ANALISIS DRIVING FORCE , PRESSURE , STATE , IMPACT , DAN
A. Tata Guna Lahan
4. Pengaruh ( Impact ) Dari Masalah Tata Guna Lahan
Bidang Pertanian
Dampak yang paling terlihat terkait dengan alih fungsi lahan adalah pada sektor pertanian. Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumberdaya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan
II-13
hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Luas wilayah Kabupaten Sleman 574,82 km2 (574.820.000 m2 atau 57.482 ha). Berdasarkan penggunaannya dibedakan untuk pertanian dan non pertanian. Kegiatan pertanian meliputi area sawah, lahan kering, perkebunan, hutan, dan badan air yang biasanya dipergunakan untuk budidaya perikanan. Luas lahan pertanian Sawah Kabupaten Sleman tahun 2019 sebesar 20.752,6 Ha (Lampiran Tabel 2). Meski lahan pertanian masih cukup luas, namun alih fungsi lahan yang terjadi sejauh ini sangat masif untuk berbagai penggunaan seperti permukiman, perumahan, apartemen, hotel, industri dan jasa serta non pertanian lainnya. Alih fungsi lahan yang sangat sulit dikendalikan adalah pada lahan milik pribadi atau tanah perorangan. Usaha tani saat ini kurang diminati oleh generasi muda karena kurang mampu mendukung kondisi perkonomian keluarga. Petani saat ini banyak digeluti oleh orang tua. Pada saat panen raya harga komoditi pertanian jatuh sehingga tidak sebanding dengan biaya dan tenaga untuk produksi. Faktor lain adalah luas lahan yang dimiliki petani sempit atau tidak mencapai nilai ekonomi yang menghasilkan untung, sementara untuk sewa lahan tidak mampu karena biaya, dimana menyebabkan banyak petani yang miskin dan menyumbang angka kemiskinan di Sleman. Kondisi ini mendorong petani beralih usaha dengan menjual lahan pertanian atau merubah lahan pertanian untuk tempat usaha yang lebih menjanjikan misalnya disewakan untuk pembangunan toko.
Tekanan penduduk yang mendorong peningkatan kebutuhan perumahan serta upaya peningkatan ekonomi dengan maraknya pembangunan sarana perdagangan dan jasa merupakan faktor utama
II-14
beralihnya lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Berdasarkan data pada Lampiran Tabel 2 tingginya lahan non pertanian dibandingkan dengan lahan pertanian terutama terjadi pada wilayah Kabupaten Sleman yang lebih dekat ke arah perkotaan, seperti di Kecamatan Depok, Kecamatan Berbah, Kecamatan Mlati dan Kecamatan Gamping.
Grafik II-6 Perbandingan Luas Lahan Sawah dan Non Pertanian per Kecamatan
Kabupaten Sleman berkontribusi penghasil pangan sebanyak 24,79% di DIY. Angka ini diperoleh berdasarkan perbandingan luas LP2bB di Kabupaten Sleman dengan di DIY. Menurut Peraturan Daerah DIY No. 5 tahun 2019 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2019 – 2039. Luas lahan LP2B di Kab. Sleman adalah 17.947,54 Ha dibandingkan dengan keseluruhan luas lahan LP2B DIY yang seluas 72.409,79 Ha. Luas lahan LP2B cadangan di Kab. Sleman adalah 534,50 Ha, dan luas lahan sawah LP2B cadangan di DIY adalah 32.495,97 Ha. Kondisi ini hampir merupakan ironi, karena Kabupaten Sleman harus menyediakan lahan pertanian yang sedemikian luas demi mempertahankan atau meningkatkan target penghasil pangan, akan tetapi disisi lain,
II-15
peningkatan penduduk juga membutuhkan ketersediaan lahan lahan yang cukup untuk kebutuhan papan.
Terhadap Kawasan Hutan dan Lahan Kritis
Selain dilihat dari kuantitas atau luas lahan, kondisi lahan juga dipengaruhi oleh kualitas lahan. Jadi permasalahan lahan, tidak hanya pada alih fungsi pemanfaatannya saja, namun juga pada kualitas dari lahan.
Kualitas lahan yang rendah yaitu yang disebut sebagai lahan kritis tentu saja pemanfaatannya terbatas, tidak banyak pilihan penggunaannya.
Pemanfaatan umumnya adalah sebagai kawasan hutan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Akan tetapi tekanan demografi juga sering kali berimbas pada kawasan-kawasan seperti ini, sehingga tetap saja perlu ada evaluasi terhadap kondisi lahan di kawasan hutan atau kawasan lindung seperti ini.
