a. Ekspor Melalui DKI Jakarta
Potensi unggulan perekonomian daerah salah satunya dapat dilihat dari gambaran ekspor produk DKI Jakarta, yang merupakan kemampuan provinsi DKI Jakarta dalam menghasilkan tingkat devisa. Nilai ekspor melalui DKI Jakarta tahun 2008 sebesar US $ 36.090 juta naik 12,13 persen dari tahun 2007 sebesar US $ 32.187 juta. Sedangkan nilai ekspor melalui DKI Jakarta tahun 2009 sebesar US $ 32.537 juta, atau turun 9,84 persen dari tahun 2008 yang mencapai US$ 36.090 juta. Meskipun secara total ekspor tahun 2009 lebih rendah dari tahun 2008, namun kinerja ekspor bulanan menunjukkan arah peningkatan. Penurunan nilai ekspor tahun 2009 disebabkan menurunnya kinerja ekspor melalui DKI Jakarta baik ekspor migas maupun non migas. Menurunnya kinerja ekspor tahun 2009 (khususnya produk non migas) menunjukkan bahwa lokomotif perekonomian. Indonesia, khususnya DKI Jakarta, masih terimbas oleh kondisi ekonomi dunia yang masih mengalami krisis.
Sejalan dengan membaiknya perekonomian global, nilai ekspor melalui DKI Jakarta tahun 2010 sebesar US $ 39.656 juta, atau naik 21,88 persen dari tahun 2009 yang sebesar US$ 32.537 juta. Nilai ekspor 2010 bahkan tertinggi dalam 10 tahun. Nilai ekspor melalui DKI Jakarta periode Januari-Desember 2011 mencapai US $ 46.475 juta atau naik
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-26
17,20 persen dari periode yang sama tahun 2010 yang sebesar US $ 39.656 juta.
Grafik 1.5 Nilai Ekspor Melalui DKI Jakarta (Juta US$)
50,000 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 - 32,187 36,090 32,537 39,656 46,475 2007 2008 2009 2010 2011
Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta
Tabel 1.3
Nilai Ekspor Melalui Pelabuhan Muat DKI Jakarta menurut Sepuluh Negara Tujuan Utama Tahun 2007-2011 (FOB, Juta US $)
Negara Tujuan Utama 2007 2008 2009 2010 2011
Amerika 6,097.64 6,444.46 6,210.71 7,375.24 7,952.73 Jepang 3,499.79 4,234.24 3,168.32 3,602.67 4,432.78 Cina 1,907.97 1,727.30 1,665.01 1,816.69 2,657.45 Malaysia 1,647.46 1,882.14 1,602.28 2,061.10 2,349.56 Thailand 1,304.70 1,626.96 1,350.67 2,016.26 2,302.02 Singapura 1,795.07 1,809.68 1,598.37 1,502.13 2,242.00 Hongkong 885.56 949.89 1,027.98 1,447.89 1,797.22 Filipina 792.01 991.54 1,111.96 1,638.58 1,796.69 Republik Federal Jerman 1,071.87 1,150.13 1,174.13 1,452.26 1,625.70 Australia 1,047.87 1,241.73 1,016.25 1,441.84 1,463.13
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-27
Selama tahun 2007-2011, negara tujuan ekspor barang yang melalui DKI Jakarta yang paling dominan adalah Amerika Serikat. Sedangkan negara tujuan ekspor komoditi di Asia adalah negara Jepang sebesar 4,432.78 juta US $ dan negara Cina sebesar 2,657.45 juta US $ pada tahun 2011. Negara tujuan ekspor barang yang melalui DKI Jakarta di ASEAN yang terbesar terdapat di tiga negara yaitu negara Malaysia, Thailand, dan Singapura. Negara tujuan utama ekspor di kawasan benua Eropa adalah negara Jerman dengan nilai ekspor sebesar 1,625.70 juta US $ pada tahun 2011. Pada tahun yang sama, untuk kawasan benua Australia yang merupakan negara tetangga Indonesia, potensi ekspor terbesar terdapat pada negara Australia, di tahun 2011 sebesar 1,463.13 juta US $.
