• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Teori yang Mendukung

5. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum pengganti yang diharapkan dapat

menyempurnakan Kurikulum sebelumnya. Muhammad Nuh (dalam Indratno,

2013) menyatakan bahwa Kurikulum 2013 merupakan langkah pengembangan

dari kurikulum yang sebelumnya. Kurikulum 2013 disusun sebagai penyempurna

pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi,

penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat

menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan.

Pengembangan ini dilakukan untuk mempersiapkan peserta didik dalam

(Fadlillah: 2014) Kurikulum 2013 bertujuan untuk menyiapkan siswa menghadapi

tantangan masa depan dan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat dengan

membekali mereka ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan yang

memadai. Tantangan zaman yang dimaksud adalah perkembangan teknologi yang

sangat pesat, dengan demikian Kurikulum 2013 diharapkan mampu menjadi

jawaban atas globalisasi bagi dunia pendidikan.

a. Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013

Rasional perubahan Kurikulum 2013 dilakukan dengan pertimbangan

adanya tantangan-tantangan yang dihadapi, tantangan tersebut baik internal

maupun eksternal. Ada 8 (delapan) standar dalam pendidikan yang dianggap

mempengaruhi kondisi pendidikan di Indonesia. Delapan standar tersebut adalah

standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar pendidik,

dan standar kompetensi lulusan. Standar-standar tersebut menjadi tantangan dari

dalam untuk suatu pendidikan (Kemendikbud, 2013a).

Perkembangan penduduk di Indonesia dari sisi pertumbuhan penduduk, dan

usia produktifitasnya juga demikian. Meningkatnya pertumbuhan usia produktif

perlu diisi dengan pengembangan kompetensi dan keterampilan juga, dengan

demikian akan membantu kemajuan negara dengan baik apa bila penduduknya

memiliki kompetensi dan keterampilan yang baik pula (Kemendikbud, 2013a).

Tantangan lainnya adalah tantangan eksternal yang muncul dari luar dunia

pendidikan, seperti bayang-bayang masa depan, kompetensi yang diperlukan

kelak, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, bahkan

masalah ini akan jeruji pada dampak globalisasi yang sedang merajarela, seperti

kemajuan teknologi yang pasti mengandalkan kompetensi dari seseorang,

sehingga menimbulkan resepsi bahwa pengetahuan adalah segalanya. Jika sudah

demikian, seorang pelajar mungkin akan stres karena beban prestasi ini, lalu

mungkin juga pengaruh-pengaruh fenomena negatif seperti tawuran pelajar,

narkoba, korupsi, dan lain-lain. Beberapa hal tersebut menjadi perhatian dunia

pendidikan sehingga diharapkan Kurikulum 2013 dapat menjadi jembatan bagi

pendidikan membuat peserta didik memiliki arah dalam mempersiapkan diri untuk

masa depan. (Kemendibud, 2013a)

Tantangan internal dan eksternal di atas adalah dua hal yang harus dihadapi

seiring dengan perkembangan zaman yang sangat cepat. Akan tetapi alasan lain

pentingnya perubahan kurikulum adalah kesenjangan yang sedang terjadi saat ini,

kesenjangan-kesenjangan kurikulum yang terjadi akan ditunjukkan dalam tabel di

bawah ini:

Tabel 2.3.

