• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

i

TAPANGO KABUPATEN POLMAN)

SADAR

Nomor Stambuk : 10564 01560 12

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2017

(2)

ii

TAPANGO KABUPATEN POLMAN)

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menempuh Gelar Sarjana Ilmu Politik

Disusun dan diajukan Olehh SADAR

Nomor Stambuk: 105640156012

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2017

(3)

iii

Judul Skripsi : Politik Penguasaan Air Bersih (Studi Kasus Konflik Pengadaan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar) Nama Mahasiswa : Sadar

Nomor Stambuk : 10564 01560 12 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyetujui :

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Hj. Djuliati Saleh, M.Si Andi Luhur Prianto, S.IP, M.Si

Mengetahui :

Dekan Ketua Jurusan

Fisipol Unismuh Makassar Ilmu Pemerintahan

Dr. H. Muhlis Madani, M.Si Andi Luhur Prianto, S.IP, M.Si

(4)

iv

Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Keputusan/undangan menguji ujian skripsi Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar, Nomor. 169/FSP/A. 1-VIII/II/38/2017 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S.1) dalam program studi Ilmu Pemerintahan di Makassar pada hari Kamis, tanggal 23 Februari Tahun Dua Ribu Tujuh Belas

TIM PENILAI

Ketua Sekertaris

DR. H. Muhlis Madani, M.Si DR. H. Muhammad Idris, M.Si

Penguji

1. DR. H. Lukman Hakim, M.Si (Ketua) (...) 2. Dra. Hj. Djuliati Saleh, M.Si (...) 3. DR. Hj. Fatmawati, M.Si (...) 4. DR. Hj. Ihyani Malik, S.Sos, M.Si (...)

(5)

v Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Sadar

Nomor Stambuk : 10564 01560 12 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesuangguhnya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar, 4 Agustus 2016 Yang Menyatakan

Sadar

(6)

vi

SADAR, POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Studi Kasus Konflik Pengadaan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman) (dibimbing oleh Djuliati Saleh dan Andi Luhur Prianto).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk pengusaan air bersih di Kcamatan Tapango Kabupaten Polman dan resolusi konflik yang terjadi akibat perebuatan air bersih. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan informan sebanyak 10 orang. Dengan teknik pengumpulan data dikumpul dengan menggunakan instrument berupa, wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap informan. Data tersebut dianalisis secara deskriptif dan interpretasi kepada informan dengan melakukan kekuatan wawancara kemudian dicek kembali data tersebut untuk lebih memahami secara mendalam serta berpedoman pada teori-teori yang sesuai, dan data tersebut dikumpulkan dan diharapkan bisa menghasilkan penelitian yang bermutu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya bentuk penguasaan air bersih dan upaya resolusi konflik terkait perebutan air bersih. Bentuk-bentuk penguasaan air bersih tersebut diantaranya: kekuatan dari kebijakan negara, kekuatan dari aparat keamanan serta kekuatan informasi dan modal. Sedangkan upaya resolusi konflik diantaranya: negosiasi, mediasi dan arbitrasi atau perwalian.

Kata kunci : Bentuk-bentuk penguasaan, resolusi konflik

(7)

vii

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Studi Kasus Konflik Pengadaan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman)”

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammdiyah Makassar.

Pada kessempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada Ibubunda Dra. Hj. Djuliati Saleh, M.Si selaku pembimbing I dan Bapak Andi Luhur Prianto, S.IP, M.Si selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Tak lupa pula penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setinggi- tingginya kepada yang terhormat:

1. Rektor Universitas Muhammadiyah makassar Dr. H. Irwan akib, M.Pd

2. Bapak Dr. Muhlis Madani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Bapak Andi Luhur Prianto, S.IP, M.SI selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

4. Dosen Fisipol, Staf Tata Usaha Fisipol Unismuh Makassar yang telah banyak membantu penulis selama menempuh pendidikan di kampus ini.

(8)

viii

yang senantiasa memberikan semangat serta dukungan baik moril maupun materil sehingga skripsi ini dapat diselesaikan

6. Ketiga saudara tercinta Santi, Ajis dan Anas serta seluruh lapisan keluarga yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang juga tiada henti memberikan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini

7. Juga kepada yang tercinta dan tersayang yang selalu setia menemani serta memberikan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Seluruh teman-teman di HIMJIP terkhusus kepada seluruh saudara seperjuangan angkatan 2012 IP

9. Juga kepada seluruh teman-teman baik didalam maupun diluar kampus yang juga menjadi teman seperjuangan selama menyandang status mahasiswa.

Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 08 November 2016

Sadar

(9)

ix

Halaman Sampul... ... i

Halaman Pengajuan Skripsi... ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... v

Abstrak. ... vi

Kata Pengantar... ... vii

Daftar Isi... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Kegunaan Penelitian... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kekuasaan ... 8

B. Setting Proses Politik Pemanfaatan Sumber Daya Alam ... 17

C. Konsep Public dan Private Goods ... 19

1. Dinamika Konsep Public Goods dan Private Goods... ... 19

2. Sumber Daya Air dalam Konsep Collective Goods... ... 21

3. Air Sebagai Collective Goods Dalam Arena Privatisasi... ... 22

D. Konsep Resolusi Konflik ... 23

E. Kerangka Pikir ... 31

F. Fokus Penelitian ... 33

G. Deskripsi Fokus Penelitian ... 34

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 35

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 35

(10)

x

E. Teknik Pengumpulan Data ... 37

F. Teknik Analisis Data ... 39

G. Pengabsahan Data ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 42

1. Letak Geografis... ... 42

2. Pemerintahan, Penduduk, Sosial, Pertanian, Industri dan Energi... ... 43

a. Pemerintahan... ... 43

b. Penduduk... ... 44

c. Sosial... ... 44

d. Pertanian... ... 45

e. Industri dan Energi... ... 46

B. Bentuk Penguasaan Air Bersih Yang Dilakukan Oleh Kekuasaan Terhadap Masyarakat……… ... 47

1. Kekuatan Dari Kebijakan Negara... ... 47

2. Kekuatan Dari Aparat Keamanan... ... 51

3. Kekuatan Informasi dan Modal... ... 54

C. Resolusi Konflik Dalam Penguasaan Air Bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman………... 57

1. Negosiasi... ... 60

2. Mediasi... ... 62

3. Arbitrasi/perwalian... ... 65

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan………. ... 69

B. Saran… ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

(11)

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung diatas dan di dalam permukaan bumi merupakan karunia Tuhan kepada umat manusia, dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia yang hidup pada dalam batas wilayah. Oleh karena itu merupakan kewajiban bagi manusia untuk menjaga, memilihara dan memanfaatkannya sebaik mungkin (Maria S.W dkk, 2009).

Politik Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Negara sebagai organisasi kekuasaan tertinggi didalam suatu wilayah, diberikan mandat oleh rakyatnya guna mengatur dan memimpin kehidupan rakyatnya dalam suatu wilayah. Negara bertugas untuk dapat menciptakan rasa aman dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

oleh karena itu semua tanggung jawab pengurusan dan pengelolaan yang ada dalam suatu wilayah diserahkan kepada negara termasuk mengatur, dan mengkoordinir penguasaan dan pengelolaan sumber-sumber daya/kakayaan alam yang ada pada wilayahnya (Maria S.W dkk, 2009).

Dalam konstitusi Indonesia sudah diatur mengenai asas penguasaan negara atas sumber-sumber daya alam yang berada dalam batas wilayah negara Republik Indonesia yaitu, dalam konstitusi Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dalam ketentuannya dinyatakan bahwa bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan di manfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Ketentuan pasal tersebut kemudian telah menjadi dasar bagi terbentuknya politik pengelolaan sumber daya alam secara nasional.

Selanjutnya dijabarkan dalam asas-asas Undag-Undang Pokok Agararia (UUPA)

(12)

No 5 tahun 1960 yang dikenal dengan konsep hak menguasai negara atas sumber- sumber kekayaan alam yang bermanfaat bagi masyarakat. Istilah sumber-sumber kekayaan/daya alam, dalam UUPA lebih dikenal dengan istilah Agraria.

Beberapa literatur juga mengidentifikasikan bahwa, fungsi negara dalam konsep hak menguasai negara atas sumber daya alam (SDA) lebih sebagai pihak yang mempunyai otoritas untuk melakukan penatagunaan SDA. Penatagunaan SDA merupakan kebijakan pengelolaan yang mengatur aspek-aspek penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan SDA yang berwujud konsolidasi pemanfaatan SDA sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil (Maria S.W dkk, 2009).

