• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Puskesmas

2.4.2 Konsep Dasar Puskesmas

Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mencakup 4 indikator utama yakni:

a. Lingkungan sehat b. Perilaku sehat

c. Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu d. Derajat kesehatan penduduk kecamatan.

Rumusan visi untuk masing-masing puskesmas harus mengacu pada visi pembangunan kesehatan puskesmas di atas yakni terwujudnya Kecamatan Sehat, yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah kecamatan setempat.

2. Misi Puskesmas

Misi Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut adalah:

a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.

Puskesmas akan selalu menggerakkan pembangunan sektor lain yang diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan, yaitu pembangunan yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat.

b. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya dibidang kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan menuju kemandirian untuk hidup sehat.

c. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.

Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota masyarakat.

d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.

Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya pemeliharaan dan peningkatan yang dilakukan puskesmas mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan.

3. Tujuan Puskesmas

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaraan, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

4. Fungsi Puskesmas

Fungsi Puskesmas antara lain sebagai:

a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan

Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggarakan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus

untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

b. Pusat pemberdayaan masyarakat

Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam mempejuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat.

c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama

Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi:

1) Pelayanan kesehatan perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap

2) Pelayanan kesehatan masyarakat.

Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.

5. Sasaran Puskesmas

Sasaran puskesmas adalah individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang mempunyai masalah dengan kesehatan akibat kurangnya pengetahuan, ketidakmauan, maupun ketidak mampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya. Berikut dijelaskan sasaran puskesmas:

a. Individu

1) Yang mempunyai masalah kesehatan dan termasuk dalam golongan rawan (vulnerable group).

2) Merupakan titik awal (entry point) untuk pembinaan keluarga.

b. Keluarga

1) Keluarga rawan, yaitu keluarga yang rentan terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehtan dan keluarga yang mempunyai individu yang bermasalah.

2) Prioritas pelayanan kesehatan pada keluarga yang belum memanfaatkan pelayanan kesehatan.

c. Kelompok

1) Kelompok rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan 2) Prioritas masalah kesehatan

3) Kelompok rawan yang terikat dalam institusi, contohnya : karang wreda, karang balita, kelompok pekerja informal, perkumpulan penyandang penyakit tertentu (seperti jantung, asma), kelompok remaja, dan lainnya.

2.5. Prosedur Penerimaan Pasien Askes Rawat Jalan di Puskesmas

Prosedur penerimaan pasien Askes rawat jalan pada Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren berdasarkan protap pelayanan di loket pendaftaran adalah sebagai pedoman kerja petugas loket pendaftaran dalam pelayanan kartu berobat atau kartu rawat jalan bagi pasien Askes, dan sasarannya petugas loket dalam mencatat pasien Askes, yaitu membuat kartu rawat jalan bagi pasien baru, serta mencarikan kartu rawat jalan yang tersimpan dalam famili folder bagi pasien dengan kunjungan ulang.

Adapun langkah-langkah pelayanan di loket pendaftaran pasien Askes pada Puskesmasa Perawatan Kota Blangkejeren adalah sebagai berikut:

a. Pasien datang ke Puskesmas

b. Petugas menyapa pasien dengan senyum dan mendaftarkan pasien 1. Pasien Askes kunjungan pertama (baru):

- Petugas meminta pasien menunjukkan kartu peserta Askes, dan mencatat nomor kartu peserta Askes

- Petugas mencatat nama pasien, umur, jenis kelamin, pekerjaan dan alamat pada buku registrasi pelayanan rawat jalan

- Petugas membuat kartu rawat jalan

- Petugas membuat kartu berobat rawat jalan

- Petugas menyerahkan kartu berobat rawat jalan kepada pasien untuk identitas kunjungan berobat ulang pada Puskesmas

- Petugas menyerahkan kartu rawat jalan kepada pasien dan mempersilahkan menunggu di ruang tunggu pelayanan yang dituju setelah pasien meyerahkan kartu rawat jalan kepada petugas poli

- Petugas akan memanggil nama pasien sesuai urutan daftar tunggu keruang poli untuk diperiksa oleh Dokter Puskesmas

- Jika Dokter menganggap perlu untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana atau tindakan medis maka pemeriksaan laboratorium dan tindakan medis dapat dilakukan di Puskesmas

