• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilikan dan Penguasaan Tanah di Desa Cibatok Satu

BAB V POLA HUBUNGAN ANTAR AKTOR-AKTOR

5.2 Pemilikan dan Penguasaan Tanah di Desa Cibatok Satu

Desa Cibatok Satu merupakan salah satu desa yang pertaniannya cukup bagus untuk wilayah Kecamatan Cibungbulang, selain Desa Situ Udik. Hal ini ditunjang dari besarnya tanah yang digunakan sebagai lahan pertanian, di bandingkan dengan non-pertanian. Perbandingan penggunaan lahan pertanian dan non-pertanian sebesar 69,21 persen untuk lahan pertanian dan 30,78 persen untuk lahan non-pertanian .

Menurut sekretaris Desa Cibatok Satu kepemilikan tanah di Desa Cibatok Satu ini baik untuk pertanian 90 persen di miliki oleh orang dalam Desa Cibatok Satu sendiri.

”Tanah-tanah pertanian di Desa Cibatok Satu ini 90 persen pemiliknya adalah orang asli Desa Cibatok Satu tapi mereka ada yang tinggal di sini ada juga di luar dari Desa Cibatok Satu misalnya kebanyakan di Jakarta, salah satunya Pak H. Engkos salah satu pemilik tanah terluas di Desa ini selain Pak H. Encih. Beliau memang tidak tinggal disini tetapi beliau asli orang Cibatok Satu. Orang tua beliau asli disini dan keluarga besarnya juga ada di sini”(Pak Erk/Sekretaris Desa Cibatok Satu)

Menelusuri kepemilikan dan penguasaan tanah beserta struktur pemilikan tanah tidaklah mudah. Meskipun di Desa Cibatok Satu memiliki data kepemilikan tahun 1989, tapi kepemilikan tanah pada data tersebut sudah tidak akurat lagi. Nama pemilik tanah banyak yang tidak ada atau pun sudah meninggal. Tapi ada data Data kepemilikan lahan pertanian pangan di Desa Cibatok Satu yang di dapat dari buku potensi desa tahun 2004. Data tersebut juga kurang akurat dimana banyak data yang sengaja ditulis karena pada waktu itu desa akan mengikuti lomba desa tingkat Jawa Barat. Adapun kepemilikan tanah pertanian dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4. Pemilikan Lahan Pertanian Tanaman Pangan

No Kepemilikan Tanah Pertanian Σ Rumah Tangga Tanaman Pertanian

(RTP)

% Rumah Tangga Tanaman Pertanian

(%) 1 Tidak memiliki lahan pertanian 368 33,48

2 < 0,5 Ha 240 22,74

3 0.5 – 1.0 Ha 222 20,20

4 > 1,0 Ha 269 24,48

Total 1.099 100

Sumber: Data Potensi Desa Tahun 2004

Data kepemilikan lahan pertanian tanaman pangan diatas menunjukkan bahwa kepemilikan lahan tertinggi per rumah tangga pertanian adalah tidak memiliki lahan pertanian. Artinya mereka yang tidak mempunyai lahan dan bekerja sebagai buruh tani atau penggarap. Kemudian diikuti oleh kepemilikan lahan diatas 1 Ha sebanyak 269 rumah tangga pertanian. Rumah tangga pertanian yang memiliki lahan antar 0,5 hingga 1 Ha, yaitu sebanyak 222. Dan kepemilikan di bawah 0,5 adalah 240 rumah tangga pertanian.

Kepemilikan lahan pertanian diatas merupakan kepemilikan lahan pertanian oleh orang dalam Desa Cibatok Satu. Sehingga jika dilihat total kepemilikan oleh orang dalam Desa Cibatok Satu sebesar 90 persen dari luas total lahan pertanian di Desa Cibatok Satu yaitu 1.015.298,1 m². Maka bisa diperkirakan bahwa kepemilikan lahan pertanian rata-rata adalah sebesar 0,092 Ha per rumah tangga pertanian. Jika kebutuhan sawah minimum satu rumah tangga pertanian dengan 4 hingga 5 orang per masing-masing anggota keluarga adalah 0,25 Ha (Sadikin 2005), maka memiliki 0,092 Ha tentulah sangat jauh dari cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan anggota keluarga..

