• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen H A S A N NOMOR INDUK MAHASISWA: (Halaman 119-0)

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Pembahasan

Sebelum membahas hasil penelitian pengembangan LKPD berbasis literasi sains, peneliti membandingkan hasil penelitian sebelumnnya yang dilakukan oleh (Rahayu & Budiyono, 2018) pada penelitian pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik(LKPD) berbasis pemecahan masalah ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui proses pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik(LKPD) berbasis pemecahan masalah materi bangun datar (2) Mengetahui kelayakan Lembar Kerja Peserta Didik(LKPD) berbasis literasi

validator LKPD dengan persentase 77% (sangat layak). Hasil rata-rata semua aspek yang diperoleh dari subjek penelitian uji coba pemakaian kelompok kecil (91%) dan uji coba produk kelompok besar (92%) .Dengan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan LKPD berbasis pemecahan masalah ini layak untuk digunakan.

Penelitian di atas mempunyai persamaan yang diiakukan oleh peneliti yaitu; 1) Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), 2) Subjek penelitian sekolah dasar, dan 3) Hasil penelitian disimpufkan LKPD ini layak digunakan. Namun perbedaan yaitu: 1) Materi, 2) Model pengembangan, dan 3) Presentase hasil belajar.

Pembahasan hasil penelitian yang diiakukan oleh peneliti meliputi:

wujud LKPD literasi sains yang dikembangkan, validitas materi, kepraktisan LKPD, dan efektifitas LKPD.

1. Wujud LKPD yang dikembangkan

Dalam pengembangan LKPD berbasis literasi sains yang disajikan dengan modifikasi dari teori Thiagarajan yaitu 4D untuk melaksanakan penelitian yang akan dikembangkan di LKPD berbasis literasi ini. Keunggulan

a. Front-end Analysis (Analisa Awal)

Analisa awal dilakukan untuk mengidentifikasi dan menentukan dasar permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran sehingga melatarbelakangi perlunya pengembangan.Dengan melakukan analisis awal peneliti/pengembang memperoleh gambaran fakta dan alternatif penyelesaian. Hal ini dapat membantu dalan menentukan dan pemilihan perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan.

b. Learner Analysis (Analisa Peserta Didik)

Analisa peserta didik merupakan kegiatan mengidentifikasi bagaimana karakteristik peserta didik yang menjadi target atas pengembangan perangkat pembelajaran. Karakteristik yang dimaksud ialah berkaitan dengan kemampuan akademik, perkembangan kognitif, dan keterampilan individu yang berkaitan dengan topik pembelajaran, media, format, dan bahasa.

c. Task Analysis (Analisa Tugas)

Analisa tugas bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan yang dikaji peneliti untuk kemudian dianalisa ke dalam himpunan keterampilan tambahan yang mungkin diperlukan. Dalam hal ini, guru menganalisa

Dalam analisa konsep dilakukan identifkasi konsep pokok yang akan diajarkan, menuangkannya dalam konsep-konsep individu ke dalam hal yang kritis dan tidak relevan. Analisa konsep selain menganalisis konsep yang akan diajarkan juga menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan secara rasional. Analisa konsep ini meliputi analisa standar kompetensi yang bertujuan untuk menentukan jumlah dan jenis bahan ajar dan analisis sumber belajar, yaitu identifikasi terhadap sumber-sumber yang mendukung penyusunan bahan ajar.

e. Specifying Instructional Objectives (Perumusan Tujuan Pembelajaran)

Perumusan tujuan pembelajaran berguna untuk merangkum hasil dari analisa konsep (concept analysis) dan analisa tugas (task analysis) untuk menentukan perilaku objek penelitian. Rangkuman tersebut akan menjadi landasan dasar dalam menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran untuk selanjutnya diintegrasikan ke dalam materi perangkat pembelajaran yang akan digunakan.

2. Design

Tahap kedua dalam model 4D adalah perancangan (design). Ada 4 langkah yang harus dilalui pada tahap ini yakni constructing criterion-referenced test

Penyusunan standar tes adalah langkah yang menghubungkan tahap pendefinisan dengan tahap perancangan. Penyusunan standar tes didasarkan pada hasil analisa spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisa peserta didik. Dari hal ini disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes disesuaikan dengan kemampuan kognitif peserta didik dan penskoran hasil tes menggunakan panduan evaluasi yang memuat penduan penskoran dan kunci jawaban soal. Pada tahapan ini peneliti tidak terjun langsung dalam pemberian standar tes awal diperoleh dari hasil observasi dan hasil penilaian yang dilakukan oleh guru selama melakukan proses pembelajaran berlangsung di kelas VI UPT SDN Mangkura 1 Makassar.

b. Media Selection (Pemilihan Media)

Secara garis besar pemilihan media dilakukan untuk identifikasi media pembelajaran yang sesuai/relevan dengan karakteristik materi.

