• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Pengembangan Usaha

Dalam dokumen AR Semen Indonesia 2014 (Halaman 68-73)

di atas 700kg/kapita. Dengan demikian, tampak bahwa potensi kenaikan permintaan semen di masa mendatang sangat terbuka. Hal tersebut memberikan peluang bagi pertumbuhan usaha Perseroan, sekaligus memberi tantangan yang harus diantisipasi dengan seksama.

Dengan tingkat kenaikan konsumsi domestik tersebut, guna mempertahankan pangsa pasar, Perseroan harus membangun pabrik baru setiap 2

Laporan Pengembangan Usaha

tahun sekali. Setelah masa 5 tahun pertama, maka Perseroan harus membangun 1 pabrik setiap tahun. Penyelesaian pembangunan 2 pabrik berkapasitas disain masing-masing 3 juta ton pada tahun 2012 lalu diperkirakan membuat Perseroan mampu memenuhi peningkatan permintaan semen hingga tahun 2014. Oleh karenanya, Perseroan kini merealisasikan pembangunan 2 unit pabrik baru di Padang dan Rembang. Mengingat cukup kompleksnya permasalahan yang harus dihadapi dalam pembangunan pabrik semen baru, Perseroan mencanangkan wacana pengembangan an- organik, yakni akuisisi produsen semen dalam mengembangkan kapasitas produksi dan usahanya. Perseroan melakukan kajian secara seksama dalam merealisasikan pola ekspansi an-organik. Kajian tersebut melibatkan konsultan independen bereputasi internasional dan telah melakukan beberapa penjajagan ke perusahaan target akuisisi yang memiliki fondasi cukup kuat dan memiliki prospek untuk dikembangkan dalam pola sinergi yang memberi benefit timbal balik dalam jangka panjang.

Perseroan lebih berkonsentrasi pada produsen di kawasan regional, dengan mempertimbangkan beberapa hal, mencakup:

• Produk semen lebih ekonomis jika didistribusikan dekat dengan daerah pemasaran utama.

• Wujud dari realisasi visi perusahaan menjadi pemain industri persemenan terkemuka di pasar regional.

• Partisipasi pada upaya meningkatkan peran Indonesia dalam bidang ekonomi di kawasan regional.

• Menurunkan risiko kondisi negara sebagai area pemasaran utama melalui perluasan area pemasaran ke kawasan regional.

• Kawasan regional Asia Tenggara merupakan daerah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil di tengah gejolak perekonomian global.

• Sebagai antisipasi pemberlakuan ketentuan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).

THANG LONG JOINT STOCK COMPANY (TLCC). Setelah mempertimbangkan berbagai kajian, masukan dan keyakinan prospek pengembangan di masa mendatang, pada tahun 2012 Perseroan telah merealisasikan program pengembangan ke Vietnam dan mengakuisisi perusahaan produsen semen di Vietnam, Thang Long Joint Stock Company (“TLCC”). TLCC adalah salah satu produsen semen tekemuka di Vietnam dengan total kapasitas produksi sebesar 2,3 juta ton semen per tahun. TLCC memiliki pabrik semen terintegrasi yang berlokasi di Provinsi Quang Ninh dengan pelabuhan laut Cai Lan, dan pabrik penggilingan yang terletak di pinggiran kota Ho Chi Minh dengan jalur transportasi sungai Mekong, serta jalan raya antar daerah dan pelabuhan internasional, menjadikan sistem distribusi akan efektif dan efisien. TLCC juga memiliki persedian bahan baku yang besar, sehingga memiliki peluang untuk pengembangan di masa mendatang.

Pertimbangan Akuisisi TLCC

Keputusan akusisi TLCC dilakukan setelah mempertimbangkan dengan seksama berbagai penelitian internal dan rekomendasi dari beberapa pihak yang kompeten dibidangnya. Ada sejumlah alasan mengapa Perseroan memilih mengakuisisi TLCC.

Pertama, Vietnam merupakan negara yang memiliki garis pantai yang panjang. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi Perseroan karena memiliki lokasi yang sangat baik untuk dapat memasok sebagai hub Perseroan ke pasar regional.

Laporan Manajemen Laporan Pengembangan Informasi Perusahaan Informasi Bagi Investor Tinjauan Operasional

Usaha

Kondisi saat dilakukan akuisisi

Saat proses akuisisi terhadap TLCC oleh Perseroan, kondisi ekonomi Vietnam mengalami pelambatan, sehingga merupakan peluang yang baik bagi Perseroan untuk berinvestasi di Vietnam.

