BAB III METODE PENELITIAN
G. Pengabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep penting yaitu diperbaharui dari validitas dan kredibilitas. Penelitian merupakan kerja ilmiah, untuk melakukan ini maka mutlak dituntut secara objektivitas, untuk memenuhi kriteria ini dalam penelitian maka validitas dan kredibilitas harus dipenuhi (Iskandar, 2009). Adapun teknik penjamin keabsahan data yang digunakan oleh peneliti, yaitu triangulasi.
Lexi J Moleong (2008) berpendapat bahwa “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatnkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk pengecakan atau sebagai bahan pembanding terhadap data itu”.
Menurut William Wiersma dalam sugiyono (2012), membedakan tiga macam triangulasi yaitu :
1. Triangulasi dengan Sumber
Triangulasi dengan sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber suatu informasi. Data yang telah dianalisis oleh peneliti tersebut
menghasilkan suatu kesimpulan, selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dari sumber data tersebut.
2. Trianggulasi dengan Teknik
Triangulasi dengan teknik yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber data yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan dokumentasi.
3. Trianggulasi dengan Waktu
Triangulasi dengan waktu yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, dan pada sore hari saat narasumber sudah merasa jenuh dan dipenuhi oleh banyak masalah. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang hingga ditemukan kepastia datanya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis
Kecamatan Tapango secara geografis terletak di 119º 14’ 51.49” lintang selatan dan 3º 19’ 25,13” bujur timur. Luas wilayah Kecamatan Tapango tercatat 125,81 Km² yang meliputi 1 kelurahan dan 13 desa serta 3 lingkungan dan 46 dusun.
Desa Riso merupakan desa dengan wilayah terluas di Kecamatan Tapango yaitu 33,46 persen dari luas Kecamatan Tapango, dengan ketinggian dari permukaan air laut adalah 20 m, sedangkan desa wilayahnya terkecil adalah Desa Banato Rejo yaitu hanya 2,62 persen dari luas kecmatan, dengan ketinggian dari permukaan air laut adalah 10 m.
Berdasarkan pengamatan kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Polewali Mandar diketahui bahwa curah hujan di wilayah Kecamatan Tapango 1.337 mm pertahun dengan frekuensi 104 hari hujan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember mencpai 371 mm dengan frekuensi 16 hari hujan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Februari yang hanya mencapai 6 mm dengan hari hujan hanya 2 hari.
Sektor pertanian merupakan salah satu tumpuan perekonomian di Kecamatan Tapango pada umumnya. Sektor pertanian tersebut terdiri antara lain sub sektor pertanian tanaman pangan, sub sektor perkebunan, dan sub sektor peternakan.
42
Sub sektor untuk tanaman pangan masih didominasi oleh tanaman padi dimana pada tahun 2014 luas panennya mencapai 2.455 ha, dengan produksi mencapai 16.203 ton gabah. Sedangkan untuk tanaman ubi kayu produksinya mencapai 39,6 ton dengan luas panen 3 ha. Kemudian untuk tanaman kedelai luas panennya mencapai 25 ha dengan produksi mencapai 45 ton.
Selain tanaman pangan, tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa dalam, kelapa hibrida juga banayak diusahakan oleh banyak masyarakat di Kecamatan Tapango. Produksi tanaman kakao selama tahun 2014 mencapai 3.543,91 ton sedangkan produksi kelapa dalam mencapai 2.730,18 ton.
2. Pemerintahan, Penduduk, Sosial, Pertanian, Industri Dan Energi a. Pemerintahan
Peran pemerintah dalam pembangunan sangatlah menentukan majunya suatu wilayah. Untuk itu diperlukan perangkat-perangkaat pemerintah yang mampu menampung aspirasi dan mengayomi mayarakat.
Secara administrasi, wilayah Kecamatan Tapango terdiri atas satu kelurahan dan 13 desa. Kecamatan Tapango dikepalai oleh seorang camat yang didalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh seorang sekertaris camat dan beberapa kasi.
Untuk membantu kelancaran program pemerintah dan guna untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, maka setiap desa di Kecamatan Tapango membentuk perangkat organisasi kemasyarakatan dibawah tingkat desa berupa dusun dan RT. Pada tahun 2014 banyaknya dusun dan RT bervariasi antar desa sesuai dengan jumlah penduduk dan kondisi wilayah di masing-masing desa.
