• Tidak ada hasil yang ditemukan

H A S A N NOMOR INDUK MAHASISWA:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "H A S A N NOMOR INDUK MAHASISWA:"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

i

DEVELOPMENT OF SCIENCE LITERATURE BASED LKPD ON STUDENTS' LEARNING OUTCOMES ON ELECTRICITY

GLOBALIZATION THEME CLASS VI UPT SPF SDN MANGKURA 1 MAKASSAR

TESIS

Oleh:

H A S A N

NOMOR INDUK MAHASISWA: 10.50.611.040.20

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN DASAR

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

(2)
(3)

iii

(4)

iv

Penelitian ini bertujuan mengembangkan lembar kerja peserta didik berbasis literasi sains yang valid, efektif dan praktis. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R & D) dengan model pengembangan 4D yaitu define, design, development dan disseminate. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIa yang digunakan untuk uji coba terbatas dengan jumlah peserta didik sebanyak 6 peserta didik dan kelas VIb digunakan sebagai kelas uji coba luas dengan jumlah peserta didik sebanyak 30 peserta didik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen perangkat pembelajaran yaitu RPP, dan Lembar Kerja Peserta Didik serta instrumen pengumpulan data yaitu angket validasi, angket respon guru dan peserta didik, lembar tes dan lembar observasi. Teknik analisis data dilakukan untuk melihat valid, efektif dan praktis dari lembar kerja peserta didik berbasis literasi sains. Berdasarkan analisis kevalidan berdasarkan data pengisian instrumen oleh uji ahli dan praktisi baik dari segi desain dan materi menunjukkan bahwa lembar kerja peserta didik berbasis Literasi sains dinilai dengan skor rata-rata 3,90 yaitu Sangat Valid.

Kepraktisan respons siswa terhadap LKPD meliputi beberapa aspek yaitu petunjuk penggunaan LKPD diperoleh rata-rata 3,92 dengan kategori sangat praktis dan berdasarkan keefktifannya diperoleh rata-rata 3,89 dengan kategori sangat efektif. Berdasarkan hasil pengamatan observasi diperoleh skor rata-rata 3,51 kategori sangat efektif. Hasil yang ditunjukkan bahwa skor N-gain 0,75 persentase Gain adalah 75% dengan kategori efektif.

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada kelas VI SDN Mangkura I Makassar, nilai pottest yakni sebanyak 34 siswa termasuk kategori tuntas (94,44%) dan 2 siswa termasuk kategori belum tuntas (5,56%), dengan KKM 70. Sedangkan hasil belajar pretest yakni sebanyak 4 siswa termasuk kategori tuntas (11,11%) dan 32 siswa termasuk kategori belum tuntas (88,89%) Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dari pretest ke posttest mengalami peningkatan hasil belajar.

Kata Kunci : Lembar Kerja Peserta Didik; Literasi Sains dan Hasil Belajar

(5)

v

(6)

vi

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat terselesaikan dengan baik.

Serta salam dan salawat peneliti senantiasa hanturkan kepada baginda Nabi besar Muhammad Saw dan para sahabatnya yang telah memberi petunjuk dan cahaya bagi umat manusia. Adapun judul tesis yang diangkat dan dikembangkan dalam penelitian ini adalah “Pengembangan LKPD Berbasis Literasi Sains Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Energi Listrik Tema Globalisasi Siswa Kelas VI UPT SPF SDN Mangkura 1 Makassar”.

Peneliti mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya karena menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini dapat terselesaikan berkat dukungan kedua orang tua, dan keluarga, yang telah mencurahkan segala cinta dan kasih sayangnya, bantuan, motivasi, dan do’a terbaik kepada peneliti sehingga peneliti dapat menyelesaikan studi ini dengan baik, serta kesuksesan dan kebaikan bagi peneliti dunia dan akhirat.

Selanjutnya, Peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

(7)

vii

2. Bapak Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag. Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberi izin dan kesempatan, serta memberi ilmu bagi peneliti selama proses studi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Hj. Sulfasyah, S.Pd., MA., Ph.D. Ketua Program Studi Magister Pendidikan Dasar Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan kesempatan dan kemudahan dalam penyusunan tesis ini.