Kebutuhan air makin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan ragam kebutuhan yang menuntut sumber daya air dalam jumlah banyak, baik untuk rumah tangga, industri, irigasi, penggelontoran, energi, rekreasi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa air merupakan objek yang sangat vital.

Bentuk keputusan dapat dilihat pada kehidupan. Masyarakat di Indonesia memanfaatkan air dalam kesehariannya untuk dikonsumsi sehari-hari dan juga untuk kegiatan lainnya yang berhubungan dengan air, seperti mandi, mencuci, dan lain-lain. Disamping itu, masyarakat juga memanfaatkan air untuk mengairi sawah mereka yang merupakan sumber mata pencaharian mereka yang berasal dari sektor pertanian. Sebagian besar masyarakat di negeri ini bermata pencaharian sebagai petani yang bergantung pada pengairan demi suksesnya panen padi mereka.

(13)

Sementara itu, secara kuantitas ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan terus menurun akibat rusaknya daur hidrologi dan pencemaran. Kondisi ini akan mendorong masyarakat masuk dalam perangkap krisis air yang secara akumulatif dapat memicu munculnya konflik air secara horizontal maupun vertikal.

Ironisnya, masalah krusial ini belum direspons secara proporsional oleh pengambil kebijakan maupun perencana.

Sektor pertanian, domestik, rumah tangga, dan industri mendapatkan sebagian besar air dari waduk. Oleh karena itu, pemenuhan air untuk sektor rumah tangga dan industri akibat peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan pembangunan pada masa mendatang akan mengambil porsi air untuk pertanian sekitar 25%, sehingga secara langsung akan mengganggu kinerja sistem produksi pertanian. Meskipun kelangkaan air dan konflik air antar sektor sudah terjadi dan dirasakan langsung oleh petani, pemerintah belum memberikan perhatian dan penanganan secara proporsional (Subagyono, 2004).

Kebijakan pemanfaatan sumber daya alam selalu mengandung dimensi social, politik dan ekonomi yang luas dan kompleks karena terkait dengan sistem menopang kehidupan dan ketercukupan kebutuhan dasar masyarakat (Endaryanta, 2007).

Masalah air sering terjadi antara berbagai aktor, baik itu secara vertical masyarakat dengan pemerintah atau investor, dan konflik horizontal antara sesama petani itu sendiri. Dalam jangka panjang, konflik horizontal maupun vertikal dalam alokasi dan distribusi air akan memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang sangat mahal untuk pemecahannya (Subagyono, 2004).

(14)

Konflik sosial biasanya terjadi karena adanya satu pihak atau kelompok yang merasa kepentingan atau haknya dirampas dan diambil oleh pihak atau kelompok lain dengan cara-cara yang tidak adil, Karl Marx dalam (Susetiawan, 2000) di kenal dengan surplus value. Konflik ini dapat terjadi secara horizontal maupun vertical, (Susetiawan, 2000).

Konflik vertikal antara pemerintah dan masyarakat juga terjadi di Kabupaten Polman. Konflik ini terjadi antara kelompok petani dengan Pemerintah Kabupaten Polman. Hal ini disebabkan oleh rencana pembangunan PDAM Kabupaten Polman sejak tahun 2013 yang lalu oleh Pemerintah Kabupaten Polman. Tindakan Pemerintah Kabupaten Polman dalam rangka rencana pengadaan fasilitas umum yakni PDAM Kabupaten Polman tersebut telah melahirkan sikap penentangan petani di Kecamatan Tapango khususnya petani yang akan dirugikan dengan keberadaan fasilitas umum tersebut. Kebijakan yang telah direncanakan sejak itu berimplikasi pada terjadinya konflik vertikal.

Tuntutan petani di Kecamatan Tapango, yakni menuntut bahwa jika akan dibangun PDAM Kabupaten Polman pada wilayah tersebut maka air yang digunakan untuk sawah-sawah masyarakat petani tidak akan cukup mengairi persawahan pada wilayah tersebut, bahkan semua akan masuk di penampungan PDAM Kabupaten Polman sehingga masyarakat menganggap bahwa hal ini dapat menimbulkan kematian dari aktifitas pertanian masyarakat.

Pada tahun 2013, terjadi Rencana proyek pembangunan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman yang kemudian memicu konflik vertikal antara pemerintah dan masyarakat. Konflik ini terjadi antara kelompok petani dengan Pemerintah Kabupaten Polman. Tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah

(15)

Kabupaten Polman dalam rangka pengadaan fasilitas umum yakni PDAM Kabupaten Polman tersebut telah melahirkan sikap penentangan petani di Kecamatan Tapango khususnya petani yang akan dirugikan dengan keberadaan fasilitas umum tersebut.

Upaya penguasaan air bersih oleh pemerintah membuat perebutan air antara pemerintah dan masyarakat terus terjadi, diwarnai dengan aksi penentangan yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman yang berujung pada konflik antara masyarakat dengan pemerintah. Para petani dengan dibantu oleh beberapa elemen masyarakat melakukan aksi protes terhadap Pemerintah Kabupaten Polman. Aksi tersebut dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari aksi turun ke jalan, sampai pada aksi memboikot jalan dan menyegel pipa air PDAM Kabupaten Polman.

Aksi memprotes kebijakan Pemerintah Kabupaten Polman yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Tapango tidak hanya dilakukan di kantor Bupati Polman, aksi ini juga dilakukan di gedung DPRD Kabupaten Polman. Aksi protes ke gedung DPRD Kabupaten Polman bertujuan untuk menuntut DPRD Kabupaten Polman agar bersedia menjadi mediator dalam penyelesaian konflik tersebut.

Upaya resolusi konflik sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan berharap keputusan resolusi konflik dapat berpihak kepada masyarakat. Tetapi tindakan ini kembali gagal mendapatkan hasil, karena DPRD Kabupaten Polman hanya berjanji untuk merealisasikan saja, akan tetapi janji tersebut tidak pernah terwujud. Tidak adanya pertemuan yang terjadi antara petani dengan Bupati Polman, menjadikan petani semakin frustasi dan kecewa, bahkan dari pihak anggota DPRD Kabupaten Polman berusaha membujuk warga agar

(16)

mendengarkan penjelasan dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III, Dinas PU, Badan Lingkungan Hidup, dan PDAM Kabupaten Polman.

Berdasarkan fenomena diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ada unsur politisasi mengenai air bersih yakni perebutan air bersih antara pemerintah dan masyarakat sehingga penulis sangat tertarik untuk meneliti dan mendeskripsikan masalah dengan mengambil judul “Politik Penguasaan Air Bersih (Studi Kasus Pengadaan PDAM di Kec. Tapango Kab. Polman ”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena pada latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang menjadi fokus pada penelitian ini, adapun yang difokuskan adalah:

1. Bagaimana bentuk penguasaan air bersih yang terjadi?

2. Bagaiamana resolusi konflik yang diupayakan dalam konflik itu?

C. Tujuan penelitian

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bentuk penguasaan air bersih yang dilakukan oleh kekuasaan terhadap masyarakat.

2. Untuk mengetahui resolusi konflik yang diupayakan dalam konflik itu D. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagi berikut:

1. Kegunaan teorotis, untuk mengetahui proses pengambilan kebijakan oleh pemerintah terhadap masyarakat

(17)

2. Kegunaan praktis, sebagai bahan informasi, dan penelitian ini dapat memberikan informasi berharga bagi pemerintah didalam mengambil kebijakan

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kekuasaan

Mosca dengan karyanya The Rulling Class yang dikutip oleh Sastroatmodjo dalam Perilaku Politik dalam (Dariyadi, 2014), menyatakan: Dalam setiap masyarakat, terdapat dua kelas penduduk. Satu kelas yang menguasai dan satu kelas yang dikuasai. Kelas pertama yang jumlahnya selalu lebih kecil, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan, dan menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu, sedangkan kelas kedua, yang jumlahnya jauh lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas pertama, (Dariyadi, 2014)

Pandangan ini menekankan, bahwa dalam masyarakat terdapat dua kelas yang menonjol, yaitu kelas yang memerintah dan yang diperintah. Kelas pertama yang menguasai fungsi politik, yakni monopoli kekuasaan sekaligus menguasai hasil-hasilnya. Kelas kedua sebaliknya, mereka yang jumlahnya besar tetapi tidak mempunyai kekuasaan atau fungsi politik, mereka diarahkan dan dikendalikan oleh kelas pertama dengan cara-cara tertentu, (Fahriza, 2005).

