Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang meliputi berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional. Disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan disparitas pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. Pada hakekatnya, pembangunan harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik, secara material maupun spiritual (Todaro dan Smith, 2009). Sedangkan UNDP mendefinisikan pembangunan dan khususnya pembangunan manusia sebagai proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choise). Dalam konsep tersebut, penduduk ditempatkan sebagai tujuan akhir (the ultimate end), bukan alat, cara atau instrumen pembangunan sebagaimana yang dilihat oleh model formasi modal manusia (human capital formation). Sedangkan upaya pembangunan dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu.
Tujuan dari pembangunan ekonomi pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: meningkatkan pendapatan per kapita penduduk dalam jangka panjang dan meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth). Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Sejak tahun 1969, bangsa Indonesia sebagai negara berkembang telah melaksanakan pembangunan ekonomi secara berencana dan bertahap, tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan. Perkembangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dapat dilihat pada Gambar 1 yang menerangkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang fluktuatif dari tahun ke tahun.
7,20 8,22 -13,13 4,92 6,32 6,06 Sumber: PDB 1990-2008, BPS (diolah)
Gambar 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, tahun 1990-2008
Perekonomian Indonesia sejak awal pembangunan menunjukkan kinerja yang cukup baik hingga awal tahun 1997 yang ditandai oleh menguatnya beberapa indikator makro ekonomi. Tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 7,8% pada tahun 1996 dan investasi langsung luar negeri mencapai $6,5 juta pada tahun fiskal 1996/1997. Cadangan devisa resmi pemerintah pada bulan Maret 1997 mencapai $20 juta dan tingkat depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika masih terpelihara pada kisaran 3-5% (BI, 1997).
Krisis moneter dan krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997, yang berlanjut menjadi krisis multidimensi, membawa dampak pada kondisi perekonomian di Indonesia. Akibat dari krisis tersebut perekonomian Indonesia mengalami masa yang sulit, inflasi tinggi, dan rupiah terdepresiasi. Kondisi ini mengakibatkan hampir seluruh kegiatan ekonomi terhenti (stagnan) dan laju pertumbuhan ekonomi mengalami konstraksi hingga negatif 13,13 persen. Berbagai usaha dilakukan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan untuk mengatasi perekonomian yang terpuruk pada saat itu.
Tahun-tahun berikutnya setelah masa krisis, perekonomian Indonesia mengalami pemulihan (recovery). Pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 4 persen sampai dengan 6 persen. Perekonomian Indonesia mulai membaik, aktivitas ekonomi mulai berjalan dengan baik sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2007 mencapai 6,32 persen. Pemulihan kondisi
tersebut ditunjang oleh membaiknya infrastuktur yang ada serta kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah baik fiskal maupun moneter (Lestari, 2008).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 cenderung melambat menjadi 6,06 persen. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan dari krisis global yang cukup berat. Terimbas oleh ketidakpastian pasar finansial global yang meningkat, proses perlambatan ekonomi dunia yang signifikan, dan perubahan harga komoditas global yang sangat drastis. Namun demikian, perkembangan ekonomi Indonesia tidaklah terlampau buruk dibandingkan negara lain (Gambar 1).