Pada tingkat dusun/lingkungan Kecamatan Tapango terdiri atas tiga lingkungan dan 46 dusun. Jumlah dusun/lingkungan antar desa/kelurahan
jumlahnya bervariasi. Desa Palatta memiliki dusun/lingkungan terbanyak, yaitu 6 dusun/lingkungan. Desa Kalimbua, Desa Batu, Desa Tapango dan Desa Dakka memiliki 4 dusun/lingkungan. Desa/kelurahan selain dari kelima desa/kelurahan diatas masing-masing memiliki 3 dusun/lingkungan.
b. Penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Tapango pada tahun 2014 berdasarkan hasil proyeksi penduduk berjumlah 22.904 jiwa. Sedangkan jumlah rumah tangga mencapai 5.471 rumah tangga. Sehingga rata-rata anggota rumah tangga mencapai 4,2 jiwa. Jika dilihat distribusi penduduk pada tingkat desa/kelurahan, Desa Tapango memiliki jumlah penduduk paling banyak. Penduduk Desa Tapango berjumlah 2.835 jiwa atau sekitar 12,37 persen dari penduduk Kecamatan Tapango. Sebaliknya, Desa Kurrak memiliki jumlah penduduk paling sedikit hanya mencapa 495 jiwa.
Berdasarkan jenis kelamin diketahui pula bahwa secara total Kecamatan Tapango jenis kelamin penduduk di Kecamatan Tapango mencapai 100,77, yang berarti bahwa jumlah laki-laki dan perempuan hampir sama banyak atau setiap 100 orang penduduk perempuan juga terdapat 100 orang penduduk laki-laki.
c. Sosial
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan sumber daya manusia. Untuk menyedikan pendidikan yang baik bagi masyarakat harus tersedia sarana pendidikan yang memadai.
Seluruh desa/kelurahan di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman memiliki sekolah dasar/sederajat yang jumlahnya masing-masing 1 sampai dengan 2 yunit. Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kecamatan tapango sampai
tahun 2017 meliputi 17 Kelompok Bermain, 1 Taman Kanak-Kanak, 14 Sekolah Dasar Negeri, 4 Sekolah Menengah Pertama Negeri, 1 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri, 3 Madrasah Ibtidaiyah, 2 Madrasah Tsanawiah. Jumlah sekolah, kelas, murid, dan guru mulai dari jenjang pendidikan Kelompok Bermain/Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Kejuruan pada masing-masing desa/kelurahan.
Pelayanan kesehatan mudah dijangkau karena sangat dibutuhkan masyarakat, untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tentunya dibutuhkan sarana kesehatan dan tenaga kesehatan. Sampai tahun 2014, sarana kesehatan di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman meliputi 1 puskesmas, 4 puskesmas pembantu, 9 poskesdes, dan 33 posyandu. Sedangkan tenaga kesehatan dan tenaga medis tersedia meliputi 1 dokter umum, 8 perawat, 15 bidan, 30 dukun bayi terlatih, dan 14 dukun bayi tidak terlatih.
d. Pertanian
Sektor pertanian merupakan salah satu tumpuan perekonomian di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar pada umumnya. Sektor pertanian tersebut terdiri antara lain sub sektor pertanian tanaman, pangan sub sektor perkebunan, dan sub sektor peternakan.
Untuk sub sektor tanaman pangan masih didominasi oleh tanaman padi dimana pada tahun 2014 luas panennya mencapai 2.455 ha, dengan produksi mencapai 16.203 ton gabah. Sedangkan untuk tanaman ubi kayu produksinya mencapai 39.6 ton dengan luas panen 3 ha. Kemudian untuk tanaman kedelai luas panennya mencapai 25 ha dengan produksi mencapai 45 ton.
Selain tanaman pangan, tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa dalam, kelapa hibrida juga banyak diusahakan oleh banyak masyarakat di Kecamatan Tapango. Produksi tanaman kakao selama tahun 2014 mencapai 3.543,91 ton sedangkan produksi kelapa dalam mencapai 2.730,18 ton.
