• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DRIVING FORCE , PRESSURE , STATE , IMPACT , DAN

A. Tata Guna Lahan

5. Upaya ( Response ) Pemerintah Daerah

Pengurangan Alih Fungsi Lahan

Berbagai upaya dalam pengendalian alih fungsi lahan di Kabupaten Sleman telah dilakukan. Salah satu upaya melalui penetapan peraturan perundang-undangan daerah diantaranya Perda Kabupaten Sleman Nomor 3 Tahun 2015 tentang Izin Pemanfaatan Ruang dan Peraturan Bupati Sleman Nomor 63 Tahun 2015 tentang Penghentian Sementara Pendirian Hotel, Apartemen, dan Kondotel di Wilayah Kabupaten Sleman.

Pemerintah DIY telah menetapkan Peraturan Daerah DIY No. 5 tahun 2019 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2019 – 2039, dimana pada Pasal 61 mengatur luas LP2B yang perlu disediakan oleh masing-masing kabupatebn/kota. Pemerintah Kab. Sleman menindaklanjuti peraturan tersebut dalam penyusunan draft Raperda melalui penetapan luasan LP2B sebesar 18.482,04 ha terdiri daari LP2B seluas 17.947,54 ha dan lahan cadangan seluas 534,50 ha. Berkaitan dengan lahan LP2B, dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan inventarisasi dan pemetaan terhadap lahan dan pemilik lahan yang direncanakan akan ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan yang diatur dalam rencana rinci tata ruang lebih lanjut.

II-23

Upaya lain untuk menekan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, dengan meningkatkan semangat untuk bertani dengan memperkuat nilai jual produk pertanian dengan launching Beras Sleman dan pembuatan branding Beras Sleman, serta program bela beli produk Sleman yang sudah diberlakukan bagi pegawai Pemerintah Kabupaten Sleman. Pemerintah Kabupaten Sleman juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 500/19921 tanggal 20 Agustus 2015 perihal penggunaan produk lokal. Bahkan dalam Pasal 18 Perda Kabupaten Sleman Nomor 18 Tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern diamanatkan adanya kemitraan dengan UMKM dalam bidang produksi, pengolahan, pemasaran, sumber daya, manusia, teknologi, penyediaan bahan baku, pengelolaan usaha dan pendanaan.

Gambar II-6 Produk Beras Sleman

Untuk mengantisipasi dampak penurunan produksi pertanian akibat alih fungsi lahan, maka frekuensi penanaman ditingkatkan dari satu kali tanam menjadi dua kali tanam, dan melalui kegiatan intensifikasi pertanian dengan penggunaan padi hibrida, mengembangkan sistem pertanian mina padi dan mengembangkan cara tanam dengan sistem “jajar legowo”

(mengatur jarak tanam). Selain itu di daerah Kecamatan Mlati ada suatu kearifan lokal yaitu berupa kesepakatan warga apabila ada lahan sawah produktif tidak boleh untuk ditanamai tanaman keras karena dapat mengganggu produktivitas sawah sekitarnya.

II-24

Untuk pelaksanaan Perda Kabupaten Sleman Nomor 3 Tahun 2015, pada tahun 2017 Pemerintah Kabupaten Sleman telah menetapkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 21 Tahun 2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 3 Tahun 2015 tentang Izin Pemanfaatan Ruang. Sedangkan untuk pelaksaan Peraturan Bupati Sleman Nomor 63 Tahun 2015 tentang Penghentian Sementara Pendirian Hotel, Apartemen, dan Kondotel di Wilayah Kabupaten Sleman hanya berlaku bagi pengajuan baru. Apabila rencana kegiatan sudah memilik perizinan awal yaitu berupa izin pemanfaatan ruang, maka perizinan selanjutnya dapat diproses sesuai aturan yang berlaku.

Penanganan Kawasan Hutan dan Lahan Kritis

Upaya penangan lahan kritis dilakukan dengan perbaikan kualitas tanah melalui pemupukan dan penanaman dengan jenis tanaman yang dapat tumbuh di lahan tersebut yang tiap tahun dilaksanakan oleh DLH Kabupaten Sleman, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, serta Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Untuk tahun 2019 jumlah tanaman mencapai 155.571 batang pohon yang merupakan total realisasi jumlah pohon untuk penghijauan dengan luas 188,46 Ha dan sebanyak 2.005 realisasi jumlah pohon untuk reboisasi dengan luas sebesar 31,26 Ha (Lampiran Tabel 16).

Alih fungsi lahan juga berdampak pada sumber daya hutan.

Keberadaan hutan di Kabupaten Sleman perlu terus dijaga agar luas hutan yang masih ada tegakannya tidak semakin berkurang, karena keberadaannya sangat vital untuk penyeimbang ekosistem, pencegah longsor, pengendali pencemaran udara, dan penjaga kondisi kualitas dan ketersediaan air.

Ada beberapa fungsi hutan di Kabupaten Sleman, meliputi cagar alam, taman wisata alam, dan taman nasional (Gunung Merapi). Luas hutan berdasarkan fungsinya di Kabupaten Sleman sebesar 1.795,33 Ha, dengan klasifikasi fungsi cagar alam seluas 0,015 Ha; fungsi taman wisata alam

II-25

seluas 1,069 Ha; dan Taman Nasional (Gunung Merapi) seluas 1.794,25 Ha.