Identifikasi Kesenjangan Kurikulum

KURIKULUM SEBELUM K13 KONSEP IDEAL

A. KOMPETENSI LULUSAN 1 Belum sepenuhnya menekankan

pendidikan karakter

1 Berakhlak mulia 2 Belum menghasilkan keterampilan sesuai

kebutuhan

2 Keterampilan yang relevan 3 Pengetahuan-pengetahuan lepas 3 Pengetahuan-pengetahuan terkait

B. MATERI PEMBELAJARAN 1 Belum relevan dengan kompetensi yang

dibutuhkan

1 Relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan

2 Beban belajar terlalu berat 2 Materi esensial

3 Terlalu luas, kurang mendalam 3 Sesuai dengan tingkat perkembangan anak C. PROSES PEMBELAJARAN

1 Berpusat pada Guru 1 Berpusat pada peserta didik

2 Reses pembelajaran berorientasi pada buku teks

2 Sifat pembelajaran yang kontekstual 3 Buku teks hanya memuat materi bahasan 3 Buku teks memuat materi dan proses

pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan

KURIKULUM SEBELUM K13 KONSEP IDEAL D. PENILAIAN

1 Menekankan aspek kognitif 1 Menekankan aspek kognitif, afektif,

psikomotorik secara proporsional 2 Tes Menjadi cara penilaian yang

dominan

2 Penilaian tes pada portofolio saling melengkapi

E. PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

1 Memenuhi kompetensi profesi saja 1 Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal

2 Fokus pada ukuran kinerja PTK 2 Motivasi mengajar

F. PENGELOLAAN KURIKULUM 1 Satuan pendidikan mempunyai

pembebasan dalam pengelolaan kurikulum

1 Pemerintah pusat dan daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan 2 Masih dapat kecenderungan satuan

pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah

2 Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah 3 Pemerintah hanya menyiapkan sampai

standar isi mata pelajaran

3 Pemerintah menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku dan pedoman Sumber: Mulyasa (2013)

Melihat tantangan-tantangan yang dihadapi serta kesenjangan yang terjadi

saat ini, perlu adanya pola pikir dalam dunia pendidikan misalnya dari

pembelajaran yang umumnya tradisional diubah dengan pembelajaran yang dapat

mengaktifkan peserta didik dan dengan memanfaatkan potensi loka yang ada di

sekitar. Mengenai penguatan tata kelola dengan belajar dari pengalaman

diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sehingga fungsi

guru, peserta didik serta pegawai lainnya lebih jelas bahwa dalam kurikulum

nantinya, semua dibuat berdasarkan standar nasional. Pendalaman dan perluasan

materi dilakukan karena berdasarkan studi PISA tahun 2009, bahwa pelajar

Indonesia hanya mampu mencapai level 3 (tiga) dalam belajarnya. Sangat jauh

dari negara-negara lainnya. Pendalaman dan perluasan materi sangat penting

Perubahan kurikulum perlu disesuaikan dengan kondisi masa depan, kondisi

pendidikan saat ini dianggap kurang untuk mempersiapkan masa depan sehingga

perlu dilakukan pergeseran proses pembelajaran. Kemendikbud (2013a)

menuliskan pergeseran proses diarahkan menjadi; (1) dari berpusat pada guru

menuju berpusat pada peserta didik/peserta didik; (2) dari satu arah menuju

interaktif; (3) dari isolasi menuju lingkungan jejaring; (4) dari pasif menuju aktif-

menyelidiki; (5) dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata; (6) dari

pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim; (7) dari luas menuju

perilaku khas memberdayakan kaidah keterkaitan; (8) dari stimulasi rasa tunggal

menuju stimulasi ke segala penjuru; (9) dari alat tunggal menuju alat Multimedia;

(10) dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif; (11) dari produksi

massa menuju kebutuhan pelanggan; (12) dari usaha sadar menu jamak; (13) dari

satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak; (14) dari

kontrol berpusat menuju otonomi dan kepercayaan; (15) dari pemikiran faktual

menuju kritis; (16) dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran

pengetahuan.

Sejalan dengan itu pergeseran proses pembelajaran seperti di atas, perlu juga

dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam

perumusan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Perumusan SKL da dalam KBK

2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari Standar Isi (SI) harus diubah menjadi

perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Penyempurnaan pola pikir perumusan

Tabel 2.4.

Penyempurnaan Pola Pikir

No. KBK 2004 KTSP 2006 Kurikulum 2013

1 Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari Standar Isi

Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan

2 Standar Isi dirumuskan berdasarkan Tujuan Mata Pelajaran (Standar

Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran) yang dirinci menjadi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran

Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran

3 Pemisahan antar mata pelajaran pembentukan sikap, pembentukan keterampilan, dan pembentukan pengetahuan

Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan

4 Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang Iin dicapai

5 Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran terpisah

Semua mata pelajaran diikat oleh Kompetensi Inti (tiap kelas) Sumber: Mulyasa (2013)

Kurikulum 2013 mempunyai 4 (empat elemen perubahan yaitu, Standar

Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian.

