• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah-langkah Pengintegrasian RTRW ke dalam RPJMD

Dalam dokumen TIM PENYUSUN LAPORAN (Halaman 100-104)

BAB 4 PEDOMAN SINKRONISASI RENCANA TATA RUANG DAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH39

4.2 Integrasi antara RTRW dan RPJMD

4.2.6 Langkah-langkah Pengintegrasian RTRW ke dalam RPJMD

Setelah melakukan evaluasi sinkronisasi RTRW dan RPJMD secara menyeluruh, dapat dilakukan pengintegrasian RTRW ke dalam RPJMD periode berikutnya. Dalam melakukan evaluasi dan sinkronisasi, harus diperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Perbedaan jangka waktu

Jangka waktu RTRW adalah 20 tahun, sedangkan RPJMD 5 tahun. Oleh karenanya, dalam melakukan evaluasi/sinkronisasi program-program dalam RTRW perlu dicek berdasarkan pentahapan dan jangka waktunya. Misalnya ada program-program yang dilaksanakan hanya dalam satu tahapan, tetapi ada juga yang lebih dari satu tahapan atau menerus. Dengan demikian, pada saat melakukan evaluasi/sinkronisasi, (1) dicek program tersebut harus dilaksanakan pada tahapan ke berapa, apakah sesuai dengan periode RPJMD yang akan disusun/dievaluasi, atau apakah program tersebut telah dilaksanakan pada RPJMD sebelumnya, atau apakah program tersebut akan dilaksanakan pada periode RPJMD berikutnya; (2) dicek jangka waktu pelaksanaan program tersebut, apakah selesai dalam satu tahapan, atau lebih, atau menerus. Mengingat program dalam RTRW dapat memiliki jangka waktu 1 s/d 20 tahun, sementara program dalam RPJMD maksimal memiliki jangka waktu 5 tahun, maka bisa saja terjadi perbedaan cara perumusan/penamaan program.

2. Perbedaan muatan

Muatan perencanaan dalam RTRW hanya meliputi aspek-aspek yang terkait dengan ruang (spasial), sementara muatan perencanaan dalam RPJMD lebih luas mencakup spasial dan non-spasial. Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa evaluasi/sinkronisasi hanya dilakukan terhadap aspek-aspek yang terkait ruang (spasial) saja. Dengan demikian perlu diidentifikasi program-program dalam RPJMD yang terkait dengan ruang (spasial) dan yang tidak terkait dengan ruang (non-spasial). Biasanya hal ini sudah dapat diidentifikasi pada perumusan Misi dalam RPJMD. Sebagai contoh dapat dilihat pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11

Contoh Pengidentifikasian Keterkaitan Misi dalam RPJMD dengan Ruang

Misi Keterkaitan dengan Ruang

1. Mewujudkan tata kehidupan yang harmonis, agamais, beradat, dan berbudaya berdasarkan falsafah ”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”;

Tidak terkait dengan ruang, kecuali untuk persebaran fasilitas keagamaan

2. Mewujudkan tata-pemerintahan yang baik, bersih dan profesional

Tidak terkait dengan ruang

3. Mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman, dan berkualitas tinggi

Tidak terkait dengan ruang, kecuali untuk persebaran fasilitas pendidikan dan kesehatan

4. Mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis kerakyatan, berdayasaing regional dan global

Terkait erat dengan ruang (spasial)

5. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

Terkait erat dengan ruang (spasial)

Sumber: Diolah dari RPJMD Provinsi Sumatera Barat 2010-2015

3. Perbedaan nomenklatur

Nomenklatur program dalam RPJMD mengacu pada Permendagri No. 13 tahun 2006, sehingga bersifat generik. Sementara penamaan program dalam RTRW lebih bebas sesuai kebutuhan daerah. Dengan demikian, evaluasi/sinkronisasi dilakukan dengan cara (a) mengelompokkan program-program dalam RTRW sesuai dengan nomenklatur program pada RPJMD; dan (b) mengidentifikasi kegiatan atau indikator kinerja output yang lebih detil pada RPJMD.

4. Perbedaan cakupan pelaksana/penanggung jawab

Sesuai dengan arahan dari Kementerian Dalam Negeri, RPJMD Provinsi hanya memuat program-program yang dibiayai oleh APBD Provinsi yang bersangkutan, sehingga tidak mencantumkan program-program yang dibiayai oleh APBN (pemerintah pusat), APBD Provinsi yang bersebelahan, dan APBD Kabupaten/Kota di bawahnya yang terdapat di wilayah provinsi tersebut. Hal ini berbeda dengan RTRW yang memuat semua program yang akan dilaksanakan di wilayah provinsi tersebut, baik didanai oleh APBD provinsi yang bersangkutan maupun dari sumber dana yang lain. Hal ini perlu menjadi perhatian, karena bisa jadi target pembangunan dalam RTRW untuk periode yang sama jauh lebih besar daripada target dalam RPJMD. Misalnya, target pembangunan jalan arteri untuk 5 tahun di RTRW adalah 50 km, sementara di RPJMD hanya 20 km. Hal ini karena

pembangunan jalan arteri yang dibiayai oleh APBD provinsi hanya 20 km, sedangkan yang 30 km dibiayai dari sumber-sumber lain.

Setelah memerhatikan hal-hal tersebut di atas, maka langkah-langkah yang harus dilakukan untuk sinkronisasi RTRW ke dalam RPJMD, dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Sinkronisasi RTRW-RPJMD dilakukan mulai dari penyusunan Draft 0 RPJMD (proses teknokratik). Pada tahap ini, upaya sinkronisasi dilakukan oleh pihak Bappeda, selaku badan penanggung jawab penyusunan rencana pembangunan daerah.