- Jika mendapat resep obat, pasien menyerahkan resep tersebut pada petugas diruang obat dan menunggu giliran untuk mendapatkan obat dari Puskesmas

- Jika Dokter Puskesmas menganggap perlu untuk pemeriksaan lebih lanjut atau atas indikasi medis, maka pasien akan dirujuk ke Rumah Sakit yang ditunjuk

- Petugas loket mengambil status rawat jalan pasien yang sudah selesai berobat dari ruang poli dan menyimpan kembali status rawat jalan kerak Arsip pasien rawat jalan

2. Pasien Askes kunjungan ulang:

- Petugas meminta kepada pasien menunjukkan kartu berobat rawat jalan di Puskesmas

- Petugas meminta pasien menunjukkan kartu peserta Askes, dan mencatat nomor kartu peserta Askes

- Petugas mencarikan kartu rawat jalan sesuai nomor index kartu berobat rawat jalan untuk pasien yang sudah pernah berobat atau berkunjung kerak Arsip pasien rawat jalan

- Petugas mengembalikan kartu berobat rawat jalan dan menyerahkan kartu rawat jalan kepada pasien dan mempersilahkan menunggu di ruang tunggu pelayanan yang dituju setelah pasien menyerahkan kartu rawat jalan kepada petugas poli

- Petugas akan memanggil nama pasien sesuai urutan daftar tunggu keruang poli untuk diperiksa oleh Dokter Puskesmas

- Jika Dokter menganggap perlu untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana atau tindakan medis maka pemeriksaan laboratorium dan tindakan medis dapat dilakukan di Puskesmas

- Jika mendapat resep obat, pasien menyerahkan resep tersebut pada petugas diruang obat dan menunggu giliran untuk mendapatkan obat dari Puskesmas

- Jika Dokter Puskesmas menganggap perlu untuk pemeriksaan pasien lebih lanjut atau atas indikasi medis, maka pasien akan dirujuk ke Rumah Sakit yang ditunjuk

- Petugas loket mengambil kartu rawat jalan pasien yang sudah selesai berobat dari ruang poli dan menyimpan kembali status rawat jalan ke rak arsip pasien rawat jalan.

2.6. Permintaan

Pengertian permintaan (demand) tidak terpisah dari arti kebutuhan (need) dan keinginan (want). Kebutuhan adalah sesuatu yang dirasa kurang dari diri manusia itu sendiri, sedangkan keinginan (want) adalah sesuatu yang dirasa kurang karena lingkungan, dan permintaan (demand) adalah keinginan yang disertai dengan daya beli. Demand merupakan ungkapan permintaan dari keinginan dan kebutuhan (Irawan dkk., 1996).

Permintaan (demand) adalah sejumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen pada beberapa tingkat harga pada suatu waktu tertentu dan pada tempat atau pasar tertentu (Palutturi, 2005). Menurut Lipsey (1990), permintaan adalah jumlah yang diminta merupakan jumlah yang diinginkan. Jumlah ini adalah berapa

banyak yang akan dibeli oleh rumah tangga pada harga tertentu suatu komoditas, harga komoditas lain, pendapatan, selera, dan lain-lain.

Menurut Turner (1971) yang dikutip Salma (2004) menyatakan bahwa permintaan suatu barang di pasar akan terjadi apabila konsumen mempunyai keinginan (willing) dan kemampuan (ability) untuk membeli, pada tahap konsumen hanya memiliki keinginan atau kemampuan saja maka permintaan suatu barang belum terjadi, kedua syarat willing dan ability harus ada untuk terjadinya permintaan.

Permintaan adalah keinginan terhadap produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan kesediaan untuk membelinya. Dengan demikian permintaan adalah kebutuhan dan keinginan yang didukung oleh daya beli (Kotler dan Andersen, 1995). Kotler dan Andersen (1995) menyatakan bahwa kebutuhan manusia (human need) adalah ketidak beradaan beberapa kepuasan dasar seperti: kebutuhan makanan, pakaian, tempat berlindung, keamanan hak milik dan harga diri serta kesehatan. Keinginan (want) adalah hasrat pemuas kebutuhan yang spesifik yaitu cara pemenuhan kebutuhan dengan beberapa pemilihan untuk memuaskannya. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin seseorang kebutuhannya sedikit, misalnya hanya pencegahan penyakit gigi dan mulut namun keinginannya banyak karena dipengaruhi oleh kondisi sosial seperti pendidikan, keluarga dan atau perusahaan.

