• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIM PENYUSUN LAPORAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TIM PENYUSUN LAPORAN"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

TIM PENYUSUN LAPORAN

1. Dr. Ir. Arifin Rudiyanto, M.Sc

2. Dr. Ir. Oswar Muadzin Mungkasa, MURP 3. Mia Amalia, ST, M.Si, Ph.D

4. Santi Yulianti, S.IP, MM

5. Uke Mohammad Hussein, S.Si, MPP 6. Ir. Rinella Tambunan, MPA

7. Ir. Nana Apriyana, MT 8. Hernydawaty, SE, ME 9. Aswicaksana, ST, MT, M.Sc 10. Raffli Noor, S.Si

11. Elmy Yasinta Ciptadi, ST 12. Reghi Perdana, SH, LLM 13. Ari Prasetyo, SH

13. Gita Chandrika

14. Yovi Dzulhijjah, ST, M.Sc 15. Idham Khalik,M.Si

16. Gina Puspitasari Rochman, ST 13. Sylvia Krisnawati

14. Cecep Saryanto 15. Ujang Supriatna

(4)

KATA PENGANTAR

Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) maupun Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, menghendaki adanya sebuah integrasi dokumen rencana tata ruang dengan dokumen rencana pembangunan. Lebih khusus lagi, Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang RPJP Nasional 2005-2025 mengamanatkan bahwa konsistensi pemanfaatan ruang dapat dicapai dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan.

Namun, hal tersebut belum dituangkan secara eksplisit untuk mewajibkan daerah melakukan sinkronisasi dokumen perencanaan. Selain itu, pedoman dan petunjuk teknis sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan masih belum tersedia. Oleh karena itu, perlu disusun suatu pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan.

Tujuan dari kajian ini adalah untuk menghasilkan panduan sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan, agar rencana umum tata ruang yang telah disusun, dapat diimplementasikan dengan baik ke dalam rencana pembangunan.

Dalam rangka mengimplementasikan materi teknis kajian sikronisasi antara rencana tata ruang dan rencana pembangunan ini menjadi pedoman yang telah berkekuatan hukum (seperti Peraturan Menteri, Peraturan Presiden, atau lainnya), maka perlu ada pentahapan langkah selanjutnya yang harus dilakukan, baik di tingkat nasional atau Pemerintah Pusat maupun daerah atau Pemerintah Daerah, antara lain yaitu kesepakatan di forum Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) terhadap tindak lanjut pedoman sinkronisasi, uji coba pedoman sinkronisasi, dan penetapan pedoman sikronisasi menjadi PP, Perpres, atau Permen.

Mengingat bahwa proses penetapan pedoman menjadi suatu peraturan yang berkekuatan hukum membutuhkan waktu yang tidak singkat, maka selama proses penetapan tersebut, perlu disusun Surat Edaran Bersama (SEB) antar Menteri BKPRN terkait penataan ruang (yaitu: Menteri ATR, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Menteri Dalam Negeri) sebagai acuan sementara bagi Daerah dalam upaya sinkronisasi.

Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasama berbagai pihak, khususnya untuk mitra kerja Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, selama proses kegiatan hingga tersusunnya laporan ini.

Jakarta, Desember 2015

Plt. Direktur Tata Ruang dan Pertanahan

(5)

DAFTAR ISI

TIM PENYUSUN LAPORAN... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL... iv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 LatarBelakang ... 1

1.2 Tujuan, Sasaran, dan Keluaran ... 2

1.3 Ruang Lingkup Kegiatan dan Wilayah Studi ... 2

1.4 Metodologi ... 3

1.5 Sistematika Pembahasan ... 5

BAB 2 KAJIAN LITERATUR DAN INVENTARISASI KENDALA ... 7

2.1 Kajian Literatur ... 7

2.1.1 Pengalaman di Luar Negeri ... 7

2.1.2. Kajian Studi yang Pernah Dilakukan di Indonesia ... 11

2.2 Inventarisasi Kendala yang Dihadapi oleh Daerah ... 25

2.2.1 Pelaksanaan Inventarisasi Kendala di Daerah ... 25

2.2.2 Rumusan Hasil Inventarisasi Kendala di Daerah ... 26

2.3 Hasil Diskusi dengan Kementerian Dalam Negeri ... 29

BAB 3 RUMUSAN HASIL PELAKSANAAN FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) DI WILAYAH STUDI ... 31

3.1 Pelaksanaan FGD di 3 (Tiga) Provinsi ... 31

3.1.1 Provinsi Gorontalo ... 31

3.1.2 Provinsi Sumatera Barat ... 32

3.1.3 Provinsi Jawa Timur ... 33

3.2 Masukan Bagi Pedoman Sinkronisasi ... 34

BAB 4 PEDOMAN SINKRONISASI RENCANA TATA RUANG DAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH39 4.1 Amanat Integrasi ... 39

4.1.1 Amanat Integrasi dalam PelaksanaanPenataan Ruang ... 39

4.1.2 Amanat Integrasi dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ... 41

4.1.3 Kedudukan RPJMD terhadap RTRW ... 43

4.1.4 Konsistensi Perencanaan dari Jangka Panjang ke dalam Jangka Menengah ... 44

4.2 Integrasi antara RTRW dan RPJMD ... 48

4.2.1 Integrasi Proses/Dokumen ... 48

4.2.2 Legalitas RTRW... 49

4.2.3 Sinkronisasi Periodisasi Waktu ... 55

4.2.4 Integrasi Muatan RTRW dengan RPJMD dan RKPD Provinsi ... 60

4.2.5 Integrasi Nomenklatur ... 90

4.2.6 Langkah-langkah Pengintegrasian RTRW ke dalam RPJMD ... 94

4.3 Isu-Isu Pengintegrasian ... 98

BAB 5 REKOMENDASI DAN TINDAK LANJUT ... 103

1. Pada tingkat nasional atau Pemerintah Pusat ... 103

2. Pada tingkat daerah atau Pemerintah Daerah ... 103

(6)

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

Gambar 1.1 Metodologi Kegiatan 5

Gambar 2.1 Alternatif I Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

12 Gambar 2.2 Alternatif II Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

13 Gambar 2.3 Model Integrasi Perumusan RPJPD, RPJMD dan Renstra SKPD dengan

RTRW Berdasarkan Legalitas/Kekuatan hukum

14 Gambar 4.1 Keterkaitan Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang 42

Gambar 4.2 Keterkaitan RTRW dengan RPJMD dan Renstra SKPD 43

Gambar 4.3 Konsistensi Perencanaan Jangka Panjang ke Perencanaan Jangka Menengah

45

Gambar 4.4 Integrasi Proses/Dokumen RTRW dan RPJMD 49

Gambar 4.5 Prosedur Penetapan Perda RTRW 50

Gambar 4.6 Integrasi RTRW dan RPJMD berdasarkan Status Kekuatan Hukum RTRW 52 Gambar 4.7 Sinkronisasi RPJMD dengan RTRW yang Sedang Peninjauan Kembali (PK) 54