Standar Kompetensi Lulusan Merupakan salah satu dari 8 (delapan) standar

nasional pendidikan sebagaimana yang telah di tetapkan dalam Pasal 35 Ayat (1)

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup

pengetahuan, sikap, dan keterampilan, yang akan menjadi acuan bagi

pengembangan kurikulum dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Tabel 2.5

Elemen Perubahan Kurikulum

ELEMEN DESKRIPSI

SD Kompetensi

Lulusan

Adanya peningkatan dan keseimbangan dot skills dan Kardi skills yang meliputi aspek Kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan Kedudukan

mata pelajaran (ISI)

Kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi

Pendekatan (ISI)

Kompetensi dikembangkan melalui: Tematik terasi dalam semua pelajaran Tematik terasi

dalam semua pelajaran

- Holistik dan interaktif berfokus pada alam, sosial, dan budaya - Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan sains

- Jumlah mata pelajaran dari 10 menjadi 6

- Jumlah jam bertambah 4JP/Minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

Proses pembelajaran

- Standar yang semula terproses pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan proses mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta

- Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat

- Guru bukan satu-satunya sumber belajar

- Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan Tematik dan terpadu

Penilaian - Penilaian berbasis kompetensi

- Pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil kerja), menuju penilaian otentik (mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil)

- Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang di perolehnya terhadap skor ideal (maksimal)

- Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga pada Kompetensi Inti dan SKL

- Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat peserta didik sebagai instrumen utama penelitian

Ekstrakurikuler - Pramuka (wajib)

- UKS

- PMR

- Bahasa Inggris

Sumber: Mulyasa (2013)

Elemen perubahan di atas menjelaskan bahwa Kurikulum 2103 menata

ulang SNP yang telah berlaku sehingga menjadi penyempurnaan bagi pendidikan

nasional. Penataan ulang yang dilakukan dengan memperhatikan perkembangan

zaman dan kesenjangan yang terjadi saat ini, dengan memperhatikan aspek

peserta didik nantinya dapat memperoleh pembentukan pengetahuan, sikap dan

keterampilan secara merata melalui pembelajaran kurikulum 2013.

b. Pendekatan Tematik Integratif

Kurikulum 2013 menerapkan pendekatan tematik integratif sebagai

pendekatan dalam proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Dalam perubahan

yang dilakukan pada Kurikulum 2013 dilandasi oleh berbagai hal, antara lain

adalah landasan yuridis, teoritis, dan konseptual. Pembelajaran kontekstual

merupakan salah satu landasan konseptual pengembangan Kurikulum 2013

(Mulyasa, 2013). Pembelajaran kontekstual diharapkan dapat menciptakan kondisi

belajar menjadi semirip mungkin dengan situasi aslinya atau kondisi nyata. Hal ini

bertujuan agar guru dapat dengan mudah mengaitkan pembelajaran yang

dilakukan dengan kondisi nyata yang sebenarnya.

Pendekatan kontekstual merupakan konsep yang digunakan untuk

membantu guru dalam mengaitkan materi yang diajarkan dengan kondisi nyata

yang ada di sekitar peserta didik, sehingga akan membantu peserta didik untuk

membantu memahami kemudian menghubungkan pengetahuan yang diperoleh

dengan menerapkan dalam konsep kehidupan sehari-hari (Suprijono, 2011).

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Asra (2009) yang mengungkapkan bahwa

pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang lebih pada upaya guru untuk

memfasilitasi peserta didik dalam memahami relevansi materi , sehingga peserta

didik mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya

pendekatan kontekstual lebih menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada

didik dalam belajar, namun tidak sepenuhnya melepas peserta didik. Karena

dalam pembelajaran ini peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan,

keterampilan dan pemahaman kontekstual mereka dengan menghubungkan materi

pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga proses belajar seperti ini

akan bermakna karena peserta didik belajar dari pengalamannya.

