• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran…

Dalam dokumen POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Halaman 80-115)

BAB IV PENUTUP

B. Saran…

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan mengenai konflik penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman, maka adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:

1. Hendaknya pemerintah, dalam hal penguasaan membuat suatu kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak (khsusunya masyarakat kecil), melakukan uji kelayakan kebijakan. Uji kelayakan dapat berlangsung lama dan singkat, tergantung sejauh mana kesungguhan pemerintah dalam membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat. Langsung mengambil kebijakan tanpa terlebih dahulu mendengarkan aspirasi dari bawah dapat mengakibatkan konflik, dan konflik yang tidak terselesaikan akan menjadi bom waktu yang dapat meledak setiap saat.

2. Resolusi konflik seharusnya ditegakkan dengan baik ketika konflik terjadi agar interaksi sosial di masyarakat berjalan dengan lancar dan kondusif.

Beberapa resolusi konflik hendaknya menjadi tolak ukur dalam peneyelesaian konflik agar dalam pemyelesaiannya tidak memakan waktu yang terlalu lama karena dapat mengakibatkan banyak kerugian diantara dua belah pihak yang berkonflik. Sehingga dalam penanganan konflik bisa teratasi dengan mendahulukan metode resolusi konflik yang dianggap relefan dalam penyelesaian konflik yang berlangsung, dan tentunya mnyesuaikan dengan kondisi serta situasi yang ada diruang lingkup wilayah konflik.

DAFTAR PUSTAKA

Baiquni, M. R, Rijanta. 2015, Konflik Pengelolaan Lingkungan dan Sumberdaya Dalam Era Otonomi dan Trnsisi Masyarakat, Denpasar : Bumi Lestari Vol.7 No 1.

Barlow, Maude and Clarke Toni (Eds). 2002, Blue Gold:The Fight To Stop The Corporate, New Delhi

Dariyadi, Wahib. 2014, Teori Dominasi Kekuasaan,

http://tulisanterkini.com/artikel/artikel-ilmiah/6925-teori-dominasi-kekuasaan.html, diakses tanggal, 2 Februari 2017

Endaryanta , Erwin. 2007, Politik air di Indonesia, Yogyakarta : Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan.

Fahriza. 2005, Dominasi Kekuasaan Dan Resistensi Masyarakat, Jogjakarta : UGM.

Harry, Priyono. 2004, Mencari Badan Publik, Jogjakarta: Fisipol UGM

Mulyati, Husna. 2012. Gaya Penyelesaian Konflik, http://husna-m-- fpsi08.web.unair.ac.id/artikel_detail-48407-psikologi%20kepribadian-Gaya%20Penyelesaian%20Konflik.html, diakses tanggal, 2 Februari 2017 Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta : Gaung

Persada Press

Ismail, Indriaty. Basir, Mohd Zuhaili Kamal. 2012, Karl Marx dan Konsep Perjuangan Kelas Sosial: International Journal of Islamic Thought Vol. 1:

(June )

Kum, Krinus. 2015. Konflik Pertambangan di Tanah Papua. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Mardimin, J. 2015, Egoisme Sektoral dan Kedaerahan Sebagai Tantangan Program Pembangunan Berkelanjutan (Kasus Pengelolaan Dan Pemanfaatan Sumber Air Senjaya Diperbatasan Wilayah Kabupaten Semarang Dengan Kota Salatiga: Kritis Vol.XXIII No. 2, 2014: 131-148 Maria.S.W. Sumardjono, Nurhasan Ismail, dkk (Eds). 2009, Pengaturan Sumber

Daya Alam di Indonesia, antara yang tersurat dan tersirat (Kajian Kritis Undang-undang Terkait Penataan Ruang dan Sumber Daya Alam), Yogyakarta: Fakultas Hukum UGM

Marx, Karl. Engels, Frederick. 2010. Manifesto Partai Komunis, https://www.marxists.org/archive/marx/works/download/pdf/Manifesto.pd f, diakses tanggal, 2 Februari 2017

72

Miall, Hugh, dkk. (Eds). 2002, Resolusi Damai Konflik Kontemporer, Menyelesaikan, Mencegah dan Mengubah Konflik Bersumber Politik, Sosial, Agama, dan Ras, Jakarta : Rajawali Pers.

Moleong, Lexy. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Nasikun, J. 2003, Sistem Sosial Indonesia, Jakarta : Rajawali Pers.