Mengenai konflik sosial, para ahli ilmu sosial memiliki pandangan dan penekanan yang berbeda. Setiap konflik yang terjadi antara kelas atau kelompok yang ada di masyarakat memiliki sebab dan akibat yang beragam. Ada yang dikarenakan oleh status, kekuasaan, kekayaan, usia, peran menurut gender, dan keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu. Hal ini dapat berakibat pada hancurnya suatu tatanan atau struktur sosial, terjadinya kekerasan, penindasan, dan bahkan peperangan.

8

(19)

Marx mendefinisikan kelas sebagai kelompok individu atau kelompok kesatuan sosial yang pada dasarnya bukan ditentukan semata-mata oleh tempatnya dalam proses produksi. Tetapi dari kedudukan ekonomi dapat juga ditentukan kelas sosialnya. Marx menyatakan bahwa penyebab penguasaan kelas tertentu terhadap kelas lainnya dikarenakan oleh hubungan produksi yang tidak seimbang (surplus value) dalam suatu hubungan produksi yang kapitalistik. Ekonomi politik merupakan penekanan khusus yang dibicarakan Marx dalam pertentangan ini.

Marx menganggap perbincangan mengenai modal dan kerja, dan antara modal dan tanah perlu dijelaskan secara rinci, yang belum pernah disinggung dalam setiap perbincangan mengenai ekonomi dan politik, (Kum, 2015).

Marx menjelaskan bahwa, semakin miskin keadaan pekerja atau tenaga kerja, semakin banyak kekayaan yang diproduksikannya. Semakin banyak kekayaan yang diproduksikan, semakin besar pula kekuasaan yang terbentuk dan semakin luas pula pengaruh kekuasaan tersebut. Pekerja menjadi komoditi murah.

Semakin murah harga komoditi itu semakin banyak barang yang dihasilkannya.

Devaluasi dunia manusia semakin membesar, hal mana berhubungan langsung dengan peningkatan nilai benda. Kerja tidak hanya menciptakan benda-benda, tetapi juga menciptakan kerja itu sendiri dan pekerja sebagai komoditi dalam proposisi yang sama dengan produksi barang-barang, (Kum, 2015).

Lain halnya dengan Marx, para pengikut Marx (dikenal dengan kaum Marxis), menyatakan bahwa faktor ekonomi jelas mempunyai peranan yang menentukan terhadap cara produksi atau terhadap susunan sosial. Tetapi faktor yang bersifat politis dan idiologis (super struktur) juga mempunyai peranan yang penting. Kelas sosial ditentukan oleh tempatnya dalam kesatuan praktek-praktek

(20)

sosial dalam arti menurut tempatnya dalam kesatuan pembagian kerja yang mencakup hubungan-hubungan politik dan idiologi. Tempat ini berhubungan dengan determinasi kultural dari kelas, yakni cara yang ditentukan oleh struktur (hubungan produksi, dominasi, politikidiologi) yang berpengaruh terhadap praktek-praktek kelas, (Fahriza, 2005).

Dalam Manifesto The Comminist Party Marx menyatakan, sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas. Orang bebas dan budak, bangsawan dan rakyat biasa, tuan dan hamba, pemimpin perusahaan dan orang luntang-lantang, dalam satu kata, penindas dan yang ditindas, selalu bertentangan satu sama lain, yang berlangsung tak putus-putusnya dalam suatu pertarungan yang kadang- kadang tersembunyi, kadang-kadang terbuka, suatu pertarungan yang setiap kali berakhir, baik dalam suatu rekonstitusi masyarakat pada umumnya secara revolusioner, maupun dalam keruntuhan umumnya dari kelas- kelas yang bercekcok tersebut (Marx dan Engels, 2010).

Marx meneliti sejarah manusia dari dua aspek yaitu: pertama, faktor ekonomi yang memaparkan rangkaian tahap perkembangan ekonomi manusia meliputi kaedah-kaedah mengeluarkan produk keperluan hidup dalam menentukan segala perubahan kehidupan manusia. Kedua, faktor sosial kerana Marx menggambarkan sifat semula jadi manusia yang suka bergaul. Namun faktor sosial tidak lengkap tanpa berhubung terus dengan faktor ekonomi kerana kehidupan sosial manusia tidak akan bertahan lebih lama melainkan manusia menghasilkan barang atau produk untuk memenuhi keperluan hidup dan masyarakat sekelilingnya. Marx mengakui bahawa manusia lahir dalam era zaman

(21)

yang berbeda-beda. Justru itu, cara dan hubungan pengeluaran turut melalui tahap perkembangan kuasa-kuasa produksi material yang berbeda-beda.

Setiap cara pengeluaran digambarkan dengan penguasaan kuasa produktif yang khusus dan satu bentuk hubungan sosial yang awalnya berfungsi untuk membangunkan kuasa tersebut. Aspek utama dalam hubungan tersebut adalah hubungan harta yang akan mewujudkan kelas-kelas sosial. Lantaran itu, muncul dua kelas utama berasaskan jenis-jenis harta yang mempengaruhi pengeluaran keperluan hidup. Satu kelas akan menguasai harta tersebut, manakala kelas lagi satu pula digunakan untuk menghasilkan kekayaan dari pada harta tersebut. Marx telah mengemukakan lima tahap cara pengeluaran yang berbeda-beda di mana setiap masyarakat perlu merentasinya yaitu tahap Komunis Primitif, Perhambaan Kuno (Classical Slavery), Feudalisme, Kapitalisme dan Komunisme. Walau bagaimanapun, pembangunan dan kemajuan terhadap cara dan hubungan pengeluaran turut menyumbang usaha ke arah memacu daya inovasi dan kreativitas manusia melalui penemuan baru seperti penggunaan mesin uap, pembinaan kapal layar dan sebagainya. Cuma bagi Marx, keadaan tersebut akan menambah tekanan terhadap cara pengeluaran sedia ada kerana sejarah perubahan yang berlaku akan mewujudkan perjuangan kelas yaitu penentangan satu kelas ke atas satu kelas yang lain. Kesannya berlaku revolusi yang akan mewujudkan tahap baru bagi sejarah. Lantaran itu, kemuculan tahap baru akan melahirkan kelas atasan baru (new ruling class) yang akan menentang kelas bawahan yang terdiri dari kelas buruh dan petani. Maka tidak heranlah jika kita meletakkan cara pengeluaran sebagai perintis terhadap kewujudan kelas sosial, (Ismail dan Basir, 2012)

(22)

Mengenai kelas atau kelompok yang berkuasa dan dikuasai. Mosca dalam (Dariyadi. 2014), menjelaskan, kelas pertama (berkuasa) biasanya terdiri dari orang-orang yang sedikit jumlahnya, menerapkan semua fungsi-fungsi politik, memonopoli kekuasaan dengan menikmati segala keuntungan dari kedudukan sebagai pemegang kekuasaan. Kelas yang kedua (dikuasai), terdiri dari lebih banyak orang, diarahkan dan dikendalikan oleh kelas pertama, dengan cara-cara kurang lebih legal, sewenang-wenang atau dengan kekerasan. Kelas kedua tersebut menyediakan sarana untuk dapat hidup dan bertahan, serta hal-hal lainnya yang sangat penting bagi organisme politik, (Dariyadi, 2014)

Sementara Weber (Johnson), dalam (Dariyadi, 2014) mengakui pentingnya stratifikasi ekonomi sebagai dasar yang fundamental untuk kelas, selain prestise dan kekuasan politik. Kelas sosial terdiri dari semua mereka yang memiliki kesempatan hidup yang sama dalam bidang ekonomi. Weber menyatakan bahwa, jika ingin berbicara tentang suatu kelas, tidak mungkin terlepas dari pembicaraan tentang: 1) sejumlah orang yang sama–sama memilliki suatu komponen tertentu yang merupakan sumber dalam kesempatan hidup mereka, 2) komponen ini secara eksklusif tercermin dalam kepentingan ekonomi berupa pemilikan benda-benda dan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh pendapatan, 3) hal itu terlihat dalam kondisi-kondisi komoditi atau pasar tenaga kerja.

Tidak seperti kelas ekonomi, kelompok (kelas) status berlandaskan pada ikatan subyektif antara para anggotanya, yang terikat menjadi satu karena gaya hidup yang sama, nilai serta kebiasaan yang sama, dan sering pula oleh perkawinan di dalam kelompok itu sendiri, serta oleh perasaan-perasaan akan jarak sosial dari kelompok-kelompok status lainnya. Mereka saling mengenal dan

(23)

menyebut masing-masing sebagai “orang kita” dan berjuang mempertahankan perasaan superioritas terhadap mereka yang tidak termasuk dalam lingkaran, (Dariyadi, 2014).

Selain posisi ekonomis dan kehormatan kelompok status, dasar yang lain untuk stratifikasi sosial adalah kekuasaan politik. Bagi Weber kekuasaan adalah kemampuan untuk memaksakan kehendak seseorang meskipun mendapat tantangan dari orang lain. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengatasi perlawanan dari orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan seseorang, khususnya dalam mempengaruhi perilaku. Kekuasaan tersebut digunakan terus-menerus untuk menanamkan suatu kepercayaan akan haknya untuk berbuat demikian, berusaha untuk menegakkan legitimasi kekuasaan sebagai batu loncatan bagi peningkatan posisi ekonomi atau status, (Dariyadi, 2014).

Menurut kaum Marxis, kelas penguasa ketika berkuasa tidak mutlak membuat semua keputusan bagi masyarakat sebagai suatu unit yang kompak.

Kekuasaan kelas penguasa dilaksanakan melalui seperangkat mekanisme yang secara obyektif saling berkaitan tetapi tidak harus menyatu secara pribadi. Melalui cara ini, teknik eksploitasi yang ada direproduksi. Kelas penguasa bukanlah suatu subyek kekuasaan yang bersatu. Kekuasaan diwujudkan dalam suatu proses sosial yang obyektif, yang memelihara dan memperluas cara produksi tertentu serta dijamin oleh pemerintah atau negara, (Fahriza, 2005).

Negara, menurut Offe dan Range, tidak memajukan kepentingan tertentu dan tidak beraliansi dengan kelas tertentu. Sebaliknya, yang dilindungi dan dimajukan oleh negara adalah seperangkat peraturan dan hubungan sosial yang dianggap tercakup dalam kekuasaan kelas kapitalis. Negara tidak membela

(24)

kepentingan satu kelas tertentu, tetapi kepentingan bersama semua anggota masyarakat kelas kapitalis, yang disebut sebagai alat kekuasaan, (Dariyadi, 2014).

Marx membagi fungi negara atas tiga bagian, Pertama, negara adalah alat untuk menjamin kedudukan kelas atas, yang fungsinya secara politik meredam usaha-usaha kelas bawah untuk membebaskan diri dari penghisapan kelas atas.

Sedangkan pandangan moral, filsafat, hukum, agama, estetika, berfungsi untuk memberikan legitimasi pada hubungan kekuasaan itu. Kedua, negara merupakan ekspresi politik dari suatu struktur kelas yang melekat dalam produksi. Artinya, sebagai masyarakat yang terdiri dari kelas, negara adalah ekspresi politik dari kelas dominan itu, yang dikenal dengan istilah borjuis. Ketiga, negara dalam masyarakat borjuis merupakan senjata represif dari kaum borjuis, negara adalah aparatus kekerasan dari kelas dominan untuk menjaga pertentangan kelas. Lain halnya Gramsci dalam (Patria dan Arief, 2003), ia menyatakan bahwa kelas social akan memperoleh keunggulan (supremasi) melalui dua cara, yaitu: melalui cara dominasi (dominio) atau paksaan (coercion) dan melalui kepemimpinan intelektual dan moral, yang disebut dengan hegemoni-hegemoni, (Patria dan Arief, 2003).

Hegemoni merupakan konsep dari realitas yang menyebar melalui masyarakat dalam sebuah lembaga dan manifestasi perseorangan, pengaruh dari jiwa ini membentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik, dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual dan hal-hal yang menunjukkan pada moral.

Upaya untuk menggiring individu agar menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang telah ditentukan, sebuah rantai kemenangan yang didapat melalui mekanisme konsensus dengan mekanisme institusi yang ada di

(25)

masyarakat. Perlu untuk diingat, bahwa Gramsci dalam (Patria dan Arief, 2003), beranggapan hegemoni bukan hanya kepemimpinan intelektual dan moral saja tanpa diikuti praktek dominasi atau paksaan. Akan tetapi dapat terjadi sebagai kepemimpinan intelektual dan moral sekaligus diiringi dengan praktek dominasi atau paksaan, (Patria dan Arief, 2003).

Berkaitan dengan kekuasaan, Lord Acton dalam (Dariyadi, Wahib. 2014), melihat kekuasaan cenderung busuk dan menjadi kekuasaan mutlak. Sedangkan Galtung menyatakan bahwa kekuasaan dibangun dalam relasi yang tidak seimbang, dimana perbedaan antara otoritas atau wewenang dengan kekuasaan penting, kekuasaan cenderung menaruh kepercayaan pada kekuatan, sedangkan otoritas adalah kekuasaan yang dilegitimasikan, dan sering diartikan sebagai dominasi, (Dariyadi, 2014).

Mengenai kekuasaan, Tawney, berpendapat bahwa: Kekuasaan diartikan sebagai kemampuan individu atau kelompok individu untuk membatasi keinginan kelompok lain, dan mencegah keinginannya dikuasai oleh kelompok lain tersebut.

Kekuasaan selalu ambigu, mempesona sekaligus menakutkan. Mempesona kerena berhadapan dengan seorang penguasa (raja, presiden, perdana menteri) yang berkharisma besar, berpenampilan memikat, dan dengan kharismanya itu, ia dapat mengatur dan mengendalikan chaos. Sementara di lain pihak, menakutkan karena kekuasaan cenderung busuk, disalahgunakan untuk menindas rakyat, merampas kebebasan dan kehidupan mereka. Kekuasaan ini sudah mutlak menjadi tujuan pada dirinya sendiri, tidak lagi menjadi sarana untuk mencapai tujuan-tujuan bersama, (Fahriza, 2005)

(26)

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk-bentuk kekuasaan tampak dalam pengaruh, kharisma, kepemimpinan atau wewenang, kekuasan merupakan bagian setiap orang, entah sebagai orang tua, guru, buruh, warga negara, tetangga, rakyat, ataupun presiden. Kekuasaan selalu ada di mana-mana, kekuasaan hadir disaat manusia melakukan interaksi sosial dengan sesame. Menurut David, kekuasaan adalah kemampuan atau wewenang untuk menguasai orang lain, memaksa, dan mengendalikan mereka sampai mereka patuh, mencampuri kebebasan dan memaksakan tindakan dengan cara-cara khusus. Kekuasaan yang didapat oleh seseorang atau kelompok yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan bersama, tetapi kenyataannya kekuasaan tersebut malah digunakan untuk memuaskan tujuan sendiri, (Dariyadi, 2014)

Menurut Galtung, kekuasaan merupakan konsep yang paling dasar yang mendasari relasi-relasi sosial. Kekuasaan terjadi dalam pola-pola relasi antar manusia atau negara. Relasi kekuasaan yang tidak seimbang, yang eksploitatif dan represif. Konsep yang dipersoalkan oleh Galtung bukanlah segala macam kekuasaan, bukan pula kekuasaan politik dengan otoritasnya, tetapi kekuasaan yang dibangun dalam suatu relasi yang tidak seimbang.

Galtung dalam (Dariyadi, 2014), membagi tiga sumber kekuasaan. Pertama, kekuasaan yang diperoleh karena pembawaan sejak lahir, seperti seorang raja yang kharismatik. Kedua, kekuasaan yang diperoleh karena memiliki sumber- sumber kemakmuran, seperti kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Dan ketiga, kekuasaan yang diperoleh karena kedudukannya dalam suatu struktur, seperti halnya seorang presiden.

(27)

Sedangkan sumber-sumber kekuatan yang sering digunakan oleh kelas penguasa, Widyaningrum dalam Fahriza (2005) mengemukakan sebagai berikut:

1. Kekuatan dari kebijakan negara, adanya kebijakan-kebijakan yang memberikan privilege pada sekelompok aktor untuk melakukan monopoli.

2. Kekuatan dari aparat keamanan, terjadinya penyelewengan fungsi-fungsi institusi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan dalam masyarakat.

3. Kekuatan informasi dan modal, penguasaan dan penutupan akses terhadap informasi dan modal menjadi salah satu sumber kekuatan pelaku-pelaku eksploitasi.

B. Setting Proses Politik Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Kebijakan pemanfaatan sumber daya alam selalu mengandung dimensi sosial, politik dan ekonomi yang luas dan komplek karena terkait dengan sistem penopang kehidupan dan ketercukupan kebutuhan dasar masyarakat.

