PELECEHAN SEKSUAL DAN KEKERASAN PADA SISWA Ismah
KORBAN PELECAHAN SEKSUAL
Zakki Nurul Amin, S.Pd.
Edwindha Prafitra Nugraheni, S.Pd., Kons.
Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang [email protected] [email protected]
Abstrak
Kehidupan anak jalanan sangat rentan terhadap berbagai permasalahan. Salah satunya yang saat ini sering menjadi sorotan adalah kasus kekerasan, eksploitasi, dan pelecahan seksual. Secara psikologis anak jala- nan belum mempunyai bentukan mental emosional yang kokoh. Sementara itu dengan kompleksitas permasala- han yang ada, seringkali tidak dapat dihindari stress yang dialami oleh anak jalanan, dalam hal ini stress akibat pelecahan seksual. Artikel ini ditulis sebagai salah satu upaya untuk menjawab isu permasalahan sosial tersebut. Play therapy art expression media menggambar dengan lima R tahap terapi ini yakni : Relating (Berhubungan), Releasing (Melegakan) perasaan, Re-Creating (menciptakan kembali), Reexperience (Mengalami kembali), dan Resolving (Memecahkan) harapannya dapay digunakan sebagai salah satu intervensi dalam membantu mengu- rangi stress pada anak jalanan korban pelecahan seksual.
Kata kunci: Play Therapy Art Expression Media Menggambar, Stress, Anak Jalanan Korban Pelecahan Seksual
ISBN 968-602-14132-1-0
Pendahuluan
Anak jalanan adalah fenomena nyata pe- nyebab munculnya permasalahan sosial yang kompleks dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Keberadaan anak jalanan diabai- kan dan tidak dianggap ada oleh sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat awam. Anak jalanan, dipercaya semakin tahun semakin me- ningkat jumlahnya. Menurut data Badan Pusat Statistik jumlah anak jalanan saat ini kurang lebih 154.861 jiwa (data Badan Pusat Statistik, dalam http://www.bps.go.id). Sebagian besar terdapat di Ibu Kota Jakarta, dan sebagain lainnya ter- sebar dalam kota-kota besar lainnya di wiliayah Indonesia seperti Surabaya, Makassar, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Batam.
Di wilayah Semarang khususnya, peker- jaan yang dilakukan anak jalanan bermacam- macam. Di tengah-tengah derita dan penyiksaan yang mereka alami, mereka tetap harus berjuang mendapatkan sejumlah uang agar mereka bisa bertahan hidup dan tidak kelaparan. Pekerjaan yang dilakukan seperti pengamen, tukang semir, penjual koran, ciblek, pedagang asongan dan si- sanya bekerja apa saja, termasuk menjadi mayeng (pemungut barang sampah). Anak jalanan terse-
but menyebar di berbagai titik kota Semarang, di antaranya kawasan Tugu Muda, Simpang Lima, pasar Johar, Bundaran Kalibanteng, Perempatan Metro, Pasar Karangayu, dan Swalayan ADA Banyumanik (Jawa Pos, 21 Juli 2008, dalam Wi- jayanti, 2010).
Kehidupan anak jalanan sangat rentan ter- hadap berbagai permasalahan. Beberapa perma- salahan yang mengancam anak jalanan misalnya kekerasan yang dilakukan oleh anak jalanan lain, komunitas dewasa, Satpol PP, bahkan kekerasan seksual; penggunaan pil, alkohol dan rokok; dan penyakit-penyakit menular seperti HIV/AIDS (Wijayanti, 2010). Dalam penelitian Widyatwa- ti, dkk (2005), menyebutkan pula bahwa anak jalanan sangat rentan terhadap berbagai jenis dan bentuk kekerasan baik fisik maupun seksual, namun mereka umumnya tidak berdaya meng- hadapi kekerasan tersebut. Anak jalanan berada dalam kondisi yang tidak memiliki masa depan jelas dan tidak jarang menjadi masalah bagi ba- nyak pihak seperti keluarga, masyarakat, dan ne- gara.
