BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI
C. Internalisasi Nilai
1. Konsepsi Internalisasi Nilai
121
C. Internalisasi Nilai
1. Konsepsi Internalisasi Nilai
Internalisasi merupakan salah satu proses yang seyogyanya terjadi dalam pendidikan nilai. Kata internalisasi sendiri menurut KBBI diartikan “penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin, atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.”222
Internalisasi juga diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat dan seterusnya di dalam kepribadian.223 Titik temu kedua pengertian internalisasi ini terletak pada penghayatan seseorang terhadap suatu kebenaran suatu keyakinan yang diwujudkan dalam tingkah laku, sehingga keyakinan itu menjadi nilai-nilai yang tertanam dalam kepribadiannya.
Berdasarkan arti kata internalisasi di atas, internalisasi nilai sebagaimana diungkapkan E. Mulyasa adalah upaya menghayati dan mendalami nilai, agar tertanam dalam diri setiap manusia.224 Lebih jauh Chabib Thoha menyatakan, internalisasi nilai merupakan teknik dalam pendidikan nilai yang sasarannya adalah sampai pada pemilikan nilai yang menyatu dalam kepribadian peserta didik.225
Dalam kaitan internalisasi moral di pesantren, hal-hal yang dapat dilakukan dengan cara memenuhi unsur-unsur pokok pendidikan Islam.226
222 https://kbbi.web.id/internalisasi (10 Nopember 2017).
223 Pius A. Partanto, dkk, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 1994), 267. 224
E. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 47.
225 Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 87-96. 226 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. 2 (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008), 29.
122
Pada spektrum yang lebih spesifik, internalisasi nilai moral di pesantren berkaitan erat dengan upaya memberlakukan pendidikan akhlak. Perlunya pendidikan akhlak kemudian memunculkan konsepsi ilmu akhlak. Terkait dengan ini, Ahmad Amin menegaskan:
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk. Tetapi tidak semua amal yang baik atau buruk itu dapat dikatakan perbuatan akhlak. Banyak perbuatan yang tidak dapat disebut perbuatan akhlāqi, dan tidak dapat dikatakan baik atau buruk. Perbuatan manusia yang dilakukan tidak atas dasar kemauannya atau pilihannya seperti bernapas, berkedip, berbolak-baliknya hati, dan kaget ketika tiba-tiba terang setelah sebelumnya gelap tidaklah disebut akhlak, karena perbuatan tersebut dilakukan tanpa pilihan.227
Rumusan akhlak Ahmad Amin di atas menegaskan bahwa perbuatan manusia yang terbiasa dilakukan dengan sadar setelah melalui berbagai pertimbangan nilai dapat dikatakan sebagai akhlak. Adapun perbuatan yang biasa dilakukan manusia tetapi tanpa pertimbangan nilai belum dikatakan sebagai akhlak. Dalam pengertian ini pula pendidikan
akhlak diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dalam
mempertimbangkan nilai dalam setiap perbuatan yang dilakukan peserta didik.
Sedangkan objek pembahasan ilmu akhlak, merujuk pendapat Abudin Nata adalah norma dan penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Jika dikatakan baik atau buruk, maka ukurannya adalah ukuran normatif. Jika dikatakan benar atau salah, maka yang seperti
123
itu masalah hitungan atau akal pikiran.228 Rumusan Nata tidak jauh berbeda dari pendapat Ahmad Amin: “Objek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut ditentukan baik atau buruk.” 229
Muhammad al-Ghazali lebih spesifik lagi menegaskan: “Kawasan pembahasan ilmu akhlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.”230
Nata kemudian memberikan batasan, perbuatan yang bersifat alami, dan perbuatan yang dilakukan karena tidak karena sengaja, atau khilaf tidak termasuk perbuatan akhlaki, karena diakukan tidak atas dasar pilihan.231 Dari sini Nata lalu merumuskan ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak, yaitu membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan baik atau perbuatan buruk.232 Dengan demikian, ilmu akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa dan sungguh-sungguh atau sebenarnya, bukan perbuatan yang pura-pura. Perbuatan-perbuatan yang demikian selanjutnya diberi pertimbangan nilai baik atau buruk.
Lebih luas lagi, internalisasi nilai dalam kaitannya dengan pendidikan Islam diarahkan kepada pencapaian karakter dalam kerangka
akhlāq al-karīmah. Muhammad Qutb menyebut akhlāq al-karīmah sebagai
228 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, 7. 229 Ahamd Amin, Kitāb al-Akhlāq, 2. 230
Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, terj. Moh. Rifa’i, judul asli, Khuluq al-Muslim (Semarang: Wicaksana, 1993), cet. IV, 68.