Gambar 4.8 Sinkronisasi Periodisasi Waktu Kondisi Ideal 55

Tabel 2.1 Integrasi Periodisasi Waktu pada Berbagai Kondisi 15

Tabel 2.2 Rangkuman Hasil Kunjungan Lapangan 28

Tabel 3.1 Rangkuman Hasil Pelaksanaan FGD di 3 Wilayah Studi 37

Tabel 4.1 Variasi Kondisi Penyusunan Dokumen Rencana 56

Tabel 4.2 Hasil Telaahan Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang dengan Rencana Struktur Ruang dan Rencana Pola Ruang

61

Tabel 4.3 Hasil Telaahan Struktur Ruang Provinsi 63

Tabel 4.4 Hasil Telaahan Pola Ruang Provinsi 65

Tabel 4.5 Analisis Integrasi antara Kebijakan RTRW dan Strategi/Arah Kebijakan RPJMD

66 Tabel 4.6 Analisis Integrasi antara Indikasi Program Utama RTRW dan Program

RPJMD

67 Tabel 4.7 Analisis Integrasi antara Indikasi Program RTRW, Program RPJMD, dan

Program RKPD

69 Tabel 4.8 Pemetaan Indikasi Program RTRW Terhadap Program RPJMD 91

Tabel 4.9 Pengecekan Muatan Program dalam RPJMD 92

Tabel 4.10 Pengelompokan Program dalam RTRW sesuai dengan Nomenklatur Program dalam RPJMD

93 Tabel 4.11 Contoh Pengidentifikasian Keterkaitan Misi dalam RPJMD dengan

Ruang

95

(7)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR) mengamanatkan bahwa semua tingkatan administrasi pemerintahan, mulai dari nasional, provinsi, kabupaten/kota diwajibkan menyusun Rencana Tata Ruang (RTR). Hingga saat ini, sebagian besar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah telah selesai disusun dan dilegalkan dalam bentuk Perda. Berdasarkan data dari Ditjen Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan Umum, sampai dengan 26 Mei 2015 telah ada 25 dari 34 provinsi (73.5%); 329 dari 399 kabupaten (82.5%); dan 84 dari 93 kota (90.3%) di Indonesia yang telah melegalkan RTRW menjadi Perda. Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian bagaimana implementasi rencana tata ruang tersebut melalui pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Dalam rangka pemanfataan ruang, terdapat dokumen rencana pembangunan yang juga menjadi acuan bagi pengguna ruang, baik di Pusat maupun Daerah. Menurut Undang- Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Lebih lanjut, masing-masing sektor pembangunan, baik di Pusat maupun Daerah, wajib menyusun Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja (Renja).

Baik UU SPPN maupun UUPR menghendaki sebuah keintegrasian, yaitu agar dokumen rencana tata ruang yang dibuat dapat selaras dengan dokumen rencana pembangunan.

Lebih khusus lagi, UU No. 17 Tahun 2007 RPJP Nasional 2005-2025 mengamanatkan bahwa konsistensi pemanfaatan ruang dapat dicapai dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. Pemerintah Pusat, melalui pendekatan pembangunan berbasis kewilayahan mulai pada RPJMN 2010-2014 telah melakukan sinkronisasi tersebut. Produk dari integrasi kedua dokumen rencana tersebut adalah Buku III RPJMN 2010-2014 dan Buku III RPJMN 2015-2019; dan setiap tahun dijabarkan di dalam RKP. Proses sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan di Daerah perlu juga dilakukan dengan mengacu pada proses yang terjadi di Pusat.

Namun demikian, upaya sinkronisasi di Daerah tersebut kerap menemui kendala. Hal ini disebabkan karena meskipun sudah tersedia peraturan perundangan yang mengindikasikan perlunya keintegrasian dokumen perencanaan, namun hal tersebut belum dituangkan secara eksplisit untuk mewajibkan daerah melakukan sinkronisasi dokumen perencanaan.

(8)

Selain itu, masih belum tersedianya pedoman dan petunjuk teknis sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan merupakan salah satu hal yang harus dijawab agar Daerah dapat memperoleh acuan bagaimana keintegrasian dapat dilaksanakan.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan kajian untuk penyusunan materi teknis pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan.

1.2 Tujuan, Sasaran, dan Keluaran

Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan materi teknis pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan, agar rencana umum tata ruang yang telah disusun, dapat diimplementasikan dengan baik ke dalam rencana pembangunan. Adapun sasaran yang akan dicapai adalah:

 Inventarisasi kendala yang dihadapi Daerah dalam upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan selama ini;

 Penyusunan kriteria dalam proses sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan; dan

 Penyusunan materi teknis pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan.

Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah tersusunnya dokumen Laporan Kajian Penyusunan Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan yang meliputi:

 Identifikasi kendala yang dihadapi Daerah dalam upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan;

 Kriteria yang digunakan dalam proses sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan; dan

 Rancangan materi teknis pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan yang dapat menjadi masukan kedepan bagi penetapan peraturan perundangan (misalnya Peraturan Menteri) terkait hal tersebut.

Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam melakukan sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan.

1.3 Ruang Lingkup Kegiatan dan Wilayah Studi

Fokus kegiatan ini adalah sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah di tingkat provinsi. Sedangkan lingkup kegiatan studi ini meliputi:

(9)

a. Melakukan kajian literatur terhadap upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan, yang meliputi peraturan perundangan terkait dan studi-studi yang telah/sedang dilakukan;

b. Melakukan inventarisasi kendala yang dihadapi Daerah dalam upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan melalui kunjungan lapangan dan diskusi dengan narasumber;

c. Merumuskan kriteria dalam proses sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan untuk dituangkan dalam Materi Teknis;

d. Melakukan penjaringan masukan melalui serangkaian kegiatan, yaitu dengan format FGD di 3 (tiga) provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, dan Gorontalo dan dengan format seminar di Jakarta.

Wilayah studi pada kegiatan ini mencakup 3 (tiga) daerah yaitu Provinsi Sumatera Barat, Jawa Timur dan Gorontalo. Kriteria pemilihan Provinsi adalah karena pada tahun 2010 pernah dilakukan pelatihan terkait sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan kepada Pemerintah Provinsi di ketiga provinsi tersebut, sehingga akan dilihat perkembangan dan kendala dalam pelaksanaannya hingga saat ini.

1.4 Metodologi

Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pada kegiatan ini, maka langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Melakukan kajian literatur/studi

a. Mengkaji pelaksanaan kegiatan Institution Building for the Integration of National- Regional Development and Spatial Planning yang telah dilakukan oleh DSF dan Bappenas pada tahun 2010-2011.

b. Mengkaji arahan pengintegrasian rencana tata ruang wilayah dan rencana pembangunan daerah yang telah dilakukan sebelumnya oleh:

- DSF dan Bappenas dalam kegiatan “Institution Building for the Integration of National-Regional Development and Spatial Planning” Tahun 2010-2011;

- Kementerian Dalam Negeri dalam dokumen “Model Pengintegrasian Rencana Tata Ruang dengan Rencana Pembangunan Daerah”, tahun 2011; dan

- Kementerian PU dalam dokumen “Panduan Integrasi Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang”, tahun 2012.