Kondisi nyata di lapangan, permasalahan yang saat ini sering menjadi sorotan adalah kasus kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak jalanan. Yayasan Setara (Shalahuddin, 2000) da-
Alamat korespondensi:
lam laporannya menyatakan bahwa 30% anak ja- lanan perempuan mengalami hubungan seksual pertama akibat perkosaan. Tak jarang perkosaan dilakukan oleh sekelompok orang yang dikenal dengan istilah pangris atau Jepang baris. Di ka- wasan Simpang Lima, kasus-kasus semacam ini sering terjadi yang dilakukan oleh sekelompok orang tertentu. Kemudian, belum lama ini ada pemberitaan melalui media massa mengenai du- gaan kekerasan dan eksploitasi terhadap puluhan anak jalanan yang justru dilakukan oleh pendam- pingnya sendiri (Radar Semarang dan Wawasan, 2 September 2000; Kompas, 4 September 2000 dalam Shalahuddin, 2010).
Secara psikologis anak jalanan adalah anak-anak yang pada taraf tertentu belum mem- punyai bentukan mental emosional yang kokoh, sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang keras dan se- ring menimbulkan berbagai konflik dan benturan dalam diri anak jalanan. Oleh karena itu secara psikologis, anak jalanan sangat rentan mengala- mi stress, kecemasan, dan depresi.
Stress secara khsuus megacu pada keadaan internal (individu) yang disebabkan karena adanya sesuatu yang secara fisik berpengaruh pada tubuh (penyakit, perubahan temperatur, dan sebagainya) atau oleh lingkungan dan situasi sosial yang dinilai mengancam atau membaha- yakan. Hal-hal yang menimbulkan stress disebut dengan stressor, di mana stressor-stressor yang ada akan memicu terjadinya kecemasan dan depresi, yang dampak lebih jauh lagi akan men- garahkan perilaku akan pada sikap-sikap negatif dan melanggar norma. Beberapa bentuk dari aki- bat stress anak jalanan akan mudah berperilaku antisosial: berkelahi, mencuri, merampas, dan memeras.
Play therapy digunakan untuk memun- culkan kekuatan terapeutik dari bermain yang digunakan untuk menolong konseli mencegah dan memecahkan masalah dan mencapai per- kembangan yang optimal. Play Therapy digu- nakan sebagai alat diagnosis dan penyembuhan. Sedangkan menggambaar sebagai wujud dari art expresiion merupakan salah satu bentuk permai- nan yang dapat digunakan untuk mengenali sim- bol non verbal dan metafora yang dikomuniksi- kan dengan proses kreatif, yang mungkin sukar diekspresikan dengan kata-kata atau dengan mo- dalitas lainnya (Loekmono, 2012). Therapy ini selain dapat mengungkap stressor anak, tindakan melukis itu sendiri dapat bersifat menyembuhkan karena memulai proses menguasai suatu kejadian dan keadaan sehingga membuat anak lebih ber- daya, sehingga harapnnya dapat membantu anak
jalanan yang mengalam stress untuk mengurangi bahkan mengatasi stressnya.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengajukan artikel program intervensi komunitas anak jalan dengan menggunakan Play Therapy Art Expression Menggunakan Media Menggambar Untuk Mengurangi Stress Anak Ja- lanan. Harapannya dengan progam intervensi ini dapat digunakan untuk membantu anak-anak ja- lanan khususnya, terkait permasalahan dan stress yang dialami.
Definisi
a. Anak Jalanan
Konvensi Regional I tentang Anak Jalanan di Asia pada tahun 1989 (dalam Pugara, 2010) disebutkan bahwa anak jalanan adalah anak yang hidup di jalanan dan anak yang menghabiskan waktunya untuk bekerja dijalanan guna membia- yai hidupnya, baik yang masih memiliki rumah dan keluarga maupun mereka yang sudah tidak memiliki keluarga lagi. Menurut Shalahuddin (2000), yang dimaksudkan anak jalanan adalah individu yang berumur di bawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian atau seluruh waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan guna mendapatkan uang atau guna memperta- hankan hidupnya. Jalanan yang dimaksudkan tidak hanya menunjuk pada “jalanan” saja, me- lainkan juga tempat tempat lain seperti pasar, pu- sat pertokoan, taman kota, alun-alun, terminal, dan stasiun.