Sumber daya air, yang sejak lama menopang jaminan kehidupan sosial masyarakat, kini dihadapkan pada fenomena komodifikasi air yang mentransformasi air secara ekonomis. Oleh karena itu akses atas sumber mata air kedepan akan dihadapkan dengan persoalan siapa yang akan diuntungkan dan dirugikan di dalam kebijakan pengelolaan air. Secara praktis, pelekatan nilai ekonomis melalui privatisasi dewasa ini pada gilirannya akan semakin menurunkan akses dan kedaulatan rakyat. Dengan begitu, maka menjadi jelas bahwa kebijakan pengaturan sumber air akan membawa dampak sosial yang mengikutinya. Misalnya perubahan orientasi, kompleksitas persoalan dan konflik atas jaminan sosial yang semakin menipis (Endaryanta, 2007).

(28)

1. Perubahan kebijakan pengaturan sumber daya air yang diawali dengan peralihan guna uasaha membawa perubahan otoritas dari Negara ke swasta.

Perubahan ini membawa implikasi serius dimana perangkat hak guna usaha menjadi pintu akses bagi kekuatan kapital besar, dalam hal ini kapital asing.

Inisiatif dan otoritas hak guna usaha sumber daya air, yang semula menjadi barang publik, akan mendorong pola-pola kekuasaan didalam masyarakat.

2. Kompleksitas, dalam konteks ini, varian aktor dominan dan kultur sosial yang terbangun dalam pemakaian dan pemanfaatan sumber daya air merupakan persoalan yang kompleks. Sumber air yang mengalir dan menjadi sumber kesuburan tanah dan telah mendorong sistem sosial pedesaan selama berpuluh-puluh tahun memberikan pemahaman secara luas bahwa sumber air ternyata memiliki nilai sosial kultur yang lebih luas ketimbnag nilai ekonomis semata. Keterlibatan aktor-aktor ekonomi dan politik yang dipersentasikan oleh bisnis, serta pilihan orientasi pertumbuhan ekonomi daerah meletakkan sebuah kerangka politik dan membawa perubahan terhadap pemahaman dan pengaturan sumber air dalam masa berikutnya.

3. Konflik, permasalahan pengaturan sumber air yang diprivatisasikan membuka kelangkaan akses, kesenjangan antar daerah, mereduksi otoritas publik, serta marginalisasi dan eksploitasi yang berlebihan terhadap jaminan sosial rakyat.

Hal ini berpotensi membawa konflik serta pergesaran struktural didalam masyarakat. Dalam konteks yang ekstrim proses penjajahan ekonomi terbangun ketika hak rakyat atas ketercukupan air didalam menopang kebutuhan dasar mulai disingkirkan. Dalam kondisi ini konflik dengan berbagai varian akan muncul (Endaryanta, 2007).

(29)

Faktor yang mempengaruhi munculnya kebijakan pengelolaan air, dan menjadi penguat dalam beberapa segi pola dan orientasi pembangunan, adalah kondisi struktural dalam birokrasi dan legislatif. Kedua kompenen ini memiliki karakter yang berbeda dan seringkali dipertentangkan, atau justru disatukan dalam sebuah locus untuk memahami dimana letak orientasi dan kekuatan sebenarnya dari sebuah kebijakan. Kuatnya pengaruh eksekutif, dalam hal ini dalam birokrasi, akan memberi implikasi pada karakter modal kebijakan; demikian pula dengan legislatif, (Endrayanta, 2007).

C. Konsep Public dan Private Goods

1. Dinamika Konsep Public Goods dan Private Goods

Public, sering dipakai dalam banyak istilah dan terkadang tidak membedakan dimensi lingkungan dan waktu. public goods, collective goods dan

”kepentingan nasional” adalah istilah yang sering menjadi justifikasi dan manipulasi bagi elit politik nasional dalam mencapai tujuannya sendiri. Bahkan menyusun pemerintahan yang berdifat predatory (Sargeson, 2002).

Konsep public goods dan private goods adalah dua konsep yang berkembang dalam wilayah pengaturan sumber daya yang boleh dan tidak untuk diakses oleh pasar atau kepentingan bisnis. Dua hal ini merupakan dua hal yang saling kontras (Endaryanta, 2007).

Private goods berkembang pesat dan menemukan akselerasinya dalam perkembanagan industry monopoli semenjak revolusi Inggris, revolusi Prancis dan terakhir adalah revolusi teknilogi di Amerika Serikat. Perkembnagan tersebut membawa implikasi bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai dengan

(30)

memberikan ruang sebebas-bebasnya bagi pasar untuk bertindak dan menentukakan keputusan politik.

Demokrasi politik (semenjak revolusi Prancis) membawa pelibatan bagi warga negara sebagai entitas dari sumber kekuatan politik dan unsur vital dalam persetujuan dalam negara untuk melegitimasi aturan hukum, mengganti dominasi kerajaan. Sedangkan kosep tentang public sudah ada semenjak abad pertengahan dan mendahului kelahiran dari negara-bangsa.

Konsep public goods lebih banyak merujuk pada filsafat politik Hobbes tentang perdamaian (peace), seperti dikatakan Hobbes dalam (Endaryanta, 2007), hanya mampu diwujudkan dalam bentuk kontrak sosial.

Historistitas konsep ini berakar pada abad pertengahan dan menjadi pilar pokok dalam perkembangan berikutnya sebagai “rasionalitas kehadiran Negara”.

Mengikuti pendapat Olson dan Scmidtz dalam (Endaryanta, 2007), yang menyatakan bahwa negara adalah organisasi pertama dan utama yang diperbolehkan untuk memproduksi public goods untuk kalangannya. Menjadi

“Good” jika diselenggarakan collective action. Pentingnya collective actions dalam pengaturan public goods adalah untuk mendukung kebutuhan dari perjalanan kepentingan nasional ini. Masyarakat tidak bisa bekerjasama dengan sukses tanpa merealisasikan kepentingan bersama dan realisasi ini menjadi eksistensi dari hadirnya pemerintah.

Oleh karenanya konsep public goods ini diidentik dalam perwujudan atau pengejaran tercapainya common good atau kebijakan umum oleh negara. Dimensi ini menjadi dasar dari keberadaan negara dalam merancang public policy yang ditujukan untuk pengejaran kepentingan umum. Konsep public goods diatas

(31)

merefleksikan eksistensi dan perkembangan dari negara-bangsa, dan penjelas bagi keberadaan lembaga instrumentasi dari negara serta menjadi titik pijak penting bagi kedaulatan dari negara (Priyono, 2004).

2. Sumber Daya Air dalam Konsep Collective Goods

Perbedaan public goods dan private goods menempatkan proporsi pengaturan sumber daya sistem politik dalam relasinya negara dan pasar. Konsep diatas membantu kita dalam meletakkan dan melihat sumber daya air dalam perjalanan dominasi pasar. Laju liberalisasi modal, membawa pengertian dari public goods-konsep yang awalnya sangat longgar mulai menyempit oleh dominasi liberalisasi pasar.

Dalam pola pengelolaan sumber air, frame neo-liberalisme memberikan ruang yang longgar bagi swasta untuk menambah jaminan sosial kehidupan masyarakat kecil. Dikatakan oleh Shiva dalam (Endaryanta, 2004), liberalism berangkat dari doktrin “siapa cepat pasti cepat dapat”. Berkembangnya prinsip ini menguntungkan birokrasi dan lembaga komersial. Belajar dari perkembangan proyek-proyek sumber daya air yang didanai bank dunia di India, Shiva dalam (Endaryanta, 2004), mengutarakan bahwa, kontrol pemerintah terhadap sumber daya alam difasilitasi oleh proyek air raksasa dari bank dunia. Perangkat ini diciptakan untuk mengalihkan control akses air dari komunitas kepemerintah pusat serta mengklonialisasikan sungai dan rakyat. Masa revolusi hijau, bendungan dipaksakan kepada dunia ke-tiga mulai prasyarat hutang yang sebagian besar dibuat di korps angkatan darat Amerika Serikat ditahun 1965 melalui

“program air untuk perdamaian”.”air untuk perdamaian” ini sekarang diganti oleh perusahaan raksasa air.

(32)

Air pada awalnya adalah collective goods. Proporsi ini didasarkan pada argumentasi yang disampaikan oleh Sargeson, menurutnya, sifat dari barang bersama atau collective goods memiliki beberapa bentuk, pertama, adalah dibedakan dari tingkat penyediaan dan penggunaan, dirancang dalam usaha bersama dan umumnya tidak diberi nilai ekonomis seperti dalam pasar. Kedua, diproduksi secara sukarela oleh negara, organisasi kemasyarakatan atau proses pewarisan nilai atau regenerasi secara turun-temurun yang ditujukan secara ideologis atau dibentuk kebiasaan secara praktis. Ketiga, non excludability dan non rivalry. (Sargeson, 2002).