Pemilihan media didasarkan kepada hasil analisa konsep, analisis tugas, karakteristik peserta didik sebagai pengguna, serta rencana penyebaran menggunakan variasi media yang beragam. Pemilihan media harus didasari untuk memaksimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses pengembanan bahan ajar pada proses pembelajaran.

pemilihan strategi, pendekatan, metode, dan sumber pembelajaran.

d. Initial Design (Rancangan Awal)

Bahwa rancangan awal adalah keseluruhan rancangan perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan sebelum ujicoba dilakukan.

Rancangan ini meliputi berbagai aktifitas pembelajaran yang terstruktur dan praktik kemampuan pembelajaran yang berbeda melalui praktik mengajar.

3. Develop

Tahap ketiga dalam pengembangan perangkat pembelajaran model 4D adalah pengembangan (develop). Tahap pengembangan merupakan tahap untuk menghasilkan sebuah produk pengembangan. Tahap ini terdiri dari dua langkah yaitu expert appraisal (penilaian ahli) yang disertai revisi dan delopmental testing (uji coba pengembangan).

a. Expert Appraisal (Penilaian Ahli)

Expert appraisal merupakan teknik untuk mendapatkan saran perbaikan materi Thiagarajan dkk (1974). Dengan melakukan penilaian oleh ahli dan mendapatkan saran perbaikan perangkat pembelajaran yang dikembangkan selanjutnya direvisi sesuai saran ahli. Penilaian ahli

Uji coba pengembangan dilaksanakan untuk mendapatkan masukan langsung berupa respon, reaksi, komentar peserta didik, para pengamat atas perangkat pembelajaran yang sudah disusun. Uji coba dan revisi dilakukan berulang dengan tujuan memperoleh perangkat pembelajaran yang efektif dan konsisten.

4. Disseminate

Tahap penyebarluasan dilakukan untuk mempromosikan produk hasil pengembangan adar diterima pengguna oleh individu, kelompok, atau sistem. Pengemasan materi harus selektif agar menghasilkan bentuk yang tepat. Ada tiga tahap utama dalam tahap disseminate yakni validation testing, packaging, serta diffusion and adoption.

a. Dalam tahap validation testing, produk yang selesai direvisi pada tahap pengembangan diimplementasikan pada target atau sasaran sesungguhnya. Pada tahap ini juga dilakukan pengukuran ketercapaian tujuan yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas produk yang dikembangkan. Selanjutnya setelah diterapkan, peneliti/pengembang perlu mengamati hasil pencapaian tujuan, tujuan yang belum dapat tercapai harus dijelaskan solusinya agar tidak berulang saat setelah produk disebarluaskan.

orang lain dan dapat digunakan (diadopsi) pada kelas mereka.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalm melaksanakan diseminasi/penyebarluasan adalah analisa pengguna, strategi dan tema, pemilihan waktu penyebaran, dan pemilihan media penyebaran.

Keunggulan dalam pengembangan LKPD berbasis literasi sains ini adalah sebagai berikut:

1. Cover yang digunakan dalam pengembangan LKPD berbasis literasi sains ini lebih menarik dari segi desain sesuai dengan tema dan tujuan penelitian yang ingin dicapai.

2. Petunjuk penggunaan dalam LKPD literasi sains mudah dipahami 3. LKPD literasi sains yang dikembangkan membantu siswa

menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan

4. LKPD literasi sains Memberi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh peserta didik

5. LKPD literasi sains dapat Mengecek tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disajikan

catatan materi yang dipelajari melalui kegiatan pembelajaran

8. LKPD literasi sains ini dapat Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan terhadap materi

9. LKPD literasi Sains ini dapat Melatih kemandirian belajar peserta didik baik secara individu maupun kelompok

10. LKPD literasi sains ini dapat Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada peserta didik

11. LKPD literasi sains ini dapat berfungsi sebagai petunjuk praktikum.

2. Validitas LKPD

Hasil penilaian dari 2 validator menunjukkan bahwa kesulurahan tahan ajar LKPD dan instrumen penelitian dinyatakan sangat valid. Terkdit dengan validitas LKPD, ada 3 aspek yang dinilai yaitu: 1) Aspek materi, 2) Aspek konstruksi, 3) Aspek bahasa dari LKPD yang dikembangkan pada aspek materi ada beberapa aspek yaitu materi energi listrik dihasilkan sudah sesuai dengan kompetensi dasar, urutan materi sesuai dengan kompetensi dasar, materi sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran, konsep materi sudah benar, dan soal-soal sesuai kompetensi dasar diperoleh rata-rata 3,8 dengan kategori sangat valid.

menemukan konsep diperoleh rata-rata 3,79 dengan kategori valid.