Ternak besar terdiri dari sapi potong, kerbau dan kuda. Pada tahun 2014 populaasi ternak besar yang terdapat di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman meliputi 1.591 ekor sapi potong, 21 ekor kerbau, dan 87 ekor kuda. Sedangkan populasi ternak kecil meliputi 2.537 ekor kambing, dan 827 ekor babi.
e. Industri Dan Energi
Perusahaan yang bergerak disektor industri dibedakan atas, industri besar, industri sedang, industri kecil dan industri rumah tangga. Pengelompokan tersebut berdasarkan atas banyaknya pekerja diperusahaan yang bersangkutan. Dari data yang dikumpulkan oleh koordinator statistik kecamatan diketahui bahwa industri yang ada di Kecamatan Tapango adalah industri yang tergolong industri kecil dan kerajinan rumah tangga, yang termasuk dalam kategori industri kecila adalah industri penggilingan gabah, sedangkan industri yang masuk kategori industri kerajinan rumah tangga dalah pembuatan batu bata dan lain-lain. Berdasarkan klasifikasi tersebut di Kecamatan Tapango terdapat 1 industri kecil dan 427 industri rumah tangga.
Listrik merupakan sumber penerangan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagian besar kebutuhan listrik di Kecamatan Tapango dipasok dari PLN dan sebagian kecil berasal dari Non PLN, dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Kecamatan Tapango, pemerintah dalam hal ini PLN mendapat pasokan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air Bakaru di Kabupaten Pinrang.
B. Bentuk Penguasaan Air Bersih Yang Dilakukan Oleh Kekuasaan Terhadap Masyarakat
Kekuasaan merupakan konsep yang paling dasar yang mendasari relasi-relasi sosial. Kekuasaan terjadi dalam pola-pola relasi-relasi antar manusia atau negara, relasi kekuasaan yang tidak seimbang, yang eksploitatif dan represif. Konsep yang sering menjadi persoalan bukanlah segala macam kekuasaan, bukan pula kekuasaan politik dengan otoritasnya, tetapi kekuasaan yang dibangun dalam suatu relasi yang tidak seimbang.
Bentuk penguasaan air bersih yang terletak di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman pada bagian ini peneliti kembali mempertegas bahwa yang menjadi langkah untuk mengetahui sumber-sumber kekuasaan pemerintah dalam penguasaan air besih adalah melalui pendekatan Widyaningrum dalam (Fahriza 2005) yang mengemukakan sumber-sumber kekuatan yang sering digunakan oleh kelas penguasa yaitu: (1) kekuatan dari kebijakan negara, adanya kebijakan- kebijakan yang memberikan privilege pada sekelompok aktor untuk melakukan monopoli, (2) kekuatan dari aparat keamanan, terjadinya penyelewengan fungsifungsi institusi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan dalam masyarakat, (3) kekuatan informasi dan modal, penguasaan dan penutupan akses terhadap informasi dan modal menjadi salah satu sumber kekuatan pelaku-pelaku eksploitasi, dan (4) kekuatan atas sumber daya sosial dan ekonomi, sebagaimana penjelasan berikut:
1. Kekuatan dari kebijakan Negara
Penguasaan air bersih yang terletak di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman yang menimbulkan konflik memang ada unsur kekuatan dari kebijakan
negara, yaitu adanya kebijakan-kebijakan yang memberikan hak istimewa (privilege) pada sekelompok aktor untuk melakukan monopoli.
Menurut salah seorang informan Sr selaku kasek irigasi dinas PU Kabupaten Polman mengatakan bahwa:
“…Itu kalau begitu adek sudah melakukan kajian karna itu dibwahai oleh balai, dan itu bukan wilayah kerja kami di dinas PU. Semua kegiatan di proyek itu BWSS semua yang kelolah dan itu pastinya ada izin dari pemerintah karna sudah ada juga wilayah kerjanya termasuk pengelolaan air baku itu, memang lingkupnya balai dan itu bukan skala kabupaten tapi skala nasional” (Hasil wawancara Sr, 27 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara diatas tentunya dalam hal penguasaan air bersih yang memicu terjadinya konflik dapat kita melihat bahwa memang ada kekuatan dari kebijakan negara yang menjadi sumber atau bentuk penguasaan pada perebutan air bersih antara masyarakat dan pihak pengelola proyek air bersih. Pemberian privilege oleh pemerintah daerah kepada salah satu kelompok atau instansi dapat menjadi sebuah penanda bahwa dalam penguasaan air di kecamatan tapango Kabupaten Polman terdapat unsur kekuatan dari kebijakan negara.
