• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancangan Pengujian

Studi kasus ini menggunakan pendekatan kuantitatif.

Pemilihan pendekatan ini karena pendekatan kuantitatif merupakan salah satu jenis kegiatan pengujian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain pengujian, baik tentang tujuan pengujian, subjek pengujian, sampel data, sumber data, maupun metodologinya.

Metode kuantitatif (quantitative approach) dapat diartikan sebagai metode yang berdasarkan pada filsafat positivism yaitu suatu pendekatan yang menekankan pada pengujian teori-teori atau didasarkan pada bukti empiris, melalui pengukuran variabel metrik, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen pengujian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Indriantono dan Supomo, 2002; Sugiyono, 2014).

115

Pada pengujian ini penulis tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari hubungan antar hubungan variabel yang ada. Sedangkan jenis pengujian ini merupakan pengujian survey yaitu suatu pengujian yang menggunakan kuesioner sebagai instrument pengujian dalam pengumpulan data. Dalam pengujian ini mencakup kegiatan pengumpulan data guna menentukan adakah hubungan antar variabel dalam subjek atau objek studi kasus. Jika ada, seberapa jauh tingkat hubungan yang ada diantara variabel yang diuji.

Lokasi dan Waktu Pelaksanaan

Lokasi pengujian difokuskan kepada BPR (Bank Prekreditan Rakyat) di Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Studi kasus ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan pada BPR di Kabupaten Badung.

Data Pengujian

1. Jenis Dan Sumber Data

Menurut sumbernya, jenis data pada pengujian ini dibedakan atas data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang didapat langsung dari responden pengujian, melalui wawancara semi terstruktur maupun wawancara mendalam dan penyebaran kuesioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Biro Pusat Statistik Provinsi Bali dan Kabupaten Badung, serta lembaga lain seperti

116

Perbarindo, mengenai perkembangan perbankan terutama BPR di Kabupaten Badung.

Menurut sifatnya data dibedakan menjadi data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif meliputi jumlah BPR di Kabupaten Badung, dan data-data keuangan. Data kualitatif meliputi berbagai informasi yang diterima dan persepsi dari responden terkait variabel pengujian.

2. Populasi, Sampel, Dan Responden

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penulis untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Populasi dalam studi kasus ini adalah seluruh karyawan pada 52 BPR di Kabupaten Badung, yang berjumlah 1.240 orang.

3. Sampel Dan Teknik Pengambilan Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dapat dianggap mewakili populasi (Sugiyono, 2014). Sampel pada pengujian ini ditentukan secara purposive sampling, yaitu dengan menentukan kriteria sampel dengan tujuan tertentu. Adapun sampel pada pengujian ini ditentukan sebanyak 3 (tiga) orang pada masing-masing BPR di Kabupaten Badung, sehingga dapat dihitung bahwa jumlah sampel pada pengujian ini sebanyak 156 responden. Kriteria tiga orang responden sebagai sampel pengujian pada

masing-117

masing BPR yaitu: (1) kepala bagian kredit; (2) kepala bagian dana; (3) karyawan pada bagian kredit/dana.

Kriteria tambahannya adalah bahwa responden diharuskan memiliki pengalaman kerja minimal 5 (lima) tahun.

Pengambilan sampel untuk kepala bagian kredit dan dana dilakukan dengan pertimbangan kinerja pada bagian tersebut sangat menentukan keberhasilan usaha BPR, yang mana semakin efektif kerja pada bagian tersebut, maka pertumbuhan BPR akan semakin baik. Di samping itu kepala bagian berfungsi sebagai pelaksana kebijakan atau penghubung antara direksi dan karyawan sebagai pelaksana. Kepala bagian dapat menjadi pimpinan bagi karyawan dan menjadi bawahan bagi direksi.

