BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Konsep Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Gagasan mengenai pengurangan risiko bencana telah lama hadir di kancah internasional, sejak dekade 1990-1999 upaya mengenai pengurangan risiko bencana telah ada. Pada dekade tersebut PBB mengeluarkan Resolusi PBB Nomor 63 Tahun 1999 mengenai Dekade Pengurangan Risiko Bencana Internasional yang memfokuskan tindakan kepada pelaksanaan Strategi Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (International Strategy for Disaster Reduction/ ISDR). Menindaklanjuti resolusi tersebut PBB melakukan konferensi dunia pada tahun 2005 yang menghasilkan kesepakatan mengenai rencana internasional yaitu Kerangka Aksi Hyogo (Hyogo Framework for Action/HFA) yang berlaku dalam kurun waktu 2005 hingga 2015.
Kerangka HFA berfokus utama pada upaya pengurangan risiko bencana yang lebih menekankan pada pendekatan terhadap seluruh aspek masyarakat dalam memberikan informasi, motivasi, dan tentunya melibatkan mereka dalam upaya tersebut. Sehingga pada pelaksanaannya memastikan adanya aksi yang sistematis dalam menanggulangi risiko bencana sekaligus mendukung
31
pembangunan yang berkesinambungan (sustainable development). Selain itu, HFA menciptakan ketahanan melalui peningkatan kapasitas dan kapabilitas nasional dan lokal (masyarakat) dalam menanggulangi dan mengurangi risiko bencana. Adapun 5 (lima) aksi prioritas yang diberlakukan HFA sebagai berikut (Rottach, 2010:8).
1. Memastikan bahwa pengurangan risiko bencana merupakan prioritas nasional dan lokal dengan dasar kelembagaan yang kuat dalam pelaksanaannya
2. Mengidentifikasi, menilai dan mengawasi risiko bencana dan meningkatkan sistem peringatan dini,
3. Menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat,
4. Mengurangi faktor-faktor risiko yang mendasari,
5. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana demi respon yang efektif di semua tingkat.
Indonesia sebagai anggota yang termasuk dalam PBB menjadikan negara ini terlibat dalam setiap kesepakatan yang dikeluarkan dari konferensi. Maka kelanjutan bagi Indonesia yang dikenal dengan wilayah dilalui jalur bencana tersebut, menjadikan Kerangka Aksi Hyogo/HFA (2005-2015) sebagai acuan dalam pembuatan Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN-PRB). RAN-PRB disusun pada 2006 secara nasional melalui proses yang melibatkan berbagai pihak terkait di tingkat pusat dan daerah baik dari pemerintah, masyarakat maupun swasta. Proses ini dilaksanakan karena RAN-PRB merupakan rencana terpadu yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah serta meliputi aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Dalam implementasinya rencana ini akan disesuaikan dengan rencana pengurangan risiko bencana pada tingkat regional dan internasional. Setelah RAN-PRB ini dibentuk selanjutnya Indonesia menyusun regulasi UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-undang tersebut menguraikan tentang tupoksi para pelaksana
32
Ditindaklanjuti oleh Indonesia selaku
anggota PBB
dan menguraikan langkah-langkah penanggulangan pada tiga tahap bencana.
Regulasi tersebut sekaligus menjadi landasan hadirnya suatu program yang merealisasikan Kerangka Aksi Hyogo, yaitu Program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) secara lokal. Kemudian Program PRB yang diadopsi oleh daerah-daerah tersebut membentuk suatu kajian risiko bencana sebagai bagian dari PRB yang menyesuaikan dengan kriteria situasi dan kondisi bahaya suatu wilayah.
Gambar 2.4 Alur Perkembangan Landasan Pembentukan PRB
Sumber: Olahan Data Peneliti, 2019
Gambar 2.5 Siklus Manajemen Bencana Upaya PRB hadir dekade
1990-1999
Resolusi PBB No.63 Tahun 1999 Hyogo Framework for Action
2005-2015
RAN-PRB 2006
UU No.24/2007 Penanggulangan Bencana
Program Pengurangan Risiko Bencana
33
Sumber: http://www.msimages.org/manajemen-disaster/ , 2019
Berdasarkan siklus manajemen bencana di atas Program PRB dilaksanakan pada tahap pra bencana, sesuai dengan fokus dan aksi prioritas HFA Program PRB melakukan pemberdayaan dan penguatan masyarakat, membentuk peringatan dini serta mengkaji analisis risiko bencana. Dalam pelaksanaannya Program PRB melakukan segala bentuk upaya baik struktural maupun non-struktural demi meminimalisir kerugian bencana atau bahkan menghilangkannya.
Berdasarkan penelitian, setiap 1 US$ yang diinvestasikan untuk pengurangan risiko bencana maka dapat mengurangi kerugian akibat bencana sebesar 7-40 US$, investasi dipandang sebagai upaya preventif dalam mengurangi kerugian bencana. Di Eropa dialokasikan dana 1 juta dolar AS untuk kegiatan pengurangan bencana sehingga dapat mengurangi kerugian hingga 10-40 juta dolar AS.
Sebelum itu pernah disebut oleh UNDP dan UNOCHA, bahwa 1 US$ dapat menyelematkan 7-40 US$ saat terjadi bencana. Ini kemudian populer dalam kampanye yang berjudul: Act now, save later (Each dollar invested in disaster preparedness, saves seven dollars in recovery) (sumber http://disasterchannel.co/2017/12/04/seminar-tentang-investasi-prb-di-bappenas/
diakses pada 10/09/2019 22.24 WIB).
Dalam kajian Administrasi Publik manajemen dan kebijakan bencana merupakan lingkup Administrasi Publik, seperti halnya dengan Program PRB.
Program PRB sebagai suatu kebijakan tentu memiliki keterkaitan dengan Administrasi Publik, yang mana Administrasi publik meliputi kebijakan publik, manajemen publik, administrasi pembangunan, tujuan negara, dan etika yang mengatur penyelenggara negara. Program PRB lahir dari suatu kebijakan bencana
34
yaitu UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Regulasi tersebut berisi mengenai manajemen bencana yang dilakukan secara bertahap mulai dari pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Melalui kebijakan yang hadir tersemat kepentingan publik menyangkut perlindungan dan keselamatan masyarakat dalam hal ini bencana, sejalan dengan tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Alinea ke-4. Selain itu kebijakan bencana tersebut juga mendukung pembangunan melalui perencanaan dan kajian risiko mengenai tata ruang wilayah, sehingga dalam melakukan pembangunan selanjutnya memperhatikan kajian risiko yang ada. Di dalam Administrasi Publik, dikatakan bahwa penanggulangan bencana haruslah diupayakan secara bersama (multi sektoral), dimana pemerintah daerah dalam hal ini BPBD langsung menjadi leading sector, sementara pemerintah pusat BNPB berperan sebagai pendukung manakala pemda sudah tidak mampu menyediakan aneka kebutuhan.
Pada kondisi ini komunikasi antar berbagai pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana diperlukan untuk mengkoordinasikan proses administrasi, sesuai dengan undang-undang yang berlaku sebagai payung hukum yang berpihak kepada masyarakat terdampak. Selain itu terdapat kebijakan dalam bentuk Peraturan Pemerintah hingga Peraturan Menteri yang mengatur pembagian tugas penyelenggara hingga pendanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana.