I, II 2 Identii kasi bahaya
2.4. Respon Kapasitas terhadap Perubahan Iklim Saat In
Kapasitas yang diperlukan dalam menghadapi isu perubahan iklim pada sektor kelautan dan perikanan adalah kelembagaan yang sekaligus mencakup sumber-daya manusia, riset, pengawasan, pengendalian, hukum dan kebijakan.
2.4.1. Respon Kelembagaan Saat Ini
Pada tingkat politik dan kebijakan Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen yang tinggi dalam mengantisipasi isu perubahan iklim dengan menyelenggarakan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali Desember 2007 yang menghasilkan Bali Road Map. Hasil tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) di Manado pada tanggal 14 Mei 2009 yang lalu. Konferensi kelautan ini menghasilkan kesepakatan dari 74 negara dan 13 lembaga internasional yang dituangkan dalam Manado Ocean Declaration (MOD).
Beberapa kesepakatan yang tertuang dalam MOD antara lain:
• Perlunya strategi nasional pengelolaan ekosistem pesisir dan laut yang berkelanjutan sebagai upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim
• Perlu diimplementasikannya pengelolaan pesisir dan laut secara terpadu untuk mengurangi resiko dan kerentanan (vulnerability) masyarakat pesisir beserta infrastrukturnya.
• Perlu dilakukannya riset ilmiah, monitoring kelautan terpadu dan ber-kelanjutan, serta membangun kesadaran masyarakat.
Pada tingkat teknis, kelembagaan atau institusi yang melaksanakan dan mengelola aksi adaptasi perubahan iklim pada sektor kelautan dan perikanan sebenarnya sudah ada sejak tahun 2005 yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dimana terlihat dari beberapa butir pada Rencana Strategisnya tahun 2005–2009 (KKP, 2005). Sebagai contoh, Misi ke-3 (memelihara daya dukung dan meningkatkan kualitas lingkungan sumber daya kelautan dan perikanan; lihat Tabel L.2) pada mulanya diarahkan pada isu lingkungan hidup, namun ternyata juga telah mencakup isu perubahan iklim. Beberapa kegiatan pokok
di antaranya juga berkaitan dengan strategi adaptasi perubahan iklim antara lain (1) pengelolaan dan pengembangan konservasi laut, dan rehabilitasi habitat ekosistem yang rusak seperti terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, dan estuaria; (2) penataan ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil; (3) pemeliharaan dan peningkatan pengelolaan ekosistem laut, pesisir dan pulau-pulau kecil; serta (4) peningkatan keselamatan, mitigasi bencana alam laut dan prakiraan iklim laut.
Demikian pula dengan Misi-1 yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya dan Misi-2 yaitu meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, turut mendukung dan memperkuat upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.
Beberapa kegiatan pokok di antaranya juga relevan dengan strategi adaptasi antara lain (1) pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan; (2) peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengawasan; (3) diseminasi dan asimilasi hasil riset dan pengembangan iptek kelautan dan perikanan; (4) pengembangan kawasan budidaya laut, air payau, dan air tawar; (5) pengembangan pelabuhan perikanan dan kapal perikanan; pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan; (6) pemberdayaan masyarakat pulau-pulau kecil dan memfasilitasi pengelolaan wilayah pesisir terpadu; (7) peningkatan kapasitas sumberdaya riset kelautan dan perikanan.
Di antara unit-unit kerja di dalam KKP yang telah banyak merespon isu-isu perubahan iklim adalah Direktorat Jendral Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Dirjen KP3K). Bidang tugas dari unit kerja tersebut lebih banyak bersifat kewilayahan dan lintas sektoral, disamping fungsi melaksanakan konservasi pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil. Dengan lingkup kerja ini maka Ditjen KP3K telah melaksanakan respon terhadap isu perubahan iklim seperti:
• Program MCRMP (Marine and Coastal Resource Management Project) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/ Kota dalam melaksanakan fungsi dan tanggungjawab menggali, memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam di pesisir dan laut yang berada dalam wilayah-nya. Program ini telah dilaksanakan pada tahun 2001 – 2009 di 15 provinsi di Indonesia (sumber: http://www.dkp.go.id/index.php/ind/menu/31/ mcrmp).
• COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program) adalah suatu program yang bertujuan untuk menyelamatkan ekosistem terumbu karang, yaitu dengan memetakan kondisi eksisting, merehabilitasi dan memelihara, melalui pengawasan dan penyuluhan kepada pemangku kebijakan, serta penguatan kelembagaan, dan lain-lain. Program ini telah dilaksanakan di beberapa provinsi seperti Kepulauan Riau, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengggara, dan Papua (sumber:www.coremap.or.id). Begitu pula dengan program-program tahunan KKP yang dilaksanakan di seluruh provinsi mendukung upaya adaptasi perubahan iklim seperti program rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut, dan konservasi dan pemberdayaan pulau-pulau kecil.
2.4.2. Kerangka Hukum dan Kebijakan Tingkat Nasional Saat Ini
Masalah pada kapasitas hukum dan kebijakan terhadap adaptasi perubahan iklim adalah belum tersedianya
hukum dan perundangan yang secara langsung atau spesiik mengatur hak dan kewajiban dari warga
negara dan pemerintah Indonesia dalam melaksanakan adaptasi terhadap bahaya alam yang dipicu oleh perubahan iklim. Namun demikian beberapa Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah saat ini telah menjadi modal dasar untuk dapat mengatur pelaksanaan adaptasi perubahan iklim pada sektor kelautan dan perikanan, antara lain:
Undang-Undang
• Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
• Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
• Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
• Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005- 2025.
• Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.
• Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah..
• Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang No. 45 Tahun 2009.
• Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Sisrenbang Kelautan).
• Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
• Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SDM Kelautan). • Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Litbang Kelautan. SISNAS-LITBANG Penegakan
Ketaatan dan Hukum Laut.
• Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. • Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
• Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran.
• Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Wisata Bahari).
• Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan
Ekosistemnya.
• Undang-undang No 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS 1982 di Indonesia. • Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Industri Kelautan). • Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. • Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen.
• Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan (Pertambangan di Laut). Peraturan Pemerintah
• Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran serta Lembaga Internasional & Lembaga Asing Non-pemerintah pada Penanggulangan Bencana
• Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. • Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Peraturan Pemerintah Tentang Tahapan Tata
Cara, Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
• Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
• Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. • Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2010-2014
• Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana. • Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Keamanan Laut
• Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Perlindungan Kawasan Lindung. • Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan
AMDAL dalam kegiatan pembangunan lahan basah Penyesuaian Hukum dan Kebijakan yang Belum Ada
Mengingat belum adanya hukum dan perundangan yang mengatur secara spesiik dan langsung tentang
adaptasi dan mitigasi perubahan iklim maka pelaksanaannya dapat merujuk Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana serta Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dimana di dalamnya mengikat bagi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.
28
bencana yang dimaksudkan pada Undang-Undang tersebut di atas, dimana regulasi dan kebijakan pemerintah yang ada hingga saat ini masih mengambil asumsi bahwa bencana alam selalu bersifat masif dan mendadak seperti banjir, badai, gelombang badai, tsunami, dan sebagainya. Padahal bahaya yang dipicu oleh perubahan iklim bisa terjadi secara perlahan-lahan (slow onset) namun pasti seperti kenaikan suhu dan kenaikan muka air laut.
Dalam mengakomodasi kekhasan karakteristik bencana alam yang dipicu oleh perubahan iklim maka perlu adanya penyusunan hukum dan kebijakan tentang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan/atau penyesuaian hukum dan kebijakan yang telah ada seperti Undang-Undang tersebut di atas.