Luas lahan kritis diluar kawasan hutan di Kabupaten Sleman pada tahun 2019 mencapai 103,36 ha. Selain itu tidak ada lahan sangat kritis diluar kawasan hutan. Wilayah dengan lahan kritis paling luas berada di Kecamatan Gamping sebesar 82,66 ha, disusul Kecamatan Prambanan sebesar 15,83 ha, kemudian Kecamatan Tempel sebesar 4,63 ha dan Kecamatan Moyudan sebesar 0,24 Ha. Dibandingkan dengan tahun 2018, luas lahan kritis dan sangat kritis menurun. Kondisi ini tidak lepas dari berbagai upaya pemerintah Kabupaten Sleman untuk menurunkan luas lahan sangat kritis menjadi lahan yang berkualitas lebih baik (Lampiran Tabel 6).
II-16
Grafik II-7 Luas Lahan Kritis per Kecamatan
Namun selain kondisi lahan Kritis, di Kabupaten Sleman juga terdapat kondisi lahan yang lain, yaitu kondisi tidak kritis (TK), Potensial kritis (PK), Agak Kritis (AK), Kritis (K) dan Sangat Kritis (SK). Penetapan lahan kritis didasarkan pada kondisi penutupan lahan, kelerengan, tingkat erosi, kondisi batuan dan produktivitas lahan dan diuraikan untuk masing-masing kawasan dengan perincian kondisi tidak kritis (TK), Potensial kritis (PK), Agak Kritis (AK), Kritis (K) dan Sangat Kritis (SK).
Berdasarkan kondisi lahan kritis di wilayah kabupaten Sleman kondisinya masih bagus dengan dominasi oleh lahan yang tidak kritis dan agak kristis. Lahan tidak kritis seluas mencapai 17.890,99 ha atau 31,69%
dari luas seluruh Kabupaten Sleman, dan lahan yang agak kritis dengan luas 35.074,88 ha (62,12%). Kemudian lahan potensial kritis seluas 1.633,45 Ha (2,89%), lahan yang kritis dengan luas 103,36 ha (0,18%) dan dan tidak terdapat lahan yang sangat kritis di wilayah Kabupaten Sleman (Lampiran Tabel Tambahan TT-9).
Alih fungsi lahan juga berdampak pada kondisi sumber daya hutan yang terdapat di wilayah Kabupaten Sleman. Adapun dampak yang terjadi antara lain:
II-17
1. Terhadap Kawasan Hutan Produksi: Wilayah Kabupaten Sleman tidak mempunyai kawasan hutan produksi, sehingga tekanan terhadap kawasan lindung di luar kawasan hutan dan terhadap kawasan hutan lindung sangat tinggi. Dalam jangka panjang dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan bahan baku kayu kondisi ini sangat mengancam kelestarian sumberdaya alam hutan, sehingga perlu perhatian semua pihak.
2. Terhadap Kawasan Hutan Lindung: Wilayah Kabupaten Sleman juga tidak mempunyai kawasan hutan lindung, sehingga tekanan terhadap kawasan lindung di luar kawasan hutan dan terhadap kawasan hutan lindung juga sangat tinggi. Dalam jangka panjang dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan bahan baku kayu kondisi ini sangat mengancam kelestarian sumberdaya alam hutan, sehingga perlu perhatian semua pihak.
3. Terhadap Kawasan Hutan Konservasi: Kondisi lahan kritis di dalam kawasan Hutan Konservasi kondisinya paling luas adalah potensial kritis seluas 1.633,45 ha atau 2,89% dari luas wilayah Kabupaten Sleman, lahan dengan kondisi agak kritis yang luasnya hanya mencapai 146,66 Ha (0,26%), lahan tidak kritis dengan luas 26,47 ha (0,05%), dan kritis seluas 0,93 ha dan tidak ada lahan yang sangat kritis (Lampiran Tabel Tambahan TT-9).
4. Hutan Konservasi di Kabupaten Sleman berada pada wilayah kewenangan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pengelolaannya, 627,04 ha berada di bawah naungan Balai KSDA Yogyakarta, 1.794,25 ha berada di bawah Taman Nasional Gunung Merapi (Lampiran Tabel 1).
Bidang Pertambangan
Kemudian juga, alih fungsi lahan yang sebagian besar berdampak mempersempit lahan pertanian, mendorong masyarakat, terutama yang
II-18
tinggal di daerah dekat dengan puncak Gunung Merapi, untuk beralih ke bidang penambangan, khususnya pasir dan batu. Penambangan pasir-batu di Kabupaten Sleman sangat erat kaitannya dengan kegiatan Gunung Merapi, karena semua endapan bahan galian berasal dari aktivitas Gunung Merapi. Keberadaan endapan pasir sangat dilematis, di satu sisi mengandung nilai ekonomi yang cukup potensial, di lain pihak kegiatan penambangan dengan menggunakan alat berat (back hoe) maupun secara tradisional terus berlangsung tanpa memperhatikan teknis dan cara menambang yang benar. Kegiatan penambangan tanpa izin bertebaran baik di bantaran sungai, badan sungai, pekarangan rumah penduduk (tanah milik perseorangan), maupun pada tanah Sultan Ground (SG) sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Kerusakan lahan terparah di Kabupaten Sleman terjadi di 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Turi dan Kecamatan Pakem.
