• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN SEKS SEBAGAI UPAYA MENGHINDARI PELECEHAN SEKSUAL PADA REMAJA

PELECEHAN SEKSUAL DAN KEKERASAN PADA SISWA Ismah

PENDIDIKAN SEKS SEBAGAI UPAYA MENGHINDARI PELECEHAN SEKSUAL PADA REMAJA

Farida, M.Si

Jurusan Dakwah dan Komunikasi STAIN Kudus [email protected]

Abstrak

Mendengar kata seks yang diucapkan atau ditulis sering membuat seseorang berpikir yang “tidak- tidak” negatif. Seakan-akan seks selalu dihubungkan dengan hal-hal yang berbau pornografi, pornoaksi dan semacamnya. Pemahaman seks memang sering disalahartikan oleh sebagian orang. Mereka menganggap, seks hanyalah aktivitas seksual antara pria dan wanita (sex instruction). Oleh karena itu, membicarakan masalah seks sering dianggap tabu, bahkan dilarang. Anggapan ini keliru!. Karena seks tidak hanya “melulu” meng- gambarkan hubungan badan ataupun masalah di sekitar perkelaminan saja tetapi mencakup hal yang lebih luas (misalnya: bagaimana bergaul yang sehat, bergaul sesuai dengan norma yang berlaku), juga ada dimensi biolo- gis yang mempelajari proses biologis timbulnya rangsangan seks, pengaruh hormon-hormon (hormon laki-laki adalah testoteron dan hormon perempuan adalah androgen) seperti: persyarafan, dimensi fisiologis (meliputi fungsi faal dari organ-organ seks, termasuk: proses terjadinya menstruasi, kehamilan, menopouse dan andro- pouse, penuaan, dan lain-lain). Pendidikan seks diberikan agar para remaja mampu menghindari terjadinya pelecehan seksual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dengan sex education diharapkan remaja dapat menjaga organ-organ reproduksi dan orang lain tidak boleh menyentuh (khususnya pada alat kelamin). Agar terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan maupun penyakit pada alat reproduksi dan kelamin (yang perlu dijaga kesuciannya sampai pernikahan). Setelah pemahaman tentang seks sudah benar maka kelebihan energi yang dimiliki remaja dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas yang berman- faat atau positif bahkan sampai menghasilkan produk yang berprestasi (dibidang akademik, olah raga, seni dan lain-lain) karena remaja yang bahagia dan berprestasi adalah remaja yang memiliki pemahaman yang benar tentang seks ”perubahan ke-tubuh-an yang cepat serta dorongan-dorongan akibat berfungsinya hormon seks). Pendidikan seks harus dilakukan karena kondisi akhir-akhir ini sering terdengar tentang tindak asusila yang merugikan secara personal maupun sosial bahkan menyebabkan perilaku menyimpang bagi individu (pelaku dan korban). Pelaku asusila memiliki perilaku yang menyimpang dan terkategori kriminal karena dapat terk- ena sanksi rehabilitasi maupun sanksi hukuman penjara dan sanksi sosial. Sedangkan korban dari pelecehan seksual akan menimbulkan trauma dan rasa benci “dendam kesumat” sehingga bermunculan korban-korban berikutnya. Untuk itu perlu penanganan yang serius (dimulai dari informasi yang jelas sesuai dengan tahapan usia) dengan keterlibatan seluruh pihak yang berkompeten dan memiliki kepedulian terhadap siswa (yang ter- kategori remaja) sebagai usia berprestasi untuk mengharumkan nama keluarga dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan seks sebagai upaya agar remaja mampu mengenali organ-organ seksual dan konsek- uensi dari dorongan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab dapat menimbulkan penyimpangan bah- kan menimbulkan kerusakan pada organ fisik seksual (penyakit seksual yang membahayakan “HIV/AIDS).

ISBN 968-602-14132-1-0 Pendahuluan

Secara umum remaja dikenal dengan pro- ses pencarian jati diri (untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenal dirinya lebih dekat) dengan ditandai perubahan ke-tubuh-an yang sangat cepat. Kare- na pencarian identitas maka remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar maka semakin dilarang, semakin penasaran dan akhirnya banyak remaja berani untuk mengambil resiko tanpa pertimban-

gan yang matang “bertanggung jawab” terlebih dahulu. Termasuk rasa ingin tahu tentang seks, sehingga remaja membutuhkan pendidikan seks agar tidak menimbulkan penasaran yang beraki- bat pada hal-hal yang tidak diinginkan dan “me- rusak masa depan”.