Hasil wawancara sebagaimana yang dikemukakan oleh informan Hs selaku kabid humas PDAM Kabupaten Polman
“…Jadi ini dek sebenarnya semua Balai Wilyah Sungai Sulawesi yang tau dengan pemerintah, kami dari PDAM tidak tau menahu tentang proyek dan tidak ada sangkut pautnya sedikitpun mengenai pembangunan proyek tersebut. Kami hanya sebagai pengelolah air dan itu setelah proyek sudah selesai dan sudah beroperasional. Kami dari PDAM biasanya hanya ditanya daerah mana yang berpotensi dan perlu untuk dikelolah airnya. (Hasil wawancara Hs, 27 September 2016)
Dari hasil wawancara diatas, PDAM memberikan keterangan bahwa dalam pembangunan proyek tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan pihak PDAM Kabupaten polman bahkan didalam rencana dan pembangunan proyek penambahan debit air PDAM, pihaknya sendiri hanya akan menjadi pengelolah air dalam peroperasionalan saja itupun setelah proyek pembangunan sudah selesai.
Pembangunan proyek PDAM untuk penamabahan debit air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman merupakan wewenang dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi dengan menggunakan APBN, sebagaimana yang diungkapkan informan PA selaku Pejabat Pembuat Komitmen Penyedia Air Baku Sulbar, Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III
“…Pengantar Air Baku ke Instalasi Pengelolaan Air (IPA) menggunakan APBN untuk dinikmati masyarakat Polman. Proyek tersebut hanya menampung air saat musim hujan, dan pembangunanya pun masyarakat Polman untuk menyuplai air bersih di Kecamatan Wonomulyo, kalau jadi pun nanti akan diserahkan ke PDAM untuk dikelola” (Hasil wawancara PA, 27 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara dengan pejabat pembuat komitmen di BWSS diatas, bahwa didalam rencana dan pembangunan proyek air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman merupakan sebuah privilege kepada BWSS dalam prencanaan dan pembangunan proyek penambahan debit air bersih.
Balai Wilayah Sungai Sulawesi III dalam pembangunan proyek merupakan program kerja yang mendukung nawacita sebagaimana yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Meskipun demikian, pihak BWSS menyerahkan urusan konflik tersebut dapat diselesaikan setelah rapat paripurna DPRD Kabupaten Polman dan
pada saat itu juga akan dijelaskan dengan detail oleh pihak BWSS soal proyek tersebut. Sebagaimana yang disampaikan oleh informan PA
“…Proyek ini untuk mendukung nawacita yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. “Nilai proyeknya mencapai Rp 20 miliar, dan proyek ini pun tidak akan membuat sawah masyarakat menjadi kering, sebab semua unsur telah dipenuhi termasuk kajian lingkungan hidupnya. Hasil kajian teknis debit andalan sungai Lokko 37,74 meter kubik perdetik, yang dimanfaatkan saat ini 12,80 meter kubik perdetik, sehingga masih ada surplus 24,94 meter kubik perdetik, proyek ini hanya menggunakan 0,15 meter kubik. Namun, pada saat itu persoalan kelanjutannya telah diserahkan ke rapat paripurna DPRD, di situ juga telah dijelaskan secara detail soal proyek tersebut. Proyek ini sangat baik sebab kita juga pastinya akan memasang hidran air bersih di daerah itu, dan bahkan bisa dinikmati secara gratis oleh masyarakat sekitar bila terealisasi”. (Hasil wawancara PA, 27 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara diatas, jika diamati tentu pembangunan proyek tersebut tidak akan dipicu konflik dari masyarakat, namun hasil wawancara diatas dibantah oleh masyarakat yang sejak dari beberapa tahun sudah menggunakan air tersebut. Pemakaian air yang berlangsung sudah beberapa puluh tahun membuat masyarakat mengambil pengalaman dan yakin bahwa jika air dialihkan atau dibagi untuk keperluan lain maka persawahan kami akan mati.
