BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Resolusi Konflik Dalam Penguasaan Air Bersih di
3. Arbitrasi/perwalian
Berbeda dengan ke dua metode penyelesaian konflik yang sudah dipaparkan diatas yaitu negosiasi dan mediasi. Metode arbitrasi/perwalian adalah sebuah metode penyelesaian konflik yang ada bantuan dari pihak lain yang akan membuat keputusan, consensus adalah hal yang tidak selalu dikehendaki meskipun pihak yang bertikai menyajikan argument masing-masing dan hasilnyapun dapat mengikat atau tidak mengikat.
Arbitrasi/perwalian yang dimaksud dalam sebuah konflik adalah tindakan oleh pihak ketiaga dalam hal ini adalah M. Asri Anas selaku DPD Sulbar yang diberi wewenang untuk memutuskan dan menjalankan suatu penyelesaian.
Arbitrasi merupakan penyelesaian konflik oleh pihak ketiga yang memiliki sumber kekuasaan, mampu melakukan tekanan, intervensi terhadap pihak-pihak yang berkonflik agar dapat selesai. Seperti yang disampaikan informan Ar selaku masyarakat di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar yang mengutip pernyataan Asri Anas, yakni sebagai berikut:
“…pada saat itu saya dengar sendiri pak Asri bilang, saya juga akan menemui Pak Bupati Polman. Jadi, saya minta kepada kita semua lebih baik bersikap tenang dan mending fokus kembali ke pekerjaan, petani lebih baik fokus ke sawah dan kebun masing-masing. Persoalan ini serahkan ke saya.
Kemudian, saya juga minta agar tidak ada lagi aksi-akasi anarkis setelah ini”. (Hasil wawancara Ar, 26 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dengan mengutip perkataan dari salah seorang senator asal Sulbar bahwa, adanya upaya arbitrasi dalam penanganan konflik pembangunan proyek penambahan debit air di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman. Upaya tersebut merupakan suatu kesukuran bagi masyarakat karena mengarapkan semoga dengan upaya ini dapat mengatasi konflik yang sudah berlangsung lama di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman mengingat bahwa sudah banyak uapaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun simpatisan namun tidak membuahkan hasil.
Upaya arbitrasi dalam konflik tersebut juga disampaikan oleh informan Cd selaku masyarakat di Kecamatan Tapang Kabupaten Polman:
“…Waktu itu pak Asri Anas mengundang ratusan tokoh masyarakat, Pemuda dan warga petani dari dua Kecamatan, yakni Kecamatan Tapango dan Kecamatan Matakali.. Pak Asri Anas menepati janjinya untuk bertemu dengan kami seluruh warga masyarakat Tapango dan sebagian warga Matakali membicarakan masalah itu dan mencari solusi bersama”. (Hasil wawancara Cd, 26 September 2016)
Pada hasil wawancara diatas dapat kita lihat bahwa nampaknya dalam penyelesaian konflik di Kecamatan Tapango Kabupaten Polaman tidak terlepas dari upaya arbitrasi atau perwalian yang dipercayakan kepada seorang anggota DPD asal Sulawesi Barat. Pada wawancara yang lain, hal yang sama juga disampaikan oleh informan Tl yang juga sebagai masyarakat di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman:
“…Pada pertemuan itu, Asri Anas juga mengundang Aliansi Pemuda Peduli Petani Kecamatan Tapango dan Matakali yang terdiri dari organisasi mahasiswa dan ormas. Asri Anas juga mengundang Bupati Polman, Kapolres Polman, Direktur PDAM dan Ketua DPRD Polman. Tapi sampai acara selesai tak satupun dari mereka yang hadir tapi pak Asri Anas berjanji akan menyelesaikan konflik itu”. (Hasil wawancara Tl, 26 September 2016)
Berdasarkan dari hasil wawancara diatas, nampak dalam penyelesaian konflik di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman menjadi penanganan yang serius, terutama apa yang diupayakan melalui metode arbitrasi atau perwalian setelah menempuh beberapa metode seperti metode mediasi dan negosiasi namun tidak dapat menyelesaikan konflik di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.