Patria, Nezar. Arief, Moch Andi. 2003, Antonio Gramsci, Negara dan Hegemoni, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Priyono, Herry. 2004, Mencari Badan Publik: Refleksi Bagi Rehabilitasi Arti Pembangunan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol 8 No, 2, Fisipol UGM

Purnamsari, Chici Dwi. 2012. Konflik tanah di Jenggawah, http://blog.ub.ac.id/chici122/2012/06/09/konflik-tanah-di-jenggawah/, diakses tanggal, 3 Februari 2016

Sargeson, Sali. 2002, Introduction Dalam Sally (ed), Collective Goods, Collective Futures In Asia, London and New York: Routledge

Shiva, Vandana. 2002, Water Wars, Privatisasi, Provit dan Polusi.Insist dan Walhi

Sihbudi, Riza. Nurhasim, Moch. (Eds). 2001, Kerusuhan Sosial di Indonesia, Studi Kasus Kupang, Mataram dan Sambas, Jakarta : Grasindo.

Subagyono, Kasdi. 2004, Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Argroklimat (Puslitbangtanak), Bogor, hlm. 210.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta Suhelmi, Ahmad. 2001, Pemikiran Politik Barat, Jakarta : Gramedia.

Susetiawan. 2000, Konflik Sosial, Kajian Sosiologis Hubungan Buruh Perusahaan dan Negara di Indonesia, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Susilo, Rahmad K. Dwi. 2012. Sosiologi Lingkungan dan Sumber Daya Alam Perspektif Teori dan Isu-Isu Mutakhir, Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

A. Petani

1. Bagaimana pendapat petani tentang sosialisasi pembangunan PDAM?

2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang dilakukan oleh pemerintah?

3. Bagaimana dengan kondisi lahan persawahan petani sejak rencana pembanguanan PDAM?

4. Sejak kapan aksi perlawanan ini berlangsung?

5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?

6. Apa yang dilakukan untuk meminta pemberhentian pembanguanan PDAM?

7. Mengapa kebanyakan petani tidak sepakat dengan pembanguanan PDAM ini?

8. Apa yang akan dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?

9. apa yang menjadi alternatif pekerjaan setelah pembanguanan PDAM?

10. Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?

11. Bagaimana peran LSM terhadap persoalan ini?

12. Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?

13. Berapa pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?

1. Bagaimana proses pembuatan kebijakan tersebut?

2. Bagaimana tanggapan petani terhadap kebijakan tersebut?

3. Mengapa Pemerintah tetap merencanakan pembanguanan PDAM?

4. Apa yang dilakukan Pemerintah setelah petani melakukan perlawanan?

5. Bagaimana dengan resolusi atau mufakat yang telah dilakukan?

C. Aliansi Petani Peduli Tapango (APPT)

1. Bagaimana proses pengawalan APPT yang dilakukan?

2. Bagaimana dengan resolusi atau musyawarah untuk menyelesaikan persoalan?

3. Bagaimana sikap APPT terhadap aksi perlawanan yang dilakukan oleh petani?

4. Bagaimana tanggapan APPT terhadap tuntutan yang dilakukan oleh petani?

5. Apakah ada Ormas yang membantu APPT dalam pengawalan kebijakan tersebut?

6. Langkah- langkah apa yang ditempuh untuk mengawal kebiajakn ini?

D. PDAM dan BWSS

1. Bagaimana potensi air sehingga PDAM dibangun pada wilayah tersebut?

2. Bagaimana pendapatan PDAM selama ini, apakah ada peningkatan atau tidak?

3. Apakah ada keterlibatan swasta dalam pengelolaan PDAM ini?

4. Apakah tidak ada unsur eksploitasi terkait pengadaan PDAM ini?

pembangunan PDAM?

6. Bagaimana sikap PDAM dan BWSS dalam menaggapi perlawanan petani?

Nama : Tl

Pendapat kami tentang sosialisasinya itu tidak sesuai, dan tidak tepat sasaran. Alasannya

Bentuk tekanannya itu barangkali kayak hadirnya aparat keamanan dilokasi konflik kemarin. Maksudnya kami ini masyarakat merasa tertekan sehingga ada sedikit keraguan untuk demonstrasi.

Kondisi persawahan kemarin itu memang sempat tidak turun sawah, apalagi kemarin itu bertepatan dengan musim kemarau, itumi juga salah satu alasan petani kenapa ditolak itu kencang-kencangnya konflik ditahun 2015 kemarin yang pas juga ada penangkapan masyarakat disitu.

5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?

