BAB II LANDASAN TEORI
A. Teori yang Mendukung
8. Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran sangat diperlukan untuk proses pembelajaran.
Trianto (2010) menyatakan bahwa perangkat pembelajaran merupakan perangkat
yang digunakan dalam proses pengelolaan proses pembelajaran yang meliputi
buku peserta didik, silabus, RPP, LKS, soal evaluasi atau tes hasil belajar dan
media pembelajaran. Perangkat pembelajaran dapat disusun dan dikembangkan
oleh guru maupun peneliti.
Perangkat pembelajaran yang dihasilkan harus sesuai dengan kemampuan
peserta didik. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berangkat
pembelajaran adalah segala perlengkapan belajar yang disusun untuk mendukung
proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Silabus, RPP, bahan
ajar, LKS adalah perangkat pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar
mengajar, namun pengembangan yang dilakukan peneliti hanya akan terfokus
a. Silabus
Silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan
pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar (Sanjaya 2006).
Silabus dapat berupa rencana pembelajaran untuk tema tertentu. Silabus disusun
berdasarkan unsur-unsur kelengkapan silabus. Indikator pada silabus
dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Silabus pada dasarnya
merupakan garis besar program pembelajaran. Silabus adalah rencana
pembelajaran pada satu tema tertentu yang mencakup standar kompetensi,
kompetensi dasar, materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian,
alokasi waktu dan sumber belajar Departemen Pendidikan Nasional (2008) dalam
(Akbar, 2013).
Pendapat lain diungkapkan oleh Majid (2009) yang mengungkapkan bahwa
Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata
pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu, sebagai hasil dari seleksi,
pengelompokan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum, yang
dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat. Dalam
bukunya Majid (2009) juga menyebutkan unsur-unsur suatu silabus paling sedikit
harus mencakup, tujuan mata pelajaran yang akan diajarkan, sasaran-sasaran mata
pelajaran, keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran
tersebut dengan baik, urutan topik-topik yang diajarkan, aktivitas dan sumber-
sumber belajar pendukung keberhasilan pengajaran, dan teknik evaluasi yang
berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa silabus
merupakan seperangkat rencana pembelajaran yang disusun secara sistematis
yang memuat komponen kompetensi dasar dan menunjukkan kegiatan
pembelajaran secara umum untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai. Berdasarkan kurikulum 2013, penyusunan silabus dapat disusun oleh
pemerintah pusat, namun pengembangannya dapat dilakukan oleh guru dengan
menyesuaikan lingkungan belajar atau satuan pendidikannya (Akbar, 2013).
Silabus yang sudah dibuat kemudian diturunkan dalam sebuah rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang kemudian di laksanakan dalam
pembelajaran di kelas.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah program perencanaan
yang disusun sebagai pedoman dalam proses pembelajaran (Sanjaya, 2009).
Pedoman apam proses pembelajaran harus disusun secara rinci dan mengacu pada
silabus. Permendikbud (2013) manfaat rencana pelaksanaan pembelajaran adalah
rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok
atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. Pengertian senada juga sampaikan
oleh Trianto (2009) yang menyatakan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) merupakan sebuah rencana pembelajaran yang menggambarkan prosedur
dan pengorganisasian kegiatan pembelajaran agar mencapai satu kompetensi dasar
yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus.
Seorang guru perlu menyusun RPP yang berorientasi pada pendidikan
kelas Akbar (2013). Dalam konteks ini guru wajib menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang merupakan sebuah prosedur dan pedoman
pembelajaran yang berasal dari penjabaran silabus bertujuan agar setiap
pembelajaran dapat terorganisasi dengan baik. RPP yang baik adalah RPP yang
disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kondisi lingkungan peserta didik
dan harus sesuai dengan kriteria-kriteria yang bernilai tinggi. Akbar (2013)
mengungkapkan bahwa kriteria rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
bernilai tinggi harus memenuhi komponen-komponen tertentu. Komponen
tersebut adalah sebagai berikut: (1) Ada rumusan tujuan pembelajaran yang jelas,
lengkap, disusun secara logis, dan mendorong siswa untuk berpikir tingkat tinggi;
(2) Deskripsi materi jelas, sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa,
dan perkembangan keilmuan; (3) Pengorganisasian materi pembelajaran jelas
cakupan materinya meliputi kedalaman dan keleluasaannya, sistematik, runtut,
dan sesuai dengan alokasi waktu; (4) Sumber belajar sesuai dengan perkembangan
peserta didik, materi, dan lingkungan; (5) Ada skenario pembelajaran (awal, akhir
inti), secara rinci, lengkap, dan langkah pembelajarannya mencerminkan
metode/model pembelajaran yang digunakan; (6) Langkah pembelajaran sesuai
dengan tujuan, menggambarkan metode dan media yang dipergunakan,
memungkinkan peserta didik terlibat secara optimal, memungkinkan terbentuknya
dampak pengiring, memungkinkan terjadinya proses inquiri bagi peserta didik,
dan ada alokasi waktu pada tiap langkah pembelajaran; (7) Teknik pembelajaran
tersurat dalam langkah pembelajaran, sesuai tujuan pembelajaran, mendorong
kelengkapan RPP berupa prosedur dan jenis penilaian sesuai tujuan pembelajaran,
ada instrumen penilaian yang bervariasi (tes dan non-tes), serta rubrik penilaian.
Delapan komponen tersebut harus tercantum di dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran yang akan digunakan, sehingga akan memunculkan pembelajaran
yang sistematis, runtut dan menuntut peserta didik untuk aktif dalam proses
pembelajaran.
c. Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan format materi yang dikaitkan dengan media,
handouts atau buku, serta permainan bagi pembelajaran (Prawiladilaga, 2007).
Bahan ajar yang dibuat harus sesuai dengan kurikulum yang sedang berjalan saat
ini yaitu tentang pembelajaran tematik. Prastowo (2014) dalam bukunya
mengungkapkan bahwa Bahan ajar tematik adalah segala bahan ajar yang disusun
secara sistematis dan mengandung karakteristik pembelajaran tematik yang
bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran tematik.
Pembelajaran tematik merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu yang
tercakup dalam ilmu alam, maka pembelajaran ini memerlukan bahan ajar yang
lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan pembelajaran monolitik.
Pendapat para ahli di atas, jika ditarik kesimpulan dapat meringkas
pengertian tentang bahan ajar tematik. Bahan ajar tematik berdasarkan para ahli di
atas adalah semua bahan dan materi yang digunakan guru untuk mendukung
kegiatan pembelajaran tematik agar semua tujuan pembelajaran dapat tercapai
d. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan panduan saat melakukan suatu
pemecahan masalah dalam pembelajaran (Trianto, 2010). Panduan ini merupakan
salah satu komponen pendukung dalam melaksanakan pembelajaran yang
mengacu pada kompetensi dasar. LKS dapat bersifat teoritis maupun praktis, sifat
tersebut harus mengacu pada kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta
didik dan penggunaannya tergantung pada bahan ajar lain (Prastowo, 2014). Guru
harus memiliki keterampilan dalam menyusun dan menyiapkan LKS, karena
dengan adanya LKS dapat berfungsi untuk mengukur sejauh mana pemahaman
peserta didik terhadap materi yang diterimanya. Fungsi LKS juga diungkapkan
oleh Prastowo (2014) yang mengungkapkan bahwa fungsi LKS adalah (1) LKS
sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik melainkan
mengaktifkan siswa; (2) LKS sebagai bahan ajar yang memudahkan siswa untuk
memahami materi yang diberikan; (3) LKS sebagai bahan ajar yang ringkas dan
kaya tugas untuk berlatih; dan (4) LKS mempermudah pelaksanaan pengajaran
kepada siswa. Jika dihubungkan dengan pembelajaran tematik, manfaat LKS yaitu
dapat digunakan untuk memancing peserta didik untuk aktif dalam mengikuti
pembelajaran dengan mengaitkan materi yang ada (Prastowo, 2014). Materi yang
dibahas tentu saja sudah dirancang secara tematik. Oleh karena itu, guru harus
lebih selektif dan kreatif dalam memilih dan menggunakan LKS agar sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
Paparan para ahli di atas menyimpulkan bahwa pada dasarnya Lembar Kerja
didik dalam memahami materi yang diberikan. Kemampuan peserta didik dalam
memahami materi dapat diukur melalui LKS yang disusun berdasarkan
kompetensi yang telah ditentukan. Sehingga, dapat memantau guru dalam
mengamati perkembangan peserta didik.