Perkembangan perekonomian yang dicapai Indonesia sampai saat ini ternyata masih harus menghadapi permasalahan yang mungkin juga dialami negara lain, khususnya negara sedang berkembang. Salah satu realitas pembangunan ekonomi di Indonesia yang diakibatkan oleh adanya perbedaan laju pertumbuhan adalah terciptanya ketimpangan/disparitas antar wilayah. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh perbedaan faktor endowment dari masing-masing daerah. Fakta adanya disparitas tersebut tercermin dalam kesenjangan kinerja pembangunan perekonomian antara provinsi satu dan lainnya, antara perkotaan dan perdesaan, antara Pulau Jawa dan luar Jawa, serta antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Sehubungan dengan permasalahan ketimpangan/disparitas antar wilayah khususnya antar pulau di Indonesia, pemerintah meluncurkan program MP3EI yang tujuannya diantaranya untuk mengurangi disparitas. Khususnya ketimpangan dalam hal pembangunan infrastruktur. Dalam implementasi MP3EI1 dilakukan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 program utama (pertanian, pertambangan, energi, industri,
1
Peluncuran Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Mei 2011. Tujuan awal dilakukannya MP3EI adalah untuk mencapai aspirasi Indonesia 2025, yaitu PDB sekitar USD 4,3 triliun dan menjadi negara dengan PDB terbesar ke-9 di dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut, sekitar 82 % atau USD 3,5 triliun akan ditargetkan sebagai kontribusi PDB dari koridor ekonomi sebagai bagian dari transformasi ekonomi. Dokumen MP3EI tidak menggantikan RPJMN 2005-2025 (UU No. 17 Tahun 2007) dan RPJMN 2005-2015 (Peraturan Presiden No.5 Tahun 2010). Seluruh program regular pemerintah yang tidak dicakup dalam MP3EI berjalan seperti biasa sesuai dengan perencanaan. Program pengembangan MP3EI mencakup pembangunan di seluruh tanah air.
kelautan, pariwisata, telematika, dan pengembangan kawasan strategis) yang terdiri dari 22 kegiatan ekonomi utama sesuai dengan potensi dan nilai strategis kegitan utama tersebut di koridor yang bersangkutan. Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 elemen utama yaitu:
1. mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu:
Koridor Ekonomi Sumatera, diposisikan sebagai “sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional”.
Koridor Ekonomi Jawa, diposisikan sebagai “pendorong industry dan jasa nasional”.
Koridor Ekonomi Kalimantan, diposisikan sebagai “pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional”.
Koridor Ekonomi Sulawesi, diposisikan sebagai “pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan nasional”. Koridor Ekonomi Bali-Nusa Tenggara, diposisikan sebagai “pintu
gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional”.
Koridor Ekonomi Papua dan Kepulauan Maluku, diposisikan sebagai “pusat pengembangan pangan, perikanan, energy, dan pertambangan nasional”.
2. memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected)
3. memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi.
Berkaitan dengan program MP3EI tersebut, maka perlu dikaji lebih dalam bagaimana perekonomian antar koridor tersebut terkait dengan disparitas antar wilayah koridor ekonomi. Indikasi disparitas antar wilayah dapat dilihat dari perbedaan tingkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi antar wilayah. Data BPS tahun 2007 mengenai PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi seluruh provinsi menunjukkan bahwa terjadi pemusatan produksi barang dan jasa di Pulau Jawa. Pulau yang luasnya hanya mencapai 7 persen dari luas Indonesia ini mendominasi sekitar 60,20 persen dari seluruh PDRB, sedangkan provinsi di Sumatera menguasai sekitar 22,98 persen, Kalimantan menguasai 9,13 persen, Sulawesi
menguasai 4,09 persen, dan provinsi di Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua hanya 3,61 persen. Sementara itu, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi provinsi di Jawa dan Bali pada tahun 2007 sebesar 6,17 persen, provinsi di Sumatera sebesar 4,96 persen, Kalimantan sebesar 3,14 persen, Sulawesi sebesar 6,88 persen, provinsi di Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua sebesar 5,04 persen. Kecenderungan persebaran penguasaan PDRB dan laju pertumbuhan yang tidak sama akan menyebabkan semakin timpangnya pembangunan antar wilayah.
Disparitas yang ditunjukkan melalui data PDRB juga terjadi antara KBI dan KTI (lihat Gambar 2). KBI dengan luas wilayah 31,25 persen dari luas Indonesia mendominasi pendapatan nasional sebesar 83,55 persen pada tahun 2007. Pada Gambar 2 juga terlihat bahwa disparitas bukan hanya terjadi antar pulau dan antar kawasan, melainkan juga terjadi antar provinsi di Indonesia.