3. Air sebagai Collective Goods dalam arena privatisasi

Dinamika globalisasi neo liberal tidak dipungkiri merambah dan menjadi agenda sangat menentukan dalam dominan pengelolaan sumber air di banyak negara-bangsa. World Water Forum bulan Maret tahun 2002, dihadiri oleh 140 wakil pemerintah setingkat menteri atau pejabat senior pemerintah merekomendasikan desain baru tentang pengelolaan sumber daya air.

(Endrayanta, 2007).

Deklarasi ini dikenal dengan “air sebagai kebutuhan”. Oleh karenanya, membutuhkan pemisahan pengelolaan air tersendiri, dipisahkan dari tanah dan kepemilikan kolektif yang selama ini berjalan. Penyediaan kebutuhan air menjadi jargon yang diimplementasikan dalam corak mekanisme pasar. Melalui cara ini perusahaan memiliki hak untuk memproduksi dan mendistribusikan air sebagai pencukupan kebutuhan. (Barlow, 2002).

Kebijakan mengenai pengaturan air telah disetujui pula oleh perwakilan- perwakilan pemeritah serta agen khusus PBB. Pertemuan World Forum ke II yang

(33)

diselenggarakan bank dunia untuk masalah air di Kyoto (perwakilan pemerintah, PBB serta perusahaan multi nasional) mengajukan prinsip yang kemudian disepakati oleh para pelaku ekonomi dan sosial didalam pertemuan itu.

Prinsip ini membuat beberapa hal. Pertama, air haruslah dipertimbangkan sebagai sumber daya ekonomi. Air dapat dijual, dibeli maupun dijadikan alat pertukaran seperti halnya minyak atau jagung. Kedua, air bagi makhluk hidup merupakan kebutuhan dan bukan sekedar hak. Manusia hanayalah sebagai pengguna barang atau jasa (air) yang seharusnya dapat dijangkau dengan mekanisme pasar. Ketiga, air haruslah diperlakukan sebagai barang yang berharga, yang mana ketersediaannya semakin berkurang sehingga membutuhkan langkah-langkah penting untuk menyikapinya.

Rekomendasi tersebut diimplementasikan disetiap negara-bangsa dalam wujud kebijakan politik privatisasi dengan beberapa arahan. Pertma, privatisasi air harus berdasarkan kerja sama swasta dan umum. Kedua, pemberian prioritas (pengelolaan) kepada swasta. Ketiga, pembebasan, deregulasi maupun privatisasi harus berdasarkan prinsip-prinsip yang telah disyaratkan World Bank dan IMF dan keempat, tindakan atas pemanfaatan sumber air yang belum dieksploitasi.

(Erwin Endrayanta, 2007).

D. Konsep Resolusi Konflik

Konflik merupakan faktor yang turut membangun perkembangan masyarakat. Konflik akan bisa membangun solidaritas kelompok dan hubungan antar warga negara maupun antar kelompok. Konflik tidak bisa dihindari oleh setiap aktor, namun yang paling penting adalah cara untuk menyelesaikan konflik agar ancaman (threat) bisa menjadi kesempatan (oppurtunity ) dan bahaya

(34)

timbulnya konflik terbuka secara meluas dilokalisasi dengan membangun suatu model pencegahan dan penanggulangan dini. (Sihbudi dan Nurhasim, ed., 2001).

Suatu kebiasaan khas dalam konflik adalah memberikan prioritas yang tinggi guna mempertahankan kepentingan pihaknya sendiri. Jika kepentingan si A bertentangan dengan kepentingan B, A cenderung mengabaikan kepentingan B, atau secara aktif menghancurkannya, pihak–pihak yang berkonflik biasanya cenderung melihat kepentingan mereka sebagai kepentingan yang bertentangan secara diametrikal, oleh karena itu berkesimpulannya bahwa hasil yang diperoleh adalah hasil kalah-menang. Oleh karena itu perlu diadakan suatu peraturan pertentangan yang mensyaratkan tiga faktor. Pertama, kedua kelompok yang terlibat dalam pertentangan harus mengakui pentingnya dan nyatanya situasi pertentangan dan dalam hal ini, mengakui keadilan fundamental dari maksud pihak lawan. (Miall dkk, 2002)

Pengakuan adilnya maksud lawan tentu saja bukan berarti bahwa subtansi kepentingan lawan harus diakui sebagai adil dari awal. Pengakuan di sini berarti bahwa kedua kelompok yang bertentangan menerima untuk apa pertentangan itu, yakni menerimanya sebagai suatu hasil pertumbuhan yang tak terelakkan. Syarat kedua, adalah organisasi kelompok-kelompok ke pentingan. Selama kekuatan- kekuatan yang bertentangan itu terpencar-pencar dalam kesatuan yang kecil yang masing-masing erat ikatannya, peraturan pertentangan tidak akan efektif. Dan ketiga, adanya keharusan bagi kelompok-kelompok yang berlawanan dalam pertentangan sosial menyetujui aturan formal tertentu yang menyediakan kerangka hubungan bagi mereka.

(35)

Berdasarkan buku panduan pengelolaan konflik, Menurut The British Council dalam (Baiquni, dan Rijanta, 2015), bahwa penyelesaian suatu konflik yang terjadi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

1. Negosiasi, suatu proses untuk memungkinkan pihak-pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan pilihan dan mencapai penyelesaian melalui interaksi tatap muka.

2. Mediasi, suatu proses interaksi yang dibantu oleh pihak ketiga sehingga pihak-pihak yang berkonflik menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sendiri.

3. Arbitrasi atau perwalian dalam sengketa, tindakan oleh pihak ketiga yang diberi wewenang untuk memutuskan dan menjalankan suatu penyelesaian.

Secara tradisional, tugas penyelesaian konflik adalah membantu pihak-pihak yang merasakan situasi yang mereka alami sebagai sebuah situasi zero–sum (keuntungan diri sendiri adalah kerugian pihak lain). Agar melihat konflik sebagai keadaan non-zero-sum (di mana kedua belah pihak dapat memperoleh hasil atau keduanya sama-sama tidak memperoleh hasil) dan kemudian membantu pihak- pihak yang berkonflik berpindah ke arah hasil yang positif, oleh karena itu untuk menciptakan hasil non-zero-sum diwajibkan akan adanya pihak yang berfungsi menyelesaikan konflik. (Miall dkk, 2002).

Pola penyelesaian konflik mengacu pada pendekatan manajemen konflik politik dan teori strukturalis semi otonom. Kedua paradigma ini melihat keterlibatan negara (pemerintah) sebagai penengah munculnya konflik yang terjadi dalam masyarakat. Negara memainkan peran dalam mengelola konflik

(36)

yang terjadi di masyarakat sehingga dapat ditransformasikan menjadi consensus, (Purnamsari, 2012).

Sementara teori strukturalis semi otonom mempersepsikan negara sebagai lembaga politik yang lebih otonom. Negara dianggap lebih berperan sebagai penengah konflik antara berbagai kelompok kepentingan sehingga pembangunan (kebijakan) dipandang sebagai upaya untuk menengahi konflik yang terjadi, (Purnamsari, 2012).

Negara dalam kedua terminologi tersebut dipersonifikasikan baik secara individual maupun lembaga. Nordlinger melihat negara secara subyektif atau dalam perangkat analisis individual, yaitu individu yang menduduki posisi yang memiliki kewenangan membuat dan melaksanakan keputusan yang mengikat semua pihak yang ada di wilayah tertentu. Termasuk dalam kategori ini adalah presiden, menteri, dan para kepala daerah. Sementara Kresner dan Scotpol melihat negara dalam arti lembaga dan individu, seperti Mahkamah Agung (MA), militer, kehakiman, dan lain- lain, (Purnamsari, 2012).

Sementara Miall membedakan pihak ketiga atas dua, yaitu: arbitrasi dan mediasi. Arbitrasi merupakan penyelesaian konflik oleh pihak ketiga yang memiliki sumber kekuasaan, mampu melakukan tekanan, intervensi terhadap pihak-pihak yang berkonflik agar dapat selesai. Sedangkan mediasi adalah penyelesaian konflik oleh pihak ketiga yang tidak mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menindas pihak-pihak yang berkonflik agar konflik selesai.

