METODE PENELITIAN
ANALISA DATA DAN INTERPRETASI
A.6. Skema Dinamika Partisipan I
A.3.3. Kondisi pendukung family matters pada partisipan 1. Self Understanding - Reflected Appraisal
Memiliki keterbatasan fisik tentunya menimbulkan reaksi psikologis tersendiri dalam diri partisipan. Partisipan pernah menyesali kondisinya, namun perlahan kondisi perasaan tersebut berubah menjadi perasaan menerima kondisi fisik sebagai takdir dari Tuhan yang tidak dapat diubah.
“Oh pernah kak. Pernah kan kak, gini nyesal kali lah udah kayak gini kan kak, tapi yaudah jalanilah kak gitu-gitu kak.”
“Sebenarnya sih udah lama juga kak. Waktu SMP. SMP itu mulainya waktu kelas II, kelas III gitu kak udah menerima. Kan itu pas masa-masa remaja ya kak, udah ngerti, udah tahu lah gitu kan (sambil tersenyum kecil). Sekarang ya sama lah kak, sepenuhnya.”
(P2.W2.b.86-97.h.14) “Sudah menerima kak.” (P2.W3.146-149.h.25)
“Kecewa enggak. Tapi gak ada yang disesali, ngapain disesali, udah begini kok takdirnya.”
(P2.W3.b.125-129.h.25)
Berbagai reaksi psikologis muncul dalam diri partisipan terkait kondisi fisik yang dialaminya, baik reaksi yang muncul ketika menyadari kondisi yang berbeda dengan orang lain ataupun akibat reaksi negatif yang dimunculkan lingkungan. Namun reaksi negatif dalam diri partisipan tidak berlangsung lama dan reaksi yang dimunculkan lingkungan terhadap partisipan tidak memberikan pengaruh yang kuat dalam diri partisipan.
“Enggak sih kak, cuman sebentar aja. Hal itu gak terlalu mempengaruhi diri Yumi. Cuman sedih gitu aja, gak terlalu lama-lama kali. Yumi kan kak kalo lagi sedih gitu, ya udah lupain aja ngapain sedih-sedih gitu.”
(P2.W3.b.132-142.h.25)
“Perasaannya ya sedih, serasa pengen putus asa (nada suara rendah).” (P2.W2.b.35-37.h.13)
“Ketika pernah ada orang lewat kan, ya udah Yumi merenung gitu kan kak, sedih, kenapa lah aku begini gitu kan kak, ya seperti itu lah kak. Pengaruhnya terhadap diri Yumi biasa aja sih kak.”
(P2.W3.b.399-407.h.31)
Proses penerimaan diri serta kemampuan partisipan dalam mengontrol kondisi emosionalnya tidak terlepas dari dukungan keluarga, lingkungan sosial, seperti guru
dan teman-teman partisipan serta dukungan yang partisipan beri kepada dirinya sendiri.
“Apa ya kak, eee,dukungan dari keluargalah kak, teman, sama keyakinan Yumi sendiri. Ya jangan putus asa, tetap jalani aja suka duka nya, gitulah kak kata keluarga. Kalau dari teman mereka bilang.‟udahlah Yum,gak usah terlalu minder kali, apa adanya aja, syukuri aja apa yang ada,‟gitu kak. Kalo dari diri sendiri ya mau gimana lagi, namanya memang udah kayak gini kak, gak perlu disesali lagi gitu kan.”
(P2.W1.b.125-147.h.4)
“Yumi jangan sedih ya,meskipun Yumi beda sama orang itu Yumi pasti bisa kok, ibu aja salut sama Yumi. Yumi itu semangatnya luar biasa beda sama-sama yang lain, semangat belajarnya pun luar biasa. Yumi kan pas kelas II SMP kak sering nangis gitu kan. Karena itu lah kak Yumi belum menerima kondisi. Yumi menerimanya waktu kelas III SMP. […] terus terakhirnya guru bilang Yumi jangan sedih-sedih lagi, gimana Yumi sekolahnya kalo Yumi sedih terus, apakah dengan kesedihan semuanya bisa berubah, jadi seperti orang yang lain gitulah kak dibilang gurunya. Pokoknya Yumi udah dinasehati ama gurunya gitu kak.”
