• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Organisasi Internasional

Organisasi internasional dan kerjasama internasional mulai muncul setelah perjanjian perdamaian Westphalia pada 1648. Perjanjian ini dikenal sebagai tahap awal diakuinya sistem negara bangsa dan perimbangan kekuatan yang hingga kini masih diterapkan dan cukup dominan dalam interaksi hubungan intenasional. Kerjasama diakui sebagai sebuah ikatan antar dua atau lebih pihak atau aktor dengan tujuan yang sama. Proses kerjasama yang lebih spesifik dalam Ilmu Hubungan Internasional seringkali dikenal dengan istilah Administrasi Internasional. Sedangkan wadah yang menjadi tempat bekerja sama melaksanakan administrasi inteinasional, dikenal dengan istilah Organisasi Internasional.

Selain Perjanjian Westphalia, pada tahun 1919, disepakati sebuah perjanjian yang dikenal Perjanjian Versailles yang juga menjadi cikal bakal interaksi internasional yang lebih signifikan. Perjanjian ini dilatarbelakangi oleh suasana dan keadaan dunia internasional pada saat itu yang tidak stabil. Konflik dalam bentuk perang menghiasi hampir setiap interaksi aktor internasional. Konflik ini dikenal dengan istilah Perang Dunia I. Negara-negara yang menyadari kondisi global yang tidak lagi kondusif, kemudian berkumpul membicarakan tujuan bersama untuk mewujudkan perdamaian dalam interaksi internasional.

Proses pencapaian tujuan tersebut membutuhkan wadah sebagai tempat menyuarakan aspirasi tiap-tiap negara ke dunia internasional, maka dibuatlah

23 sebuah organisasi yang dinamakan Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Namun, dalam prosesnya ternyata Liga Bangsa Bangsa tidak mempu mengatur jalannya interaksi antar negara anggota yang pada akhirnya kembali berujung pada konflik antar negara yang didasari atas keinginan untuk menjadi lebih hebat dan lebih berkuasa dari negara lain. Konflik inilah yang kemudian mengantarkan negara-negara kembali berseteru dalam skala konflik yang global, yang kemudian dikenal sebagai Perang Dunia II.

Terjadinya Perang Dunia II setelah dibentuknya organisasi yang disimbolkan sebagai manifestasi adanya kedasaran negara-negara akan pentingnya perdamaian, menunjukkan bahwa Liga Bangsa-Bangsa ternyata tidak cukup menjawab tujuan negara-negara yang tergabung sebagai anggota dalam mewujudkan perdamaian internasional. Hal ini terjadi karena masih lemahnya LBB secara struktural dan peranan negara tertentu yang masih cukup besar serta dominan dalam interaksi internasional. LBB yang tujuan awalnya merupakan organisasi perkumpulan negara-negara di dunia yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian, pada prakteknya ternyata masih banyak negara yang

belum bisa mengendalikan kepentingan nasionalnya sehingga masih

menimbulkan konflik antar sesama anggota.

Perang Dunia II pun berakhir seiring dengan konferensi di San Fransisco pada tahun 1945. Konferensi ini kemudian menghasilkan Perjanjian San Fransisco pada tahun 1945 yang intinya memutuskan untuk didirikannya Perserikatan

24

Bangsa-Bangsa (PBB).19 PBB pada dasarnya merupakan sebuah organisasi yang

bertujuan sama dengan LBB. Namun belajar dari kekurangan LBB,secara struktur

organisasi, PBB bersifat lebih mengikat dan lebih memiliki peranan dalam dunia internasional sebagai sebuah lembaga yang mengatur interaksi Negara-negara di dunia.

PBB sebagai organisasi internasional dianggap berhasil dalam mengatur interaksi negara-negara di dunia serta menciptakan perdamaian yang selama ini diinginkan setiap negara anggotanya. PBB menjadi model organisasi internasional yang menciptakan peranan penting dalam mengatur hubungan antar negara atau aktor internasional lainnya. Seiring dengan struktur organisasi yang lebih jelas dan bersifat lebih mengikat terhadap negara-negara anggotanya, PBB dianggap telah memberikan kontribusi yang besar pada dunia internasional sehingga PBB dijadikan model bagi pembentukan organisasi international lainnya. Organisasi internasional pada perkembangannya tidak lagi hanya di isi oleh aktor negara akan tetapi mulai diisi oleh aktor non-negara seperti perusahaan internasional (MNC) dan bahkan individu.