Aspek bahasa meliputi beberapa aspek yaitu tulisan LKPD terlihat gan jelas.

tulisan mudah dibaca, bahasa sesuai pemikiran siswa, menggunakan kalimat yang sederhana, penulisan sesuai dengan aturan bahasa yang baik dan gambar dapat dilihat dengan jelas diperoleh rata-rata 3,83 dengan kategori valid, Skor ketiga aspek materi, konstruksi, dan bahasa diperoleh rata-rata 3,81 kategori sangat valid.

3. Kepraktisan LKPD

Hasil penilaian dari dua validator menunjukkan bahwa kesulurahan bahan ajar LKPD dari segi kepraktisan dan instrumen penelitian dinyatakan sangat valid. Terkait dengan validitas kepraktisan ada 3 aspek yaitu:

kepraktisan LKPD, 2) respons siswa terhadap LKPD, dan 3) respons guru terhadap LKPD, dari LKPD yang dikembangkan pada aspek kepraktisan yang ada beberapa aspek yaitu petunjuk penggunaan LKPD membantu dalam menggunkannya, memiliki tulisan yang mudah dibaca, warna yang cocok untuk dilihat, memiliki gambar yang menyampaikan pesan, memiliki kotak info dalam menemukan konsep, isi sangat membantu memahami materi, Latihan di akhir materi membuat siswa tertantang, meningkatkan minat dan motivasi belajar,

yaitu petunjuk penggunaan LKPD membantu dalam menggunakannya.

memiliki tulisan yang mudah dibaca, warna yang cocok untuk dilihat. memiliki gambar yang menyampaikan pesan, memiliki kotak info dalam menemukan konsep, isi sangat membantu memahami latihan di akhir materi membuat siswa tertantang, meningkatkan minat materi, dan motivasi belajar, LKPD mudah digunakan, dan penampilan LKPD diperoleh rata-rata 3,9 dengan kategori sangat praktis

Hasil analisis angkatan respons siswa meliputi beberapa aspek sebagai berikut LKPD menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan kalimat yang tidak menimbulkan makna ganda, petunjuk kegiatan LKPD jelas, pemilihan jenis huruf, ukuran serta spasi mempermudah untuk dibaca, penggunaan lembar kerja yang membuat saya tertarik, mampu memahami materi yang diajarkan, saya termotivasi untuk rnempelajari materi pada saat pembelajaran, menyimpulkan materi setiap kegiatan, senang mempelajari materi yang diajarkan dan LKPD ini sesuai untuk meningkatkan minat diperoleh skor rata-rata 3,88 kategori sangat baik.

Hasil analisis angket respons guru meliputi beberapa aspek sebagai berikut penggunaan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan kalimat tidak menimbulkan makna ganda, petunjuk penggunaan dalam LKPD jelas,

mengarahkan siswa dalam menyimpulkan materi, siswa senang rnempelajari materi yang menggunakan LKPD, dan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari diperoleh dengan skor rata-rata 4,70 kategori sangat baik.

4. Efektifitas LKPD

Hasil penilaian dari tiga validator menunjukkan bahwa keselurahan bahan ajar LKPD dari segi efektifitas dan instrumen penelitian dinyatakan sangat valid. Terkait dengan validitas efekfifitas ada 2 aspek yang dikembangkan observasi akitvitas siswa dan observasi aktivitas guru.

Observasi aktivitas siswa meliputi beberapa aspek yaitu petunjuk lembar pengamatan sangat jelas, kriteria penilaian dinyatakan jelas,penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baku, bahasa yang digunakan komunikatif, kejelasan petunjuk penyelesaian masalah, bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dimengerti diperoleh rata-rata 3,83 dengan kategori sangat efektif.

Observasi aktivitas guru meliputi beberapa aspek yaitu petunjuk lembar pengamatan sangat jelas, kriteria penilaian dinyatakan jelas,penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baku, bahasa yang digunakan komunikatif, kejelasan petunjuk penyelesaian masalah, bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dimengerti diperoleh rata- rata 3,83 dengan kategori sangat efektif.

masalah, siswa mencari informasi dalam pemecahan masalah, melakukan kegiatan sesuai dengan langkah-langkah di dalam LKPD, menggambar sesuai dengan langkah-langkah, menyimpulkan materi pembelajaran, mengajukan pernyataan apabila mengalami kesulitan, dan menjawab soal dengan menggunkan konsep materi diperoleh skor rata-rata 3,51 kategori sangat efektif.