Pemilikan tanah di Desa Cibatok Satu terjadi melalui beberapa cara yaitu: 1. Pembelian. Pembelian adalah cara yang paling umum digunakan di seluruh

melalui sebuah transaksi jual-beli antara orang yang akan menjual tanahnya, baik yang dimilikinya dari pembelian sebelumnya atau warisan kepada orang yang akan membelinya. Proses jual beli di Desa Cibatok Satu ini biasanya dilakukan langsung antara si pembeli atau penjual maupun menggunakan perantara.

Penggunaan perantara sering dilakukan, perantara biasanya orang daerah Cibatok Satu. Penggunaan perantara ini karena si penjual atau pembeli tidak mau repot untuk mengurus jual-beli tanah, mulai dari negosiasi hingga surat-surat. Bu Ntin sering menjadi perantara untuk menjual tanah.

”Kemarin ada neng yang minta di jualin tanahnya, dia kasih harga 20 juta, trus saya cari-cari orang yang mo beli, laku neng 25 juta. Kan lumayan, ya itung-itung bersih ke kita mah 3 juta-an lah. untuk ngurus ini itu surat-surat lah yjuta-ang jual kjuta-an mau tau beres aja.” (Bu Ntn )

Harga tanah di Desa Cibatok Satu ini bervariasi, untuk tanah pemukiman harganya bisa mencapai Rp 200.000,00 per meter persegi sedangkan untuk sawah harga tanah cukup rendah yaitu sebesar Rp.10.000,00 hingga Rp 20.000,00 per meter. Harga tanah semakin mahal jika akses terhadap jalan mudah dan letak geografis yang strategis. Misalnya tanah yang dijual di berada di dekat pasar atau pun pertigaan Cibatok Satu. Nilai jual tanah untuk daerah tersebut cukup tinggi.

Nilai jual sawah cukup rendah. Hal ini tergantung pada akses tehadap saluran irigasi dan kemampuan produktifitas lahan itu sendiri. Sawah yang berada di dekat saluran irigasi akan mempunyai nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan sawah yang jauh dari irigasi ataupun tidak terdapat

saluran irigasi. Sawah yang produktifitasnya tinggi juga mempunyai nilai jual tinggi. Produktifitas ini bisa diketahui dari ”omongan-omongan” orang-orang setempat mengenai tanah yang dijual.

Setiap proses jual beli biasanya tercatat di kantor desa. Meskipun ada juga proses jual beli yang dilakukan di bawah tangan. Hal itu tidak sering terjadi tetapi ada. Bukti kepemilikan tanah yang sah di Desa Cibatok Satu umumnya adalah SPPT-PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang-Pajak Bumi Bangunan). Saat ini bukti kepemilikan tanah lain yang digunakan di Desa Cibatok Satu adalah Girik.

2. Warisan adalah pemilikan harta termasuk tanah melalui pembagian dari orang tua laki-laki ataupun orang tua perempuan kepada anaknya setelah orang tua sebagai pemilik harta atau pemberi waris tersebut meninggal dunia. Aturan pembagian waris yang berlaku di Desa Cibatok Satu adalah berdasarkan syariat Islam dan pembagian rata kepada setia anak. Berdasarkan aturan syariat Islam, yaitu anak laki-laki mendapat dua bagian sedangkan anak perempuan mendapatkan satu bagian dari harta waris yang dibagikan.

“Pembagian waris menurut syariat Islam sering digunakan oleh masyarakat Desa Cibatok Satu, karena pembagian ini dianggap akan adil. Laki-laki mendapat bagian yang lebih besar karena memiliki tanggung jawab yang besar baik untuk orang tuanya dan saudara-saudaranya maupun keluarganya sendiri”. (Pak Erk)

Selain sistem waris yang didasarkan pada syariat islam, sistem waris yang berlaku di Desa Cibatok Satu yaitu pembagian yang adil menurut pandangan orang tua untuk anak-anaknya. Salah satunya pembagian yang merata seluruh harta kepada anak-anaknya. Tanah yang didapat dari sistem waris ini sering

menimbulkan permasalahan apabila karena banyak tanah yang belum ada bukti kepemilikan tanah secara sah hanya lewat lisan saja.

