• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANGKAH PELAKSANAAN ANALISIS POTENSI PENDAPATAN DAN SKEMA PEMBIAYAAN PROYEK

SKEMA PEMBIAYAAN KPBU

4.3 LANGKAH PELAKSANAAN ANALISIS POTENSI PENDAPATAN DAN SKEMA PEMBIAYAAN PROYEK

1. Mengidentifikasi Potensi Pendapatan Skema KPBU

Tim Penyusun menguraikan potensi-potensi sumber pendapatan proyek KPBU serta bagaimana aliran pendapatan tersebut. Secara umum, potensi pendapatan pada proyek KPBU persampahan adalah:

a. Retribusi sampah yang dibayarkan masyarakat kepada pemerintah, diperlukan survei permintaan riil dan kesediaan membayar (Real Demand and Willingness to Pay Survey/RDWTPS) dengan potensi perbaikan layanan (khususnya frekuensi) disurvei bersama dengan penilaian atas kesediaan membayar dari berbagai kelompok akan mengetahui kemampuan dan kemauan untuk membayar retribusi sampah. Hanya cara pengumpulan retribusi juga akan mempengaruh tingkat pengumpulan apakah optimal atau sebaliknya yang jauh lebih rendah.

b. Tipping fee yang dibayarkan pemerintah (atau institusi yang diberi otoritas) kepada Badan Usaha Pelaksana. Kemampuan untuk pembayaran tipping fee ini bergantung pada sejauh mana pemerintah pada setiap tingkatan

– pusat, provinsi dan kabupaten/Kota - bersedia berkontribusi menutup funding gap, baik di awal maupun tahunan/bulanan. Pendanaan kabupaten/Kota yang tersedia untuk memberikan dukungan ini jelas mencerminkan kapasitas finansial dalam APBDnya.

Potensi pendapatan sangat berhubungan dengan teknologi yang akan digunakan. Sehingga sesuai dengan teknologinya, dapat diidentifikasi sumber pendapatan lain seperti:

a. Penjualan Kompos, sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai

±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara.

b. Penjualan Recycling Material, sampah daur ulang berasal dari jenis-jenis sampah anorganik yang masih dapat diolah dengan cara 3R (reduce, reuse, recycle). Jenis sampah ini apabila diolah kembali atau didaur ulang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di pasaran. Jenis-jenis produk yang dapat dihasilkan dari limbah sampah daur ulang adalah peralatan atau perabotan yang menggunakan bahan daur ulang.

c. Penjualan RDF, merupakan bahan bakar yang dibentuk seperti briket dengan mencampurkan batu abu ke sampah yang telah dipisahkan dari sampah tidak terbakar. Bahan bakar RDF ini, tidak akan membusuk walaupun disimpan dalam waktu lama, serta sangat praktis untuk pengangkutan.

Keuntungan dalam penggunaan RDF sebagai energi adalah kemudahan dan ekonomis dalam pembuatan serta hasil pembakarannya sangat ramah lingkungan dibandingkandengan penggunaan energi fosil berupa batubara dan minyak bumi begitupun juga dengan keberadaan senyawa dioksin dan furon hanya ditemukan dalam skala ppb (parts per billion).

d. Pendapatan lainnya, seperti pendapatan dari listrik untuk sistem pengelolaan sampah Waste to Energy (WtE), serta pendapatan dari penjualan fly ash dan bottom ash. WtE adalah istilah generik yang digunakan untuk mendefinisikan pemulihan energi dari sampah dengan pembakaran, mengkonversi panas pembakaran menjadi uap dan menggunakan uap untuk menghasilkan listrik, atau untuk tujuan industri, atau keduanya. Residu dari instalasi WtE mencakup abu dasar (bottom ash) dan abu terbang (fly ash). Abu dasar berasal dari ruang pembakaran itu sendiri yang terdiri dari barang-barang

BAB IV |

Analisis Potensi Pendapatan & Skema Pembiayaan KPBU

Maka, keluaran dari masing-masing teknologi tersebut dirangkum pada Gambar berikut.

