• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen H A S A N NOMOR INDUK MAHASISWA: (Halaman 14-21)

Perkembangan pembelajaran di sekolah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin meningkat dengan berkembangnya zaman. Hal tersebut menimbulkan adanya kompetisi dalam berbagai aspek dalam kehiudpuan, salah satunya adalah di bidang Pendidikan. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Menyadari akan hal itu SDM di sekolah dasar, maka dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Budaya membaca, menulis dan berhitung.

Salah satu ayat Al – Qur’an yang memerintahkan untuk membaca adalah surah Al Alaq ayat 1 – 2 yang berbunyi:

ِقْرِأ ْ اِْم ِ ْب ِِّ ْر َِّ ِي ْ ََْْ َْۚ – َْْ َْۚ ْامَِْْ ِ ْ ِا ْ َلَْ ٍْۚ

Terjemahan:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah mencitptakan manusia dari segumpal darah. (QS. Al Alaq: 1 – 2).

Dijelaskan pula melalui firman Allah SWT surat Al Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:

1

Terjemahannya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan

Ayat tersebut diatas memerintahkan kepada hambanya untuk membaca segala apa yang ada di bumi mulai dari hal paling kecil sampai hal terbesar karena tidak lepas dari proses berfikir dan membaca keadaan yang ada di muka bumi.

Pendidikan yang merupakan salah satu wadah untuk membentuk siswa menjadi generasi yang berkompeten dan terciptanya proses belajar mengajar di dalam kelas. Pendidikan yang semakin maju siswa harus memiliki keterampilan dan inovasi untuk menggunakan media indormasi dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan siswa.

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Dvelopment) merupakan organisasi internasional yang concern pada perkembangan dunia pendidikan secara periodic melakukan Programme for International Student Assestment (PISA) setiap tiga tahun sekali dan Indonesia salah satu negara yang ikut serta dalam penilaian salah satunya adalah literasi sains dan selalu dibawah standar internasional. (OECD, 2018).

Tabel 1.1 peringkat Literasi Sains Indonesia sejak tahun 2000 – 2018 Tahun Studi Skor rata-rata

Indonesia

Sumber: OECD (2018) & Suciati, et. Al (2014)

Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa secara umum literasi sains Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini perlu dilakukan upaya untuk mendorong Indonesia memperbaiki proses pembelajaran literasi sains secara berkesinambungan. Pada tahun 2021 kegiatan tersebut belum terlaksana.

Untuk itu salah satu langkah yang perlu ditempuh harus disesuaikan dengan tujuan Pendidikan Nasional Indonesia itu sendiri sesuai Pasal 3 UU No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mendiskripsikan tentang pengembangan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan menjadi warga negarayang demokratis serta bertanggungjawab.

Pendidikan yang berkualitas tentunya melibatkan siswa untuk aktif belajar dan mengarahkan terbentuknya nilai-nilai yang dibutuhkan siswa dalam menempuh kehidupan. (Sani, 2014) Sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional literasi sains untuk peserta didik adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berfikir secara kritis dalam memecahkan

masalah dan mencari informasi serta menemukan suatu permasalahan.

(Prahastiwi, 2019).

Literasi sains yaitu suatu ilmu pengetajuan dan pemahaman mengenai konsep dan proses sains yang akan memungkinkan seseorang untuk membuat membuat suatu keputusan dengan pengetahuan yang dimilikinya, serta turut terlibat dalam hal kenegaraan, budaya dan pertumbuhan ekonomi, termasuk di dalamnya kemampuan spesifik yang dimilikinya (Widyatiningtyas, 2008).

Keterkaitan antara literasi sains dan hasil belajar yaitu pertama literasi sains berkaitan dengan indikator hasil belajaranalisis, interpretasi, inferensi dan evaluasi. Kompetensi literasi sains kedua yaitu mengevaluasi dan merancang peneyelidikan ilmiah yang berkaitan dengan indikator hasil belajarinterpretasi, inferensi, eksplanasi, dan evaluasi. Kompetensi literasi sains ketiga yaitu menjelaskan data dan fakta secara ilmiah yang berkaitan dengan indikator hasil belajareksplanasi, analisis dan inferensi. (Prahastiwi, 2019)

Literasi sains dapat membentuk peserta didik mampun memecahkan setiap permalasahan setiap permasalahan yang ada, mampu mengambil keputusan, memiliki keterampilan proses sains yang merupakan bagian dari prinsip hasil belajar untuk dapat menilai dalam keputusan sehari-hari Ketika ia berhubungan dengan orang lain dan lingkungannya. (Abidin, Y. et.al., 2017 dan Toharuddin, U. et al., 2011)

Rendahnya pembelajaran sains yang masih bersifat konvensional dan kemampuan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran sains masih dipengaruhi oleh kurikulum dan sistem Pendidikan, kualitas pembelajaran, pemilihan metode dan model pengajaran guru dan pembelajaran sains masih bersifat konvensioanl dengan menghadap materi sains tanpa berusaha memecahkan masalah dan mencari solusi mengakibatkan peserta didik merasa bosan dan kejenuhan dalam proses pembelajaran, hal ini sudah tidak sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional dan pencapaian indikator kompetensi literasi sains serta hasil belajarpeserta didik. (Fred Percival dan Henry Ellington, 1993)

Pencapaian tujuan tersebut diatas dapat dilakukan antara lain dengan mengajar IPA sejak dini dengan menerapkan literasi sains yang disesuaikan dengan perkembangan usia peserta didik pada setiap jenjangnya. Roestiyah (2008) mengatakan bahwa di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapar belajar secara efektif dan efesien serta mengena pada tujuan pembelajaran.

