• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.2. Mikroekonomi Lingkungan Usaha

5.2.4 Kondisi Permintaan

Menurut keterangan para pemilik IKM, daya serap pasar lokal terhadap produk furniture kayu buatan lokal tidak terlalu tinggi. Masyarakat lebih menyukai produk furniture dengan citra modern dan bermerek yang dijual di toko- toko. Jenis furniture paling sering dibeli masyarakat dari toko-toko tersebut adalah meja komputer, meja TV, lemari besar, meja rias, tempat tidur/dipan, dan kursi tamu. Pembeli furniture ini kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas yang berada di dalam kota. Sementara furniture buatan lokal yang sering dipesan/dibeli umumnya adalah lemari pakaian kecil, dipan solo, meja kursi tunggal, kitchen set dan meja makan. Kualitas furniture buatan lokal memang lebih rendah karena menyesuaikan daya beli masyarakat. Konsumen furniture lokal umumnya adalah rumah tangga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, pemilik rumah kontrakan, kantor-kantor, toko/rumah makan dan hotel.

5.2.4.2 Pengembangan Produk dan Segmen Pasar Baru

Upaya pengembangan produk menghadapi kendala berupa rendahnya daya beli masyarakat terhadap produk furniture. Satu set dipan besar furniture kayu buatan lokal dengan kualitas baik dapat mencapai harga 5-6 juta rupiah. Penawaran dengan harga ini dirasakan cukup tinggi bagi masyarakat kota yang umumnya berprofesi sebagai pegawai/karyawan. Oleh karena itu, IKM furniture di Kota Palangka Raya lebih menfokuskan usaha kepada pembuatan komponen bahan bangunan seperti pintu, jendela, kusen, meja, kursi dan lemari. Permintaan produk-produk ini diakui para pengusaha furniture cukup tinggi (Lampiran 11). Permintaan ini terutama berasal dari rumah tangga dan proyek-proyek pembangunan rumah yang dilakukan oleh pengembang, baik dari dalam kota maupun dari kabupaten di sekitarnya. Disisi lain para pengusaha furniture juga menyukai kondisi ini karena modal yang diperlukan tidak terlalu banyak, pekerjaan yang lebih sederhana, keuntungan yang cukup tinggi dan perputaran aset yang lebih cepat. Dengan demikian, pengembangan pasar baru bagi produk furniture buatan IKM di Kota Palangka Raya masih sulit dilakukan mengingat para pengusaha lebih tertarik kepada pembuatan komponen bahan bangunan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kondisi Klaster Furniture dan Komponen Bahan Bangunan Palangka Raya yang dipetakan dalam Diamond Porter disajikan pada Gambar 11.

Sumber: Pengamatan langsung (2008)

Gambar 11 Diamond klaster furniture Palangka Raya.

(+) Faktor-faktor yang mendukung atau berpengaruh positif terhadap pengembangan klaster (-) Faktor-faktor yang tidak mendukung atau berpengaruh negatif terhadap pengembangan klaster

Kondisi faktor: + Adanya tenaga kerja

berpengalaman

+ Tersedianya mesin dan peralatan produksi

+ Banyaknya insentif dari pemerintah - Kendala akses terhadap modal kerja - Tidak tersedianya fasilitas litbang - Terbatasnya fasilitas infrastruktur,

jalan, transportasi dan komunikasi - Banyaknya peredaran bahan baku

illegal

Kondisi Permintaan:

-Tingginya permintaan terhadap komponen bahan bangunan -Rendahnya permintaan lokal

terhadap furniture karena produk furniture lokal belum populer -Lebih disukainya produk dengan

kesan modern dan bermerek Industri pemasok, pendukung dan

terkait:

+ Jumlah Industri pemasok cukup bahan baku memadai

- Terbatasnya lembaga/industri terkait dan pendukung - Belum ada kerjasama antara

industri inti dan industri pemasok/terkait/pendukung - Bahan/peralatan pendukung masih

didatangkan dari luar kota (Pulau Jawa)

Struktur, persaingan dan strategi industri:

+ Penguatan koperasi untuk menguatkan posisi IKM terhadap pemerintah dan industri

pemasok/terkait

-Rendahnya persaingan antar perusahaan dalam klaster -IKM belum menerapkan strategi