Menurut teori Abraham Maslow (1970) yang dikutif Julianto Saleh (2003), Maslow mengklasifikasikan kebutuhan manusia kedalam 5 (lima) tingkat kebutuhan yang berbentuk hirarki kebutuhan manusia yaitu: (1). Kebutuhan fisiologis

(Physiological needs), (2). Kebutuhan rasa aman (Safety and security needs), (3).

Kebutuhan rasa memiliki dan dimiliki serta kasih sayang (Belongingness and love needs), (4). Kebutuhan akan penghargaan (Esteem needs), (5). Kebutuhan aktualisasi diri (Self-actualization).

Fungsi permintaan menunjukan hubungan antara kuantitas suatu barang yang diminta dengan semua faktor yang mempengaruhinya: harga, pendapatan, selera dan harapan-harapan untuk masa mendatang (Arsyad, 1991).

2.7. Rujukan

2.7.1. Pengertian Rujukan

Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti dari satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan yang sama (Depkes RI, 2006).

Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kesehatan yang timbul baik secara vertikal (dan satu unit ke unit yang lebih lengkap/rumah sakit) untuk horizontal (dari satu bagian lain dalam satu unit).

(Sutarjo, 1993).

Kemampuan yang dimiliki oleh puskesmas terbatas padahal puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat dengan berbagai permasalahan kesehatannya. Untuk membantu puskesmas menyelesaikan berbagai masalah

kesehatan tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya puskesmas harus ditopang azas rujukan. Azas rujukan terbagi menjadi:

1) Rujukan pelayanan kesehatan perorangan yang terdiri dari : - Rujukan kasus

- Rujukan bahan pemeriksaan - Rujukan ilmu pengetahuan

2) Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat yang terdiri dari : - Rujukan saran dan logistik

- Rujukan tenaga

2.7.2. Sistem Rujukan Upaya Kesehatan

Salah satu bentuk pelaksanaan dan pengembangan upaya kesehatan dalam Sistem kesehatan Nasional (SKN) adalah rujukan upaya kesehatan. Untuk mendapatkan mutu pelayanan yang lebih terjamin, berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efesien), perlu adanya jenjang pembagian tugas diantara unit-unit pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan sistem rujukan. Dalam pengertiannya, sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu tatanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal, kepada yang berwenang dan dilakukan secara rasional. Menurut tata

hubungannya, sistem rujukan terdiri dari rujukan internal dan rujukan eksternal:

Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke

puskesmas induk, sedangkan rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah) (Mukti, 2001).

Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari rujukan Medik dan rujukan Kesehatan. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja) (Sudayasa, 2010).

Adapun mekanisme sistem rujukan masalah kesehatan menurut Prof. Dr.

Soekidjo Notoatmodjo adalah seperti tertera dalam skema sebagai berikut:

(www.geocities.ws/klinikikm/manajemen-kesehatan/sistem-rujukan.htm).

1. Skema sistem rujukan masalah kesehatan Penderita Masalah Medis Rujukan Pengetahuan Medis

Bahan-bahan Pemeriksaan

Masalah Kesehatan

Teknologi Masakah Kesehatan Rujukan Sarana Masyarakat Kesehatan

Operasional Gambar 2.2. Sistem Rujukan Masalah Kesehatan

2. Skema sistem rujukan pelayanan kesehatan di Indonesia Rumah Sakit Tipe A

Provinsi Rumah Sakit Tipe B Kabupaten Rumah Sakit Tipe C/D Kecamatan Puskesmas/ Balkesmas Kelurahan/ Desa Puskesmas Pembantu

Dokter Praktek Swasta Bidan Praktek Swasta Posyandu Posyandu Posyandu Posyandu

Masyarakat

Gambar 2.3. Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan di Indonesia

2.7.3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Rujukan Pelayanan Kesehatan

Menurut Andersen (1968) yang dikutip Zuhrawardi (2007) menyatakan bahwa pemanfaatan jasa pelayanan kesehatan oleh masyarakat tergantung pada tiga faktor yaitu faktor predisposisi (predisposing), faktor pendukung (enabling), serta faktor kebutuhan (need).

a. Faktor Predisposisi (Predisposing)

Merupakan kumpulan faktor-faktor yang menggambarkan karakteristik individu, yang mempunyai kecenderungan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang meliputi :

1) Keadaan demografi berupa: umur, jenis kelamin, status perkawinan, penyakit di masa lalu serta jumlah anggota keluarga.