Bentuk perlawanan yang dilakukan masyarakat itu berbeda-beda ada yang berdemostrasi dilokasi proyek, ada berdemosntrasi di kantor bupati, digedung DPRD bahkan ada juga

untuk meminta pemberhentian

pembanguanan PDAM?

kantor bupati, mendatangi gedung DPRD dan berdialog dengan anggota dewan. Terahir yang kami lakukan pada saat Asri Anas selaku DPD asal Sulbar memanggil kami dan kami sampaikan semua keinginan kami terkait pemberhentian proyek itu. aktifitas turun sawah, karena air yang digunakan selama ini tidak ada lagi.

8 Apa yang akan

dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?

Kalau dilanjutkan lagi pembangunanya maka kami akan kembali berdemo, dan bahkan konflik lagi. Istilahnya kalau kami tidak turun sawah sama halnya piring nasi kami diambil.

Jadi persoalan perebutan air itu harga mati bagi kami masyarakat petani. kembali dibangun aktifitas persawahan tidak ada dan tidak tau mau diapakan itu lahan sawah.

10 Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?

Pada saat kami medatangi DPRD kami dijanji mau dibantu. Tapai pada saat diparipurnakan ternyata tidak memihak kepada masyarakat.

11 Bagaimana peran APPT dan mahasiswa terhadap persoalan ini?

Alhamdulillah APPT kemarin itu dan mahasiswa selalu mendampingi kasus ini.

12 Berapa luas lahan yang Kalau yang dirugikan nanti itu kalau jadi itu

13 Berapana pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?

Pendapatan petani itu pertahunnya mencapai 3 Ton per Ha dengan panen 3 kali pertahun.

Nama : AH

Pendapat kami tentang sosialisasinya itu tidak sesuai, dan tidak tepat sasaran. Sekalipun ada sosialisasi tapi itu diadakan pada lokasi dibagian hulu air sementara pemakai air itu di bagian hilir air.

2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang

dilakukan oleh

pemerintah?

Bentuk tekanannya kalau dari pemerintah secara langsung itu tidak ada, mungkin tekanan hanya dari aparat keamanan. Saya katakan seperti ini karena termasuk saya disampaikan untuk tidak ikut dalam aksi itu.

5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?

Banyak bentuk perlawanannya itu masyarakat termasuk berdemosntrasi di kantor bupati, digedung DPRD bahkan ada juga merusak inventaris proyek dan memboikot jalan menuju lokasi proyek. berdialog dengan anggota dewan. Terahir yang kami lakukan pada saat Asri Anas selaku DPD asal Sulbar memanggil kami dan kami sampaikan semua keinginan kami terkait pemberhentian proyek itu.

Intinya itu kenapa petani menolak, karena kalau air digunakan untuk pengairan PDAM otomatis tidak ada aktifitas turun sawah, karena air yang digunakan selama ini tidak ada lagi.

8 Apa yang akan

dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?

Kalau dilanjutkan lagi pembangunanya maka kami akan kembali berdemo. kembali dibangun aktifitas persawahan tidak ada.

10 Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?

Tidak ada perannya pak dalam permasalahan konflik kemarin, tidak ada.

11 Bagaimana peran APPT Alhamdulillah APPT kemarin itu dan

12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?

Kalau yang dirugikan nanti itu kalau jadi itu proyek sekitar kurang lebih 1000 Ha

13 Berapa pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?

Pendapatan petani itu pertahunnya mencapai 3 Ton per Ha dengan panen 3 kali pertahun.

Nama : Nn

Pendapat kami tentang sosialisasinya itu tidak sesuai, dan tidak tepat itu saja pak.

2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang

dilakukan oleh

pemerintah?

Bentuk tekanannya itu karena ada aparat keamanan dilokasi konflik jadi semacam ada rasa takutnya masyarakat.

Kondisi persawahan kemaarin itu memang sempat tidak turun sawah, apalagi kemarin itu bertepatan dengan musim kemarau.

4. Sejak kapan aksi

perlawanan ini

berlangsung?

Saya kurang ingat mulai tahun berapa yang jelas kencang-kencangnya konflik ditahun 2015.

dilakukan? dilokasi proyek, ada berdemosntrasi di kantor dan mendatangi kantor bupati juga mendatangi gedung DPRD. menolak semua, karena itumi harapannya untuk sawah-sawahnya pak.

Alhamdulillah APPT kemarin itu selalu mendampingi kasus.

12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?

Saya kurang tau pasnya yang jelas banyak karna dua kecamatan yang pakai itu air.

sebelum pembangunan

Kurang tau saya masalah sosialisasinya, karena saya masyarakaat disini kaget setelah datangmi itu barang-barang proyek.

