• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN TEORETIS

2.4 Museum Untuk Anak Sebagai Institusi Pendidikan

Di atas telah dibahas berbagai prinsip yang perlu diperhatikan dalam menerapkkan teori konstruktivis dengan model belajar kontekstual yang terdiri atas berbagai konteks yang harus dipertimbangkan. Pembahasan di atas dapat menjadi pertimbangan untuk mendesain eksibisi dan program eduaktif di museum. Selanjutnya uraian di bawah ini secara spesifik akan membahas mengenai konsep-konsep dasar museum untuk anak atau galeri untuk anak yang juga menggunakan teori konstruktivis dalam penyajiannya.

Menurut American Association of Museum (AAM) yang disebut museum

untuk anak adalah:

Institusi yang melakukan pelayanan kebutuhan dan ketertarikan anak melalui pameran dan program yang dapat menstimulasi rasa ingin tahu dan motivasi belajar. Museum untuk anak dikelola sebagai institusi permanen non provit, yang secara esensial mempunyai tujuan pendidikan, memiliki staf profesional, memiliki objek yang dapat digunakan dan dibuka untuk publik secara reguler (Caulton, 1998: 5).

Bila dicermati, definisi yang dikemukakan oleh AAM tersebut memberi penekanan terhadap kebutuhan dan ketertarikan anak. Pandangan yang berbeda disampaikan oleh museum untuk anak di lingkungan United Kingdon (UK). Penekanan museum untuk anak di UK lebih kuat pada objek dari pada terhadap masyarakatnya. Museum-museum di UK mendefinisikan museum untuk anak sebagai institusi yang mengumpulkan, mendokumentasikan, melakukan preservasi, memamerkan dan menginterpretasikan bukti material dan mengaitkan informasi untuk kepentingan publik (Caulton, 1998: 5).

Bila dibandingkan dengan definisi museum tradisional, konsepsi pendidikan dalam definisi museum untuk anak tampak lebih tegas, karena definisi museum untuk anak lebih beroreintasi pada pengunjung dengan penekanan peran pendidikannya melalui strategi penyajian koleksinya. Objek yang disajikan dijadikan sebagai alat untuk memotivasi belajar dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak. Sementara pada museum tradisional, penyajian menggunakan penataan konvensional, yaitu dengan menaruh koleksi dalam kotak

kaca, kemudian informasi yang disajikan adalah nilai intrinsik dari benda yang disajikan. Dengan demikian definisi museum untuk anak, khususnya yang berkaitan dengan peran museum dalam pendidikan, dapat dijadikan sebagai pengisi kekurangan dan keterbatasan dari definisi museum tradisional.

Jika dilihat dari perkembangan sejarahnya, museum untuk anak telah dirintis sejak abad ke XIX. Namun perkembangannya menjadi lebih pesat setelah tahun 1980-an. Pada masa itu, hingga sekarang museum untuk anak telah menjadi sektor museum yang tumbuh sangat cepat dibanding jenis museum lainnya (Caulton, 1998: 4). Berdasarkan catatan sejarah, museum untuk anak yang pertama didirikan adalah Brooklyn Children’s Museum, pada tahun 1899, kemudian dilanjutkan dengan dibukanya Boston Children’s Museum.

Pada awalnya, museum untuk anak dalam penataan koleksinya tidak jauh berbeda dengan museum tradisional, yaitu penyajian benda-benda koleksi dalam lemari kaca. Hal yang berbeda adalah pada pemilihan koleksi yang dipamerkan. Kolaksi yang disajikan di museum untuk anak adalah benda-benda yang dianggap menarik bagi anak-anak (Caulton, 1998: 4).

Pada tahun 1964, Michael Spock, Direktur Boston Children’s Museum berhasil melakukan penelitian terhadap museumnya dengan cara membuka kotak kaca penyajian koleksi dan menyusun kembali program eksibisi untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak-anak untuk belajar (Caulton, 1998: 4). Berdasarkan penelitian ini, kemudian pendekatan hands-on diadaptasi menjadi pendekatan eksibisi pada museum untuk anak. Pendekatan ini kemudian diikuti juga oleh Brooklyn Children’s Museum yang diikuti dengan kebijakan memperbolehkan pengunjung untuk memegang koleksi yang disajikan.

