BAB 1 PENDAHULUAN
1.5 Sistematika Pembahasan
Laporan ini terdiri atas empat bagian utama. Bagian pendahuluan yang memuat latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup kegiatan, serta metodologi, dibahas pada bab 1.
Bab 2 menyajikan ringkasan mengenai kajian literatur, upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan yang dilakukan Daerah serta kendala yang dihadapi oleh Daerah. Bab 3 menyajikan rumusan hasil FGD-Lokakarya yang dilakukan di tiga wilayah studi. Muatan inti dari laporan ini disajikan pada bab 4 yang memaparkan pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah, yang dirumuskan berdasarkan kajian literatur, upaya-upaya sinkronisasi dan inventarisasi kendala di daerah, serta hasil pelaksanaan FGD-Lokakarya di tiga wilayah studi.
BAB 2 KAJIAN LITERATUR DAN INVENTARISASI KENDALA
SINKRONISASI RENCANA TATA RUANG DAN RENCANA PEMBANGUNAN DI DAERAH
2.1 Kajian Literatur
2.1.1 Pengalaman di Luar Negeri
Perencanaan merupakan bagian dari suatu kebijakan (Healey, 1997). Pada tingkat pemerintahan, perencanaan dapat dibedakan menjadi perencanaan praktis dan sistem perencanaan. Kedua jenis kategori perencanaan ini biasa dibedakan sebagai
“infrastruktur perangkat keras” dan “infrastruktur perangkat lunak”. Healey (1997) mendefinisikan perencanaan praktis sebagai suatu arena dimana berbagai pihak terlibat secara bersama dalam proses implementasi rencana. Sedangkan, sistem perencanaan didefinisikan sebagai sistem hukum dan prosedur yang menetapkan aturan dasar bagi perencanaan praktis atau praktek perencanaan. Dengan kata lain, sistem perencanaan menyediakan kerangka hukum dan peraturan bagi praktek perencanaan.
Sistem perencanaan merupakan aspek yang penting dalam kapasitas kelembagaan bagi proses perencanaan dan pembangunan (Healey dan Williams, 1993). Oleh karena itu, pada suatu batas tertentu, sistem perencanaan dapat memengaruhi proses pembangunan wilayah dan perkotaan melalui upaya mendorong (insentif) atau membatasi (disinsentif). Dengan kata lain, sistem perencanaan dapat memengaruhi arah perencanaan pembangunan dan perencanaan tata ruang suatu wilayah.
Berdasarkan karakteristik dasarnya, European Commission (1997) mengkategorikan sistem perencanaan ke dalam 4 (empat) kategori pendekatan:
(1) Pendekatan komprehensif-terpadu (comprehensive-integrated approach)
Pendekatan ini terbangun melalui rencana-rencana yang bersifat sistematis dan berhierarki secara formal dari tingkat nasional ke lokal. Fokus perencanaan tata ruang dalam pendekatan ini lebih ditekankan pada pengaturan ruang dibandingkan pengembangan ekonomi. Pada pendekatan ini, investasi sektor publik memegang peranan penting dalam proses implementasi rencana.
Pemangku kewenangan pada tingkat tertinggi sistem perencanaan memiliki
peran yang dominan dalam proses realisasi rencana. Dengan kata lain, sistem top-down berlaku pada pedekatan ini.
Beberapa negara di Eropa yang menganut pendekatan komprehensif-terpadu dalam sistem perencanaannya, yaitu:
- Negara kesatuan (unitary states): Belanda dan beberapa negara skandinavia (Denmark, Swedia, dan Finlandia). Pada negara kesatuan ini, Pemerintah Pusat di tingkat nasional memiliki peran yang signifikan terhadap realisasi rencana pembangunan dan penataan ruang.
- Negara bagian (federal states): Austria dan Jerman. Pada negara bagian ini, Pemerintah di tingkat regional memiliki peran yang besar terhadap realisasi rencana pembangunan dan penataan ruang.
Tradisi sistem perencanaan ini menjadikan perencanaan tata ruang dan pembangunan dengan pendekatan seperti ini harus memiliki sistem perencanaan yang ‘matang’, dimana diperlukan suatu lembaga serta mekanisme perencanaan yang responsif dan mutakhir; juga komitmen politis yang ajeg dalam proses perencanaan (European Commission, 1997).
(2) Pendekatan perencanaan ekonomi wilayah (regional economic approach)
Pada pendekatan ini, perencanaan tata ruang terkait dengan upaya pencapaian tujuan sosial dan ekonomi secara luas, terutama mengenai ketimpangan wilayah di bidang kesejahteraan, ketenagakerjaan, serta kondisi sosial. Pemerintah Pusat dalam hal ini memainkan peranan penting untuk mengelola tekanan pembangunan di seluruh negeri, dan untuk mengelola investasi sektor publik (European Commission, 1997). Dalam pendekatan ini, perencanaan tata ruang tidak dapat dipisahkan dari isu-isu perkembangan nasional dan wilayah. Oleh karena itu, peran pemeritah regional dan pusat sangat penting dalam mengkoordinasikan dan medorong proses pembangunan. Perancis dan Portugal adalah contoh dari negara di Eropa yang menerapkan pendekatan ekonomi wilayah.
(3) Pendekatan urbanisme (urbanism)
Pada pendekatan urbanisme, perencanaan tata ruang lebih terfokus pada desain perkotaan (urban design), tata bangunan dan lingkungan perkotaan. Aturan penataan ruang dalam pendekatan ini berupa peraturan zoning yang kaku (European Commission, 1997). Negara-negara di Eropa seperti Italia dan Spanyol merupakan contoh dari negara yang menganut pendekatan ini. Akan tetapi, patut diakui bahwa pendekatan ini semakin kurang relevan terhadap perkembangan isu pembangunan yang semakin kompleks dan terkait dengan berbagai kepentingan.
(4) Pendekatan penggunaan lahan dan pengelolaan pertumbuhan (land use and growth management)
Pada pendekatan ini, perencanaan terkait erat dengan pengendalian perubahan guna lahan, yang dilakukan baik di tingkat pemerintahan strategis maupun lokal (European Commission, 1997). UK atau Inggris merupakan salah satu contoh negara di Eropa yang menganut pendekatan penggunaan lahan dan pengelolaan pertumbuhan, disamping Irlandia dan Belgia yang telah mengalami pergeseran pendekatan secara lebih menyeluruh. Selain UK, USA merupakan negara di benua Amerika yang juga mengadopsi pendekatan ini. Di UK, pendekatan ini diimplementasikan melalui upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan yang didominasi oleh kewenangan pemerintah daerah dan sistem pasar. Peran Pemerintah Pusat dalam kasus ini hanya berada pada tataran pengawasan sistem dan pengaturan tujuan nasional. Di USA, implementasi pendekatan ini dilakukan secara holistik melalui pengelolaan pertumbuhan penggunaan lahan. Dalam sistem ini, negara menetapkan kerangka kerja di tingkat regional serta tujuan pembangunan, yang didukung oleh upaya implementasi secara konsisten dari Pemerintah Daerah. Jika dibandingkan dengan pendekatan penggunaan lahan dan pengelolaan pertumbuhan yang diterapkan di UK, pendekatan di USA ini lebih terfragmentasi dan tidak solid.
Cullingworth dan Nadin (2006) memberikan gambaran sistem perencanaan pada beberapa negara di Uni Eropa sebagai berikut:
Sumber: Cullingworth dan Nadin, 2006
Berdasarkan penjelasan mengenai sistem perencanaan di Eropa tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan sistem perencanaan merupakan kerangka hukum dan peraturan bagi praktek perencanaan. Dengan kata lain, sistem
European Spatial Development Perspective CoE Principles for Sustainable Development
European Union
Transnational Spatial visions
NorVision (North Sea); Atlantic Area Spatial Strategy; Spatial Vision for North West Europe
UK/England Scotland Northen Ireland Wales
Regional
Spatial Plan for Wales
Structure plans Area plans
Local plans Wales are planning sturcture plans, local plans, and unitary development plans
perencanaan memberikan arah terhadap implementasi suatu praktek perencanaan.