Sebagaimana yang disampaikan informan Tl selaku masyarakat
“…Kalau ini air dialihkan untuk PDAM maka sawah kami akan mati pak, sebab air tidak akan cukup untuk dibagi. Air yang digunakan sekarang oleh masyarakat adalah merupakan air yang sudah dibagi dengan PDAM sebab sudah ada pipa yang terpasang yang jumlahnya dua, satu pipa agak kecil dan satu pipa agak sedang. Bilamana mau lagi ditambah pipa apa lagi pipa yang ukurannya lebih besar lagi maka tentunya air tidak akan cukup untuk pengairan disawah kami” (Hasil wawancara Tl, 26 September 2016)
Bentuk penguasaan atau sumber penguasaan berdasarkan kekuatan dari kebijakan negara tidak hanya terlihat ketika proses pembangunan proyek telah berlangsung dan tidak pula terlihat pada saat sudah terjadinya konflik yang merupakan perlawanan dari masyarakat. Berdasarkan hasil dari wawancara diatas
dapat kita lihat bahwa, bahkan dari unsur pemerintah daerah tidak mengetahui kegiatan rencana pengelolaan dan pembangunan proyek tersebut.
Meskipun demikian pihak kepala daerah Kabupaten Polewali Mandar memberikan keterangan bahwa kebijakan-kebjakan yang dibuat pemerintah daerah tentunya bukan kebijkan yang akan merugikan masyarakat namun sebaliknya, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah semata-mata untuk kepentingan masyarakat meskipun pada umumnya masyarakat belum tau akan hal itu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh informan IH selaku Staf Bupati Polman
“…Jadi itu kebijakan sebenarnya kan kewenangan pak bupati dek. Tetapi harus kita ketahui juga bahwa tidak mungkin pemerintah mengeluarkan kebijakan yang akan merugikan masyarakatnya, tidak ada itu pemerintah yang mau kalau rakyatnya menderita. Hanya saja masyarakat didalam di Kecamatan Tapango itu tidak tau kalau kebijakan itu sebelumnya mengadakan kajian terdahulu sehingga memungkinkan untuk dibangun proyek air bersih”. (Hasil wawancara IH, 28 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang staf Bupati Polman mengenai konflik atas pembangunan penambahan debit air PDAM Kabupaten Polman dapat kita mengambil keterangan bahwa memang setiap kebijakan dari pemerintah adalah untuk kepentingan rakyat sebagai mana yang dikatakan oleh informan meskipun pada persoalan ini tetap ada unsur kekuatan dari kebijakan negara.
2. Kekuatan Dari Aparat Keamanan
Pada pembahasan ini yang dimaksud dengan kekuatan dari aparata keamanan yaitu terjadinya penyelewengan fungsi-fungsi institusi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan dalam masyarakat. Proses penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman yang menjadi salah satu indikatornya ialah kekuatan dari aparat keamanan.
Aparat keamanan yang seharusnya menjadi penengah dan netral dalam menyikapi pesoalan dimasyarakat khususnya dalam penanganan konflik diharapkan dapat bertindak secara profesional tanpa memihak pada salah satu kelompok. Lewat kebijakan itu yang dianggap tidak pro rakyat membuat masyarakat mengambil tindakan yang anarkis dengan pengrusakan inventaris proyek seperti pengrusakan piping di beberapa titik. Informan AH selaku masyarakat menuturkan
“…Masyarakat itu betul-betul menolak proyek pembangunan penambahan debit air PDAM itu pak, karena masyarakat menganggap kalau diambil itu air sama dengan mengambil nasi yang sudah ada dipiringnya karena disitumi sumber kehidupannya. Makanya ini perlawanan melawan pembangunan harga matimi itu, sehingga karena ditaumi kalau masyarakat sedikit pemikirannya terpaksa dia merusak beberapa perlengkapan proyek seperti pembakaran pipa bahkan pernah juga menutup akses jalan ketempat proyek”. (Hasil wawancara AH, 26 September 2016)
Pada hasil wawancara diatas, dapat kita ketahui bahwa tindakan aksi demonstrasi dari masyarakat merupakan sebuah tindakan yang dijamin oleh undang-undang yaitu untuk menyampaikan aspirasi meskipun ada tindakan-tindakan yang menyalahi aturan namun itu diakibatkan pelepasan amarah dari sebagian masyarakat. Menurut masyarakat Kecamatan Tapango Kabupaten Polman bahwa aksi tersebut merupakan sebuah harga mati untuk mempertahankan kelangsungan hidup meereka.
