2 TINJAUAN TEORETIS
2.3 Model Belajar Kontekstual di Museum
2.3.1 Konteks Personal
Belajar adalah pengalaman yang sangat personal. Proses belajar ini tergantung pada sejumlah faktor yang memungkinkan belajar dalam konteks personal akan sukses dilaksanakan. Uraian di bawah ini akan menyajikan pembahasan yang berkaitan dengan sejumlah faktor yang berkaitan dengan konteks personal.
Pertama, motivasi dan harapan orang datang berkunjung ke museum. Motivasi dan harapan ini secara langsung berpengaruh terhadap apa yang orang lakukan dan pelajari di museum (Falk dan Dierking, 2000: 137). Orang yang berkunjung ke museum umumnya sudah memiliki agendanya masing-masing. Agenda yang dimiliki oleh masing-masing pengunjung biasanya sesuai dengan realitas yang dijumpainya di museum. Namun terkadang hal ini dapat saja meleset. Ketika harapan yang dibawa oleh pengunjung terpenuhi, maka museum dapat menfasilitasi proses belajar yang dilakukan oleh pengunjung (Falk dan Dierking, 2000: 137). Namun jika harapan pengunjung tidak terpenuhi maka proses belajar tidak berjalan dengan sempurna.
Bagaimana seseorang termotivasi untuk belajar akan lebih tampak jelas bila menggunakan sudut pandang psikologi. Sepanjang empat puluh tahun belakangan ini psikolog menyatakan bahwa terdapat dikotomi mendasar yang
membuat belajar dapat terjadi, yaitu orang belajar karena menginginkannya atau karena mereka merasa diharuskan mempelajarinya. Hasil dari kedua proses belajar tersebut secara signifikan tergantung pada apakah didorong oleh motivasi intrinsik atau ekstrinsik (Falk dan Dierking, 2000: 19).
Tindakan yang termotivasi secara ekstrinsik akan terjadi ketika hasil yang diinginkan berada di luar dari aktivitas yang dilakukan (Falk dan Dierking 2000: 19). Contoh dari tindakan yang termotivasi secara ekstrinsik di antaranya adalah keinginan untuk mendapatkan ranking yang bagus di kelas atau terhindar dari hukuman dengan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sementara yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah tindakan yang dilakukan karena keinginan pribadi, meskipun tidak ada imbalan eksternal yang akan didapatkannya (Falk dan Dierking, 2000: 19). Contoh dari motivasi intrinsik di antaranya berkunjung ke museum ketika sedang libur, berolahraga bersama teman-teman saat setelah pulang sekolah. Motivasi intrinsik akan muncul bila seseorang merasa bebas melakukan sesuatu dan hal itu dilakukannya untuk tujuan kesenangan.
Menurut Scott Paris (dalam Falk dan Dierking, 2000: 20-21) menyatakan bahwa:
Teori motivasi memiliki dua orientasi tujuan yaitu berorientasi penguasaan materi dan berorientasi prestasi. Individu yang berorinetasi pada penguasaan materi yakin bahwa usaha adalah hal yang terpenting untuk sukses. Individu dengan orientasi penguasaan materi akan meningkatkan kerja kerasnya untuk mencapai tujuan mereka, mengambil resiko, memperlihatkan kreativitasnya dan strategi yang efektif dan berupaya menyelesaikan tugas. Sementara individu yang berorientasi prestasi yakin bahwa sukses akan tercapai dengan memperlihatkan prestasi kepada orang lain. Perilaku dari individu yang berorientasi pada prestasi ditandai dengan usaha untuk menyelesaikan tugas dengan cepat, menolak tantangan terhadap dirinya, menyerah bila menghadapi kesulitan dan memandang kesalahan sebagai kekurangan personal. Pembelajar yang memiliki motivasi intrinsik akan lebih cenderung memiliki orientasi penguasaan materi.
Sedangkan pembelajar yang memiliki motivasi ekstrinsik lebih cenderung memiliki orientasi prestasi.
Dengan demikian jelas bahwa orang yang benar-benar termotivasi untuk mendapatkan sesuatu dari kunjungannya ke museum adalah mereka yang memiliki motivasi intrinsik dengan orientasi tujuan penguasaan materi. Bila pilihan datang ke museum karena kemauan sendiri, maka motivasi dan harapan yang telah dimilikinya akan mendorong seseorang untuk belajar banyak dari museum.
Kedua pengetahuan yang telah dimiliki, ketertarikan dan keyakinan. Faktor ini memainkan peranan penting dalam seluruh bentuk belajar. Berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki, minat dan keyakinan, pembelajar secara aktif menentukan apakah dia akan pergi ke museum atau tidak, tipe institusi seperti apa yang akan dikunjunginya, eksibisi seperti apa yang akan dilihatnya atau program apa yang akan diikutinya, dan aspek pengalaman yang mana yang akan dikenangnya (Falk dan Dierking, 2000: 138).