Hasii obsarvasi aktivitas guru meliputi beberapa aspek yakni membuka pelajaran dengan melakukan apersepsi, mengajukan pertanyaan untuk meningkatkan minat siswa, menerima respon siswa secara terbuka, menyampaikan tujuan pembelajaran, membentuk kelompok, membagikan LKPD kepada peserta didik, membimbing siswa yang mengalami kesulitan, memandu jalannya diskusi, memberikan soal latihan, menilai kegiatan peserta didik, dan membimbing siswa untuk menyimpulkan masalah diakhir pembelajaran diperoleh skor rata-rata 3,75 dengan kategori sangat efektif.

5. Hasil Tes Hasil belajar

Berdasarkan hasil tes hasil belajar siswa yang digunakan mengukur hasil belajar pada 36 siswa kelas VI sekolah dasar diperoleh gambaran bahwa pada pretest rata-rata test belajar siswa adalah 62 berada pada kategori sedang. Sementara pada test posttest rata-rata hasil belajar siswa sebesar 91

kategori tinggi,

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan rhasil belajar, dengan menggunakan LKPD berbasis literasi sains dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil belajar uji coba pada siswa kelas VI SDN Mangkura 1 Makassar, subjek uji coba sebanyak 6 siswa mulai hasil belajar siswa sudah yang ditentukan yaitu belum memenuhi KKM.

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada uji coba lapangan pada kelas VI SDN Mangkura I Makassar, nilai pottest yakni sebanyak 34 siswa termasuk kategori tuntas (94,44%) dan 2 siswa termasuk kategori belum tuntas (5,56%), dengan KKM 70. Sedangkan hasil belajar pretest yakni sebanyak 4 siswa termasuk kategori tuntas (11,11%) dan 32 siswa termasuk kategori belum tuntas (88,89%) Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dari pretest ke posttest mengalami peningkatan hasil belajar.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan basil pengembangan dan uji coba produk terkait bahan aiar LKPD IPA dengan berbasis literasi sains untuk menumbuhkan hasil belajar siswa Kelas VI sekolah dasar pada materi energi listrik dalam pembelajaran IPA, maka beberapa hal yang dapat dikaji adalah sebagai berikut.

1. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) dan instrumen penelitian yang sudah divalidasi oleh 3 validator berupa lembar validasi materi, lembar validasi konstruksi, lembar validasi bahasa, lembar validasi kepraktisan LKPD.

Lembar validasi kepraktisan respons siswa terhadap LKPD, lembar validasi kepraktisan respons guru terhadap LKPD, lembar validasi observasi aktivitas siswa, dan lembar validasi observasi aktivitas guru diaktegorikan valid.

2. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) dinyatakan praktis karena dua indikator tercapai yaitu respons siswa sangat praktis dan respons guru terhadap LKPD sangat praktis.

3. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) dinyatakan efektif karena tiga indikator yaitu hasil observasi aktivitas siswa dalam kategori sangat aktivitas guru

120

dalam kategori sangat aktif, dan siswa dalam kategori baik terhadap penggunaan LKPD.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka beberapa hal yang di sarankan sebagai berikut.

1. LKPD berbasis literasi sains yang dihasilkan dapat digunakan sebagai alternatif dalam menerapkan pemecahan masalah karena siswa dapat memecahkan sendiri rumus energi listrik dari pengalaman sebelumnya, 2. LKPD digunakan sesuai dengan langkah-langkah yang ada di Lembar

Kegiatan Peserta Didiik

3. Pengembangan LKPD IPA dapat dikembangkan untuk semua materi energi listrik dengan berbasis literasi sains digunakan untuk memecahkan masalah dengan rumus energi listrik.

4. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam mengembangkan LKPD dengan berbasis literasi sains.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Y. 2017. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: Refika Adiatama

Asyari, M. 2006. Penerapan Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat.

Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Cahyana, U, Kadir, A., & Gherardini, M. 2017. Relasi Kemampuan Berfikir Kritis Dalam Kemampuan Literasi Sains Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan, 26(1), 14-22

Chalijah H, 1994. Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al-Ikhlas

Costa, A. L. 1985. Developing Minds A Resource Book for Teaching Thinking. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

Dwijananti. 2010. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa melalui Pembelajaran Problem Based Instruction pada Mata Kuliah Fisika Lingkungan. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia

Depdiknas Ditjen Manajemen dan Dikdasmen TK dan SD 2007

Ennis, R. 1996. Critical Thinking. New Jersey: Simon & Schuster/a Viacom Company.