Lingkup praktek perencanaan yang dimaksud adalah lingkup perencanaan penataan ruang dan perencanaan pembangunan. Berdasarkan European Commission, karakteristik sistem perencanaan dikategorikan kedalam 4 kategori sesuai dengan pendekatan yang dianutnya. Perbedaan pendekatan tersebut memengaruhi arah implementasi praktek perencanaan di suatu negara.
Pada gambaran sistem perencanaan di beberapa negara Uni Eropa, dapat dirumuskan bahwa sistem perencanaan pada negara-negara tersebut menjadi arahan terhadap perencanaan ruang (penataan ruang) dan non-keruangan (pembangunan). Sistem perencanaan tersebut terhierarki secara sistematis berdasarkan wilayah administrasi, dari tingkat Uni Eropa, Nasional, Regional, hingga Lokal. Poin penting dari gambaran sistem perencanaan pada beberapa negara Uni Eropa ini adalah bahwa pembagian lingkup praktek perencanaan (perencanaan penataan ruang dan perencanaan pembangunan) umumnya dilakukan secara sistematis dan tidak bersifat paralel.
Sebagai gambaran, sistem perencanaan yang diaplikasikan di UK terdiri dari perencanaan pembangunan di tingkat nasional dan regional. Perencanaan pembangunan ini kemudian dijabarkan secara lebih detail dalam bentuk perencanaan tata ruang yang diterapkan pada tingkat lokal. Sistem perencanaan secara sistematis dan berhierarki ini menjadikan proses integrasi dan sinkronisasi antara rencana tata ruang dan rencana pembangunan menjadi lebih mudah dilakukan, karena proses integrasi hanya dilakukan pada tingkat lokal.
2.1.2. Kajian Studi yang Pernah Dilakukan di Indonesia
Bagian ini menyajikan ringkasan dari studi-studi yang pernah dilakukan di Indonesia mengenai integrasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah. Terdapat tiga studi yang telah dilakukan, yaitu:
1. “Institution Building for the Integration of National-Regional Development and Spatial Planning”, DSF dan Bappenas, tahun 2010-2011;
2. “Model Pengintegrasian Rencana Tata Ruang dengan Rencana Pembangunan Daerah”, Kementerian Dalam Negeri, tahun 2011; dan
3. “Panduan Integrasi Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang”, Kementerian Pekerjaan Umum, tahun 2012.
Dari ketiga kajian studi tersebut terlihat bahwa muatan studi tersebut dapat saling melengkapi dalam upaya pengintegrasian rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah. Terdapat 4 (empat) aspek penting yang dapat disarikan dari ketiga studi tersebut terkait dengan upaya integrasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah, khususnya RPJPD dan RPJMD, yaitu:
a. Integrasi prosedur antara RTRW dengan RPJPD (DSF-Bappenas);
b. Model integrasi berdasarkan status kekuatan hukum RTRW (Kemendagri);
c. Integrasi periodisasi waktu (KemenPU); dan
d. Integrasi muatan antara RTRW dengan RPJPD dan RPJMD (DSF-Bappenas).
a. Integrasi Prosedur antara RTRW dengan RPJPD
Mekanisme penyusunan RTRW dan RPJPD di Daerah dapat memengaruhi keintegrasian muatan kedua dokumen tersebut. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan kemungkinan peningkatan keintegrasian muatan kedua dokumen melalui pengintegrasian prosedur penyusunannya. Pengintegrasian prosedur penyusunan RPJPD dan RTRW dapat membuat proses penyusunan menjadi lebih efisien dan efektif. Sinkronisasi dan integrasi terutama dilakukan pada saat pengumpulan data dan informasi, proses analisis, serta perumusan isu-isu strategis.
Pada dasarnya terdapat 2 (dua) alternatif pengintegrasian prosedur penyusunan RPJPD dan RTRW. Perbedaannya terutama terletak pada waktu pengintegrasian (pengumpulan data, analisis, dan perumusan isu strategis):
Alternatif I, pengintegrasian dilakukan setelah terbentuk tim penyusun RTRW dan tim penyusun RPJPD serta tahap persiapan sudah dilakukan.