Upaya arbitrasi atau perwalian yang dipercayakan kepada senator asal Sulbar bapak M. Asri Anas. Senator asal Sulbar ini dalam pertemuannya dengan warga mengatakan bahwa persoalan konflik itu akan diselesaikan. Seperti yang disampaikan oleh seorang informan AS selaku presiden APPT Kecamatan tapango yang menyampaikan ungkapan Asri Anas pada pertemuan itu
“…Saya mendengar sendiri pak Asri Anas mengatakan, Saya minta hal ini tidak dipolitisasi. Termasuk para kepala desa juga kita minta jangan dijadikan ajang politik persoalan ini, dan perlu saya tegaskan, bahwa saya undang semua ini bukan kepentingan politik. Kita benar-benar ingin mencari solusi dan mendengarkan masukan dari masyarakat.
Pengehentian pembangunan PDAM dapat dilakukan jika warga benar-benar bersepakat dan membuat rekomendasi. Apalagi saya telah melakukan komunikasi langsung dengan Gubernur Sulawesi Barat, dan Balai Besar Sulawesi 3 terkait penolakan kelanjutan pembangunan PDAM tersebut. Pak Gubernur Sulbar sudah telepon saya, dia bilang bahwa kalau masyarakat meminta untuk menghentikan, yah hentikan. Gubernur Sulbar pro kepada petani, karena ini persoalan prioritas dan lebih mementingkan masyarakat petani. Kemudian, pihak Balai juga sudah saya komunikasikan, yang pasti masyarakat tenang saja, serahkan sama saya, saya jaminannya dan akan menyampaikan rekomendasi penolakan warga ke Kementerian Pekerjaan Umum”. (Hasil wawancara AS, 26 September 2016)
Kerjasama dari banyak pihak terutama dari tokoh-tokoh masyarakat, ormas, organisasi mahasiswa dan beberapa pihak yang melakukan upaya-upaya yang cukup efektif tentunya sangat membantu masyarakat Kecamatan Tapango Kabupaten Polman untuk mewujudkan penyelesaian dari konflik yang terlahir akibat pembangunan penambahan debit air bersih PDAM Kabupaten Polman.
Berkat dari beberpa upaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun ormas dalam penolakan pembangunan proyek penambahan debit air bersih PDAM Kabupaten Polman sehingga dapat memberikan tekanan kepada pihak pengelolah proyek maupun instansi-instansi yang mendukung, meskipun tekanan dari masyarakat tidak membuahkan hasil tetapi dapat memberikan tekanan. Sehingga setelah sampai kepada upaya yang lain dengan kekuatan dari pihak yang tertentu sehingga proyek terebut tidak dilanjutkan dan petanipun bisa kembali menjalankan aktifitas turun sawah seperti biasanya.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Kebijakan Otonomi Daerah telah memberikan kesempatan yang luas bagi pemerintahan di setiap daerah untuk menerapkan kebijakan pembangunan yang lebih memihak kepada rakyat. Sehingga pemerataan pembangunan sampai ke daerah pedalaman dapat dirasakan oleh masyarakat. Keleluasaan Pemerintah Daerah untuk mengurusi dirinya sendiri tidak selamanya menimbulkan dampak positif bagi masyarakat, di sebagian wilayah justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dengan terjadinya praktek penguasaan. Penguasaan dalam pembangunan telah menimbulkan konflik antara pengelolah proyek pengadaan fasilitas air bersih dengan masyarakat Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.
Penguasaan tersebut menimbulkan tindakan perlawanan dari petani, di antara kesimpulan yang dapat di ambil dari konflik akibat penguasaan tersebut antara lain:
1. Sumber-sumber kekuatan yang digunakan dalam penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman yaitu: (1) kekuatan dari kebijakan negara, adanya kebijakan-kebijakan yang memberikan privilege pada sekelompok aktor untuk melakukan monopoli, kebijakan dengan memberian hak istimewa kepada sekelompok aktor akan memberikan efek yang negativ karena sering terkontaminasi dengan sebuah eksploitasi (2) kekuatan dari aparat keamanan, terjadinya penyelewengan fungsi-fungsi institusi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan dalam masyarakat, meskipun tugas dan tanggung jawab sebagai petugas keamanan tetapi dalam mengawal
69
aksi unjuk rasa masyrakat harus bersikap netral dan menjaga suasana yang aman dan tentram (3) kekuatan informasi dan modal, penguasaan dan penutupan akses terhadap informasi dan modal menjadi salah satu sumber kekuatan pelaku-pelaku eksploitasi, penutupan akses informasi yang membuat masyarakat kurang percaya kepada pemerintah dan melakukan aksi anarkis sebagai bentuk protes dari kekecewaan .
