METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sejarah Singkat Perusahaan
4.2.2 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Konflik Peran Ganda, Pengembangan Karir, Kecerdasan Emosional, dan Kinerja
4.2.2.1 Konflik Peran Ganda
5 1,00 – 1,79 1,80 -2,59 2,60 -3,39 3,40 -4,19 4,20 -5,00 1 2 3 4 5 SangatRendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Sumber: Data diolah 2017
Hasilpengolahandata primeryangmerupakandeskriptifpenelitian berdasarkanpertanyaanyang terdapatdalamkuesionerdapatdijelaskan dalamtabel berikut:
4.2.2.1 Konflik Peran Ganda
Tabel 4.7
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Konflik Peran Ganda (X1) No. Item STS TS KS S SS T O T A L Rata- Rata F % F % F % F % F % 1 0 0 2 3,7 8 14,8 33 61,1 11 20,4 54 100 3,98 2 0 0 0 0 12 22,2 27 50 15 27,8 54 100 4,05 3 1 1,9 4 7,4 7 13 20 37 22 40,7 54 100 4,07 4 0 0 3 5,6 6 11,1 24 44,4 21 38,9 54 100 4,16 5 1 1,9 6 11,1 5 9,3 32 59,3 10 18,5 54 100 3,81 6 0 0 4 7,4 9 16,7 30 55,6 11 20,4 54 100 3,88 7 1 1,9 3 5,6 9 16,7 25 46,3 16 29,6 54 100 3,96 8 0 0 1 1,9 11 20,4 23 42,6 19 35,2 54 100 4,11 9 0 0 5 9,3 12 22,2 20 37 17 31,5 54 100 3,90 10 2 3,7 8 14,8 11 20,4 23 42,6 10 18,5 54 100 3,57 Total Rata-Rata 39,49
Keterangan Skala kategori jawaban : (1,00-1,79=1,sangat rendah) (1,80-2,59=2, rendah), (2,60-3,39=3, sedang ), (3,40-4,19=4, tinggi), (4,20-5,00=5, sangat tinggi)
Pada Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa rata-rata jawaban responden mengenai konflik peran ganda sebesar 3,92 yang artinya mendapat skor tinggi. Interpretasi nilai rata-rata tertinggi yang dengan kategori baik yaitu 4,16 terdapat pada pernyataan ke 4 (Saya mudah emosional apabila melihat anak-anak sulit diatur). Hal ini menunjukkan karyawan setuju dengan pernyataan bahwa mereka mudah emosi apabila melihat anak-anak dirumah susah diatur sehingga memungkinkan berpengaruh terhadap kinerja mereka dikantor.
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa:
a. Pada pernyataan pertama (Saya sulit membagi waktu antara urusan kantor dan keluarga), mayoritas responden sebanyak 33 orang merasa setuju bila dikatakan merasa kesulitan dalam membagi waktu antara urusan kantor dan keluarga, hal ini terbukti sejalan dengan hasil prasurvey yang dilakukan dimana mayoritas karyawan didalam prasurvey menyatakan setuju terhadap pernyataan tersebut, namun masih ada sebanyak 2 orang yang menyatakan tidak merasa terganggu terhadap pernyataan tersebut, tentunya hal tersebut tidak mempengaruhi fakta bahwa mayoritas karyawan merasa kesulitan dalam membagi waktu antara urusan kantor dengan urusan keluarga.
b. Pada pernyataan kedua (Sedikit waktu bersama keluarga akibat banyak pekerjaan di kantor), mayoritas responden sebanyak 27 orang menyatakan stuju dengan pernyataan bahwa kinerja mengakibatkan waktu bersama keluarga menjadi sedikit, hal tersebut membuktikan bahwa pekerjaan merupakan sumber konflik peran ganda dan perlu dilakukan nya strategi alternatif dari perusahaan untuk meminimalisir konflik tersebut seperti yang dikemukakan oleh Nelson dan Quick
yaitu waktu kerja fleksibel, jadwal kinerja alternatif, fasilitas penitipan anak, kebijakan izin keluarga, dan job sharing.
c. Pada pernyataan ketiga (Cepatnya masuk kantor sehinggga tidak maksimal dalam mengurus keluarga), mayoritas responden sebanyak 22 orang menyatakan sangat setuju bila waktu masuk kerja membuat karyawan tidak maksimal dalam mengurus keluarga, hal ini sejalan dengan pernyataan sebelumnya dan semakin menguatkan bahwa perusahaan merupakan salah satu sumber konflik peran ganda. Namun terdapat 12 orang karyawan yang merasa tidak terlalu berpengaruh dengan jam masuk kerja dalam memaksimalkan mengurus keluarga, hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang menjadi sumber pendukung konflik tersebut seperti jumlah anak, atau usia anak.