Variabel Pengujian 1. Identifikasi variabel

Berdasarkan kerangka konseptual, maka variabel dalam pengujian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut.

a. Variabel eksogen (exogenous variable) adalah Budaya Organisasi (X).

b. Variabel endogen (endogenous variable) adalah sebagai berikut.

1) Perilaku Kerja Inovatif (Y1).

118 2) Kinerja Karyawan (Y2).

2. Definisi operasional variabel a. Budaya Organisasi (X)

Budaya Organisasi adalah norma perilaku dan harapan yang terkait dengan kepercayaan dan nilai bersama yang dimiliki oleh anggota organisasi. Variabel ini diukur menggunakan OCI.

Menurut Cooke dan Lafferty (1983) terdiri atas 3 (tiga) dimensi, yaitu constructive culture (X1), passive-defensive culture (X2), dan aggressive-defensive culture (X3). Masing-masing dimensi tersebut diukur dengan 4 (empat) indikator yang merupakan 12 set keyakinan normatif dan harapan perilaku bersama yang dapat mempengaruhi pemikiran dan perilaku anggota organisasi.

b. Constructive Culture (X1)

Constructive Culture (X1) adalah budaya yang mendorong para karyawannya untuk berinteraksi dengan orang lain. Proses dalam menjalankan tugas dengan membantu konsumen untuk pemuasan kebutuhan agar tumbuh dan berkembang. Tipe budaya ini mendukung kenyakinan normatif yang berhubungan dengan pencapaian aktualisasi diri, penghargaan yang manusiawi dan persatuan.

119

Dimensi constructive culture (X1) terdiri dari indikator:

1) Achievement/prestasi (X11), adalah budaya yang mencirikan organisasi yang melakukan hal-hal dengan baik dan menghargai anggota yang menentukan dan mencapai tujuan mereka sendiri. Anggota organisasi ini menetapkan tujuan yang menantang namun realistis, membuat rencana untuk mencapai tujuan ini, dan mereka mengejar dengan antusias.

2) Self actualizing/aktualisasi diri (X12), adalah budaya yang mencirikan organisasi yang menghargai kreativitas, kualitas melebihi kuantitas, dan pencapaian tugas dan pertumbuhan individu. Anggota organisasi ini didorong untuk mendapatkan kesenangan dari pekerjaan mereka, mengembangkan diri mereka sendiri, dan melakukan aktivitas baru dan menarik.

3) Humanistic encouraging/ dorongan humanistik (X13), adalah budaya yang mencirikan organisasi yang dikelola secara partisipatif dan berpusat pada orang. Anggota diharapkan bersikap suportif, konstruktif, dan terbuka terhadap pengaruh dalam berhubungan satu sama lain.

120

4) Affiliative/afiliasi (X14), adalah budaya afiliasi yang mencirikan bahwa menempatkan prioritas tinggi pada hubungan interpersonal yang konstruktif. Anggota diharapkan bersikap ramah, terbuka, dan peka terhadap kepuasan kelompok kerja mereka.

c. Passive-Defensive Culture (X2)

Passive-defensive culture (X2) adalah tipe budaya yang bercirikan keyakinan yang memungkinkan karyawan berinteraksi dengan karyawan lain.

Para karyawan itu sendiri merasa aman dalam pekerjaannya. Budaya ini mendorong keyakinan normatif yang berhubungan dengan persetujuan konvensional, ketergantungan dan penghindaran.

Dimensi passive-defensive culture (X2) terdiri dari indikator:

1) Approval/persetujuan (X21), adalah budaya yang menggambarkan organisasi yang menghindari konflik dan sangat menjunjung hubungan interpersonal. Anggota merasa bahwa mereka harus bergaul dengan mendapatkan persetujuan, dan disukai oleh orang lain.

2) Conventional/konvensional (X22), menggambarkan tentang budaya organisasi yang bersifat konservatif, tradisional, dan

121

dikendalikan secara birokratis. Anggota diharapkan bisa menyesuaikan diri, mengikuti peraturan, dan membuat kesan yang baik.

