjaan, melarikan diri, pencurian, sabotase dan sebagainya. Perlawanan model tersebut biasanya tidak terkoordinir dan tidak terencana. Cara-cara seperti ini terbukti efektif dalam jangka panjang justru terbukti paling efektif. Bentuk perlawanan tersebut merupakan upaya untuk menyatakan kehadiran politis kaum lemah dan tertindas. Lebih lanjut James Scoot menjelaskan bahwa perlawanan yang terjadi didominasi oleh pertarungan antar kelas dan ideologis. Pertarungan antar kelas kaya dan miskin merupakan
pertarungan simbol tentang pemaknaan terhadap masa lalu dan masa kini, bukan sebatas pertarungan tentang pekerjaan, hak milik, dan uang.
Resistensi kaum buruh dalam keseharian menjadi bermakna kultural karena merupakan manivestasi terhadap kesewang-wenangan yang dilakukan oleh pihak lain yang dianggap kuat. Perlawanan merupakan serangkaian tindakan dari anggota kelompok kelas subordinat yang ditunjukan untuk mengurangi atau menolak suatu klaim (seperti sewa, pajak, atau prestise) dari kelas subordinat (pemilik lahan, petani kaya, atau negara) atau ditunjukan untuk meningkatkan kelas sosialnya sendiri dalam kerja, tanah, sumbangan, atau rasa hormat (Scott (1990:36). Kelas sosial yang lemah atau kalah dalam menghadapi kelompok yang kuat cenderung kurang tertarik untuk melakukan perlawanan terbuka, karena mengandung risiko. Perlawanan kelas petani akan mengikuti aturan main dan sistem yang ada serta minimalisasi kerugian diri. Hal ini merupakan kritik atas model perlawanan terbuka, konfrontatif dan revolusioner.
1.3. Pola Komunikasi Collector dengan Nasabah
Pola komunikasi merupakan hubungan antara dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Djamarah, 2004:1). Pola komunikasi Collecktor menentukan keberhasilan proses penagihan terhadap debitur. Dalam komunikasi collector-debiturtersebut terjadi pertukaran simbol-simbol. Karena tingginya angka piutang yang berisiko menunggak maka melahirkan profesi collector.
Selain menggunakan jasa collector, terdapat alternatif yaitu melalui pengadilan.
Sayangnya hal ini bukan menjadi pr namun selain memerlukan waktu yang panjang, juga ada biaya tambahan yangharoritas karena memerlukan waktu yang lama dan biaya tambahan yang mungkin tidak sebanding dengan hasilnya.
Sebagai contoh kode etik collector pada Bank X dalam melaksanakan tugas penagihan adalah:
1. Selalu menggunakan bahasa positif, tidak boleh memaki, menghina, menggunakan kata-kata kasar, pelecehan dan SARA.
2. Memastikan nomor telepon debitur yang dituju benar.
3. Berhati-hati dalam melakukan penagihan terhadap debitur public expose, tinggal di komplek instansi pemerintah, perumahan mewah, mempunyai jabatan penting, dan nasabah prioritas Bank X.
4. Mencatatn informasi hasil tindak lanjut secara ringkas dan jelas dalam sistem.
Tidak menulis informasi apapun di permanent message.
5. Tidak melakukan intimidasi terhadap informan kontak darurat, atasan dll.
6. Tidak melakukan pembayaran melalui rekening pribadi.
7. Tidak membocorkan data-data yang berkaitan dengan penagihan.
Tahapan penagihan berdasar SOP-Micro Collection Departmen Bank X”
ada 5 tahap yaitu:
1. Servicing: Upaya untuk mengingatkan nasabah melalui panggilan telepon.
2. Locating: Kegiatan kunjungan ke rumah debitur atau alamat lain yang tertera untuk mendapatkan informasi.
3. Contacting: Upaya melakukan kontak kembali setelah nasabah ingkar janji mengacu pada janji yang dibuat sebelumnya.
4. Selling: Upaya meyakinkan debitur untuk melakukan pembayaran setelah adanya kesepakatan.
5. Tekanan Hukum (Legal enforcement): Merupakan tindakan hukum dan menjadi jalan terakhir ketika semua upaya penagihan sebelumnya mengalami kegagalan.
Secara umum kegagalan proses penagihan disebabkan lemahnya proses komunikasi yang digunakan oleh collector. Kegagalan komunikasi terjadi karena pada dasarnya collector menghendaki pembayaran tagihan yang maksimal, sedangkan debitur menghendaki adanya pengertian dari collector dengan kesusahan dan kondisi debitur.
1.4. Konsep Kredit dalam Perbankan
Kredit merupakan penyediaan uang berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya dalam jangka waktu tertentu, termasuk jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah sebagai berikut : “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam- meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
2.4.1 Manfaat dan Prinsip Kredit
Menurut Pudjo Mulyono (1996 : 207) manfaat kredit adalah :
1) Sumber pendapatan berupa bunga. Karena adanya pendapatan bunga maka setiap bank dapat mengembangkan usahanya.