d. Pada pernyataan keempat(Saya mudah emosional apabila melihat anak-anak sulit diatur), mayoritas responden sebanyak 24 orang merasa mudah emosional apabila melihat anak anak susah diatur, hal tersebut dapat berpotensi membuat karyawan bekerja secara tidak maksimal dikarenakan dipengaruhi masalah dari rumah, namun terdapat 9 orang yang merasa tidak terlalu mudah emosional melihat anak yang susah diatur, hal ini membuktikan bahwa tingkat emosional seorang karyawan berbeda-beda, sehingga perlu nya evaluasi dari divisi SDM dan melakukan kegiatan seperti job sharing.
e. Pada pernyataan kelima (Suami kurang mendukung apabila saya tiba di rumah terlihat sangat letih), mayoritas responden sebanyak 32 orang menyatakan bahwa pasangan kurang mendukung bila tiba drumah dalam keadaan letih sehabis bekerja, hal tersebut sejalan dengan hasil prasurvey dimana sebanyak 15% karyawan menyatakan tidak didukung oleh pasangan dalam bekerja. Namun
terdapat 7 orang responden yang menyatakan bahwa pasangan mereka mendukung apabila pulang bekerja dalam keadaan letih, hal ini membuktikan bahwa perlu adanya komunikasi dengan keluarga agar nantinya karyawan mendapat dukungan penuh didalam melakukan pekerjaan.
f. Pada pernyataan keenam (Tuntutan tugas yang banyak membuat saya kelelahan ketika sampai dirumah), mayoritas responden sebanyak 30 orang menyatakan Tuntutan tugas yang banyak membuat kelelahan ketika sampai dirumah, hal tersebut dapat berdampak kepada terjadinya konflik peran ganda yang dikemukakan stonner yaitu time pressure keadaan dimana waktu yang digunakan untuk bekerja lebihbanyak, maka waktu yang digunakan untuk keluarga menjadi lebih sedikit. Namun terdapat 4 orang yang merasa tidak terlalu terpengaruh dengan tuntutan pekerjaan terhadap kebugaran, hal tersebut membuktikan bahwa keadaan fisik juga mempengaruhi kebugaran karyawan dalam bekerja.
g. Pernyataan ketujuh (Keletihan yang saya rasakan di tempat kerja membuat saya kurang dekat dengan anak-anak) mayoritas responden sebanyak 25 orang menyatakan setuju bila keletihan yang mereka dapatkan ditempat kerja membuat mereka kurang dekat dengan anak-anak, hal tersebut telah dibuktikan dengan pernyataan sebelumnya yang menyebutkan terdapat sumber konflik yang berasal dari pekerjaan sehingga menyebabkan kurang nya waktu bersama keluarga, dan hal tersebut perlu adanya perhatian dari pihak perusahaan dikarenakan tentunya faktor tersebut dapat mempengaruhi fikiran karyawan dalam bekerja.
h. Pada pernyataan kedelapan (Saya selalu sibuk dalam bekerja hingga kurang memberi kasih sayang kepada anggota keluarga), mayoritas responden sebanyak 23 orang menganggap pekerjaan yang mereka lakukan membuat mereka terlalu
sibuk sehingga kurang memberi kasih sayang kepada anggota keluarga, hal tersebut adalah dampak dari konflik peran ganda yang ditimbulkan oleh seorang karyawan yang juga merupakan orang tua dirumah sehingga tak jarang karyawan tidak mampu membagi waktu antara bekerja dan bersama keluarga.
i. Pada pernyataan kesembilan (Pekerjaan dikantor membuat saya kurang peka terhadap kebutuhan anak-anak), mayoritas responden sebanyak 20 orang menyatakan bahwa Pekerjaan dikantor membuat mereka kurang peka terhadap kebutuhan anak-anak, hal tersebut terbukti sejalan dengan pernyatan sebelumnya dimana hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh stonner (Marital and life satisfaction), yang mana apabila seorang wanita bekerja, maka semakin banyak konsekwensi negative salam pernikahannya, namun terdapat 5 orang responden yang menyatakan pekerjaan dikantor tidak terlalu mempengaruhi mereka dalam memenuhi kebutuhan anak-anak hal tersebut membuktikan bahwa apabila seorang karyawan mampu membagi waktu, maka kebutuhan keluarga akan tetap terpenuhi.
j. Pada pernyataan kesepuluh (Saya selalu sibuk dalam mengurus keluarga hingga melupakan tanggung jawab dikantor), mayoritas responden sebanyak 23 orang menganggap bila selalu sibuk dalam mengurus keluarga hingga melupakan tanggung jawab dikantor, hal tersebut sejalan dengan (Time Based Conflict), yang mana konflik yang terjadi dikarenakan waktu yang digunakan untuk memenuhi satu peran tidak dapat memenuhi peran lain sehingga seorang karyawan yang sedang melakukan urusan keluarga tidak akan mungkin bisa memfokuskan diri untuk mengurus urusan pekerjaan. Namun terdapat 10 orang responden yang
menganggap dapat menyelesaikan tanggung jawab kerja bila sedang bersama keluarga.