• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DRIVING FORCE , PRESSURE , STATE , IMPACT , DAN

SUNGAI 10. SUNGAI KALI KUNING

C. Kualitas Udara

2. Tekanan (Pressure) Terhadap Kondisi Kualitas Udara

Pencemaran Udara

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, serta mengganggu estetika dan kenyamanan. Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.

Pencemar udara dibedakan menjadi dua, yaitu pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang

II-104

terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder. Belakangan ini tumbuh keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global (global warming) yg memengaruhi kegiatan manusia. Sumber-sumber pencemaran udara antara lain adalah:

 Transportasi

 Industri

 Pembangkit listrik

 Pembakaran (perapian, kompor, furnace/incinerator dengan berbagai jenis bahan bakar

 Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)

Sedangkan sumber pencemaran udara dari sumber alami adalah:

 Gunung berapi

 Rawa-rawa

 Kebakaran hutan

 Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi

Adanya kecenderungan semakin meningkatnya parameter kualitas udara dimungkinkan adanya kepadatan arus lalu lintas yang semakin meningkat yang disertai dengan emisi gas buang dari kendaraan bermotor yang melebihi baku mutu. Hal ini dipicu oleh semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor tiap tahunnya.

Selain emisi dari sumber bergerak kendaraan bermotor, sumber pencemar udara lainnya yang menimbulkan permasalahan lingkungan di Kabupaten Sleman adalah bau dari kegiatan peternakan dan gas buang industri.

Kemacetan Lalu lintas dan Jumlah Kendaraan

Kemacetan dan penurunan kualitas udara dari sistem transportasi darat merupakan permasalahan yang sulit dicari pemecahannya. Hal ini

II-105

bukan saja dirasakan oleh kota-kota besar, namun kota-kota lainnya di Indonesia termasuk Kabupaten Sleman mengalami kesulitan dalam upaya mengurangi kemacetan dan menekan tingkat polusi udara dari sumber bergerak kendaraan bermotor, terlebih lagi Kabupaten Sleman merupakan kota tujuan belajar dan berwisata.

Menurut media online SuaraJogja.id tanggal 13 Desember 2019 (https://jogja.suara.com/read/2019/12/13/122931/berlibur-ke-sleman-ini-daftar-titik-rawan-kemacetan-saat-libur-nataru) memberikan berita mengenai beberapa titik yang rawan kemacetan disaat musim liburan.

Lokasi-lokasi tersebut adalah:

 Yogyakarta-Tempel: Simpang empat Palbapang (Tempel), simpang empat Beran/Wadas, simpang Denggung, simpang empat Jombor

 Ringroad Barat: simpang empat Kronggahan, simpang empat Demak Ijo, simpang empat Pelemgurih, simpang empat Gamping

 Yogyakarta-Wates: pasar Gamping, pasar hewan Gamping

 Ringroad Utara: simpang empat Monjali, simpang empat Kentungan, simpang empat Gejayang, simpang empat Condong Catur

Saat jam-jam sibuk seperti berangkat dan pulang sekolah maupun kantor, ada beberapa titik lain yang menjadi lokasi kemacetan di Sleman, diantaranya adalah simpang empat Jl. Kaliurang di depan Magister Manajemen UGM, perempatan Gandok, simpang tiga Bantulan sampai perempatan Demak Ijo di Jalan Godean, bahkan di Jl Padjajaran (Ringroad Utara) sekitar Kampus UPN juga terjadi kemacetan pada jam-jam sibuk.

Selain itu juga, di Jl. Kaliurang, Jl. Magelang, Jl. Affandi, Jl. Monjali, dan Jl.

Godean serta Jl. Laksda Adisucipto yang merupakan jalan yang berada wilayah Kabupaten Sleman juga mengalami kemacetan pada jam-jam sibuk.

Meski kemacetan di Sleman belum separah kota Jakarta, namun dengan jumlah kendaraan yang meningkat dari tahun ke tahun, maka sepuluh tahun yang akan datang, barangkali kondisi kemacetan di Sleman akan sama parahnya dengan kota Jakarta.