Banyak penelitian yang dilakukan beberapa tahun belakangan ini, menyatakan bahwa pengalaman dan penjelasan yang memungkinkan didapatkan pengunjung yang datang ke museum untuk memahami pandangan yang umum saja tidaklah cukup (Hein, 1998). Pembelajar akan memakai pengetahuan yang telah mereka miliki dengan mengabaikan instruksi yang diberikan oleh edukator atau yang ada pada label dan panel. Dengan kata lain, pengunjung harus terkait dengan apa yang mereka lihat, lakukan dan rasakan dengan apa yang telah mereka ketahui, pahami dan yakini, di dalam lingkungan dimana mereka bebas mengeksplor dengan cara mereka sendiri (Falk dan Dierking, 2000: 138)
Menurut Piaget (Falk dan Dierking, 2000: 29) terdapat dua proses dalam belajar atau adaptasi yang dia sebut sebagai asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika pembelajar menginterpretasikan dunia eksternal dengan menggunakan skema atau cara berpikir terhadap sesuatu yang telah dimiliki oleh pembelajar, sehingga dapat menambah pemahaman dan menguatkan pemahanan terhadap sesuatu (Falk dan Dierking, 2000: 29). Dalam proses akomodasi, skema yang telah dimiliki sebelumnya direvisi untuk sampai pada pemahaman baru,
perubahan dan pemurnian struktur untuk sehingga dapat diadaptasi dengan lebih baik menjadi pengalaman yang lebih cocok (Falk dan Dierking, 2000: 29). Dengan demikian sebagian waktu yang dimiliki oleh manusia merupakan proses belajar untuk menguatkan kembali, mengasimilasi dan mengakomodasi pengetahuan baru yang datang dari kunjungan ke museum.
Terkait dengan padangan psikolog Ulrich Schiefele yang berpendapat bahwa motivasi berlaku secara umum, sementara minat lebih kompleks, keadaanya lebih multidimensional (Falk dan Dieking, 2000: 22). Dengan kata lain seseorang dapat sangat berminat terhadap sejarah maka akan tertarik dengan sejian sejarah di museum, tetapi dia tidak akan tertaik pada seni atau ilmu pengetahuan alam sehingga menolak untuk datang kesana. Istilah minat disini tidak hanya berkaitan dengan apa yang seseorang sukai atau tidak sukai. Minat disini terkait dengan konsep psikologis yang terdiri atas perhatian, ketekunan dalam menyelesaikan tugas, dilanjutkan dengan rasa ingin tahu, semua faktor ini sangat penting untuk memahami apa yang memotivasi seseorang untuk belajar di museum, terlibat dengan eksibisi, program atau kegiatan di museum (Falk dan Dierking, 2000: 22)
Pengetahuan yang telah dimiliki, minat dan keyakinan menjadi kerangka untuk memberi makna terhadap pengalaman yang didapatkan di museum. Hal yang fundamental dari ketiga kerangka ini adalah ketidak cocokan salah satu komponen dengan komponen lain dapat mengakibatkan orang tidak akan tertarik datang ke museum dan tidak ada hal yang akan dipelajarinya di museum meskipun dia datang ke museum. Kondisi belajar yang berbeda dan heterogennya populasi yang berkunjung ke museum, pengetahuan yang sudah dimiliki, minat dan keyakinan dari pengunjung museum sangatlah berbeda antara satu dengan yang lain (Falk dan Dierking, 2000: 138). Dengan demikian, belajar di museum benar-benar bersifat personal.
Ketiga, faktor pilihan dan kontrol yang terkait dengan proses belajar untuk menentukan pilihan antara apa dan kapan mereka akan belajar dan merasakan mengontrol sendiri proses belajar yang dialaminya (Falk dan Dierking, 2000: 138). Sebagai institusi yang memiliki karakterirstik free-choice learning, maka pengunjung museum saat belajar seringkali tidak mendapatkan keleluasan untuk
melakukan keduanya. Hal ini dapat terjadi bila museum memaksakan kepada publik untuk mengikuti urutan penyajian sesuai dengan yang disusun oleh desainer museum, sehingga pengunjung tidak mendapat kesempatan secara bebas untuk memilih dan mengontrol proses belajarnya di museum. Akibat pemaksaan atau penyeragaman ini mengakibatkan porses belajar akan terganggu. Karena dalam situasi belajar yang seharusnya mengedepankan seting free-choice
learning, pemaksaan seperti ini terkadang mengakibatkan keengganan
pengunjung untuk melanjutkan eksplorasinya. Pada eksibisi interaktif kedua kerangka ini menjadi mutlak harus diberikan kepada pengunjung. Karena instruksi dan arahan yang terlalu banyak akan membuat orang merasa enggan untuk berinteraksi dengan objek atau fenomena yang disajikan di museum.