Dasar tentang pendidikan seks adalah ha- rus diajarkan pada anak-anak dengan cara yang baik (sesuai dengan norma) pada usia yang tepat sesuai dengan perkembangannya dan diberikan oleh pihak keluarga dan lingkungan sekolah.

Alamat korespondensi:

Pendidikan seks harus diberikan sepenuhnya dalam konteks ideologi (Aliah B. Purwakania Hasan. 2008. hal. 274) dan nilai-nilai moral “ke- timur”an”. Namun kondisi saat ini terjadinya salah satu pergeseran moral diantaranya adalah pergeseran dalam nilai moral seksual yang terja- di di kalangan remaja. Nilai-nilai moral seksual yang dulu oleh orang tua dianggap tabu atau ber- tentangan dengan norma agama, tidak demikian lagi oleh sebagian kaum remaja. Dengan demi- kian, memberikan pendidikan seks merupakan usaha yang sangat penting dan perlu (Akhmad Azhar Abu Miqdad. 2001. hal. 44). Hal tersebut dilakukan oleh orang dewasa dan yang kompe- ten agar remaja mampu memahami anggota tu- buhnya (termasuk organ-organ seksual) dan da- pat merawat dan melindungi agar tidak terjadi pelecehan seksual (pencabulan dan perkosaan) yang dilakukan orang lain yang tidak bertang- gung jawab maupun perilaku-perilaku seksual yang menyimpang, karena dapat menimbulkan “kerusakan” atau penyakit-penyakit yang mem- bahayakan HIV/AIDS dan terjadinya kehamilan sebelum nikah.

Di Indonesia angka kehamilan remaja belum nikah sulit untuk diketahui dengan pasti. Yayah Khisbiyah (1994) mengutip berbagai hasil penelitian yang menunjukkan intensitas keha- milan remaja. Lembaga konseling para remaja Sahabat Remaja menemukan dari kasus yang ditangani di tahun 1990 dijumpai ada 80 rema- ja (14-24 tahun) yang hamil sebelum nikah atau kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy). Penelitian Widyantoro (1989) terda- pat 405 kasus kehamilan tidak dikehendaki yang terkumpul di klinik WKBT Jakarta dan Bali se- lama setahun terkumpul 95 persen adalah keha- milan pada remaja berusia 15-25 tahun. Dan dari segi pendidikan 47 persen remaja tersebut duduk di SLP dan SLA (Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso. 2011. hal. 27). Data-data terse- but dapat dijadikan dasar bahwa pendidikan seks harus dilaksanakan agar remaja sebagai genera- si penerus dapat menghindari hal-hal yang akan mengganggu kesuksesan untuk meraih masa de- pan. Sehingga remaja akan disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang positif dengan energi “lebihnya” untuk berkarya dan menjadi pengisi kemerdekaan Indonesia.

Pembahasan

Puisi teruntuk remaja yang menjadi ge- nerasi penerus bangsa dan menjadi kebanggaan keluarga, serta memiliki masa depan yang cerah:

