PERAN KEILMUAN DAN PROFESI BIDANG AGROINDUSTRI DALAM MENJAWAB TANTANGAN MASA DEPAN
E. KURIKULUM BERBASIS INOVASI DAN PELUANG BISNIS
Dalam pengembangan kurikulum yang mampu menjawab tantangan jaman adalah kurikulum yang difokuskan pada upaya inovasi dan eksplorasi peluang bisnis yang berbasis pada kondisi di Indonesia. Menurut Purba (2009), dalam hal inovasi Indonesia menduduki urutan ke 24, di atas Kanada (27), Italia (31), Eslandia (32), Spanyol (57), Hongkong (29), Cina (30) dan India (41).
Walaupun kemampuan inovasi Indonesia tinggi akan tetapi perolehan hak paten tidak melebihi dari 5%, sementara sisanya sebanyak 95% merupakan paten asing. Dari data tersebut menunjukkan bahwa minat peneliti Indonesia untuk mematenkan hak cipta inovasinya masih relatif rendah, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah 1) banyaknya paten yang telah diperoleh akan tetapi tidak laku, atau 2) paten yang dihasilkan belum siap dikomersialkan, karena penelitian masih pada tarap percobaaan laboratorium belum pada skala ganda atau pilot plant sehingga gambaran kelayakan produksi belum muncul, 3) Sebagian besar perguruan tinggi masih berorientasi pada teaching university, sehingga dalam pembimbingan tugas akhir sebagian besar materi berorientasi pada latihan analisis bukan pada inovasi atau perancangan produk yang potensi industri tinggi.
Solusi dalam pengembangan kurikulum yang berfokus pada inovasi dan peluang bisnis, harus ada perubahan orientasi penelitian ke arah produk yang memiliki prospek nilai bisnis
tinggi, oleh karena itu upaya melibatkan kalangan pelaku agroindustri menjadi dosen tamu diperguruan tinggi mutlak dibutuhkan. Disisi lain, agar penelitian siap dikomersialkan harus ada upaya menindaklanjuti penelitian dari skala laboratorium menuju ke skala pilot plant atau skala industri, dengan upaya tersebut diharapkan penelitian di perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan dinamika yang ada di indutrisaat kini dan mendatang.
Pada saat sekarang telah ada beberapa perguruan tinggi yang berupaya untuk melakukan revitalisasi kearah pendidikan technopreneur, diantaranya adalah Universitas Brawijaya dan Institut Pertanian Bogor. Universitas Brawijaya memasukkan substansi technopreneurship kedalam misi universitas sebagai berikut : menyelenggarakan pendidikan agar peserta didik menjadi manusia yang berkualitas, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa emtrepreneur, berwawasan luas, memiliki disiplin dan etos kerja, sehingga menjadi tenaga akademis dan profesional yang tangguh dan mampu bersaing di tingkat internasional. Lebih lanjut untuk implementasi di tingkat jurusan, Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian UB mempunyai visi : menjadi pusat pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang ilmu dan teknologi agroindustri yang unggul dan berwawasan technopreneur di tingkat nasional dan internasional, dan misi : melaksanakan pendidikan, penelitian, pengabdianmasyarakat danpenyebarluasan ilmu dan teknologi agroindustri guna menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian dan kemampuan untuk menjalankan tugas secara profesional, serta bersikap mental technopreneur, berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, bermoral tinggi, dan berkepribadian Indonesia.
Dalam rangka implementasi visi dan misi tersebut, Universitas Brawijaya telah menetapkan muatan mata kuliah wajib Kewirausahaan, sedangkan di FTP kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib dengan nama yang berbeda-beda disetiap jurusan. Di Jurusan TIP menjadi Kewirausuhaan Agroindustri (TPI 4224) dengan bobot SKS 3 (3-0) dan dilanjutkan dengan Praktikum Terpadu Pengembangan Agroindustri (SKS 3), di Jurusan THP Kewirausahaan Pangan (TPP 4214) dengan bobot SKS 3 dan dilanjutkan dengan Praktikum Kewirausahaan Pangan (TPP 4215) dengan bobot SKS 2, sedangkan di Jurusan TEP menjadi Kewirausahaan Agroindustri (TPE 4213) dengan obbot SKS 3 (2-1).
Beberapa program technopreneur yang telah lama dikembangkan oleh Dikti bekerjasama dengan RAMP (Recognition and Monitoring Programe) IPB, pada saat sekarang memberikan Hibah Proyek Pengembangan Kurikulum Berbasis Technopreneurship pada 7 Perguruan Tinggi, diantaranya adalah Jurusan Teknologi Industri Pertanian UB. RAMP mencoba membangun atmosfir technopreneurship di perguruan tinggi melalui beberapa metode, antara lain : perbaikan kurikulum technopreneurship, pendampingan mahasiswa dalam pengembanganinovasi kewirausahaan.
