I, II 2 Identii kasi bahaya
2.3. Kondisi dan Permasalahan Sektor Kelautan dan Perikanan Saat Ini 1 Kondisi Sektor Kelautan dan Perikanan
Kondisi lingkungan sektor kelautan dan perikanan dapat dilihat dari ekosistem laut, pesisir dan pulau- pulau kecil karena pengaruhnya pada tingkat produktivitas sumberdaya (KKP, 2005). Ekosistem tersebut meliputi terumbu karang, mangrove, estuaria dan padang lamun, dan budidaya laut. Secara umum kondisi
ekosistem tersebut telah mengalami degradasi isik dengan laju yang dapat mengancam keberlanjutan
sumberdaya. Sebagai contoh: Terumbu karang yang mencapai luas lebih dari 60.000 km2 telah rusak sekitar
40%. Faktor penyebabnya adalah: (i) kegiatan manusia (penangkapan ikan dengan alat yang merusak, pencemaran, eksploitasi yang berlebihan, dan sebagainya), dan (ii) faktor alam (El-Nino dan La-Nina, badai, gempa bumi, dan banjir). Demikian pula hutan mangrove yang berkurang luasannya dari 5,21 juta ha menjadi 2,5 juta ha pada kurun waktu 12 tahun (1982–1993), antara lain karena konversi menjadi lahan tambak khususnya di Sumatra bagian selatan, Sulawesi bagian selatan dan Kalimantan Timur, serta menjadi lahan industri terutama di Jawa dan Bali.
Kondisi sosial sektor Kelautan dan Perikanan didominasi oleh masyarakat nelayan, pembudidaya perikanan, dan masyarakat pesisir lainnya. Kepedulian masyarakat pada pembangunan sektor ini ditandai dengan meningkatnya partisipasi dan kerjasama antara pemerintah dan pemerintah daerah dengan berbagai pihak seperti masyarakat pesisir itu sendiri, LSM, perguruan tinggi, dan media massa.
Pada kondisi perekonomian, KKP telah dan sedang melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan 3 (tiga) pilar pembangunan (KKP, 2009), yaitu pro-poor (pengentasan kemiskinan), pro-job (penyerapan tenaga kerja), dan pro-growth (pertumbuhan ekonomi). Terdapat 3 (tiga) outcome yang ditargetkan pada tahun 2009 ini untuk masing-masing strategi tersebut, yaitu: (1) peningkatan pendapatan masyarakat pesisir melalui program pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan dan program pemberdayaan masyarakat di pulau-pulau kecil yang telah menjangkau lebih dari 200 kab/kota, (2) peningkatan penyerapan tenaga kerja kumulatif yang mencapai 7,69 juta orang, dan (3) pertumbuhan ekonomi sektor Kelautan dan Perikanan sebesar 5,7%. KKP berusaha menjadikan sektor ini sebagai prime-mover pembangunan nasional ke depan, dengan mengusulkannya menjadi bidang pembangunan sendiri dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010–2014. Oleh sebab itu KKP telah menambah dua pilar lagi pada Rencana Strategis tahun 2010 – 2014, yaitu strategi pro-business dengan memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang kelautan dan perikanan dan pro-sustainable melalui pemulihan dan pelestarian lingkungan perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil, serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global.
2.3.2. Permasalahan Kelautan dan Perikanan
Permasalahan internal yang dihadapi pada umumnya berkisar pada belum optimalnya pengelolaan dan pengembangan sektor Kelautan dan Perikanan seperti perikanan tangkap, perikanan budidaya, pemanfaatan pulau-pulau kecil, konservasi laut, potensi kelautan non-konvensional, serta lemahnya penegakan hukum seperti illegal ishing dan sebagainya. Di lain pihak, sektor kelautan dan perikanan menghadapi masalah eksternal terutama masih rendahnya kesadaran bangsa tentang strategisnya sumberdaya kelautan bagi kemakmuran
bangsa, yang ditandai antara lain dengan belum kondusifnya kebijakan moneter, iskal, dan investasi, tata
ruang dan pengendalian pencemaran, kepastian hukum dalam berusaha serta penegakan hukum.