Dalam Ilmu Hubungan Internasional, Ada beberapa definisi yang menjelaskan tentang organisasi internasional, diantaranya menurut Teuku May Rudy dalam buku “Administrasi dan Organisasi Internasional”, bahwa:

19 T. May Rudy. 1998. Administrasi dan Organisasi Internasional. Bandung. Refika Aditama. Hal. 16

25 Organisasi Internasional adalah pola kajian kerjasama yang melintasi batas – batas negara dengan didasari struktur organisasi yang jelas dan lengkap

serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung serta

melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna mengusahakan tercapainya tujuan – tujuan yang diperlukan serta disepakati bersama, baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun

antar sesama kelompok non pemerintah pada negara yang berbeda.20

Pendapat T. May Rudi di atas mendeskripsikan bentuk organisasi internasional yang dikenal saat ini, dimana tidak hanya meliputi organisasi dalam tataran kerajasama antar-pemerintah atau state, namun juga kelompok non-pemerintah atau non-state.

Daniel S. Cheever dan H. Field Haviland Jr., sebagaimana yang dikutip oleh T. May Rudi dalam buku Administrasi dan Organisasi Internasional, mengatakan bahwa:

Organisasi internasional adalah pengaturan bentuk kerjasama internasional yang melembaga antara negara-negara, umumnya berlandaskan suatu persetujuan dasar untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang memberikan manfaat timbal balik yang dilaksanakan melalui pertemuan-pertemuan

serta kegiatan-kegiatan staf secara berkala.21

Pendapat Daniel di atas sebagai perbandingan dari pendapat T. May Rudi, lebih sempit menggambarkan organisasi internasional hanya pada tataran states. Ada pula pendapat dari Pareira Mandalangi yang mendefinisikan organisasi internasional lebih kepada sifatnya sebagai sebuah instusi, yaitu:

20 T. May Rudy. 1998. Administrasi dan Organisasi Internasional. Bandung. Refika Aditama. Hal.3

26 Organisasi internasional memiliki arti ganda, yakni dalam arti luas dan sempit. Organisasi dalam arti luas maksudnya adalah organisasi yang melintasi batas negara (internasional) baik bersifat publik maupun privat, sedangkan organisasi dalam arti sempit adalah organisasi internasional

yang hanya bersifat publik.22

T. Sugeng Istanto berpendapat bahwa:

Organisasi intemasional dalam artian luas adalah bentuk kerja sama antar pihak yang bersifat internasional dan untuk tujuan yang bersifat internasional pula. Pihak-pihak yang bersifat internasional dapat berupa perorangan, Lembaga-lembaga bukan negara, ataupun pemerintah negara. Adapun yang menyangkut tujuan internasional adalah tujuan.bersama

yang menyangkut kepentingan berbagai Negara.23

Secara sederhana dari beberapa bantuan definisi di atas, dapat dirumuskan bahwa organisasi internasional merupakan suatu organisasi yang baik gerak maupun pelakunya melintasi batas sebuah negara, berangkat dari kesepakatan masing-masing anggota untuk bekerja sama, memiliki regulasi yang mengikat anggota, dan untuk mewujudkan tujuan internasional tanpa meleburkan tujuan nasional dari masing-masing anggota dari organisasi internasional yang bersangkutan.

Mengacu pada konsep organisasi internasional di atas, maka konsep ini akan membantu untuk mengetahui apakah pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015 memberikan efek terhadap komitmen dari semua negara anggota ASEAN untuk siap bekerjasama dan diikat oleh regulasi ASEAN sebagai organisasi internasional yang menaungi negara-negara di Asia tenggara, untuk mewujudkan tujuan bersama yaitu kemajuan ICT di level ASEAN maupun di

22 Pareira mandalangi. 1986, Segi-Segi Hukum Organisasi Internasional. Hal.1

27 masing-masing negara anggota. Maka dengan itu konsep ini akan membantu dalam menganalisis peluang dan tantangan pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015.