(Lampiran Tabel 3).

Grafik II-10 Luas Hutan Menurut Fungsi

Berdasarkan Status Lahan, di Kabupaten Sleman terdapat hutan negara seluas 1.795,33 ha, hutan rakyat seluas 5.789 ha, dan hutan kota seluas 7 ha.

Grafik II-11 Luas Hutan Menurut Status Lahan

II-26

Grafik II-12 Luas Kawasan Lindung dan Budidaya

Sedangkan luas kawasan lindung berdasarkan RTRW adalah terdiri dari kawasan perlindungan terhadap kawasan di bawahnya sebesar 25.754,71 ha, kawasan perlindungan setempat sebesar 12.026,79 ha, kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya sebesar 2.010,05 ha, kawasan rawan bencana (tanah longsor) sebesar 3.188,74 ha, kawasan rawan bencana alam geologi sebesar 18.466,48 ha. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah sebesar 24.534,58 ha, dan kawasan budidaya sebesar 43.736,87 ha (Lampiran Tabel 1).

II-27

Gambar II-7 Peta Kawasan Kehutanan Kabupaten Sleman

Lampiran Tabel 18 dan Tabel 19 tidak terisi dikarenakan di Kabupaten Sleman tidak terdapat kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dan Bukan Kayu. Di Kabupaten Sleman tidak terdapat IUPHHK (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu), dikarenakan di Kabupaten Sleman hanya terdapat hutan lindung yang tidak dikonsumsi, namun hanya untuk kawasan konservasi. Di Kabupaten Sleman juga tidak terdapat Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHBK).

Kegiatan yang terdapat di Kabupaten Sleman adalah penatausahaan hasil hutan (PUHH) yang merupakan anak dari industri pengolahan. Adapun industri yang bergerak dibidang PUHH yang terdapat di Kabupaten Sleman meliputi PT Albasia di Dusun Babadan, Purwomartani, PT Margoagung di Jl.

Kebonagung dengan sumber bahan baku berasal dari kayu Perhutani Jawa Tengah, PT Perwita Karya di Kalitirto, Berbah serta PT Marga Jaya di Jl.

Wates Km 5. Di samping itu terdapat pengusahaan kayu yang berasal dari pohon yang ditanam di pekarangan warga. Hasil kayunya dibawa keluar kota.

II-28

Upaya Mengenai Keanekaragaman Hayati

Dengan adanya perubahan lahan atau alih fungsi lahan, terjadi juga perubahan habitat bagi jenis-jenis flora dan fauna tertentu yang dapat memicu perubahan komponen ekosistem. Kabupaten Sleman sendiri memiliki sumber daya hayati yang cukup melimpah, baik sumberdaya hayati tingkat jenis, genetik, maupun ekosistem. Di samping memiliki keanekaragaman hayati yang banyak, daya dukung yang dimiliki juga tinggi, mulai dari iklim, keragaman, endemisitas yang tinggi hingga kepakaran.

Kabupaten Sleman memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Terdapat 576 jenis tumbuhan dan 429 jenis fauna. Jenis tumbuhan meliputi 8 jenis tumbuhan lumut dan paku, 88 rumput dan bambu, 28 jenis liana, 19 jenis herba, 4 jenis palm, 373 tumbuhan semak dan pohon, 46 jenis anggrek, 2 jenis tumbuhan belum teridentifikasi dan 8 jenis tumbuhan perairan tawar. Sedangkan jenis fauna terdiri atas 25 jenis amfibi, 46 jenis reptil, 28 jenis ikan, 23 jenis mamalia, 100 jenis arthropoda, dan 207 jenis burung. Jenis flora dan fauna dengan statusnya sebagaimana tertera dalam Lampiran Tabel 4.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia NOMOR P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi, di Kabupaten Sleman dijumpai 1 jenis tumbuhan dan 22 jenis fauna dilindungi. Jenis tumbuhan dilindungi yaitu damar putih/kopal keruling (Agathis labillardieri). Jenis fauna dilindungi meliputi 3 jenis mamalia dan 19 jenis burung. Jenis mamalia dilindungi di Kabupaten Sleman adalah lutung budeng, kijang muncak, dan kucing kuwuk, sedangkan jenis burung yang dilindungi adalah elang brontok, elang-ular bido, sikep-madu asia, elang hitam, elang jawa, elang alap jambul, elang-alap china, alap-alap macan, alap-alap sapi, cica daun sayap biru, cica daun besar, ekek jawa, gelatik jawa, serindit jawa, betet

II-29

biasa, kipasan belang, kipasan ekor merah, jalak putih-sayap hitam dan burung kacamata jawa. Di Kabupaten Sleman juga dijumpai 1 jenis tumbuhan dilindungi yaitu cakra geni (Rhododendron javanicum).

Tumbuhan ini merupakan tumbuhan endemik Pulau Jawa dan Bali.