2. Inventarisasi kendala yang dihadapi daerah dalam upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan. Inventarisasi kendala ini dilakukan melalui diskusi dengan Pemerintah Provinsi di 3 (tiga) wilayah studi, sebagai berikut:

- Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 23 Maret 2015;

- Provinsi Jawa Timur pada tanggal 26 Maret 2015; dan

(10)

- Provinsi Gorontalo pada tanggal 30 Maret 2015.

3. Perumusan draft 1 Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan. Berdasarkan hasil kajian literatur dan inventarisasi kendala di daerah, dirumuskan draft 1 Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan (Laporan Antara).

4. Pelaksanaan FGD-Lokakarya di 3 wilayah studi untuk membahas draft 1 Materi Teknis dan menjaring masukan serta saran perbaikan dari daerah. FGD-Lokakarya dilaksanakan sebagai berikut:

- Provinsi Gorontalo pada tanggal 4 Juni 2015;

- Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 10 Juni 2015; dan - Provinsi Jawa Timur pada tanggal 16 Juni 2015.

5. Perumusan draft 2 Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan (Laporan Draft Akhir). Berdasarkan rumusan hasil FGD- Lokakarya di 3 wilayah studi, dilakukan perbaikan terhadap draft 1 Materi Teknis.

6. Pelaksanaan Seminar dengan Anggota BKPRN di Jakarta. Seminar dilakukan untuk membahas draft 2 Materi Teknis bersama-sama dengan anggota BKPRN di Jakarta.

Seminar ini bertujuan untuk menyosialisasikan kegiatan ini serta menjaring masukan dan saran dari anggota BKPRN untuk perbaikan draft 2 Materi Teknis.

7. Perumusan draft 3 Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan (Laporan Akhir). Berdasarkan rumusan hasil seminar dengan anggota BKPRN tersebut dilakukan perbaikan dan finalisasi draft 2 Materi Teknis.

8. Finalisasi Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan dengan melakukan pengeditan sesuai bahasa hukum yang baku, sehingga Materi Teknis tersebut nantinya dapat diusulkan sebagai Peraturan Menteri.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam 2 tahap:

 Tahap 1 Perumusan Draft Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan. Tahap pertama ini fokus pada perumusan substansi dari Materi Teknis berdasarkan hasil kajian literatur, inventarisasi kendala di 3 wilayah studi, dan pelaksanaan FGD-Lokakarya di 3 wilayah studi.

 Tahap 2 Finalisasi Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan. Tahap kedua adalah finalisasi materi teknis berdasarkan pembahasan dengan kementerian/lembaga terkait di Jakarta, khususnya anggota BKPRN serta proses pengeditan sesuai dengan bahasa hukum.

(11)

Gambar 1.1 Metodologi Kegiatan

Sumber: Hasil Perumusan, 2015

1.5 Sistematika Pembahasan

Laporan ini terdiri atas empat bagian utama. Bagian pendahuluan yang memuat latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup kegiatan, serta metodologi, dibahas pada bab 1.

Bab 2 menyajikan ringkasan mengenai kajian literatur, upaya sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan yang dilakukan Daerah serta kendala yang dihadapi oleh Daerah. Bab 3 menyajikan rumusan hasil FGD-Lokakarya yang dilakukan di tiga wilayah studi. Muatan inti dari laporan ini disajikan pada bab 4 yang memaparkan pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah, yang dirumuskan berdasarkan kajian literatur, upaya-upaya sinkronisasi dan inventarisasi kendala di daerah, serta hasil pelaksanaan FGD-Lokakarya di tiga wilayah studi.

(12)
(13)

BAB 2 KAJIAN LITERATUR DAN INVENTARISASI KENDALA

SINKRONISASI RENCANA TATA RUANG DAN RENCANA PEMBANGUNAN DI DAERAH

2.1 Kajian Literatur

2.1.1 Pengalaman di Luar Negeri

Perencanaan merupakan bagian dari suatu kebijakan (Healey, 1997). Pada tingkat pemerintahan, perencanaan dapat dibedakan menjadi perencanaan praktis dan sistem perencanaan. Kedua jenis kategori perencanaan ini biasa dibedakan sebagai

“infrastruktur perangkat keras” dan “infrastruktur perangkat lunak”. Healey (1997) mendefinisikan perencanaan praktis sebagai suatu arena dimana berbagai pihak terlibat secara bersama dalam proses implementasi rencana. Sedangkan, sistem perencanaan didefinisikan sebagai sistem hukum dan prosedur yang menetapkan aturan dasar bagi perencanaan praktis atau praktek perencanaan. Dengan kata lain, sistem perencanaan menyediakan kerangka hukum dan peraturan bagi praktek perencanaan.

Sistem perencanaan merupakan aspek yang penting dalam kapasitas kelembagaan bagi proses perencanaan dan pembangunan (Healey dan Williams, 1993). Oleh karena itu, pada suatu batas tertentu, sistem perencanaan dapat memengaruhi proses pembangunan wilayah dan perkotaan melalui upaya mendorong (insentif) atau membatasi (disinsentif). Dengan kata lain, sistem perencanaan dapat memengaruhi arah perencanaan pembangunan dan perencanaan tata ruang suatu wilayah.

Berdasarkan karakteristik dasarnya, European Commission (1997) mengkategorikan sistem perencanaan ke dalam 4 (empat) kategori pendekatan:

(1) Pendekatan komprehensif-terpadu (comprehensive-integrated approach)

Pendekatan ini terbangun melalui rencana-rencana yang bersifat sistematis dan berhierarki secara formal dari tingkat nasional ke lokal. Fokus perencanaan tata ruang dalam pendekatan ini lebih ditekankan pada pengaturan ruang dibandingkan pengembangan ekonomi. Pada pendekatan ini, investasi sektor publik memegang peranan penting dalam proses implementasi rencana.

Pemangku kewenangan pada tingkat tertinggi sistem perencanaan memiliki

(14)

peran yang dominan dalam proses realisasi rencana. Dengan kata lain, sistem top-down berlaku pada pedekatan ini.

Beberapa negara di Eropa yang menganut pendekatan komprehensif-terpadu dalam sistem perencanaannya, yaitu:

- Negara kesatuan (unitary states): Belanda dan beberapa negara skandinavia (Denmark, Swedia, dan Finlandia). Pada negara kesatuan ini, Pemerintah Pusat di tingkat nasional memiliki peran yang signifikan terhadap realisasi rencana pembangunan dan penataan ruang.

- Negara bagian (federal states): Austria dan Jerman. Pada negara bagian ini, Pemerintah di tingkat regional memiliki peran yang besar terhadap realisasi rencana pembangunan dan penataan ruang.

Tradisi sistem perencanaan ini menjadikan perencanaan tata ruang dan pembangunan dengan pendekatan seperti ini harus memiliki sistem perencanaan yang ‘matang’, dimana diperlukan suatu lembaga serta mekanisme perencanaan yang responsif dan mutakhir; juga komitmen politis yang ajeg dalam proses perencanaan (European Commission, 1997).

