• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Resolusi Konflik

Dalam dokumen POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Halaman 33-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Konsep Resolusi Konflik

Konflik merupakan faktor yang turut membangun perkembangan masyarakat. Konflik akan bisa membangun solidaritas kelompok dan hubungan antar warga negara maupun antar kelompok. Konflik tidak bisa dihindari oleh setiap aktor, namun yang paling penting adalah cara untuk menyelesaikan konflik agar ancaman (threat) bisa menjadi kesempatan (oppurtunity ) dan bahaya

timbulnya konflik terbuka secara meluas dilokalisasi dengan membangun suatu model pencegahan dan penanggulangan dini. (Sihbudi dan Nurhasim, ed., 2001).

Suatu kebiasaan khas dalam konflik adalah memberikan prioritas yang tinggi guna mempertahankan kepentingan pihaknya sendiri. Jika kepentingan si A bertentangan dengan kepentingan B, A cenderung mengabaikan kepentingan B, atau secara aktif menghancurkannya, pihak–pihak yang berkonflik biasanya cenderung melihat kepentingan mereka sebagai kepentingan yang bertentangan secara diametrikal, oleh karena itu berkesimpulannya bahwa hasil yang diperoleh adalah hasil kalah-menang. Oleh karena itu perlu diadakan suatu peraturan pertentangan yang mensyaratkan tiga faktor. Pertama, kedua kelompok yang terlibat dalam pertentangan harus mengakui pentingnya dan nyatanya situasi pertentangan dan dalam hal ini, mengakui keadilan fundamental dari maksud pihak lawan. (Miall dkk, 2002)

Pengakuan adilnya maksud lawan tentu saja bukan berarti bahwa subtansi kepentingan lawan harus diakui sebagai adil dari awal. Pengakuan di sini berarti bahwa kedua kelompok yang bertentangan menerima untuk apa pertentangan itu, yakni menerimanya sebagai suatu hasil pertumbuhan yang tak terelakkan. Syarat kedua, adalah organisasi kelompok-kelompok ke pentingan. Selama kekuatan-kekuatan yang bertentangan itu terpencar-pencar dalam kesatuan yang kecil yang masing-masing erat ikatannya, peraturan pertentangan tidak akan efektif. Dan ketiga, adanya keharusan bagi kelompok-kelompok yang berlawanan dalam pertentangan sosial menyetujui aturan formal tertentu yang menyediakan kerangka hubungan bagi mereka.

Berdasarkan buku panduan pengelolaan konflik, Menurut The British Council dalam (Baiquni, dan Rijanta, 2015), bahwa penyelesaian suatu konflik yang terjadi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

1. Negosiasi, suatu proses untuk memungkinkan pihak-pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan pilihan dan mencapai penyelesaian melalui interaksi tatap muka.

2. Mediasi, suatu proses interaksi yang dibantu oleh pihak ketiga sehingga pihak-pihak yang berkonflik menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sendiri.

3. Arbitrasi atau perwalian dalam sengketa, tindakan oleh pihak ketiga yang diberi wewenang untuk memutuskan dan menjalankan suatu penyelesaian.

Secara tradisional, tugas penyelesaian konflik adalah membantu pihak-pihak yang merasakan situasi yang mereka alami sebagai sebuah situasi zero–sum (keuntungan diri sendiri adalah kerugian pihak lain). Agar melihat konflik sebagai keadaan non-zero-sum (di mana kedua belah pihak dapat memperoleh hasil atau keduanya sama-sama tidak memperoleh hasil) dan kemudian membantu pihak-pihak yang berkonflik berpindah ke arah hasil yang positif, oleh karena itu untuk menciptakan hasil non-zero-sum diwajibkan akan adanya pihak yang berfungsi menyelesaikan konflik. (Miall dkk, 2002).

Pola penyelesaian konflik mengacu pada pendekatan manajemen konflik politik dan teori strukturalis semi otonom. Kedua paradigma ini melihat keterlibatan negara (pemerintah) sebagai penengah munculnya konflik yang terjadi dalam masyarakat. Negara memainkan peran dalam mengelola konflik

yang terjadi di masyarakat sehingga dapat ditransformasikan menjadi consensus, (Purnamsari, 2012).