2) Keadaan struktur sosial, meliputi: jenis pekerjaan, status sosial, pendidikan, ras dan suku.

3) Sikap dan kepercayaan, terutama kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan, dokter dan tenaga kesehatan lainnya serta kepercayaan terhadap penyakit.

b. Faktor Pendukung (Enabling Factor)

Kondisi yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan atau merasa puas dengan menggunakan pelayanan kesehatan yang ada, terdiri dari :

1) Sumber daya keluarga yaitu: Penghasilan keluarga, kemampuan membeli jasa pelayanan dan keikutsertaan dalam asuransi kesehatan.

2) Sumber daya masyarakat: jumlah sarana pelayanan kesehat jumlah tenaga kesehatan serta rasio penduduk dan tenaga kesehatan.

c. Faktor Kebutuhan (Need Factor)

Faktor ini menunjukkan kebutuhan individu untuk mempergunakan fasilitas kesehatan, hal ini ditunjukkan oleh adanya kebutuhan karena alasan yang kuat yaitu adanya jawaban atas penyakit tersebut dengan cara mencari pelayanan kesehatan. Faktor ini merupakan bagian yang paling langsung berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. Kebutuhan dibagi menjadi dua kategori, dirasakan atau perceived dan evaluated.

2.8. Landasan Teori

Landasan teori dalam penelitian ini dilihat dari beberapa pendapat para ahli tentang kualitas pelayanan, penulis menggunakan konsep kualitas pelayanan menurut Parasuraman, dkk (1988) yang dikutip oleh Nur Achmad (2008) dalam jurnal

“.Analisis simultan kualitas layanan terhadap kepuasan konsumen dan minat beli pada grapari telkomsel di Surakarta”. yang mengidentifikasi 5 (lima) dimensi pokok yang berkaitan dengan kualitas jasa, hal ini untuk digunakan mengukur kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien Askes yang meminta rujukan pada Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues, yaitu: a) kehandalan (reliability) yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya, (b) ketanggapan (responsiveness) yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan

tepat kepada pelanggan dengan penyampaian informasi yang jelas, (c) jaminan (assurance) yaitu berkaitan dengan kemampuan, pengetahuan, ketrampilan staf dalam menangani setiap pelayanan yang diberikan sehingga mampu menumbuhkan kepercayaan dan rasa aman pada pelanggan, (d) empati (empathy) yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen, (e) bukti fisik (tangible), berkenaan dengan bukti fisik yaitu penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik dan keadaan lingkungan sekitarnya.

Teori tentang permintaan rujukan, penulis menggunakan permintaan rujukan pasien Askes atas dasar kebutuhan atau keinginan pasien, dalam hal ini dengan menggunakan teori Abraham Maslow (1970) yang dikutip oleh Julianto Saleh (2003) dalam jurnal “Hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow: Aplikasi terhadap klasifikasi mad’u dalam proses dakwah”. yang mengklasifikasikan kebutuhan manusia kedalam 5 (lima) tingkat kebutuhan yang berbentuk hirarki kebutuhan manusia yaitu: (1). Kebutuhan fisiologis (Physiological needs), (2).

Kebutuhan rasa aman (Safety and security needs), (3). Kebutuhan rasa memiliki dan dimiliki serta kasih sayang (Belongingness and love needs), (4). Kebutuhan akan penghargaan (Esteem needs), (5). Kebutuhan aktualisasi diri (Self-actualization).

Menurut penelitian Sutarjo (1993) dalam Zulkarnain, dkk (2003) menyatakan bahwa pemanfaatan Rumah Sakit saat ini cenderung tidak rasional, karena penderita lebih suka datang kerumah sakit yang canggih dari pada pemanfaatan fasilitas

Puskesmas, bahkan untuk kasus-kasus yang biasa ditangani di Puskesmas. Masalah jarak tidak menjadi pertimbangan penderita apabila mobilisasi masyarakat tinggi dan sarana transportasi yang lancar mempermudah penderita datang kerumah sakit terdekat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sulaiman (1995) yang meneliti tentang kunjungan peserta PT. Askes ke RSUP Tegalyoso dipengaruhi oleh jumlah dokter specialis, jumlah perawat dan jumlah layanan rawat jalan lanjutan, sehingga elastisitas kunjungan rawat jalan peserta Askes lebih besar dari masyarakat umum.