Dari berbagai konsep pemberdayaan kurikulum untuk meningkatkan kemampuan technopreneurship lulusan perguruan tinggi kita dihadapkan pada beberapa permasalahan, antara lain: a) muatan SKS materi technopreneurship, b) fasilitas laboratorium untuk technopreneurship, c) lembaga pendukung untuk inkubasi bisnis, d) Perusahaan/ industri yang mau digunakan magang kewirausahaan, serta e) Kebutuhan mentor technopreneurship.
a) SKS mata kuliah
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan berfokus pada technopreneurship adalah tidak banyak mata kuliah technopreneur yang bisa dimasukkan ke dalam SKS kurikulum, karena untuk mewadahi kompetensi keilmuan teknologi pertanian saja sudah diatas 144 SKS. Oleh sebab itu salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memasukkan ke dalam muatan soft skill yang dikelola oleh kelembagaan tersendiri, sehingga kegiatan peningkatan technopreneurship tidak mengganggu kegiatan akademik. Sebagai contoh Direktorat Kemahasiswaan Dikti telah meluncurkan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) dan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang memberikan stimulan dana untuk inisiasi technopreneur bagi mahasiswa, yang dikompetisikan setiap tahun. Kegiatan tersebut dikelola oleh bidang kemahasiswaan (PR 3 di universitas). Untuk menindaklanjuti implementasi program tersebut di FTP UB membentuk kelembagaan mahasiswa yang bernama Agritech Business Centre (ABC), lembaga tersebut
dikelola PD-3. Tujuan dari pembentukan lembaga adalah untuk memfasilitasi kegiatan kewirausahaan mahasiswa, khususnya bagi program yang tidak dibiayai oleh Dikti, akan tetapi didanai oleh fakultas secara simultan.
b) Fasilititas laboratorium technopreneurship
Laboratorium yang dibutuhkan untuk mendukung pendidikan technopreneurship adalah laboratorium yang sekaligus dapat digunakan untuk menghitung biaya produksi, oleh sebab itu Lab. Pilot Plant mutlak diperlukan untuk mendukung pendidikan tersebut. Bilamana jumlah pilot plant yang ada dikampus tidak mencukupi, alternatif solusi yang dapat dimunculkan adalah penggunaan UKM sebagai Laboratorium Lapang, yang diharapkan mampu membantu kegiatan mahasiswa dalam penelitian yang berorientasi pada technopreneurship.
c) Lembaga pendukung technopreneurship
Keberadaan lembaga pendukung untuk technopreneurship di perguruan tinggi tidaklah banyak, oleh sebab diperlukan upaya membuat UPT yang benar-benar mampu melakukan bisnis industri. Lembaga pendukung tersebut bisa berada di dalam kampus maupun di luar kampus, namun demikian permasalahan yang timbul adalah mengelola bisnis industri dibutuhkan personal yang profesional, dan hal tersebut tidaklah mudah dirangkap oleh tenaga pendidik (dosen). Di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian UB telah dibentuk Baking School, yang pada tahap selanjutnya berkembang menjadi Food Production and Training Centre (FPTC), sementara di jurusan TIP UB dibentuk Agroindustrial Business and Technopreneurship Centre (ABEC). Pengalaman berharga yang bisa diambil dari penyelenggaraan lembaga tersebut adalah kinerja dosen kurang optimal akibat keterbatasan pengalaman dan waktu yang tersita untuk perkualiahan dan pembimbingan, apalagi bagi yang aktif di penelitian dan pengabdian masyarakat. Alternatif solusinya adalah mengangkat profesional bisnis dan industri untuk mengelola Unit Bisnis milik perguruan tinggi.
d) Perusahaan/ industri untuk magang
Proses pemagangan memegang peran penting dalam pendidikan yang berorientasi technopreneurship, karena dengan adanya kegiatan tersebut mahasiswa akan mampu memahami bisnis dan industri riil dari berbagai aspek sistem produksi, mulai dari penanganan bahan, proses produksi, distribusi dan pemasaran secara menyeluruh. Namun demikian tidak mudah mencari perusahaan yang mau diajak sharing membantu pendidikan tersebut, dengan pertimbangan mengganggu siklus kerja serta alasan jurusan yang tidak memiliki cukup biaya pembimbingan untuk instansi luar. Solusi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah merangkul alumni yang telah sukses untuk dilibatkan sebagai dosen tamu, tempat magang PKL dan juga tempat pelaksanaan skripsi berbasis bisnis dan industri.
e) Mentor technopreneurship
Dalam sistem pendidikan technopreneur kecukupan mentor sangat dibutuhkan, baik dari aspek kemampuan/ pengalaman berwirausaha maupun jumlah mentor yang cukup dengan semakin banyaknya mahasiswa. Permasalahan yang dihadapi dalam mendapatkan mentor hampir sama dengan industri tempat magang, oleh sebab itu pendekatan hubungan dengan alumni yang telah sukses sangat dibutuhkan untuk menjamin terlaksananya pendidikan berbasis technopreneurship.
PENUTUP
Dari paparan di atas dapat dikerucutkan beberapa masalah mendasar untuk membangun agroindustri di Indonesia, diantaranya adalah:
Minimnya insentif bagi pengembangan industri padat karya, hambatan regulasi, ekonomi biaya tinggi, suku bunga kredit investasi yang masih cukup tinggi, dukungan infrastruktur dan logistik yang sangat minim serta jauh dari memadai, hingga perkembangan teknologi pengolahan yang lamban.
Rendahnya ketersediaan SDM yang berkualitas, terampil, mampu menerapkan teknologi dan manajemen produksi di bidang agroindustri.
Perbaikan kualitas SDM dapat dilakukan dengan kajian ulang sistem pendidikan agroindustri di perguruan tinggi Indonesia, baik dari aspek kuantitas maupun kualitas.
Lemahnya penguasaan agroindustri di Indonesia selain disebabkan oleh sistem perkualiahan yang mengandalkan teaching oriented, juga akibat kurangnya substansi technopreneurship pada kurikulum sehingga kemampuan lulusan kurang dalam melakukan job creation di bidang agroindustri.
Untuk mendapatkan kurikulum sesuai dengan keinginan tersebut diperlukan triple helix antara perguruan tinggi, asosiasi profesi dan kalangan agroindustri, sehingga dihasilkan kurikulum agroindustri yang mengacu pada KKNI dan berbasis kompetensi.
Berbagai perbaikan di atas diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berdaya saing di kawasan Asean khususnya dan Asia pada umumnya.