Sementara teori strukturalis semi otonom mempersepsikan negara sebagai lembaga politik yang lebih otonom. Negara dianggap lebih berperan sebagai penengah konflik antara berbagai kelompok kepentingan sehingga pembangunan (kebijakan) dipandang sebagai upaya untuk menengahi konflik yang terjadi, (Purnamsari, 2012).

Negara dalam kedua terminologi tersebut dipersonifikasikan baik secara individual maupun lembaga. Nordlinger melihat negara secara subyektif atau dalam perangkat analisis individual, yaitu individu yang menduduki posisi yang memiliki kewenangan membuat dan melaksanakan keputusan yang mengikat semua pihak yang ada di wilayah tertentu. Termasuk dalam kategori ini adalah presiden, menteri, dan para kepala daerah. Sementara Kresner dan Scotpol melihat negara dalam arti lembaga dan individu, seperti Mahkamah Agung (MA), militer, kehakiman, dan lain- lain, (Purnamsari, 2012).

Sementara Miall membedakan pihak ketiga atas dua, yaitu: arbitrasi dan mediasi. Arbitrasi merupakan penyelesaian konflik oleh pihak ketiga yang memiliki sumber kekuasaan, mampu melakukan tekanan, intervensi terhadap pihak-pihak yang berkonflik agar dapat selesai. Sedangkan mediasi adalah penyelesaian konflik oleh pihak ketiga yang tidak mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menindas pihak-pihak yang berkonflik agar konflik selesai.

Kelompok ketiga ini dikenal dengan istilah penengah atau mediasi, dan arbitrasi atau penghakiman. (Miall, 2002)

Resolusi konflik merupakan bagian dari perdamaian, yaitu sebagai suatu proses yang berupaya untuk membongkar sumber-sumber kekuasaan yang ada dalam struktur sosial. Upaya resolusi konflik harus ditempatkan dalam ruang gerak siklus konflik agar mendapatkan gambaran komprehensif tentang eskalasi konflik dan mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi dinamika-dinamika konflik yang spesifik, (Kum, 2015).

Negara harus menjadi agen resolusi konflik itu, dalam jangka panjang negara harus menciptakan pembangunan dengan tujuan pada perdamaian yang abadi. Lambang Trijono dalam pembangunan sebagai perdamaian menyatakan bahwa negara bisa membuat kebijakan pembangunan yang mencegah konflik dan mendorong perdamaian dengan strategi dan prioritas, sebagai berikut.

1. Strategi dan prioritas untuk mencegah skenario terburuk berupa upaya mencegah konflik (conflict prevention).

2. Strategi dan prioritas untuk mentransformaasikan skenario moderat dengan upaya transformasi konflik (conflict transformation).

3. Strategi dan prioritas untuk mendorong terwujudnya skenario terbaik dengan upaya membangun perdamaian (peace building), (Susilo, 2012).

Ada beberapa model resolusi konflik, Galvin dalam (Mulyati, 2012). Model ini dikembangkan dengan pemikiran bahwa terdapat aspek yang menjadi fokus perhatian saat individu mengusahakan tujuannya, yaitu: perhatian pada diri sendiri dan orang lain. Perhatian pada diri sendiri diukur dengan sejauh mana tingkat asertivitas atau agresivitas seseorang. Perhatian terhadap orang lain ditekankan pada tingginya kerjasama.

Model resolusi konflik ini mengidentifikasi 5 gaya resolusi konflik, yaitu:

competitive style, collaborative style, compromise style, avoidence style dan accomodating style, (Mulyati, 2012).

1. competitive style, pada gaya kompetitif, individu cenderung agresif dan sulit untuk bekerja sama, menggunakan kekuasaan melakukan konfrontasi secara langsung dan berusaha untuk menang tanpa ada keinginan untuk menyesuaikan tujuan dan keinginannya pada orang lain.

2. collaborative style, individu dengan gaya kolaboratif memiliki sifat asertif dan perhatian terhadap orang lain mungkin ia akan kelelahan karena gaya ini membutuhkan enegi yang sangat besar untuk menyelesaikan konflik.

Persoalan lainnya, biasanya gaya ini dilakukan oleh seorang yang powerfull dan kadangkala menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi orang lain.