4. Bapak Dr. Syarifuddin Kune, M.Si Pembimbing 1 dan Ibu Dr. Rahmawati, M.Pd Pembimbing 2 yang telah meluangkan waktunya, memberi petunjuk, arahan dan bimbingan bagi peneliti dalam penyusunan tesis dari awal hingga akhir penyusunan tesis ini.

5. Kepala sekolah UPT SDN Mangkura 1 Makassar serta guru kelas VI yang telah menerima dan memberi masukan serta bantuan kepada peneliti selama melaksanakan penelitian.

Kepada teman-teman kelas A Angkatan 2020, teman-teman dekat, sahabat dan berbagai pihak yang telah memberi bantuan dan motivasi bagi peneliti yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.

Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini terdapat keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati

(8)

viii

guru, bagi pembaca dan bagi peneliti selanjutnya, demi tercapainya tujuan dan cita-cita negara serta kemajuan Pendidikan. Aamin Allahumma Aamiin.

Makassar, Mei 2022 Peneliti,

H A S A N

NIM: 105.06.11.040.20

(9)

ix

...

i

LEMBAR

PENGESAHAN

...

ii

ABSTRAK

...

iv

ABSTRACK

...

v

KATA PENGANTAR

...

vi

DAFTAR ISI

...

ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Spesifikasi Produk ... 9

E. Manfaat Penelitian ... 9

F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan ... 10

G. Defenisi Operasional ... 11

(10)

x

4. Lembar Kerja Siswa ... 35

B. Penelitian Yang Relevan ... 44

C. Kerangka Pikir ... 47

BAB III METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ... 51

A. Model Penelitian dan Pengembangan ... 51

B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan ... 51

C. Uji Coba Produk ... 59

1. Desain Uji Coba ... 59

2. Subjek Coba dan Lokasi Penelitian ... 59

3. Jenis Data ... 59

4. Instrumen Pengumpulan Data ... 61

5. Teknis Analisis Data ... 62

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 70

A. Hasil Penelitian ... 70

B. Pembahasan ... 98

BAB V PENUTUP ... 111

A. Kesimpulan ... 111

B. Saran... 112

DAFTAR PUSTAKA ... 113 LAMPIRAN

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel Teks Halaman

1.1 Peringkat literasi Sains Indonesia Sejak Tahun 2000- 2018

2

2.1 Indikator Literasi Sains 18

3.1 Subjek dan Tahapan Pengembangan LKPD 57 3.2 Skala Penilaian untuk Lembar Validasi 61 3.3 Skala Penilaian untuk Lembar Kepraktisan 62 3.4 Kategorisasi Kriteria Kevalidan LKPD 63

3.5 Kategorisasi Kepraktisan LKPD 65

3.6 Kategorisasi Keefektifan LKPD 67

3.7 Konversi Nilai Hasil Belajar 68

3.8 Interpretasi N-Gain 69

4.1 Peta Kebutuhan LKPD Literasi sanis 72 4.2 Spesifikasi Tujuan Pembelajaran LKPD Berbasis

Literasi Sains

74 4.3 Kegiatan Pembelajaran LKPD Berbasis Literasi Sains 77

4.4 Validasi Materi 78

4.5 Hasil validasi Konstruksi 80

4.6 Hasil Validasi Bahasa 81

4.7 Hasil Analisis Kepraktisan 82

4.8 Hasil Analisis Kepraktisan Siswa 84

4.9 Hasil Analisis Kepratisan Guru 86

(12)

xii

4.15 Hasil Aktivitas Siswa Uji Coba Lapangan 93 4.16 Hasil Akrivitas Guru Uji Coba Lapangan 93 4.17 Hasil Respon Siswa Uji Coba Lapangan 94

4.18 Hasil Respon Guru Uji Coba 95

4.19 Hasil Belajar Siswa 96

4.20 Perbandingan Nilai Pre Test dan Posttest 97

DAFTAR GAMBAR

Tabel Teks Halaman

2.1 Diagram Alur Penyusunan LKPD 43

2.3 Kerangka Pikir Penelitian 50

3.1 Desain Uji Coba LKPD 57

3.2 Pengembangan LKPD Berbasis Literasi Sains Model 4D

58

4.1 Sampul LKPD Sebelum Revisi 89

4.2 Sampul LKPD Sesudah Revisi 89

(13)

xiii

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan pembelajaran di sekolah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin meningkat dengan berkembangnya zaman. Hal tersebut menimbulkan adanya kompetisi dalam berbagai aspek dalam kehiudpuan, salah satunya adalah di bidang Pendidikan. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Menyadari akan hal itu SDM di sekolah dasar, maka dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Budaya membaca, menulis dan berhitung.