2. Adapun resolusi konflik yang dilakukan pada konflik pembangunan proyek penambahan debit air PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten polman adalah: (1) negosiasi, suatu proses untuk memungkinkan pihak-pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan pilihan dan mencapai penyelesaian melalui interaksi tatap muka, negosiasi yang dilakukan lewat aksi unjuk rasa untuk menuntut bertemu dengan pihak pemerintah daerah dalam penyelesaian konflik tersebut (2) mediasi, suatu proses interaksi yang dibantu oleh pihak ketiga sehingga pihak-pihak yang berkonflik menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sendiri, mediasi pada konflik itu dimediasi oleh APPT dan beberapa organisasi kemahasiswaan (3) arbitrasi/perwalian, tindakan oleh pihak ketiga yang diberi wewenang untuk memutuskan dan menjalankan suatu penyelesaian, pada upaya arbitrasi anggota DPD asal Sulbar sebagai pihak arbitrasi dalam penangan konflik yang ada di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan mengenai konflik penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman, maka adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:
1. Hendaknya pemerintah, dalam hal penguasaan membuat suatu kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak (khsusunya masyarakat kecil), melakukan uji kelayakan kebijakan. Uji kelayakan dapat berlangsung lama dan singkat, tergantung sejauh mana kesungguhan pemerintah dalam membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat. Langsung mengambil kebijakan tanpa terlebih dahulu mendengarkan aspirasi dari bawah dapat mengakibatkan konflik, dan konflik yang tidak terselesaikan akan menjadi bom waktu yang dapat meledak setiap saat.
2. Resolusi konflik seharusnya ditegakkan dengan baik ketika konflik terjadi agar interaksi sosial di masyarakat berjalan dengan lancar dan kondusif.
Beberapa resolusi konflik hendaknya menjadi tolak ukur dalam peneyelesaian konflik agar dalam pemyelesaiannya tidak memakan waktu yang terlalu lama karena dapat mengakibatkan banyak kerugian diantara dua belah pihak yang berkonflik. Sehingga dalam penanganan konflik bisa teratasi dengan mendahulukan metode resolusi konflik yang dianggap relefan dalam penyelesaian konflik yang berlangsung, dan tentunya mnyesuaikan dengan kondisi serta situasi yang ada diruang lingkup wilayah konflik.
DAFTAR PUSTAKA
Baiquni, M. R, Rijanta. 2015, Konflik Pengelolaan Lingkungan dan Sumberdaya Dalam Era Otonomi dan Trnsisi Masyarakat, Denpasar : Bumi Lestari Vol.7 No 1.
Barlow, Maude and Clarke Toni (Eds). 2002, Blue Gold:The Fight To Stop The Corporate, New Delhi
Dariyadi, Wahib. 2014, Teori Dominasi Kekuasaan,
http://tulisanterkini.com/artikel/artikel-ilmiah/6925-teori-dominasi-kekuasaan.html, diakses tanggal, 2 Februari 2017
Endaryanta , Erwin. 2007, Politik air di Indonesia, Yogyakarta : Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan.
Fahriza. 2005, Dominasi Kekuasaan Dan Resistensi Masyarakat, Jogjakarta : UGM.
Harry, Priyono. 2004, Mencari Badan Publik, Jogjakarta: Fisipol UGM
Mulyati, Husna. 2012. Gaya Penyelesaian Konflik, http://husna-m-- fpsi08.web.unair.ac.id/artikel_detail-48407-psikologi%20kepribadian-Gaya%20Penyelesaian%20Konflik.html, diakses tanggal, 2 Februari 2017 Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta : Gaung
Persada Press
Ismail, Indriaty. Basir, Mohd Zuhaili Kamal. 2012, Karl Marx dan Konsep Perjuangan Kelas Sosial: International Journal of Islamic Thought Vol. 1:
(June )
Kum, Krinus. 2015. Konflik Pertambangan di Tanah Papua. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Mardimin, J. 2015, Egoisme Sektoral dan Kedaerahan Sebagai Tantangan Program Pembangunan Berkelanjutan (Kasus Pengelolaan Dan Pemanfaatan Sumber Air Senjaya Diperbatasan Wilayah Kabupaten Semarang Dengan Kota Salatiga: Kritis Vol.XXIII No. 2, 2014: 131-148 Maria.S.W. Sumardjono, Nurhasan Ismail, dkk (Eds). 2009, Pengaturan Sumber
Daya Alam di Indonesia, antara yang tersurat dan tersirat (Kajian Kritis Undang-undang Terkait Penataan Ruang dan Sumber Daya Alam), Yogyakarta: Fakultas Hukum UGM
Marx, Karl. Engels, Frederick. 2010. Manifesto Partai Komunis, https://www.marxists.org/archive/marx/works/download/pdf/Manifesto.pd f, diakses tanggal, 2 Februari 2017
72
Miall, Hugh, dkk. (Eds). 2002, Resolusi Damai Konflik Kontemporer, Menyelesaikan, Mencegah dan Mengubah Konflik Bersumber Politik, Sosial, Agama, dan Ras, Jakarta : Rajawali Pers.