3. compromise style, gaya kompromi lebih terbuka dibandingkan dengan avoidance, tetapi masalah yang terungkap tidak sebanyak gaya kolabiratif, yang membedakan antara compromise style dengan collaborative style adalah waktu. Gaya yang digunakan compromise style untuk menyelesaikan konflik lebih sedikit, namun solusi yang dihasilkan bisa jadi bukan solusi yang terbaik untuk semua pihak.

4. avoidence style, ciri utama gaya ini adalah perilaku yang tidak asertif dan fasif. Biasanya mereka mengalihkan perhatian dari konflik atau justru menghindari konflik. Kelebihan dari gaya ini adalah memberikan waktu untuk berfikir pada masing-masing pihak, apakah ada kemauan dari diri atau pihak lain untuk menangani situasi dengan cara yang lebih baik.

5. accomodating style, ditandai dengan perilaku non asertif namun kooperatif.

Individu cenderung mengesampingkan keinginan pribadi dan berusaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan orang lain.

Konflik air, sebenarnya bukan sesuatu yang baru di negri ini. Namun demikian, sejak kapan fenomena tersebut terjadi tidaklah terlalu jelas. Sumber pustaka yang membicarakan mengenai hal ini juga sulit didapatkan.

Kalau kita memperhatikan beberapa kasus mengenai konflik air, sepertinya hanya terjadi dilingkungan petani sehingga tidak serumit yang terjadi sekarang ini.

Konflik air mungkin hanya terjadi di kalangan para petani dan itupun sebatas kepentingan irigasi atau untuk kepentingan penggarapan lahan pertanian. Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perkembangan peradaban manusia, pemanfaatan sumber air juga berkembang, bukan saja untuk kepentingan irigasi.

Indonesia sejak tahun 1990-an, sejak industri-industri yang berteknologi mesin mulai didirikan, air juga digunakan untuk keperluan industri sebagai pendingin mesin. Sejak itu, eskalasi konflik air mulai meluas, bukan saja antar petani, melainkan melibatkan banyak pihak. Konflik air juga sering terjadi dalam lingkup pengadaan air bersih yang melibatkan: (1) masyarakat sekitar, yaitu petani atau masyarakat pemakai air, (2) pemerintah selaku pemegang otoritas eksploitasi sumber air, (3) pelaku bisnis, dan (4) organisasi-organisasi social yang mempunyai kepedulian terhadap kelestarian sumber air. Konfliknya Jika digambarkan dalam bentuk diagram sederhana, maka jaringan konflik air tersebut adalah sebagai berikut:

Sumber: Mardimin, 2015

Dalam konteks pengelolaan sumber air, yang dimaksud masyarakat adalah para petani sawah yang menggunakan air dari sumber air yang menjadi arena konflik untuk irigasi. Pemerintah adalah lembaga publik yang bukan hanya member pelayanan kepada masyarakat secara non-profit, tetapi juga mempunyai otoritas atas eksploitasi sumber air. Lembaga ini juga berwenang untuk melakukan intervensi kepada masyarakat pemakai air maupun terhadap kinerja para pelaku bisnis melalui peraturan perundang-undangan. Para Pelaku Bisnis/Semi Bisnis adalah pelaku kegiatan ekonomi yang terkait dengan eksploitasi sumber air dan beriorentasi profit. Sementara itu, yang dimaksud dengan Institusi Sosial, sebagaimana dikemukakan daiatas adalah organisasi-organisasi sosial yang mempunyai kepedulian terhadap kelestarian sumber air maupun kepedulian terhadap petani pemakai air.

Resolusi konflik yang sering diterapkkan khususnya konflik yang melibatkan beberapa stakeholder ialah resolusi konflik yang dikemukaan oleh The British Counsil dalam (Baiquni dan Rijanta, (2015) yakni penyelesaian konflik

Masyarakat Pemakai Air

Pemerintah/BWSS Pelaku Bisnis/Semi Bisnis

(PDAM) Institusi Sosial

Diagram Jaringan konflik Air

dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu (1) Negosiasi, (2) Mediasi dan (3) Arbitrasi atau perwalian. Pendekatan tersebut dianggap sebagai pendekatan alternatif yang sekarang banyak dianut untuk penyelesaian konflik.