Gambar 2.1 Alternatif I Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Sumber: DSF-Bappenas, 2011
Alternatif II, pengintegrasian dilakukan sebelum pembentukan tim penyusun.
Gambar 2.2 Alternatif II Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Sumber: DSF-Bappenas, 2011
b. Model Integrasi berdasarkan Status Kekuatan Hukum RTRW
Terdapat 2 model integrasi, yaitu (1) model integrasi Rencana Pembangunan Daerah dengan RTRW berkekuatan hukum tetap (Perda); dan (2) Model integrasi Rencana Pembangunan Daerah dnegan RTRW yang belum berkekuatan hukum tetap.
(1) Model Integrasi Rencana Pembangunan Daerah (RPD) dengan RTRW Berkekuatan Hukum Tetap (Perda)
Pengintegrasian RTRW dalam proses penyusunan RPD, sudah dimulai pada saat penyusunan rancangan awal RPJPD dan RPJMD. Bila pada saat penyusunan RPJPD dan RPJMD, RTRW sudah berkekuatan hukum tetap, maka RTRW digunakan sebagai acuan.
(2) Model Integrasi Rencana Pembangunan Daerah dengan RTRW yang Belum Berkekuatan Hukum Tetap
Pada prinsipnya bila proses penyusunan RTRW telah melalui prosedur yang benar, sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku, maka RTRW tersebut dapat dipandang sah secara hukum, sehingga dapat dijadikan pedoman awal dalam penyusunan RPJPD dan RPJMD.
RTRW Provinsi yang telah mendapatkan persetujuan substansimenteri maupun RTRW Kabupaten/Kota yang telah mendapatkan rekomendasi gubernur, sudah dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan RPJPD dan RPJMD, karena penyusunan RTRW tersebut telah melalui prosedur seperti yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, yaitu telah memerhatikan (1) RTRW di atasnya;
(2) pedoman bidang penataan ruang; (3) RPJPD; (4) aspirasi pembangunan; (5) RTRW wilayah yang berbatasan; dan (6) KLHS. Ke-6 acuan dan konsideran dalam proses penyusunan RTRW provinsi diatas merupakan persyaratan minimal untuk terbitnya surat Rekomendasi Gubernur dan Persetujuan Substansi dari Menteri Pekerjaan Umum. Dengan demikian, suatu Raperda RTRW yang telah mendapatkan 2 (dua) surat tersebut dapat dijadikan sebagai Pedoman Awal untuk penyusunan dan penetapan RPJPD dan RPJMD, sebelum Perda RTRW terbit.
Gambar 2.3 Model Integrasi dalam Perumusan RPJPD, RPJMD dan Renstra SKPD dengan RTRW Berdasarkan Status Legalitas/Kekuatan Hukum
Rancangan Awal
1. Materi Teknis 2. Album Peta
1. RTRW Provinsi yang telah
RTRW yang sudah berkekuatan hukum RTRW yang belum berkekuatan hukum
Sumber: Diadopsi dari Kemendagri, 2011
c. Integrasi Periodisasi Waktu
Pada prinsipnya, integrasi dapat dipermudah bila pentahapan dalam RPJPD dan RTRW sesuai dengan periode RPJMD. Namun, pada kenyataannya hal tersebut sulit dicapai.