Tabel 4.2 Output dari Masing-masing Teknologi

Teknologi pengomposan pada umumnya menghasilkan dua keluaran utama, yakni kompos dan material daur ulang. Sedangkan untuk teknologi methanisasi pada umumnya menghasilkan tiga keluaran utama, yakni material daur ulang, cover soil, dan energi listrik. Begitu juga dengan teknologi insinerasi yang membakar sampah untuk menghasilkan energi listrik. Pilihan teknologi lain adalah dengan mengkombinasikan dua jenis teknologi, atau yang dapat disebut dengan teknologi hybrid. Contoh teknologi hybrid yang pertama adalah

keluaran berupa kompos, material daur ulang, dan energi listrik. Sedangkan contoh teknologi hybrid kedua adalah kombinasi teknologi methanisasi dengan insinerasi RDF, yang menghasilkan keluaran berupa material daur ulang, cover soil, dan energi listrik.

Contoh:

Berikut adalah contoh aliran pendapatan untuk WtE yang menghasilkan listrik dan Badan Usaha Pelaksana memiliki hak untuk menjual hasil listrik tersebut ke off-taker (dalam contoh ini adalah PT PLN) atau kepada kawasan Industri dan/

atau digunakan oleh pemerintah daerah setempat.

Gambar 4.1 Contoh Aliran Pendapatan yang Berasal Dari Penjualan Listrik

2. Menentukan Mekanisme Penyesuaian Tarif

Tim Penyusun menjabarkan mekanisme penyesuaian tarif (retribusi, tipping fee, pendapatan lainnya) serta diidentifikasi dampak terhadap pendapatan jika terjadi:

a. Kenaikan biaya KPBU (cost overrun);

b. Pembangunan KPBU selesai lebih awal;

c. Pengembalian KPBU melebihi tingkat maksimum yang ditentukan sehingga dimungkinkan pemberlakuan mekanisme penambahan pembagian keuntungan (clawback mechanism); dan

d. Pemberian insentif atau pemotongan pembayaran dalam hal pemenuhan kewajiban.

3. Menilai Kemampuan Fiskal Daerah

Tim penyusun mengidentifikasi kemampuan fiskal daerah selama 5 (lima)

BAB IV |

Analisis Potensi Pendapatan & Skema Pembiayaan KPBU

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) meliputi aspek Pendapatan dan Aspek Belanja, serta aspek Pembiayaan. Aspek Pendapatan terdiri dari Pendapatan Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah, Aspek Belanja terdiri dari Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung dan Aspek Pembiayaan terdiri dari Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran Pembiayaan.

Belanja daerah digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/

kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Dalam struktur APBD, belanja daerah dikelompokkan ke dalam belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Catatan:

Pertumbuhan rata-rata yang baik dari APBD di daerah menunjukkan kesehatan fiskal pemerintah daerah juga dapat dijadikan dasar bahwa pemerintah daerah mempunyai kemampuan fiskal untuk Availability Payment (AP) pada skema KPBU.

b. Kemampuan Pengguna untuk Membayar

Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah yang berasal dari pajak, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, pendanaan dari pemerintah pusat yang disebut sebagai dana transfer yang meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Dalam era otonomi daerah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) diharapkan menjadi pendorong utama bagi pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintah, pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan pelayanan publik. Semakin tinggi Pendapatan Asli Daerah maka semakin kecil tingkat ketergantungan daerah terhadap dana transfer pusat ke daerah.

Catatan:

Kondisi keuangan yang sehat tersebut dapat menjadi salah satu ruang fiskal untuk pengadaan pembayaran ketersediaan layanan Availability Payment untuk skema KPBU.

Selain menghitung kemampuan fiskal daerah, juga perlu dilakukan kajian akan kemampuan membayar pengguna (ability to pay) di daerah tersebut.