Adanya material hasil aktivitas Gunung Merapi yang berupa pasir-batu telah mendorong sebagian warga untuk melakukan penambangan baik dengan alat berat maupun secara tradisional sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Tanpa adanya perencanaan pra dan pasca penambangan yang jelas menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan pada bekas penambangan dan lingkungan disekitarnya.
Kerusakan lingkungan akibat penambangan antara lain berupa:
Hilangnya lapisan tanah yang subur (top soil) bagi tumbuh dan berkembangnya tanaman tegakan
Perubahan roman muka tanah (penggalian yang terlalu dalam) sehingga berpotensi menjadi tanah yang labil dan rawan longsor
Kerusakan jalan akibat sering dilalui truk yang melebihi kapasitas badan jalan sehingga terjadi kerusakan sarana dan prasarana publik di sekitar penambangan
Pencemaran air sungai akibat sisa oli/bahan bakar truk yang masuk ke aliran sungai
Pencemaran udara akibat asap kendaraan dan debu
II-19
Kebisingan akibat suara kendaraan berat
Perkembangan Kabupaten Sleman tidak lepas dari pembangunan fisik yang meningkat pesat baik sarana maupun prasarana dimana salah satu faktor penunjang utama adalah ketersediaan material bahan galian pertambangan mineral bukan logam dan batuan. Kondisi ini secara tidak langsung merangsang meningkatnya eksploitasi bahan galian tersebut disamping faktor geologis yang merupakan daerah yang mengandung bahan galian golongan C (pasir dan batu), serta tidak memerlukan teknologi dan investasi yang besar. Akibat dari eksploitasi secara terus-menerus dapat menimbulkan dampak, terutama dampak negatif yaitu terjadinya degradasi lingkungan fisik berupa curamnya kelerengan.
Bentuk kerusakan lingkungan ini dapat terjadi karena lemahnya sistem, baik dalam mengelola maupun pengawasan dimana kondisi ini terjadi hampir di seluruh lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman.
Faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap kondisi ini antara lain adalah teknik dan tata cara penambangan yang tidak benar, tidak adanya perizinan dan dokumen lingkungan, serta faktor kelembagaan yang sangat berperan di dalam pembimbingan dan pengawasan. Kondisi kerusakan lingkungan ini dapat dihindari semaksimal mungkin jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat dijalankan dengan baik, minimal dapat ditekan seminimal mungkin jika mekanisme kegiatan penambangan berjalan sesuai kondisi normatif serta sambil melakukan upaya pembenahan kedepan.
II-20
Gambar II-5 Pertambangan tanpa izin yang dilakukan tidak pada alur sungai
Kawasan Peruntukan Pertambangan di Kabupaten Sleman ditetapkan hanya berada di sungai dengan jenis bahan galian berupa pasir dan batu. Berdasarkan Lampiran Tabel 15, kegiatan pertambangan yang berizin di Kabupaten Sleman pada tahun 2019 terdapat di Sungai Gendol, Sungai Bebeng, Sungai Bedog, Sungai Kuning, Sungai Krasak dan Sungai Progo. Luas area pertambangan mencapai 58,17 Ha. Angka ini diperoleh dari penjumlahan luas area tambang dari Lampiran Tabel 15. Jenis bahan yang ditambang adalah pasir dan batu. Kapasitas produksi total mencapai 721.690 m³ per tahun.
II-21
Grafik II-8 Kapasitas Produksi Pertambangan Tahun 2019
Grafik II-9 Luas Area Pertambangan Tahun 2019
Kegiatan pertambangan yang berizin di Kabupaten Sleman merupakan pertambangan skala kecil. Selain pertambangan yang berizin,
II-22
banyak sekali pertambangan rakyat yang marak terjadi di Kabupaten Sleman yang dilakukan di lahan pertanian maupun pekarangan.
Sekalipun akibat penambangan ini telah berdampak sosial berupa keresahan masyarakat akibat jalan yang dilalui kendaraan penambang menjadi rusak dan ada kekawatiran terjadinya penurunan air tanah akibat terputusnya aliran air tanah, namun tidak ada aduan terkait dampak buruk dari aktifitas pertambangan (Lampiran Tabel 53). Dalam skala kecil, terdapat dampak fisik berupa kerusakan lahan akibat cekungan-cekungan bekas tambang yang tersisa berupa kerikil dan tanah menjadi tidak subur dan kerusakan beronjong di sungai.