Permasalahan yang dihadapi khususnya di perairan pantai adalah degradasi atau penurunan habitat lingkungan pantai disebabkan oleh polusi domestik dan industri, eksploitasi sumberdaya laut secara berlebihan (over-ishing), kehilangan terumbu karang, hutan bakau, aktivitas reklamasi, pengerukan dan
erosi. Penyebab lainnya adalah pemukiman atau aktiitas pengambilan sumber daya seperti pembabatan
hutan dan pertambangan. Hal lain adalah penurunan nilai atau hilangnya situs sejarah, budaya, dan arkeologi disebabkan oleh pembangunan hotel serta aktivitas pengembang lainnya.
Polusi di daerah pantai yang berasal dari daerah tangkapan sungai (catchment area) umumnya disebabkan oleh sedimen dari erosi akibat penggundulan hutan dan pertambangan, nutrient dari buangan penduduk dan run-off dari pertanian, residu pestisida dari pertanian dan akuakultur, pengoperasian kapal, tumpahan minyak dari tabrakan kapal dan anjungan pengeboran minyak, polusi termal dari saluran buangan Power plant, polusi air buangan industri. Beban polusi ini sangat berkorelasi dengan kepadatan penduduk dan tingkat produktivitas pertanian termasuk ternak dan tambak.
Pengambilan ikan yang berlebihan pada daerah perairan pantai bahkan di lepas pantai sering terjadi di daerah yang berpopulasi tinggi. Indikator over-ishing ini biasanya ditandai dengan kegagalan penangkapan per unit usaha. Penyebab lain dari menurunnya stok ikan adalah akibat degradasi ekosistem sebagai wadah pendukung perkembangbiakan ikan. Kehilangan hutan mangrove sebagai tempat pembiakan ikan dan udang serta perusakan akibat teknik penangkapan ikan yang tidak berkesinambungan seperti penggunaan dinamit dan sianida juga memberi kontribusi terhadap penurunan mutu ladang perikanan.
Degradasi terumbu karang diakibatkan oleh peledakan serta teknik penangkapan ikan yang merusaknya. Penambangan terumbu karang disamping merusak juga menyebabkan tidak adanya penahan ombak
sehingga akhirnya menyebabkan erosi di pantai serta perubahan proile dasar laut. Penyebab kerusakan
terumbu karang adalah: (1) Aktivitas pariwisata: kerusakan ini akibat jangkar dari perahu-perahu pengunjung, diinjak-injak atau diambil sebagai koleksi oleh wisatawan. (2) Polusi: kerusakan ini akibat sedimentasi yang
terbawa oleh sungai, eutroikasi (overfertilization) yang terbawa oleh air buangan dari hotel atau perumahan di pantai, sedimentasi yang ditimbulkan oleh pertambangan lepas pantai. (3) Perikanan: kerusakan ini akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bom atau racun yang menyebabkan terjadi kematian terumbu karang. (4) Pembangunan: penambangan terumbu karang untuk bahan/material bangunan.
Degradasi hutan mangrove disebabkan karena nilai ekonomi hutan mangrove yang sangat penting, sehingga terjadi eksploitasi hutan mangrove yang berjalan sangat cepat. Kerusakan ini dikarenakan oleh cara potong bersih (clear-cutting) sehingga mangrove tidak dapat ber-regenerasi yang akibatnya terjadi perubahan komposisi tumbuhan dalam hutan mangrove. Penyebab hilangnya hutan mangrove ini akibat konversi ke tambak, sawah dan pelabuhan serta aktivitas pengembangan lainnya seperti perumahan, hotel, dan sebagainya. Degradasi lingkungan pesisir yang umumnya disebabkan oleh tekanan aktivitas pemenuhan kebutuhan ummat manusia semakin diperparah dengan adanya perubahan iklim. Degradasi ini dapat mengubah lingkungan pesisir dan laut serta biota dan keragaman hayati yang ada didalamnya.