Wahai para remaja di seluruh pelosok sabang merauke Indonesia

Yang menjadi harapan pengisi kemerdekaan dan kemajuan bangsa

Bentuklah kepribadianmu berdasarkan norma pribadi, sosial, dan agama

Agar Indonesia disegani dunia karena kualitas SDM dan pengelolaan SDA

Namun jika semua tidak memperdulikan prestasi remaja saat ini

Maka tunggulah kehancuran gemah ripah loh jinawi negeri ini

Remaja memiliki kewajiban untuk mengoptimal- kan potensi

Remaja juga berhak untuk memotivasi diri agar berprestasi

Perlu dipahami terlebih dahulu tentang remaja dengan segala percepatan pertumbuhan dan perkembangan serta problematikanya juga dampak-dampak negatif. Menurut Zakiah Da- radjat, remaja adalah anak yang ada pada masa peralihan di antara masa anak-anak dan masa dewasa, di mana anak-anak mengalami peruba- han-perubahan cepat di segala bidang (kognitif, emosi, dan sosial). Remaja bukan lagi anak-anak, baik dalam bentuk badan, sikap dan cara berfikir dan bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang (mandiri dan bertanggung jawab), masa ini mulai kira-kira umur 13 tahun dan berakhir kira-kira umur 21 tahun. Sedangkan Singgih Dirgagunarsa menguraikan pendapat Anna Freud tentang remaja adalah Adolesensia merupakan suatu masa yang meliputi proses per- kembangan di mana terjadi perubahan dalam hal motivasi seksual, organisasi daripada ego, dalam hubungan dengan orang tua, orang lain dan cita- cita yang dikejarnya. Pendapat yang lain menge- mukakan bahwa remaja adalah suatu masa dari umur manusia, di masa itu paling banyak men- galami perubahan (panca roba). Di mana masa yang membawa pindah dari masa kanak-kanak menuju masa kematangan atau dewasa (Akhmad Azhar Abu Miqdad. 2001. hal. 34). Pertumbuhan yang sangat cepat disegala hal pada remaja men- gakibatkan remaja kehilangan kemampuannya untuk menggunakan anggota badannya, merasa gelisah terhadap pertumbuhan yang tidak har- monis serta kondisi emosi yang mudah berubah- ubah akibat pertumbuhan fisik yang mengalami percepatan.

Pada remaja putri, tandanya adalah menstruasi yang pertama. Diketahui bahwa Sembilan dari sepuluh perempuan di Indonesia mendapatkan haid pertama pada rentang usia 12-15 tahun, dan tanda sekundernya adalah dada

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang 2014

100 dan pinggul membesar serta mulai tumbuh ram- but pubik. Kondisi tersebut terkadang membuat remaja perempuan merasa rikuh dan bahkan di- jauhi oleh teman sebayanya. Sedangkan penanda keremajaan pada pria adalah terjadinya mimpi basah/ wet dream atau white dream/mimpi pu- tih karena munculnya sel-sel sperma hidup dalam urine anak laki-laki dan perubahan sekundernya adalah suara membesar, timbul jakun, otot-otot mulai tumbuh dan mulai tumbuh rambut pubik. Perubahan-perubahan ini terjadi selama dua ta- hun dan memuncak pada masa pubertas (Rita L. Atkinson, dkk. 1999. hal. 136). Perubahan ketu- buhan remaja yang cepat menuntut penyesuaian perilaku yang tidak sedikit. Oleh karena itu sering dijumpai remaja yang perilakunya serba cang- gung, badannya sudah besar tetapi perbuatannya masih seperti anak kecil (Sarlito Wirawan Sar- wono. 2009. hal 74). Sehingga pendidikan seks juga perlu memperhatikan usia. Untuk usia 13-18 tahun: Tekankan sekali lagi mengenai keamanan pribadi dan tempat-tempat yang bisa menjadi masalah. Bicarakan mengenai perkosaan, paca- ran perkosaan, penyakit seksual menular (PSM), dan kehamilan yang tidak dikehendaki.

Masa remaja inilah manusia mengalami proses pendewasaan, suatu proses yang penuh dengan hal-hal baru baru karena mengalami perubahan-perubahan dalam seksualitasnya (ma- tang dari segi biologisnya dan dapat menjalan- kan fungsinya). Sehingga timbullah dorongan- dorongan ingin berkenalan dan bergaul dengan teman lain jenis. Tingkah laku dan sikap remaja biasanya menimbulkan teguran-teguran dan kri- tikan-kritikan dari orang tua (yang tidak menger- ti ciri-ciri pertumbuhan remaja serta pemikiran yang kritis ingin mengetahui berbagai aspek kehi- dupan). Perlakuan dan tindakan orang tua yang “menguasai” menyebabkan remaja merasa tidak senang karena merasa terlalu dicampuri urusan- nya (Akhmad Azhar Abu Miqdad. 2001. hal. 39). Dan terkadang menimbulkan pertentangan sehingga remaja malu untuk bertanya pada orang tuanya. Padahal orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab awal untuk memahamkan pada remaja tentang perubahan fisik yang sangat cepat. Karena adanya kesadaran tentang pendi- dikan seks yang dilakukan harus bersamaan den- gan penjelasan moral dan etika. Karena pendidi- kan seks bagi remaja memiliki tujuan yang ideal adalah terciptanya perilaku remaja yang sesuai dengan norma (terhindarnya perilaku amoral).

