• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Perikanan

Dalam dokumen Policy Paper (Halaman 36-41)

I, II 2 Identii kasi bahaya

2.2. Potensi Sektor Kelautan dan Perikanan

2.2.1. Potensi Perikanan

Perikanan merupakan salah satu unsur sumberdaya laut yang sangat potensial di Indonesia, karena selain sebagai sumber pangan, perikanan merupakan komoditi perdagangan yang dapat menghasilkan devisa bagi negara, sebagaimana diperlihatkan pada Tabel II.1.

Tabel 2.1 Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditas Utama (Kementerian Kelautan dan Perikananl, 2008)

KOMODITAS 2004 2005 2006 2007 2008*) Rata-rata peningkatan(%)

2004 - 2008 2007 - 2008 EKSPOR Volume (Ton) 902.358 857.782 926.478 854.328 845.939 -1,43 -0,98 Udang 142.098 153.900 169.329 157.545 179.409 6,31 13,88 Tuna 94.221 90.589 91.822 121.316 125.992 8,37 3,85 Mutiara 2 13 2 13 16 309,94 21,47 Rumput laut 51.011 69.264 95.588 94.073 95.125 18,33 1,12 Lain-lain 615.027 544.015 569.736 481.381 445.397 -7,45 -7,48 Value (US$ 1000) 1.780.833 1.912.926 2.103.471 2.258.920 2.708.678 11,17 19,91 Shrimp 892.452 948.121 1.115.963 1.029.935 1.220.428 8,68 18,50 Tuna 243.938 245.375 250.557 304.348 337.896 8,80 11,02 Mutiara 5.866 10.735 13.409 12.644 12.694 25,65 0,39 Rumput laut 25.296 57.515 49.586 57.522 105.639 53,31 83,65 Lain-lain 613.281 651.180 673.957 854.470 1.032.021 14,31 20,78

Catatan : *) Angka sementara

a. Potensi Perikanan Tangkap Secara Umum di Indonesia

Potensi sumberdaya ikan laut yang diperinci berdasarkan komoditas dan wilayah perairannya di Indonesia (B.E. Priyono, dkk., 1997), yaitu :

Sumberdaya ikan pelagis besar.

Penyebaran ikan pelagis besar jenis madidihang, tuna mata besar, albakora dapat ditemui di perairan barat Sumatera, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Laut Banda, Laut Flores dan Selat Makasar, Laut Maluku dan Teluk Tomini, Laut Sulawesi dan utara Irian Jaya, serta Arafura. Untuk jenis tuna sirip biru dapat ditemukan di perairan selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Laut Banda, Laut Flores dan Selat Makasar, serta Laut Maluku dan Teluk Tomini. Sedangkan ikan jenis cakalang bisa ditemukan hampir di seluruh perairan Indonesia kecuali di Laut Jawa, Selat Malaka, dan Laut Cina Selatan. Untuk ikan tongkol penyebarannya berada pada daerah-daerah dekat pantai dan terdapat di semua perairan. Musim penangkapan ikan tuna, cakalang, dan tongkol dapat berlangsung sepanjang tahun.

Sumberdaya ikan pelagis kecil.

Ikan pelagis kecil yang mempunyai sebaran paling luas adalah ikan lemuru, terdiri atas jenis ikan lemuru (Sardinella lemuru) dan ikan siro dengan konsentrasi daerah penangkapannya berada di perairan Selat Bali, sedangkan penyebarannya mulai dari barat Sumatera, Selatan Jawa dan Nusa Tenggara. Jenis lain dari pelagis kecil yaitu ikan layang terutama terkonsentrasi di perairan utara dan selatan Sulawesi serta utara Jawa, sedangkan ikan kembung terutama di perairan selatan, barat, dan timur Kalimantan, Selat Malaka serta barat Sumatera.

16

Ikan teri dapat ditemukan di perairan barat Sumatera, Selat Malaka, selatan dan utara Sulawesi dan timur Sumatera sedangkan ikan tembang terutama di perairan selatan Sulawesi, utara Jawa, Bali/NTT/Timor Timur, Timur Sumatera dan selatan dan barat Kalimantan. Ikan julung-julung banyak ditemukan di perairan Maluku dan Irian Jaya.

Sumberdaya ikan demersal

Ikan demersal adalah jenis ikan yang hidup di dasar laut dari perairan dengan kedalaman kurang dari 100 m dan menyukai daerah yang berlumpur dan relatif datar. Di Indonesia, perairan yang diduga memiliki potensi ikan demersal tinggi adalah di Teluk Tolo (Sulawesi Tengah) yang merupakan perairan dengan kedalaman relatif dangkal dan luas, kemudian di Laut Arafura yang mempunyai daerah penangkapan ikan demersal yang sangat luas, dan di perairan utara Papua.

Sumberdaya udang

Potensi sumber daya udang penaeid di Indonesia terdapat di Laut Arafura (Papua) dan merupakan daerah terluas dan terbaik yang dimiliki Indonesia dalam penangkapan udang penaeid sedangkan potensi terbesar udang karang terdapat di Samudera Hindia.

Sumberdaya ikan konsumsi perairan karang

Sumberdaya ikan konsumsi perairan karang belum dimanfaatkan secara merata, masih terbatas pada daerah-daerah yang mudah dijangkau dan terhadap komunitas tertentu saja. Hanya beberapa jenis yang telah dimanfaatkan secara intensif karena nilai komersialnya tinggi, mudah ditangkap dan kepadatannya tinggi seperti ikan ekor kuning dan ikan pisang-pisang (Caessionidae). Potensi ikan karang terbesar di Indonesia terdapat di selatan Sulawesi.