1000 0 1000 2000 3000 Kilometers N Persentase Terhadap PDB KTI 16,45 % KBI 83,55 % Legenda: Nilai PDRB
Gambar 2 Peta tematik PDRB provinsi dan kontribusi PDRB KBI-KTI terhadap PDB di Indonesia tahun 2007
Fenomena disparitas antar wilayah yang terjadi, diantaranya disebabkan oleh perbedaan ketersediaan fasilitas infrastruktur, seperti: pendidikan, kesehatan, jalan, listrik dan air bersih. Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Keberadaan infrastruktur akan mendorong terjadinya peningkatan produktivitas bagi faktor-faktor produksi, dan sebaliknya apabila mengabaikannya akan menurunkan produktivitas.
Sumber: BPS, 2003-2007 (diolah)
Gambar 3 Kontribusi PDRB adhk 2000 di 6 Koridor dalam MP3EI terhadap PDB Nasional, Tahun 2003-2007
Pesatnya perkembangan perekonomian di Indonesia disebabkan besarnya investasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Investasi merupakan salah satu faktor yang krusial bagi proses kemajuan pembangunan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang melibatkan kegiatan-kegiatan produksi di semua sektor ekonomi. Investasi di Indonesia bervariasi antar wilayah koridor ekonomi, dimana Koridor Jawa mendominasi dibanding koridor lainnya yaitu sebesar 60 persen. Investasi yang paling sedikit terdapat di Koridor Papua-Kep Maluku hanya 1 persen saja (Gambar 5). Hal ini sangat timpang jika dibandingkan dengan persentase jumlah penduduk dan luas wilayah di 6 koridor, ternyata Jawa yang persentase penduduk terbesar dan luas wilayah terkecil namun investasi di Koridor Jawa lebih besar dibanding Koridor Papua-Kep Maluku dengan persentase penduduk terkecil dan luas wilayah terbesar (Gambar 4). Demikian pula jika dibandingkan dengan kontribusi PDRB di 6 koridor terhadap PDB Nasional dimana Koridor Jawa masih mendominasi dibandingkan koridor lainnya (Gambar 3). Beberapa masalah tersebut memicu ketimpangan wilayah di Indonesia, khususnya ketimpangan antar koridor ekonomi.
Sumber: BPS, 2010 (diolah)
Gambar 4 Persentase Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah di 6 Koridor dalam MP3EI, Tahun 2010 (Persen)
Fenomena disparitas wilayah memang sudah menjadi hal yang biasa dalam perkembangan suatu wilayah karena berbagai alasan. Disparitas tersebut tidak hanya terjadi pada lingkup negara, bahkan sampai pada wilayah provinsi atau unit yang lebih rendah sekalipun. Sering kali disparitas menjadi permasalahan yang serius bagi setiap wilayah karena berpotensi menimbulkan konflik finansial, sosial, atau hubungan yang saling memperlemah antar wilayah. Wilayah
hinterland akan menjadi lemah karena eksploitasi sumber daya yang berlebihan, sementara wilayah inti juga dapat menjadi lemah karena faktor urbanisasi yang tinggi.
Penyebab disparitas menurut Anwar (2005), terdiri dari beberapa hal yaitu 1) Perbedaan karakteristik limpahan sumberdaya alam (resource endowment); 2) Perbedaan demografi; 3) Perbedaan kemampuan sumberdaya manusia (human capital); 4) Perbedaan potensi lokasi; 5) Perbedaan dari aspek aksesibilitas dan kekuasaan dalam pengambilan keputusan; dan 6) Perbedaan dari aspek potensi pasar. Berdasarkan faktor tersebut maka dalam suatu wilayah akan terdapat beberapa macam karakteristik wilayah ditinjau dari aspek kemajuannya, yaitu: 1) Wilayah maju; 2) Wilayah sedang berkembang; 3) Wilayah belum berkembang; dan 4) Wilayah tidak berkembang.