2) Menjaga solvabilitas. Dengan kredit yang lancar dapat digunakan untuk pembayaran kembali dana dan bunga yang dipinjamkan dari nasabah.
3) Sebagai alat pemasaran produk dan jasa bank yang lain.
4) Pengembangan staf bank untuk mengenal dunia bisnis yang lain.
Martono (2002) prinsip perkreditan disebut juga sebagai konsep 6C yaitu:
1) Character.
Penilaian kepribadian calon debitur dalam hal tingkat kejujuran dan tekad baik dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya.
2) Capacity.
Penilaian terhadap kapasitas untuk melunasi kewajibannya melalui kegiatan usaha yang dibiayai dengan kredit dari bank.
3) Capital,
Penilaian terhadap modal dan penempatan distribusi modal calon debitur.
4) Collateral.
Merupakan jaminan fisik berupa harta benda yang bernilai, mempunyai nilai harga stabil dan mudah dijual.
5) Condition of Economy,
Merupakan situasi ekonomi dan politik, sosial, serta kondisi sektor usaha calon debitur.
6) Constraint.
Penilaian atas kebiasaan atau budaya yang menghambat seseorang melakukan bisnis di suatu tempat.
2.4.2 Penggolongan Kolektibilitas Kredit
Kolektibilitas adalah suatu pembayaran pokok atau bunga pinjaman oleh nasabah sebagaimana terlihat tata usaha bank berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia (BI) No. 32/268/KEP/DIR tanggal 27 Pebruari 1998, maka kredit dapat dibedakan menjadi :
1) Kredit lancar, Kredit lancar yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya tepat waktu, perkembangan rekening baik dan tidak ada tunggakan serta sesuai dengan persyaratan kredit.
Kredit lancar mempunyai kriteria sebagai berikut :
a) Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu.
b) Memiliki mutasi rekening yang aktif.
c) Bagian dari kredit yang dijamin dengan uang tunai.
2) Kredit kurang lancar Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman atau pembayaran bunganya terdapat tunggakan telah melampaui 90 hari sampai 180 hari dari waktu yang telah disepakati. Kredit kurang lancar mempunyai kriteria sebagai berikut :
a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90 hari.
b) Frekuensi mutasi rendah.
c) Terjadi pelnggaran terhadap kontrak yang telah dijanjikan lebih dari 90 hari.
d) Terjadi mutasi masalah keuangan yang dihadapi debitur.
e) Dokumentasi pinjaman lemah.
3) Kredit diragukan Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya terdapat tunggakan yang telah melampaui 180 hari sampai 270 hari dari waktu yang disepakati. Kredit diragukan memiliki kriteria sebagai berikut :
a) Terdapat tunggakan angusran pokok atau bunga yang telah melampaui 180 hari.
b) Terjadinya wanprestasi lebih dari 180 hari.
c) Terjadi cerukan yang bersifat permanen.
d) Terjadi kapitalisasi bunga.
e) Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian maupun pengikat pinjaman.
4) Kredit macet Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya terdapat tunggakan telah melampaui 270 hari.
Kredit macet mempunyai kriteria sebagai berikut :
a) Terdapat tunggakan angsuran pokok yang telah melampaui 270 hari.
b) Kerugian operasional dituntut dengan pinjaman baru.
c) Jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar, baik dari segi hukum maupun dari segi kondisi pasar.
Terdapat beberapa kasus kredit macet dengan nilai cukup fantastis di Indonesia, di antaranya adalah kasus yang terjadi di Kejati Jawa Timur pada 2014.
Berdasarkan beritajatim.com, “Yudi Setiawan, Direktur PT Cipta Inti Parmindo, terbelit kasus dugaan korupsi (kredit macet) di Bank Jatim cabang HR Muhammad Rp 52,3 miliar dan BJB cabang Surabaya Rp 58,2 miliar. Di kasus yang pertama dia sudah divonis majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya 17 tahun penjara. Sementara di kasus kedua dia dituntut JPU Kejati 10 tahun penjara.
Adapun Eddy, Direktur PT SBA, terbelit kasus korupsi (kredit macet) di Bank X Rp 172 miliar”. Kasus kredit macet dengan nilai besar tersebut melibatkan pengusaha besar. Penyebab kredit macet tersebut adalah pengelolaan yang tidak tepat atas kredit yang diberikan serta itikad baik untuk melakukan pelunasan, bukan dari tingkat ekonomi nasabah.
Berdasarkan TEMPO.co pada Juni 2015 terjadi peristiwa penagihan yang telah menewaskan nasabah di Makassar. Kasus tersebut memang tidak melibatkan uang dengan nilai yang tinggi, yang terjadi karena ketidakmampuan nasabah untuk melunasi kreditnya. Selain faktor yang disebabkan oleh nasabah dan juga pihak bank, kasus kredit macet dapat juga disebabkan oleh karena adanya bencana alam. Misalnya adalah banjir Manado pada Januari 2014, sebanyak 357.597