Perekonomian Vietnam saat itu tidak menguntungkan bagi TLCC. Tingkat suku bunga mencapai 23% untuk pinjaman dalam mata uang Vietnam (VND) dan 8% untuk pinjaman USD. Nilai tukar USD terhadap VND meningkat sekitar 9%. Tarif listrik naik 15%, harga minyak meningkat 5%, batubara naik 88%, dan biaya bahan bakar secara umum melambung 32%-43%. Inflasi melonjak menjadi dua digit di level 18,6% pada tahun 2011, menyebabkan pengurangan pada belanja pemerintah, melemahnya pasar real estate, dan penundaan kegiatan konstruksi.

Pada periode tersebut TLCC mempunyai beban utang yang besar. Target pangsa pasar juga menurun karena banyak kegiatan konstruksi yang dihentikan, dan juga akibat ketidakselarasan pengelolaan operasi TLCC.

Pada periode 2008-2012, TLCC sebagai pemain baru industri semen di Vietnam masih belum memiliki cukup tenaga ahli di bidang persemenan. Oleh karena itu, kegiatan operasional dan produksi tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Kecenderungan marjin EBITDA TLCC menurun dari sekitar 19% di 2009 menjadi 4% di 2011.

Tim PMI (Post Merger Integration), Masuk, Mengurai dan Menyelesaikan Persoalan

Setelah Tim Uji Tuntas menyelesaikan tugasnya, Perseroan membentuk Tim Post Merger Integration

(PMI) untuk menyinergikan bisnis TLCC dan Perseroan, untuk meningkatkan kinerja TLCC.

Tim beranggotakan Dewan Eksekutif, Penasihat Internal, Ketua Tim PMI, Wakil Ketua Tim PMI, Ketua Kedua, Vietnam baru saja mengalami penurunan

kinerja perekonomian. Hal ini membuat lebih mudah bagi Perseroan untuk masuk berinvestasi, karena negara yang perekonomiannya sedang turun akan lebih baik dalam menyambut investor. Apalagi, Indonesia dan Vietnam mempunyai hubungan kenegaraan yang sangat baik.

Ketiga, TLCC adalah sebuah perusahaan semen terkemuka di Vietnam yang dilengkapi dengan teknologi Eropa dan infrastruktur yang terintegrasi. Total kapasitas produksi TLCC adalah 2,3 juta ton semen per tahun.

Proses akuisisi

Perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam proses akuisisi TLCC. Tim internal mengamati dan membuat studi pada beberapa perusahaan potensial di Vietnam, yang kemudian menghasilkan studi kelayakan awal sebagai dasar bagi Dewan Direksi untuk memutuskan dan mengusulkan kepada Dewan Komisaris.

Setelah Dewan Komisaris menyetujui proposal tersebut, Perseroan membentuk Tim Uji Tuntas (due diligence) dengan staf ahli Perseroan dan konsultan independen. Perseroan menunjuk JP Morgan sebagai konsultan independen untuk melaksanakan uji tuntas aspek keuangan dan Melli Darsa & Co untuk uji tuntas aspek hukum. Perseroan juga menunjuk konsultan penilai publik, Ruky, Safrudin & Rekan (KJPP RSR) untuk mempersiapkan pendapat kewajaran atas proyek akuisisi ini.

Dimulai pada Juli 2012, proses due diligence selesai pada September 2012. Setelah itu, proses negosiasi dilakukan untuk mendapatkan kesepakatan. Pada tanggal 18 Desember 2012, Perseroan secara legal telah mengakuisisi 70% kepemilikan TLCC sekaligus menjadi pemegang saham pengendali.

Laporan Pengembangan Usaha

Sub Tim Human Capital, Ketua Sub Tim ICT, Ketua Sub Tim Keuangan, Akuntansi dan Pajak, Ketua Sub Tim Produksi, Ketua Sub Tim Perencanaan dan Pengadaan, Ketua Sub Tim Pemasaran, Penjualan, dan Distribusi, Ketua Sub Tim Komunikasi, dan Ketua Sub Tim Hukum. Tim ditugaskan ke Vietnam bersamaan dengan akhir dari proses akuisisi, tanggal 18 Desember 2012 dan diperbantukan di TLCC selama satu tahun.

Tim PMI telah melakukan langkah-langkah perbaikan kinerja TLCC dengan cara menerapkan praktik operasional terbaik (best practices) yang diambil dari Perseroan. Secara rinci perbaikan yang telah dilakukan oleh Tim PMI pada berbagai aspek adalah sebagai berikut:

• Produksi

o Mengembalikan kondisi peralatan sesuai standardnya.

o Melaksanakan pemeliharaan secara berkala dan terencana untuk memastikan semua peralatan bekerja dengan baik dan stabil. o Mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang

tersedia. • Pemasaran

o Mengoptimalkan pasar domestik untuk menjaga pangsa pasar, seiring peningkatan volume ekspor untuk mengimbangi rendahnya permintaan di pasar domestik Vietnam.