(P2.W3.b.170-207.h.26)
“Dari teman, guru, orang tua dan semangat dari Yumi sendiri.” (P2.W3.b.245-247.h.27)
“Ya dorongan-dorongan dari orang tua, kakak, banyaklah kak, dari guru-guru juga ada, teman-teman. Ada ngomong ama diri sendiri „aku pasti bisa, harus bisa menggapai cita-cita, gak boleh menyerah, eee.udah itu aja.”
(P2.W2.b.311-321.h.19)
Menjalani kehidupan sehari – hari tentunya akan membuat partisipan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya atau bahkan partisipan bertemu dengan orang – orang baru. Partisipan menyatakan masih memiliki perasaan minder ketika bergabung dengan orang lain, terutama apabila bertemu dengan orang – orang baru.
“Sulit kak, agak sulit. Ya agak sulit beradaptasi dengan yang lain, karena ada rasa minder dikit itu tadi kak.”
Minder juga sih kak. Kalau disekolah sama teman –teman cowok biasa aja gitu kak. Kalo sama teman sekolah beda banget kak. Kalau ketemu dengan orang baru ya minder kak, karena gak kenal gitu kan kak.
(P2.W1.b.437-451.h.10-11)
“Enggak sih kak udah berkurang mindernya. Mindernya muncul saat kondisi lagi galau. Galaunya karena memikirkan bla bla bla (sambil tertawa). Ya kalo lagi kumpul-kumpul rame-rame kak. Gak ada sih,cuman perasaan Yumi aja sih kak minder padahal tidak mengalami pengalaman ditolak.”
(P2.W3.b.466-503.h.32-33)
“Ada dikit. Pada saat kumpul-kumpul dengan kawan, pergi-pergi gitu kan kak”
(P2.W2.b.303-307.h.18)
Ketidakpercayaan diri yang dirasakan partisipan juga dipengaruhi oleh bagaimana reaksi lingkungan ketika partisipan hadir didalamnya dan adakalanya ketidakpercayaan diri yang masih dimiliki partisipan membuat partisipan menginterpretasi bahwa lingkungan bereaksi negatif terhadap dirinya.
“Reaksi mereka ya acuh tak acuh gitulah kak,gitu kak. Teman sekolah ada juga waktu SMP. Kalau SMA enggak ada sih. Sikap mereka sih biasa-biasa aja kak. Ya karena rasa minder gitu kan kak.Ya mereka cuek, ada yang mandangin Yumi gak suka gitu kan.”
(P2.W2.b.10-32.h.12-13)
Seiring berjalannya waktu ketidakpercayaan diri didalam diri partisipan ketika bertemu dengan orang – orang baru perlahan hilang, karena dorongan yang diberikan oleh teman partisipan.
“Enggak ah, malah Yumi yang nyamperin orang itu, ramah-ramah gitu kan kak, udah gitulah”
(P2.W2.b.333-336.h.19)
“Kalo sama teman-teman ada sih kan kak, waktu itu Yumi ngumpul sama teman Yumi dan teman Yumi bawa temannya. Jadi Yumi pernah berpikir kan kak, segan lah gitu masuk nanti takut ditolak sama orang itu, terus kata
kawan Yumi, udah gak apa-apa itu kan kawan Yumi juga, kata kawan Yumi. Ya udah dari saat itu udah enggak lagi.”
(P2.W3.b.269-281.h.28)
Keterbatasan fisik yang dimiliki partisipan tidak membuat keluarga membatasi ruang gerak partisipan, misalnya dalam bersosialisasi dengan teman, mengikuti kegiatan berorganisasi serta dalam pemilihan minat dan cita-cita partisipan.