Penguasaan tanah di Desa Cibatok Satu dibedakan menjadi sistem bagi hasil, sewa. Untuk tanah bengkok yaitu tanah milik desa yang diperuntukkan bagi pejabat desa terutama lurah, yang hasilnya dianggap sebagai gaji selama menduduki jabatan itu (Wiradi, 1984). Desa Cibatok Satu tidak memiliki tanah seperti kebanyakan daerah pedesaan Jawa pada umumnya. Salah satu faktornya adalah dahulunya tanah-tanah yang ada di desa ini milik tuan-tuan tanah dimana rakyat membayar pajak kepada mereka. Tuan tanah dalam Lyon (1984) memiliki beberapa peranan, yaitu melaksanakan hak-hak pertuanan atas penyewa dan petani bagi hasil, yaitu dengan menuntut komoditi-komoditi, kerja rodi, tugas jaga dan jasa lainnya.

Desa Cibatok Satu tidak termasuk dalam wilayah yang memiliki sistem penguasaan komunal, sehingga umumnya tanahnya adalah kepemilikan individu bukan komunal (tanah ulayat). Tanah kas desa hanya untuk bangunan kantor desa dan lapangan, sehingga tidak ada yang dapat disewakan.

Adapun bentuk-bentuk penguasaan tanah yang sering dilakukan di Desa Cibatok Satu adalah sebagai berikut:

1. Sewa. Sistem sewa yang biasanya diterapkan di Desa Cibatok Satu adalah penguasaan tanah sementara dalam jangka waktu 1 tahun atau per musim tanam. Sistem sewa jarang ditemukan di lahan pertanian di desa ini khususnya sawah. Harga sewa bergantung dengan luas lahan yang disewakan. Nilai sewa tanah rata-rata di Desa Cibatok 1 ini pertahunnya adalah 1,5 juta/Ha, jika permusim nilai sewanya yaitu 200 ribu/musim. Tapi umumnya orang-orang di

desa ini menyewa pertahun, per petak, dimana harga per petaknya adalah Rp 300.000,00.

Alasan para pemilik menyewakan sawah-sawahnya karena biaya untuk mengolah sawah-sawah tersebut sangat mahal, bibit untuk nanam juga semakin mahal belum lagi obat-obat dan pupuk yang digunakan untuk menyuburkan tanaman harganya cukup tinggi. Daripada mereka menjual sawah yang merupakan warisan ataupun didapat dari jual beli mereka sewakan kepada orang lain yang ingin menggarap sawah tersebut.

Sawah-sawah yang disewakan tersebut belum tentu ditanami padi juga tapi banyak yang berubah ke tanaman palawija dan hortikultura misalnya terong, timun, buncis, ubi. Istilah yang digunakan oleh masyarakat Desa Cibatok ini untuk sistem sewa adalah kontrak.

2. Gadai. Dalam transaksi gadai pemilik tanah menyerahkan hak atas tanahnya dan menerima pinjaman uang atau emas dari penerima gadai. Selama uang pinjaman ini belum dikembalikan si penerima gadai tetap menguasai tanahnya. Tanah gadaian ini dapat dikatakan berupa jaminan atas pinjaman tak berbunga ini. Penerima gadai boleh dikatakan mendapatkan balas jasa dari uang pinjamannya dari hasil bersih yang diperoleh dari tanah yang dikuasainya. Besarnya nilai gadaian ini biasanya lebih rendah dari nilai jual beli tanahnya.

Transaksi gadai dilakukan oleh pemilik tanah karena sangat memerlukan uang dan merasa tidak ingin untuk menjual lepas tanahnya. Tempat dan fasilitas peminjaman uang tidak tersedia. Transaksi gadai ini dilakukan oleh pemilik tanah jika mereka terlilit hutang ataupun butuh uang untuk hidup.

Pembayaran sistem gadai ini ada yang menggunakan emas dan juga uang tergantung perjanjian. Jika menggunakan emas nilai tanahnya akan tetap karena disesuaikan dengan harga emas yang berkembang pada saat itu. Tapi jika menggunakan sistem uang, nilai akan berbeda pada saat menggadai dan melakukan pembayaran gadai. Disini ada pihak yang akan merasa dirugikan dan diuntungkan. Terkadang banyak permasalahan yang ditimbulkan oleh gadai dengan sistem uang ini.