Organisasi internasional memiliki jenis dan pengelompokan yang beragam tergantung dengan pendekatan apa kita melihatnya. Clive Archer, seorang ahli Ilmu Hubungan Internasional, mengkelompokkan organisasi internasional dalam tiga kelompok besar, yaitu berdasarkan keanggotaan, tujuan aktivitas organisasi,

dan struktur organisasi.24 Pengelompokkan Organisasi Internasional menurut

Clive Archer berdasarkan keanggotaan yaitu organisasi internasional yang dewasa ini tidak hanya didominasi oleh aktor negara saja. Namun seiring dengan kompleksitas global, dimana kebutuhan untuk bekerja satu sama lain menjadi semakin besar, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung, mendorong aktor-aktor non-negara termasuk individu, untuk menjalin konektivitas antara satu sama lain termasuk dalam sebuah organisasi internasional.

Organisasi Internasional yang berdasarkan keanggotaan terbagi lagi menjadi dua, yaitu Intergovernmental Organizations (IGOs) dan Transnational Organizations (TNOs). IGOs adalah kelompok organisasi internasional yang keanggotaannya berasal dari negara-negara yang berdaulat, atau bisa juga beranggotakan negara bagian dari sebuah federasi tapi dengan syarat mendapat

24

Kompasiana. 2012. Definisi Organisasi Internasional. Diakses melalui

www.kompasiana/buku/definisi-organisasi-internsional-menurut-clive-archer. diakses tanggal 9 Agustus 2012

28 izin dari negara induknya. Serdangkan, TNOs kemudian terbagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil, diantaranya:

a. Genuine NGOs (Genuine Non-Governmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang anggotanya hanya terdiri dari aktor non-negara.

b. Hybrid NGOs (Hybrid Non-Governmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang anggotanya terdiri dari aktor negara dan non-negara.

c. TGOs (Transgovernmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang anggotanya terdiri dari pemerintah-pemerintah tetapi tidak diatur oleh kebijakan-kebijakan politik luar negeri negara asal dari masing- masing pemerintah tersebut.

d. BINGOs (Bussiness International Non-Governmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang lebih dikenal dengan istilah MNCs (Multi National Corporations), merupakan badan usaha raksasa yang cabangnya tersebar di berbagai negara-negara di dunia, sehingga biasanya regulasi perusahaannya lebih kuat dari regulasi dasar negara tempatnya berusaha, atau bahkan mempengaruhi perumusan regulasi di sebuah negara.

Selain berdasarkan keanggotaan, ada lagi kelompok lain yang dibuat oleh Clive Archer, yaitu kelompok organisasi internasional yang kedua yaitu berdasarkan tujuan aktivitas organisasi. Secara logika organisasi, jika beberapa aktor atau pihak memutuskan untuk bekerja sama dan bergabung dalam suatu organisasi internasional, maka aktor tersebut memiliki tujuan yang ingin

29 diwujudkan bersama. Namun dalam proses mencapai tujuan aktivitas organisasi, ada beberapa kemungkinan yang akan muncul, diantaranya:

a. Kemungkinan untuk terbentuknya hubungan kerja sama antar aktor,

b. Kemungkinan untuk meminimalisir konflik dari hubungan kerja sama

yang terbentuk,

c. Kemungkinan untuk terjadinya hubungan konfrontasi, sebagai akibat dari ketidaksamaan pendapat dari masing-masing anggota, dan hal ini sering menjadi akhir dari sebuah organisasi internasional

Kelompok organisasi internasional yang ketiga menurut Clive Archer, yakni berdasarkan struktur organisasi internasional. Pengelompokkan berdasarkan struktur ini, lebih ditekankan pada kekuatan (power) setiap anggota dan bagaimana pengaruh kekuatan tersebut terhadap struktur organisasi internasional. Kekuatan dalam sebuah organisasi internasional seringkali dikaitkan dengan proses pengambilan kebijakan yaitu sistem hak suara. Ada berbagai sistem hak suara yang sering diapakai dalam sebuah organisasi internasional, misalnya konsep one man one vote (majority voting), hak veto, unanimity voting, dan ada pula konsep „yang berkontribusi besar, maka besar pula hak suaranya‟' (weighted