II-106

Budaya parkir on street atau memarkir kendaraan di tepi jalan yang bukan tempat parkir adalah salah satu penyebab terjadinya kemacetan.

Parkir di tepi jalan adalah parkir yang mengambil tempat di sepanjang badan jalan dengan atau tanpa melebarkan jalan untuk pembatas parkir.

Parkir di tepi jalan ini baik untuk pengunjung yang ingin dekat dengan tujuannya, tetapi untuk lokasi yang intensitas penggunaan lahan yang tinggi, cara ini kurang menguntungkan. Parkir ini memanfaatkan sebagian ruas jalan baik satu sisi maupun dua sisi sehingga menyebabkan terjadinya pengurangan lebar efektif jalan yang akan mempengaruhi volume lalu lintas kendaraan yang dapat ditampung oleh ruas jalan tersebut. Kemacetan terjadi karena kapasitas jalan dalam melewatkan jumlah kendaraan jadi berkurang, sehingga terjadi kemacetan.

Peminat kendaraan umum juga terus mengalami penurunan, ini disebabkan karena tujuan kendaraan umum yang tidak dapat menjangkau kesemua lokasi yang dituju oleh pengguna jalan. Waktu tempuh kendaraan umum juga menjadi alasan mengapa tidak menjadi pilihan utama bagi pengguna jalan. Tempat-tempat perhentian kendaraan umum tidak tersedia disetiap tempat dapat membantu keamanan pengendara, namun dapat mengurangi minat penumpang. Kendaraan umum yang berupa bis, terlalu besar untuk dapat menempuh jalur-jalur jalan yang sempit, sehingga tidak dapat menjangkau ke semua tempat. Disamping itu, opsi kendaraan umum lain seperti ojek online, menawarkan kelebihan lain, itu mempermudah pengguna untuk mencapai tujuan dengan lebih cepat. Hal ini juga mengurangi minat terhadap kendaraan umum berpenumpang banyak.

Jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun cenderung meningkat karena adanya penjualan kendaraan bermotor (Lampiran Tabel Tambahan TT-3). Jumlah terbesar dari tahun ke tahun ditempati oleh kendaraan roda 2 mencapai 78,51% dari total penjualan kendaraan pada tahun 2019. Besarnya jumlah kendaraan yang beroperasi dengan aktivitas yang tinggi menimbulkan banyaknya emisi gas buang yang keluar

II-107

dari kendaraan tersebut, sehingga menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas udara di Kabupaten Sleman.

Penjualan kendaraan secara umum terus mengalami peningkatan sampai tahun 2019 ini, tetapi untuk penjualan kendaraan penumpang pribadi terus mengalami penurunan sejak tahun 2016. Peningkatan terjadi pada kendaraan roda 2 walaupun tidak terlalu signifikan.

Tabel II-10 Penjualan Kendaraan Bermotor di Kabupaten Sleman No Jenis Kendaraan

Bermotor

Jumlah (Unit)