Ekspor Produk DKI Jakarta
Nilai ekspor produk-produk DKI Jakarta dalam kurun waktu 2007-2011 cenderung mengalami peningkatan. Ekspor yang mempunyai pengaruh besar dan langsung terhadap perekonomian Jakarta adalah ekspor atas produk-produk yang dihasilkan oleh unit usaha yang berdomisili di wilayah DKI Jakarta dan diekspor melalui pelabuhan DKI Jakarta maupun ekspor produk DKI Jakarta yang diekspor melalui pelabuhan lain seperti Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan lain- lain. Rangkaian proses produksi maupun jalur distribusi mulai dari penanganan bahan baku untuk diproses hingga menjadi komoditi siap ekspor, seluruh kegiatan itu akan menciptakan lapangan kerja dan sekaligus akan
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-28 Grafik 1.6
Nilai Ekspor Produk DKI Jakarta (Juta US$)
11.038 8.060 9.393 7.536 8.465 2007 2008 2009 2010 2011
Sumber : Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta, 2011
Impor
Selama kurun waktu 2007 sampai 2011, nilai impor melalui pelabuhan bongkar DKI Jakarta cenderung mengalami peningkatan diatas 150 persen. Tahun 2007 nilai impor melalui DKI Jakarta sebesar 34.739,27 juta US $, dan pada tahun 2011 melonjak cukup tinggi mencapai 88.874,10 juta US $ atau meningkat 155,83 persen. Nilai impor tahun 2008 sebesar US $ 63.312,74 juta naik 82,25 persen dari tahun 2007. Sedangkan impor DKI Jakarta tahun 2009 sebesar US $ 48.099,31 juta, atau turun 24,03 persen dari tahun 2008 yang mencapai US$ 63.312,74 juta.
Nilai impor DKI Jakarta tahun 2010 sebesar US $ 70.069,08 juta, atau naik 45,68 persen dari tahun 2009 yang sebesar US$ 48.099,31 juta. Nilai impor DKI Jakarta periode Januari-Desember 2011 naik 26,84 persen dari periode yang sama tahun 2010 yang sebesar US $ 70.069,08 juta.
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-29 Grafik 1.7 Nilai Impor Melalui DKI Jakarta (Juta US$)
90000 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 34739.27 63312.74 48099.31 70069.08 88874.10
Nilai impor bahan baku dan penolong sejak tahun 2007 sampai tahun 2011 meningkat dari 21.910,20 juta US $ menjadi 56.213,88 juta US $ atau sekitar 156,56 persen. Peningkatan yang lebih tinggi terjadi pada nilai impor barang modal yaitu dari sebesar 9.296,72 US $ pada tahun 2007. menjadi 25.732,61 juta US $ pada tahun 2011 atau naik sekitar 176,79 persen.
Tabel 1.4 Nilai Impor melalui DKI Jakarta menurut BEC Tahun 2007-2011 (CIF, Juta US $)
Kelompok BEC 2007 2008 2009 2010 2011
Barang Konsumsi
Bahan Baku dan Penolong Barang Modal 3,532.35 21,910.20 9,296.72 4,433.94 42,936.66 15,942.14 3,784.53 30,138.36 14,176.42 5,281.60 44,063.29 20,724.20 6,927.61 56,213.88 25,732.61 JUMLAH 34,739.27 63,312.74 48,099.31 70,069.08 88,874.10
Sumber : Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta, 2011
1 2 3 4
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-30
Pertumbuhan Ekonomi
Dalam perekonomian nasional, kontribusi DKI Jakarta sebesar 16% dan masih menjadi penyumbag terbesar dibandingkan provinsi lainnya. Sehingga kondisi perekonomian nasional akan sangat bergantung dengan kondisi perekonomian di Jakarta.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi Jakarta hampir selalu di atas pertumbuhan nasional. Penyebabnya adalah struktur ekonomi DKI Jakarta ditopang oleh sektor jasa, sementara struktur ekonomi nasional masih bertumpu pada sektor pertanian dan industri pengolahan. Sektor jasa masih akan berkembang dengan cakupan yang luas.
Perekonomian DKI Jakarta pada tahun 2011 masih mampu tumbuh 6,7 persen, lebih baik dari tahun 2010 yang tumbuh 6,5 persen. Kondisi ini sangat berbeda dengan perekonomian global yang pada tahun 2011 belum sepenuhnya terlepas dari krisis. Krisis utang di Eropa masih menjadi penyebab utama melambatnya perekonomian global. Dengan struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor pertanian dan industri pengolahan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif terjaga pada kisaran 6,5 persen.
Grafik 1.8
Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) DKI Jakarta dan Nasional, 2007-2011
8 6.44 6.18 6 6.28 6.06 4 2 5.02 4.5 6.51 6.7 6.1 6.5 Nasional DKI Jakarta 0 2007 2008 2009 2010 2011
Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta tahun 2011
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-31
sekitar 30 persen mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Jakarta disamping kekuatan pasar domestik yang besar. Krisis ekonomi yang melanda kawasan Eropa dan Amerika Serikat membawa berkah tersendiri bagi kawasan Asia, termasuk Jakarta. Stabilitas perekonomian membuat aliran masuk dana investor lebih tinggi dari tahun sebelumnya hingga mendorong investasi yang menunjukkan pertumbuhan cukup baik.