Salah satu ayat Al – Qur’an yang memerintahkan untuk membaca adalah surah Al Alaq ayat 1 – 2 yang berbunyi:

ِقْرِأ ْ اِْم ِ ْب ِِّ ْر َِّ ِي ْ ََْْ َْۚ – َْْ َْۚ ْامَِْْ ِ ْ ِا ْ َلَْ ٍْۚ

Terjemahan:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah mencitptakan manusia dari segumpal darah. (QS. Al Alaq: 1 – 2).

Dijelaskan pula melalui firman Allah SWT surat Al Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:

1

(15)

Terjemahannya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan

Ayat tersebut diatas memerintahkan kepada hambanya untuk membaca segala apa yang ada di bumi mulai dari hal paling kecil sampai hal terbesar karena tidak lepas dari proses berfikir dan membaca keadaan yang ada di muka bumi.

Pendidikan yang merupakan salah satu wadah untuk membentuk siswa menjadi generasi yang berkompeten dan terciptanya proses belajar mengajar di dalam kelas. Pendidikan yang semakin maju siswa harus memiliki keterampilan dan inovasi untuk menggunakan media indormasi dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan siswa.

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Dvelopment) merupakan organisasi internasional yang concern pada perkembangan dunia pendidikan secara periodic melakukan Programme for International Student Assestment (PISA) setiap tiga tahun sekali dan Indonesia salah satu negara yang ikut serta dalam penilaian salah satunya adalah literasi sains dan selalu dibawah standar internasional. (OECD, 2018).

(16)

Tabel 1.1 peringkat Literasi Sains Indonesia sejak tahun 2000 – 2018 Tahun Studi Skor rata-rata

Indonesia

Skor Maksimum

Peringkat Indonesia

Jumlah Negara Peserta Studi

2000 393 500 38 41

2003 395 500 38 40

2006 393 500 50 57

2009 383 500 60 65

2013 375 500 64 65

2015 379 500 63 73

2018 371 500 74 79

Sumber: OECD (2018) & Suciati, et. Al (2014)

Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa secara umum literasi sains Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini perlu dilakukan upaya untuk mendorong Indonesia memperbaiki proses pembelajaran literasi sains secara berkesinambungan. Pada tahun 2021 kegiatan tersebut belum terlaksana.

Untuk itu salah satu langkah yang perlu ditempuh harus disesuaikan dengan tujuan Pendidikan Nasional Indonesia itu sendiri sesuai Pasal 3 UU No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mendiskripsikan tentang pengembangan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan menjadi warga negarayang demokratis serta bertanggungjawab.

Pendidikan yang berkualitas tentunya melibatkan siswa untuk aktif belajar dan mengarahkan terbentuknya nilai-nilai yang dibutuhkan siswa dalam menempuh kehidupan. (Sani, 2014) Sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional literasi sains untuk peserta didik adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berfikir secara kritis dalam memecahkan

(17)

masalah dan mencari informasi serta menemukan suatu permasalahan.

(Prahastiwi, 2019).

Literasi sains yaitu suatu ilmu pengetajuan dan pemahaman mengenai konsep dan proses sains yang akan memungkinkan seseorang untuk membuat membuat suatu keputusan dengan pengetahuan yang dimilikinya, serta turut terlibat dalam hal kenegaraan, budaya dan pertumbuhan ekonomi, termasuk di dalamnya kemampuan spesifik yang dimilikinya (Widyatiningtyas, 2008).

