4 MUSEUM NEGERI PROVINSI LAMPUNG
4.1 Karakteristik Teori Pendidikan di Museum Negeri Provinsi Lampung
4.1.5 Tujuan Program Edukasi
Karakteristik terakhir yang menjadi ciri dari penerapan teori didaktik eskpositori adalah bahwa program edukasinya mempunyai tujuan pembelajaran yang spesifik. Bila menggunakan Tabel 4.3 tampak bahwa program bimbingan keliling mempunyai tujuan pembelajaran yang beraneka ragam, karena masing-masing penyajian memiliki informasi yang berbeda sesuai dengan klasifikasi koleksi masing-masing. Oleh karena itu, bila sekolah terlebih dahulu menentukan tujuan pembelajaran yang spesifik, maka tujuan pembelajaran program bimbingan keliling juga akan spesifik, karena edukator akan langsung memfokuskan informasi yang disampaikannya pada penyajian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dibawa oleh sekolah. Namun, sebagaimana telah diuraikan di atas, sekolah yang membawa siswanya berkunjung ke museum, tidak mempunyai tujuan pembelajarannya yang spesifik. Mereka berkunjung ke museum dengan rentang waktu yang pendek, antara 15 sampai 30 menit, atau jika waktunya cukup, sekolah hanya memerintahkan siswa untuk mencatat semua label. Akibatnya program bimbingan keliling pemanfaatanya pun jadi tidak optimal dan spesifik. Hal terpenting agar program ini menjadi efektif adalah museum harus melakukan kerja sama yang dengan sekolah. Guru-guru harus diberi kesadaran bahwa sekolah dapat menjadikan museum sebagai pendukung pelajaran sekolah. Museum dapat menjadi institusi yang dapat memperkuat dan memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa dari yang telah didapatkan dari sekolah. Museum dapat memberi gambaran tiga dimensi terhadap yang diajarkan di sekolah asalkan guru dapat membuat program-program kunjungan dengan tujuan-tujuan yang spesifik, sehingga siswa dapat diarahkan untuk melihat penyajian yang terkait dengan meteri yang ingin dicapai oleh sekolah. Oleh karena itu, pada saat berkunjung eduaktor dapat memberi penjelasan yang fokus dan mendalam sehingga siswa dapat mempelajari objeknya dengan seksama. Bila hal ini dapat dipahami oleh guru maka kunjungan ke museum dapat optimal. Ini artinya program edukasi museum akan lebih ceunderung mengarah pada teori pendidikan didaktik ekspositori.
Program edukatif selanjutnya adalah paket kebudayaan. Program ini umumnya mempunyai tujuan pembelajaran yang lebih spesifik, karena pesertanya memilih materi-materi yang spesifik. Dengan pilihan yang terarah, maka eduaktor museum akan mempersiapkan materi dan perlengkapan pendukung lainnya sesuai dengan permintaan. Program ini mirip dengan memberi pelajaran di kelas, dimana edukator berdiri di depan peserta yang mengikuti program ini, kemudian memberi penjelasan tentang isi materi yang akan dipelajari. Setelah mengikuti program ini diharapkan siswa mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang materi yang diajarkan. Hal yang menarik dari program ini adalah karena paket program ini menggunakan berbagai media pembelajaran seperti slide, film dan replika koleksi yang boleh dipegang langsung oleh pesertanya. Perancang program ini menyadari bahwa dengan memegang koleksi, siswa akan mendapatkan sensasi tersendiri dibandingkan dengan hanya memandang koleksi di dalam kotak kaca. Dapat dibayangkan bila fosil dari manusia yang mereka pegang merupakan replika dari fosil yang ditemukan ribuan tahun yang lalu, bahkan mungkin jutaan tahun yang lalu. Pada awalnya banyak peserta yang merasa ragu memegang, tetapi setelah mendapatkan kesempatan mereka akan mengeskplor objek tersebut dengan melibatkan semua panca indranya. Metode ini diharapkan dapat menanamkan pengetahuan lebih banyak dibandingkan hanya dengan melihat. Selain itu, ingatan terhadap sensasi tersebut diharapkan akan berbekas dalam waktu lama dalam memori pesertanya. Dengan karakteristik pembelajaran yang spesifik maka dapat disimpulkan program edukasi inipun lebih bersifat didaktik ekspositori. Namun ada unsur yang perlu mendapat perhatian di sini, yaitu siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan koleksi yang menjadi bagian dari materi yang diajarkan. Konsep pembelajaran ini telah memasukkan unsur belajar aktif, hanya saja baru pada unsur interaksi dengan koleksi, belum pada kesempatan untuk dapat menarik kesimpulan sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Program edukasi yang terakhir adalah bimbingan karya tulis. Program ini juga mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas, sesuai dengan topik yang dipilih. Perbedaan dengan kedua program di atas, dalam program ini pilihan topiknya lebih
banyak. Pekerjaan museum yang dilakukan “di belakang layar” seperti konservasi dan restorasi dapat menjadi topik karya tulis. Dengan karakteristik yang mirip dengan kedua program edukasi di atas, maka program edukasi ini juga memperkuat pandangan bahwa museum menggunakan teori pendidikan didaktik ekspositori.