Berdasarkan sebarannya, di Kabupaten Sleman terdapat beberapa jenis fauna yang hanya dijumpai di wilayah Pulau Jawa (endemik pulau jawa). Jenis-jenis fauna tersebut adalah 1 jenis mamalia yaitu lutung budeng dan 11 jenis burung yaitu elang jawa, cekakak jawa, tesia jawa, ekek jawa, puyuh gonggong jawa, serindit jawa, kipasan ekor merah, beluk watu jawa, ciung-mungkal jawa, ciu jawa, dan opior jawa.

Sejak bulan September 2018 terdapat beberapa flora – fauna yang berganti status dari dilindungi menjadi tidak dilindungi, meliputi burung kuntul kerbau, burung madu sriganti, burung cekakak sungai, burung kuntul kecil, burung kuntul perak, burung madu gunung, burung madu jawa, burung madu sepah raja, burung madu kelapa, burng madu pengantin dan burung madu bakau, sehingga secara otomatis dinyatakan tidak dilindungi lagi.

Diantara sekian banyaknya jenis flora dan fauna di Kabupaten Sleman, jenis salak pondoh (Zallaca edulis Reinw cv Pondoh) dan burung Burung Anis merah (Zoothera citrina)/Oranged-headed Thrush atau dikenal dengan burung punglor dipilih dan ditetapkan menjadi flora fauna identitas Kabupaten Sleman. Salak pondoh dipilih menjadi flora identitas karena merupakan salak khas di wilayah Sleman dan menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Sleman. Burung anis merah juga tidak jauh perannya dari pohon salak. Pada awalnya, burung ini merupakan pemangsa hama pada tanaman salak jawa, meskipun pada saat ini masyarakat lebih memilih mengembangkan varietas salak pondoh. Habitat anis merah adalah hutan sekunder dataran rendah dengan ketinggian hingga 900 m di atas permukaan air laut. Pada saat ini, populasi burung ini sangat sedikit.

Di Kabupaten Sleman terdapat Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Gunung Gamping yang merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh

II-30

BKSDA Yogyakarta berdasarkan SK Menhut 758/Kpts-II/89 tanggal 16 Desember 1989. Luas Cagar Alam Gunung Gamping 0,126 ha, sedangkan luas Taman Wisata Alam Gunung Gamping adalah 1,069 ha, jadi totalnya seluas 1,069,126 Ha.

Hasil inventarisasi fauna jenis mamalia dan aves yang dilakukan oleh Balai KSDA Yogyakarta pada tahun 2016 di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Gunung Gamping dengan hasil sebagaimana pada tabel di bawah ini.

Tabel II-1 Jenis-Jenis Satwa di CA dan TWA Gunung Gamping

No Nama Umum Nama Ilmiah Family

leucogastroides Ploceidae LC N/A 4 Burung

madu Sriganti

Cynniris

jugularis Nectariniidae LC N/A

5 Cabai Jawa Dicaeum

aurigaster Pycnonotidae LC N/A

9 Kareo Padi Amaurornis

striolata Hirundinidae LC N/A

12 Merbah

Cerukcuk Pycnonotus

goiavier Pycnonotidae LC N/A

13 Punai Gading Treron vernans Columbidae NE N/A

II-31 No Nama Umum Nama Ilmiah Family

Status Konservasi IUCN Permenlhk

P.106/2018, PP No.7/1999 17 BajingKelapa (Callosciurus

notatus) Sciuridae LC N/A

Sumber : BKSDA Yogyakarta

Kepunahan spesies terutama disebabkan oleh deforestasi (termasuk di dalamnya alih fungsi lahan), eksploitasi secara tidak bijkasana, dan introduksi spesies asing. Elang jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu satwa yang terancam punah akibat deforestasi. Habitat elang jawa di Kabupaten Sleman barangkali hanya tinggal di Bukit Plawangan karena habitat satwa ini adalah kawasan hutan perbukitan atau pegunungan dengan pohon-pohon yang besar. Selain diakibatkan oleh kerusakan habitat, kepunahan spesies juga diakibatkan oleh perburuan dan perdagangan liar. Perburuan dan perdagangan satwa liar ini dilatarbelakangi atas pemenuhan akan hobi atau bahkan sampai pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Penanganan Aktiftas Pertambangan Tanpa Izin

Upaya penanganan kerusakan lahan akibat kegiatan pertambangan tidak berizin yang kebanyakan dilakukan warga masyarakat dilakukan dengan pendekatan kepada warga melalui pembinaan-pembinaan.

Mengingat kegiatan pertambangan tidak menjadi kewenangan kabupaten, upaya yang dilakukan dengan berkoordinasi dengan Pemerintah DIY dalam rangka pengawasan kegiatan pertambangan. Selain itu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah maraknya pertambangan yaitu dengan merubah area tambang menjadi obyek wisata seperti tebing breksi di Prambanan yang semula merupakan area pertambangan batu breksi sekarang menjadi obyek wisata. Hal ini sangat efektif mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut bahkan juga menjadi alternatif solusi peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.

II-32

Gambar II-8 Wisata Tebing Breksi Sleman Sumber: lelungan.net