2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang

dilakukan oleh

pemerintah?

Saya tidak dapat memastikan karena saya cuma melihat itu polisi banyak yang didatangkan.

3. Bagaimana dengan

Apalagi pada saat itu pas musim kemarau, yang jelas sebelumnya biar kemarau tetap turun sawah.

4. Sejak kapan aksi

perlawanan ini

berlangsung?

Kurang ingat kalau yang itu pak.

5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?

Termasuk berdemo dan merusak fasilitas proyek.

6. Apa yang dilakukan

untuk meminta

Yang di lakukan itu seperti mendatangi kantor bupati, mendatangi gedung DPRD dan berdialog

7

Mengapa kebanyakan petani tidak sepakat dengan pembanguanan PDAM ini?

Karena itumi pak, kalau dialihkan ini air berarti tidak ada aktifitas persawahan.

Mungkin hanya sebagian yang berkebun, tapi kalau yang tidak ada kebunnya saya tidak tau

Alhamdulillah APPT kemarin itu selalu mendampingi.

12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?

Kalau yang dirugikan sekitar kurang lebih 1000 Ha

13 Berpana pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?

Banyak pak saya kurang tau yang jelas banyak.

Waktu : 26 september 2016 saya lihat itu banyak polisi yang datang.

3. Bagaimana dengan karena masyarakat sibuk berdemo jadi tidak fokus turun sawah.

4. Sejak kapan aksi

perlawanan ini

berlangsung?

Saya yang kuingat pada tahun 2015 kemarin yang pas juga ada penangkapan masyarakat.

5. Bagaimana bentuk

dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?

9 apa yang menjadi alternatif pekerjaan setelah pembanguanan PDAM?

Belum tau apa nanti yang dikerja kecuali ada programnya pemerintah.

10 Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?

Saya kurang tau kalau yang itu pak.

11 Bagaimana peran APPT dan mahasiswa terhadap persoalan ini?

Dia selalu mendampingi termasuk waktu demo dikantor bupati.

12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?

Kurang tau berapa pastinya yang jelas banyak pak.

13 Berpa pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?

Banyak juga pak kurang tau pastinya.

Jabatan : Staf Bupati Polman Waktu : 28 September 2016 Tempat : Kantor Bupati Polman

No Pertanyaan Jawaban

1. Bagaimana proses pembuatan kebijakan tersebut?

Masalah proses kebijakan, itu sepenuhnya wewenang BWSS, dan sudah dapat dipastikan bahwa kebijakan itu tidak lahir dengan begitu saja, pasti sudah ada kajian sebelumnya.

2. Bagaimana tanggapan petani terhadap kebijakan tersebut?

Kalau persoalan tanggapan sudah bisa dipastikan kalau mereka itu menolak, dilihat dari terjadinya sedikit gesekan yang kemarin itu, karena sebenarnya petani itu mengambil kesimpulan dari pengalaman, sehingga tidak yakin dengan hasil kajian yang dipaparkan oleh pihak pengelolah proyek

3. Mengapa Pemerintah tetap merencanakan pembanguanan PDAM?

Komitmen dari pemerintah terkait persoalan tersebut karena kita menginginkan kesejahteraan bagi semua masyarakat oleh karena itu dibutuhkan penambahan air untuk PDAM yang akan mengairi beberapa kecamatan yang belum terjangkau.

4. Apa yang dilakukan Pemerintah setelah petani melakukan perlawanan?

Setelah melihat bahwa petani betul-betul menolak pembangunan proyek itu maka tentunya sikap yang kami ambil ialah menghentikan pembangunan. Kami juga tidak mau menginginkan ada paradigma yang mengatakan kami arogan dan terkesan melawan hak-hak masyarakat kecil.

yang telah dilakukan?

karena seandainya itu tetap berlangsung, sudah dapat dipastikan akan muncul pemikiran-pemikiran seperti itu dari kalangan banyak masyarakat.

Nama : Sr

Jabatan : Kasek Irigasi Dinas PU Kabupaten Polman Waktu : 27 September 2016

Tempat : Dinas PU Kabupaten Polman

No Pertanyaan Jawaban

1. Bagaimana proses pembuatan kebijakan tersebut?

Masalah proses kebijakan, itu sepenuhnya wewenang BWSS, dan sudah dapat dipastikan bahwa kebijakan itu tidak lahir dengan begitu saja, pasti sudah ada kajian sebelumnya.