Hal ini disebabkan karena adanya variasi kondisi penyusunan dokumen-dokumen perencanaan (RPJPD, RPJMD, dan RTRW) yang mengakibatkan adanya perbedaan periodisasi waktu. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, periode untuk RPJPD, RTRW, dan RPJMD diatur sebagai berikut:
1. Periode RPJPD adalah tetap 2005-2025 mengikuti periode RPJPN, pada tahun berapapun dokumen tersebut disusun (pasal 1 ayat 2 UU 17/2007 tentang RPJPN 2005-2025);
2. Periode RPJMD terikat dan mengikuti masa jabatan kepala daerah terpilih;
sementara
3. Periode RTRW relatif lebih fleksibel, karena tidak diatur di dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Oleh karena itu, integrasi periodisasi waktu antara RTRW dan RPJPD maupun RPJMD didasarkan pada beberapa variasi kemungkinan kondisi yang dapat terjadi dalam penyusunan dokumen RPJPD, RTRW dan RPJMD, yaitu:
c. Kondisi 1 : Dokumen Rencana yang sudah ditetapkan terlebih dahulu;
d. Kondisi 2: Dokumen yang disusun di tengah periode dari dokumen rencana yang telah ditetapkan terlebih dahulu (poin a);
e. Kondisi 3: Dokumen yang disusun di akhir periode per 5 tahun dari dokumen rencana yang telah ditetapkan terlebih dahulu (poin a).
Sehubungan dengan itu, tabel di bawah ini menjelaskan cara mengintegrasikan periodisasi waktu dari ketiga dokumen rencana.
Tabel 2.1
Integrasi Periodisasi Waktu pada Berbagai Variasi Kondisi
No
Variasi Kondisi
Langkah Pengintegrasiannya Kondisi
1
Kondisi 2
Kondisi 3
1 RPJPD RPJMD RTRW Misal: RPJPD 2005-2025
RPJPD-RPJMD
RPJMD disusun 2008 (RPJM 2008-2012)
Breakdown RPJMD dan RPJPD periode berjalan tidak mungkin sama.
Sebab RPJMD mengikuti periode KDH terpilih.
KDH terpilih tidak dapat mengakomodir tahun-tahun sebelum terpilih ke dalam RPJMD.
Breakdown RPJPD: 2005-2009, 2010-2014, 2015-2019, 2020-2025.
RPJP-RTRW
RTRW disusun tahun 2009 (RTRW 2009-2029) RTRW mengikuti periodisasi RPJMD, bukan RPJPD.
Pembagian PJM juga tidak harus 5 tahun per PJM dan tidak harus 4 periode PJM.
No (2023-2027) dan V (2028-2029).
2 RPJPD RTRW RPJMD Misal: RPJPD 2005-2025
RPJPD-RTRW
RTRW disusun 2008 (RTRW 2008-2028) RTRW ikuti periodisasi RPJPD.
Pembagian PJM di dalam indikasi program tidak mesti per 5 tahun.
Misal: 2008-2009; 2010-2014; 2015-2019; 2020-2025. Agar sesuai dengan periodisasi RPJPD.
RPJPD-RPJMD
RPJMD disusun tahun 2009 (RPJM 2009-2014) BAU (Business as Usual). RPJMD ikuti periodisasi RPJPD
3 RPJPD RPJMD
dan RTRW
- Misal: RPJP 2005-2025 RPJPD-RPJMD
RPJDM disusun 2008 (RPJM 2008-2012)
Breakdown RPJMD dan RPJPD periode berjalan tidak mungkin sama.
Sebab RPJMD mengikuti tahun KDH terpilih.
KDH terpilih tidak dapat mengakomodir tahun-tahun sebelum terpilih ke dalam RPJMD.
Breakdown RPJPD: 2005-2009, 2010-2014, 2015-2019, 2020-2025.
RPJPD-RTRW
RTRW disusun 2008 (RTRW 2008-2028)
RTRW mengikuti periodisasi RPJMD, bukan RPJPD.
Pembagian PJM: I (2008-2012), II (2013-2017), III (2018-2022), IV
No
Misal: RPJPD 2005-2025 RPJPD-RTRW
RTRW disusun tahun 2009 (RTRW 2009-2029).
RPJMD disusun 2009 (RPJMD 2009-2014) BAU. (Business as Usual).
RTRW ikuti periodisasi RPJMD.
5 RPJMD RPJPD RTRW Misal: RPJMD 2008-2012
RPJMD-RPJPD
RPJPD disusun tahun 2010 (RPJP 2005-2025).
RPJPD tetap 2005-2025.
Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak mesti 5 tahun per tahapan (disesuaikan dengan periode RPJMD): 2005-2008;
2008-2012; 2013-2017; 2018-2022; 2023-2025 RPJMD-RTRW
RTRW disusun tahun 2013 (RTRW 2013-2033)
RTRW ikuti periodisasi RPJMD (PJM I RTRW ikut RPJMD berikutnya:
2013-2017)
6 RPJMD RTRW RPJPD Misal: RPJMD 2008-2012
RPJMD-RTRW
RTRW disusun 2010 (RTRW 2010-2030)
RTRW sesuai periodisasi RPJMD, periodisasi tidak mesti 4 tahapan dan RPJPD Tahap 1
No
tidak mesti harus 5 tahun di tiap PJM.
PJM I: 2010-2012; PJM II: 2013-2017; PJM III: 2018-2022; PJM IV:
2023-2027; PJM V: 2028-2030.
RPJMD-RPJPD RPJPD tetap 2005-2025.
Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak harus 5 tahun per periode: I (2005-2008); II (2008-2012); III (2013-2017); IV (2018-2022); V (2023-2025)
7 RPJMD RPJPD
dan RTRW
Misal: RPJMD 2008-2012 RPJMD-RPJPD
RPJPD disusun tahun 2010 (RPJP 2005-2025) RPJPD tetap 2005-2025.
Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak mesti 5 tahun per tahapan: 2005-2008; 2008-2012; 2013-2017; 2018-2022;
2023-2025 RPJMD-RTRW
RTRW disusun 2010 (RTRW 2010-2030)
RTRW sesuai periodisasi RPJMD, periodisasi tidak mesti 4 tahapan dan tidak mesti harus 5 tahun di tiap PJM.
PJM I: 2010-2012; PJM II: 2013-2017; PJM III: 2018-2022; PJM IV:
2023-2027; PJM V: 2028-2030
8 RPJMD RPJPD
dan RTRW
Misal: RPJMD 2008-2012 RPJMD-RPJPD
RPJPD tetap 2005-2025.
Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak harus 5 tahun per periode: I (2005-2008); II (2008-2012); III (2013-2017); IV (2018-2022); V (2023-2025)
RPJMD-RTRW
RTRW disusun tahun 2013 (RTRW 2013-2033)
RTRW ikuti periodisasi RPJMD (PJM I RTRW ikut RPJM berikutnya:
No
RTRW dan RPJPD RPJDP disusun tahun 2013 PJM I RTRW adalah 2012-2016.
RPJPD tetap berperiode 2005-2025. Pembagian periode 5 tahunan mengikuti periode PJM I RTRW: 2005-2011, 2012-2016, 2017-2021, 2022-2025
RTRW dan RPJMD
RPJMD disusun tahun 2017 (RPJMD 2017-2021)
BAU(Business as Usual), periodisasi RPJMD sesuai dengan periode PJM RTRW tahap II (2017-2021)
10 RTRW RPJMD RPJPD Misal: RTRW 2012-2032
RTRW dan RPJMD
RPJMD disusun tahun 2014 (RPJMD 2014-2018) PJM I RTRW adalah 2012-2016.
RPJMD sudah pasti periodenya mengikuti periode KDH terpilih.
Untuk itu, selisih waktu PJM dalam RTRW 2012-2032 tidak bisa direkonsiliasi dengan periode RPJMD. Penyesuaian hanya dapat dilakukan pada RTRW periode berikutnya (2033-2053)
RTRW dan RPJPD
RPJPD disusun pada tahun 2016
RPJPD tetap periodenya 2005-2025. Pembagian periode mengikuti RPJMD, bukan PJM dalam RTRW.
RPJMD n-1
No
Misal: RTRW 2012-2032 RTRW dan RPJMD
RPJMD disusun tahun 2014 (RPJMD 2014-2018) PJM I RTRW adalah 2012-2016.
RPJMD sudah pasti periodenya mengikuti periode KDH terpilih.
Untuk itu, selisih waktu PJM dalam RTRW 2012-2032 tidak bisa direkonsiliasi dengan periode RPJMD. Penyesuaian hanya dapat dilakukan pada RTRW periode berikutnya (2033-2053)
RTRW dan RPJPD
RPJP disusun tahun 2013 PJM I RTRW adalah 2012-2016.