Berdasarkan pengertian di atas maka da- pat ditarik kesimpulan bahwa anak jalanan ada- lah anak yang menghabiskan sebagian besar wak- tunya untuk mencari nafkah dan atau berkeliaran di jalanan maupun di tempat umum.
b. Stress pada Anak Jalanan
Sebenarnya stres merupakan hal yang se- nantiasa dialami oleh manusia dalam kesehari- annya dan merupakan suatu bagian yang tidak terelakkan dari proses perjalanan kehidupannya. Hampir setiap saat manusia berada dalam situ- asi stres, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam berhubungan dengan masyarakat. Proses perjalanan tersebut pada akhirnya dapat memun- culkan stres.
Clifford T. Morgan, dkk., 1986, dalam Tanti (2007) berpendapat bahwa terminologi stress mengacu pada keadaan internal (individu) yang disebabkan karena adanya sesuatu yang secara fisik berpengaruh pada tubuh (penyakit, perubahan temperatur, dan sebagainya) atau oleh lingkungan dan situasi sosial yang di nilai
Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang 2014
126 mengancam atau membahayakan. Keadaan fisik, lingkungan sosial dan situasi sosial yang menga- kibatkan stress disebut stressor. Stressor tertentu mengakibatkan keadaan stress kemudian menga- rahkan pada munculnya respon-respon tertentu baik berupa respon fisik pada tubuh (sakit perut, pusing, jantung berdebar, dan sebagainya), atau respon psikologis seperti kecemasan dan depresi.
Sedangkan yang terkait beberapa masalah yang sering dijumpai dan menjadi stressor oleh anak jalanan Departemen Kesehatan juga me- nyebutkan permasalahannya yakni (1) lingkun- gan kumuh, udara tercemar, sengatan matahari, dan gas kendaraan bermotor, (2) perilaku berisi- ko pelanggaran hukum, (3) pengaruh dan teka- nan kelompok sosial, (4) stres, dan (5) rawan ter- hdap kekerasan. Lebih jauh lagi sebagai dampak dari permasalahan-persamalahan tersebut antara lain :
1. Rentan terkena penyakit infeksi, seperti ISPA, diare, tifus, hepatitis, dan kulit mau- pun rawan masalah gizi.
2. Sulit memperoleh akses pelayanan kesehatan di lingkungan tempat tinggal anak jalanan. 3. Perilaku berisiko di antara anak jalanan yang
dapat menyebabkan penyakit menular sek- sual, seperti GO, sifilis, dan HIV/AIDS seb- agai akibat perilaku seks bebas.
4. Pengaruh dan tekanan kelompok yang men- gakibatkan anak jalanan minum alkohol, merokok, dan menyalahgunakan NAPZA yang berdampak bagi kesehatan.
5. Akibat stres, anak jalanan mudah berperilaku antisosial: berkelahi, mencuri, merampas, dan memeras.
6. Banyak terjadi kasus perkosaan, sodomi, dan pelecehan seksual lain.
c. Pelecahan Seksual
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan banyak aduan kekerasan pada anak di tahun 2010. Menurut Sutrisno (2010) Dari 171 kasus pengaduan yang masuk, sebanyak 67,8 persen terkait dengan kasus keke- rasan. Jenis kekerasan yang paling banyak terjadi kepada anak adalah kekerasan seksual sebanyak 45,7 persen (53 kasus), kekerasan fisik sebanyak 25 persen (29 kasus), penelantaran sebanyak 20,7 persen (24 kasus), dan kekerasan psikis 8,6 persen (10 kasus). Kekerasan seksual yang biasa dilaku- kan adalah pelecehan seksual.
Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran hingga me- nimbulkan reaksi negatif seperti rasa malu, ma-
rah, tersinggung dan sebagainya pada diri orang yang menjadi korban pelecehan (Annisa, 2007). Triwijati (dalam journal.unair.ac.id), mengemu- kakan bahwa pelecehan seksual adalah perilaku atau perhatian yang bersifat seksual yang tidak diinginkan dan tidak dikehendaki dan berakibat mengganggu diri penerima pelecehan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelecehan seksu- al merupakan suatu bentuk perilaku berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak atau tidak dikehendaki oleh korban karena dapat menim- bulkan reaksi negatif pada diri korban. Pelecehan seksual sebenarnya bukan soal seks. Intinya ada- lah penyalahgunaan kekuasaan atau otoritas, se- kalipun pelaku mencoba meyakinkan korban dan dirinya sendiri bahwa ia melakukannya karena seks atau romantisme. Dengan kata lain, pelaku baru merasa “berarti” ketika ia bisa dan berhasil merendahkan orang lain secara seksual.
