• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Konsep Regionalisme Dan Integrasi

Berakhirnya perang Dunia II dan meluasnya interdependensi antar-bangsa melahirkan suatu fenomena baru dalam studi tentang hubungan antar-negara. Teori Hubungan Internasional klasik yang meletakkan fokusnya pada power dan konstelasi politik antar negara kemudian memerlukan beberapa penyempurnaan karena keadaan global telah diwarnai dengan berkurangnya kapasitas negara serta kaburnya batas-batas kedaulatan negara memunculkan pola politik baru yang mengasosiasikan kepentingan nasional ke dalam kepentingan regional. Interdependensi yang semakin meluas melahirkan kerjasama regional (regionalisme) yang merupakan jalan keluar bagi pencapaian kepentingan nasional. Dengan kata lain regionalisme merupakan alternatif diantara nasionalisme dan interdependensi global yang terjadi.

Para pakar studi hubungan internasional memberikan pendapat yang berbeda-beda tentang definisi regionalisme itu sendiri. Menurut Joseph S. Jr Nye, “regionalisme adalah sekelompok negara yang jumlahnya terbatas yang

37

berhubungan satu sama lain dalam batasan sehingga regionalisme didefinisikan sebagai formasi dari pengelompokan antarnegara dalam basis suatu kawasan.”29

Cantori dan Steven Spiegel mendefinisikan “regionalisme sebagai dua atau lebih negara yang saling berinteraksi dan memiliki kedekatan geografis, kesamaan etnis, bahasa, budaya, keterkaitan social dan sejarah serta tindakan dari Negara-negara di luar kawasan.”30 Sedangkan menurut Roeslan Abdulgani, regionalisme dapat didefinisikan sebagai “suatu pengelompokkan Negara kebangsaan dengan tujuan untuk memberntuk sebuah kesatuan politik yang jelas yaitu untuk terbentuknya ketertiban.”31

Teori lain mengklasifikasikan suatu kawasan dalam lima karakter. Pertama, Negara-negara yang tergabung dalam suatu kawasan memiliki kedekatan geografis. Kedua, mereka memiliki pula kemiripan sosio cultural. Ketiga, terdapatnya kemiripan sikap dan tindakan politik seperti yang tercermin dalam organisasi internasional. Keempat, kesamaan keanggotaan dalam organisasi internasional. Dan kelima, adanya ketergantungan yang diukur dari perdagangan

luar negeri sebagai bagian proporsi pendapatan nasional.

Dari berbagai penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa regionalisme merupakan suatu paham yang menginginkan adanya kesatuan

29 Asrudin dan M.J. Suryana. Refleksi Teori Hubungan Internasional dari Tradisional ke

Kontemporer. Graha Ilmu. Yogyakarta. 2009. hal.138 30

Anak Agung Banyu Perwita. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Hal.104

31 Roeslan Abdulgani. Problem Nasionalsime, Regionalisme dan Keamanan di Asia Tenggara. Yogyakarta. Duta Wacana University Press. 1994. Hal.19

38 kerjasama (collective action) dalam berbagai bidang yang pada akhirnya akan menjadi suatu entitas yang integral (sistem) yang lebih besar. Sedangkan regionalisasi merupakan sebuah proses menuju terciptanya kerja sama regional di berbagai bidang dalam satu kawasan.

Konsep regionalisme di atas akan membantu untuk mengetahui apakah pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015 akan menjadi kerja sama negara-negara yang berada di regional Asia Tenggara untuk menciptakan sebuah sistem pemanfaatan ICT yang lebih terkoneksi di antara semua negara anggota. Yang pada akhirnya akan memberikan manfaat yang lebih besar dan kekuatan serta kemajuan ICT baik di level regional maupun di masing-masing negara anggota. Sehingga dengan itu konsep regionalisme ini dapat membantu untuk menganalsis peluang dan tantangan pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015.

Perkembangan regionalisme di berbagai belahan dunia saat ini tergantung kepada pola interaksi dan hubungan diantara negara suatu kawasan dalam menentukan tingkat regionalisme dari kawasan mereka. Menurut Hettne, regionalisme saat ini tergantung pada tiga hal, yakni, (l) dukungan dari kekuatan besar di dalam kawasan (regional great power), (2) tingkat interaksi antar negara

dalam kawasan, dan (3) saling kepercayaan antar negara dalam kawasan.32

Melalui teori ini, dapat dipahami bahwa mengapa satu kawasan lebih tertinggal dibanding kawasan yang lainnya adalah karena permasalahan kekuatan dan keinginan negara yang bersangkutan untuk membentuk satu kawasan. Bisa jadi

32

39 suatu kawasan tidak tercipta integrasi karena memang integrasi tersebut tidak diinginkan dan diupayakan oleh negara besar di dalam kawasan.