RPJPD tetap berperiode 2005-2025. Pembagian periode 5 tahunan mengikuti periode RPJMD dan bukan RTRW: 2005-2009; 2010-2013;
2014-2018; 2019-2023; 2023-2025.
12 RTRW RPJPD
dan RPJMD
Misal: RTRW 2012-2032 RTRW dan RPJMD
RPJMD disusun tahun 2017 (RPJMD 2017-2021)
BAU (Business as Usual), periodisasi RPJMD sesuai dengan periode PJM RTRW tahap II (2017-2021)
RTRW dan RPJPD
RPJPD disusun pada tahun 2016 (atau 2017)
RPJPD tetap periodenya 2005-2025. Pembagian periode mengikuti RPJMD, bukan PJM dalam RTRW.
RTRW PJM 1
No
RTRW RPJPD 2005-2025
RPJMD 2005-2009
RTRW disusun 2008 (2008-2028)
Periodiasi PJM RTRW mengikuti periode RPJMD: 2008-2009;2010-2014; 2015-2019; 2020-2024; 2025-2028
14 RPJPD
dan RPJMD
RTRW RPJPD 2005-2025 RPJMD 2005-2009
RTRW disusun 2010 (2010-2030)
BAU (Business as Usual), periodisasi PJM I dalam RTRW mengikuti RPJMD periode berikutnya (RPJMD 2010-2014)
15 RPJPD
dan RTRW
RPJMD RPJPD 2005-2025
RTRW 2005-2025
RPJMD disusun 2008 (2008-2012)
RPJMD sudah pasti periodenya, demikian pula RPJPD dan RTRW.
Periodisasi RPJMD tidak dapat direkonsiliasi dengan RTRW dan RPJPD, kecuali pada penyusunan RPJPD dan RTRW periode berikutnya (RPJPD 2026-2046; RTRW 2026-2046).
16 RPJPD
dan RTRW
RPJMD RPJPD 2005-2025 RTRW 2005-2025
RPJMD disusun 2010 (2010-2014) BAU (Business as Usual), tidak ada masalah.
RPJPD Tahap 1
No
RPJPD RTRW 2005-2025
RPJMD 2005-2009
RPJPD disusun pada tahun 2008
Masa berlaku RPJPD tetap 2005-2025, periodisasinya ikuti RPJMD (2005-2009; 2010-2014; 2015-2019; 2020-2025)
18 RPJMD
dan RTRW
RPJPD RTRW 2005-2025 RPJMD 2005-2009
RPJPD disusun pada tahun 2009 (atau 2010)
Masa berlaku RPJPD tetap 2005-2025, periodisasinya ikuti RPJMD (2005-2009; 2010-2014; 2015-2019; 2020-2025)
Sumber: Diadopsi dari Kementerian PU, 2012
d. Integrasi Muatan antara RTRW dengan RPJPD dan RPJMD
Dalam melakukan integrasi muatan perlu dilakukan kajian keterkaitan antara urusan dalam RPJPD dan RPJMD dengan aspek-aspek dalam RTRW. Tidak semua urusan
dalam RPJPD memiliki implikasi ruang sehingga tidak dituangkan dalam RTRW (keterkaitan lemah). Sebaliknya ada urusan-urusan yang mempunyai implikasi ruang yang besar, seperti jaringan transportasi, jaringan infrastruktur, kawasan industri, kawasan perdagangan dan jasa, dan sebagainya.
Analisis integrasi muatan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) Analisis integrasi muatan antara RTRW dengan RPJPD; dan (2) Analisis integrasi muatan antara RTRW dengan RPJMD.
(1) Analisis integrasi muatan antara RTRW dengan RPJPD terdiri dari 4 langkah, yaitu:
Langkah 1: analisis integrasi antara tujuan dalam RTRW dan visi dalam RPJP Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara tujuan dalam RTRW dan visi dalam RPJPD.