30 T.May Rudy mengelompokkan organisasi internasional dalam bukunya

“Administrasi dan Organisasi Internasional”.25

May Rudy mengumpulkan berbagai macam pengelompokan organisasi internasional berdasarkan,

a. KegiatanAdministrasi,

1) Organisasi Internasional Antar-Pemerintah (Inter-Governmental

Organization) atau sering disingkat IGO. Contohnya: PBB, ASEAN, SAARC, OAU (Organization of African Unity), NAM (Non-Aligned Movement), dan lain-lain.

2) Organisasi Internasional Non-Pemerintah (Non-Governmental

Organization) atau sering disingkat NGO. Contohnya: IBF (International Badminton Federation), ICC (International Chambers Commerce), Dewan Masjid Sedunia, Dewan Gereja Sedunia, Perhimpunan Donor Darah Sedunia, dan lain-lain.

b. Ruang Lingkup (Wilayah) Kegiatan dan Keanggotaan, yaitu:

1) Organisasi Internasional Global. Contohnya: PBB, OKI, GNB.

2) Organisasi Internasional Regional. Contohnya: ASEAN, OAU, GCC (Gulf Cooperation Council),EU (European Union), SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation).

c. Bidang Kegiatan (Operasional) Organisasi, yaitu:

25 May Rudy, Op. Cit., hal. 5

31 1) Bidang Ekonomi. Contohnya. KADIN Internasional (International

Chamber of Commerce), IMF, Bank Dunia.

2) Bidang Lingkungan Hidup. Contohnya: TINEP (United Nation Enviromental Program).

3) Bidang Kesehatan. Contohnya: WHO, IDF (International Dental Federation).

4) Bidang Pertambangan. Contohnya: ITO (International Timber Organization).

5) Bidang Komoditi (Pertanian dan Industri). Contohnya: IWTO (International Wool Textile Organization), ICO (International Coffee Organization).

6) Bidang Bea-Cukai dan perdagangan Internasional. Contohnya: GATT (General Agreement on Tarifs and Trades), WTO, dan lain- lain.

d. Tujuan dan Luas-Bidang Kegiatan Organisasi

1) Organisasi Internasional Umun. Contohnya: PBB.

2) Organisasi Intemasional Khusus. Contohnya: OPEC (Organization for Petroleum Exporting Cotuntrriur), UNESCO (United Nation Educational, Science, and Cultural Organization), UNICEF (United Nation International Children's Emergency Funds), ITU (International

32

Telecommunication Union), UPU (Universal Postal Union), dan lain-lain.

e. Ruang Lingkup (Wilayah) dan Bidang Kegiatan

1) Organisasi Internasional; Global-Umum. Contohnya: PBB.

2) Organisasi Intemasional; Global-Khusus. Contohnya: OPEC, ICAO (International Civil Aviation Organization), IMCO (International Mistral Class Organization), ITU, UPU, UNESCO, WHO, FAO, dan juga Palang Merah Intemasional (ICRC).

3) Organisasi Internasional, Regional-Umum. Contohnya: ASEAN, EU, OAS (Organization of American States), OAU, SAARC, GCC, Liga Arab.

4) Organisasi lnternasional, Regional-Khusus. Contohnya: AIPO

(ASEAN Inter-Parliamentary Organization), APEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries), PATTA (Pacific Area Tourism and Travel Association)

f. Taraf Kewenangan (Kekuasaan)

1) Organisasi Supra-Nasional, yaitu kewenangan organisasi internasional berada diatas kerwenangan sebuah negara. Bentuk organisasi seperti ini belum pernah terealisasikan dalam sejarah dunia modern. Hal ini dikarenakan sistem dunia sekarang menganut sistem 'banyak negara'

33 (multi-state system) dimana masing-masing negara berdaulat dan sederajat satu sama lain.