Sumber: BKPM, 2010
Gambar 5 Persentase Investasi di 6 Koridor dalam MP3EI terhadap Investasi Nasional, Tahun 2010 (Persen)
Perbedaan perkembangan wilayah akan membentuk suatu struktur wilayah yang berhirarki, dimana wilayah yang telah maju cenderung akan cepat berkembang menjadi pusat aktifitas baik perekonomian maupun pemerintahan. Wilayah yang sumber daya alamnya kurang mendukung akan relatif kurang berkembang dan cenderung menjadi wilayah hinterland. Keadaan ini dapat menjadi faktor pendorong bagi sumber daya manusia untuk bekerja ke wilayah yang lebih berkembang dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya sehingga akan semakin sulit bagi wilayah ini untuk berkembang karena telah mengalami kekurangan sumberdaya manusia.
Evaluasi keberhasilan pembangunan antar wilayah koridor ekonomi di Indonesia perlu dikaji secara simultan dengan sisi pemerataan sesuai dengan potensi wilayahnya, yang dikaitkan dengan besarnya jumlah penduduk miskin. Data kemiskinan yang diolah dari hasil survey Susenas BPS, 2002-2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia secara absolut telah mengalami penurunan sebesar 19,2 persen, yaitu dari 38,39 juta jiwa pada tahun 2002 menjadi 31,02 juta jiwa pada tahun 2010. Dari jumlah tersebut, lebih dari 50 persen penduduk miskin berada di koridor Jawa (55,83 persen) yang merupakan persentase terbesar. Persentase penduduk miskin selanjutnya koridor Sumatera
(21,44 persen), Sulawesi (7,57 persen), Bali-Nusa Tenggara (7,09 persen), Papua-Kep. Maluku (4,79 persen), dan terakhir koridor Kalimantan hanya 3,28 persen penduduk miskinnya seperti ditunjukkan pada Gambar 6.
Peningkatan persentase penduduk miskin terjadi selama tahun 2005-2006 yang disebabkan karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi, yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 17,95 persen. Kenaikan inflasi ini dipicu adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) rata-rata sebesar 126 persen yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 2005. Kenaikan ini dilakukan untuk mengurangi beban subsidi BBM akibat meningkatnya harga minyak mentah dunia. Peningkatan inflasi akan menyebabkan daya beli penduduk menjadi merosot, dan menyebabkan penduduk yang penghasilannya berada sedikit di atas garis kemiskinan banyak yang bergeser posisinya menjadi miskin sehingga tingkat kemiskinan mengalami peningkatan.
Sumber: BPS, 2002-2010 (diolah)
Gambar 6 Jumlah Penduduk Miskin di 6 Koridor dalam MP3EI dan Indonesia, 2002-2010 (Ribu Jiwa)
Menurut status daerah, distribusi pemerataan menunjukkan pola yang berbeda. Distribusi pendapatan merupakan porsi pendapatan yang diterima oleh setiap individu atau rumahtangga, tergantung pada tingkat produktivitas dan peranannya dalam perekonomian. Salah satu ukuran yang sering digunakan untuk mengukur ketidakmerataan distribusi pendapatan adalah rasio gini. Ternyata rasio gini Indonesia tidak menurun sampai dengan tahun 2010, seperti ditunjukkan pada
Tabel 1 bahwa daerah perkotaan mempunyai ketimpangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perdesaan.
Nilai gini rasio di atas 0,3 dapat ditunjukkan bahwa ketimpangan masih terus terjadi di Indonesia. Wilayah perkotaan yang terus mengejar pertumbuhan ekonomi justru terbentur pada masalah ketimpangan yang semakin melebar antar golongan masyarakat, antar pelaku ekonomi serta antar wilayah. Data-data tersebut memberikan gambaran bahwa upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pemerintah masih belum bersinergi dengan kebijakan percepatan pertumbuhan ekonomi sehingga dapat menyebabkan disintegritas dan ketidakstabilan sosial yang meluas sehingga pembangunan yang berbasis kerakyatan dan berkeadilan sosial belum bisa tercapai.