Lebih jauh lagi Annisa (2007), menyebut- kan bahwa bentuk pelecehan seksual ini sangat luas seperti main mata, siulan nakal, komentar yang berkonotasi seks, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang ber- sifat seksual, ajakan berkencan dengan iming- iming atau ancaman, ajakan melakukan hubun- gan seksual sampai perkosaan. Pelecehan juga dapat berupa komentar atau perlakuan negatif yang berdasar pada gender, karena pada dasarnya pelecehan seksual merupakan pelecehan gender, yaitu pelecehan yang didasarkan atas gender se- seorang.
d. Play Therapy Art Expression (Terapi Bermain Ekspresi Seni)
Bila diamati, pendekatan play therapy (terapi bermain), tampaknya lebih menyentuh dengan aspek-aspek perkembangan pada anak dan sesuai dengan karakteristik hubungan so- sial anak-anak jalanan yang cenderung tidak menyukai suatu yang serius. Terapi bermain, sebagai salah satu intervensi kesehatan mental, dirancang untuk membantu anak-anak tumbuh gembira dalam dunianya. Untuk itu, konseling dengan pendekatan bermain menjadi suatu pen- dekatan yang layak untuk dipergunakan dalam rangka membantu anak yang mengalami stres dengan alasan, pertama, masa anak adalah masa bermain. Konseling dengan cara bermain, berar- ti telah menempatkan anak dalam habitatnya. Kedua, kecenderungan anak belum seluruhnya mampu mengungkapkan perasaan, ketakutan, kecemasan, dan kegelisahannya melalui baha- sa verbal. Maka, melalui terapi bermain, segala
bentuk ekspresi perasaan anak yang ditekan akan terungkap. Hal yang ketiga, masa anak disebut juga masa operasional konkret. Dengan media permainan, anak akan lebih leluasa mengung- kapkan suasana perasaannya melalui benda atau alat-alat permainan yang konkret. Dengan demi- kian, suasana konseling dapat terbangun dengan hangat, antara konselor dengan anak (klien).
Menurut Freud dan Erikson (dalam Sant- rock, 1999) bermain sangat berguna dalam sua- tu proses penyesuaian diri dan dapat membantu anak dalam mengatasi kecemasan dan masalah yang terjadi. Berbagai tekanan yang mereka ala- mi akan menurun ketika mereka melakukan sua- tu permainan sehingga anak dapat melakukan pola coping terhadap masalah yang mereka ala- mi. Lebih lanjut, Goleman (2001) menjelaskan bahwa sekurang-kurangnya ada dua penyembu- han sekaligus yang dapat terjadi dalam proses permainan. Pertama, ingatan (traumatik) yang terwujud dalam bentuk permainan akan berada dalam konteks kecemasan tingkat rendah sehing- ga dapat mengumpulkan ingatan tentang trauma. Kedua, dalam permainan, anak-anak dapat me- megang kendali, ke mana arah akhir cerita akan dibawa. Oleh karena itu anak-anak merasa bera- da dalam posisi pihak yang menang dan mere- ka dapat mengendalikan keadaan serta menjadi lebih berdaya. Dengan demikian, berarti anak telah memiliki kunci menuju penyembuhan akan stressnya.
Terapi bermain mampu menciptakan sua- tu hubungan yang harmonis dan dinamis antara konselor dengan anak (klien). Dengan terapi ini, sangat memungkinkan tercipta suatu relasi yang aman bagi anak untuk mengekspresikan dan me- lakukan eksplorasi ke dalam dirinya yang beru- pa pikiran, perasaan, pengalaman, dan tingkah lakunya. Disebut terapi bermain karena dalam pelaksanaannya menggunakan alat-alat permai- nan. Setiap permainan memiliki makna simbo- lis yang dapat membantu konselor untuk dapat mendeteksi sumber-sumber permasalahan anak. Sukmanigrum (2001) menyebutkan, sekurang- nya ada lima bentuk alat permainan. Pertama, alat permainan ekspresi seni, seperti: pensil, cat air, lilin, krayon. Kedua, alat permainan khayal, seperti: boneka, pedang-pedangan, atau pistol- pistolan, Ketiga, alat bermain konstruksi seper- ti: balok susun, lego. Keempat, bentuk games, seperti: congklak, domino, ular tangga, kartu, dan yang kelima, alat permainan lempar, seperti: bola, dan papan dart.