2. Bagaimana tanggapan petani terhadap kebijakan tersebut?

Kalau persoalan tanggapan sudah bisa dipastikan kalau mereka itu menolak.

3. Mengapa Pemerintah tetap merencanakan pembanguanan PDAM?

Komitmen dari pemerintah terkait persoalan tersebut karena kita menginginkan kesejahteraan bagi semua masyarakat oleh karena itu dibutuhkan penambahan air untuk PDAM yang akan mengairi beberapa kecamatan yang belum terjangkau.

4. Apa yang dilakukan Pemerintah setelah petani melakukan perlawanan?

Setelah melihat bahwa petani betul-betul menolak pembangunan proyek itu maka tentunya sikap yang di ambil ialah menghentikan pembangunan proyek.

yang telah dilakukan?

karena seandainya itu tetap berlangsung, sudah dapat dipastikan akan muncul pemikiran-pemikiran seperti itu dari kalangan banyak masyarakat.

Pengawalan yang kami lakukan diantaranya pada saat kami mendampingi mendatangi kantor bupati dengan menuntut pencabutan kebijakan, termasuk mengawal pembebasan warga yang ditahan.

2. Bagaimana dengan resolusi atau musyawarah untuk menyelesaikan persoalan?

Resolusi konflik yang kami upayakan kemarin termasuk mendampingi masyarakat melalui upaya mediasi yang sebelumnya kami juga aktif dalam upya negosiasi memandang bahwa aksi perlawanan yang dilakukan oleh warga merupakan suatu aksi sebagai bentuk protes dari kebijakan tersebut

4. Bagaimana tanggapan APPT terhadap tuntutan yang dilakukan oleh petani?

Tanggapan kami tentunya mendukung dari tuntutan petani, karena kami menganggap itu hal yang wajar.

membantu APPT dalam pengawalan kebijakan tersebut?

bersatu dalam APPT jadi tetap atas nama APPT yang mengawal, tambahannya itu ada dari organisasi kemahasiswaan.

6 Langkah- langkah apa yang ditempuh untuk mengawal kebiajakn ini?

Langkah-langkah yang ditempuh seperti upaya negosiasi dan mediasi, terahir kami mengupayakan upaya arbitrasi yang dipercayakan kepada senator asal Sulbar.

Nama : Hs dan PA

Jabatan : Kabid Humas PDAM dan PPKPAB BWSS Waktu : 27 September 2016 sehingga mampu untuk mengsuplay air kepenampungan PDAM dan persawahan masyarakat

2. Bagaimana pendapatan PDAM selama ini, apakah ada peningkatan atau tidak?

Soal pendapatan itu kita kesampingkan, yang jelas karena jumlah pelanggan semakin meningkat sehingga dibutuhkan penambahan debit air. karena sebelumnya diadakan pengkajian dan hasilnya bahwa tidak akan terjadi pencemaran

BWSS tidak merasa merugikan pihak petani dalam pembangunan PDAM?

bilamana akan merugikan masyarakat banyak, kami merencanakan pembangunan itu karena masyarakat. Kenapa kami mengatakan tidak akan merugikan masyarakat petani karena kami akan menyediakan pipa yang khusus untuk pengairan sawah.

6 Bagaimana sikap PDAM dan BWSS dalam menaggapi perlawanan petani?

Sikap kami terkait perlawanan masyarkat kami menganggap bahwa perlawanan masyarakat itu hal yang lumrah dikalangan masyarakat bawah.

1. Bentuk dan sumber kekuatan A. Kekuatan Dari Kebijakan Negara

Informan Hasil Wawancara

Kasek Irigasi Dinas PU Kabupaten Polman

Itu kalau begitu adek sudah melakukan kajian karna itu dibwahai oleh balai, dan itu bukan wilayah kerja kami di dinas PU. Semua kegiatan di proyek itu BWSS semua yang kelolah dan itu pastinya ada izin dari pemerintah karna sudah ada juga wilayah kerjanya termasuk pengelolaan air baku itu, memang lingkupnya balai dan itu bukan skala kabupaten tapi skala nasional.

Kabid Humas PDAM Kabupaten Polman

Jadi ini dek sebenarnya semua Balai Wilyah Sungai Sulawesi yang tau dengan pemerintah, kami dari PDAM tidak tau menahu tentang proyek dan tidak ada sangkut pautnya sedikitpun mengenai pembangunan proyek tersebut. Kami hanya sebagai pengelolah air dan itu setelah proyek sudah selesai dan sudah beroperasional. Kami dari PDAM biasanya hanya ditanya daerah mana yang berpotensi dan perlu untuk dikelolah airnya.