“Enggak kak. Itu atas kemauan kita sendiri aja kak.” (P2.W2.b.162-163.h.15)
“Dikasih kak, kan dekat aja kok kak.” (P2.W4.b.212-213.h.41)
“Ya didukunglah kak, positif pulaknya” (P2.W4.b.200-201.h.40)
Memiliki keterbatasan fisik yang ada tidak menghalangi partisipan untuk meraih prestasi di sekolahnya. Prestasi ini memberikan pengaruh dalam membangun diri partisipan untuk menuju keberhasilan dan juga dalam membangun kepercayaan diri partisipan.
“Prestasi, eee ada sih kak waktu SMP dapat ranking. Prestasi tata boga. Itu aja kak.”
(P2.W2.b.182-184.h.16)
“Ya membangun Yumi lah untuk menuju sukses, itu sangat membantu sekali lah kak. Ya penting juga sih kak. Ya untuk masa depan Yumi juga kan kak biar gak suram. Kan ada juga pengaruhnya ke situ kan kak”
(P2.W2.b.188-199.h.16)
“Oh ya tentu kak. Berpengaruh kali kak.” (P2.W3.b.551-560.h.34)
Partisipan memiliki penilaian terhadap dirinya sendiri. Partisipan menilai dirinya sebagai individu yang berguna bagi orang lain. Selain itu partisipan juga menilai dirinya sebagai individu yang tidak memiliki kesulitan dalam bersosialisasi, namun memang individu yang enggan untuk bergabung dengan orang lain.
“Sebenarnya gampang sih kak bersosialisasi tapi cuman Yuminya aja yang malas. Malas keluar.”
(P2.W2.b.401-404.h.20-21)
“Iya kak, Yumi berguna buat orang lain.” (P2.W2.b.271-272.h.18)
2. Self-Understanding - Social Comparison
Memiliki keterbatasan fisik tidak menghalangi partisipan untuk melakukan kegiatan selain dari kegiatan sekolah. Hal ini tercermin dari kegiatan – kegiatan yang diikuti oleh partisipan diluar jam sekolah, seperti kegiatan ekstrakurikuler, terlibat dalam organisasi keagamaan serta mengikuti les tambahan.
“Kalo ekstrakurikuler iya kak, tapi cuma tata boga aja kak.” (P2.W1.b.218-220.h.6)
“Oiya ada kak ikut les diluar kak. Dua kali seminggu kak.” (P2.W1.b.250-254.h.6)
“Ada kak diluar ikut organisasi. Ya seperti Remaja Mesjid gitu kak.” (P2.W1.b.230-234.h.6)
Partisipan menyadari bahwa kegiatan yang diikuti oleh partisipan memberikan pengaruh yang positif bagi partisipan, seperti mengetahui kehidupan berorganisasi, mendapatkan nilai kemanusiaan yakni tolong menolong, nilai keagamaan serta mempengaruhi rasa percaya diri partisipan.
(P2.W1.b.240-242.h.6)
“Yah berorganisasi, pentingnya berorganisasi, terus saling inilah tolong-menolong gitu kan kak, belajar ilmu keagamaan.”
(P2.W2.b.347-351.h.19) “Iya kak mempengaruhi.” (P2.W2.b.354.h.19)
Partisipan tidak memiliki perasaan tertolak ketika berada di lingkungan sosial. Hal ini karena selain adanya dukungan dari teman partisipan, juga disebabkan karena kesadaran partisipan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan.
“Enggak sih, kan manusia itu gak ada yang sempurna kak (sambil tersenyum).”
(P2.W2.b.326-328.h.19)
Kehidupan sosial partisipan juga terjadi sebagaimana individu lain pada umumnya, dimana partisipan memiliki banyak teman. Akan tetapi partisipan lebih banyak menghabiskan waktu sendiri ketika berada disekolah, karena partisipan juga menyatakan bahwa dirinya memiliki karakter yang pendiam.
“Disekolah banyak kak. Dirumah juga banyak.” (P2.W3.b.600-602.h.35)
“Iya kak pendiam. Kalo jam istirahat baca novel, kadang nonton dikelas gitu kak.”