Selama si peminjam uang belum mampu mengembalikan uang yang dipinjam, hak penggunaan tanah pertanian masih ada di pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman disini sangat beruntung karena mereka tidak perlu susah payah untuk menyewa tanah pertanian. Banyak juga dari hasil transaksi gadai ini, tanah-tanah yang digadai akhirnya dijual kepada si pemberi gadai. Hal ini disebabkan si pemilik tanah tersebut tidak mampu membayar uang gadai tersebut.

Tanah-tanah yang digadai biasanya tidak membutuhkan waktu yang lama rata-rata 1 hingga 2 tahun. Tidak ditemui tanah-tanah yang telah digadai hingga puluhan tahun. Salah satu orang yang sering menggunakan hak gadai ini adalah Pak Bas pengusaha pertanian terbesar di Desa Cibatok Satu yang juga termasuk bandar sayur di Pasar TU Kemang yang menguasai sawah seluas 3 Ha yang terbagi dalam 29 petakan sawah. Sawah-sawah yang beliau usahakan rata-rata berasal dari gadaian. Beliau lebih suka nemerima tanah gadai dari pada menyewa

”Saya lebih suka menerima gadaian sawah daripada harus menyewa. Kalo menerima gadai itu ibaratnya membantu orang sekaligus berinvestasi. Uang kita ga kan hilang. ini saya

menerima gadai tanah yang kedua sebesar 350 gram emas dan duit 6 juta ada 11 petak ya kalo di uangkan setara 100 juta lah. Sawahnya udah dua tahun jalan. yang sebelumnya saya juga nerima gadai 5 petak dengan 100 gram emas duit 2,5 juta tapi sekarang sawahnya udah jdi milik saya karena mereka ga anggup bayar. Ya sudah saya tambahan sedikit jadi tanah saya. Padahal untung kalo nanam tapi butuh modal juga” (Pak Bas)

Sebelum melakukan gadai biasanya ada perjanjian diantara kedua belah pihak. Bukti gadai adalah kwitansi yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Selama ini tidak ada masalah dalam penggantian uang gadai karena kebanyakan mereka jarang yang bisa menebus uang gadai dan akhirnya menjual tanahnya kepada penerima gadai.

3. Bagi hasil. Cara bagi hasil sebenarnya sudah ada sejak dulu dan ada kebijakan yang mengaturnya yaitu Pasal 2 UUPA 1960. Sistem bagi hasil yang biasanya dilakukan di Desa Cibatok Satu adalah sistem ”Paroh”. Istilah ini lazim digunakan di Desa Cibatok Satu. Artinya pada sistem ini hasil sawah yang dikerjakan oleh penggarap dibagi dua sama besar. Pendapatan petani pemilik sawah sebagai sewa dari sawah itu sama besar dengan bagian penggarap sawah yang mengeluarkan tenaga untuk mengolah, memelihara dan mengolah usaha taninya. Caranya membagi hasil yang dilakukan setelah tanaman padi di panen. Hasil padi yang dibagi adalah hasil setelah dikurangi upah nandur dan panen (upah bawon11

) serta obat-obatan dan biaya perawatan lainnya.

Alasan para pemilik memberikan sawahnya untuk digarap oleh orang lain agar sawah-sawah mereka tetap terpelihara, sebagai wujud investasi dan mereka tidak cukup waktu untuk menggarap tanah mereka. Sawah-sawah yang digarap biasanya pemiliknya tidak bertempat tinggal di Desa Cibatok

11 Upah yang dikeluarkan untuk orang yang memanen dan menandur/menanam padi. Upah bawon

Satu, tapi mereka ada yang orang asli Cibatok Satu ada juga yang sengaja membeli sawah di Desa Cibatok Satu.

Cara bagi hasil seperti ini telah lama diterapkan di Desa Cibatok Satu. Meskipun ada pergantian jenis padi dari jenis padi lokal hingga masuknya jenis unggul sistem seperti ini tetap di gunakan. Termasuk juga adanya obat-obat yang semakin mahal dan biaya pupuk yang tinggi. Biaya untuk obat-obat dan pupuk ini ditanggung oleh kedua belah pihak.

Dokumen terkait