• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KONFLIK AGRARIA DI PEDESAAN

6.6 Konflik yang Tersembunyi

Ketimpangan yang terjadi baik akses mendapat pekerjaan yang merujuk pada adanya ketimpangan dalam hal pendapatan tidak serta-merta menimbulkan

bentuk perlawanan yang terbuka. Perlawanan yang diberikan oleh mereka yang merasa disubordinasikan/ kekuasaan yang lebih rendah, terlihat dari perilaku hubungan sehari-harinya.

6.6.1 Konflik Antara Pemilik Lahan dengan Buruh Tani

Perlawanan sering timbul antara pemilik dengan buruh tani, pemilik dengan penggarap. Inti dari konflik yang terjadi ini karena adanya perbedaan kekuasaan antara mereka yang berkonflik. Misalnya, para buruh yang memiliki posisi tawar rendah sering merasa tidak puas terhadap apa yang didapatkan.

Hubungan antara pemilik tanah dengan buruh taninya tidak selamanya harmonis. Pemilik tanah yang merasa memiliki posisi tawar yang tinggi kadang kala tidak memperlakukan buruh tani sebagaimana mestinya. Upah yang rendah sebagai bentuk kecilnya penghargaan yang diberikan petani pemilik tanah kepada para buruhnya. Buruh dituntut untuk melakukan apa yang diinginkan tapi tidak dihargai jerih payahnya.

Hal tersebut mendorong perlawanan yang dilakukan oleh para buruh terhadap ketidakpuasan yang diterima dan membandingkan apa yang didapatkan dengan buruh lain yang bekerja pada pemilik lahan yang berbeda. Bentuk perlawanan yang dilakukan para buruh adalah bekerja malas jika tidak ada petani pemilik yang memperhatikan, datang sering terlambat, sering tidak masuk alasannya sakit padahal bekerja pada lahan milik orang lain.

”Anak-anak sering neng ga masuk padahal mereka pergi ket tempat lain untuk bekerja, kadang ketahuan seh, kadang ga. Kalo ga ada Wak Bas mereka kerja malas, ngoret aja lama, banyak ombrolnya. Coba pas ada Wak Bas pasti mereka ga berani kayak gitu” (Nek Awg)

Perlawanan lain yang dilakukan adalah menyindir upah yang didapatkan di depan majikan dengan nada gurauan. Sindiran ini biasanya dilakukan pada saat istirahat. Biasanya pemilik lahan menanggapi gurauan dengan tersenyum dan membalas dengan sindiran lagi. Antara pemilik dan buruh kadang kala sama-sama menyimpan rasa ketidakpuasan. Tetapi ketidakpuasan ini masih bisa diredam. Hal ini dikarenakan keduanya sama-sama saling membutuhkan satu sama lain.

6.6.2 Konflik Antara Pemilik Lahan dengan Penggarap

Konflik antara penggarap dengan pemilik tanah sering terjadi di desa ini. Konflik ini disebabkan karena adanya ketidakpuasan antara keduanya. Petani pemilik yang biasanya memberikan hak penguasaan lahan pertanian ke penggarap adalah yang tidak memiliki waktu untuk mengolah lahan pertanian yang dimiliki dan biasanya jumlah lahan yang dimiliki juga tidak terlalu luas.

Ketidakpuasan ini biasanya berkaitan dengan perjanjian yang dilakukan sebelum memulai kerjasama. Bagi hasil merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan. Kasus ini ditemukan ada sistem bagi hasil Pak Amp.

Perjanjian awal Pak Amp dengan buruhnya adalah Pak Amp memberikan hak penuh kepada penggarap untuk mengusahakan lahan yang dia miliki. Hasil lahan dibagi dua setelah dikurangi oleh upah bawon. Biaya perawatan ditanggung oleh penggarap. Tetapi pada saat pengolahan lahan penggarap mendatangi pak Amp untuk meminta uang untuk mengolah lahan, begitupun pada saat perawatan dan membutuhkan biaya para penggarap biasanya juga datang kembali. Pak Amp tidak mau terima, hal inilah biasanya yang sering menimbulkan cekcok antara

petani pemilik dengan penggarap. Hal ini juga tidak langsung menimbulkan perlawanan.

Sewaktu dikonfirmasi pada pihak pihak penggarap permasalahan seperti ini memang sering terjadi. Menurut mereka para pemilik tanah banyak yang pelit, padahal kebiasaan masyarakat disini biaya perawatan dan pengolahan tanah ditanggung berdua antara penggarap dan pemilik, tapi sering tidak diikuti. Pemilik tanah menyuruh penggarap untuk mengolah lahan padahal mereka tidak memiliki modal awal. Konsekuensinya para penggarap meminta modal dari petani pemilik dengan asumsi nanti pada waktu panen dibayar.