(2) Pendekatan perencanaan ekonomi wilayah (regional economic approach)

Pada pendekatan ini, perencanaan tata ruang terkait dengan upaya pencapaian tujuan sosial dan ekonomi secara luas, terutama mengenai ketimpangan wilayah di bidang kesejahteraan, ketenagakerjaan, serta kondisi sosial. Pemerintah Pusat dalam hal ini memainkan peranan penting untuk mengelola tekanan pembangunan di seluruh negeri, dan untuk mengelola investasi sektor publik (European Commission, 1997). Dalam pendekatan ini, perencanaan tata ruang tidak dapat dipisahkan dari isu-isu perkembangan nasional dan wilayah. Oleh karena itu, peran pemeritah regional dan pusat sangat penting dalam mengkoordinasikan dan medorong proses pembangunan. Perancis dan Portugal adalah contoh dari negara di Eropa yang menerapkan pendekatan ekonomi wilayah.

(3) Pendekatan urbanisme (urbanism)

Pada pendekatan urbanisme, perencanaan tata ruang lebih terfokus pada desain perkotaan (urban design), tata bangunan dan lingkungan perkotaan. Aturan penataan ruang dalam pendekatan ini berupa peraturan zoning yang kaku (European Commission, 1997). Negara-negara di Eropa seperti Italia dan Spanyol merupakan contoh dari negara yang menganut pendekatan ini. Akan tetapi, patut diakui bahwa pendekatan ini semakin kurang relevan terhadap perkembangan isu pembangunan yang semakin kompleks dan terkait dengan berbagai kepentingan.

(15)

(4) Pendekatan penggunaan lahan dan pengelolaan pertumbuhan (land use and growth management)

Pada pendekatan ini, perencanaan terkait erat dengan pengendalian perubahan guna lahan, yang dilakukan baik di tingkat pemerintahan strategis maupun lokal (European Commission, 1997). UK atau Inggris merupakan salah satu contoh negara di Eropa yang menganut pendekatan penggunaan lahan dan pengelolaan pertumbuhan, disamping Irlandia dan Belgia yang telah mengalami pergeseran pendekatan secara lebih menyeluruh. Selain UK, USA merupakan negara di benua Amerika yang juga mengadopsi pendekatan ini. Di UK, pendekatan ini diimplementasikan melalui upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan yang didominasi oleh kewenangan pemerintah daerah dan sistem pasar. Peran Pemerintah Pusat dalam kasus ini hanya berada pada tataran pengawasan sistem dan pengaturan tujuan nasional. Di USA, implementasi pendekatan ini dilakukan secara holistik melalui pengelolaan pertumbuhan penggunaan lahan. Dalam sistem ini, negara menetapkan kerangka kerja di tingkat regional serta tujuan pembangunan, yang didukung oleh upaya implementasi secara konsisten dari Pemerintah Daerah. Jika dibandingkan dengan pendekatan penggunaan lahan dan pengelolaan pertumbuhan yang diterapkan di UK, pendekatan di USA ini lebih terfragmentasi dan tidak solid.

Cullingworth dan Nadin (2006) memberikan gambaran sistem perencanaan pada beberapa negara di Uni Eropa sebagai berikut:

(16)

Sumber: Cullingworth dan Nadin, 2006

Berdasarkan penjelasan mengenai sistem perencanaan di Eropa tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan sistem perencanaan merupakan kerangka hukum dan peraturan bagi praktek perencanaan. Dengan kata lain, sistem

European Spatial Development Perspective CoE Principles for Sustainable Development

European Union

Transnational Spatial visions

NorVision (North Sea); Atlantic Area Spatial Strategy; Spatial Vision for North West Europe

Planning policy stetements &

guidance notes

Scottish planning policy

& planning advice notes

Planning policy statements &

dev.control .advice notes

Planning policy Wales &

technical advice notes

UK/England Scotland Northen Ireland Wales

Regional Spatial Strategies

National Planning framework for

Scotland

Regional Development

Strategy for Northen Ireland 2025

Spatial Plan for Wales

Sub- regional strategis

Local development

framework

Core strategy

Land allocations

Area plans

Local plans

Structure plans Area plans

Local plans

Subject plans

Local development

plans European

National/

regional

Local

Note: the local development framework in UK and the local development plans in Wales are planning sturcture plans, local plans, and unitary development plans

(17)

perencanaan memberikan arah terhadap implementasi suatu praktek perencanaan.

Lingkup praktek perencanaan yang dimaksud adalah lingkup perencanaan penataan ruang dan perencanaan pembangunan. Berdasarkan European Commission, karakteristik sistem perencanaan dikategorikan kedalam 4 kategori sesuai dengan pendekatan yang dianutnya. Perbedaan pendekatan tersebut memengaruhi arah implementasi praktek perencanaan di suatu negara.

Pada gambaran sistem perencanaan di beberapa negara Uni Eropa, dapat dirumuskan bahwa sistem perencanaan pada negara-negara tersebut menjadi arahan terhadap perencanaan ruang (penataan ruang) dan non-keruangan (pembangunan). Sistem perencanaan tersebut terhierarki secara sistematis berdasarkan wilayah administrasi, dari tingkat Uni Eropa, Nasional, Regional, hingga Lokal. Poin penting dari gambaran sistem perencanaan pada beberapa negara Uni Eropa ini adalah bahwa pembagian lingkup praktek perencanaan (perencanaan penataan ruang dan perencanaan pembangunan) umumnya dilakukan secara sistematis dan tidak bersifat paralel.

Sebagai gambaran, sistem perencanaan yang diaplikasikan di UK terdiri dari perencanaan pembangunan di tingkat nasional dan regional. Perencanaan pembangunan ini kemudian dijabarkan secara lebih detail dalam bentuk perencanaan tata ruang yang diterapkan pada tingkat lokal. Sistem perencanaan secara sistematis dan berhierarki ini menjadikan proses integrasi dan sinkronisasi antara rencana tata ruang dan rencana pembangunan menjadi lebih mudah dilakukan, karena proses integrasi hanya dilakukan pada tingkat lokal.

2.1.2. Kajian Studi yang Pernah Dilakukan di Indonesia

Bagian ini menyajikan ringkasan dari studi-studi yang pernah dilakukan di Indonesia mengenai integrasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah. Terdapat tiga studi yang telah dilakukan, yaitu:

1. “Institution Building for the Integration of National-Regional Development and Spatial Planning”, DSF dan Bappenas, tahun 2010-2011;

2. “Model Pengintegrasian Rencana Tata Ruang dengan Rencana Pembangunan Daerah”, Kementerian Dalam Negeri, tahun 2011; dan

3. “Panduan Integrasi Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang”, Kementerian Pekerjaan Umum, tahun 2012.