Moleong, Lexy. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Nasikun, J. 2003, Sistem Sosial Indonesia, Jakarta : Rajawali Pers.
Patria, Nezar. Arief, Moch Andi. 2003, Antonio Gramsci, Negara dan Hegemoni, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Priyono, Herry. 2004, Mencari Badan Publik: Refleksi Bagi Rehabilitasi Arti Pembangunan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol 8 No, 2, Fisipol UGM
Purnamsari, Chici Dwi. 2012. Konflik tanah di Jenggawah, http://blog.ub.ac.id/chici122/2012/06/09/konflik-tanah-di-jenggawah/, diakses tanggal, 3 Februari 2016
Sargeson, Sali. 2002, Introduction Dalam Sally (ed), Collective Goods, Collective Futures In Asia, London and New York: Routledge
Shiva, Vandana. 2002, Water Wars, Privatisasi, Provit dan Polusi.Insist dan Walhi
Sihbudi, Riza. Nurhasim, Moch. (Eds). 2001, Kerusuhan Sosial di Indonesia, Studi Kasus Kupang, Mataram dan Sambas, Jakarta : Grasindo.
Subagyono, Kasdi. 2004, Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Argroklimat (Puslitbangtanak), Bogor, hlm. 210.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta Suhelmi, Ahmad. 2001, Pemikiran Politik Barat, Jakarta : Gramedia.
Susetiawan. 2000, Konflik Sosial, Kajian Sosiologis Hubungan Buruh Perusahaan dan Negara di Indonesia, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Susilo, Rahmad K. Dwi. 2012. Sosiologi Lingkungan dan Sumber Daya Alam Perspektif Teori dan Isu-Isu Mutakhir, Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
A. Petani
1. Bagaimana pendapat petani tentang sosialisasi pembangunan PDAM?
2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang dilakukan oleh pemerintah?
3. Bagaimana dengan kondisi lahan persawahan petani sejak rencana pembanguanan PDAM?
4. Sejak kapan aksi perlawanan ini berlangsung?
5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?
6. Apa yang dilakukan untuk meminta pemberhentian pembanguanan PDAM?
7. Mengapa kebanyakan petani tidak sepakat dengan pembanguanan PDAM ini?
8. Apa yang akan dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?
9. apa yang menjadi alternatif pekerjaan setelah pembanguanan PDAM?
10. Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?
11. Bagaimana peran LSM terhadap persoalan ini?
12. Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?
13. Berapa pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?
1. Bagaimana proses pembuatan kebijakan tersebut?
2. Bagaimana tanggapan petani terhadap kebijakan tersebut?
3. Mengapa Pemerintah tetap merencanakan pembanguanan PDAM?
4. Apa yang dilakukan Pemerintah setelah petani melakukan perlawanan?
5. Bagaimana dengan resolusi atau mufakat yang telah dilakukan?
C. Aliansi Petani Peduli Tapango (APPT)
1. Bagaimana proses pengawalan APPT yang dilakukan?
2. Bagaimana dengan resolusi atau musyawarah untuk menyelesaikan persoalan?
3. Bagaimana sikap APPT terhadap aksi perlawanan yang dilakukan oleh petani?
4. Bagaimana tanggapan APPT terhadap tuntutan yang dilakukan oleh petani?
5. Apakah ada Ormas yang membantu APPT dalam pengawalan kebijakan tersebut?
6. Langkah- langkah apa yang ditempuh untuk mengawal kebiajakn ini?
D. PDAM dan BWSS
1. Bagaimana potensi air sehingga PDAM dibangun pada wilayah tersebut?
2. Bagaimana pendapatan PDAM selama ini, apakah ada peningkatan atau tidak?
3. Apakah ada keterlibatan swasta dalam pengelolaan PDAM ini?
4. Apakah tidak ada unsur eksploitasi terkait pengadaan PDAM ini?
pembangunan PDAM?