Pendekatan resolusi konflik alternatif seperti ini semakin banyak digunakan diberbagai belahan dunia. Keunggulan pendekatan ini dibandingkan pendekatan-pendekatan politik , administrasi maupun judisial adalah sifat-sifatnya yang persuasif, fleksibel, lebih efektif, dapat mencapai komitmen yang lebih baik untuk penyelesaian jangka panjang dan sangat potensial memfasilitasi terbentuknya saling kesepahaman antar pihak yang berkonflik. Metode penyelesaian konflik dapat dilihat pada tabel berikut:

Perbadingan antara Negosiasi, Mediasi dan Arbitrasi

Negosiasi Mediasi Arbitrasi menyatakan, dalam setiap masyarakat, terdapat dua kelas penduduk. Satu kelas yang menguasai dan satu kelas yang dikuasai. Kelas pertama yang jumlahnya selalu lebih kecil, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan, dan

menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu, sedangkan kelas kedua, yang jumlahnya jauh lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas pertama.

Menurut Sastroatmodjo dalam (Fahriza, 2005). Pandangan ini menekankan, bahwa dalam masyarakat terdapat dua kelas yang menonjol, yaitu kelas yang memerintah dan yang diperintah. Kelas pertama yang menguasai fungsi politik, yakni monopoli kekuasaan sekaligus menguasai hasil-hasilnya. Kelas kedua sebaliknya, mereka yang jumlahnya besar tetapi tidak mempunyai kekuasaan atau fungsi politik, mereka diarahkan dan dikendalikan oleh kelas pertama dengan cara-cara tertentu (Fahriza, 2005).

Marx mendefinisikan kelas sebagai kelompok individu atau kelompok ke satuan sosial yang pada dasarnya bukan ditentukan semata-mata oleh tempatnya dalam proses produksi. Tetapi dari kedudukan ekonomi dapat juga ditentukan kelas sosialnya. Marx menyatakan bahwa penyebab penguasaan kelas tertentu terhadap kelas lainnya dikarenakan oleh hubungan produksi yang tidak seimbang (surplus value) dalam suatu hubungan produksi yang kapitalistik. Ekonomi politik merupakan penekanan khusus yang dibicarakan Marx dalam pertentangan ini.

Marx menganggap perbincangan mengenai modal dan kerja, dan antara modal dan tanah perlu dijelaskan secara rinci, yang belum pernah disinggung dalam setiap perbincangan mengenai ekonomi dan politik, (Kum, 2015)

Bagan Kerangka Fikir

F. Fokus Penelitian

1. Politik penguasaan air bersih, bentuk dan sumber penguasaan di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

2. Resolusi konflik yang diupayakan dalam konflik pengadaan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH

Bentuk/sumber penguasaan 1. Kekuatan dari kebijakan Negara 2. Kekuatan dari aparat keamanan 3. Kekuatan informasi dan modal

Resolusi konflik 1. Negosiasi 2. Mediasi

3. Arbitrasi atau perwalian Pemerintah

(Kelompok Penguasa)

Masyrakat

(kelompok di Kuasai)

KOMPROMI POLITIK

PEMANFAATAN AIR BERSIH

G. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Kekuatan dari kebijakan negara, adanya kebijakan-kebijakan yang memberikan privilege pada sekelompok aktor untuk melakukan monopoli.

2. Kekuatan dari aparat keamanan, terjadinya penyelewengan fungsifungsi institusi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan dalam masyarakat.

3. Kekuatan informasi dan modal, penguasaan dan penutupan akses terhadap informasi dan modal menjadi salah satu sumber kekuatan pelaku-pelaku eksploitasi.

4. Negosiasi, suatu proses untuk memungkinkan pihak-pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan pilihan dan mencapai penyelesaian melalui interaksi tatap muka.

5. Mediasi, suatu proses interaksi yang dibantu oleh pihak ketiga sehingga pihak-pihak yang berkonflik menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sendiri.

6. Arbitrasi atau perwalian dalam sengketa, tindakan oleh pihak ketiga yang diberi wewenang untuk memutuskan dan menjalankan suatu penyelesaian.