2016 2017 2018 2019

1 Beban 1.226 1.115 1.129 1.194

2 Penumpang Pribadi 10.980 12.518 12.132 10.448

3 Penumpang Umum 35 1 0 32

4 Bus Besar Pribadi 2 0 1 0

5 Bus Besar Umum 53 33 67 40

6 Bus Kecil Pribadi 39 76 57 71

7 Bus Kecil Umum 41 29 55 38

8 Truck Besar 13 26 79 54

9 Truck Kecil 335 377 479 427

10 Roda Tiga 232 158 152 187

11 Roda Dua 42.572 40.296 41.874 45.641

Total 55.528 54.629 56.025 58.132

Sumber: Kantor Pelayanan Pajak Daerah DIY di Kabupaten Sleman

Grafik II-28 Penjualan kendaraan pribadi dan roda dua

II-108

Grafik II-29 Penjualan kendaraan beban penumpang umum, bus, truk dan roda tiga

Tabel II-11 Jumlah Kendaraan Bermotor di Kabupaten Sleman

No Jenis Kendaraan 2016 2017 2018

1 Beban 9.191 11.558 11.967

2 Penumpang Pribadi 85.333 92.029 99.363

3 Penumpang Umum 379 234 206

4 Bus Besar Pribadi 2 3 3

5 Bus Besar Umum 233 282 287

6 Bus Kecil Pribadi 253 318 348

7 Bus Kecil Umum 494 433 414

8 Truck Besar 229 246 296

9 Truck Kecil 3.937 4.089 4.293

10 Roda Tiga 1.136 1.119 1.886

11 Roda Dua 492.525 504.797 520.118

JUMLAH 593.712 615.108 639.181

Sumber: Kantor Pelayanan Pajak Daerah DIY di Kabupaten Sleman

Kondisi menjadi kurang optimal karena sarana prasarana lalulintas yaitu ruas jalan di Kabupaten Sleman tidak mengalami peningkatan dari tahun 2017 sampai 2019, yakni Jalan Kelas I (Ruas Jalan Nasional) sepanjang 78,22 km, Jalan Kelas II (Ruas Jalan Provinsi) sepanjang 116,32

II-109

km dan Jalan Kelas III (Ruas Jalan Kabupaten) sepanjang 599,50 km (Lampiran Tabel 40). Sementara jumlah kendaraan sudah sangat tinggi dimana 61% adalah kendaran penumpang pribadi (Lampiran Tabel 39).

Grafik II-30 Persentase jenis kendaraan tahun 2019

Kemacetan di Kabupaten Sleman pada jalur jalan utama terjadi pada jam-jam sibuk, yaitu pada pagi hari menjelang keberangkat ke sekolah dan ke tempat kerja, serta pada sore hari sepulang dari sekolah atau tempat kerja. Selain itu pada hari libur untuk jalur ke tempat-tempat wisata. Saat menjelang akhir minggu juga terjadi kemacetan yang cukup panjang.

Titik kemacetan terjadi terutama pada simpul-simpul jalan utama, baik itu di Jalan Nasional, Jalan Provinsi dan juga Jalan Kabupaten. Untuk kemacetan yang terjadi pada ruas Jalan Nasional, terjadi di Jl. Magelang, Jl.

Solo, Jl. Adisucipto dan Jl. Wates. Untuk kemacetan yang terjadi di Jl.

Magelang terjadi di simpang dekat Jembatan Krasak, Tempel dan Perempatan Palbapang. Dimana kemacetan tersebut terjadi karena aktifitas

II-110

berangkat dan pulang kerja atau sekolah serta saat liburan akhir minggu dan libur panjang. Kemacetan di Jl. Magelang juga terjadi di BPD, Denggung juga pada momen yang sama, yaitu jam sibuk dan saat liburan. Pada simpangan Jl. Magelang dengan Selokan Mataram sampai TVRI juga sering terjadi kemacetan yang lebih diakibatkan parkir kendaraan yang berada pada tepi jalan.

Untuk kemacetan yang terjadi pada ruas Jalan Nasional Jl. Solo, terjadi pada titik tertentu yang lebih disebabkan karena arus wisatawan yang sedang berlibur, terutama saat libur panjang. Seperti kemacetan yang terjadi di di dekat pintu masuk Candi Prambanan sampai pertigaan Bogem.

Kemacetan yang serupa juga terjadi di pertigaan Kedaulatan Rakyat sampai ke pintu masuk Bandara. Sedangkan kemacetan di Jl. Solo yang terjadi di dekat pertigaan Babarsari, lebih disebabkan karena parkir kendaraan di ruas jalan dan disebabkan kegiatan terkait upacara wisuda yang diselenggarakan oleh kampus. Pada ruas Jl. Adisucipto juga ada titik macet yang disebabkan oleh kegiatan prosesi pernikahan yang dilaksanakan di Gedung Wanita.

Pada kemacetan di Jl. Wates yang berlokasi di dekat Jemabatan Pelemgurih sampai Balecatur, disebabkan banyaknya arus wisatawan yang berlibur di daerah Yogyakarta.