Dari ketiga kajian studi tersebut terlihat bahwa muatan studi tersebut dapat saling melengkapi dalam upaya pengintegrasian rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah. Terdapat 4 (empat) aspek penting yang dapat disarikan dari ketiga studi tersebut terkait dengan upaya integrasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah, khususnya RPJPD dan RPJMD, yaitu:

(18)

a. Integrasi prosedur antara RTRW dengan RPJPD (DSF-Bappenas);

b. Model integrasi berdasarkan status kekuatan hukum RTRW (Kemendagri);

c. Integrasi periodisasi waktu (KemenPU); dan

d. Integrasi muatan antara RTRW dengan RPJPD dan RPJMD (DSF-Bappenas).

a. Integrasi Prosedur antara RTRW dengan RPJPD

Mekanisme penyusunan RTRW dan RPJPD di Daerah dapat memengaruhi keintegrasian muatan kedua dokumen tersebut. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan kemungkinan peningkatan keintegrasian muatan kedua dokumen melalui pengintegrasian prosedur penyusunannya. Pengintegrasian prosedur penyusunan RPJPD dan RTRW dapat membuat proses penyusunan menjadi lebih efisien dan efektif. Sinkronisasi dan integrasi terutama dilakukan pada saat pengumpulan data dan informasi, proses analisis, serta perumusan isu-isu strategis.

Pada dasarnya terdapat 2 (dua) alternatif pengintegrasian prosedur penyusunan RPJPD dan RTRW. Perbedaannya terutama terletak pada waktu pengintegrasian (pengumpulan data, analisis, dan perumusan isu strategis):

Alternatif I, pengintegrasian dilakukan setelah terbentuk tim penyusun RTRW dan tim penyusun RPJPD serta tahap persiapan sudah dilakukan.

Gambar 2.1 Alternatif I Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

(19)

Sumber: DSF-Bappenas, 2011

Alternatif II, pengintegrasian dilakukan sebelum pembentukan tim penyusun.

Gambar 2.2 Alternatif II Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

Sumber: DSF-Bappenas, 2011

b. Model Integrasi berdasarkan Status Kekuatan Hukum RTRW

Terdapat 2 model integrasi, yaitu (1) model integrasi Rencana Pembangunan Daerah dengan RTRW berkekuatan hukum tetap (Perda); dan (2) Model integrasi Rencana Pembangunan Daerah dnegan RTRW yang belum berkekuatan hukum tetap.

(1) Model Integrasi Rencana Pembangunan Daerah (RPD) dengan RTRW Berkekuatan Hukum Tetap (Perda)

Pengintegrasian RTRW dalam proses penyusunan RPD, sudah dimulai pada saat penyusunan rancangan awal RPJPD dan RPJMD. Bila pada saat penyusunan RPJPD dan RPJMD, RTRW sudah berkekuatan hukum tetap, maka RTRW digunakan sebagai acuan.

(20)

(2) Model Integrasi Rencana Pembangunan Daerah dengan RTRW yang Belum Berkekuatan Hukum Tetap

Pada prinsipnya bila proses penyusunan RTRW telah melalui prosedur yang benar, sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku, maka RTRW tersebut dapat dipandang sah secara hukum, sehingga dapat dijadikan pedoman awal dalam penyusunan RPJPD dan RPJMD.

RTRW Provinsi yang telah mendapatkan persetujuan substansimenteri maupun RTRW Kabupaten/Kota yang telah mendapatkan rekomendasi gubernur, sudah dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan RPJPD dan RPJMD, karena penyusunan RTRW tersebut telah melalui prosedur seperti yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, yaitu telah memerhatikan (1) RTRW di atasnya;

(2) pedoman bidang penataan ruang; (3) RPJPD; (4) aspirasi pembangunan; (5) RTRW wilayah yang berbatasan; dan (6) KLHS. Ke-6 acuan dan konsideran dalam proses penyusunan RTRW provinsi diatas merupakan persyaratan minimal untuk terbitnya surat Rekomendasi Gubernur dan Persetujuan Substansi dari Menteri Pekerjaan Umum. Dengan demikian, suatu Raperda RTRW yang telah mendapatkan 2 (dua) surat tersebut dapat dijadikan sebagai Pedoman Awal untuk penyusunan dan penetapan RPJPD dan RPJMD, sebelum Perda RTRW terbit.

Gambar 2.3 Model Integrasi dalam Perumusan RPJPD, RPJMD dan Renstra SKPD dengan RTRW Berdasarkan Status Legalitas/Kekuatan Hukum

Rancangan Awal RPJPD

Musrenbang JPD

Rancangan Akhir RPJPD

Penetapan Perda RPJPD

Rancangan Awal RPJMD

Rancangan Renstra SKPD

Rancangan Akhir RPJMD

Penetapan Perda RPJMD

Renstra SKPD

Rancangan RPJMD

Musrenbang JMD Perda RTRW

Provinsi, Kabupaten/Kota dengan Lampiran:

1. Materi Teknis 2. Album Peta

1. RTRW Provinsi yang telah mendapat Persub Menteri 2. RTRW

Kab./Kota yang telah

mendapat Rekomendasi

Keterangan:

RTRW yang sudah berkekuatan hukum RTRW yang belum berkekuatan hukum

Sumber: Diadopsi dari Kemendagri, 2011

(21)

c. Integrasi Periodisasi Waktu

Pada prinsipnya, integrasi dapat dipermudah bila pentahapan dalam RPJPD dan RTRW sesuai dengan periode RPJMD. Namun, pada kenyataannya hal tersebut sulit dicapai.

Hal ini disebabkan karena adanya variasi kondisi penyusunan dokumen-dokumen perencanaan (RPJPD, RPJMD, dan RTRW) yang mengakibatkan adanya perbedaan periodisasi waktu. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, periode untuk RPJPD, RTRW, dan RPJMD diatur sebagai berikut:

1. Periode RPJPD adalah tetap 2005-2025 mengikuti periode RPJPN, pada tahun berapapun dokumen tersebut disusun (pasal 1 ayat 2 UU 17/2007 tentang RPJPN 2005-2025);

2. Periode RPJMD terikat dan mengikuti masa jabatan kepala daerah terpilih;

sementara

3. Periode RTRW relatif lebih fleksibel, karena tidak diatur di dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Oleh karena itu, integrasi periodisasi waktu antara RTRW dan RPJPD maupun RPJMD didasarkan pada beberapa variasi kemungkinan kondisi yang dapat terjadi dalam penyusunan dokumen RPJPD, RTRW dan RPJMD, yaitu:

c. Kondisi 1 : Dokumen Rencana yang sudah ditetapkan terlebih dahulu;

d. Kondisi 2: Dokumen yang disusun di tengah periode dari dokumen rencana yang telah ditetapkan terlebih dahulu (poin a);

e. Kondisi 3: Dokumen yang disusun di akhir periode per 5 tahun dari dokumen rencana yang telah ditetapkan terlebih dahulu (poin a).

Sehubungan dengan itu, tabel di bawah ini menjelaskan cara mengintegrasikan periodisasi waktu dari ketiga dokumen rencana.