(P2.W3.b.588-592.h.35)
Hal ini kemudian yang membuat partisipan tidak mudah untuk terbuka dengan lingkungan terkait kehidupannya, sehingga partisipan hanya memiliki dua orang sahabat tempat partisipan mencurahkan isi hatinya atau menyelesaikannya sendiri.
“Ada sama kawan kak, kadang sih Yumi pendam.” (P2.W3.b.307-308.h.29)
“Ya bisa dikatakan sahabat. Cuma satu sih kak, eh dua kak. Udah lama berteman dengan mereka kak, dari SD kak.”
(P2.W1.b.397-412.h.10) “Paling ama kawan ceritanya.” (P2.W1.b.313-314.h.8)
Reaksi yang muncul dalam diri partisipan ketika membandingkan diri dengan individu dengan fisik yang normal adalah merasakan kesedihan, merefleksikan kondisi fisik, merasa minder karena terbatas untuk melakukan aktivitas, misalnya berolahraga. Namun sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa reaksi tersebut tidak berlangsung lama karena adanya dukungan dari keluarga, lingkungan sosial partisipan, serta dari partisipan sendiri.
“Ketika pernah ada orang lewat kan, ya udah Yumi merenung gitu kan kak, sedih, kenapa lah aku begini gitu kan kak, ya seperti itu lah kak.
(P2.W3.b.399-404.h.31)
“Ya Yumi berpikir kenapa aku kayak gini, berbeda sama orang-orang lain gitu kan kak,apa salahku gitu-gitu kan kak, kan sering nangis juga Yumi kalo udah kayak gitu kak, terus itu gak terlalu Yumi apain kali, cuma sebentar aja merasakan seperti itu kak, terus udah gak Yumi ingat-ingat lagi. Sedih, nangis ya begitulah kak.
(P2.W4.b.155-170.h.39-40)
“Ada. Itu waktu kumpul sama kawan, melihat Yumi begini dan orang lain begitu, yaudalah timbul kesedihan.”
(P2.W2.b.5-8.h.12)
“Ada dikit merasa minder karena melihat kawan-kawan Yumi gitu kan kak. Ada yang olahraga, ya kan, lari-lari, sementara Yumi enggak,.Cuma Yumi aja sendiri disitu, udah gitu kak.
(P2.W2.b.54-62.h.13)
“Yang Yumi rasakan, sedih kenapa Yumi bisa kayak gini, beda sama orang yang lain tapi Yumi gak terlalu memikirkannya kali, Yumi bawanya semangat aja, ya gitu kan kak, gak usah terlalu disesali kali apa yang udah terjadi. Semangat dari diri sendirilah.”
(P2.W3.b.100-112.h.24)
3. Self Understanding- Self Attribution
Menjalani kehidupan dengan keterbatasan fisik tentunya tidak terlepas dari berbagai reaksi dari lingkungan, baik itu positif ataupun negatif, serta reaksi yang timbul dalam diri partisipan sendiri terkait kondisi fisiknya. Disamping munculnya berbagai reaksi psikologis pada partisipan, disisi lain partisipan memiliki keoptimisan didalam dirinya untuk mencapai keberhasilan meskipun dengan keterbatasan fisik yang ada.
“Ya harus bisa kak. Iya kak Yumi optimis.” (P2.W2.b.174-179.h.16)
Partisipan tidak hanya mengandalkan dukungan dari lingkungan sekitarnya untuk memberikan partisipan semangat, namun partisipan juga memberikan semangat kepada diri partisipan sendiri dan tentunya mendekatkan diri dengan Tuhan juga membantu partisipan untuk bersemangat.
“Yumi bilang ke diri sendiri ya jangan mudah putus asa,terus hadapi aja dengan ikhlas,sabar, apapun cobaannya jalani aja.”
(P2.W3.b.115-118.h.24)
“Semangat lah kak. Semangat dari diri, dekatkan diri sama Tuhan itu sih kak.”