Akibat dari protes masyarakat seperti yang diungkapkan informan AH diatas yang memaksa pihak kepolisian mengamankan beberapa orang masyarakat dan dibawa ke Polres Polman untuk diproses lebih lanjut seiring upaya pembebasan dilakukan oleh beberapa rekan dari Aliansi Petani Peduli Tapango (APPT). Sering kali kita menemukan beberapa tindakan yang menyalahi aturan
yang dilakukan oleh institusi-institusi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan kepada masyarakat. Penjelasan ini sedikit akan mengarah kepada peran kepolisian setempat dalam menangani aksi unjuk rasa masyarakat.
Sebagai bentuk protes masyarakat mengenai pembangunan sarana air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar yang diwarnai dengan aksi unjuk rasa, pihak kepolisian hadir dan mengamankan masyarakat yang berunjuk rasa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh informan Tl selaku masyarakat Desa Riso Kecamatan Tapango Kabupaten Polman
“…Pada saat masyarakat mendemo protes pembanguan proyek pak, itu didatangkan kepolisian dan mengahalangi masyarakat yang berdemo, bahkan ada natangkap, ada sekitar berapa orang itu nabawa kepolres padahal seharunya polisi yang datang cukup menjadi penengah tapi kalau begitu terkesan memihak dan melawan masyarakat”. (Hasil wawancara Tl, 26 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara diatas, diketahui bahwa didalam upaya penguasaan air bersih masih terdapat unsur kekuatan institusi-institusi dalam penyelewengan fungsi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan dalam masyarakat. Namun pada wawancara diatas ada sedikit perbedaan yang dikemukakan oleh informan AH selaku masyarakat Desa Riso Kecamatan Tapango Kabupaten Polman
“…Kalau bentuk tekanan dari pemerintah menurut saya tidak ada pak, pemerintah disini berjalan apa adanya, tidak berpihak kepada masyarakat atau berpihak kepada pengelola proyek. Bahkankan, pak bupati bilang kalau begini mari kita cari solusi yang baik dan saya tidak pernah bilang salah PDAM dan saya tidak pernah bilang benar dan saya terima apa keputusan dari pemerintah karena itulah mungkin yang terbaik”. (Hasil wawancara AH, 26 September 2016)
Menyimak hasil wawancara diatas, bahwa penekanan yang dilakukan oleh aparat keamanan merupakan tindakan sendiri yang bukan merupakan intruksi dari pemerintah daerah maupun dari pihak pengelolah proyek. Melihat pandangan dari kedua informan di atas tentunya mengandung perbedaan bahwa dalam upaya penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar banyak hal-hal yang terjadi sehingga ada perbedaan presepsi dalam menilai beberapa kejadian. Meskipun pada informan kedua memberikan keterangan bahwa tidak ada tekanan, namun tekanan yang dimaksudkan ialah tekanan yang disampaikan langsung oleh pemerintah daerah atau pihak penyelenggara pembangunan proyek.
3. Kekuatan Informasi dan Modal
Kekuatan informasi dan modal ialah penguasaan dan penutupan akses informasi dan modal yang diakukan oleh pemerintah terhadap masyarakat yang kemudian menjadi salah satu sumber kekuatan pelaku-pelaku eksploitasi pengelolaan sumber daya alam. Penutupan informasi pada penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman memang tidak dilakukan secara sepenuhnya, namun pada sosialisasi yang dilakukan sebelum pembangunan proyek tidak dilaksanakan secara maksimal sehiangga rencana pembangunan proyek tidak diketahui oleh masyarakat.
Protes yang dilakukan masyarakat semata-mata menuntut pemberhentian
Protes yang dilakukan masyarakat semata-mata menuntut pemberhentian