• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik Mendekat-Menjauh (Approach-Avoidance Conflict)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Konflk Batin Tokoh Utama dalam Novel Rindu Karya Tere Liye

4.1.2 Konflik Mendekat-Menjauh (Approach-Avoidance Conflict)

Konflik ini timbul jika dalam waktu yang sama timbul dua motif berlawanan mengenai satu objek, motif yang satu positif (menyenangkan), yang lain negatif (merugikan, tidak menyenagkan) karena itu adalah kebimbangan, apakah akan mendekati atau menjahui objek itu. Seseorang yang mengalami konflik mendekat-menjauh adalah apabila konflik yang datang memiliki nilai positif dan nilai negatif sekaligus bagi orang tersebut. Berikut kutipan yang menggambarkan konflik mendekat-menjauh yang dialami oleh tokoh utama dalam novel Rindu karya Tere Liye.

―Sore itu, kabin rombongan Daeng Andipati diliputi kebahagiaan. Dokter Belanda yang memang disediakan oleh kapal untuk keperluan penumpang, memastikan ibu mereka hamil enam minggu. Anna sampai lupa bercerita tentang guru baru mengajinya.‖

―Tapi Daeng Andipati dan istrinya tahu sekali bersama datangnya kabar gembira itu, juga tersimpan beban baru. Perjalanan mereka akan semakin berat. Ini baru hari kedua perjalanan naik haji, masih Sembilan bulan lagi hingga mereka tiba kembali di Kota Makassar. Itu berarti kemungkinan besar si kecil akan lahir di atas kapal, dalam perjalanan pulang.‖ (Rindu, 2014:94)

Dalam kutipan di atas tergambar bahwa tokoh utama Daeng Andipati mengalami konflik dalam dirinya. Kutipan di atas menunjukkan kebimbangan Daeng Andipati antara mendapat kabar yang sangat gembira dan juga beban baru yang istrinya baru saja hamil muda. Daeng Andipati sebenarnya merasa sangat senang, karena istrinya sedang mengandung buah hati mereka. Akan tetapi mengetahui istrinya hamil di atas kapal saat

perjalanan naik haji dan kemungkinan besar akan melahirkan di atas kapal membuat dirinya menjadi bimbang dan cemas.

Konflik ini terjadi ketika individu terjerat dalam situasi yang dimana ia sangat tertarik sekaligus ingin menghindari dari situasi tertentu.

―Daeng Andipati berteriak kalap. Ia tetap tidak menemukan dimana bungsunya. Sudut matanya melihat Elsa lebih dulu, di depan, terpisah lima meter. Daeng Andipati segera merangsek mendekati Elsa, setidaknya ia harus segera membawa Elsa ke tempat aman. Kondisi Elsa juga mengenaskan. Berpegangan di tiang listrik, berusaha bertahan dari keriuhan.‖ (Rindu, 2014:130)

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Daeng Andipati sangat khawatir terhadap keadaan kedua anaknya. Ia kalap mencari Elsa dan Anna yang terdorong akibat banyaknya orang yang berlarian untuk menyelamatkan diri dari ledakan granat.

Ia bersyukur menemukan Elsa walaupun kondisi Elsa juga tidak baik-baik saja, tapi ia juga sangat khawatir sebab tidak bisa menemukan si bungsu Anna di antara banyak nya orang.

―Daeng Andipati tergugu di atas dek kapal. Wajahnya kuyu, matanya merah. Di sekitarnya, beberapa orang mencoba menghibur. Dari atas dek sini, terlihat jelas kepul asap di kejauhan, sisa kejadian tadi pagi. Pos serdadu Belanda di Pasar Turi terbakar, hancur lebur. Beberapa toko juga ikut terbakar. ― (Rindu, 2014:131)

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Daeng Andipati sangat sedih karena belum menemukan si bungsu Anna, ia takut dan cemas terjadi sesuatu kepada Anna.

Tapi, Daeng Andipati juga bersyukur karena bisa menyelamatkan si sulung Elsa dan ia memiliki banyak orang yang membantu menghibur dan mendoakan Anna agar segera ditemukan.

―Terima kasih banyak, Ambo. Aku akan ingat selalu kebaikan ini.‖ Daeng Andipati menyeka pipinya. Ia masih sering terharu mengingat kejadian sepanjang hari. (Rindu, 2014:138)

Dari kutipan di atas Daeng Andipati sangat bersyukur karena si bungsu anaknya Anna selamat dari ledakan granat, dan ia juga sangat berterima kasih sekaligus terharu terhadap apa yang dilakukan Ambo Uleng untuk menyelamatkan Anna.