3) Dependent/tergantung (X23), digambarkan sebagai budaya organisasi yang dikendalikan secara hierarkis dan tidak partisipatif.

Pengambilan keputusan terpusat dimana anggota hanya melakukan apa yang atasan katakan.

4) Avoidance/penghindaran (X24), adalah budaya penghindaran yang dicirikan oleh organisasi yang gagal dalam memberi penghargaan.

Sistem penghargaan ini membuat anggota mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain dan menghindari kemungkinan disalahkan atas kesalahannya.

d. Aggressive-Defensive Culture (X3)

Aggressive-defensive culture (X3) adalah budaya yang mendorong para karyawannya untuk mengerjakan tugasnya dengan keras. Budaya tersebut berguna untuk melindungi keamanan kerja dan status mereka dalam organisasi. Tipe budaya ini bercirikan keyakinan normatif yang mencermikan oposisi, kekuasaan, kompetitif, dan perfeksionis.

122

Dimensi aggressive-defensive culture (X3) terdiri dari indikator:

1) Oppositional/oposisi (X31), menggambarkan budaya organisasi di mana konfrontasi berlaku dan negativisme dihargai. Anggota mendapatkan status dan pengaruh dengan bersikap kritis dan diperkuat untuk menentang gagasan orang lain dan membuat keputusan yang aman walaupun tidak efektif.

2) Power/kekuasaan (X32), adalah budaya yang disusun berdasarkan kewenangan yang melekat pada posisi anggota. Anggota percaya bahwa mereka akan diberi imbalan karena bertanggung jawab, mengendalikan subordinasi dan pada saat bersamaan, bersikap responsif terhadap tuntutan atasan.

3) Competitive/kompetisi (X33), adalah suatu budaya dimana kemenangan dihargai dan anggota diberi imbalan untuk mengungguli satu sama lain. Orang-orang di organisasi semacam itu beroperasi dalam kerangka

"menang-kalah" dan percaya bahwa mereka harus bekerja melawan teman sejawat untuk diperhatikan.

4) Perfectionistic/perfeksionis (X34), adalah budaya yang mencirikan organisasi di mana

123

kesempurnaan, ketekunan, dan kerja keras dihargai. Anggota harus menghindari semua kesalahan, terus melacak segala hal, dan bekerja berjam-jam untuk mencapai tujuan yang didefinisikan secara spesifik.

e. Perilaku Kerja Inovatif (Y1)

Perilaku Kerja Inovatif (Innovatif Work Behaviour) adalah perilaku individu dalam hal ini yang bertujuan untuk mencapai inisiasi dan dimasukkan secara sengaja dalam peran kerja, kelompok atau organisasi baru dan ide-ide berguna, proses, produk atau prosedur. Untuk mengukur perilaku kerja inovatif menggunakan dimensi dari De Jong dan Hartog (2008).

1) Opportunity exploration/penemuan peluang (Y11), menemukan peluang adalah perilaku untuk mengidentifikasi berbagai peluang/kesempatan yang ada. Peluang dapat berawal dari ketidak kongruenan dan diskontinuitas yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan pola yang diharapkan misalnya timbulnya masalah pada pola kerja yang sudah berlangsung, adanya kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi, atau adanya indikasi trends yang sedang berubah.

124

2) Idea generation/generasi ide (Y12), adalah fase dimana, karyawan mengeluarkan konsep baru dengan tujuan untuk perbaikan. Hal ini meliputi mengeluarkan ide sesuatu yang baru atau memperbaharui pelayanan, pertemuan dengan klien dan teknologi pendukung. Kunci dalam mengeluarkan ide adalah mengombinasikan dan mereorganisasikan informasi dan konsep yang telah ada sebelumnya untuk memecahkan masalah dan atau meningkatkan kinerja.