Tabel 2.1

Integrasi Periodisasi Waktu pada Berbagai Variasi Kondisi

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

1 RPJPD RPJMD RTRW Misal: RPJPD 2005-2025

RPJPD-RPJMD

RPJMD disusun 2008 (RPJM 2008-2012)

Breakdown RPJMD dan RPJPD periode berjalan tidak mungkin sama.

Sebab RPJMD mengikuti periode KDH terpilih.

KDH terpilih tidak dapat mengakomodir tahun-tahun sebelum terpilih ke dalam RPJMD.

Breakdown RPJPD: 2005-2009, 2010-2014, 2015-2019, 2020-2025.

RPJP-RTRW

RTRW disusun tahun 2009 (RTRW 2009-2029) RTRW mengikuti periodisasi RPJMD, bukan RPJPD.

Pembagian PJM juga tidak harus 5 tahun per PJM dan tidak harus 4 periode PJM.

(22)

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

Pembagian PJM: I (2009-2012), II (2013-2017), III (2018-2022), IV (2023-2027) dan V (2028-2029).

2 RPJPD RTRW RPJMD Misal: RPJPD 2005-2025

RPJPD-RTRW

RTRW disusun 2008 (RTRW 2008-2028) RTRW ikuti periodisasi RPJPD.

Pembagian PJM di dalam indikasi program tidak mesti per 5 tahun.

Misal: 2008-2009; 2010-2014; 2015-2019; 2020-2025. Agar sesuai dengan periodisasi RPJPD.

RPJPD-RPJMD

RPJMD disusun tahun 2009 (RPJM 2009-2014) BAU (Business as Usual). RPJMD ikuti periodisasi RPJPD

3 RPJPD RPJMD

dan RTRW

- Misal: RPJP 2005-2025 RPJPD-RPJMD

RPJDM disusun 2008 (RPJM 2008-2012)

Breakdown RPJMD dan RPJPD periode berjalan tidak mungkin sama.

Sebab RPJMD mengikuti tahun KDH terpilih.

KDH terpilih tidak dapat mengakomodir tahun-tahun sebelum terpilih ke dalam RPJMD.

Breakdown RPJPD: 2005-2009, 2010-2014, 2015-2019, 2020-2025.

RPJPD-RTRW

RTRW disusun 2008 (RTRW 2008-2028)

RTRW mengikuti periodisasi RPJMD, bukan RPJPD.

Pembagian PJM: I (2008-2012), II (2013-2017), III (2018-2022), IV (2023-2028).

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RPJMD n-1 2008-2012

RTRW PJM 1 2009-2012

RTRW PJM 2 2013-2017

RTRW PJM 3 2018-2022

RTRW PJM 4 2023-2027

RTRW PJM 5 2028-2029 RPJMD n-2

2013-2017

RPJMD n-3 2018-2022

RPJMD n-4 2023-2027

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RTRW PJM 1 2008-2009

RTRW PJM 2 2010-2014

RTRW PJM 3 2015-2019

RTRW PJM 4 2020-2025

RPJMD n-1 2009-2014

RPJMD n-2 2015-2019

RPJMD n-3 2020-2025

(23)

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

4 RPJPD - RTRW

dan RPJMD

Misal: RPJPD 2005-2025 RPJPD-RTRW

RTRW disusun tahun 2009 (RTRW 2009-2029).

RPJMD disusun 2009 (RPJMD 2009-2014) BAU. (Business as Usual).

RTRW ikuti periodisasi RPJMD.

5 RPJMD RPJPD RTRW Misal: RPJMD 2008-2012

RPJMD-RPJPD

RPJPD disusun tahun 2010 (RPJP 2005-2025).

RPJPD tetap 2005-2025.

Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak mesti 5 tahun per tahapan (disesuaikan dengan periode RPJMD): 2005-2008;

2008-2012; 2013-2017; 2018-2022; 2023-2025 RPJMD-RTRW

RTRW disusun tahun 2013 (RTRW 2013-2033)

RTRW ikuti periodisasi RPJMD (PJM I RTRW ikut RPJMD berikutnya:

2013-2017)

6 RPJMD RTRW RPJPD Misal: RPJMD 2008-2012

RPJMD-RTRW

RTRW disusun 2010 (RTRW 2010-2030)

RTRW sesuai periodisasi RPJMD, periodisasi tidak mesti 4 tahapan dan RPJPD Tahap 1

2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RPJMD n-1 2008-2012

RTRW PJM 1 2008-2012

RTRW PJM 2 2013-2017

RTRW PJM 3 2018-2022

RTRW PJM 4 2023-2028 RPJMD n-2

2013-2017

RPJMD n-3 2018-2022

RPJMD n-4 2023-2028

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RPJMD n-1 2009-2014

RTRW PJM 1 2009-2014

RTRW PJM 2 2015-2019

RTRW PJM 3 2020-2025

RTRW PJM 4 2026-2029 RPJMD n-2

2015-2019

RPJMD n-3 2020-2025

RPJMD n-1 2008-2012

RPJMD n-2 2013-2017

RPJMD n-3 2018-2022

RPJMD n-4 2023-2025

RPJPD Tahap 1 2008-2012

RPJPD Tahap 2 2013-2017

RPJPD Tahap 3 2018-2022

RPJPD Tahap 4 2023-2025 RPJPD Tahap n

2005-2008

RTRW PJM 1 2013-2017

RTRW PJM 2 2018-2022

RTRW PJM 3 2023-2025

RTRW PJM 4 2026-2029

RTRW PJM 5 2030-2033

(24)

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

tidak mesti harus 5 tahun di tiap PJM.

PJM I: 2010-2012; PJM II: 2013-2017; PJM III: 2018-2022; PJM IV:

2023-2027; PJM V: 2028-2030.

RPJMD-RPJPD RPJPD tetap 2005-2025.

Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak harus 5 tahun per periode: I (2005-2008); II (2008-2012); III (2013-2017); IV (2018-2022); V (2023-2025)

7 RPJMD RPJPD

dan RTRW

Misal: RPJMD 2008-2012 RPJMD-RPJPD

RPJPD disusun tahun 2010 (RPJP 2005-2025) RPJPD tetap 2005-2025.

Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak mesti 5 tahun per tahapan: 2005-2008; 2008-2012; 2013-2017; 2018-2022;

2023-2025 RPJMD-RTRW

RTRW disusun 2010 (RTRW 2010-2030)

RTRW sesuai periodisasi RPJMD, periodisasi tidak mesti 4 tahapan dan tidak mesti harus 5 tahun di tiap PJM.

PJM I: 2010-2012; PJM II: 2013-2017; PJM III: 2018-2022; PJM IV:

2023-2027; PJM V: 2028-2030

8 RPJMD RPJPD

dan RTRW

Misal: RPJMD 2008-2012 RPJMD-RPJPD

RPJPD tetap 2005-2025.