6.6.3 Konflik Antara Pemilik Lahan dengan Penggadai

Proses penggadaian lahan pertanian di Desa Cibatok Satu tidak selalu menguntungkan kedua belah pihak. Kadang kala ada pihak yang dirugikan. Kerugian ini lebih kepada biaya yang diberikan. Setiap proses penggadaian dimulai dengan adanya perjanjian antara pihak penggadai dalam hal ini pemilik lahan dengan penerima gadai.

Dalam transaksi gadai pemilik lahan menyerahkan hak atas tanahnya dan menerima pinjaman uang atau emas dari penerima gadai. Pak Bas salah satu orang yang sering menerima menerima gadai tanah. Tidak tanggung-tanggung saat ini pak Bas menerima gadaian tanah seluas 1 Ha dan memberikan pinjaman dalam bentuk emas 300 gram dan uang 2 juta. Jika diuangkan sekitar 100 juta rupiah.

Menurut Pak Bas sistem gadai menggunakan emas lebih aman daripada menggunakan uang. Dahulu Pak Bas pernah menggunakan uang dan ia mendapakan kerugian karena nilai nominal uang akan terus menurun. Hal seperti

ini sering menimbulkan percekcokan antara penerima gadai dan pemberi gadai, meskipun tidak sampai adu fisik. Tapi hubungan keduanya jarang yang akan baik. Proses gadai ini kebanyakan akan berujung pada pemilikan secara legal karena pihak pemilik tanah biasanya tidak memiliki cukup dana untuk mengembalikan pinjaman mereka.

6.6.4 Konflik Antar Buruh Tani

Hubungan antar buruh tidak selamanya akan baik meskipun mereka bekerja pada satu tempat yang sama. Hubungan yang tidak baik ini tidak terlihat pada saat mereka bekerja, tapi diluar pada saat mereka tidak sedang bekerja. Tidak baiknya hubungan merek dipicu karena adanya kecemburuan sosial. Kecemburuan ini didasari oleh kesempatan mendapatkan pekerjaan tambahan. Ada buruh-buruh yang mudah mendapatkan pekerjaan tambahan karena keahlian yang mereka miliki dan ada juga yang susah untuk mendapatkan pekerjaan.

Buruh-buruh yang mudah mendapatkan pekerjaan akan mengajak buruh lain yang dirasa memiliki kemampuan bekerja yang baik. Nek Awg salah satu orang yang mudah mendapatkan pekerjaan, beliau juga merupakan buruh andalan Pak Bas selaku pemilik lahan. Buruh lain banyak yang salut dan kurang suka melihat keadaan ini.

”Nek Awg mah enak banyak kerjaan padahal dia sudah ga punya tanggungan lagi, dy mah dibagi-baginya cuma ma itu-itu aja ga yang lain. trus dy juga deket ma Wak Bas.”(Bu Tni)

Saat ditanya kepada Nek Awg mengenai buruh-buruh di Pak Bas, beliau mengatakan bahwa buruh-buruh itu banyak yang pemalas, kerja datang terlambat

dan dalam bekerja tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Pak Bas. Nek Awg juga memiliki alasan untuk tidak mengajak mereka dalam satu tim yaitu tidak boleh oleh para pemilik lahan yang menyuruh beliau bekerja karena takut lama dan tidak berhasil. Mereka sering menyindir buruh-buruh lain.

Bentuk-bentuk konflik ini merupakan gambaran bagaimana realitas hubungan antara para pemanfaat lahan pertanian di perdesaan. Keduanya terjadi karena adanya faktor siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai. Perlawanan yang terjadi hanya berbentuk omongan saja tanpa adanya perlakuan fisik, hal ini karena adanya perasaan tidak enak, baik pada buruh maupun penggarap, karena merasa berhutang budi dengan majikannya. Scott (1990) mengatakan bahwa konflik yang terjadi pada pemanfaat lahan pertanian karena adanya kekuasaan. Perlawanan yang ditimbulkan oleh pihak-pihak yang disubordinasikan ini dalam bentuk yang tak tertulis, misalnya bentuk-bentuk humor, gossip, dan sinisme. Menurut Scott akar permasalahan terletak pada otoritas moral sebagai basis hubungan-hubungan sosial dan stabilitas sosial. Jika otoritas moral tidak lagi mampu menyediakan kepuasan pada individu maka potensi perlawanan akan timbul.

Dokumen terkait