4. Melaksanakan Analisis Skema Pembiayaan Proyek

Tim Penyusun melakukan analisis skema pembiayaan proyek yang terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut:

a. Asumsi analisis keuangan

• Tingkat inflasi per tahun

• Nilai tukar mata uang

• Persentase pembiayaan sendiri terhadap pinjaman serta tingkat bunga pinjaman pertahun

• Jumlah pegawai yang akan terlibat beserta penyesuaian gaji sesuai indeks inflasi per tahunnya

• Tarif listrik, dapat digunakan sendiri dan/atau dijual ke kawasan industri bila ada, atau bila dijualkan kepada PLN akan digunakan tariff di regional pengolahan berada (biasanya sesuai dengan tarif listrik golongan B3/TM (Blok LWBP) dengan kenaikan sesuai indeks inflasi.

• Harga bahan bakar solar non-subsidi per liter dengan kenaikan sesuai indeks inflasi.

• Biaya kontingensi yang juga merupakan biaya mitigasi risiko, biaya perijinan, pemeliharaan lingkungan dan biaya lainnya.

• Jangka waktu pengembalian pinjaman termasuk masa tenggangnya

• Periode kerjasama/periode evaluasi

• Asumsi lain yang diperlukan b. Pendapatan

• Besaran pendapatan yang diterima pemerintah dari retribusi sampah selama periode evaluasi

• Besaran pendapatan yang diterima Badan Usaha Pelaksana dari tipping fee selama periode evaluasi

• Pendapatan lainnya, seperti: Kompos, Recycling Material, RDF, Listrik

BAB IV |

Analisis Potensi Pendapatan & Skema Pembiayaan KPBU

harga konstan dan harga berlaku. Ringkasan biaya investasi ini di-breakdown per tahun.

Perhitungan biaya investasi (CAPEX) didasarkan pada biaya kegiatan yang disiapkan oleh tim teknis. Dalam biaya kegiatan perlu dirinci jenis material yang diperlukan (harga satuan, spesifikasi teknis) dan tahapan pelaksanaan serta tahapan pembiayaan. Dari biaya kegiatan yang telah disusun tim teknis tersebut perlu dilakukan perhitungan/

penyesuaian sehingga menjadi biaya investasi, yaitu antara lain dengan memperhitungkan biaya pajak, biaya kontingensi harga dan biaya lain-lain yang dipandang perlu untuk diperhitungkan sebagai biaya investasi (misalnya biaya administrasi proyek, biaya pra-operasi dan biaya studi).

• Biaya operational dan pemeliharaan (OPEX)

Berisikan ringkasan biaya OPEX per ton sampah yang perlu dikeluarkan oleh Badan Usaha maupun PJPK. Dalam perhitungan biaya OPEX ini, selain asumsi tersebut diatas, perlu juga asumsi tentang biaya-biaya operasional, yang antara lain:

◦ Jumlah sampah yang akan diangkut ◦ Jumlah rit pengangkutan sampah ◦ Biaya bahan bakar

◦ Biaya tenaga kerja

◦ Biaya pemeliharaan peralatan dan kendaraan angkut sampah ◦ Biaya administrasi

◦ Biaya lainnya

Asumsi proyeksi biaya operasi dan pemeliharaan pada umumnya disusun sebagai berikut:

◦ Didasarkan pada persentase dari aset atau biaya investasi; dan/

◦ Didasarkan pada perincian setiap biaya operasi dan pemeliharaan atau sesuai dengan kebutuhan (volume) dan perkiraan harga bahan/

upah.

◦ Indikator keuangan

d. Indikator keuangan ini akan membahas beberapa indikator penting yang akan menentukan layak tidaknya proyek ini dijalankan oleh Badan Usaha. Beberapa indikator keuangan tersebut adalah:

• NPV, IRR, dan DSCR dari proyek dan modalitas.

