ANALISIS DRIVING FORCE , PRESSURE , STATE , IMPACT , DAN
B. Kualitas Air
3. Kondisi (State) Kualitas Air
Kondisi Air Sungai
Pemantauan kualitas air sungai tahun 2019 dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman sebanyak 2 kali yaitu pada bulan Januari - Februari 2019 untuk mewakili musim hujan dan pada bulan Juli - Agustus 2019 untuk mewakili musim kemarau. Pengambilan sampel kualitas air dilakukan di 60 titik lokasi, terhadap 11 sungai yang ada di wilayah Kabupaten Sleman. Sungai-sungai tersebut adalah Sungai Blotan, Sungai Progo, Sungai Kruwet, Sungai Kuning, Sungai Gajah Wong (Pelang), Sungai Tepus, Sungai Boyong (Code), Sungai Konteng, Sungai Bedog, Sungai Denggung - Winongo, Sungai Opak. Parameter yang diukur sebanyak 14 parameter yaitu bau, pH, TDS, TSS, DO, BOD, COD, minyak lemak, nitrat, nitrit, sulfida, fosfat, coli tinja, dan total coli. Pada setiap ruas sungai, ditentukan peruntukannya sesuai dengan mutu airnya. Hasil pengukuran disajikan pada Lampiran Tabel 29. Acuan kualitas air yang digunakan untuk menentukan mutu air adalah Peraturan Gubernur DIY No. 20 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Air di Provinsi DIY. Dari peraturan tersebut, mutu air dibagi menjadi 4 kelas, yaitu:
1. Air kelas satu adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
2. Air kelas dua adalah air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
3. Air kelas tiga adalah air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
II-36
4. Air kelas empat adalah air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Untuk melihat gambaran bagaimana kualitas air dapat dimanfaatkan, perlu diukur melalui Indeks Kualitas Air (IKA) berdasarkan data yang disajikan pada Lampiran Tabel 29. Perhitungan IKA ini menggunakan Metode Indeks Pencemaran (Pollution Indeks) dimana digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diijinkan. Indeks Pencemaran (IP) ditentukan untuk suatu peruntukan, kemudian dapat dikembangkan untuk beberapa peruntukan bagi seluruh bagian badan air atau sebagian dari suatu sungai. Pengelolaan IKA atas dasar Indeks Pencemaran ini dapat memberi masukan pada pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas badan air untuk suatu peruntukan serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kualitas jika terjadi penurunan kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar. Indeks Pencemaran mencakup berbagai kelompok parameter kualitas yang independent dan bermakna, dimana ditentukan dari nilai maksimum dan nilai rerata rasio konsentrasi per-paramater terhadap nilai baku mutunya.
Dari 14 parameter yang sudah diukur, ada 5 parameter utama yang digunakan untuk menghitung IKA menggunakan metode Indeks Pencemaran , yaitu parameter TSS, DO, COD,Fosfat, BOD, Coli Tinja (Fecal coliform) dan Total Coli (Total coliform). Parameter-parameter ini dipilih karena berkaitan dengan penggunaan air untuk keperluan domestik yang ada di sekitar lokasi sungai yang diukur.
Faktor curah hujan memiliki peranan penting terhadap kualitas air sungai di wilayah Kabupaten Sleman. Terdapat perbedaan nilai Indeks Pencemaran yang berbeda antara perhitungan yang menggunakan sampel air sungai yang diambil pada musim penghujan dengan musim kemarau pada lokasi yang sama seperti disajikan pada Lampiran Tabel 29. Sampel yang diambil pada musim penghujan, yaitu pada selang waktu diantara bulan Januari sampai Februari, memiliki nilai nilai Indeks Pencemaran yang
II-37
lebih baik, yaitu 55,33, dimana tidak ada sungai yang menunjukan adanya pencemaran pada kelas berat. Sekitar 50% atau 30 lokasi sampel air masuk dalam kategori kualitas airnya memenuhi baku mutu, 27% atau 16 lokasi sampel termasuk kualitas ringan dan 23% kualitas air sedang.
Gambar II-10 Persentase status mutu air sungai pada sampel di bulan Januari – Februari 2019
Kondisi sampel air sungai yang diambil pada bulan Juli sampai Agustus 2019 yang mewakili musim kemarau, memiliki nilai IP yang lebih rendah dari musim penghujan, yaitu 36. Perbedaan mencolok adalah pada persentase sampel air yang masuk kategori memenuhi hanya 15% atau 9 lokasi sampel saja. Kemudian juga ada yang masuk kategori kualitas air tercemar berat, bahkan mencapai 25% atau 15 lokasi sampel.
II-38
Gambar II-11 Persentase status mutu air sungai pada sampel di bulan Juli - Agustus 2019
Ada beberapa catatan yang perlu mendapat perhatian, antara lain adalah kondisi kualitas air sungai di Sungai Code yang menjadi salah satu sungai penting di Yogyakarta. Pada Musim Penghujan, kualitas air sungainya sangat bagus dan bahkan jauh lebih baik dari sungai lain disekitarnya. Semua sampel yang diambil pada ruas Sungai Code dikategorikan memenuhi, akan tetapi pada sampel yang diambil pada Musim Kemarau, justru menunjukan bahwa kualitas air di sungai ini ebih buruk, masuk dalam kategori sedang sampai berat. Hal ini menunjukan adanya fluktuasi kualitas air sungai yang cukup tinggi di sungai-sungai yang ada di Kabupaten Sleman. Sekalipun tidak lebih tinggi dari yang terjadi di Sungai Code, fluktuasi ini juga terjadi pada Sungai Gajahwong dan Sungai Konteng.
Sungai di wilayah Kabupaten Sleman sebagian besar ditetapkan sebagai sungai kelas I (satu) berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penetapan Kelas Air Sungai di Provinsi DIY. Air sungai kelas I (satu) adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan kebutuhan lainnya yang mempersyaratkan mutu air yang sama.
II-39
Namun demikian banyaknya sumber-sumber pencemar yang ada di sekitar sungai berupa permukiman, perdagangan, industri, kegiatan pertanian, perikanan dan peternakan yang menghasilkan limbah cair yang langsung dibuang ke sungai, serta banyaknya pembuangan sampah ilegal di badan sungai memengaruhi kondisi kualitas air sungai yang pada akhirnya akan berpengaruh pada hasil pengukuran indeks kualitas air.
Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Kualitas Air (IKA) pada tahun 2019 mencapai nilai 46,33. Nilai ini naik dibanding tahun 2018 dimana nilai IKA tahun tersebut adalah 41,33. Nilai IKA sendiri dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 adalah fluktuatif namun dengan kecenderungan umum yang terus meningkat. Kecenderungan peningkatan nilai IKA tersaji dalam gambar berikut.
Grafik II-13 Nilai IKA Tahun 2015 – 2019
Kondisi kecenderungan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kualitas air sungai walaupun dengan catatan, jika dikategorikan dalam kelas IKA, nilai tersebut masih masuk dalam predikat kurang baik. Peningkatan kualitas air tersebut mengindikasikan pengelolaan sumbedaya air sungai selama ini cenderung semakin baik, dimana salah satunya adalah kesadaran membuang sampah yang terus membaik, serta pola hidup sehat dengan tidak limbah domestik manusia dan hewan ternak ke sungai.
II-40
Tabel II-2 Lokasi dan Kelas Kualitas Air Sungai
NO TITIK LOKASI KELAS
SUNGAI