Pada saat-saat tertentu, ruas Jalan Provinsi juga tidak luput dari kemacetan. Penyebab kemacetan pada ruas ini adalah tingginya jumlah kendaraan pada saat jam sibuk, yaitu pagi dan sore hari, pada saat liburan, baik liburan akhir minggu maupun libur panjang, keberadaan pertokoan besar, pasar serta sentra-sentra kuliner. Kemacetan karena jam sibuk dan libur akhir minggu, terjadi pada Jl. Palagan Tentara Pelajar mulai dari pertigaan Jl. Damai sampai Hotel Hyatt, kemudian terjadi juga di Jl. Monjali dari perempatan Monjali sampai perempatan Jl. Sardjito. Untuk kemacetan di Jl. Kaliurang, mulai dari pertigaan Pamungkas, Pertigaan Besi sampai Mirota - Kentungan, selain karena jam sibuk, juga karena adanya pertokoan besar di ruas-ruas tersebut. Untuk kemacetan yang diakibatkan keramaian pertokoan dan pasar terjadi di Jl. Godean di sekitar Pasar Godean dan

II-111

Munggur serta yang terjadi di Jl. Tajem mulai dari Pasar Setan sampai perempatan Tajem.

Jalan Kabupaten, sekalipun ruas jalannya tidak terjalu besar, namun pada jam-jam sibuk untuk bekerja dan sekolah, juga mengalami tekanan pengendara yang cukup besar, dan bahkan terkadang melebihi kapasitas jalan hingga pengendara sepeda motor juga melintas sampai ke pedestrian yang mengganggu pejalan kaki. Kemacetan pada jam sibuk tersebut terjadi di perempatan Kronggahan, perempatan Cebongan, di Jl Anggajaya (Terminal Condongcatur), perempatan Jl. Affandi (Gejayan) sampai Jembatan Merah, Jl. Seturan sampai pertokoan Babarsari, dan pertigaan Jl.

Affandi (Pasar Buah Colombo) sampai ke perempatan Syantikara.

Sedangkan kemacetan yang terjadi di Jl. Nologaten lebih disebabkan karena aktifitas perbelanjaan di pertokoan Outlet Biru. Kemacetan-kemacetan seperti ini memberi kontribusi yang cukup tinggi terhadap terjadinya pencemaran udara.

Kondisi Cuaca

Cuaca di wilayah Kabupaten Sleman juga dipengaruhi oleh letak geografi atau lintang tempat dan beberapa hal baik fenomena global, regional maupun kondisi lokal, fenomena global El-Nino dapat menyebabkan pengurangan jumlah curah hujan dan La-Nina merupakan fenomena yang dapat menyebabkan penambahan jumlah curah hujan di wilayah Sleman. Fenomena regional Dipole Mode positif (DM+) menyebabkan aliran massa uap air dari Indonesia ke Samudera Hindia dan sebaliknya Dipole Mode negatif (DM-). Wilayah Kabupaten Sleman juga dipengaruhi oleh angin Monsun Asia dan Monsun Australia atau dikenal dengan angin baratan (berakibat terjadi musim hujan) dan angin timuran (terjadi musim kemarau). Topografi lokal wilayah Kabupaten Sleman yang terdiri dari perbukitan sangat mempengaruhi kondisi iklim, dimana Sleman bagian utaramerupakan dataran tinggi sehingga suhunya lebih dingin di banding bagian selatan yang lebih rendah, begitu juga dengan curah hujannya.

II-112

Dari peta rata-rata curah hujan dapat diketahui bahwa jumlah curah hujan terdegradasi dari Sleman bagian utara keselatan curah hujannya semakin berkurang dengan kisaran jumlah curah hujan 100 mm s/d 400mm/tahun. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat (topografi) wilayah Sleman. Curah hujan (mm) sendiri merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 millimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

Gambar II-19 Peta rata-rata curah hujan tahunan Kab. Sleman

II-113

Grafik II-31 Pola Curah Hujan Wilayah Sleman

Kondisi curah hujan Kabupaten Sleman tahun 2019 juga mempuyai pola yang sama dengan rata-ratanya, dimana jumlah curah hujan terdegradasi dari Sleman bagian utara keselatan curah hujannya semakin berkurang. Selengkapnya dapat dilihat pada peta sebaran curah hujan tahun 2019 di Kabupaten Sleman.