3) Championing/memperjuangkan (Y13), Maksudnya disini untuk mengembangkan dan mengimplementasikan ide, karyawan harus memiliki perilaku yang mengacu pada hasil. Perilaku Inovasi Konvergen meliputi usaha menjadi juara dan bekerja keras.

Seorang yang berperilaku juara mengeluarkan seluruh usahanya pada ide kreatif. Usaha menjadi juara meliputi membujuk dan mempengaruhi karyawan dan juga menekan

dan bernegosiasi. Untuk

mengimplementasikan inovasi sering dibutuhkan koalisi, mendapatkan kekuatan dengan menjual ide kepada rekan yang berpotensi.

125

4) Application/aplikasi (Y14), Dalam hal ini meliputi perilaku karyawan yang ditujukan untuk membangun, menguji, dan memasarkan pelayanan baru. Hal ini berkaitan dengan membuat inovasi dalam bentuk proses kerja yang baru ataupun meningkatkan produk atau prosedur yang ada, atau mengembangkannya menjadi yang baru.

f. Kinerja Karyawan (Y2)

Kinerja pegawai merupakan hasil kerja pegawai selama kurun waktu tertentu, untuk mengukur kinerja pegawai digunakan tujuh dimensi dari McNeese and Smith (1996), adapun indikator variabel kinerja karyawan dalam studi kasus ini meliputi:

1) Tingkat kualitas hasil kerja (Y21), dalam hal ini dapat dilihat dari hasil unjuk kerja yang dilakukan oleh karyawan seperti kualitas kerja, ketepatan waktu dan target yang ditetapkan oleh perusahaan.

2) Tingkat keuletan dan daya tahan kerja (Y22), dimaksudkan disini adalah bagaimana mereka menuntaskan pekerjaannya, dan juga tetap menjaga kondisi kesehatannya dalam melaksanakan pekerjaannya.

126

3) Tingkat disiplin dan absensi (Y23), adalah tercermin dari tingkat kehadirannya dan bila mereka tidak hadir atau ijin disertai alasan.

4) Tingkat kerja sama antar rekan sekerja (Y24), adalah perilaku saling membantu dengan karyawan lain, saling menghargai antar rekan kerja.

5) Tingkat kepedulian akan keselamatan kerja (Y25), dimaksudkan adalah dalam melakukan pekerjaan sangat memperhatikan (concern) terhadap keselamatan di tempat kerja.

6) Tingkat tanggung jawab akan hasil pekerjaannya (Y26), maksudnya adalah apabila terjadi kesalahan mereka bersedia menanggung resiko kesalahan kerja, taat menjalankan tugas.

7) Tingkat inisiatif/kreativitas yang dimiliki (Y27), maksudnya adalah seberapa besar mereka mampu memunculkan kreativitas untuk meningkatkan kinerja, menggagas ide-ide baru, dan inisiatif yang diambil dalam bekerja.

Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam studi kasus, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan. Dalam studi kasus ini menggunakan teknik pengumpulan data, sebagai berikut.

127 1. Angket (Kuesioner)

Angket (kuesioner), merupakan metode pengambilan data dengan menggunakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang responden ketahui (Arikunto, 2006).

2. Interview (Wawancara)

Interview adalah teknik pengujian yang paling sosiologis karena bentuknya yang berasal dari interaksi verbal antara penulis dan responden (Black, 2009). Percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Percakapan informal menunjuk pada kecenderungan sifat sangat terbuka sehingga wawancara benar-benar mirip dengan percakapan (Pawito, 2007). Dalam pengujian ini, wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan tertulis yang sudah disusun dalam bentuk kuesioner. Pernyataan dalam kuesioner merupakan persepsi responden atas penjabaran dari indikator-indikator pengujian.

3. Studi Dokumenter

Studi dokumenter (documentery study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen.

Dokumen-128

dokumen tersebut dipilih sesuai dengan kajian studi kasus (Sukmadinata, 2007). Dokumen yang dikumpulkan seperti, jenis pendidikan dan posisi karyawan.