Kelompok ketiga ini dikenal dengan istilah penengah atau mediasi, dan arbitrasi atau penghakiman. (Miall, 2002)

(37)

Resolusi konflik merupakan bagian dari perdamaian, yaitu sebagai suatu proses yang berupaya untuk membongkar sumber-sumber kekuasaan yang ada dalam struktur sosial. Upaya resolusi konflik harus ditempatkan dalam ruang gerak siklus konflik agar mendapatkan gambaran komprehensif tentang eskalasi konflik dan mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi dinamika-dinamika konflik yang spesifik, (Kum, 2015).

Negara harus menjadi agen resolusi konflik itu, dalam jangka panjang negara harus menciptakan pembangunan dengan tujuan pada perdamaian yang abadi. Lambang Trijono dalam pembangunan sebagai perdamaian menyatakan bahwa negara bisa membuat kebijakan pembangunan yang mencegah konflik dan mendorong perdamaian dengan strategi dan prioritas, sebagai berikut.

1. Strategi dan prioritas untuk mencegah skenario terburuk berupa upaya mencegah konflik (conflict prevention).

2. Strategi dan prioritas untuk mentransformaasikan skenario moderat dengan upaya transformasi konflik (conflict transformation).

3. Strategi dan prioritas untuk mendorong terwujudnya skenario terbaik dengan upaya membangun perdamaian (peace building), (Susilo, 2012).

Ada beberapa model resolusi konflik, Galvin dalam (Mulyati, 2012). Model ini dikembangkan dengan pemikiran bahwa terdapat aspek yang menjadi fokus perhatian saat individu mengusahakan tujuannya, yaitu: perhatian pada diri sendiri dan orang lain. Perhatian pada diri sendiri diukur dengan sejauh mana tingkat asertivitas atau agresivitas seseorang. Perhatian terhadap orang lain ditekankan pada tingginya kerjasama.

(38)

Model resolusi konflik ini mengidentifikasi 5 gaya resolusi konflik, yaitu:

competitive style, collaborative style, compromise style, avoidence style dan accomodating style, (Mulyati, 2012).

1. competitive style, pada gaya kompetitif, individu cenderung agresif dan sulit untuk bekerja sama, menggunakan kekuasaan melakukan konfrontasi secara langsung dan berusaha untuk menang tanpa ada keinginan untuk menyesuaikan tujuan dan keinginannya pada orang lain.

2. collaborative style, individu dengan gaya kolaboratif memiliki sifat asertif dan perhatian terhadap orang lain mungkin ia akan kelelahan karena gaya ini membutuhkan enegi yang sangat besar untuk menyelesaikan konflik.

Persoalan lainnya, biasanya gaya ini dilakukan oleh seorang yang powerfull dan kadangkala menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi orang lain.

3. compromise style, gaya kompromi lebih terbuka dibandingkan dengan avoidance, tetapi masalah yang terungkap tidak sebanyak gaya kolabiratif, yang membedakan antara compromise style dengan collaborative style adalah waktu. Gaya yang digunakan compromise style untuk menyelesaikan konflik lebih sedikit, namun solusi yang dihasilkan bisa jadi bukan solusi yang terbaik untuk semua pihak.

4. avoidence style, ciri utama gaya ini adalah perilaku yang tidak asertif dan fasif. Biasanya mereka mengalihkan perhatian dari konflik atau justru menghindari konflik. Kelebihan dari gaya ini adalah memberikan waktu untuk berfikir pada masing-masing pihak, apakah ada kemauan dari diri atau pihak lain untuk menangani situasi dengan cara yang lebih baik.

(39)

5. accomodating style, ditandai dengan perilaku non asertif namun kooperatif.

Individu cenderung mengesampingkan keinginan pribadi dan berusaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan orang lain.

Konflik air, sebenarnya bukan sesuatu yang baru di negri ini. Namun demikian, sejak kapan fenomena tersebut terjadi tidaklah terlalu jelas. Sumber pustaka yang membicarakan mengenai hal ini juga sulit didapatkan.

Kalau kita memperhatikan beberapa kasus mengenai konflik air, sepertinya hanya terjadi dilingkungan petani sehingga tidak serumit yang terjadi sekarang ini.

Konflik air mungkin hanya terjadi di kalangan para petani dan itupun sebatas kepentingan irigasi atau untuk kepentingan penggarapan lahan pertanian. Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perkembangan peradaban manusia, pemanfaatan sumber air juga berkembang, bukan saja untuk kepentingan irigasi.

Indonesia sejak tahun 1990-an, sejak industri-industri yang berteknologi mesin mulai didirikan, air juga digunakan untuk keperluan industri sebagai pendingin mesin. Sejak itu, eskalasi konflik air mulai meluas, bukan saja antar petani, melainkan melibatkan banyak pihak. Konflik air juga sering terjadi dalam lingkup pengadaan air bersih yang melibatkan: (1) masyarakat sekitar, yaitu petani atau masyarakat pemakai air, (2) pemerintah selaku pemegang otoritas eksploitasi sumber air, (3) pelaku bisnis, dan (4) organisasi-organisasi social yang mempunyai kepedulian terhadap kelestarian sumber air. Konfliknya Jika digambarkan dalam bentuk diagram sederhana, maka jaringan konflik air tersebut adalah sebagai berikut:

(40)

Sumber: Mardimin, 2015

Dalam konteks pengelolaan sumber air, yang dimaksud masyarakat adalah para petani sawah yang menggunakan air dari sumber air yang menjadi arena konflik untuk irigasi. Pemerintah adalah lembaga publik yang bukan hanya member pelayanan kepada masyarakat secara non-profit, tetapi juga mempunyai otoritas atas eksploitasi sumber air. Lembaga ini juga berwenang untuk melakukan intervensi kepada masyarakat pemakai air maupun terhadap kinerja para pelaku bisnis melalui peraturan perundang-undangan. Para Pelaku Bisnis/Semi Bisnis adalah pelaku kegiatan ekonomi yang terkait dengan eksploitasi sumber air dan beriorentasi profit. Sementara itu, yang dimaksud dengan Institusi Sosial, sebagaimana dikemukakan daiatas adalah organisasi- organisasi sosial yang mempunyai kepedulian terhadap kelestarian sumber air maupun kepedulian terhadap petani pemakai air.

Resolusi konflik yang sering diterapkkan khususnya konflik yang melibatkan beberapa stakeholder ialah resolusi konflik yang dikemukaan oleh The British Counsil dalam (Baiquni dan Rijanta, (2015) yakni penyelesaian konflik

Masyarakat Pemakai Air

Pemerintah/BWSS Pelaku Bisnis/Semi Bisnis

(PDAM) Institusi Sosial

Diagram Jaringan konflik Air

(41)

dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu (1) Negosiasi, (2) Mediasi dan (3) Arbitrasi atau perwalian. Pendekatan tersebut dianggap sebagai pendekatan alternatif yang sekarang banyak dianut untuk penyelesaian konflik.

Pendekatan resolusi konflik alternatif seperti ini semakin banyak digunakan diberbagai belahan dunia. Keunggulan pendekatan ini dibandingkan pendekatan- pendekatan politik , administrasi maupun judisial adalah sifat-sifatnya yang persuasif, fleksibel, lebih efektif, dapat mencapai komitmen yang lebih baik untuk penyelesaian jangka panjang dan sangat potensial memfasilitasi terbentuknya saling kesepahaman antar pihak yang berkonflik. Metode penyelesaian konflik dapat dilihat pada tabel berikut:

Perbadingan antara Negosiasi, Mediasi dan Arbitrasi

Negosiasi Mediasi Arbitrasi

Pembicaraan langsung antar dua atau lebih pihak yang berkonflik

Ada bantuan pihak lain (bukan pembuat keputusan) untuk membantu

penyelesaian konflik

Ada bantuan pihak lain yang akan membuat keputusan

• Consensus dikehendaki

• Konflik

diselesaikan sendiri oleh pihak yang berkonflik

• Consensus dikehendaki

• Fokus pada isu konflik

• Consensus tidak selalu dikehendaki

• Pihak yang bertikai menyajikan

argument Proses yang sukarela dan

terbuka

Proses yang sukarela dan menuju consensus

Hasilnya dapat mengikat atau tidak mengingat Sumber:Baiquni, 2015

E. Kerangka Fikir

Mosca dalam karyanya The Rulling Class dalam (Fahriza, 2005) menyatakan, dalam setiap masyarakat, terdapat dua kelas penduduk. Satu kelas yang menguasai dan satu kelas yang dikuasai. Kelas pertama yang jumlahnya selalu lebih kecil, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan, dan

(42)

menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu, sedangkan kelas kedua, yang jumlahnya jauh lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas pertama.

