Nabisi Lapono Pendahuluan
Subunit 2.1 Landasan Yuridis Perencanaan Pembelajaran
roses pembelajaran pada suatu satuan pendidikan harus memenuhi standar tertentu sehingga harus direncanakan. Perangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan, dan strategi pembelajaran inilah yang biasa disebut kurikulum. Di dalam pendidikan formal seperti di SD/MI, standar yang menjadi acuan dalam merencanakan dan mengatur proses pembelajaran adalah visi, misi, dan tujuan pendidikan yang ditetapkan dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional.
Terkait dengan visi dan misi pendidikan nasional tersebut di atas, perlu dilakukan berbagai hal sebagai bagian reformasi pendidikan antara lain sebagai berikut.
P
Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Misi pendidikan nasional adalah:
(1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
(2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional;
(3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global;
(4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
(5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
(6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan
(7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(1) Penyelenggaraan pendidikan dinyatakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Prinsip tersebut menyebabkan adanya pergeseran paradigma proses pendidikan, dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Paradigma pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransformasikan pengetahuan kepada peserta didiknya bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki kecerdasan, memiliki estetika, sehat jasmani dan rohani, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
(2) Adanya perubahan pandangan tentang peran manusia dari paradigma manusia sebagai sumberdaya pembangunan, menjadi paradigma manusia sebagai subjek pembangunan secara utuh. Pendidikan harus mampu membentuk manusia seutuhnya yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki karakteristik personal yang memahami dinamika psikososial dan lingkungan kulturalnya. Proses pendidikan harus mencakup: (a) penumbuhkembangan keimanan, ketakwaan,; (b) pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi, dan kepribadian; (c) penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi; (d) pengembangan, penghayatan, apresiasi, dan ekspresi seni; serta (e) pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani. Proses pembentukan manusia di atas pada hakekatnya merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
(3) Adanya pandangan terhadap keberadaan peserta didik yang terintegrasi dengan lingkungan sosial-kulturalnya dan pada gilirannya akan menumbuhkan individu sebagai pribadi dan anggota masyarakat mandiri yang berbudaya. Hal ini sejalan dengan proses pentahapan aktualisasi intelektual, emosional dan spiritual peserta didik di dalam memahami sesuatu, mulai dari tahapan paling sederhana dan bersifat eksternal, sampai tahapan yang paling rumit dan bersifat internal, yang berkenaan dengan pemahaman dirinya dan lingkungan kulturalnya.
(4) Dalam rangka mewujudkan visi dan menjalankan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan satuan pendidikan, yang antara lain meliputi kriteria dan kriteria minimal
berbagai aspek yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitan ini, kriteria dan kriteria penyelenggaraan pendidikan dijadikan pedoman untuk mewujudkan: (a) pendidikan yang berisi muatan yang seimbang dan holistik; (b) proses pembelajaran yang demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas, dan dialogis; (c) hasil pendidikan yang bermutu dan terukur; (d) berkembangnya profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan; (e) tersedianya sarana dan prasarana belajar yang memungkinkan berkembangnya potensi peserta didik secara optimal; (f) berkembangnya pengelolaan pendidikan yang memberdayakan satuan pendidikan; dan (g) terlaksananya evaluasi, akreditasi dan sertifikasi yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Acuan dasar tersebut di atas merupakan standar nasional pendidikan yang dimaksudkan untuk memacu pengelola, penyelenggara, dan satuan pendidikan agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu. Selain itu, standar nasional pendidikan juga dimaksudkan sebagai perangkat untuk mendorong terwujudnya transparansi dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional. Sedangkan di dalam standar nasional pendidikan ditetapkan sejumlah kriteria minimal tentang komponen pendidikan yang memungkinkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya.
Sesuai dengan dasar, fungsi dan tujuan seperti diamanatkan di dalam Pasal 2 dan 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dapat dikatakan bahwa pendidikan nasional yang bermutu hendaknya diarahkan untuk pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan Bab II pasal 2 dan 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 mengamanatkan Dasar, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional sebagai berikut:
Pasal 2
Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pasal 3
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Artinya, seluruh kegiatan pembelajaran yang berlangsung di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pada jenjang pendidikan tinggi diarahkan untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional tersebut. Artinya, proses pembelajaran di sekolah tidak hanya ditujukan kepada penguasaan materi mata pelajaran oleh peserta didik, melainkan secara komprehensif ditujukan kepada keterbentukan peserta didik sebagai manusia yang (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) berakhlak mulia, (c) sehat, (d) berilmu, (e) cakap, (e) kreatif, (f) mandiri, dan (g) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Proses pembelajaran yang dirancang dan diatur untuk membantu peserta didik mengembangkan dirinya ke arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional inilah yang disebut pembelajaran yang mendidik.