Jika Indeks Gini pada tabel 1 dibandingkan dengan Indeks Williamson pada gambar 9, maka penghitungan untuk menggambarkan kesenjangan pendapatan dengan menggunakan Indeks Gini (IG) hasilnya relatif lebih rendah. Hal ini dapat menjadi kurang akurat jika dihitung dengan Indeks Gini, karena IG tidak secara simultan dapat mengukur kesenjangan kekayaan di satu sisi dan kesenjangan pendapatan di sisi lain. Seringkali negara yang mempunyai kesenjangan kekayaan sangat ekstrim, namu IG justru justru rendah. IG juga bias terhadap sampel. Indeks Gini bias pada jumlah sampel, IG cenderung meninggi pada populasi yang rendah dan cenderung redah pada populasi yang tinggi.
Tabel 1 Indeks Gini Indonesia Menurut Daerah, Tahun 2002-2010
Tahun Indeks Gini
Perkotaan Perdesaan Total
(1) (2) (3) (4) 2002 0,33 0,24 0,33 2003 0,32 0,25 0,32 2004 0,31 0,24 0,32 2005 0,32 0,25 0,33 2006 0,32 0,27 0,33 2007 0,36 0,26 0,36 2008 0,37 0,29 0,37 2009 2010 0,37 0,38 0,29 0,32 0,37 0,38 Sumber: BPS, 2002-2010
Disparitas antar wilayah pada awal pembangunan ekonomi merupakan hal yang wajar dalam konsep pembangunan nasional. Williamson (1965) menemukan bahwa pada awal pembangunan ekonomi ketimpangan pendapatan akan membesar dan terkonsentrasi pada wilayah-wilayah tertentu yang sudah relatif maju, misalnya dalam pembangunan industri, infrastruktur dan sumber daya manusia. Kemudian dalam tahap pertumbuhan ekonomi yang lebih besar, terjadi konvergensi dan ketimpangan dalam distribusi pendapatan akan mengalami penurunan. Hal ini sejalan dengan penelitian Ernan et al (2010) bahwa dengan menggunakan Indeks Theil Entropi, ketimpangan di Pulau Jawa mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya.
Sumber: BPS, 2006-2009 (diolah)
Gambar 7 Kontribusi Sektor Pertanian, Manufaktur dan Sektor Jasa di Indonesia, Tahun 2006-2009
Fenomena disparitas wilayah di Indonesia menjadi masalah dengan adanya perbedaan faktor produksi dan transformasi perekonomian struktural yang telah terjadi. Pola perubahan struktur perekonomian di Indonesia dilihat dari share sektor manufaktur lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian dan jasa yaitu sekitar 63 persen dan 21 persen di tahun 2009, namun pangsa tenaga kerja sektor pertanian masih lebih tinggi dibandingkan sektor manufaktur yaitu sebesar 40 persen. Hal ini menandakan masih adanya disparitas antar wilayah di Indonesia (Gambar 7).
Sumber: BPS, 2008 (diolah)
Gambar 8 Kontribusi Tenaga Kerja Sektor Pertanian, Manufaktur dan Sektor Jasa, Tahun 2008
Strategi pengembangan wilayah yang mempertimbangkan keterkaitan antara kondisi sosial ekonomi, potensi sumberdaya alam, dan ketersediaan prasarana, serta kondisi fisik wilayah diharapkan mampu mengatasi permasalahan disparitas antar wilayah koridor ekonomi dalam MP3EI tersebut. Dengan demikian diharapkan akan tercipta pemerataan (equity), pertumbuhan (eficiency), dan keberlanjutan (sustainability) dalam pembangunan wilayah. Strategi yang tepat dalam pengembangan wilayah diharapkan mampu untuk mengurangi disparitas yang terjadi antar wilayah koridor ekonomi di Indonesia.