―Aku tidak seperti yang kau bayangkan, Ruben.‖ Daeng Andipati menggeleng. ―Itu benar jika kau hanya melihat dari luarnya. Mungkin aku bahagia, tapi tidak seperti itu.‖

―Berarti tuan Andipati tidak bahagia?‖

―Bukan, bukan itu maksudku, Ruben.‖ Daeng Andipati jadi bingung. Ia bukan Gurutta yang selalu pandai menjelaskan, ―Begini sajalah, semua orang selalu punya masalah hidupnya. Apakah aku bahagia? Iya. Aku bersyukur atas keluargaku. Bersyukur atas apa yang kumiliki. Tapi apakah aku sungguh bahagia? Kebahagiaan sejati? Aku justru membawa pertanyaan besar di atas kapal ini. (Rindu, 2014:332-333)

Konflik ini terjadi saat Ruben mempertanyakan kepada Daeng Andipati apa itu kebahagiaan. Dari kutipan tersebut Daeng Andipati menyimpan rasa benci yang sangat lama. Kebencian akibat rasa marah yang ia sembunyikan selama ini. Di mata orang lain Daeng Andipati terlihat bahagia, namun dalam hatinya tersimpan kebencian tentang masa lalu nya. Tetapi ia juga bersyukur karena memiliki keluarga yang utuh Istri yang sangat baik dan juga kedua anak yang sangat lucu. Bahkan sekarang istrinya tengah mengandung anak ketiga mereka.

‖Aku tidak dikirim Ayahku sekolah di Rotterdam, Chef.‖ Daeng Andipati menggeleng tegas . intonasinya yang selama ini ringan dan bersahabat terdengar berbeda, ―Aku memutuskan sendiri berangkat ke Belanda.

Melanjutkan sekolah disana.‖

―Itu lebih menarik lagi.‖ Chef Lars semakin tertarik, ―Berapa usia kau saat berangkat?‖

―Dua puluh dua. Awalnya aku hendak sekolah di STOVIA Batavia. Tapi salah satu kenalanku dari Yogyakarta mengajakku berangkat ke Belanda

mengadu nasib. Dia bilang, ada banyak kesempatan bagi pelajar disana.

Aku memutuskan berangkat. Ayahku tidak tahu-menahu soal itu.‖ Suara Daeng Andipati semakin berubah.

―Itu mengagumkan, Andi. Bagaimana kau bisa mengongkosi semua keperluan? Orangtua kau mengirim wesel?‖

―Tidak satu Gulden pun.‖ Daeng Andipati menjawab cepat, ―Aku bekerja serabutan di Rotterdam. Menjadi pelayan toko, menjadi asisten di balai kota, bahkan pernah menjadi tukang sapu taman. Empat tahun aku melakukan apapun agar bisa selesai sekolah. Empat tahun yang terasa lama sekali. Tapi aku berhasil. Sekolahku selesai. Dan lebih penting dari itu, aku berhasil membuktikan kepadanya—―

Kalimat Daeng Andipati terputus, ia meraih cerek, menuangkan air lagi.

Itu gelas keempatnya lima belas menit terakhir. (Rindu, 2014:341-342)

Konflik ini terjadi saat Chef Lars bertanya tentang bagaimana sekolah Daeng Andipati dulu. Dalam kutipan di atas tergambar bahwa Daeng Andipati mengalami konflik dalam dirinya saat ia menjelaskan tentang bagaimana ceritanya ia sekolah di Rotterdam dulu. Daeng Andipati merasa emosional saat membahas itu karena mengingat kejadian masa lalu nya yang sangat sulit untuk dilupakan, tapi ia berhasil membutuhkan apapun. Hanya mencari kedamain di dalam hatinya.

―Sejak pertama kali naik kapal ini, melihat Gurutta di masjid, aku sebenarnya sudah hendak bercerita. Tapi-― Daeng Andipati akhirnya berbicara pelan, ―Aku sungakan. Khawatir mengganggu kesibukan Gurutta. Lagipula, itu masalah yang sangat pribadi, tidak semua orang bisa mendengarnya-― (Rindu, 2014:366)

Konflik ini terjadi ketika Gurutta menanyakan kepada Daeng Andipati apakah ia mau membagi ceritanya atau tidak kepada Gurutta. Konflik ini termasuk kepada konflik

menjauh-mendekat yang di mana Daeng Andipati sangat bersyukur Gurutta mau mendengarkan ceritanya dan sebenarnya ia juga nyaman berbagi cerita dengan Gurutta, tetapi di satu sisi ia takut kalau sebenarnya ia mengganggu kesibukan Guritta.