Periodisasi di dalam RPJPD tidak harus 4 tahapan dan tidak harus 5 tahun per periode: I (2005-2008); II (2008-2012); III (2013-2017); IV (2018-2022); V (2023-2025)

RPJMD-RTRW

RTRW disusun tahun 2013 (RTRW 2013-2033)

RTRW ikuti periodisasi RPJMD (PJM I RTRW ikut RPJM berikutnya:

2013-2017) RPJMD n-1

2008-2012

RPJMD n-2 2013-2017

RPJMD n-3 2018-2022

RPJMD n-4 2023-2025

RPJPD Tahap 1 2008-2012

RPJPD Tahap 2 2013-2017

RPJPD Tahap 3 2018-2022

RPJPD Tahap 4 2023-2025 RPJPD Tahap n

2005-2008

RTRW PJM 1 2010-2012

RTRW PJM 2 2013-2017

RTRW PJM 3 2018-2022

RTRW PJM 4 2023-2027

RTRW PJM 5 2028-2030

RPJMD n-1 2008-2012

RPJMD n-2 2013-2017

RPJMD n-3 2018-2022

RPJMD n-4 2023-2025

RPJPD Tahap 1 2008-2012

RPJPD Tahap 2 2013-2017

RPJPD Tahap 3 2018-2022

RPJPD Tahap 4 2023-2025 RPJPD Tahap n

2005-2008

RTRW PJM 1 2010-2012

RTRW PJM 2 2013-2017

RTRW PJM 3 2018-2022

RTRW PJM 4 2023-2027

RTRW PJM 5 2028-2030

(25)

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

9 RTRW RPJPD RPJMD Misal: RTRW 2012-2032

RTRW dan RPJPD RPJDP disusun tahun 2013 PJM I RTRW adalah 2012-2016.

RPJPD tetap berperiode 2005-2025. Pembagian periode 5 tahunan mengikuti periode PJM I RTRW: 2005-2011, 2012-2016, 2017-2021, 2022-2025

RTRW dan RPJMD

RPJMD disusun tahun 2017 (RPJMD 2017-2021)

BAU(Business as Usual), periodisasi RPJMD sesuai dengan periode PJM RTRW tahap II (2017-2021)

10 RTRW RPJMD RPJPD Misal: RTRW 2012-2032

RTRW dan RPJMD

RPJMD disusun tahun 2014 (RPJMD 2014-2018) PJM I RTRW adalah 2012-2016.

RPJMD sudah pasti periodenya mengikuti periode KDH terpilih.

Untuk itu, selisih waktu PJM dalam RTRW 2012-2032 tidak bisa direkonsiliasi dengan periode RPJMD. Penyesuaian hanya dapat dilakukan pada RTRW periode berikutnya (2033-2053)

RTRW dan RPJPD

RPJPD disusun pada tahun 2016

RPJPD tetap periodenya 2005-2025. Pembagian periode mengikuti RPJMD, bukan PJM dalam RTRW.

RPJMD n-1 2008-2012

RPJMD n-2 2013-2017

RPJMD n-3 2018-2022

RPJMD n-4 2023-2025

RPJPD Tahap 1 2008-2012

RPJPD Tahap 2 2013-2017

RPJPD Tahap 3 2018-2022

RPJPD Tahap 4 2023-2025 RPJPD Tahap n

2005-2008

RTRW PJM 1 2013-2017

RTRW PJM 2 2018-2022

RTRW PJM 3 2023-2027

RTRW PJM 4 2028-2033

RPJMD n-1 2017-2021

RPJMD n-2 2022-2025

RPJMD n-3 2026-20..

RPJPD Tahap 1 2012-2016

RPJPD Tahap 2 2017-2021

RPJPD Tahap 3 2022-2025 RPJPD Tahap n

2005-2011

RTRW PJM 1 2012-2016

RTRW PJM 2 2017-2021

RTRW PJM 3 2022-2026

RTRW PJM 4 2027-2032

(26)

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

11 RTRW RPJPD

dan RPJMD

Misal: RTRW 2012-2032 RTRW dan RPJMD

RPJMD disusun tahun 2014 (RPJMD 2014-2018) PJM I RTRW adalah 2012-2016.

RPJMD sudah pasti periodenya mengikuti periode KDH terpilih.

Untuk itu, selisih waktu PJM dalam RTRW 2012-2032 tidak bisa direkonsiliasi dengan periode RPJMD. Penyesuaian hanya dapat dilakukan pada RTRW periode berikutnya (2033-2053)

RTRW dan RPJPD

RPJP disusun tahun 2013 PJM I RTRW adalah 2012-2016.

RPJPD tetap berperiode 2005-2025. Pembagian periode 5 tahunan mengikuti periode RPJMD dan bukan RTRW: 2005-2009; 2010-2013;

2014-2018; 2019-2023; 2023-2025.

12 RTRW RPJPD

dan RPJMD

Misal: RTRW 2012-2032 RTRW dan RPJMD

RPJMD disusun tahun 2017 (RPJMD 2017-2021)

BAU (Business as Usual), periodisasi RPJMD sesuai dengan periode PJM RTRW tahap II (2017-2021)

RTRW dan RPJPD

RPJPD disusun pada tahun 2016 (atau 2017)

RPJPD tetap periodenya 2005-2025. Pembagian periode mengikuti RPJMD, bukan PJM dalam RTRW.

RTRW PJM 1 2012-2016

RTRW PJM 2 2017-2021

RTRW PJM 3 2022-2026

RTRW PJM 4 2027-2032

RPJMD n-1 2014-2018

RPJMD n-2 2019-2023

RPJMD n-3 2024-20..

RPJPD Tahap 1 2016-2018

RPJPD Tahap 2 2019-2023

RPJPD Tahap 3 2024-2025

RTRW PJM 1 2012-2016

RTRW PJM 2 2017-2021

RTRW PJM 3 2022-2026

RTRW PJM 4 2027-2032

RPJMD n-1 2014-2018

RPJMD n-2 2019-2023

RPJMD n-3 2024-2005

RPJPD Tahap 1 2010-2013

RPJPD Tahap 2 2014-2018

RPJPD Tahap 3 2019-2023 RPJPD Tahap n

2005-2009

RPJPD Tahap 4 2024-2025

RTRW PJM 1 2012-2016

RTRW PJM 2 2017-2021

RTRW PJM 3 2022-2026

RTRW PJM 4 2027-2032

RPJMD n-1 2017-2021

RPJMD n-2 2022-2025

RPJMD n-3 2026-20..

RPJPD Tahap 1 2012-2016

RPJPD Tahap 2 2017-2021

RPJPD Tahap 3 2022-2025 RPJPD Tahap n

2005-2011

(27)

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

13 RPJPD

dan RPJMD

RTRW RPJPD 2005-2025

RPJMD 2005-2009

RTRW disusun 2008 (2008-2028)

Periodiasi PJM RTRW mengikuti periode RPJMD: 2008-2009;2010- 2014; 2015-2019; 2020-2024; 2025-2028

14 RPJPD

dan RPJMD

RTRW RPJPD 2005-2025 RPJMD 2005-2009

RTRW disusun 2010 (2010-2030)

BAU (Business as Usual), periodisasi PJM I dalam RTRW mengikuti RPJMD periode berikutnya (RPJMD 2010-2014)

15 RPJPD

dan RTRW

RPJMD RPJPD 2005-2025

RTRW 2005-2025

RPJMD disusun 2008 (2008-2012)

RPJMD sudah pasti periodenya, demikian pula RPJPD dan RTRW.