7. Kompromi politik pemanfaatan air bersih, ialah kesepakatan antara masyarakat petani pengguna air dengan pihak pemerintah. Kesepatan tersebut merupakan kesepakatan yang diperoleh pada saat upaya yang dilakukan terkait konflik perebutan air bersih. Melalui beberapa upaya resolusi konflik maka pemanfaatan air tersebut diberikan kepada petani untuk irigasi persawahan.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu penelitian yang di gunakan dalam proses pengumpulan data secara keseluruhan kurang lebih dua bulan setelah seminar proposal.

2. Adapun yang menjadi lokasi penelitian adalah di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman. Dipilihnya lokasi ini karena beberapa pertimbangan, diantaranya: 1) lokasi ini merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan persawahan yang luas dengan mayoritas petani yang memiliki modal ekonomi menengah kebawah, 2) lokasi penelitian berada tidak jauh dari ibu kota Kabupaten Polman sebagai pusat pemerintahan, 3) merupakan pusat persawahan dengan tingkat ekonomi masyrakat, menengah ke bawah sehingga sangat sesuai bagi terjadinya konflik vertical, 4) karena keinginan penulis untuk mengetahui bagaimana proses penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. yakni penelitian kualitatif yang menitik beratkan pada proses pengumpulan data supaya dapat menggambarkan keadaan obyek penelitian apa adanya berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya.

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif, yaitu merupakan penelitian yang menggambarkan meringkas berbagai

35

kondisi dan situasi yang timbul di lapangan tentang politik penguasaan air bersih pada pengadaan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

C. Sumber Data

Sumber data yang dapat digunakan ada dua yaitu:

1. Data primer, adalah data yang penelitiannya dapat secara lansung dari sumbernya yaitu para informan yang menjadi objek penelitian. Peneliti melakukan wawancara untuk mendapatkan hasil atau data yang valid dari informan secara langsung agar dalam menggambarkan hasil penelitian lebih mudah, dan pengamatan di masyarakat. Mengenai politik penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar.

2. Data sekunder, yaitu data pendukung untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi atau pustaka dengan informan guna mengetahui proses penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

D. Informan Penelitian

Pemilihan informan yang tepat, akan menjamin validitas data yang didapat dari wawancara. Sebaliknya, pemilihan informan yang salah akan mengakibatkan data yang diperoleh akan samar dan tidak valid. Penelitian ini mengambil beberapa informan tertentu sebagai subyek penelitian yang dianggap mampu mewakili stakeholder yang terlibat dalam konflik pengadaan PDAM di Kecamatan Tpango Kabupaten Polman tersebut.

Adapun yang akan dijadikan informan penelitian ini diantaranya : Tabel informan penelitian

No Informan Jumlah

1. Kepala Daerah Kabupaten Polman 1 orang

2. Dinas PU Kabupaten Polman 1 orang

3. PDAM Kabupaten Polman 1 orang

4. Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1 orang

5. Masyarakat 5 orang

6. Aliansi Peduli Petani Tapango (APPT) 1 Orang

Jumlah : 10 orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Metode Wawancara :

Peneliti melakukan wawancara langsung terhadap informan yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Wawncara antara peneliti dengan informan secara langsung kemudian mengajukan beberapa pertanyaan yang menjadi inti masalah penelitian kepada informan selanjutnya para informan ini memberika jawaban menurut informan masing-masing. Proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara wawancara dengan informan, dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, hasil Tanya jawab ini dicatat untuk memudahkan penulis dalam tabulasi data.

2. Metode Pengamatan (Observasi)

Observasi dimaksud untuk mengamati data empiris dilapangan serta melakukan pencatatan. Langsung mendatangi lokasi untuk melihat bgaimna

politik dalam penguasaan air bersih di Kecamatan tapango Kabupaten Polman.

Konflik akibat perebutan air di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman merupakan salah satu konflik air diantara sekian banyak konflik yang ada ditanah air dengan kasus yang sama, diantara seperti konflik kasus pengelolaan dan pemanfaatan sumber air senjaya di perbatasan wilayah Kabupaten Semarang dengan Kota Salatiga, (Mardimin, 2015), dan konflik pengelolaan lingkungan dan sumberdaya dalam era otonomi dan transisi masyrakat, (Baiquni dan Rijanta, 2015)

Konflik air yang ada di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman adalah konflik akibat dari perebutan air bersih antara pemerintah dengan masyarakat. Pemanfaatan air yang selama ini diganakan oleh masyarakat dalam irigasi persawahan merupakan suatu harapan masyarakat untuk kelangsungan pekerjaan masyarakat sebagai petani sawah. Ketersediaan air baku yang diambil dari salah satu sungai untuk irigasi persawahan cukup terbatas, dilihat dari kondisi sungai dan air yang cukup kecil. Hal ini membuat masyarakat sedikit merasa cemas dengan keadaan yang ada.