PPKPAB BWSS Pengantar Air Baku ke Instalasi Pengelolaan Air (IPA) menggunakan APBN untuk dinikmati masyarakat Polman. Proyek tersebut hanya menampung air saat musim hujan, dan pembangunanya pun masyarakat Polman untuk menyuplai air bersih di Kecamatan Wonomulyo, kalau jadi pun nanti akan diserahkan ke PDAM untuk dikelola.

Staf Bupati

Kabupaten Polman

Jadi itu kebijakan sebenarnya kan kewenangan pak bupati dek. Tetapi harus kita ketahui juga bahwa tidak mungkin pemerintah mengeluarkan kebijakan yang akan merugikan masyarakatnya, tidak ada itu pemerintah yang mau kalau rakyatnya menderita.

Hanya saja masyarakat didalam di Kecamatan Tapango itu tidak tau kalau kebijakan itu sebelumnya mengadakan kajian terdahulu sehingga memungkinkan untuk dibangun proyek air bersih.

Masyarakat

Kecamatan Tapango

Pada saat masyarakat mendemo protes pembanguan proyek pak, itu didatangkan kepolisian dan mengahalangi masyarakat yang berdemo, bahkan ada natangkap, ada sekitar berapa orang itu nabawa kepolres padahal seharunya polisi yang datang cukup menjadi penengah tapi kalau begitu terkesan memihak dan melawan masyarakat.

Masyarakat

Kecamatan Tapango

Kalau bentuk tekanan dari pemerintah menurut saya tidak ada pak, pemerintah disini berjalan apa adanya, tidak berpihak kepada masyarakat atau berpihak kepada pengelola proyek. Bahkankan pak bupati bilang kalau begini mari kita cari solusi yang baik dan saya tidak pernah bilang salah PDAM dan saya tidak pernah bilang benar dan saya terima apa keputusan dari pemerintah karena itulah mungkin yang terbaik.

C. Kekuatan Informasi dan Modal

Informan Hasil Wawancara pas ada masuk orang yang bekerja diproyek itu.

Masyarakat

Kecamatan Tapango

Jadi itu waktu ada komunikasi pertama artinya pertemuan antara masyarakat dengan pihak pengelola proyek bukan masyarakat yang termasuk akan dikena dampak diatemani sosialisasi pak, karena pertemuan itu dilaksanakan di Desa Kalimbua sementara Desa Kalimbua tidak dikena dampak, seharusnya sosialisasi diadakan di Desa Riso atau dimanapun yang jelas masyarakat yang akan dikena dampak yang dihadirkan.

air itu, mungkin adaji tapi mungkin sekitar tiga orang.

Masyarakat

Kecamatan Tapango

Saya juga kaget pak, karna waktu itu tiba-tiba langsung ada orang yang datang permisi sama saya, katanya mau pasang pipa PDAM makanya masyarakat juga kaget kenapa langsung ada pemasangan pipa air tapi tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Pada saat itumi langsung datang masyarakat dari Desa Riso dengan Tapango.

2. Resolusi Konflik masyarakat demo penolakan pembangunan proyek pak, bentuk protesnya itu bermacam-macam, ada yang memblokir jalan menuju lokasi proyek adami juga yang membakar pipa air. Maka disinimi ada konflik, dan masyarakat berfikir mungkin lebih bagus kita mengadakan negosiasi agar proyek ini diberhentikan, karena terusterang kami tetap mengadakan perlawanan kalau proyek ini akan tetap berlangsung. Maka pada saat itu kami datang dikantor bupati kemudian kami lanjut lagi ke kantor dewan.

Masyarakat

Kecamatan Tapango

Beberapa kali kami mengupayakan agar konflik ini bisa diselesaiakan pak, mulai dari kami turun dijalan sampai kami mendatangi kantor bupati, gedung DPRD kabupaten. Semua kami lakukan supaya bagaimana konflik ini bisa diselesaikan, kami sudah ketemu pemerintah daerah dan juga beberapa anggota dewan khususnya yang barasal dari dapil kami tapi nyatanya konflik ini masi saja belum bisa diselesaikan.

Masyarakat Kecamatan Tapango

Proses mediasi yang dilakukan mengenai penyelesaian

Proses mediasi yang dilakukan mengenai penyelesaian

Dalam dokumen POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Halaman 80-115)

Dokumen terkait