Catatan :

Present Value (PV) adalah nilai sekarang dari penerimaan (uang) yang akan didapat pada tahun mendatang. Net Present Value (NPV) adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaraan per tahun. Investasi dianggap layak apabila hasil evaluasi memberikan nilai yang positif.

• Jika NPV yang dihasilkan lebih besar dari 0 maka Proyek KPBU dinilai LAYAK.

Catatan :

Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat bunga pengembalian (discount rate/interest rate) pada saat NPV=0. Suatu investasi dapat diterima apabila IRR lebih besar dari nilai interest rate yang telah ditentukan. Dalam perhitungan IRR ini, biasanya terbagi menjadi 2 (dua) jenis yakni Economic IRR (EIRR) dan Financial IRR (FIRR). EIRR biasanya dilakukan dan menjadi perhatian bagi sektor publik untuk menghitung keuntungan dan biaya baik secara langsung maupun tidak langsung dari sisi sosial, sedangkan FIRR biasanya menjadi perhatian sektor swasta untuk menghitung keuntungan dan biaya secara finansial. FIRR juga mengakomodasi perhitungan subsidi dan pajak.

• Perbandingan FIRR proyek terhadap WACC. Jika FIRR lebih besar dari WACC maka Proyek KPBU dinilai LAYAK.

• Jika EIRR masih lebih besar dibandingkan dengan Minimum Attractive Rate of Return (MARR) maka Proyek KPBU dinilai LAYAK.

Catatan :

Debt Service Coverage Ratio (DSCR) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan laba sebelum bunga dan pajak untuk membayar bunga dan pokok pinjaman setelah dikurangi pajak.

• Jika DSCR lebih besar daripada 1, maka Proyek KPBU dinilai LAYAK.

e. Proyeksi kinerja keuangan Badan Usaha Pelaksana

Mengkaji proyeksi kinerja keuangan Badan Usaha Pelaksana dengan menggunakan asumsi-asumsi seperti dibahas diatas. Proyeksi keuangan yang perlu dimasukkan dalam Prastudi Kelayakan:

• Proyeksi laba rugi (income statement)

• Proyeksi arus kas (cash flow)

• Proyeksi neraca (balance sheet) f. Analisis sensitivitas

BAB IV |

Analisis Potensi Pendapatan & Skema Pembiayaan KPBU

Catatan :

Perhitungan analisis finansial ini bersifat kasar dan belum mendetail. Perhitungan secara kasar ini diperlukan untuk menentukan bentuk dukungan yang diperlukan, yang selanjutnya akan disempurnakan pada tahapan penyiapan.

5. Menentukan Bentuk Dukungan Pemerintah yang Diperlukan

Tim Penyusun menentukan bentuk Dukungan Pemerintah yang dibutuhkan apabila ternyata kelayakan finansial proyek kurang memadai (marjinal).

Fasilitas dukungan pemerintah dapat diberikan berupa: bentuk dukungan kelayakan KPBU/Viability Gap Fund (VGF); insentif perpajakan; dan dukungan dalam bentuk lainnya. Pemberian dukungan Kelayakan ini bertujuan untuk:

a. Meningkatkan kelayakan finansial Proyek Kerjasama sehingga menimbulkan minat dan partisipasi Badan Usaha pada Proyek Kerjasama;

b. Meningkatkan kepastian pengadaan Proyek Kerjasama dan pengadaan Badan Usaha pada Proyek Kerjasama sesuai dengan kualitas dan waktu yang direncanakan; dan

c. Mewujudkan layanan publik yang tersedia melalui infrastruktur dengan tarif yang terjangkau oleh masyarakat.

Ketentuan pemberian Dukungan Pemerintah diatur dalam pasal 15 dan 16 Perpres No. 38 tahun 2015, menyatakan bahwa Menteri/Kepala Lembaga/

Kepala Daerah dapat memberikan Dukungan Pemerintah terhadap KPBU sesuai dengan lingkup kegiatan KPBU dan Dukungan Pemerintah ini harus dicantumkan dalam dokumen pengadaan Badan Usaha Pelaksana pada saat lelang.