Pada Gambar 11 tampak bahwa faktor-faktor yang bersifat negatif lebih banyak dari pada faktor-faktor yang bersifat positif. Pada bagian Industri Pemasok, Pendukung dan Terkait, hanya industri pemasok bahan baku kayu yang mendukung pengembangan klaster industri. Selama ini industri penggergajian kayu tersebut mampu memasok bahan baku kayu bahi industri furniture. Namun, legalitas bahan baku yang diperoleh oleh industri-industri ini masih bermasalah. Dengan demikian kelanjutan industri furniture di masa yang akan datang dapat terhambat dengan adanya permasalahan kontinuitas dan legalitas bahan bakunya. Pada bagian Kondisi Permintaan, semua faktor bernilai negatif. Artinya, kondisi permintaan lokal di Palangka Raya tidak dapat mendukung terbentuknya klaster industri furniture. Sementara itu, pada bagian Kondisi Faktor terdapat 3 hal yang mendukung pengembangan klaster industri furniture, yaitu adanya tenaga kerja berpengalaman dan peralatan produksi serta besarnya dukungan dari pemerintah daerah. Sedangkan faktor yang menghambat terbentuknya klaster industri adalah kendala akses terhadap modal kerja, tidak adanya fasilitas litbang, terbatasnya infrastruktur dan banyaknya peredaran kayu ilegal. Pada bagian Struktur, Persaingan dan Strategi Industri hampir semua faktor bernilai negatif kecuali adanya strategi penguatan koperasi untuk mengautkan posisi IKM furniture terhadap pemerintah, industri pemasok dan terkait.

5.3 Karakteristik dan Pengalaman Perusahaan

Pengalaman kerja para pengusaha IKM furniture cukup bervariasi. Perbedaan pengalaman ini menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam hal menyelesaikan permasalahan, kemampuan teknik produksi dan manajemen usaha. Namun, ada beberapa hal yang menjadi persamaan dan menjadi karakteristik umum para pengusaha dan pengrajin furniture di klaster furniture Palangka Raya.

Beberapa karakteristik perusahaan yang ada di klaster tersebut adalah: 1. Konsistensi melakukan usaha. Salah satu faktor penghambat perkembangan

klaster furniture di Palangka Raya adalah labilnya konsistensi para pengusaha dalam menekuni usahanya. Perbedaan pengalaman kerja, jaringan usaha dan besarnya modal usaha memberi pengaruh terhadap semangat kerja para pengusaha. Sebagian pengusaha, terutama yang tidak selalu mendapatkan

order pekerjaan di gudang kerjanya seringkali mengisi waktu luangnya dengan kegiatan lain seperti menjadi pengurus partai politik, berdagang dan mengerjakan pembangunan rumah. Banyaknya aktivitas di luar klaster berdampak pada rendahnya output furniture dari dalam klaster

2. Kualitas yang belum standar. Sampai saat ini produk yang dihasilkan oleh IKM furniture Palangka Raya belum memiliki standar produk. Pembeli yang sebagian besar berada di dalam dan sekitar Kota Palangka Raya tidak mensyaratkan standar tertentu walaupun unit-unit usaha furniture mampu mengolah produk dengan standar yang ditetapkan. Lemahnya tuntutan standar tertentu dari konsumen mengakibatkan para pengusaha tidak berusaha membuat produk berstandar. Selama ini standar bahan baku dan kualitas produk akhir ditetapkan berdasarkan intuisi para pengrajin yang telah berpengalaman. Menurut para pengusaha, mereka mampu membuat produk yang berstandar dengan telah beroperasinya mesin-mesin produksi bantuan dari Departemen Perindustrian

3. Ketepatan pengiriman pesanan. Kesesuaian waktu pengiriman barang dengan kontrak order yang telah disepakati dapat memberikan citra positif bagi unit usaha di dalam klaster, demikian pula sebaliknya. Namun, ketepatan pengiriman barang sangat dipengaruhi berlangsungnya proses produksi. Pada kenyataannya hal ini cukup sulit dipenuhi jika pemesan menginginkan barang diselesaikan dalam waktu singkat. Seringnya pemadaman listrik dari PT. PLN menjadikan para pengusaha tidak dapat memberikan jaminan kepastian waktu selesainya order. Terbatasnya stok bahan baku dapat pula mempengaruhi ketepatan pengiriman order dalam jumlah besar. Umumnya para pengusaha tidak memiliki stok bahan baku dalam jumlah besar karena terbatasnya dana yang dimiliki