6. Bagaimana sikap PDAM dan BWSS dalam menaggapi perlawanan petani?
Nama : Tl
Pendapat kami tentang sosialisasinya itu tidak sesuai, dan tidak tepat sasaran. Alasannya
Bentuk tekanannya itu barangkali kayak hadirnya aparat keamanan dilokasi konflik kemarin. Maksudnya kami ini masyarakat merasa tertekan sehingga ada sedikit keraguan untuk demonstrasi.
Kondisi persawahan kemarin itu memang sempat tidak turun sawah, apalagi kemarin itu bertepatan dengan musim kemarau, itumi juga salah satu alasan petani kenapa ditolak itu kencang-kencangnya konflik ditahun 2015 kemarin yang pas juga ada penangkapan masyarakat disitu.
5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?
Bentuk perlawanan yang dilakukan masyarakat itu berbeda-beda ada yang berdemostrasi dilokasi proyek, ada berdemosntrasi di kantor bupati, digedung DPRD bahkan ada juga
untuk meminta pemberhentian
pembanguanan PDAM?
kantor bupati, mendatangi gedung DPRD dan berdialog dengan anggota dewan. Terahir yang kami lakukan pada saat Asri Anas selaku DPD asal Sulbar memanggil kami dan kami sampaikan semua keinginan kami terkait pemberhentian proyek itu. aktifitas turun sawah, karena air yang digunakan selama ini tidak ada lagi.
8 Apa yang akan
dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?
Kalau dilanjutkan lagi pembangunanya maka kami akan kembali berdemo, dan bahkan konflik lagi. Istilahnya kalau kami tidak turun sawah sama halnya piring nasi kami diambil.
Jadi persoalan perebutan air itu harga mati bagi kami masyarakat petani. kembali dibangun aktifitas persawahan tidak ada dan tidak tau mau diapakan itu lahan sawah.
10 Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?
Pada saat kami medatangi DPRD kami dijanji mau dibantu. Tapai pada saat diparipurnakan ternyata tidak memihak kepada masyarakat.
11 Bagaimana peran APPT dan mahasiswa terhadap persoalan ini?
Alhamdulillah APPT kemarin itu dan mahasiswa selalu mendampingi kasus ini.
12 Berapa luas lahan yang Kalau yang dirugikan nanti itu kalau jadi itu
13 Berapana pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?
Pendapatan petani itu pertahunnya mencapai 3 Ton per Ha dengan panen 3 kali pertahun.
Nama : AH
Pendapat kami tentang sosialisasinya itu tidak sesuai, dan tidak tepat sasaran. Sekalipun ada sosialisasi tapi itu diadakan pada lokasi dibagian hulu air sementara pemakai air itu di bagian hilir air.
2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang
dilakukan oleh
pemerintah?
Bentuk tekanannya kalau dari pemerintah secara langsung itu tidak ada, mungkin tekanan hanya dari aparat keamanan. Saya katakan seperti ini karena termasuk saya disampaikan untuk tidak ikut dalam aksi itu.
5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?
Banyak bentuk perlawanannya itu masyarakat termasuk berdemosntrasi di kantor bupati, digedung DPRD bahkan ada juga merusak inventaris proyek dan memboikot jalan menuju lokasi proyek. berdialog dengan anggota dewan. Terahir yang kami lakukan pada saat Asri Anas selaku DPD asal Sulbar memanggil kami dan kami sampaikan semua keinginan kami terkait pemberhentian proyek itu.
Intinya itu kenapa petani menolak, karena kalau air digunakan untuk pengairan PDAM otomatis tidak ada aktifitas turun sawah, karena air yang digunakan selama ini tidak ada lagi.
8 Apa yang akan
dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?
Kalau dilanjutkan lagi pembangunanya maka kami akan kembali berdemo. kembali dibangun aktifitas persawahan tidak ada.
10 Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?
Tidak ada perannya pak dalam permasalahan konflik kemarin, tidak ada.
11 Bagaimana peran APPT Alhamdulillah APPT kemarin itu dan
12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?
Kalau yang dirugikan nanti itu kalau jadi itu proyek sekitar kurang lebih 1000 Ha
13 Berapa pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?
Pendapatan petani itu pertahunnya mencapai 3 Ton per Ha dengan panen 3 kali pertahun.
Nama : Nn
Pendapat kami tentang sosialisasinya itu tidak sesuai, dan tidak tepat itu saja pak.
2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang
dilakukan oleh
pemerintah?
Bentuk tekanannya itu karena ada aparat keamanan dilokasi konflik jadi semacam ada rasa takutnya masyarakat.