Charles Pentland sebagaimana yang dikutip oleh Martin Griffits dalam bukunya “International Relations: The Key Concepts”, mendefinisikan integrasi

politik internasional sebagai sebuah proses di. mana sekelompok masyarakat yang pada awalnya diorganisasikan dalam dua atau lebih negara bangsa yang mandiri, bersama-sama mengangkat sebuah keseluruhan politik yang dalam beberapa pengertian dapat digambarkan sebagai sebuah 'community'. Integrasi dapat dipahami sebagai suatu proses yang mengarah pada suatu kondisi yaitu (1) berbagai upaya untuk meningkatkan kerjasama antar-negara, (2) penyerahan kekuasaan secara bertahap kepada institusi supranasional, (3) penyeragaman nilai, (4) terjadinya masyarakat global dan rekonstruksi norma dalam komunitas politik.33

Seperti yang diutarakan oleh Ernst B. Haas yang melihat integrasi sebagai suatu proses dimana aktor-aktor politik dari latar belakang nasional yang berbeda-beda dipersuasi untuk menggeser loyalitas, harapan, dan aktifitas politik kearah pusat kekuasaan yang baru dimana lembaga- lembaganya memiliki atau rnenuntut

yurisdiksi atas negara-negara yang terlibat.34 Haas melihat

perhitungan-perhitungan politik merupakan tujuan dan kepentingan dari bangsa-bangsa,

33 Martin Griffiths & Terry O‟Callagan, International Relations: The Key Concepts. Routledge, London. 2002 Hal. 155

40 sehingga mereka bersedia untuk menyesuaikan kepentingan nasional mereka dengan lembaga-lembaga supranasional.

Luasnya cakupan integrasi yang terdiri dari beberapa sistem yang berlainan memberikan kesulitan dalam memahami konsep integrasi. Untuk itu

Walter Jones membagi Integrasi dalam empat sektor yaitu :35

a) Integrasi Ekonomi, merupakan yang paling kompleks dan berhubungan langsung dengan kebutuhan dasar manusia. Integrasi dalam sektor ini dapat diupayakan melalui pasar bersama untuk meningkatkan potensi ekonomi melalui konsolidasi kebijakan.

b) lntegasi di sektor sosial adalah pembelokan preferensi nasional menuju loyalitas bagi kesatuan politik yang lebih besar. Keberhasilan integrasi di sektor sosial ditentukan oleh toleransi bersama dan kesamaan nilai-nilai sosial politik negara-negara yang terlibat.

c) lntegrasi Politik merujuk pada konsep integrasi yang sempit yaitu integrasi lembaga-lembaga politik pokok serta pengalihan kedaulatan atas kebijakan luar negeri ke tangan lembaga-lembaga institusional bersama. Tujuan pengalihan bukan untuk menghilangkan pemerintahan nasional, melainkan membatasi wewenangnya pada fungsi fungsi tertentu.

d) Integrasi dalam sektor keamanan dapat tumbuh dari persekutuan (aliansi) namun sebaliknya aliansi yang betul-betul integratif jarang ditemui. Dari

35 Ibid Hal.130

41 beberapa fakta yang ditemui seperti NATO, terdapat dua kesimpulan yaitu integrasi keamanan harus didahului oleh integrasi politik mengingat pentingnya kebijakan strategis bagi kelangsungan hidup nasional dan pemerintah yang berkuasa. Kedua, integrasi keamanan hanya berlangsung dalam masa-masa krisis yang muncul berasal dari kebutuhan vital yang mendesak bukan dari desakan-desakan domesICT dan pertimbangan politik serta sosial.

Berdasarkan konsep di integrasi di atas, maka konsep ini dapat membantu untuk mengetahui apakah pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015 dapat mengintegrasikan ICT di kawasan ASEAN. Dan apakah dengan integrasi ICT tersebut dapat memberikan manfaat yang merata dan memenuhi kepentingan nasional serta tujuan integrasi ICT tersebut di segala bidang khususnya bidang ekonomi baik di level ASEAN maupun di masing-masing. Dengan itu konsep integrasi memberikan kontribusi dalam menganalisis peluang dan tantangan pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015.

Keempat bidang integrasi di atas yang saling terkait satu sama lain pada akhirnya akan mengarah pada tujuan akhir dari proses integrasi yaitu

terbentuknya integrasi model negara dan model komunitas.36 Dalam terminologi

institusional, model negara sangatlah spesifik, terutama bagi penganut paham Federalis dan fungsional, di mana konsensus integrasi haruslah berdasarkan konstitusional dalam artian negara yang berdaulat yang menyatukan identitas

36 Tom Travis. Usefulness of Four Theories of International Relations in Understanding the

42 nasionalnya dalam entitas politik baru yang legal. Sedangkan model komunitas menitikberatkan pada proses yang terjadi dalam hubungan antara rakyat/penduduk negara, dengan sedikit keterlibatan negara.

Pencapaian integrasi kawasan baik secara model negara maupun melalui model komunitas, aliran neofungsionalisme yang diwakili oleh Joseph S.Nye merumuskan mekanisme proses dalam pencapaian integrasi yaitu sebagai berikut:37

a) Saling keterkaitan fungsi dari tugas-tugas yang meliputi munculnya tanda-tanda bertambahnya kerjasama.

b) Meningkatnya transaksi-transaksi meliputi perdagangan, modal,

komunikasi, perpindahan masyarakat dan pertukaran gagasan.

c) Saling keterkaitan yang disengaja dan pembentukan koalisi. Masalah-masalah dihubungkan secara sengaja dalam suatu kesepakatan berdasarkan pandangan ideologi dan politik.

d) Sosialisasi elit, keterlibatan elit sangat menentukan integrasi karena birokrasi dan pemerintah merupakan pihak yang waspada terhadap proses integrasi karena takut akan kehilangan kontrol nasional. Pembentukan kelompok regional non-pemerintah atau asosiasi- asosiasi transnasional.

e) Daya tarik ideologi identitif yaitu munculnya perasaan identitas merupakan pendorong utama integrasi kawasan.

37

43 f) Keterlibatan aktor eksternal dalam proses integrasi sebagai katalisator.