Gambar II-20 Peta Curah Hujan Tahun 2019 Kab. Sleman

II-114

Dari peta curah hujan dapat diketahui bahwa jumlah curah hujan terdegradasi dari Sleman utara keselatan curah hujannya semakin berkurang, kondisi ini dipengaruhi oleh topografi wilayah Sleman dimana semakin ke selatan semakin rendah, Jumlah curah hujan tahun 2019 wilayah Sleman berkisar antara 1.400 mm hingga 3.000 mm/tahun.

Kondisi cuaca dapat dilihat dari Sifat Hujan yang maknanya merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu tertentu (bulanan, musiman, tahunan) dengan jumlah curah hujan normalnya. Pada kajian ini diambil dari rata-rata selama 30 tahun periode tahun 1981-2000. Sifat hujan sendiri dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu:

 Atas Normal (AN) : Jika nilai curah hujan lebih dari 115%

terhadap rata-ratanya.

 Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85% --115%

terhadap rata-ratanya.

 Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85%

terhadap rata-ratanya

Bila dibandingkan dengan rata-ratanya secara umum curah hujan di wilayah Kabupaten Sleman bersifat Bawah Normal (lebih rendah dari rata-ratanya) hingga Normal (sama dengan rata-rata-ratanya). Selengkapnya kondisi sifat hujannya dapat dilihat pada peta berikut ini.

II-115

Gambar II-21 Peta Sifat Hujan Tahun 2019 Kab. Sleman

Tabel II-12 Curah Hujan Bulanan dan Sifat Hujan Tahun 2019 Kabupaten Sleman

No. Nama dan Lokasi

Stasiun Curah Hujan Bulanan (mm)

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec 1 Adisutjipto 301 201 726 172 14 - 0 0 - - 42 176 Rata-Rata 283 338 267 242 92 31 26 2 1 90 209 422 Batas Bawah 241 287 227 206 78 26 22 2 1 77 178 359 Batas Atas 325 389 307 278 106 36 30 2 1 103 240 485 Sifat Hujan N BN AN BN BN BN BN BN BN BN BN BN 2 Banjarharjo 620 336 723 361 20 - - - - - 174 609 Rata-Rata 390 402 269 208 137 67 32 21 43 142 288 344 Batas Bawah 332 342 229 177 116 57 27 18 37 121 245 292 Batas Atas 449 462 309 239 158 77 37 24 49 163 331 396 Sifat Hujan AN BN AN AN BN BN BN BN BN BN BN AN 3 Beran 457 337 560 413 22 - 1 1 - - 164 390 Rata-Rata 360 360 311 235 166 77 25 13 31 174 285 417 Batas Bawah 306 306 264 200 141 65 21 11 26 148 242 354 Batas Atas 414 414 358 270 191 89 29 15 36 200 328 480 Sifat Hujan AN N AN AN BN BN BN BN BN BN BN N

4 Berbah 297 254 648 125 5 - 0 - - - 36 426

Rata-Rata 330 316 237 131 77 48 27 15 26 86 180 313 Batas Bawah 281 269 201 111 65 41 23 13 22 73 153 266 Batas Atas 380 363 273 151 89 55 31 17 30 99 207 360 Sifat Hujan N BN AN N BN BN BN BN BN BN BN AN 5 Bronggang 553 370 788 414 33 - - - - - 169 364 Rata-Rata 397 413 273 219 121 64 34 19 41 143 296 348 Batas Bawah 337 351 232 186 103 54 29 16 35 122 252 296

II-116 No. Nama dan Lokasi

Stasiun Curah Hujan Bulanan (mm)

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

II-117 No. Nama dan Lokasi

Stasiun Curah Hujan Bulanan (mm)

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

II-118 No. Nama dan Lokasi

Stasiun Curah Hujan Bulanan (mm)