Sudah sejak lama para ahli membahas ha- kikat seksualitas dalam kehidupan manusia. Ka- langan psikoanalisa menganggap bahwa seksu- alitas merupakan sesuatu yang otonom (manusia

dikuasai oleh libido seksual), dimana setiap indi- vidu memiliki hak terhadap pemuasannya (dalam Abdelwahab Bauhdiba. 2004. hal 123). Namun akan berbeda ketika seks di bahas secara Isla- mi, karena pemuasan seks perlu memperhatikan tata cara yang dibolehkan dan tidak dibolehkan (pemuasan nafsu dengan jalan “halal”). Yang paling perlu diperhatikan adalah tindakan yang berhubungan dengan seksualitas (misal: Agama sangat tegas melarang berdua-duaan walau den- gan calon pasangan, walaupun pinangan dan la- maran telah disampaikan tetapi belum sah), seks dalam Al-Qur’an dianggap sebagai sesuatu yang sangat agung: sebagai penyambung kehidupan, pengganda kehidupan, pengabdian ciptaan. Ka- rena fungsi seksual itu sendiri merupakan fung- si yang suci dan sakral, yang menjadi pertanda (ayat) kekuasaan Tuhan. Dan sumber pendidikan seks, yaitu Orang tua, Pendidik dan ulama serta Pakar ilmu kesehatan agar tidak terjadi pemaha- man yang keliru tentang seks dan dampak dari perilaku seks yang menyimpang.

Seks telah banyak dikenal orang, namun belum banyak yang memahaminya. Hal terse- but karena norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat belum memungkinkan untuk mem- bicarakan secara terbuka atau pendidikan seks masih dianggap tabu dan menjadi urusan orang dewasa (pernikahan dan keluarga). Namun pada masa sekarang, di mana informasi tentang seks lebih mudah diperoleh dan sangat banyak, maka usaha-usaha ke arah memberikan informasi yang benar perlu “digalakkan” terutama pada para remaja (Akhmad Azhar Abu Miqdad. 2001. hal. 43) untuk membentuk remaja yang bermo- ral sesuai dengan norma (agama). Karena da- lam Islam, seks selalu dianggap sebagai sesuatu yang serius. Seks bukan merupakan sesuatu un- tuk main-main atau semata-mata untuk menda- patkan kesenangan, seks tidak pernah dianggap sebagai “kecelakaan” atau sebagai bahan ujian. Namun kesopanan dan kehormatan merupakan karakter yang muncul ketika membahas tentang seks yang dihubungkan dengan kehidupan perni- kahan dan keluarga (Aliah B. Purwakania Hasan. 2008. hal. 283) untuk melanjutkan keberlangsun- gan “generasi” umat manusia.

Sarlito Wirawan Sarwono (dalam Akh- mad Azhar Abu Miqdad. 2001. hal. 40) menge- mukakan bahwa masalah seksualitas di kalangan remaja di kota besar timbul karena: 1) kurang adanya pendidikan seks pada remaja, sehingga praktis remaja buta terhadap masalah seks, 2) banyaknya rangsangan-rangsangan pornografi, baik yang berupa film, bahan bacaan maupun yang berupa obrolan sesama teman sebaya, 3)

tersedianya kesempatan untuk melakukan per- buatan seks, misalnya pada waktu orang tua tidak di rumah, di dalam mobil atau pada kesempatan piknik atau berkemah. Oleh karena itu, Islam telah mulai memberikan pendidikan seks sejak berabad-abad yang lalu. Pada saat Nabi Muham- mad Saw hidup, umat muslim baik lelaki maupun perempuan tidak malu-malu untuk menanyakan segala masalah, termasuk masalah pribadi seper- ti kehidupan seksual. Meskipu rasa malu adalah bagian dari iman tetapi tidak perlu malu untuk mendapatkan informasi (Aliah B. Purwakania Hasan. 2008. hal. 273) agar tidak “tersesat”, misalnya tentang pendidikan seks sebagai upaya menghindari pelecehan seksual (pencabulan dan perkosaan) pada remaja.