(P2.W3.b.433-436.h.31)
Partisipan sebenarnya memiliki kemampuan dalam bersosialisasi, namun karakter partisipan yang pendiam membuat partisipan enggan untuk bergabung dengan lingkungan sosialnya. Hal ini juga membuat partisipan tidak mudah untuk terbuka dengan orang lain.
“Kumpul dengan orang-orang itu gak suka kak. Malas aja gitu kak, malas buat keluar, malas disuruh ini disuruh itu. Yumi sebenarnya bisa bersosialisasi kak. Ramah kali pun Yumi. Yumi malas aja ya disuruh catat-catat, mengemukakan pendapat solusi, tahu lah Yumi orangnya pendiam kak.” (P2.W3.b.563-585.h.34-35)
“Emang gak mau aja kak.” (P2.W3.b.597.h.35)
“Enggak, tertutup. Ya emang gitu Yumi orangnya kak, tertutup.” (P2.W4.b.132-135.h.39)
Partisipan menyatakan bahwa hal yang dapat membuat bangga keluarga partisipan adalah prestasi yang diraih partisipan serta kemauan partisipan untuk membantu keluarga.
“Apa ya, emm bangga ya karena prestasi itulah kak, bantu-bantu mereka gitu kak.”
(P2.W4.b.190-193.h.40)
Melewati proses yang ada partisipan menyatakan bahwa partisipan sudah menerima kondisi fisiknya saat ini sebagai pemberian dari Tuhan yang tidak dapat diubah.
“Ya. Tuhan kenapa aku begini. Kalau ini yang terbaik buat ku ya udah deh aku jalani aja (sambil tersenyum kecil).
(P2.W1.b.425-429.h.10)
“Sudah kak. Yah mau gimana lagi, udah begini sih takdirnya, harus diterima.”
(P2.W2.b.72-77.h.13)
“Udah. Karena Yumi yakin, kalo, kalo ini kan udah ditakdirkan Tuhan gitu kan kak, gak bisa berubah, gak menyesali apa yang udah terjadi, terima aja apa adanya gitu kak”
A.4. Analisa Intrasubjek II
Aspek Hasil Konfirmasi Teoritis
Riwayat Perkembangan Perkembangan fisik partisipan hampir sama dengan individu normal, hanya berbeda ketika sudah bisa berjalan. Partisipan tidak mengalami kendala melewati masa kecilnya. Menggunakan alat bantu tongkat ketika berusia 3 tahun, kursi kecil untuk belajar berjalan, serta kaki palsu. Namun kaki palsu tidak digunakan lagi karena ukuran yang tidak lagi memadai dengan kaki partisipan. Sehingga untuk mendukung aktivitasnya partisipan hanya menggunakan tongkat saja
Somantri (2006)
menyatakan bahwa
perkembangan individu tunadaksa hampir sama dengan individu dengan fisik yang normal pada umunya. Hanya saja potensi perkembangan fisik yang dialami tidaklah utuh karena bagian tubuh yang mereka miliki tidaklah sempurna
Kondisi Tunadaksa Partisipan terlahir dengan kondisi kaki sebelah kiri mengalami ketidaksempurnaan. Penyebab ketunaan tidak diketahui, hanya dikatakan bahwa ketunaan telah terjadi sejak partisipan lahir. Adapun bagian anggota tubuh yang mengalami ketidaksempurnaan hanyalah kaki sebelah kiri partisipan
Somantri (2006)
mengklasifikasikan
ketunaan menjadi dua klasifikasi yakni :
1. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau merupakan keturunan. Salah satunya adalah congenital
amputation
2. Kerusakan pada waktu kelahiran
3. Infeksi
4. Kondisi traumatik 5. Tumor
Reaksi Lingkungan Keluarga sepenuhnya menerima keberadaan partisipan.Hal ini terlihat dari perlakuan orang tua yang tidak membedakan partisipan dengan saudara
Reaksi yang dimunculkan lingkungan dapat menjadi sumber distress tersendiri bagi remaja yang dampaknya terkadang lebih