Komponen dalam pendekatan pembelajaran kontekstual sama dengan yang

digunakan dalam Kurikulum 2013, seperti dalam Sagala (2009) yang

mengungkapkan bahwa komponen pembelajaran kontekstual adalah

kontruktivisme atau yang berhubungan dengan perkembangan pemikiran peserta

didik, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan

penilaian sebenarnya adalah data-data yang diperoleh dari kegiatan yang

dilakukan oleh peserta didik. Pendapat tersebut senada dengan Riyanto (2010)

data yang dihasilkan peserta didik dapat berupa proyek atau kegiatan, laporan,

tugas rumah, kuis, karya, presentasi atau penampilan peserta didik, demonstrasi,

laporan, jurnal, hasil tes tulis, dan karya tulis.

Pembelajaran kontekstual disampaikan pada bab ini dimaksudkan guna

menjelaskan tentang pendekatan tematik integratif yang pada dasarnya juga

menerapkan konsep pembelajaran kontekstual. Pendekatan tematik integratif lebih

condong pada konsep keterkaitan muatan pelajaran satu dengan lainnya yang

kemudian terintegrasi sehingga sesuai dengan konteks pribadi peserta didik.

Sehingga dalam proses pembelajarannya peserta didik belajar dengan mengaitkan

pelajaran satu dengan yang lainnya dan peserta didik dapat mengaplikasikannya

Model pembelajaran tematik pada awalan dikenal dengan istilah Integrative

Thematic Instriction (ITI) yang berkembang sekitar tahun 1970. Belakangan ini

model pembelajaran tematik dianggap memiliki efektivitas bagi pembelajaran di

Indonesia. Dipandang efektif karena pendekatan tematik mencakup berbagai

dimensi serta pembelajarannya menyeluruh yang mencakup aspek emosi, fisik,

dan akademik di kelas maupun di lingkungan sekolah. (Kemendikbud, 2013a)

Pembelajaran pada Kurikulum 2013 di semua tingkatan kelas rendah

maupun kelas tinggi dilaksanakan secara tematik integratif, sehingga atap

pelajaran tidak disajikan Sara terpisah melainkan berdasarkan tema. Tema

tersebut kemudian dikombinasikan dengan mata pelajaran yang saling berkaitan

(Mulyasa, 2013). Dalam pembelajaran tematik integratif, mata pelajaran satu

dengan yang lainnya melebur menjadi satu, sehingga peserta didik tidak akan

menyadari mata pelajaran apa yang sedang mereka pelajar.

Hadisbroto dalam Trianto (2011) mengungkapkan bahwa pembelajaran

terpadu lebih pada mengaitkan suatu pokok bahasan dengan pokok bahasan

lainnya atau tema tertentu, suatu konsep dengan konsep tertentu, yang dilakukan

secara spontan maupun direncanakan serta dapat mencakup satu bidang studi

bahkan lebih dengan berbagai pengalaman belajar anak sehingga menjadi lebih

bermakna. Sedangkan Joni dalam Trianto (2011) juga mengungkapkan bahwa

pembelajaran terpadu merupakan sebuah sistem yang dapat mengaktifkan peserta

didik baik secara individu maupun kelompok untuk mencari, menggali serta

menemukan konsep bahkan prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan

merupakan suatu pendekatan belajar mengajar dengan melibatkan berbagai bidang

studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik.

Pembelajaran terpadu selalu dikatakan memiliki ciri pembelajaran secara

holistik, bermakna dan otentik. Sugiyanto (2010) mengungkapkan bahwa

pembelajaran tematik terpadu dikatakan holistik karena peserta didik belajar tidak

hanya dari satu bidang kajian saja, tetapi didapatkan dari berbagai bidang,

sehingga peserta didik lebih dapat memahami banyak hal setelah belajar.

Dikatakan bermakna karena peserta didik mampu menghubungkan berbagai

konsep untuk menemukan keterkaitan konsep dengan kehidupan sehari-hari

mereka. Otentik karena peserta didik mengetahui secara langsung apa yang

sedang dipelajarinya. Dan dikatakan aktif karena peserta didik secara aktif

menggunakan fisik, mental, intelektual, dan emosinya untuk menggali

pengetahuan dalam proses belajar mengajar yang dialami.