231 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, 9. 232 Ibid., 10.
124
tujuan pendidikan Islam. Menurutnya pendidikan Islam pada hakikatnya adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya, serta segala aktivitasnya; baik berupa aktivitas pribadi maupun hubungannya dengan masyarakat dan lingkungannya, yang didasarkan pada nilai-nilai moral Islam.233 Konsepsi ini mendapat penguatan dari Taufiq al-Thawil. Menurutnya, pada dasarnya manusia makhluk yang bermoral atau beradab, sebagaimana ia diciptakan dengan potensi untuk berbuat baik di kehidupan alam dunia . Manusia dianggap bermoral karena ia mempunyai akal, sementara binatang tidak bermoral karena binatang tidak mempunyai akal; ia hanya mempunyai naluri saja.234
Dalam merumuskan tujuan pendidikan, menurut Qutb Islam hanya berbicara tentang tujuan akhir (umum), yakni untuk membentuk manusia yang baik, bertaqwa dan beribadah kepada Allah SWT. Tetapi ibadah tidak terbatas hanya pada tata cara peribadatan yang telah ditentukan, melainkan mempunyai makna yang lebih menyeluruh dan luas sekali, meliputi seluruh aktivitas dan bidang kehidupan dan mencakup seluruh perbuatan, karsa, dan rasa manusia.235
Adapun Syed Muhammad Naquib Al-Attas memilih adab (ta’dīb) sebagai hal yang ditanamkan kepada anak dengan cara penyampaian isi
233 Muhammad Quṭb, Manhaj al-Tarbiyyah al-Islāmiyyah, Jilid 1 (Kairo: Dar Al-Syuruq, 1993), 13-14.
234 Taufīq al-Ṫawīl, Falsafat al-Akhlāq (Mesir: Dār an-Nahḍah al-‘Arabiyyah, 1979, Cet. Ke-4), 17.
125
yang disesuaikan dengan penerima isi tersebut.236 Penggunaan kata (ta’dīb) dalam khazanah kebahasaan Islam yang merujuk pada makna pendidikan, telah dimulai semenjak Nabi Muhammad SAW. Dari arti ini, ta’dīb mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’līm), dan pengasuhan (tarbiyyah). Oleh karena itu Naquib al-Attas berpendirian,
ta’dīb telah mewakili konsep pendidikan Islam. Ia adalah istilah yang paling
tepat untuk menunjukkan arti pendidikan Islam. 237 Penjelasan ini menegaskan bahwa ta’dīb ini meliputi semua konsep pendidikan dalam Islam, termasuk konsep ta’līm dan tarbiyyah yang selama ini kedua konsep ini sering dibedakan dengan konsep ta’dīb.
Setelah menelaah formulasi Qutb dan Naquib al-Attas dapat diperoleh pemahaman mendalam bahwa internalisasi nilai tidak bisa terlepas dari pembentukan akhlāq karīmah dalam konteks pendidikan Islam. Pada spektrum ini pendidikan Islam adalah proses trans-internalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan dan pengembangan potensi-potensinya, guna mencapai keselarasan hidup di dunia dan akhirat.
Berdasarkan berbagai batasan di atas dapat digarisbawahi bahwa internalisasi nilai bukan hanya sekedar penanaman ilmu pengetahuan dan aktualisasinya oleh pihak pendidik kepada peserta didik. Di sini dapat ditegaskan, internalisasi nilai adalah proses penerimaan individu terhadap
236
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future (New York: Mansell Publishing Limited, 1985), 173.
237 Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education In Islam (Kuala Lumpur: ABIM, 1980, 17.
126
nilai yang ditanamkan kepadanya setelah melalui proses dialektika nilai bersama masyarakatnya sehinngga menjadi prinsip hidup. Adapun perumusan internalisasi nilai dalam konteks pendidikan nilai di pesantren dapat dipilah berdasarkan kepentingannya menjadi dua, di satu sisi penumbuhan etika agar memiliki kesalehan individual dan peningkatan moral untuk menumbuhkan kesalehan sosial di sisi yang lain. Maka dari itu formulasi internalisasi nilai di pesantren diarahkan pada penguasaan prinsip kehidupan sosial untuk meperkuat idealismenya.