Konsep IPA adalah salah satu materi pembelajaran yang harus dikuasi oleh peserta didik sekolah dasar untuk membekali dalam pembelajaran aktif dan memberikan ruang untuk menguasai sesuatu dengan pikiran-pikiran, karena itu maka belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan filosofinya, maksud dan implikasinya serta aplikasiaplikasinya, sehingga menyebabkan siswa dapat memahami suatu situasi. Sardiman (2001) Di

Sekolah Dasar pembelajaran IPA termuat didalam tematik yang diajarkan secara terpadu atau terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik yang ada pada pelajaran tersebut.

Salah satu konsep IPA dalam pembelajaran tematik di kelas VI sekolah dasar adalah rangkaian listrik yang termuat dalam tema globalisasi. Materi rangkaian listrik yang termuat dalam tema globalisasi kelas VI sangat banyak manfaatnya pada kehidupan sehari-hari. Tapi, pada kenyataannya peserta didik belum memahami dan memanfaatkan konsep IPA tersebut. Untuk mengelola kelas agar tetap nyaman dan terkontrol guru dapat menggunkan LKPD (lembar kerja peserta didik) yang menarik agar peserta didik tidak jenuh dan bosan dalam memecahkan masalah dalam pemeblajaran IPA. LKPD (lembar kerja peserta didik) masih minim dan kebanyakan yang beredar di sekolah masih sederhana baik itu dari segi sajian materi maupun tampilannya.

(Rahayu, 2013)

Kondisi tersebut harus menciptakan kondisi belajar yang nyaman dan menciptakan inovasi pembelajaran melalaui strategi, metode, inovatif dan penggunaan bahan ajar seperti LKPD (lembar kerja peserta didik) yang tepat untuk mendorong keaktifan peserta didik dalam melakukan eksplorasi dan berfikir secara kritis untuk memecahkan masalah dalam pembalajaran IPA pada materi rangkaian listrik pada tema globalisasi.

Hasil observasi dan pengamatan awal di UPT SPF Sekolah Dasar Negeri Mangkura 1 yang ada di Kota Makassar pada tanggal 06 September – 18 September 2021 ditemukan bahwa LKPD (lembar kerja peserta didik) masih sederhana karena tugas peserta didik yang diberikan hanya berdasarkan pada buku paket belum ada LKPD (lembar kerja peserta didik) tersendiri dan belum memenuhi standarisasi pembuatan LKPD. Standarisasi dalam pembuatan LKPD ada kecenderungan masalah yang disajikan tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, tidak memuat materi ajar dan hanya berisikan soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik. (Prastowo, 2011) dan tidak memuat aktivitas belajar yang menarik dan melibatkan peserta didik secara langsung. LKPD (lembar kerja peserta didik) berdasarkan hasil observasi pun menunjukkan mulai dari sampul tidak menarik tidak menunjukkan ketertarikan membaca peserta didik, isi pada LKPD sangat singkat dan belum jelas tidak memuat materi sains, gambar dalam LKPD yang dibuat tidak berwarna, soal-soal dalam LKPD tidak menunjukkan pemecahan masalah masih LOST (Lower Order Thinking Skills) belum bersifat HOST (High Order Thinking Skills).

LKPD seperti ini tidak memberikan pengalaman yang menarik dalam menyelesaikan tugas IPA yang diberikan oleh guru dan tidak mendorong hasil belajar peserta didik lebih baik sehingga LKPD diperlukan dikembangkan agar peserta didik dikembangkan melalui LKPD untuk melatih keterampilan peserta didik untuk memecahkan masalah dan menggali informasi serta memperdalam

konsep IPA melalui pengalaman mengajar antara guru dan peserta didik.

Kesenjangan dalam proses belajar mengajar berdampak pada rendahnya kemampuan hasil belajar dalam memecahkan masalah melalui literasi sains pada konsep IPA terlihat masih ada peserta didik belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar < 75 yaitu sebanyak 37 orang peserta didik dari 69 peserta didik (54%) yang belum tuntas dan 32 peserta didik dari 69 (46%) peserta didik sudah tuntas.

Kesimpulan uraian di atas bahwa rendahnya ketertarikan peserta didik dalam memecahkan masalah melalui LKPD (lembar kerja peserta didik) pada konsep IPA dipenagruhi beberapa faktor yangdikarenakan (1) LKPD yang digunakan tidak menarik, isi dan materi tidak sesuai kebutuhan peserta didik, (2) LKPD yang disediakan tidak memberikan stimulus dan respon antara guru dan peserta didik. Dan (3) penyajian soal pada LKPD masih menggunakan soal lost.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengembangan LKPD (lembar kerja peserta didik) Berbasis Literasi Sains terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Eneregi Listrik Tema Globalisasi Kelas VI UPT SPF SD Negeri Mangkura 1 Makassar”

Dalam dokumen H A S A N NOMOR INDUK MAHASISWA: (Halaman 14-21)

Dokumen terkait