Periodisasi RPJMD tidak dapat direkonsiliasi dengan RTRW dan RPJPD, kecuali pada penyusunan RPJPD dan RTRW periode berikutnya (RPJPD 2026-2046; RTRW 2026-2046).

16 RPJPD

dan RTRW

RPJMD RPJPD 2005-2025 RTRW 2005-2025

RPJMD disusun 2010 (2010-2014) BAU (Business as Usual), tidak ada masalah.

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RPJMD n-1 2005-2009

RTRW PJM 1 2008-2009

RTRW PJM 2 2010-2014

RTRW PJM 3 2015-2019

RTRW PJM 4 2020-2024

RTRW PJM 5 2025-2028 RPJMD n-2

2010-2014

RPJMD n-3 2015-2019

RPJMD n-4 2020-2024

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RPJMD n-1 2005-2009

RTRW PJM 1 2010-2014

RTRW PJM 2 2015-2019

RTRW PJM 3 2020-2024

RTRW PJM 4 2025-2030 RPJMD n-2

2010-2014

RPJMD n-3 2015-2019

RPJMD n-4 2020-2024

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RPJMD n-1 2008-2012 RTRW PJM 1

2005-2009

RTRW PJM 2 2010-2014

RTRW PJM 3 2015-2019

RTRW PJM 4 2020-2025

RPJMD n-2 2013-2017

RPJMD n-3 2018-2022

RPJMD n-4 2023-2025

(28)

No

Variasi Kondisi

Langkah Pengintegrasiannya Kondisi

1

Kondisi 2

Kondisi 3

17 RPJMD

dan RTRW

RPJPD RTRW 2005-2025

RPJMD 2005-2009

RPJPD disusun pada tahun 2008

Masa berlaku RPJPD tetap 2005-2025, periodisasinya ikuti RPJMD (2005-2009; 2010-2014; 2015-2019; 2020-2025)

18 RPJMD

dan RTRW

RPJPD RTRW 2005-2025 RPJMD 2005-2009

RPJPD disusun pada tahun 2009 (atau 2010)

Masa berlaku RPJPD tetap 2005-2025, periodisasinya ikuti RPJMD (2005-2009; 2010-2014; 2015-2019; 2020-2025)

Sumber: Diadopsi dari Kementerian PU, 2012

d. Integrasi Muatan antara RTRW dengan RPJPD dan RPJMD

Dalam melakukan integrasi muatan perlu dilakukan kajian keterkaitan antara urusan dalam RPJPD dan RPJMD dengan aspek-aspek dalam RTRW. Tidak semua urusan

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025

RPJMD n-1 2010-2014 RTRW PJM 1

2005-2009

RTRW PJM 2 2010-2014

RTRW PJM 3 2015-2019

RTRW PJM 4 2020-2025

RPJMD n-2 2015-2019

RPJMD n-3 2020-2025

RPJMD n-1 2005-2009

RPJMD n-2 2010-2014

RPJMD n-3 2015-2019

RPJMD n-4 2020-2025

RPJPD Tahap 1 2005-2009

RPJPD Tahap 2 2010-2014

RPJPD Tahap 3 2015-2019

RPJPD Tahap 4 2020-2025 RTRW PJM 1

2005-2009

RTRW PJM 2 2010-2014

RTRW PJM 3 2015-2019

RTRW PJM 4 2020-2025

RPJMD n-1 2005-2009

RPJMD n-2 2010-2014

RPJMD n-3 2015-2019

RPJMD n-4 2020-2025

RPJPD Tahap n 2005-2009

RPJPD Tahap 1 2010-2014

RPJPD Tahap 2 2015-2019

RPJPD Tahap 3 2020-2025 RTRW PJM 1

2005-2009

RTRW PJM 2 2010-2014

RTRW PJM 3 2015-2019

RTRW PJM 4 2020-2025

(29)

dalam RPJPD memiliki implikasi ruang sehingga tidak dituangkan dalam RTRW (keterkaitan lemah). Sebaliknya ada urusan-urusan yang mempunyai implikasi ruang yang besar, seperti jaringan transportasi, jaringan infrastruktur, kawasan industri, kawasan perdagangan dan jasa, dan sebagainya.

Analisis integrasi muatan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan dibedakan menjadi dua, yaitu:

(1) Analisis integrasi muatan antara RTRW dengan RPJPD; dan (2) Analisis integrasi muatan antara RTRW dengan RPJMD.

(1) Analisis integrasi muatan antara RTRW dengan RPJPD terdiri dari 4 langkah, yaitu:

Langkah 1: analisis integrasi antara tujuan dalam RTRW dan visi dalam RPJP Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara tujuan dalam RTRW dan visi dalam RPJPD.

No RTRW RPJPD Penilaian Rekomendasi

1. Tujuan: Visi:

Langkah 2: analisis integrasi antara alokasi ruang dalam RTRW dan misi dalam RPJPD

Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara alokasi ruang dalam RTRW dan misi dalam RPJPD.

No RTRW RPJPD Penilaian Rekomendasi

1 Alokasi ruang: Misi 1:

Arah kebijakan:

2 Alokasi ruang: Misi 2:

Arah kebijakan:

Langkah 3: analisis integrasi antara kebijakan dalam RTRW dan arah kebijakan dalam RPJPD

Berikut merupakan tabel analisis integrasi antara kebijakan dalam RTRW dan arah kebijakan dalam RPJPD.

No RTRW RPJPD Penilaian Rekomendasi

Gambar

Gambar 1.1 Metodologi Kegiatan
Gambar 2.1 Alternatif I Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan   Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Gambar 2.2 Alternatif II Integrasi Prosedur Penyusunan Rencana Tata Ruang dan   Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Gambar 2.3 Model Integrasi dalam Perumusan RPJPD, RPJMD dan Renstra SKPD  dengan RTRW Berdasarkan Status Legalitas/Kekuatan Hukum
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah (RPJMD) Kota Kendari 2012 dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kendari salah satu strategi pengembangan wilayah Kota Kendari

Bertitik tolak dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) beserta Revisi RPJMD Kabupaten Badung Tahun 2010–2015 dan Rencana Strategis (Renstra)

Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Padang Panjang Tahun 2018 - 2023. Tentang Tata cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah,

(3) Ketentuan besarnya KDB pada ayat (1) disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar yang berlaku atau yang diatur dalam Rencana Tata Bangunan dan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Papua Barat.. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Pada bab ini berisikan penjelasan mengenai kebijakan dan strategi dokumen rencana seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Pembangunan Jangka Menengah

1) Menyusun Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah Kabupaten dengan memadukan pelestarian dan daya dukung lingkungan dengan kepentingan ekonomi. 2) Penegakan hukum bagi

a) Adanya dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sudah memuat kebijakan Pemerintah Kabupaten