No RTRW RPJPD Penilaian Rekomendasi
1. Tujuan: Visi:
Langkah 2: analisis integrasi antara alokasi ruang dalam RTRW dan misi dalam RPJPD
Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara alokasi ruang dalam RTRW dan misi dalam RPJPD.
No RTRW RPJPD Penilaian Rekomendasi
1 Alokasi ruang: Misi 1:
Arah kebijakan:
2 Alokasi ruang: Misi 2:
Arah kebijakan:
Langkah 3: analisis integrasi antara kebijakan dalam RTRW dan arah kebijakan dalam RPJPD
Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara kebijakan dalam RTRW dan arah kebijakan dalam RPJPD.
No RTRW RPJPD Penilaian Rekomendasi
1 Kebijakan1: Misi 1:
Strategi 1.1: Arah kebijakan:
Strategi 1.2: …
2 Kebijakan 2: Misi 2:
Strategi 2.1: Arah kebijakan:
Strategi 2.2: ...
Langkah 4: analisis integrasi antara program RTRW, tahap dalam RPJMD dan arah kebijakan dalam RPJPD
Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara program RTRW, tahap dalam RPJMD dan arah kebijakan dalam RPJPD.
No RTRW Tahap RPJMD RPJPD Rekomendasi
1 Program … RPJM 1, 2, 3, 4 Misi 1:
2 Program … RPJM 1, 2, 3, 4 Arah kebijakan:
3 Program … RPJM 1, 2, 3, 4 …
4 Program … RPJM 1, 2, 3, 4 Misi 2:
5 Program … RPJM 1, 2, 3, 4 Arah kebijakan:
(2) Analisis integrasi muatan antara RTRW dengan RPJMD terdiri dari 2 langkah, yaitu:
Langkah 1: analisis integrasi antara kebijakan RTRW dan arah kebijakan dalam RPJMD
Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara kebijakan RTRW, dan arah kebijakan dalam RPJMD.
No RTRW RPJMD Penilaian Rekomendasi
1 Kebijakan1: Arah kebijakan:
Strategi 1.1: Arah kebijakan:
Strategi 1.2: Arah kebijakan:
2 Kebijakan 2: Arah kebijakan:
Strategi 2.1: Arah kebijakan:
Strategi 2.2: Arah kebijakan:
Langkah 2: analisis integrasi antara program RTRW dan program dalam RPJMD
Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara program RTRW dan program dalam RPJMD.
No RTRW RPJMD Penilaian Rekomendasi
1 Program Program
2 Program Program
3 Program Program
4 Program Program
5 Program Program
6 Program Program
2.2 Inventarisasi Kendala yang Dihadapi oleh Daerah 2.2.1 Pelaksanaan Inventarisasi Kendala di Daerah
Pelaksanaan inventarisasi kendala di daerah dilakukan melalui kegiatan kunjungan lapangan dengan maksud untuk menjaring masukan awal dari daerah mengenai (a) upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan yang telah dilakukan di daerah sampai dengan saat ini, serta (b) inventarisasi kendala yang dihadapi daerah dalam melakukan sinkronisasi. Hal tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk penyusunan materi teknis pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan.
Kegiatan ini dilaksanakan di 3 provinsi, yaitu: Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jawa Timur, dan Provinsi Gorontalo dengan waktu pelaksanaan sebagai berikut:
No Provinsi Tanggal Pelaksanaan
1 Provinsi Sumatera Barat Senin, 23 Maret – Selasa, 24Maret 2015 2 Provinsi Jawa Timur Kamis, 26Maret – Jumat, 27 Maret 2015 3 Provinsi Gorontalo Senin, 30 Maret – Selasa, 31 Maret 2015
Inventarisasi dilakukan melalui diskusi dengan beberapa narasumber yang terlibat dan bertanggung jawab dalam melakukan evaluasi RTRW, evaluasi RPJPD, dan penyusunan RPJMD.
2.2.2 Rumusan Hasil Inventarisasi Kendala di Daerah
Hasil kunjungan lapangan dan diskusi dengan Pemerintah Provinsi di 3 wilayah studi
Hasil kunjungan lapangan dan diskusi dengan Pemerintah Provinsi di 3 wilayah studi