Tingkat pemanfaatan sebagian besar sumberdaya ikan di perairan kawasan barat Indonesia, khususnya di kawasan pantai, dinilai sudah mendekati tingkat maksimum daya dukung sumber dayanya, sebagian sumberdaya bahkan sudah dimanfaatkan secara berlebihan. Sementara itu, sebagian besar sumberdaya ikan di lepas pantai, kawasan timur Indonesia dan di ZEEI sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal.

b. Produktivitas Primer Sebagai Indikator Lokasi Penangkapan Ikan

Untuk mendukung industri perikanan tangkap maka pengetahuan tentang lokasi di mana ikan-ikan berkumpul adalah faktor yang sangat penting. Lokasi ini merupakan daerah perairan dengan tingkat kesuburan tinggi yang ditandai dengan produktivitas primer. Makin tinggi produktivitas primer di suatu daerah maka tingkat kesuburan perairan tersebut makin tinggi pula.

Menurut Nybakken (1992), pengertian produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dari senyawa-senyawa anorganik. Jadi produktivitas primer merupakan padanan fotosintesis, meskipun sejumlah kecil produktivitas primer dihasilkan oleh bakteri kemosintetik.

bagian terbesar energi, meskipun itoplankton hanya berada pada suatu lapisan air permukaan yang tipis

dimana cukup terdapat sinar matahari.

Produktivitas primer di suatu perairan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: cahaya, zat hara (nutrien), dan

faktor oseanograi yang akan diuraikan di bawah ini.

Faktor Cahaya

Fitoplankton hanya terdapat pada lapisan-lapisan atas di mana intensitas cahaya matahari cukup untuk berlangsungnya fotosintesis. Kedalaman penetrasi cahaya matahari di wilayah tropik yang lautnya cerah dan tidak banyak mengandung partikel dapat menembus sampai kedalaman 100 – 120 m dimana mungkin masih cukup besar bagi berlangsungnya fotosintesis (Nybakken, 1992).

Faktor Zat Hara (Nutrien)

Zat-zat hara anorganik utama yang diperlukan itoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak ialah

nitrogen (sebagai nitrat, NO3) dan fosfor (sebagai fosfat, PO42-). Kedua unsur utama tersebut mempunyai

arti yang penting karena kadarnya dalam laut relatif kecil dan oleh karenanya menjadi pembatas bagi

produktivitas itoplankton. Samudera yang tersubur hanya mengandung 0.00005 % nitrogen, jumlah ini

sama dengan 1/10000 jumlah nitrogen yang terdapat dalam tanah (Nybakken, 1992). Zat hara hanya dapat dimanfaatkan pada zona fotik yang merupakan suatu persediaan yang sangat berarti dan dapat meningkatkan produksi.

Faktor Oseanograi

Persediaan zat hara dalam jumlah yang sangat besar terdapat di bawah zona fotik. Zat hara ini hanya dapat

dimanfaatkan jika terdapat faktor oseanograis berupa upwelling (pemindahan massa air dari lapisan bawah ke permukaan) yang dapat menaikkan zat hara tersebut ke zona fotik. Hasill-hasil penelitian yang telah dilakukan di berbagai perairan di wilayah Indonesia (Nontji, 1993) menunjukkan bahwa upwelling telah dapat diketahui dan dibuktikan dengan pasti di beberapa daerah tertentu, akan tetapi di beberapa daerah lainnya masih merupakan dugaan yang masih perlu dikaji lebih lanjut (Gambar II. 5).

18

Gambar 2. 5 Distribusi daerah upwelling di perairan Indonesia (Nontji, 1993)

c. Pola Waktu Potensi Penangkapan Ikan di Indonesia

Daerah upwelling di Indonesia selalu bergerak mengikuti perubahan angin monsun mengingat wilayah laut yang sangat luas tersebut dipengaruhi oleh iklim monsun. Menurut Susanto (2000), daerah upwelling di laut sebelah barat Sumatra dan sebelah selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dipengaruhi oleh dua musim, yaitu monsun tenggara dan monsun barat laut, yaitu pada kondisi normal.

Pada monsun tenggara (Mei-September) berhembus angin yang bergerak sejajar dengan pantai selatan Pulau Jawa yang bertiup dari Australia ke arah khatulistiwa. Tiupan angin ini menyebabkan gerakan massa air permukaan ke arah lepas pantai selatan Jawa. Akibatnya terjadi kekosongan massa air di sebagian besar pantai selatan Jawa. Sebagai kompensasi, maka massa air dari bagian bawah bergerak ke atas (upwelling) mengganti kekosongan massa air tersebut. Pergerakan massa air ke atas ini tentu disertai pula dengan naiknya zat hara ke permukaan. Dengan demikian produktivitas primer di daerah tersebut akan tinggi. Kejadian ini dimulai intensif pada sekitar bulan Mei–Juni di pantai selatan Jawa Timur. Pada bulan berikutnya yaitu antara Agustus sampai Oktober angin monsun tenggara semakin menguat. Penguatan angin tenggara ini menyebabkan pusat upwelling bergerak ke pantai barat Sumatera. Pusat upwelling lalu beralih di sekitar Pulau Enggano.

Di wilayah lain, terdapat pula upwelling yang sifatnya temporer, yaitu di Selat Makassar (Wyrtki, 1961). Selama angin monsun tenggara bertiup massa air dari Laut Flores bertemu dengan massa air yang keluar dari Selat Makassar, dan bergabung menuju Laut Jawa. Keadaan ini membuat air dari lapisan bawah Selat Makassar bergerak ke atas mengganti kekosongan massa air tersebut. Keadaan ini ditandai dengan salinitas permukaan yang tinggi pada bulan Juni dan Juli.

Dalam dokumen Policy Paper (Halaman 36-41)