Sebagai rancangan dan pengaturan proses pembelajaran, kurikulum dapat difungsikan secara ideal, instruksional, empirikal, dan operasional. sebagai kurikulum idealberfungsi sebagai acuan dalam menetapkan tujuan, isi, bahan, dan strategi pada sestiap proses pembelajaran berlangsung. Secara ideal, kurikulum berfungsi mengarahkan proses pembelajaran agar tetap sesuai dengan amanat UUD 1945; secara instruksional, kurikulum berfungsi mengarahkan agar proses pembelajaran pada suatu satuan pendidikan relatif sama dengan proses pembelajaran pada satuan pendidikan lainnya; secara operasional, kurikulum berfungsi mengarahkan proses pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik individual peserta didik. Oleh karena karakteristik individual peserta didik berakar pada berbagai faktor. Slavin (1994:114-118) menjelaskan sejumlah faktor yang mempengaruhi keragaman karakteristik individual peserta didik seperti dirangkum dalam Gambar 1 berikut ini.
Gambar 1 Keragaman karakteristik individual peserta didik (Adaptasi dari Slavin, 1994:115)
INDIVIDU RAS WILAYAH GEOGRAFIS GENDER KELAS SOSIAL KEBANGSAAN AGAMA KEMAMPUAN/ KETIDAKMAMPUAN ETNIK
Oleh karena karakteristik individual bervariasi terutama dalam hal variasi kelas sosial, etnik, wilayah geografis, agama, gender, dan kemampuan/ketidak-mampuan setiap peserta didik, maka rencana dan pengaturan proses pembelajaran di sekolah perlu disesuaikan. Penyesuaian rencana pembelajaran secara operasional dengan keragaman karakteristik individual peserta didik ini dimaksudkan agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk tumbuh-kembang berdasarkan potensi diri (kemampuan dan ketidak-mampuan) yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan hakikat kurikulum seperti dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional seperti dikutip berikut ini.
BAB X KURIKULUM Pasal 36
(1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
(3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. peningkatan iman dan takwa; b. peningkatan akhlak mulia;
c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional; f. tuntutan dunia kerja;
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; h. agama;
i. dinamika perkembangan global; dan
j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
(4) Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Amanat Bab X Pasal 36 dan 37 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional seperti dikutip di atas, menjelaskan tentang landasan yuridis pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum meliputi berbagai konsep (Zais, 1976:6-11) yaitu, (a) curriculum as the program of studies atau program pembelajaran, (b) curriculum as course content atau materi pembelajaran, (c)
curriculum as planned learning experiences atau pengalaman pembelajaran yang
direncanakan, (d) curriculum as an experiences ’had’ under the auspices of the
school atau pengalaman pembelajaran yang perlu diperbaiki, (e) curriculum as a structured series of intended learning outcomes atau struktur hasil pembelajaran
yang diharapkan, dan (f) curriculum as a (written) plan for action atau rencana tertulis untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Konsep tentang kurikulum ini merupakan konsep filosofis dan ideologis karena pada prinsipnya kurikulum merupakan segala rencana atau program yang disusun untuk menyelenggarakan suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran perlu direncanakan terlebih dahulu agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Perencanaan kurikulum itu sendiri harus sesuai prinsip-prinsip keilmuan, terutama ilmu psikologi, sosiologi, dan antropologi (budaya).
BAB X KURIKULUM Pasal 37
(1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan; c. bahasa;
d. matematika;
e. ilmu pengetahuan alam; f. ilmu pengetahuan sosial; g. seni dan budaya;
h. pendidikan jasmani dan olahraga; i. keterampilan/kejuruan; dan
j. muatan lokal.
(2) Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat: a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan; dan c. bahasa.
(3) Ketentuan mengenai kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 38
(1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah.
(2) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.
Dalam wacana psikologi, tiap peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran memiliki potensi psikologis untuk tumbuh-kembang. Di dalam diri setiap peserta didik terdapat kemampuan (abilities) dan ketidak-mampuan (disabilities). Kemampuan-kemampuan psikologis tersebut harus dikembangkan oleh setiap peserta didik dalam proses pembelajaran yang diikutinya. Oleh sebab itu, dalam merencanakan proses pembelajaran perlu diperhatikan prinsip-prinsip perkembangan peserta didik, terutama yang berkaitan dengan aktifitas belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar seperti motivasi, minat, kecerdasan, dan potensi psikis lainnya.