―Apakah aku bahagia, Gurutta? Aku tidak tahu.‖ Daeng Andipati menunduk menatap meja. Menghembuskan nafas resah. Diam sebentar.

―Aku memang memiliki semuanya, harta benda, nama baik, pendidikan, bahkan istri yang cantik, anak-anak yang pintar dan menggemaskan.

Semua orang mungkin bersedia menukar hidupnya dengan apa yang kumiliki. Tapi mereka tidak tahu, aku justru kehilangan hal terbesar dalam hidup ini. Apakah aku bahagia? Hidupku dipenuhi kebencian, Gurutta.

Sejak usia lima belas hatiku sudah terbakar amarah dendam.‖ (Rindu, 2014:366)

Dalam kutipan di atas Daeng Andipati mengalami konflik dalam dirinya. Bentuk konflik adalah mendekat-menjauh, yang dimana Daeng Andipati memiliki semuanya yang mungkin belum tentu orang lain juga memiliki itu, ia bersyukur. Tapi di satu sisi ia ternyata memiliki dendam yang tidak pernah bisa dilupakan dalam hidupnya.

―Sikap Ayah tidak pernah berubah walau Ibu telah pergi. Dia semakin kasar. Tangannya semakin ringan. Kami hanya bertiga di rumah Ayah, aku, dan adikku. Satu-satunya kakakku yang tersisa sudah menyusul yang lain, pergi ke pulau seberang. Jadilah aku dan adikku sebagai pelampiasan marah Ayah, bertahun-tahun. Aku membencinya. Aku membenci Ayahku sendiri. Seharusnya, aku juga ikut menyusul pergi kakak-kakakku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Sebelum meninggal, ibu berpesan agar aku menjaga adikku, si bungsu.‖ (Rindu, 2014:370)

Dari kutipan di atas Daeng Andipati mengalami konflik batin dimana ia sangat membenci Ayahnya sehingga ia ingin pergi meninggalkan rumah agar terhindar dari Ayahnya, tetapi karena pesan dari sang Ibu sebelum meninggal kepada Daeng Andipati yang harus menjaga adik bungsu nya maka ia tidak bisa meninggalkan rumah hanya dengan adanya Ayah dan juga adiknya. Ia ingin menghindari situasi ini, tetapi karena hal yang lain ia harus berada di situasi ini.

―Aku bersyukur memiliki keluarga yang lebih baik sekarang. Aku bersumpah tidak akan pernah memukul Anna, Elsa, dan istriku. Aku akan membesarkan mereka dengan kasih sayang. Aku juga bersyukur memiliki harta benda yang cukup. Aku bersumpah tidak akan pernah menyakiti atau mengorbankan orang-orang di sekitarku. Aku menghormati pegawaiku, kuli angkut, rekan dagang, semuanya. Aku seolah memiliki semua sumber kebahagiaan hari ini. Tapi, kebencian ini semakin pekat setiap harinya, Gurutta.‖ (Rindu, 2014:370-371)

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Daeng Andipati yang sangat mensyukuri kehidupan yang dia miliki sekarang, ia merasa sangat bersyukur memiliki istri yang sangat baik dan juga anak-anak yang sangat lucu serta memiliki harta benda yang cukup pula. Akan tetapi ia masih membenci Ayahnya dan kebenciaan yang ia rasakan terhadap Ayahnya semakin pekat setiap harinya.

―Sejak melihat Gurutta di masjid kapal, aku sudah ingin bertanya.

Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini?

Apakah tanah suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci Ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? Bagaimana caranya agar semua ingatan itu enyah pergi? Aku sudah lelah dengan semua itu, Gurutta. Aku lelah dengan kebencian ini.‖ (Rindu, 2014:371)

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Daeng Andipati mengalami konflik, ia sebenarnya ingin memaafkan Ayahnya tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya karena perilaku Ayahnya dahulu selalu teringat dalam ingatannya. Ia juga resah ingin menjalankan ibadah haji ke tanah suci tetapi membawa kebencian yang sangat besar terhadap Ayahnya. Ia ingin mengakhiri itu semua dan melupakannya tetapi rasanya sangat sulit untuk melupakan apa yang telah Ayahnya lakukan di masa lalu.

Dokumen terkait