Menurut Zulkarnain, dkk (2003) tidak ada hubungan antara jarak Puskesmas ketempat rujukan terdekat terhadap rasio rujukan rawat jalan.

Sedangkan faktor yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan rujukan kesehatan pada Puskesmas berdasarkan teori Andersen (1968) dalam Zuhrawardi (2007) menyatakan bahwa pemanfaatan jasa pelayanan kesehatan oleh masyarakat tergantung pada tiga faktor yaitu: (a). faktor predisposisi (predisposing), yaitu merupakan kumpulan faktor-faktor yang menggambarkan karakteristik individu, yang mempunyai kecenderungan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang meliputi keadaan demografi, keadaan struktur sosial dan Sikap dan kepercayaan. (b). faktor pendukung (enabling), yaitu dimana kondisi yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan atau merasa puas dengan menggunakan pelayanan kesehatan yang ada karena didukung oleh sumber daya keluarga dan sumber daya masyarakat. (c). faktor kebutuhan (need), yaitu karena faktor ini menunjukkan kebutuhan individu untuk mempergunakan fasilitas kesehatan, hal ini ditunjukkan oleh adanya kebutuhan

karena alasan yang kuat yaitu adanya jawaban atas penyakit tersebut dengan cara mencari pelayanan kesehatan, dan faktor ini merupakan bagian yang paling langsung berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan.

2.9. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka dapat disusun kerangka konsep penelitian sebagai berikut:

Variabel Bebas (Independen) Variabel Terikat (Dependen)

Gambar 2.4 Kerangka Konsep Penelitian

Permintaan Rujukan Peserta Wajib PT.Askes

(Persero) pada Puskesmas Perawatan

Kota Blangkejeren Kualitas Pelayanan

1. Kehandalan (Reliability) 2. Ketanggapan (Responsivenees) 3. Jaminan (Assurance)

4. Empati (Empathy) 5. Bukti Fisik (Tangibles)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat explanatory research (penelitian penjelasan) dengan menggunakan disain Cross sectional untuk menganalisis hubungan kausal antara satu variabel dengan variabel lainnya melalui pengujian hipotesis, yaitu menjelaskan pengaruh kualitas pelayanan (Reliability/ kehandalan, Responsivenees / ketanggapan, Assurance / jaminan, Empathy / empati dan Tangibles/ bukti Fisik) sebagai variabel Independen penelitian terhadap permintaan rujukan peserta wajib PT. Askes (Persero) pada Puskesmas perawatan Kota Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues sebagai variabel Dependen penelitian.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitiandilakukan di wilayah Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren Kabupaten GayoLues. Adapun alasan peneliti dalam memilih lokas ikarena tingginya jumlah pasien Askes yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren hanya untuk meminta surat rujukan dari Puskesmas dan masih rendahnya kualitas pelayanan pasien atas pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas tersebut. Padahal Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues merupakan Puskesmas yang dapat dijangkau dengan mudah oleh pasien dan masyarakat. Penurunan jumlah pasien Askes yang melakukan pengobatan juga menjadi salah satu alasan peneliti memilih lokasi ini. Penelitian ini dilaksanakan

selama 22 (dua puluh dua hari) dalam jadwal pelayanan pasien rawat jalan pada Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren yang dimulai sejak tanggal 01 s/d 31 Agustus 2012.

3.3.Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien Askes Rawat Jalan pada Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren yang meminta dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah setempat, dan sebelumnya pasien peserta Askes ini sudah pernah berobat jalan di Puskesmas tersebut, dan pasien Askes Rawat Jalan yang datang ke Puskesmas tidak untuk meminta rujukan.

3.3.2 Sampel

1. Permintaan Rujukan

Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Hal ini berarti setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Sampel (n) dari populasi penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus besar sampel untuk uji hipotesis. Lemeshow (1997):

[ ]

Dengan menggunakan rumus tersebut, maka didapat jumlah sampelnya (n)

Dengan menggunakan rumus tersebut, maka didapat jumlah sampelnya (n)