Pengujian Instrumen Studi Kasus

Instrumen pengujian merupakan suatu alat ukur dalam studi kasus, yaitu suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.

Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian (Sugiyono, 2014). Merupakan proses yang dilakukan untuk mengungkap berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan berbagai cara dan metode agar proses ini berjalan secara sisitematis dan lebih dapat dipertanggung jawabkan validitasnya.

Instrumen pengujian ini disusun dari indikator-indikator yang dianggap mewakili keberadaan variabel studi kasus.

Indikator-indikator ini merupakan penjabaran dari variabel studi kasus dan kemudian dituangkan ke dalam butir-butir pertanyaan/pernyataan.

1. Uji Validitas

Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam hal ini berarti untuk mengukur sejauh mana ketepatan pertanyaan yang digunakan dalam

129

kuesioner untuk mengukur variabel yang akan diteliti.

Uji validitas dapat dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor butir dengan skor total yang disebut Pearson correlation atau correlation product moment dengan nilai cut-off 0,30 dan bila koefisien korelasi di bawah 0,30 maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut tidak valid sehingga harus diperbaiki atau dibuang dan bila korelasi tiap faktor positif dan besarnya 0,30 keatas maka faktor tersebut merupakan construct (konstruk) yang kuat (Sugiyono,2014).

2. Uji Reliabilitas

Sementara reliabilitas adalah derajat ketepatan, ketelitian dan keakuratan yang ditunjukkan oleh instrumen pengukuran dimana pengujiannya dapat dilakukan secara internal, yaitu pengujian dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada.

Reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas dapat menggunakan teknik statistik cronbach’s alpha dengan ketentuan instrumen dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach’s Alpha > 0,70.

130 Teknik Analisis Data

1. Analisis statistik deskriptif

Analisis deskriptif dilakukan untuk menjawab permasalahan studi kasus dengan memberikan penjelasan lebih terperinci terhadap hasil penelitian secara kuantitatif (Sekaran, 2011: 303).

Mendiskripsikan secara lebih rinci berkaitan dengan hasil-hasil penelitian yaitu menjelaskan hubungan-hubungan antar variabel yang terbentuk. Hubungan organizational culture (budaya organisasi) dengan employee performance (kinerja karyawan), hubungan organizational culture (budaya organisasi) dengan innovative work behaviour (perilaku kerja inovatif) dan hubungan innovative work behaviour (perilaku kerja inovatif) dengan employee performance (kinerja karyawan), serta peran innovative work behaviour (perilaku kerja inovatif) sebagai mediasi antara organizational culture (budaya organisasi) dengan employee performance (kinerja karyawan).

2. Analisis statistik inferensial

Data yang terkumpul dari hasil wawancara, hasil kuisioner dan observasi akan dianalisis dengan analisis deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan persoalan yang dianalisis, sehingga dengan mudah dapat dipahami tentang karakteristik data. Untuk pengujian hipotesis digunakan analisis inferensial dengan menggunakan Structural Equation

131

Model (SEM) yang merupakan salah satu teknik multivariat yang menggabungkan aspek-aspek regresi berganda (menguji hubungan ketergantungan) dan analisis faktor (menggambarkan konsep yang tidak dapat diukur faktor dengan variabel berganda) untuk mengestimasi hubungan saling ketergantungan secara serentak (Hair et al. 2010). Dalam pengujian ini mempergunakan metode Component Based SEM atau Partial Least Square (PLS), sehingga Partial Least Square (PLS) dikatakan metode analisis yang powerful.

Dalam model evaluasi PLS terdapat tahap-tahap, sebagai berikut.

a. Outer model (model measurement) menspesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikator-indikatornya, atau dapat dikatakan bahwa outer model mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya. Uji yang dilakukan pada outer model, yaitu sebagai berikut.