Pendapat para ahli mengenai pembelajaran tematik integratif di atas, dapat

disimpulkan bahwa pendekatan tematik integratif merupakan pendekatan yang

mengusahakan keterkaitan antar bidang studi, antar konsep, antar pokok bahasan,

antar tema bahkan hingga pembelajaran tersebut dapat memberikan pengalaman

yang bermakna bagi peserta didik. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran

tematik integratif mengusahakan peserta didik memperoleh pembelajaran secara

c. Pendekatan Saintifik

Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan Kurikulum 2013 adalah

dengan pendekatan saintifik (ilmiah). Pemilihan pendekatan saintifik dalam proses

pembelajaran karena informasi yang di peroleh bisa dari mana saja, kapan saja,

dan tidak bergantung dari informasi yang keluar dari guru. Maka kondisi

pembelajaran yang diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam mencari tahu

dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu terlebih dahulu saat berada di

dalam kelas oleh guru.

Pembelajaran yang terjadi di kelas, menekankan pada perkembangan sikap,

keterampilan dan pengetahuan peserta didik. Para ilmuwan, lebih mengedepankan

penalaran induktif dari pada penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah, cara

pikir dengan memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik

simpulan secara menyeluruh. Sedangkan, penalaran deduktif adalah cara pikir

dengan memandang fenomena atau situasi yang umum yang kemudian menarik

kesimpulan yang lebih spesifik. Proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013

menitik beratkan pada esensi pendekatan saintifik(Kemendikbud, 2013).

Proses pendekatan dengan menerapkan pendekatan saintifik bermaksud

guna memberikan pemahaman bagi peserta didik untuk mengenal dan memahami

materi yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan ilmiah (Kemendikbud,

2013). Peserta didik yang mempelajari materi pembelajaran Seongnam

menggunakan pendekatan yang ilmiah dapat membuat peserta didik mendapatkan

informasi yang berasal dari luar guru. Proses pembelajaran semacam ini

Pendekatan saintifik juga dapat diartikan sebagai pendekatan keterampilan

proses. Pendekatan keterampilan proses menurut Semiawan dik, (1985) adalah

pendekatan yang membuat peserta didik untuk belajar menemukan dan

mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuh kembangkan sikap

dan nilai dari pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat diperoleh peserta didik

melalui langkah-langkah dalam pembelajaran saintifik. Langkah-langkah

pembelajaran dengan pendekatan saintifik terdiri dari mengamati, menanya,

mengumpulkan informasi, mengasosiasikan dan mengomunikasikan. Muatan

pelajaran di setiap pembelajaran berbeda-beda. Oleh karena itu, langkah-langkah

yang digunakan untuk setiap pembelajaran berbeda dan tidak harus urut. Berikut

ini langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik integratif

(Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

1) Mengamati

Kegiatan pembelajaran yang direncanakan oleh guru sebaiknya memberi

makna bagi para peserta didik. Metode mengamati memiliki keunggulan tertentu

bagi peserta didik, seperti menyajikan media objek secara nyata sehingga peserta

didik senang dan tertantang. Oleh karena itu rasa ingin tahu pada masing-masing

peserta didik dapat terjawab. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan

dalam beberapa langkah. Langkah-langkah tersebut adalah (1) menentukan objek

yang akan diamati, (2) membuat pedoman pengamatan sesuai dengan objek yang

akan diamati, (3) menentukan secara jelas data-data yang perlu diamati, (4)

jelas supaya pengamatan berjalan lancar, dan (6) menentukan cara yang

digunakan untuk mencatat data pengamatan.