Kondisi persawahan kemaarin itu memang sempat tidak turun sawah, apalagi kemarin itu bertepatan dengan musim kemarau.
4. Sejak kapan aksi
perlawanan ini
berlangsung?
Saya kurang ingat mulai tahun berapa yang jelas kencang-kencangnya konflik ditahun 2015.
dilakukan? dilokasi proyek, ada berdemosntrasi di kantor dan mendatangi kantor bupati juga mendatangi gedung DPRD. menolak semua, karena itumi harapannya untuk sawah-sawahnya pak.
Alhamdulillah APPT kemarin itu selalu mendampingi kasus.
12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?
Saya kurang tau pasnya yang jelas banyak karna dua kecamatan yang pakai itu air.
sebelum pembangunan
Kurang tau saya masalah sosialisasinya, karena saya masyarakaat disini kaget setelah datangmi itu barang-barang proyek.
2. Bagaimana bentuk- bentuk tekanan yang
dilakukan oleh
pemerintah?
Saya tidak dapat memastikan karena saya cuma melihat itu polisi banyak yang didatangkan.
3. Bagaimana dengan
Apalagi pada saat itu pas musim kemarau, yang jelas sebelumnya biar kemarau tetap turun sawah.
4. Sejak kapan aksi
perlawanan ini
berlangsung?
Kurang ingat kalau yang itu pak.
5. Bagaimana bentuk perlawanan yang dilakukan?
Termasuk berdemo dan merusak fasilitas proyek.
6. Apa yang dilakukan
untuk meminta
Yang di lakukan itu seperti mendatangi kantor bupati, mendatangi gedung DPRD dan berdialog
7
Mengapa kebanyakan petani tidak sepakat dengan pembanguanan PDAM ini?
Karena itumi pak, kalau dialihkan ini air berarti tidak ada aktifitas persawahan.
Mungkin hanya sebagian yang berkebun, tapi kalau yang tidak ada kebunnya saya tidak tau
Alhamdulillah APPT kemarin itu selalu mendampingi.
12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?
Kalau yang dirugikan sekitar kurang lebih 1000 Ha
13 Berpana pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?
Banyak pak saya kurang tau yang jelas banyak.
Waktu : 26 september 2016 saya lihat itu banyak polisi yang datang.
3. Bagaimana dengan karena masyarakat sibuk berdemo jadi tidak fokus turun sawah.
4. Sejak kapan aksi
perlawanan ini
berlangsung?
Saya yang kuingat pada tahun 2015 kemarin yang pas juga ada penangkapan masyarakat.
5. Bagaimana bentuk
dilakukan petani jika pembanguanan PDAM tetap dilanjutkan?
9 apa yang menjadi alternatif pekerjaan setelah pembanguanan PDAM?
Belum tau apa nanti yang dikerja kecuali ada programnya pemerintah.
10 Bagaimana peran DPRD dalam menyikapi persoalan ini?
Saya kurang tau kalau yang itu pak.
11 Bagaimana peran APPT dan mahasiswa terhadap persoalan ini?
Dia selalu mendampingi termasuk waktu demo dikantor bupati.
12 Berapa luas lahan yang dirugikan akibat pembangunan PDAM?
Kurang tau berapa pastinya yang jelas banyak pak.
13 Berpa pendapatan petani pertahunnya sebelum pembangunan PDAM?
Banyak juga pak kurang tau pastinya.
Jabatan : Staf Bupati Polman Waktu : 28 September 2016 Tempat : Kantor Bupati Polman
No Pertanyaan Jawaban
1. Bagaimana proses pembuatan kebijakan tersebut?
Masalah proses kebijakan, itu sepenuhnya wewenang BWSS, dan sudah dapat dipastikan bahwa kebijakan itu tidak lahir dengan begitu saja, pasti sudah ada kajian sebelumnya.
2. Bagaimana tanggapan petani terhadap kebijakan tersebut?
Kalau persoalan tanggapan sudah bisa dipastikan kalau mereka itu menolak, dilihat dari terjadinya sedikit gesekan yang kemarin itu, karena sebenarnya petani itu mengambil kesimpulan dari pengalaman, sehingga tidak yakin dengan hasil kajian yang dipaparkan oleh
Kalau persoalan tanggapan sudah bisa dipastikan kalau mereka itu menolak, dilihat dari terjadinya sedikit gesekan yang kemarin itu, karena sebenarnya petani itu mengambil kesimpulan dari pengalaman, sehingga tidak yakin dengan hasil kajian yang dipaparkan oleh