4. Jumlah produksi terbatas Para pengusaha furniture di klaster hanya membuat produk bila ada permintaan dari konsumen (by order). Dari 30 unit usaha furniture yang telah beroperasi hanya 1 perusahaan yang memiliki showroom, itupun berada di lokasi awal pengusaha sebelum pindah ke dalam klaster. Terbatasnya jumlah furniture yang dihasilkan disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki oleh para pengusaha, lemahnya daya beli konsumen lokal

dan belum adanya showroom yang dapat menampung produk yang dihasilkan. Keterbatasan modal menjadikan dana yang dimiliki para pengusaha dialokasikan untuk memenuhi perlengkapan produksi barang-barang pesanan yang sedang dikerjakan

5. Rendahnya jiwa kewirausahaan. Produk-produk yang dihasilkan oleh IKM furniture sesungguhnya cukup berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya tawaran ekspor pada beberapa kesempatan mengikuti pameran produk ekspor. Selain itu ada pula permintaan produk dari beberapa daerah di pulau Jawa. Namun, kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para pengusaha. Alasan penolakan yang dikemukakan oleh para pengusaha adalah minimnya modal, sulitnya mendapatkan bahan baku, tidak memadainya peralatan produksi dan terbatasnya pasokan listrik. Namun, para pengusaha tetap tidak mampu memenuhi tawaran tersebut meskipun Pemko telah memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan. Para pengusaha tampaknya lebih memilih mengerjakan pesanan komponen bahan bangunan seperti pintu, jendela, kusen, lemari dan peti jenazah yang jumlahnya cukup banyak

6. Seluruh proses produksi ditangani sendiri. Proses produksi yang terjadi di industri furniture umumnya ditangani secara langsung oleh pemilik/pimpinan perusahaan yang dibantu oleh karyawannya. Pimpinan perusahaan terlibat pada proses pembelian bahan baku, proses produksi, distribusi barang dan pemasarannya. Minimnya jumlah karyawan menjadi alasan utama mengapa seluruh kegiatan yang dilakukan di perusahaan dikerjakan secara bersama- sama. Dampak kondisi ini adalah semua karyawan mengerti dan mampu mengerjakan seluruh proses produksi dari hulu hingga hilir, namun mereka tidak memiliki keahlian yang cukup baik pada setiap tahap proses itu.

5.4Hasil Penilaian

Berdasarkan analisis terhadap fakta-fakta di atas, penelitian ini menemukan 7 faktor yang memiliki pengaruh penting terhadap pengembangan klaster furniture di Palangka Raya. Uraian mengenai 7 faktor tersebut adalah sebagai berikut.

1. Lemahnya koordinasi antar instansi pemerintah. Pembangunan sentra industri furniture merupakan program Pemko Palangka Raya. Untuk mensukseskan program tersebut, Walikota Palangka Raya telah mengeluarkan surat keputusan tentang pembentukan kelompok kerja. Namun, dalam pelaksanaannya pokja-pokja ini tidak berjalan efektif. Disindagkop selaku ketua pokja lebih banyak bekerja sendiri. Akibatnya, beberapa pekerjaan yang memerlukan keterlibatan instansi lain seperti penyediaan infrastruktur jalan, pembangunan drainase, penyediaan jaringan listrik, penilaian AMDAL, pemenuhan bahan baku yang legal, pemantapan status lahan dan akses permodalan bagi IKM tidak berjalan dengan baik. Pada perkembangan berikutnya, hal-hal tersebut menjadi penyebab terhambatnya pengembangan sentra industri.

2. Ketidakpastian status lahan sentra industri. Lahan yang digunakan sebagai areal Sentra Industri Furniture Palangka Raya seyogianya ditetapkan sejak awal sebagai areal kegiatan industri secara permanen. Penetapan areal tersebut disesuaikan dengan tataruang kota. Areal yang akan digunakan dapat berupa lahan-lahan yang dapat dikonversi dari lahan-lahan milik Pemko. Pembangunan sentra industri dengan meminjam lahan milik provinsi selama 15-20 tahun dapat menimbulkan sengketa di masa berikutnya. Apalagi Pemprov belum memberikan kepastian hukum lahan pinjaman tersebut. Permasalahan ini mulai dirasakan oleh pemko ketika ketika Pemprov berniat merubah/meninjau ulang peminjaman lahan tersebut. Beberapa program pembangunan sarana fisik terpaksa ditunda sebelum adanya kejelasan keputusan Pemprov. Bagi pengusaha IKM, ketidakjelasan status lahan ini menyebabkan ketidaknyamanan usaha. Ketidakpastian status lahan ini menyebabkan sebagian perhatian Pemko dialihkan kepada usaha mencari alaternatif lokasi sentra yang baru.