1.2. Perumusan Masalah
Ketimpangan dalam pembangunan ekonomi masih terjadi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan pertumbuhan ekonomi dan nilai PDRB antar koridor ekonomi dan provinsi yang bervariasi. Perbedaan ketersediaan fasilitas infrastuktur dan tidak meratanya konsentrasi kegiatan ekonomi menambah semakin melebarnya disparitas regional. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia masih belum merata. Fakta dan indikasi ini perlu mendapat perhatian agar upaya pembangunan ekonomi di Indonesia terus mengalami peningkatan dan merata di seluruh wilayah koridor ekonomi sesuai dengan potesinya.
tinggi, yang antara lain disebabkan oleh keberadaan migas di daerah tersebut menyebabkan terjadinya disparitas ekonomi antar provinsi di Indonesia. Indeks Williamson dapat digunakan untuk melihat disparitas regional. Hasil perhitungan indeks Williamson di Indonesia pada kurun waktu 1991 sampai 2010 dapat dilihat pada Gambar 9.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari nilai indeks Williamson atau koefisien variasi Williamson menunjukkan disparitas antar provinsi di Indonesia dari tahun 1991-2010 cukup besar, yaitu berada pada kisaran 0,6 sampai 0,8. Berdasarkan hal tersebut, dapat diartikan bahwa antar provinsi di Indonesia terjadi disparitas pendapatan yang cukup besar. Hal ini tidak terlepas dari perbedaan kemampuan fiskal tiap daerah yang berimplikasi terhadap nilai tambah bruto (PDRB) dalam perekonomian antar wilayah.
0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0,63 0,63 0,61 0,66 0,66 0,66 0,67 0,68 0,69 0,70 0,79 0,79 0,79 0,79 0,80 0,80 0,79 0,82 0,82 0,82 Indeks Williamson Sumber: BPS (diolah)
Gambar 9 Tingkat disparitas di Indonesia tahun 1991-2010
Pada tahun 1991-2010, indeks Williamson terbesar terjadi pada tahun 2008 dan 2010 yaitu 0,82. Akan tetapi peningkatan yang terbesar terjadi pada tahun 2008. Pada tahun tersebut mulai diberlakukan Undang-undang Otonomi Daerah. Dengan adanya otonomi daerah, setiap wilayah mempunyai kewenangan untuk mengatur daerahnya masing-masing. Wilayah yang mempunyai potensi yang besar dan kelembagaan yang solid akan lebih cepat
berkembang dibandingkan daerah lainnya. Masing-masing daerah bersaing untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Kurva Williamson berlaku di Indonesia, pada periode 1993 sampai 2010. Pada awal pelaksanaan otonomi daerah ketimpangan wilayah meningkat, hal ini disebabkan perbedaan kesiapan dari masing-masing daerah dalam menghadapi otonomi daerah. Pada tahun-tahun selanjutnya, setiap wilayah mulai dapat mengembangkan daerahnya masing-masing dalam rangka mendorong proses pembangunan ekonomi di era otonomi daerah. Walaupun demikian tingkat disparitas pada tahun-tahun berikutnya sampai pada tahun 2010 relatif konstan.
Fenomena disparitas antar daerah yang terjadi dapat disebabkan oleh perbedaan ketersediaan fasilitas infrastruktur, seperti: pendidikan, kesehatan, jalan, listrik dan air bersih. Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Keberadaan infrastruktur akan mendorong terjadinya peningkatan produktivitas bagi faktor-faktor produksi, dan sebaliknya apabila mengabaikannya akan menurunkan produktivitas.