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

Sumber : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika DIY ( Stasiun Klimatologi Mlati Sleman)

Tabel II-13 Curah Hujan Rata-rata Kabupaten Sleman Tahun 1981 – 2010 No Nama Pos Hujan Curah Hujan Rerata Tahun 1981 - 2010

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

II-119 No Nama Pos Hujan Curah Hujan Rerata Tahun 1981 - 2010

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec 23 Prambanan 321 340 280 156 84 46 23 25 26 78 158 313 24 Sambiroto 339 321 255 129 87 41 17 16 41 71 151 248 25 Sendangpitu 369 344 286 177 143 68 32 12 54 130 233 324 26 Seyegan 340 292 285 174 124 65 24 28 54 119 242 343 27 Stageof Yogyakarta 247 215 256 198 91 33 22 16 59 99 249 437 28 Tempel 394 410 359 238 158 77 44 21 45 224 337 415

Sumber: Stasiun klimatologi Yogyakarta Keterangan : Satuan dalam mm

Kabupaten Sleman sangat dipengaruhi oleh angin monsun yang berakibat terjadi musim hujan dan musim kemarau, untuk membahas musim perlu diketahui bagaimana cara menentukan awal musim kemarau dan awal musim hujan. Awal Musim Kemarau ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh dua atau lebih dasarian berikutnya. Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya (rata-rata tahun 1981-2010). Awal Musim Hujan sendiri ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh dua atau lebih dasarian berikutnya. Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya (rata-rata 1981-2010).

Pengertian Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu :

o Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.

o Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.

o Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan

Dari data hasil pengamatan dapat diketahui kapan terjadi awal musim hujan dan kapan awal musim kemarau, yang dapat digambarkan dalam grafik curah hujan dasarian sebagai berikut.

II-120

Gambar II-22 Cara Penentuan Awal Musim Kemarau / Musim Hujan

Awal Musim Kemarau di Kabupaten Sleman tahun 2019 mulai April dasarian I hingga April dasarian III. Selengkapnya dapat dilihat pada peta awal musim kemarau berikut ini.

Gambar II-23 Peta Awal Musim Kemarau Kab. Sleman Tahun 2019

Awal Musim Hujan tahun 2019 di wilayah Kabupaten Sleman secara umum terjadi mulai bulan November dasarian I, selengkapnya awal musim

II-121

hujan di wilayah Kabupaten Sleman dapat dilihat pada peta awal musim hujan di bawah ini.

Gambar II-24 Peta Awal Musim Hujan Kab. Sleman Tahun 2019

Suhu udara tahun 2019 di wilayah Sleman lebih dingin dibandingkan dengan rata-ratanya. Pengamatan suhu udara Kabupaten Sleman dilakukan di dua tempat, di Stasiun Geofisika Yogyakarta dan di Stasiun Klimatologi Mlati Sleman. Selengkapnya hasil pengamatan suhu udara dapat dilihat pada data di bawah ini.

Tabel II-14 Suhu Udara Rata-Rata Bulanan di Kabupaten Sleman tahun 2019

No. Nama dan Lokasi Stasiun

Suhu Udara Rata-Rata Bulanan (oC)

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec 1. Stasiun

Geofisika Yogyakarta, Gamping

25,9 26,0 26,4 27,0 26,2 25,6 24,2 24,4 25,8 27,1 27,0 26,5

2 Stasiun Klimatologi Mlati Sleman

25,9 26,0 26,4 27,0 26,5 26,7 24,6 24,8 26,1 27,5 27 26,5

Sumber: Stasiun klimatologi Yogyakarta

II-122

Analisis suhu rata-rata bulanan tahun 2019 di Kabupaten Sleman (pos pengamatan Stage of Gamping dan Staklim Mlati), umumnya bila dibandingkan dengan rata-ratanya mempunyai pola yang sama kecuali bulan Juni 2019, terjadi perbedaan suhu antara dua pos pengamatan tersebut cukup tinggi.