Pemberian informasi tentang masalah seksual yang tidak tepat dapat menimbulkan perilaku menyimpang yang merugikan bagi re- maja, keluarga dan masyarakat. Sehingga dalam kesempatan ini pembahasan tentang pendidikan seks lebih ditekankan pada pemahaman ana- tomi biologis, tanda seks primer dan sekunder, dampak-dampak dari perilaku seks menyim- pang, pernikahan yang sah dan keluarga sebagai pembentuk “generasi penerus” yang berkualitas. Meskipun pendidikan seks merupakan sesuatu yang disikapi dengan 2 kutub yang berlawanan pada masyarakat. Karena masih banyak orang tua, pendidik atau tokoh agama yang tidak mau membicarakan masalah seks, akibatnya banyak yang mencari informasi tentang masalah seks dari sumber yang tidak bertanggung jawab dan bereksperimen di luar batas yang seharusnya “resiko”. Karena banyaknya masalah remaja yang sangat rawan dan berbahaya sekali, belum diimbangi dengan kemampuan menyeleksi mana yang baik dan mana yang buruk.

Menurut Akhmad Azhar Abu Miqdad (2001. hal. 34) remaja yang tidak diberi pene- rangan dan pengertian tentang perubahan pada dirinya maka akan mencari penyaluran yang ne- gatif. Sehingga orang dewasa perlu memberikan informasi dan mendampingi kebutuhan remaja agar remaja “bersahabat” dengan orang yang bertanggung jawab. Meskipun banyak remaja yang malu untuk menanyakan masalah seks pada orang tua atau gurunya (orang dewasa). “Kamu masih kecil, jangan cinta-cintaan dulu”, atau “Seks itu jorok (porno), jangan diomongin” se- ring dilontarkan para orang tua yang tidak men- gerti permasalahan cinta dan seks putra putrinya yang sudah mulai remaja. Akibatnya para remaja lebih berani menanyakan atau mengungkapkan permasalahannya pada orang lain (teman) atau media, yang memungkinkan terjadinya kesa-

lahan karena “sama-sama tidak tahu”. Maka untuk para remaja yang seringkali “malu” un- tuk menanyakan seputar masalah seks. Semoga dengan adanya seminar hari ini dapat menjawab kebingungan sehingga terwujudlah remaja yang berprestasi “positif ” untuk mengisi kemerdekaan di negeri tercinta Indonesia.

Konstruk seksualitas berakar pada ideologi kultur yang ditegakkan berdasar pada kerangka normatif yang dominan. Di Indonesia, Islam menjadi kerangka normatif yang dominan, men- gingat sebagian besar penduduknya beragama Islam. Dimensi kultural mempelajari bagaima- na seorang pria harus berperan, dan bagaimana kedudukan perempuan. Sehingga jenis kelamin dapat dipahami secara kodrat juga karena ben- tukan ”persepsi” sosial. Dimensi sosial mempe- lajari perencanaan keluarga, pengaruh penyakit kelamin (misalnya AIDS oleh karena hubungan seks yang bebas), masalah aborsi, bagaimana membina rumah tangga yang sehat, dan lain- lain. Demikian luasnya hingga tidak jarang orang menyatakan bahwa sebagian besar hidup manu- sia dapat habis untuk membicarakan seks beserta akibatnya (Boyke Dian Nugroho. Problema Seks dan Cinta Remaja. 2004. hal 116).

Sedangkan dimensi agama pembahasan tentang seks adalah suci “sakral” dan sebagai perbuatan ibadah dan memiliki konsekuensi pa- hala ataupun dosa. Dan perlu dipahami bahwa keinginan seks/kebutuhan biologis sebenarnya merupakan hal yang fisiologis (normal terjadi pada usia dewasa). Karena sejak masa pubertas (11-13 tahun pada perempuan dan 12-14 tahun pada pria) mulailah terjadi pematangan organ- organ seks sehingga muncul dorongan dan sudah siap untuk terjadinya ”pembuahan” memiliki keturunan. Keinginan seks itu dikendalikan oleh sistem endokrin dalam tubuh, dimana terdapat kelenjar-kelenjar yang memproduksi zat kimia (hormon-hormon), sehingga kekurangan akan menurunkan gairah seks. Hormon testoteron pada laki-laki lebih tinggi menyebabkan mudah terangsang dan pada wanita hormon seks lebih rendah dalam darah menyebabkan lebih peka dalam menerima rangsangan (perbedaan perila- ku seks pada remaja pria dan wanita hanya pada cara ekspresinya).