Kegiatan pengamatan yang dilakukan dalam pembelajaran pasti melibatkan

peserta didik. Selain langkah-langkah pengamatan, guru perlu menentukan bentuk

pengamatan yang akan digunakan dalam pembelajaran. Ada tiga bentuk

keterlibatan peserta didik dalam melakukan pengamatan. P ertama, pengamatan

biasa. Pada pengamatan ini peserta didik sebagai subjek pengamatan, di mana

peserta didik tidak melibatkan diri dengan objek pengamatan. Kedua,pengamatan

terkendali. Sama seperti pengamatan biasa namun dalam pengamatan ini objek

pengamatan ditempatkan pada ruangan khusus yang telah dikendalikan, sehingga

termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen. Ketiga, pengamatan partisipatif,

pada pengamatan model ini, peserta didik terlibat secara langsung dengan objek

yang diamati (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

Selain bentuk-bentuk penelitian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan

oleh guru dan peserta didik. Cermat, objektif dan jujur serta fokus pada objek

yang diamati, untuk kepentingan pembelajaran. Homogenitas atau heterogenitas

subjek, objek atau situasi yang diamati. Guru dan peserta didik perlu memahami

apa yang hendak dilakukan untuk membuat catatan atau hasil pengamatan

(Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

2) Menanya

Pembelajaran di kelas maupun di luar kelas tidak lepas dari kegiatan

bertanya. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2013), menerangkan ada

tahu, minat dan perhatian peserta didik terhadap suatu pembelajaran, mendorong

dan menginspirasi peserta didik untuk belajar mengembangkan pertanyaan yang

dibuat dari dan untuk dirinya sendiri, mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik,

membangkitkan keterampilan peserta didik dalam bidang komunikasi, mendorong

partisipasi peserta didik dalam kegiatan kelompok, mendorong sikap keterbukaan

untuk menerima dan memberi masukan atau gagasan pada orang lain, dan melatih

kesantunan dalam berbicara.

Kegiatan bertanya di dalam pembelajaran, harus memiliki tujuan yang jelas.

Ada beberapa kriteria pertanyaan yang baik, di antaranya adalah pertanyaan harus

singkat dan jelas, menginspirasi jawaban, memiliki fokus, bersifat probling atau

divergen, bersifat validatif atau penguatan, memberi kesempatan peserta didik

untuk berpikir ulang, merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif, dan

merangsang proses interaksi (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

3) Mengumpulkan Informasi

Mengumpulkan informasi merupakan salah satu tindak lanjut dari kegiatan

bertanya. Peserta didik mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai sumber

yang ada di lingkungan melalui berbagai cara. Melalui kegiatan ini peserta didik

dilatih untuk menghubungkan antara informasi yang satu dengan yang lainnya.

Setelah peserta didik dapat menghubungkan informasi yang satu dengan informasi

yang lain, diharapkan peserta didik mampu membuat kesimpulan dari hal yang

4) Mengasosiasikan

Mengasosiasikan adalah mengolah informasi. Informasi-informasi yang

telah peserta didik temukan selanjutnya akan diolah untuk mendapatkan

kesimpulan. Pengolahan informasi dapat berupa menambah sampai mengolah

informasi yang bersifat mencari solusi berdasarkan sumber-sumber yang ada

(Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

5) Mengomunikasikan

Peserta didik telah memperoleh dari kegiatan mengamati, bertanya, mencari

informasi dan mengolah informasi yang ada. Kegiatan-kegiatan yang telah dilalui

peserta didik sebaiknya diceritakan atau dituliskan sebagai bentuk komunikasi.

Peserta didik perlu dibiasakan menyampaikan pendapat atau mengomunikasikan

hasil belajarnya (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

Pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013 pada dasarnya merujuk pada

suatu proses pembelajaran yang menuntun peserta didik untuk menemukan sendiri

jawaban dari sebuah permasalahan yang dihadapinya dengan mengedepankan ide-

ide kreatif peserta didik, sehingga dapat mengembangkan Kemampuan peserta

didik secara holistik mulai dari anak pengetahuan, sikap hingga keterampilan.

d. Penilaian Otentik

Penilaian otentik adalah jenis penilaian yang memicu peserta didik untuk

aktif dalam membangun suatu pengetahuan yang dimilikinya agar dapat memicu

pembentukan kompetensi yang sudah ditemukan, seperti yang telah ditetapkan

Dokumen terkait