Grafik I.9
Laju Pertumbuhan Tiga Sektor Utama DKI Jakarta (%) 8,00 7,00 6,00 5,00 6,88 6,66 4,60 7,27 7,42 5,04 Indus tri pengolahan/ manufacturing 4,00 3,00 4,47 4,21 3,87 4,01 3,97 4,21 3,63
Perdagangan, hotel & restoran/trade, hotel dan restaurant 2,00 1,00 0,00 0,14 2,45 Keuangan, persewaan & jasa perusahaan/ financial , ownership & business serv ice
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-32
1 2 3 4 5
Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta tahun 201
Melambatnya perekonomian dunia sedikit banyak mempengaruhi permintaan produk Jakarta. Pada gilirannya, perlambatan permintaan membuat sektor industri pengolahan juga menunjukkan perlambatan produksi meskipun tidak sampai terkontraksi. Pada tahun 2011 sektor ini tumbuh 2,4 persen setelah pada tahun sebelumnya tumbuh 3,6 persen.
Peningkatan kegiatan industri telah mendorong meningkatnya nilai impor, baik impor barang konsumsi, bahan baku maupun barang modal, sehingga hal ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor perdagangan-hotel-restoran menjadi 7,4 persen setelah pada periode yang sama di tahun sebelumnya tumbuh 7,3 persen. Faktor lain yang mendorong pertumbuhan sektor ini adalah kegiatan di sektor jasa hiburan dan mulai beroperasinya beberapa hotel berbintang yang baru di Jakarta.
Pergerakan sektor riil tentunya akan diikuti oleh pergerakan sektor keuangan. Pada tahun 2011 pertumbuhan yang dicapai oleh sektor keuangan-real estat-jasa perusahaan meningkat men- jadi 5 persen setelah sebelumnya tumbuh 4,2 persen. Faktor- faktor yang mendorong tingginya pertumbuhan di sektor ini antara lain adalah peningkatan yang cukup tinggi pada nilai kredit yang disalurkan serta berkembangnya kegiatan leasing, asuransi dan pegadaian. Selain itu juga didorong oleh menguatnya pasar properti di Jakarta, baik berupa apartemen maupun ruang perkantoran dan ruko.
Laju Inflasi
Jakarta sebagai ibukota negara secara umum merupakan pusat dari segala kegiatan ekonomi di Indonesia. Pola perkembangan laju inflasi DKI Jakarta dan
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-33
Indonesia periode tahun 2007–2012 cukup berfluktuatif. Bila diperhatikan, fluktuasi inflasi DKI Jakarta dengan nasional relatif hampir sama, ini menandakan bahwa perilaku inflasi yang terjadi di DKI Jakarta juga dapat menggambarkan perilaku inflasi secara nasional.
Pada tahun 2007 inflasi DKI Jakarta mencapai 6,04 persen, namun pada tahun 2008 tekanan terhadap inflasi cukup tinggi yaitu 11,06 persen dikarenakan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan Pemerintah Pusat untuk mengimbangi tingginya harga minyak dunia, dan respon pemerintah daerah dengan melakukan penyesuaian tarif angkutan kota.
Sedangkan pada tahun 2009 inflasi DKI Jakarta mencapai 2,34 persen dikarenakan adanya kebijakan pemerintah pusat menurunkan harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat dan kebijakan pemerintah DKI Jakarta menurunkan tarif angkutan kota sebagai respon dari kebijakan pemerintah pusat menurunkan harga BBM.
Tahun 2010, inflasi DKI Jakarta mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009. Inflasi DKI Jakarta Tahun 2010 mencapai 6,21 persen. Adanya program pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras sebesar 10 persen pada awal tahun 2010, ditambah cukai rokok naik diatas 5 persen, dan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang mencapai 25 persen, serta naiknya tarif jasa pembuatan STNK, mendorong inflasi di tahun 2010 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
I-34 Grafik I.10
Inflasi DKI Jakarta dan Nasional (%) Tahun 2007-2011
Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta tahun 2011
Tahun 2011 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010. Inflasi DKI Jakarta mencapai angka 3,97 persen di tahun 2011 namun lebih tinggi dibandingkan angka inflasi nasional tahun 2011 sebesar 3,79 persen. Penyebab utama hal tersebut adalah dari faktor global terutama dari peningkatan harga emas sebagai dampak ketidakpastian ekonomi global. Mengingat peran Jakarta sebagai pusat perdagangan dan finansial Indonesia, maka keterkaitan dengan kondisi perdagangan dan ekonomi dunia menjadi dominan.
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
II-1
KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH
II
Kebijakan Pemerintah Daerah merupakan penjabaran dari Visi dan misi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sebagai komitmen bersama dari segenap pemangku kepentingan pembangunan daerah untuk bersama membangun Provinsi DKI Jakarta. Visi dan misi ini menjadi acuan dalam merumuskan strategi dan program-program pembangunan baik untuk jangka pendek (tahunan) maupun jangka menengah (lima tahunan).
Dalam LPPD-AMJ Gubernur Provinsi DKI Jakarta Tahun 2007-2012 disajikan visi, misi, strategi pembangunan dan prioritas daerah sebagaimana yang dimuat dalam Perda Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi DKI Jakarta 2007 – 2012 yang secara skematis digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pembangunan DKI Jakarta menurut RPJMD2007-2012
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DARAH (LPPD)
AKHIR MASA JABATAN GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2012
II-2
A. KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH