SISTEM EKONOMI BEBAS BUNGA ( INTEREST FREE ECONOMIC SYSTEM )
E. L ABA D ALAM K ONTEKS S ISTEM E KONOMI T ANPA B UNGA
Riba adalah salah satu hal yang dilarang dalam Islami. Larangan riba telah jelas dimuat dalam Al Qu’ran dan Hadits Rasulullah SAW. sebagai berikut:
(QS; 3; 130), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwallah kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
(QS; 2; 275-279), “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit jiwa. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhan-Nya, lalu terus berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusan terserah kepada Allah. Orang-orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan sembayang, dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala pada sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran padanya dan tidak pula mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwallah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang- orang yang beriman, maka jika kamu tidak mengerjakannya (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”
(QS; 4; 161), “Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.”
(QS; 30; 39), “Dan sesudah riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak akan menambah pada sisi Allah. Dan jika apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang meliptakangandakan pahalanya.”
QS. An Nissa: 160-161, “Maka disebabkan kezhaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan atas mereka yang (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.”
QS. Al Baqarah: 278-279, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”
Selanjutnya dalam hadits Rasulullah SAW. dijelaskan antara lain sebagai berikut:
Dari Usamah bin Zaid, Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya riba itu bisa terjadi pada jual beli secara utang (kredit). (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad). Dari Abu Said Al Khudri, Rasulullah SAW. bersabda: “Jangan melebih-lebihkan
satu dengan yang lainnya, jangan menjual perak untuk perak kecuali keduanya setara, dan jangan melebih-lebihkan satu dengan yang lainnya, dan jangan menjual sesuatu yang tidak tampak.” (HR. Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Masa’i dan Ahmad)
Dari Ubada bin Sami, Rasulullah SAW bersabda: “Emas untu emas, perak untuk perak gandum untuk gandum. Barang siapa membayar lebih atau menerima lebih dia telah berbuat riba. Pemberi dan penerima sama saja (dalam dosa).”
Jabir berkata bahwa Rasullah SAW. Mengutuk orang yang menerima riba, orangh yang membayarnya dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka semuanya sama.” (HR. Muslim).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasullah SAW berkata, “Pada malam perjalananku Mi’raj, aku melihat orang-orang yang perutnya seperti rumah, didalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar. Aku bertanya kepada Jibril, siapakah mereka itu. Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan riba.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa SAW bersabda, “Riba itu memiliki tujuh puluh tingkatan, adapun tingkat yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya sendiri.”
Di sisi lain Al Qur’an juga memberikan anjuran bagi pemberi pinjaman (kreditur) untuk memberikan keringanan jika peminjam (debitur) mengalami kesulitan dalam membayar. Hal ini ditegaskan dalam QS; Surat Al Baqarah ayat 280: “Jika orang berutang itu dalam kesukaran, maka beri tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan sebagian atau seluruh utang, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahu.” (QS; 2; 280).
Sebagai mana diuraikan sebelumnya, riba dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu Riba Utang Piutang (Riba Duyun) dan Riba Jual Beli (Riba Buyu’). Dalam Ilmu Fiqih bahwa riba adalah identik dengan bunga, termasuk riba utang piutang ini, yang dikelompokkan menjadi Riba Nasi’ah adalah riba karena pertukaran yang sejenis dan jumlahnya dilebihkan karena adanya tenggang waktu/jangka waktu, sedangkan Riba Fadhl, yaitu bila pertukaran barang yang sejenis, tapi jumlahnya tidak seimbang (mistlan bi mitslin) atau suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berUtang.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwa yang dikeluarkan tanggal 16 Desember 2003, telah menyatakan bahwa bunga bank tersebut identik dengan riba dan riba itu hukumnya haram. Sehingga dalam perekonomian khususnya di bidang perbankan dan sektor riel lainnya untuk mewujudkan konsepsi sistem perekomian islamii atau sesuai dengan aqidah Islami tersebut, telah didirikan beberapa perbankan syari’ah dan beberapa unit usaha syariah lainnya seperti, asuransi syari’ah, reksadana syari’ah, dan koperasi syari’ah. Hal ini sesuai dengan rekomendasi; agar PBNU mendirikan bank Islami NU
dengan sistem tanpa bunga (Batsul Masail, Munas Bandar Lampung, 1992). F. KONSEPTIME VALUEOF MONEY (TVM) DALAM ISLAM
Konsep TVM (positive preference) menyebutkan bahwa nilai komoditi saat ini lebih tinggi dibanding masa depan (Achsien, 2000, 43). Karena konsep ini merupakan pola ekonomi yang normal, sistematis dan rasional. Diskonto dalam masalah ini berkaitan dengan tingkat bunga. Padahal dalam Islam sistem bunga dilarang, terutama dalam penilaian investasi, diskonto, dan sebagai cost of capital.
Selanjutnya dalam Islam uang dan kekayaan harus digunakan untuk kebiasaan baik bukan untuk eksploitasi, dalam pemanfaatannya tidak boleh berlebih-lebihan dan tidak boleh dibiarkan sia-sia menganggur. Sehingga capital budgeting yang didasarkan pada diskonto untuk menilai proyek atau investasi bertentangan dan tidak dibenarkan menurut syariat Islami. Selain itu sistem bunga (interest) sebagai salah satu faktor diskonto yang dilarang merupakan bentuk praktik riba. Sehingga sebagai alternatif penggantinya adalah menggunakn tingkat pengembalian (rank of return), bukan rate of return. Sebagai contoh untuk saham (investasi) dengan memperhatikan EPS (earning per share), dengan tetap memperhatikan konsep profit and loss sharing.
G. RELEVANSI KONSEP LABA BERBASIS HISTORIS DENGAN BUSINESS INCOME DALAM