Dari semua karakteristik yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa Museum Negeri Provinsi Lampung menggunakan teori pendidikan didaktik ekspositori dalam menentukan kebijakan ekesebisi dan program eduaktifnya. Ini artinya museum dalam menyajikan eksibisi dan program edukasi memiliki kemiripan dengan pembelajaran pada sekolah-sekolah tradisional. Sekolah pada umumnya melakukan pembelajaran didasarkan pada struktur subjek, dan guru menyampaikan informasi kepada siswa tahap demi tahap. Guru menyusun pelajaran, didasarkan pada struktur subjek tersebut kemudian mengajarkannya pada murid. Guru menjelaskan prinsip-prinsip belajar, memberikan contoh-contoh untuk mengilustrasikan prinsip-prinsip tersebut, dan diulang pada beberapa bagian yang penting agar dapat ditanamkan ke dalam pikiran pembelajar.
Perbedaan antara pendidikan di sokolah dan di museum hanya pada media yang digunakan untuk menjelaskan subjek yang diajarkan. Belajar di museum siswa akan dihadapkan pada koleksi dan informasi. Ini artinya yang dipelajari siswa adalah bentuk tiga dimensi dari subjek. Sementara yang diajarkan di sekolah adalah buku yang perlu dihafalkan dan diingat. Di samping itu, museum juga tidak melakukan evaluasi atas apa yang telah diajarkan kepada pengunjung. Sekolah setelah satu materi atau seluruh materi selesai akan memberikan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana pemahan siswa terhadap materi yang telah diberikan. Nilai yang didapatkan siswa dijadikan ukuran terhadap kompetensi yang dikuasai oleh siswa.
Penggunaan teori ini saat ini mendapat banyak kritik, karena dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan karakter museum sebagai institusi pendidikan informal. Di museum pengunjung dapat dengan bebas memilih objek yang menjadi pusat perhatiannya. Waktu yang dihabiskan untuk belajar juga diatur oleh pengunjung sendiri, tergantung pada ketertarikan dan minat yang dimiliki oleh pengunjung. Museum juga tidak memiliki kurikulum baku seperti sekolah. Apalagi saat ini
pandangan bahwa pada saat pembelajaran terjadi siswa tidak lagi hanya menjadi objek pasif yang sedang diisi pengetahuannya. Tetapi mereka juga dapat memberi makna sendiri terhadap setiap informasi yang diberikan kepada mereka. Ini artinya siswa juga aktif dalam menentukan informasi yang akan diserapnya.
Di samping itu penyajian eksibisi dengan teori didaktik ekspositori cenderung statik. Pengunjung hanya diberi kesempatan melihat koleksi dari balik kaca. Bagi anak-anak penyajian eksibisi yang statik akan membuat mereka cepat bosan. Apalagi eksibisi juga sarat dengan komponen didaktik. Anak-anak akan kurang tertarik bila mereka harus membaca banyak keterangan dalam panel dan label, kecuali jika mereka dipaksa harus mencatatnya karena diperintah oleh guru. Komponen didaktik yang panjang hanya akan cocok bagi orang dewasa yang mengaanggap berbagai keterangan koleksi itu penting untuk diketahui.
Dengan berbagai kelemahan yang ada pada teori pendidikan didaktik ekspositori, maka bila pengunjung yang menjadi target audiens adalah anak-anak, akan sulit bagi museum untuk memenuhi harapan menjadi laboratorium IPS bagi siswa SMP. Jika selama ini terdapat fakta bahwa pengunjung dari kalangan siswa merupakan pengunjung terbesar di museum, hal ini lebih disebabkan karena adanya program wajib kunjung yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan kepada sekolah, bukan karena anak-anak mempunyai minat terhadap eksibisi yang disajikan oleh museum.
Jika teori pendidikan didaktik espositori dianggap kurang memadai lalu teori pendidikan yang mana yang lebih tepat untuk dijadikan landasan bagi museum untuk menjadi mitra sekolah sehingga dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran pendukung pembelajaran IPS tingkat SMP. Berdasarkan kuadran yang dikemukakan oleh Hein (1998: 25) masih ada tiga teori pendidikan yang dapat menjadi pilihan, yaitu teori pendidikan stimulus respos, teori pendidikan penemuan dan teori pendidikan konstruktivis. Dari ketiga teori pendidikan tersebut, teori pendidikan konstruktivis cenderung lebih memadai dibanding dengan kedua teori lainnya. Teori konstruktivis memiliki beberapa kelebihan yang dapat mengakomodasi berbagai
kebutuhan yang mucul saat museum menentukan untuk menjadi sumber belajar yang dapat mendukung pembelajaran IPS ditingkat SMP.
4.2 Museum Sebagai Sumber Belajar Pendukung Pembelajaran IPS Tingkat