Tabel 2. Persentase Rumahtangga yang Menggunakan Sumber Penerangan Listrik menurut Koridor di Indonesia, 2000-2009
Koridor 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 1. Sumatera 67,80 70,10 71,36 74,48 77,64 77,97 82,30 85,48 87,43 90,67 2. Jawa 95,74 95,39 96,03 96,55 97,25 94,21 97,84 97,34 98,36 98,88 3. Kalimantan 72,97 74,22 75,73 77,64 79,41 77,88 81,48 83,37 85,21 86,16 4. Sulawesi 70,24 68,35 68,21 70,04 72,19 72,73 74,35 78,93 82,15 85,45 5. Bali-Nusa Tenggara 72,89 69,73 70,95 70,06 71,90 69,84 72,84 73,78 75,24 78,67 6. Papua-Kep. Maluku 35,49 67,08 62,57 58,06 56,88 60,26 58,44 65,34 65,05 64,93 Sumber: BPS, 2000-2009 (diolah)
Salah satu sarana infrastruktur yang digunakan dalam penelitian ini adalah infrastruktur listrik yang diproksi dengan persentase rumahtangga pengguna listrik. Secara umum perkembangan infrastruktur listrik di semua koridor relatif mengalami peningkatan sejak tahun 2000 hingga 2009, namun masih terlihat adanya disparitas dalam hal pembangunan infrastruktur listrik ini di beberapa koridor. Koridor Jawa dan Sumatera persentase rumahtangga pengguna listrik lebih tinggi dibanding Koridor Kalimantan, Sulawesi, dan Papua-Kep Maluku,
dimana Koridor Papua-Kep.Maluku persentase paling kecil yaitu sebesar 64,93 persen saja. Hal ini mengindikasikan adanya disparitas pembangunan infrastruktur terutama listrik antara koridor di Indonesia, dan dirasakan pembangunan infrastruktur masih bias Jawa atau bias KBI dibandingkan dengan luar Jawa atau KTI.
Beberapa studi menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur dengan PDB ternyata mempunyai hubungan yang erat. Elastisitas PDB terhadap infrastruktur, yaitu perubahan persentase pertumbuhan PDB sebagai akibat dari naiknya 1 persen ketersediaan infrastruktur, di berbagai negara bervariasi antara 0,07 sampai 0,44 (World Bank, 1994). Hal ini berarti dengan kenaikan‚ 1 persen saja ketersediaan infrastruktur akan menyebabkan pertumbuhan PDB sebesar 0,07 persen sampai dengan 0,44 persen. Studi dari Calderon dan Serven (2002) menyebutkan elastisitas PDB pertenaga kerja terhadap infrastruktur di Amerika Latin untuk telepon sebesar 0,15; listrik 0,16; dan jalan 0,18. Di sisi lain berbagai studi menunjukkan bahwa economic rate of return dari investasi infrastruktur berada disekitar 19-117 persen, jauh di atas biaya hutang yang mungkin berkisar 10 persen (Easterly dan Serven, 2002). Infrastruktur merupakan faktor produksi (input) dalam menghasilkan output. Terdapat hubungan yang signifikan antara infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, maka dapat disimpulkan bahwa keterbatasan ketersediaan infrastruktur akan menjadi penghambat (constraint) bagi pertumbuhan ekonomi, dan besarnya perbedaan ketersediaan infrastruktur antar wilayah akan menimbulkan disparitas antar wilayah yang semakin melebar.
Kebijakan pemerintah dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi disparitas antar daerah perlu mendapatkan perhatian yang lebih.
Trade off yang terjadi antara disparitas dan pertumbuhan ekonomi membuat penentuan kebijakan harus tepat sasaran.
Upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi dapat ditempuh dengan meningkatkan efisensi dalam kegiatan ekonomi. Efisiensi memerlukan dukungan dari modal infrastruktur yang memadai sehingga mendorong peningkatan potensi daerah masing-masing secara berkesinambungan. Infrastruktur yang tersedia akan mendorong proses pertukaran sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah sehingga memungkinkan bergeraknya faktor produksi dan hasil
produksi. Perekonomian kemudian secara bersama-sama menuju proses pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin meningkat sesuai dengan kemampuannya yang optimal.
Peranan pemerintah dalam upaya meningkatkan pemerataan adalah dengan