3. Hambatan akses kepada modal usaha. Banyaknya lembaga keuangan (perbankan) tidak secara otomatis membuka jalan bagi IKM untuk mendapatkan modal usaha. Para pengusaha furniture menyatakan bahwa mereka telah berinteraksi dengan beberapa bank pemerintah untuk mendapatkan bantuan kredit. Namun hingga kini belum ada satupun diantara

mereka yang berhasil mendapatkannya. Beberapa kendala yang menyebabkan mereka gagal mendapatkan kredit adalah tidak adanya jaminan/agunan yang diberikan kepada bank, rendahnya plafon kredit yang ditawarkan pihak bank, tingginya suku bunga kredit, dan pihak bank menyatakan usaha mereka tidak prospektif. Masalah ini telah dicoba untuk diatasi oleh pemerintah dengan memberikan jaminan kredit bagi koperasi dan UKM. Akan tetapi upaya ini belum membuahkan hasil mengingat keputusan pemberian kredit menjadi hak perbankan sepenuhnya.

4. Terbatasnya infrastruktur. Terbatasnya infrastruktur seperti jalan, listrik dan pergudangan cukup berpengaruh bagi pengembangan klaster furniture di Palangka Raya. Pengaruh keterbatasan infrastuktur dapat dikelompokan menjadi pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung keterbatasan infrastruktur yang dirasakan IKM furniture adalah karena menyebabkan tingginya biaya produksi dan distribusi barang. Ketidakstabilan pasokan listrik menyebabkan IKM furniture sering menggunakan genset sebagai sumber listrik atau terpaksa kerja lembur untuk mengganti jam kerja yang hilang. Sementara keterbatasan infrastruktur jalan menyebabkan biaya distribusi yang tinggi. Pengaruh tidak langsung keterbatasan infrastruktur adalah tidak berkembangnya sektor industri secara umum, termasuk yang mendukung atau terkait dengan industri furniture.

5. Maraknya peredaran bahan baku kayu illegal. Maraknya peredaran kayu illegal di suatu daerah akan memberikan citra negatif produk perkayuan yang dihasilkan daerah tersebut. Untuk itu strategi pengembangan klaster industri furniture yang diharapkan mampu bersaing di pasar internasional harus mencakup strategi penyediaan bahan baku yang legal dan lestari. Menurut Schmitz (2003), tanpa regulasi dan sertifikasi bahan baku, pembangunan klaster tidak akan mencapai keberhasilan. Di sisi lain, unsur legalitas bahan baku saat ini memang menjadi hambatan non tarif yang menghambat daya saing produk kayu olahan Indonesia di pasar internasional (Manurung et al.

2007; Deprin 2008).

6. Lemahnya daya serap pasar lokal. Lemahnya daya serap ini dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu: (1) rendahnya pendapatan masyarakat lokal, (2) tingginya

harga furniture lokal, (3) lebih disukainya furniture dengan kesan modern dan bermerek, dan (4) jumlah penduduk yang relatif sedikit. Produksi furniture semakin dirasakan tidak menarik karena tingginya permintaan terhadap komponen bahan bangunan (KBB) dari Kota Palangka Raya dan sekitarnya. Para pengusaha lebih menyukai mengerjakan pesanan (KBB) karena modal yang diperlukan lebih sedikit, waktu produksi yang lebih cepat, proses yang lebih sederhana, keuntungan yang cukup tinggi dan perputaran aset yang lebih cepat. Hal ini sebenarnya merupakan masalah penting karena mayoritas klaster di Indonesia yang lambat pertumbuhannya adalah klaster yang tidak didukung oleh permintaan lokal yang tinggi (Humprey dan Schmitz 1995). 7. Keterbatasan industri pendukung dan industri terkait. Terbatasnya industri-

industri terkait dan pendukung menyebabkan biaya produksi furniture masih tinggi. Hal ini berdampak pada sulitnya memproduksi furniture yang kompetitif secara masal. Namun, fenomena lemahnya kondisi industri pendukung tidak hanya terjadi di Palangka Raya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh JICA (2008), permasalahan utama pada industri pendukung klaster-klaster di Indonesia adalah lemahnya akses terhadap permodalan, kendala dalam pengembangan pasar dan buruknya penerapan teknologi manajemen dan kontrol produksi. Permasalahan lemahnya industri pendukung sebenarnya adalah permasalahan yang bersifat nasional (Djamhari 2006). Hal ini semakin menguatkan perdebatan bahwa klaster industri memang telah menjadi arus utama dalam konsep peningkatan daya saing industri, namun konsep tersebut tidak berlaku secara universal (Schmitz, Nadvi 1999).

Dokumen terkait