Pendekatan hands-on dianggap sebagai pendekatan yang tepat

dibandingkan dengan pendekatan tradisional yang dianggap tidak interaktif dan menarik bagi anak-anak. Menurut Baxi secara psikologis anak-anak menyenangi warna, bentuk dan rupa yang membuat mereka lebih menghargai objek yang ada di sekeliling mereka (Baxi et.al., 1973: 75). Anak-anak akan lebih tertarik bila diberi kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru seperti merubah atau membangun kembali berbagai bentuk objek atau melakukan eksperimen terhadap sesuatu. Hal ini terjadi karena anak-anak lebih cepat belajar dari benda, belajar

menghubungankan dan memahami pola dari penyajian non verbal dibandingkan orang dewasa, khususnya orang yang berpendidikan, yang amat tergantung pada informasi sehingga menganggap label lebih penting sebagai sumber data daripada objeknya sendiri (Baxi et.al., 1973: 76). Untuk itu, museum yang eksibisinya disajikan secara statis tidak akan menarik perhatian anak-anak. Disamping itu, larangan untuk tidak menyentuh koleksi pada objek yang disajikan di luar kotak kaca, juga akan membuat anak-anak merasa tidak tertarik terhadap objek tersebut. Secara mendasar yang paling esensial membedakan antara museum untuk anak dan museum tradisional adalah:

1. Pendidikan dilakukan melalui setiap objek, aktivitas dan kegiatan. Terdapat tujuan dibalik setiap penyajian, cerita yang disampaikan pada setiap benda yang dipamerkan, dan terdapat gagasan untuk membuka setiap ruang pameran.

2. Ruang yang terang, warna yang cerah dan efek cahaya yang dramatis digunakan untuk menarik perhatian. Label dapat dipahami dengan mudah dan dengan gaya bahasa terkini.

3. Benda yang dipamerkan diposisikan dengan hati-hati sehingga dapat dinikmati oleh anak-anak dan materi yang dipamerkan dapat diidentifikasi secara berurutan. Terkadang mungkin benda yang dipamerkan dapat dipegang atau memungkinkan anak-anak untuk berpartisipasi terhadap pameran.

4. Tidak peduli bagaimanapun canggihnya pameran, kontak diantara pengunjung tetap menjadi sumber belajar yang baik. (Caulton, 1998: 5).

Sebagai salah satu tempat yang ideal untuk belajar ilmu pengetahuan museum untuk anak memiliki beberapa karakteristik yang lingkungannya ideal untuk belajar ilmu pengetahuan, yaitu:

1. memberikan lingkungan yang spesial dan berbeda dengan sekolah dimana murid dimotivasi dengan cara berhadapan langsung dengan objek yang riil dan tidak ada ditempat lain atau berinteraksi dengan pameran hands-on;

2. Secara fisik atau dengan pengetahuan yang dimilikinya murid-murid mengakses contoh-contoh kongkrit atau simulasi fenomena dan konsep ilmu pengetahuan yang abstrak (fenomena tersebut tidak dapat dengan mudah atau secara ekonomis di reproduksi di sekolah);

3. Menyediakan kesempatan untuk berinteraksi dengan pameran yang memungkinkan murid untuk mengaplikasikan dan menggunakan proses kunci ketrampilan yang dibutuhkan dalam ilmu pengetahuan seperti bertanya, mempredisksi, mengobservasi, meneyelasikan masalah, membandingkan, menyelediki, membuat hipotesis dan menggunakan bukti dalam situasi yang baru, menarik dan menantang;

4. Menyediakan tempat di mana murid-murid dapat belajar menggunakan fenomena dan konsep ilmiah dalam konteks kehidupan sehari-hari;

5. Memberi kemungkinan untuk mengakses artefak, spesimen dan sistem yang langka atau tidak mudah untuk diakses;

6. Memungkinkan murid untuk memahami penemuan ilmiah, pengembangan teknologi atau kunci cara menyusun artefak, spesimen dan sistem menjadi satu keterkaitan sejarah atau hubungan yang saling terkait;

7. Meyediakan akses dan pemahaman pada cara kerja mesin atau sistemnya, sehingga dapat menjadi jendela bagi siswa untuk melihat apa yang ada di dalam kotak hitam ilmu pengatahuan dan teknologi;

8. Menawarkan kesempatan untuk membentuk dan mengembangkan perilaku murid terhadap ilmu pengetahuan dan, dalam perngetian luas, untuk belajar sendiri. Secara spesifik, murid dapat mengembangkan perilaku yang penting di dalam mempelajari ilmu pengetehuan seperti keingintahuan, pemikiran yang terbuka, refleksi kritis, kreativitas, keinginan untuk berkarya, menghargai

temuan ilmiah, kerjasama, tekun, toleran terhadap ketidakpastian dan sensitif terhadap lingkungan;

9. Menyediakan lingkungan yang aman dan dapat merangsang rasa ingin tahu di mana ilmu pengetahuan dipandang dan dipelajari dengan perasaan kagum dan ingin tahu (Braund dan Reiss ed., 2004: 97).