Berdasarkan Grafik II-32 nilai suhu udara rata-rata bulanan tahun 2019, dimana suhu tertinggi terjadi pada bulan April dan Oktober-November. Hal ini bertepatan dengan waktu perubahan musim, dimana pada pagi hari kondisi cuaca sangat cerah kemudian pada siang hari pembentukan awan konvektif sangat aktif sehingga panas pada pagi sampai siang hari terjebak di bumi.

Grafik II-32 Grafik Suhu Udara tahun 2019

Tabel II-15 Suhu Udara Bulanan Tahun 2007 - 2019 tahun di Kabupaten Sleman

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 2007 26,5 26,1 X 26,1 26,6 25,4 24,7 24,6 25,0 26,5 25,8 26,8 2008 27,2 25,1 25,5 26,0 25,7 24,9 23,9 25,1 26,1 27,0 25,6 25,6 2009 24,8 25,6 26,4 26,6 26,3 26,1 X 24,7 26,1 26,8 26,8 26,7 2010 26,3 26,5 26,8 26,9 26,8 26,4 26,0 26,3 26,2 26,1 26,4 25,7 2011 25,8 25,9 25,7 25,8 26,1 25,3 24,8 24,6 26,8 28,2 27,3 20,8 2012 26,0 26,1 25,3 X X X X X X X 27,0 26,6

II-123

Perubahan iklim menjadi kontributor utama terjadinya kematian dini dan beban global penyakit (global burden of disease). Manusia terekspos dampak perubahan iklim melalui perubahan pola cuaca, misalnya perubahan suhu udara, presipitasi, meningkatnya level permukaan air laut, dan sering munculnya kejadian-kejadian ekstrim seperti badai, dan secara tidak langsung lewat perubahan kualitas air, udara, makanan, dan ekosistem.

Perubahan iklim menunjuk pada adanya perubahan pada iklim yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan manusia yang mengubah komposisi atmosfer global dan juga terhadap variabilitas iklim alami yang diamati selama periode waktu tertentu.

Emisi gas rumah kaca (GRK) yang kontinyu pada atau di atas tingkat kecepatannya saat ini akan menyebabkan pemanasan lebih lanjut dan memicu perubahan-perubahan lain pada sistem iklim global selama abad 21 yang dampaknya lebih besar daripada yang diamati pada abad ke-20.

Tingkat pemanasan bergantung kepada tingkat emisi. Jika konsentrasi karbondioksida stabil pada 550 ppm sampai dua kali lipat dari masa pra-industri, pemanasan rata-rata diperkirakan mencapai 2-4,5oC, dengan perkiraan terbaik adalah 3oC atau 5,4oF. Untuk dua dekade ke

II-124

depan, diperkirakan tingkat pemanasan sebesar 0,2oC per dekade dengan skenario yang tidak memasukkan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Emisi gas rumah kaca lain turut berperan dalam pemanasan dan jika dampak dari kombinasi GRK tersebut setara dengan dampak karbondioksida 650 ppm, iklim global akan memanas sebesar 3,6oC, sedangkan angka 750 ppm akan mengakibatkan terjadinya pemanasan sebesar 4,3oC. Proyeksi bergantung kepada beberapa faktor seperti pertumbuhan ekonomi, populasi, perkembangan teknologi, dan faktor lainnya.

Cuaca adalah kondisi atmosfer yang kompleks dan memiliki perilaku berubah yang kontinyu, biasanya terikat oleh skala waktu, dari menit hingga minggu. Variabel-variabel yang berada dalam ruang lingkup cuaca di antaranya adalah suhu, daya presipitasi, tekanan udara, kelembaban udara, kecepatan, dan arah angin. Sedangkan iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dan berhubungan dengan karakteristik topografi dan luas

Cuaca adalah kondisi atmosfer yang kompleks dan memiliki perilaku berubah yang kontinyu, biasanya terikat oleh skala waktu, dari menit hingga minggu. Variabel-variabel yang berada dalam ruang lingkup cuaca di antaranya adalah suhu, daya presipitasi, tekanan udara, kelembaban udara, kecepatan, dan arah angin. Sedangkan iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dan berhubungan dengan karakteristik topografi dan luas