1) Convergent Validity. Nilai convergen validity adalah nilai loading factor pada variabel laten dengan indikator-indikatornya. Nilai yang diharapkan > 0,7.

2) Discriminant Validity. Nilai ini merupakan nilai cross loading factor yang berguna untuk mengetahui apakah konstruk memiliki diskriminan yang memadai yaitu dengan cara membandingkan nilai loading pada konstruk

132

yang dituju harus lebih besar dibandingkan dengan nilai loading dengan konstruk yang lain.

3) Composite Reliability. Data yang memiliki composite reliability > 0,8 mempunyai reliabilitas yang tinggi.

4) Average Variance Extracted (AVE). Nilai AVE yang diharapkan > 0,5.

5) Cronbach Alpha. Uji reliabilitas diperkuat dengan Cronbach Alpha. Nilai diharapkan > 0,6 untuk semua konstruk.

b. Inner model (model structural). Uji pada model struktural dilakukan untuk menguji hubungan antara konstruk laten. Ada beberapa uji untuk model struktural, yaitu sebagai berikut.

1) R Square pada konstruk endogen.

Nilai R Square adalah koefisien determinasi pada konstruk endogen. Menurut Chin (1998) nilai R square sebesar 0,19-0,32 termasuk kategori lemah, sedangkan nila 0,33-0,66 termasuk kategori moderat, dan bila lebih besar dari 0,66 termasuk kategori kuat.

2) Estimate for Path Coefficients, merupakan nilai koefisen jalur atau besarnya

133

hubungan/pengaruh konstruk laten.

Dilakukan dengan prosedur Bootrapping.

3) Effect Size (f square)

Analisis effect size dilakukan untuk megetahui kebaikan model.

4) Predictive relevance (Q square) atau Stone-Geisser's

Uji ini dilakukan untuk mengetahui kapabilitas prediksi dengan prosedur blinfolding. Apabila nilai yang didapatkan 0,02 (kecil), 0,15 (sedang) dan 0,35 (besar). Hanya dapat dilakukan untuk konstruk endogen dengan indikator reflektif.

c. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji p-statistics (p-value). Jika dalam pengujian ini diperoleh p-value < 0,05 berarti pengujian adalah signifikan., sebaliknya kalau p-value > 0,05, berarti tidak signifikan. Bilamana hasil pengujian menemukan outer loading signifikan, hal ini menunjukkan bahwa indikator dipandang dapat digunakan sebagai pengukur variabel laten.

Sedangkan bila hasil pengujian inner model adalah signifikan, maka dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna variabel laten terhadap variabel laten lainnya.

134 d. Pengujian Mediasi

Untuk mengetahui pengaruh tidak langsung yang terjadi antar variabel, dilakukan uji model mediasi. Pemeriksaan ini pada prinsipnya adalah untuk menguji dan intervensi dari variabel mediasi, apakah terbukti memediasi naik secara penuh (fully mediated) maupun secara parsial (partially mediated), atau tidak berperan sebagai variabel mediasi. Metode pengujian variabel mediasi yang digunakan dalam pengujian ini sesuai dengan kriteria Hair et al. (2010:89) sebagai berikut:

1) Jika a,b,dan c signifikan tetapi nilai koefisien langsung c < b, maka dikatakan mediasi sebagian (partial mediation).

2) Jika a dan b signifikan, namun c tidak signifikan, maka dikatakan mediasi sempurna (full mediation).

3) Jika a signifikan, b signifikan, dan c juga signifikan tetapi nilai koefisien c = b, maka dikatakan bukan mediasi.

4) Jika a atau b atau keduanya tidak signifikan dikatakan bukan mediasi.

135 Gambar 4.1

Peran Mediasi Secara Teoritis

Hubungan antar masing-masing variabel dalam studi kasus ini dapat dilihat dalam Gambar 4.2 berikut.

136

Hubungan Antara Variabel, Dimensi, dan Indikator Studi Kasus

137

BAB 10