Catatan :

Untuk mendukung penerapan KPBU di Indonesia, Kementerian Keuangan melakukan inovasi pembiayaan infrastruktur dengan menyediakan berbagai fasilitas dan dukungan pemerintah, yaitu fasilitas penyiapan proyek, dukungan kelayakan, dan penjaminan infrastruktur. Kementerian Keuangan juga memperkenalkan skema pengembalian investasi proyek KPBU yakni skema Pembayaran Berdasarkan Ketersediaan Layanan atau yang biasa dikenal dengan Availability Payment atau AP. Beberapa kelebihan skema AP ini antara lain, tidak adanya risiko permintaan atau demand risk bagi Badan Usaha dan kepastian pengembalian investasi bagi Badan Usaha.

Dukungan ini merupakan bentuk kerja nyata upaya Pemerintah Indonesia untuk mendukung dan memperkuat pembangunan infrastruktur dengan menjembatani keunggulan pihak swasta dan pemerintah demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Proses untuk mendapatkan Dukungan Pemerintah diatur dalam PMK No.

223/PMK.011/2012, dimana disebutkan bahwa Dukungan Kelayakan adalah Dukungan Pemerintah dalam bentuk kontribusi fiskal yang bersifat finansial yang diberikan terhadap Proyek Kerja Sama. Proyek yang dapat diberikan dukungan kelayakan memiliki total biaya investasi paling kurang senilai Rp100.000.000.000,- (seratus miliar rupiah).

Di samping pemberian dukungan kelayakan yang bersifat finansial (VGF), Menteri PUPR dan/atau Gubernur/Bupati/Walikota dapat juga memberikan dukungan pemerintah dalam bentuk lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti: dukungan pengadaan tanah, sebagian biaya Konstruksi, kemudahan perijinan.

Catatan :

Bentuk fasilitas dan dukungan yang dapat diberikan Pemerintah antara lain:

a. Fasilitas Penyiapan Proyek (Project Development Facility/PDF) adalah fasilitas yang disediakan oleh Kementerian Keuangan untuk membantu PJPK menyusun kajian prastudi kelayakan, dokumen lelang, dan mendampingi PJPK dalam transaksi proyek KPBU hingga mencapai pembiayaan dari lembaga pembiayaan (financial close).

b. Dukungan Kelayakan (Viability Gap Fund/VGF) adalah Dukungan Pemerintah dalam bentuk kontribusi sebagian biaya konstruksi yang diberikan secara tunai pada proyek KPBU yang sudah memiliki kelayakan ekonomi namun belum memiliki kelayakan finansial. Dukungan Kelayakan dapat diberikan setelah tidak terdapat lagi alternatif lain untuk membuat Proyek Kerja Sama layak secara finansial. Pemerintah Daerah dapat berkontribusi atas pemberian dukungan ini setelah memperoleh persetujuan dari DPRD.

c. Penjaminan Infrastruktur adalah pemberian jaminan atas kewajiban finansial PJPK untuk membayar kompensasi kepada badan usaha saat terjadi risiko infrastruktur – sesuai dengan alokasi yang disepakati dalam perjanjian KPBU – yang menjadi tanggung jawab PJPK.

d. Pembayaran Ketersediaan Layanan (Availability Payment) adalah pembayaran secara berkala oleh Menteri/ Kepala Lembaga/ Kepala Daerah kepada badan usaha atas tersedianya layanan infrastruktur yang sesuai dengan kualitas dan/atau kriteria sebagaimana ditentukan dalam perjanjian KPBU.

e. Dukungan Sebagian Konstruksi oleh Kementerian PUPR adalah dukungan dari Kementerian Teknis yang terkait dengan proyek pengelolaan persampahan

BAB IV |

Analisis Potensi Pendapatan & Skema Pembiayaan KPBU

4.4 KELUARAN ANALISIS POTENSI PENDAPATAN DAN SKEMA PEMBIAYAAN