2. Cek legalitas RTRW, apakah sudah mendapatkan rekomendasi gubernur atau persetujuan substansi menteri, atau sudah menjadi Peraturan Daerah (Perda).

Lihat kembali arahan sesuai Gambar 4.6 di atas.

3. Cek periodisasi waktu, berada pada tahapan ke berapa dari RTRW untuk RPJMD yang hendak disusun. Fokuskan pengecekan terutama pada program-program untuk tahapan tersebut.

4. Bahan-bahan yang dibutuhkan sebelum melakukan sinkronisasi muatan RTRW ke dalam penyusunan RPJMD:

a. Evaluasi sinkronisasi RTRW dan RPJMD periode-periode sebelumnya.

Misalnya, bila yang akan disusun adalah RPJMD yang merupakan tahap ketiga dari RTRW (2015-2019), maka harus sudah ada evaluasi sinkronisasi dari RPJMD tahap pertama (2005-2009) dan kedua (2010-2014). Lihat gambar berikut:

b. Hasil evaluasi pelaksanaan RPJMD periode-periode sebelumnya (2005-2009 dan 2010-2014) dan pelaksanaan RKPD tahun terakhir.

5. Pada saat melakukan evaluasi sinkronisasi RTRW dengan RPJMD periode sebelumnya (2005-2009 dan 2010-2014), kolom penilaian dan rekomendasi pada tabel 4.5 dan 4.6 di atas diisi sebagai berikut:

a. Penilaian sinkronisasi terhadap kebijakan/strategi, program, lokasi, serta kewenangan/penanggung jawab;

RTRW 2005-2025

RPJPD 2005-2025

b. Rekomendasikan hal-hal yang belum dicakup dalam RPJMD yang lalu dan harus masuk pada RPJMD berikutya, sesuai dengan pentahapan dan jangka waktu program RTRW.

6. Kolom rekomendasi tersebut yang dijadikan dasar acuan dalam perumusan RPJMD periode berikutnya (2015-2019 pada contoh di atas):

a. Buat daftar program-program yang harus masuk dalam RPJMD yang akan disusun (2015-2019): (i) sesuai dengan rekomendasi dari evaluasi sinkronisasi RPJMD tahap-tahap sebelumnya (2005-2009 dan 2010-2014); serta (ii) program-program yang terdapat dalam tahapan RTRW yang sesuai (2015-2019).

b. Lakukan pemrioritasan terhadap daftar program-program tersebut untuk menetapkan program-program yang akan dilaksanakan pada 5 tahun mendatang, disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Kriteria pemrioritasan, antara lain:

i. Program yang mendesak (untuk mengatasi isu strategis);

ii. Program yang menerus (multi years);

iii. Program yang saling berkaitan (misalnya, Program B tidak dapat dilaksanakan bila Program A belum dilakukan);

iv. Program yang membentuk struktur ruang;

v. Dan sebagainya.

Dalam melakukan pemrioritasan program ini berdasarkan ketersediaan anggaran, perlu diingat bahwa (i) RTRW hanya memuat program spasial; dan (ii) RTRW memuat semua program dari berbagai sumber dana, sementara RPJMD hanya memuat program yang didanai dari APBD provinsi yang bersangkutan.

c. Cek kebijakan dan strategi dalam RTRW yang memayungi program-program tersebut.

d. Kebijakan dan strategi RTRW tersebut menjadi dasar perumusan strategi dan arah kebijakan dalam RPJMD, dikaitkan dengan Visi-Misi dalam RPJMD.

Dalam melaksanakan langkah-langkah pengintegrasian tersebut, sebaiknya diawali dengan melakukan upaya pemerataan dan penyamaan pemahaman bagi seluruh stakeholder terkait dalam proses sinkronisasi (Bappeda dan SKPD terkait) terhadap dokumen rencana tata ruang (RTRW). Hal ini menjadi penting, karena sampai dengan saat ini masih banyak aparat SKPD yang belum memahami substansi dokumen RTRW, sehingga mereka menemui banyak kesulitan dalam menyinkronkan antara RTRW dengan dokumen rencana pembangunan (RPJMD dan RKPD). Upaya pemerataan pemahaman terhadap RTRW ini dapat dilakukan dengan pelaksanaan kegiatan sosialisasi RTRW kepada stakeholder terkait (khususnya SKPD terkait penataan ruang) yang dikoordinasikan oleh pihak Bappeda.

Adapun tahap selanjutnya dalam menjalankan langkah teknis upaya sinkronisasi RTRW dengan RPJMD dan RKPD dapat dilakukan melalui kegiatan workshop yang difasilitasi oleh

pihak Bappeda bagi SKPD terkait. Pada kegiatan workshop ini, Bappeda beserta SKPD terkait mulai melakukan langkah-langkah teknis upaya sinkronisasi yang telah dijabarkan (langkah 2 s.d 6). Upaya sinkronisasi diawali dengan kegiatan membedah serta mengevaluasi sinkronisasi masing-masing dokumen RTRW, RPJMD, serta RKPD.

Secara lebih ringkas, langkah-langkah sinkronisasi antara rencana tata ruang dan rencana pembangunan dapat digambarkan sebagai berikut.

Dalam dokumen TIM PENYUSUN LAPORAN (Halaman 100-104)