Menurut Sukmanigrum (2001), terapi ber- main berdampak positif bagi pertumbuhan kese- hatan mental anak. Terapi bermain tidak hanya
memfasilitasi anak dalam mengungkapkan emo- sinya, tetapi juga membantu terapis (konselor) untuk mendeteksi apa yang menjadi sumber ke- takutan. mereka. Ketakutan yang dibawa ke alam bawah sadar akan terbawa melalui jenis dan pili- han permainan yang mereka lakukan.
Salah satu teknik dalam terapi bermain yang dapat digunakan untuk membantu anak yang mengalami trauma akibat kekerasan adalah dengan menggunakan teknik menggambar. Tek- nik ini berkembang karena adanya kecendrun- gan anak belum mampu mengekspresikan diri, pikiran dan peresaan mereka secara tepat untuk disampaikan kepada orang lain dengan menggu- nakan kata-kata. Menurut Sujanto (1980) yang digambar anak adalah yang penting-penting saja Anak menggambar apa yang diketahui, bukan yang dilihat. Selain dapat mengungkap ekspresi stress, media seni melukis atau menggambar cen- derung mampu mereduksi serta mengeliminasi sumbersumber keteganggan, sehingga lambat laun akan berpengaruh kepada pemulihan anak. Pandangan ini berdasarkan temuan yang disam- paikan Goleman (2001) bahwa salah satu cara untuk memperoleh gambar yang melekat dalam pikiran anak adalah melalui seni karena seni itu sendiri merupakan medium alam tak sadar. Jalur ini seringkali digunakan untuk mengobati anak- anak yang mengalami trauma. Terkadang, seni dapat membuka jalan bagi anak untuk membi- carakan saat mengerikan yang tidak akan berani mereka bicarakan dengan cara lain.
Menggambar dapat menjadi solusi bagi anak dalam mengekspresikan pikiran dan pe- rasaan baik yang positif maupun yang negatif tentang diri, orang tua, keluarga, dan dunianya. Menurut Djiwandono (2005) gambar memberi- kan arti kepada konselor jika dihubungkan den- gan anak-anak yang terluka, mengasingkan diri, kecewa, dan tidak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka kepada orang dewasa. Kon- selor dapat menangkap sekilas perasaan dan piki- ran yang tidak disadari dalam gambar anak yang tidak dapat diobservasi dalam model terapeutik yang lain.
Gambar dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan katarsis dengan membebaskan perasaan dan memecahkan kon- flik secara aman. Proses menggambar dan ha- silnya sebagai cara untuk membebaskan konflik, mengalami kembali suatu kejadian, menyalurkan kembali melalui sublimasi, dan memecahkannya. Djiwandono (2005) berpendapat melalui proses yang artistik, media menggambar dan hasil ak- hir memberikan arti (1) membangun hubungan dengan anak, (2) mengukur kebutuhan anak, (3)
Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang 2014
128 meminta informasi diagnostik, (4) membebaskan emosi melalui katarsis, dan (5) memudahkan per- tumbuhan. Jadi, seni melukis atau menggambar, selain dapat mengungkap stressor anak, tindakan melukis itu sendiri dapat bersifat menyembuhkan karena memulai proses menguasai suatu kejadian dan keadaan sehingga membuat anak lebih ber- daya.
Prosedur Pelaksanaan
a. Penjelasan Umum
Pendekatan play therapy art expression, akan lebih menyentuh dengan aspek-aspek per- kembangan pada anak dan sesuai dengan karak- teristik hubungan sosial anak-anak jalanan yang cenderung tidak menyukai suatu yang serius. Terapi ini dengan menggunakan media meng- gambar, sebagai salah satu intervensi kesehatan mental, dirancang untuk membantu anak-anak tumbuh gembira dalam dunianya. Terapi ini menjadi suatu pendekatan yang layak untuk di- pergunakan dalam rangka membantu anak men- gungkap ekspresi stress, mereduksi serta menge- liminasi sumber-sumber ketegangan, sehingga lambat laun akan berpengaruh kepada pemuli- han anak.