Pemanfaatan air yang cukup mencemaskan tidaklah menjadi masalah bagi masyarakat, kendatipun hal demikian adalah bukan kehendak manusia melainkan kehendak alam itu sendiri.

Kehadiran pihak pemerintah untuk mengalih fungsikan air yang digunakan masyarakat Kecamatan Tapango Kabupaten Polman dalam irigasi persawahan mendapatkan protes dari masayarakat, air dengan ketersedian terbatas untuk irigasi persawahan ditambah dengan pengalihan fungsi air

menjadi penentangan bagi masyarakat dengan penjelasan bahwa hal demikian sangat mengancam untuk aktifitas persawahan masyarakat. Meskipun dalam pengelolaan air ada pembagian antara irigasi persawahan dengan pengairan PDAM namun hal tersebut ditolak oleh masyarakat. Dilihat dari kondisi sungai yang kecil dan ketersediaan air yang sedikit memberikan sebuah pandangan bahwa air tidak cukup untuk dibagi dalam pengairan PDAM dan irigasi persawahan.

3. Metode Dokumentasi

Metode ini akan dilakukan dengan cara mendatangi kantor pusat Pemda Kabupaten Polman, wawancara dinas PU, wawancara staf PDAM, wawancara tokoh masyrakat yang ikut dalam konflik pengadaan PDAM di Kecmatan Tapango Kabupaten Polman.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisisi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif yaitu menguraikan serta menginterpretasikan data yang diperoleh dari lapangan dari observasi lapangan dan dari para informan. Ada tiga unsur utama dalam proses analisis data penelitian kualitatif.

1. Reduksi data adalah bagian dari proses analisis yang mempertegas, memperpendek dan membuang hal-hal yang tidak penting sehingga kesimpulan penelitian dapat dilaksanakan. Jadi laporan lapangan sebagian bahan disingkat dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan, juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh apabila diperlukan.

2. Sajian data adalah susunan informasi yang memungkinkan dapat ditariknya suatu kesimpulan penelitian. Penyajian data dalam bentuk gambaran, skema, dan tabel mungkin akan berguna mendapatkan gambaran yang jelas serta memudahkan dalam penyusunan kesimpulan penelitian. Pada dasarnya, sajian data dirancang untuk menggambarkan suatu informasi secara sistematis dan mudah dilihat serta dipahami dalam bentuk keseluruhan sajiannya.

3. Kesimpulan merupakan hasil akhir dari reduksi data dan penyajian data.

Kesimpulan penelitian perlu diverifikasi agar mantap dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

G. Pengabsahan Data

Keabsahan data merupakan konsep penting yaitu diperbaharui dari validitas dan kredibilitas. Penelitian merupakan kerja ilmiah, untuk melakukan ini maka mutlak dituntut secara objektivitas, untuk memenuhi kriteria ini dalam penelitian maka validitas dan kredibilitas harus dipenuhi (Iskandar, 2009). Adapun teknik penjamin keabsahan data yang digunakan oleh peneliti, yaitu triangulasi.

Lexi J Moleong (2008) berpendapat bahwa “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatnkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk pengecakan atau sebagai bahan pembanding terhadap data itu”.

Menurut William Wiersma dalam sugiyono (2012), membedakan tiga macam triangulasi yaitu :

1. Triangulasi dengan Sumber

Triangulasi dengan sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber suatu informasi. Data yang telah dianalisis oleh peneliti tersebut

menghasilkan suatu kesimpulan, selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dari sumber data tersebut.

2. Trianggulasi dengan Teknik

Triangulasi dengan teknik yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber data yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan dokumentasi.

3. Trianggulasi dengan Waktu

Triangulasi dengan waktu yaitu untuk menguji kredibilitas data yang

Triangulasi dengan waktu yaitu untuk menguji kredibilitas data yang

Dalam dokumen POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Halaman 33-0)

Dokumen terkait