• Distribusi.

o Mengurangi biaya transportasi dan distribusi melalui seleksi pemasok yang andal dan berpengalaman .

• Perencanaan Strategis dan Pengadaan

o Memperbarui studi kelayakan terhadap dua pabrik semen yang baru.

o Merundingkan perjanjian-perjanjian yang ada dan yang baru untuk mendapatkan harga yang lebih bersaing terkait bahan baku, suku cadang, dan layanan.

• Teknologi Informasi

o Menerapkan ERP SAP yang go live pada 1 Juli 2013 untuk menyatukan sistem teknologi informasi ke dalam sistem yang telah diterapkan di Semen Indonesia.

• Keuangan

o Memperbaiki modal kerja perusahaan dan siklus konversi keuangan melalui perbaikan dan pengendalian manajemen keuangan, manajemen piutang, manajemen persediaan, dan manajemen utang usaha.

• Sumberdaya Manusia

o Mengubah struktur organisasi, melakukan penilaian karyawan, menghentikan pengelolaan yang tidak sesuai, memperbaiki peraturan perusahaan, gaji dan sistem penggajian, serta menerapkan indikator penilaian kinerja (key performance indicator/ KPI) .

o Menugaskan beberapa karyawan TLCC ke lingkungan grup Semen Indonesia, baik di Semen Padang, Semen Tonasa, maupun Semen Gresik untuk pembelajaran, pemahaman standard kinerja, dan memahami proses bisnis di SMIG.

o Melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam mencapai target perusahaan.

Operasional Perusahaan saat ini dan Kondisi Keuangan

Pasca-akuisisi TLCC oleh Perseroan, penanganan oleh tim manajemen yang baru telah berhasil membawa banyak perubahan. Berikut adalah beberapa pencapaian indikator kinerja keuangan hingga akhir 2014:

• Peningkatan marjin EBITDA dari 19,4% pada 2013 menjadi 21,2% pada 2014 .

• Peningkatan Laba Usaha dari VND125 miliar pada 2013 menjadi VND252 miliar pada 2014.

Laporan Manajemen Informasi Perusahaan Informasi Bagi Investor Tinjauan Operasional

• Peningkatan beban pokok pendapatan (cost of

good sold/COGS) dikontribusi oleh kenaikan

bahan bakar, listrik dan bahan baku.

• Penetapan belanja perusahaan secara tepat dan efektif, dan sekaligus restrukturisasi sumberdaya keuangan perusahaan yang lebih murah. • Peningkatan mutu produk dan penciptaan produk

baru bernama PCB 50 yang sesuai dengan syarat mutu dari pasar yang akan dimasuki.

• Perluasan pasar-pasar ekspor baru dari TLCC ke: Filipina, Singapura, Kamboja, Peru, dan Papua Nugini.

Rencana Ke Depan

Untuk mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan, ke depan TLCC berencana meningkatkan kapasitas produksi. Proyek investasi Pabrik TLCC 2 telah disiapkan dan tercatat dalam “Rencana Pengembangan Industri Persemenan Vietnam periode 2011-2020 dan visi 2030” yang disetujui oleh

Pemerintah (Perdana Menteri) melalui Keputusan No 1488/QD-TTg tertanggal 29 Agustus 2011. Hal ini memberikan gambaran bahwa Pabrik TLCC 2 dan An Phu Cement JSC (APCC) secara prinsip telah mendapat perizinan untuk dibangun dalam periode 2016-2020.

Saat ini, Perseroan juga masih melanjutkan kajian proyek TLCC2 dan APCC untuk menambah kapasitas produksi di Vietnam.

EKSPANSI NON-ORGANIK SELANJUTNYA

Untuk memperkuat posisi di kawasan Regional, Perseroan tengah mempertimbangkan langkah akuisisi atas perusahaan produsen semen lainnya. Perseroan memperhitungkan berbagai aspek dalam mengkaji program ekspansi non-organik, meliputi ketersediaan bahan baku, ketersediaan utilitas pendukung, potensi pasar setempat dan sinerginya dengan program pengembangan perusahaan dalam jangka panjang.

Laporan Pengembangan Usaha

Tinjauan Kinerja

Dalam dokumen AR Semen Indonesia 2014 (Halaman 68-73)