Dahulu, persoalan perilaku seks remaja kurang tampak pada masyarakat desa di mana perkawinan terjadi saat usia masih sangat muda dan teknologi pun tidak secanggih masyarakat kota. Namun sekarang kondisi sudah berubah sejak HP masuk ke pedesaan sehingga persoalan seks remaja pun mulai di bahas dan menjadi tema-tema diskusi yang tidak ada habisnya. Se-

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang 2014

102 mentara itu, pada masyarakat yang sudah sangat maju, di mana hubungan seksual pra perkawinan dianggap biasa (apalagi remaja sudah diajari se- jak awal untuk menggunakan kondom sebagai pengaman), seksualitas remaja memang tidak banyak menimbulkan persoalan (Sarlito Wira- wan Sarwono. 2009. hal 75) karena norma moral tidak menjadi batasan dalam pembahasan seks.

Pendidikan seks sangat diperlukan oleh para remaja sejak dini, agar dapat menjawab pe- rubahan biologis (berproduksinya hormon) se- hingga mampu menjalani masa remaja dengan tetap bahagia dan terhindar dari ”minder”, emosi yang mudah berubah dan keinginan diterima se- cara ”utuh” di lingkungan sosial. Sehingga kebu- tuhan akan seksual dapat disesuaikan dengan usia dan status ”pernikahan” serta memhami kondisi emosi dan sosial. Dengan pemahaman bahwa usia remaja adalah masih usia WAJAR (wajib be- lajar) yang mempunyai energi optimal, sehingga perlu untuk beraktivitas ”berkarya” untuk meraih prestasi agar memiliki masa depan yang cerah. Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran, bagi individu (remaja) dan juga orang tua serta masyarakat karena merupakan masa transisi (negativistik) antara kanak-kanak dan dewasa. Kondisi yang membingungkan, di satu pihak dianggap masih kanak-kanak tetapi di lain pihak sudah harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Selain membingungkan, juga sering me- nimbulkan konflik yang menyebabkan perilaku aneh-canggung-kenakalan (Sarlito Wirawan Sar- wono. 2009. hal 72) serti inferior. Lebih-lebih ke- tika adanya pengaruh dari hasil kebudayaan lain yang bertentangan dengan moral agama, seperti: majalah, gambar porno yang diperjualbelikan, film dan sebagainya. Bagi remaja hal tersebut menimbulkan hasrat ingin membeli dan meny- aksikan film yang menyuguhkan adegan seks, sehingga hasil dari pengamatannya menimbul- kan rangsangan yang akhirnya mewujudkan pe- niruan dan praktik di kalangan remaja (Akhmad Azhar Abu Miqdad. 2001. hal. 39) yang dilaku- kan dengan coba-coba (sebagai salah satu upaya mencari jati diri) tanpa memperhatikan dampak dari perilaku seks yang menyimpang dan dosa akibat perilaku melanggar norma.

Remaja dalam usahanya mencari identitas dirinya maka sering membantah orang tuanya karena memiliki pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai sendiri. Menurut pendapat remaja bah- wa orang tua tidak dapat lagi dijadikan pegangan namun sebaliknya untuk berdiri sendiri remaja belum cukup kuat. Oleh karena itu remaja sering terjerumus ke dalam kelompok teman-teman se- baya yang memiliki persoalan sama. Dalam ke-

lompok maka remaja dapat saling memberi dan mendapat dukungan mental. Sehingga kelompok remaja berbuat sesuatu, misalnya kenakalan atau perkelahian maka selalu dilakukan berkelompok atau tidak berani berbuat secara perorangan (Sar- lito Wirawan Sarwono. 2009. hal 72). Bahkan perlu dipahami bahwa energi remaja sedang be- rada dipuncak sehingga harus disalurkan dengan kegiatan positif yang menguras tenaga dan harus dapat merasakan kasih sayang orang tua (sehing- ga tidak akan melakukan hal yang akan membuat orang tua bersedih).

Melihat perkembangan remaja yang me- liputi aspek fisik dan psikis, yakni kematangan seks yang disertai timbulnya dorongan seks yang masih baru dan belum diketahuinya, dan belum bertanggung jawab karena masih mengikuti ke-