Eko, P. W, 2011. Evaluasi Program Pembelajaran Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Pendidik, cet II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Filsaime, D. K. 2008. Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Jakarta:

Prestasi Pustaka.

Hake, R.R. 1999. Analyzing Change/Gain Score, Retrieved November2019, froem hhtp://www.physics.indiana.edu/-sdi/analyzing Change-Gain.pdf

Harris, R. 1998. Introduction to Creative Thinking . [Online]. Tersedia:

http://www.virtualsalt.com/crebook1.htm [ 10 Oktoner 2021 ].

Hendro, D dan Jenny R.E. K. 1991/1992. Pendidikan IPA II. Jakarta:

Depdikbud.

Holdbrook, J., & Rannikmae, M. 2009. The meaning od scientific literacy.

International Journal of Environmental and Science Education, 4(3), 275-288

Khabibah, S, 2006. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika dengan Soal Terbuka Meningkatkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kusuma, A. Y. 2016. Literasi Sains Dalam Pembelajaran IPA. Issn, 7(3B),

1693–7945. Retrieved from

123

http://ejournal.unwir.ac.id/file.php?file=preview_jurnal&id=735&cd=0 b2173ff6ad6a6- fb09c95f6d50001df6&name=8. Yani Kusuma Astuti STKIP NU INDRAMAYU_GW _Juni_2016.pdf

M. Alisuf, S, 2010. Psikologi Pendidikan Cet V. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Mulyono, A, 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta:

Rineka Cipta

Muhibbin, S, 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Bumi Aksara

Nur, A. 2016. “Meningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui Penggunaan Mind Map Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Bekasi Utara”, Jurnal Pancar Dasar Vol. 6 Edisi 1.

Nana, S dan Ahmad, R, 2001. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru OECD.2018. PISA 2018 Results (Volume II): Where All Students Can

Pratiwi, U, D et.al., 2018. Pentingnya Literasi Sains pada Pembelajaran IPA SMP Abad 21, Indonesia Journal of Natural Science Education (IJNSE). Vol. 1, no. 1 : 25

Prastowo, A. 2011. Panduan Kreatif membuat Bahan Ajar Inovatif.

Yogyakarta: Diva Express

Purwanto, N. 1998. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Purwanto, 2011. Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Rahayu D, 2018. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Pemecahan Masalah Materi Bangun Datar, JPGSD Vol 06.

N0 3

Rahayuni, G. 2016. Hubungan keterampilan berfikir kritis dan literasi sains pada pembelajaran IPA terpadu dengan model PBM dan STM. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA, 2 (2), 131-146

Roestiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rhineka Cipta

Sardiman, AM. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:

Rajawali

Santrock, J.W., 2007. Psikologi Pendidikan edisi kedua. Jakarta: Kencana Pernada Media Grup

Sihotang, K, et al., Critical Thinking: membangun pemikiran Lgis. Jakarta:

PT. Pustaka Sinar Harapan

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta:

Rineka Cipta

Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di SD. Jakarta : kencana Prenadamedia Grup.

Samatowa, U. 2016. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Indeks.

Tawil, M. 2011. Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif. Karya tidak diterbitkan

Toharuddin, U., Hendrawati, S., & Rustaman, A., 2011. Membangun Literasi Sains Peserta Didik. Bandung: Humaniora.

Yhiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M.I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children.

Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/Spesial Education, University of Minnesota.

Yuliati, Y. 2017. Literasi Sains Dalam pembelajaran IPA. Jurnal Cakrawala Pendas, 3(2)

Trianto, 2010. Model Pembelajaran Terpadu, Jakarta: PT Bumi Aksara Tjandra & dkk. 2005. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Di Sekolah

Dasar. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Widyatiningtyas, R. 2008. Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA. EDUCARE:

Jurnal Pendidikan dan Budaya. [Online]. (http://www.educare.e-fkipunla.net).

Widoyoko, Eko Putro 2009. Evaluasi Program Pembelajaran.Yogyakarta ; Pustaka Belajar.

Wisudawati dan Sulistyowati, 2014. Metodologi Pembelajaran IPA, Jakarta:

Bumi Aksara,

Dalam dokumen H A S A N NOMOR INDUK MAHASISWA: (Halaman 119-0)

Dokumen terkait