2) Organisasi Kerja Sama (Co-Operative Organization). Kedudukan dan kewenangan dalam bentruk organisasi ini sederajat. Ada banyak sekali contohnya, seperti PBB, ASEAN, OKI, OPEC, dan lain-lain.

g. Bentuk dan Pola Kerja Sama

1) Kerja Sama Pertahanan Keamanan (Collective Security). Contohnya: NATO (North Atlantic Treaty Organization).

2) Kerja Sama Fungsional. Bentuk kerja sama ini hampir sama dengan pengelompokan yang berdasar kerja sama. Karena setiap anggota akan memutuskan untuk bekerja sama jika mereka mendapat keuntungan satu sama lain. Contohnya sangat banyak, misalnya PBB, ASEAN, OKI, OPEC, SAARC, OAU, GCC, dan lain-lain.

h. Fungsi Organisasi

1) Organisasi Politikal (Political Organization). Contohnya: PBB, ASEAN, SAARC, NATO, ANZUS (Australia, New Zealand, and United States), OAU, Liga Arab, dan lain-lain.

2) Organisasi Administratif (Administrative Organization). Conlohnya: UPU,lTU, OPEC, ICAO, ICRC.

34 3) Organisasi Peradilan (Judicial Organization). Contohnya: Mahkamah Internasional (lnternational Court of Justice) dan ICC (International Criminal Court).

Fungsi dan Peranan Organisasi Internasional dalam Hubungan Internasional memiliki beberapa versi menurut para ahli. Le Roy Bannet dalam bukunya "International Organization" mengemukakan bahwa:

As adjuncts of the state system, international organizations can and do play a number of significant roles. Their chief function is to provide the mean of cooperation among states in areas in which cooperation provides advantages for all or a large number of nations. In many cases they furnish not only a place where decisions to cooperate can be reached but also the administrative machinery for translating the decisions into action. Another function is to provide multiple channels of communication among governments so that areas of accommodation may be explored and easy access will be available when problem arise.26

Dari penjelasan Lee Roy Bennet di atas, fungsi organisasi internasional dapat disimpulkan:

a. Sebagai sarana kerja sama antar-negara dalam berbagai bidang yang mana kerja sama tersebut dapat memberi manfaat atau keuntungan bagi sejumlah negara. Sebagai tempat atau wadah untuk menghasilkan keputusan

bersama. Sebagai sarana atau mekanisme administratif dalam

mengimplementasikan keputusan bersama menjadi tindakan nyata.

b. Menyediakan berbagai saluran komunikasi antar-pemerintah sehingga penyelarasan lebih mudah tercapai.

26 Lee Roy Bennet. 1995. International Organization: Principles and Issues. Prentice-Hall Inc: New Jersey

35 Pakar lainnya, Clive Archer, secara tegas membedakan antara peran dan

fungsi organisasi internasional.27 Peran organisasi internasional menurut Clive

Archer adalah :

a. Instrumen (alat/sarana), yaitu untuk mencapai intensitas konflik, dan

menyelaraskan tindakan.

b. Arena (forum/wadah), yaitu untuk berhimpun, berkonsultasi dan

memprakarsai pembuatan keputusan secara bersama-sama atau perumusan

perjanjian-perjanjian internasional (convention, treaty, protocol,

agreement).

c. Pelaku (aktor), bahwa organisasi internasional juga bisa merupakan aktor

yang autonomous dan bertindak dalam kapasitasnya sendiri sebagai organisasi internasional dan bukan lagi sekedar pelaksanaan kepentingan anggota-anggotanya.

Selanjutnya, fungsi internasional28 menurut Archer, yaitu sebagai berikut:

a. Artikulasi dan agregasi kepentingan nasional negara-negara anggota,

b. Menghasilkan norma-norma (rejim),

c. Rekrutmen,

d. Sosialisasi,

27 Clive Archer. 1983. International Organization. George Allen&Unwin: London, hal. 136-137

28

36 e. Pembuatan keputusan (role making),

f. Penerapan keputusan (role application),

g. Penilaian/penyelarasan keputusan (rule adjunction),

h. Tempat memperoleh informasi,

i. Operasionalisasi, misalnya pelayanan teknis, penyediaan bantuan, dan lain-lain.