Secara sosiologis dan antropologis, peserta didik adalah individu yang merupakan bagian dari suatu kelompok masyarakat. Tiap kelompok masyakarat memiliki karakteristik tertentu sebagai konsekuensi nilai-nilai budaya yang berkembang dan dianut oleh setiap anggota masyarakat bersangkutan. Karakteristik sosiologis dan antropologis ini turut mempengaruhi proses pembelajaran, sehingga dalam merancang kurikulum perlu dipertimbangkan pula keragaman karakteristik individual peserta didik sebagai konsekuensi dari keragaman karakteristik sosiologis dan antropologis masyarakat dari mana peserta didik berasal. Hal ini perlu diperhatikan karena menurut penjelasan Owens (1991:62) bahwa keragaman karakteristik identitas individual ini dapat dibedakan dalam beberapa kelompok kerja sesuai peran dan status masing-masing. Secara mikro, ada dua kelompok kerja utama di sekolah; di satu sisi ada individu yang berperan sebagai pendidik atau guru (melakukan pekerjaan mengajar), dan di sisi lain, ada individu yang berperan sebagai peserta didik (melakukan pekerjaan belajar). Secara natural antara kedua kelompok kerja tersebut terjadi interaksi atau transaksi sosial dan transaksi akademik (intelektual). Lingkup interaksi atau transaksi individu di sekolah tidak dapat dilepaskan dari karakteristik budaya masyarakat di sekitarnya. Secara skematis lingkup interaksi atau transaksi individu di sekolah digambarkan dalam Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2 Lingkup interaksi atau transaksi individu di sekolah (Adaptasi dari Owens, 1991:62)
BUDAYA ORGANISASI KELOMPOK KERJA
Kurikulum berkembang seiring dengan perkembangan ipteks dan kebutuhan peserta didik. Secara historis sejak kemerdekaan Indonesia, kurikulum di sekolah-sekolah mengacu pada kurikulum peninggalan zaman penjajahan (Belanda dan Jepang). Secara bertahap kurikulum sekolah tersebut dikembangkan sesuai dengan UUD 1945 dan kebutuhan masyarakat Indonesia sendiri. Kurikulum yang disusun khusus untuk sekolah di Indonesia tersebut mulai dicobakan sejak tahun 1950an, dan pada tahun 1968 ditetapkan secara yuridis formal kurikulum khusus untuk sekolah-sekolah jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah, yang diperbaharui lagi dengan kurikulum tahun 1975. Demikian seterusnya kurikulum terus dikembangkan hingga saat ini, dan yang terakhir diberlakukan adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK).
Pada pertengahan tahun 2006, mulai disosialisasikan kebijakan yang memberi kesempatan kepada tiap satuan pendidikan untuk mengembangkan sendiri kurikulum operasional dengan nama kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Secara yuridis, kebijakan pengembangan KTSP tersebut dilandasi oleh amanat yang termaktub dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, seperti tertuang dalam pasal 1 ayat (19), pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); pasal 32 ayat (1), (2), (3), pasal 35 ayat (2), pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4), pasal 37 auat (1), (2), (3), pasal 38 ayat (1), (2). Amanat dalam UU No. 20 Tahun 2003 tersebut secara operasional diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15) ayat (1), (2); pasal 6 ayat (6), pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6) (7), (8), pasal 8 ayat (1), (2), (3), pasal 10 ayat (1), (2), (3), pasal 11 (1), (2), (3), (4), pasal 13 (1), (2), (3), (4), pasal 14 (1), (2), (3), pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5), pasal 17 ayat (1), (2), pasal 18 ayat (1), (2), (3), pasal 20.
Secara yuridis, pengembangan KTSP tersebut menekankan penetapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tiap satuan pendidikan. Standar Isi (SI) mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Sedangkan Standar Kompentesi Lulusan (SKL) merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Permendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Latihan
Setelah mempelajari materi pada Sub Unit 2.1 di atas, Anda diminta mengerjakan soal latihan berikut ini.
1. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 menetapkan standar isi pendidikan nasional. Jelaskan lingkup dari standar isi pendidikan nasional yang dimaksud!
2. Apakah pemberlakuan KTSP merupakan pengganti KBK? Jelaskan jawaban Anda!
3. Apakah landasan yuridis kurikulum di Indonesia tetap?