Menurut Sastroatmodjo dalam (Fahriza, 2005). Pandangan ini menekankan, bahwa dalam masyarakat terdapat dua kelas yang menonjol, yaitu kelas yang memerintah dan yang diperintah. Kelas pertama yang menguasai fungsi politik, yakni monopoli kekuasaan sekaligus menguasai hasil-hasilnya. Kelas kedua sebaliknya, mereka yang jumlahnya besar tetapi tidak mempunyai kekuasaan atau fungsi politik, mereka diarahkan dan dikendalikan oleh kelas pertama dengan cara-cara tertentu (Fahriza, 2005).

Marx mendefinisikan kelas sebagai kelompok individu atau kelompok ke satuan sosial yang pada dasarnya bukan ditentukan semata-mata oleh tempatnya dalam proses produksi. Tetapi dari kedudukan ekonomi dapat juga ditentukan kelas sosialnya. Marx menyatakan bahwa penyebab penguasaan kelas tertentu terhadap kelas lainnya dikarenakan oleh hubungan produksi yang tidak seimbang (surplus value) dalam suatu hubungan produksi yang kapitalistik. Ekonomi politik merupakan penekanan khusus yang dibicarakan Marx dalam pertentangan ini.

Marx menganggap perbincangan mengenai modal dan kerja, dan antara modal dan tanah perlu dijelaskan secara rinci, yang belum pernah disinggung dalam setiap perbincangan mengenai ekonomi dan politik, (Kum, 2015)

(43)

Bagan Kerangka Fikir

F. Fokus Penelitian

1. Politik penguasaan air bersih, bentuk dan sumber penguasaan di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

2. Resolusi konflik yang diupayakan dalam konflik pengadaan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH

Bentuk/sumber penguasaan 1. Kekuatan dari kebijakan Negara 2. Kekuatan dari aparat keamanan 3. Kekuatan informasi dan modal

Resolusi konflik 1. Negosiasi 2. Mediasi

3. Arbitrasi atau perwalian Pemerintah

(Kelompok Penguasa)

Masyrakat

(kelompok di Kuasai)

KOMPROMI POLITIK

PEMANFAATAN AIR BERSIH

(44)

G. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Kekuatan dari kebijakan negara, adanya kebijakan-kebijakan yang memberikan privilege pada sekelompok aktor untuk melakukan monopoli.

2. Kekuatan dari aparat keamanan, terjadinya penyelewengan fungsifungsi institusi yang seharusnya menjaga aturan main dan keamanan dalam masyarakat.

3. Kekuatan informasi dan modal, penguasaan dan penutupan akses terhadap informasi dan modal menjadi salah satu sumber kekuatan pelaku-pelaku eksploitasi.

4. Negosiasi, suatu proses untuk memungkinkan pihak-pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan pilihan dan mencapai penyelesaian melalui interaksi tatap muka.

5. Mediasi, suatu proses interaksi yang dibantu oleh pihak ketiga sehingga pihak- pihak yang berkonflik menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sendiri.

6. Arbitrasi atau perwalian dalam sengketa, tindakan oleh pihak ketiga yang diberi wewenang untuk memutuskan dan menjalankan suatu penyelesaian.

7. Kompromi politik pemanfaatan air bersih, ialah kesepakatan antara masyarakat petani pengguna air dengan pihak pemerintah. Kesepatan tersebut merupakan kesepakatan yang diperoleh pada saat upaya yang dilakukan terkait konflik perebutan air bersih. Melalui beberapa upaya resolusi konflik maka pemanfaatan air tersebut diberikan kepada petani untuk irigasi persawahan.

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu penelitian yang di gunakan dalam proses pengumpulan data secara keseluruhan kurang lebih dua bulan setelah seminar proposal.

2. Adapun yang menjadi lokasi penelitian adalah di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman. Dipilihnya lokasi ini karena beberapa pertimbangan, diantaranya: 1) lokasi ini merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan persawahan yang luas dengan mayoritas petani yang memiliki modal ekonomi menengah kebawah, 2) lokasi penelitian berada tidak jauh dari ibu kota Kabupaten Polman sebagai pusat pemerintahan, 3) merupakan pusat persawahan dengan tingkat ekonomi masyrakat, menengah ke bawah sehingga sangat sesuai bagi terjadinya konflik vertical, 4) karena keinginan penulis untuk mengetahui bagaimana proses penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. yakni penelitian kualitatif yang menitik beratkan pada proses pengumpulan data supaya dapat menggambarkan keadaan obyek penelitian apa adanya berdasarkan fakta- fakta yang tampak sebagaimana adanya.

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif, yaitu merupakan penelitian yang menggambarkan meringkas berbagai

35

(46)

kondisi dan situasi yang timbul di lapangan tentang politik penguasaan air bersih pada pengadaan PDAM di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

C. Sumber Data

Sumber data yang dapat digunakan ada dua yaitu:

1. Data primer, adalah data yang penelitiannya dapat secara lansung dari sumbernya yaitu para informan yang menjadi objek penelitian. Peneliti melakukan wawancara untuk mendapatkan hasil atau data yang valid dari informan secara langsung agar dalam menggambarkan hasil penelitian lebih mudah, dan pengamatan di masyarakat. Mengenai politik penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polewali Mandar.

2. Data sekunder, yaitu data pendukung untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi atau pustaka dengan informan guna mengetahui proses penguasaan air bersih di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman.

D. Informan Penelitian

Pemilihan informan yang tepat, akan menjamin validitas data yang didapat dari wawancara. Sebaliknya, pemilihan informan yang salah akan mengakibatkan data yang diperoleh akan samar dan tidak valid. Penelitian ini mengambil beberapa informan tertentu sebagai subyek penelitian yang dianggap mampu mewakili stakeholder yang terlibat dalam konflik pengadaan PDAM di Kecamatan Tpango Kabupaten Polman tersebut.

(47)

Adapun yang akan dijadikan informan penelitian ini diantaranya : Tabel informan penelitian

No Informan Jumlah

1. Kepala Daerah Kabupaten Polman 1 orang

2. Dinas PU Kabupaten Polman 1 orang

3. PDAM Kabupaten Polman 1 orang

4. Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1 orang

5. Masyarakat 5 orang

6. Aliansi Peduli Petani Tapango (APPT) 1 Orang

Jumlah : 10 orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Metode Wawancara :

Peneliti melakukan wawancara langsung terhadap informan yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Wawncara antara peneliti dengan informan secara langsung kemudian mengajukan beberapa pertanyaan yang menjadi inti masalah penelitian kepada informan selanjutnya para informan ini memberika jawaban menurut informan masing-masing. Proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara wawancara dengan informan, dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, hasil Tanya jawab ini dicatat untuk memudahkan penulis dalam tabulasi data.

2. Metode Pengamatan (Observasi)

Observasi dimaksud untuk mengamati data empiris dilapangan serta melakukan pencatatan. Langsung mendatangi lokasi untuk melihat bgaimna

Referensi

Dokumen terkait

yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir ini yang berjudul “ Aplikasi Modem GSM Wavecom pada Rancang

Kabupaten Deli Serdang dari penilaian oleh pengurus HNSI dan dari penilaian oleh nelayan di daerah penelitian. b) Menganalisis perbedaan antara penilaian oleh pengurus

Untuk mengatasi kendala penggunaan simulator di atas, diperlukan alat simulator dengan desain sederhana, praktis untuk membangkitkan tanda vital tubuh manusia

3) Alokasi yang dibutuhkan untuk belajar buku ini sangat relatif singkat. Berbeda dengan buku s}araf yang lain, buku Belajar Tashrif Sistem 20 Jam ini memang disusun dengan

Bapak Obin Naibaho, Bapak Sasnaek Naibaho, Bapak Klaudius Simanjuntak, Bapak Maniur Naibaho yang telah membantu dan mengajari berbagai hal tentang umpasa (pantun) Tintin

Beberapa faktor yang mengakibatkan depresi menurut Hadi (2004) yaitu kehilangan dan reaksi terhadap stres. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang dekat dengan dirinya dapat

Strategi merupakan salah satu cara yang sangat efektif digunakan oleh seorang guru dalam meningkatkan motivasi atau minat belajar siswa, karena dengan adanya strategi yang

Beranjak dari situ, muncul gagasan untuk menelaah lebih jauh wacana tersebut untuk dapat menunjukkan bahwa pakaian juga merupakan salah satu media representasi yang