Gambar memberikan arti kepada konselor jika dihubungkan dengan dinamika psikologis anak-anak, msalnya anak yang terluka, menga- singkan diri, kecewa, dan tidak dapat mengung- kapkan pikiran dan perasaan mereka kepada orang dewasa. Konselor dapat menangkap se- kilas perasaan dan pikiran yang tidak disadari dalam gambar anak yang tidak dapat diobserva- si dalam model terapeutik yang lain. Selain itu gambar dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan katarsis dengan membe- baskan perasaan, stressor, dan memecahkan kon- flik secara aman.
Prinsip-prinsip dalam terapi bermain se- bagaimana dijelaskan oleh Axline (dalam Chris- tiana, 2008) adalah sebagai berikut : (1) Terapis harus menciptakan suasana yang hangat, hubun- gan yang bersahabat dengan anak; (2) Terapis menerima anak sebagaimana adanya; (3) Terapis harus mengembangkan perasaan permisif da- lam hubungan anak; (4) Terapis harus waspada terhadap perasaan anak yang diekspresikan dan direfeksikan kembali dalam bentuk tingkah laku; (5) Terapis diharpkan mengahargai kemampu- an anak dalam memcehkan masalahnya sendiri jika diberi kesempatan untuk melakukannya; (6) Terapis tidak diperkenankan langsung menegur perbuatan anak, atau intervensi nilai ; (7) Terapis jangan cepat-cepat melakukan terapi; (8) Terapis
hanya mengembangkan keterbatasasn-keterba- tasan yang diperlukan dalam menarik anak untuk terapi, dan pada kenyaatannya akan membuat anak sadar akan tanggung jawabnya dalam hu- bungan terapis.
Ketika konselor siap untuk memulai terapi bermain, hal yang dibutuhkan adalah beberapa mainan dan materi mainan untuk memudahkan komunikasi dengan anak. Materi atau bahan mainan harus dipilih atau diseleksi untuk memu- dahkan pelaksanaan terapi kepada anak. Mainan harus sederhana, mempunyai konstruksi yang kuat dan sehat, mudah bagi anak memanipulasi dan inajinasi. Seperti yang diungkapkan Ginott (dalam Christiana, 2008) memilih mainan seca- ra rasional harus (1) memudahkan dalam men- gembangkan kontak dengan anak; (2) membang- kitkan dan mendorong katarsis; (3) membantu mengembangkan insight; (4) melengkapi dalam mengetes realita; (5) sebagai media untuk terja- dinya perubahan. Sebagain besar terapis Axline, Ginott, Landreth (dalam Christiana, 2008) setuju bahwa mainan dan materi peramainan harus me- mudahkan timbulnya ekspresi anak, mendorong kreativitas, membantu anak-anak menyalurkan emosinya dan memberikan jalan keluar bagi eks- presi agresif. Mainan dan meteri permainan di- berakan untuk masing-masing tujuan terapi dan bagaimana menggunakannya. Bentuk-bentuk terapi bermain dapat dilakukan memalui berba- gai media, dalam hal ini akan lebih dikhusukan play therapy art expression menggunakan media menggambar.
b. Tahap-Tahap Pelaksanaan
Lima tahap dalam proses bermain melipu- ti 5 terapi R: Relating (berhubungan), Releasing (melegakan) perasaan, Re-Creating (mencipta- kan kembali) kejadian-kejadian pengalaman- pengalaman, hubungan-hubungan, Reexperience (mengalami kembali) perasaan dan pikiran yang kacau dengan suatu cara yang memudahkan pe- negrtian baru, dan Resolving (memecahkan) ma- salah dan konflik dengan mempraktikan tingkah laku baru dalam bermain.
c. Contoh Aplikasi
Dalam penerapan play therapy art expres- sion menggunakan media menggambar dibutuh- kan alat-alat dan bahan-bahan untuk menunjang penerapan terapi oleh konselor. Adapun bahan- bahan yang perlu disiapkan adalah alat tulis pen- sil, crayon warna dan buku gambar A4. Adapun contoh aplikasinya akan dijelaskan berdasarkan penjabaran dari tahap-tahap pelaksanaan Terapi Bermain:
1. Relating (berhubungan), dalam tahap ini konselor mencoba membina dan memban- gun rapport dengan anak, menciptakan hubungan yang dekat, hangat, nyaman,