Keterkaitan antara literasi sains dan hasil belajar yaitu pertama literasi sains berkaitan dengan indikator hasil belajaranalisis, interpretasi, inferensi dan evaluasi. Kompetensi literasi sains kedua yaitu mengevaluasi dan merancang peneyelidikan ilmiah yang berkaitan dengan indikator hasil belajarinterpretasi, inferensi, eksplanasi, dan evaluasi. Kompetensi literasi sains ketiga yaitu menjelaskan data dan fakta secara ilmiah yang berkaitan dengan indikator hasil belajareksplanasi, analisis dan inferensi. (Prahastiwi, 2019)

Literasi sains dapat membentuk peserta didik mampun memecahkan setiap permalasahan setiap permasalahan yang ada, mampu mengambil keputusan, memiliki keterampilan proses sains yang merupakan bagian dari prinsip hasil belajar untuk dapat menilai dalam keputusan sehari-hari Ketika ia berhubungan dengan orang lain dan lingkungannya. (Abidin, Y. et.al., 2017 dan Toharuddin, U. et al., 2011)

(18)

Rendahnya pembelajaran sains yang masih bersifat konvensional dan kemampuan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran sains masih dipengaruhi oleh kurikulum dan sistem Pendidikan, kualitas pembelajaran, pemilihan metode dan model pengajaran guru dan pembelajaran sains masih bersifat konvensioanl dengan menghadap materi sains tanpa berusaha memecahkan masalah dan mencari solusi mengakibatkan peserta didik merasa bosan dan kejenuhan dalam proses pembelajaran, hal ini sudah tidak sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional dan pencapaian indikator kompetensi literasi sains serta hasil belajarpeserta didik. (Fred Percival dan Henry Ellington, 1993)

Pencapaian tujuan tersebut diatas dapat dilakukan antara lain dengan mengajar IPA sejak dini dengan menerapkan literasi sains yang disesuaikan dengan perkembangan usia peserta didik pada setiap jenjangnya. Roestiyah (2008) mengatakan bahwa di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapar belajar secara efektif dan efesien serta mengena pada tujuan pembelajaran.

Konsep IPA adalah salah satu materi pembelajaran yang harus dikuasi oleh peserta didik sekolah dasar untuk membekali dalam pembelajaran aktif dan memberikan ruang untuk menguasai sesuatu dengan pikiran-pikiran, karena itu maka belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan filosofinya, maksud dan implikasinya serta aplikasiaplikasinya, sehingga menyebabkan siswa dapat memahami suatu situasi. Sardiman (2001) Di

(19)

Sekolah Dasar pembelajaran IPA termuat didalam tematik yang diajarkan secara terpadu atau terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik yang ada pada pelajaran tersebut.

Salah satu konsep IPA dalam pembelajaran tematik di kelas VI sekolah dasar adalah rangkaian listrik yang termuat dalam tema globalisasi. Materi rangkaian listrik yang termuat dalam tema globalisasi kelas VI sangat banyak manfaatnya pada kehidupan sehari-hari. Tapi, pada kenyataannya peserta didik belum memahami dan memanfaatkan konsep IPA tersebut. Untuk mengelola kelas agar tetap nyaman dan terkontrol guru dapat menggunkan LKPD (lembar kerja peserta didik) yang menarik agar peserta didik tidak jenuh dan bosan dalam memecahkan masalah dalam pemeblajaran IPA. LKPD (lembar kerja peserta didik) masih minim dan kebanyakan yang beredar di sekolah masih sederhana baik itu dari segi sajian materi maupun tampilannya.

(Rahayu, 2013)

Kondisi tersebut harus menciptakan kondisi belajar yang nyaman dan menciptakan inovasi pembelajaran melalaui strategi, metode, inovatif dan penggunaan bahan ajar seperti LKPD (lembar kerja peserta didik) yang tepat untuk mendorong keaktifan peserta didik dalam melakukan eksplorasi dan berfikir secara kritis untuk memecahkan masalah dalam pembalajaran IPA pada materi rangkaian listrik pada tema globalisasi.

(20)

Hasil observasi dan pengamatan awal di UPT SPF Sekolah Dasar Negeri Mangkura 1 yang ada di Kota Makassar pada tanggal 06 September – 18 September 2021 ditemukan bahwa LKPD (lembar kerja peserta didik) masih sederhana karena tugas peserta didik yang diberikan hanya berdasarkan pada buku paket belum ada LKPD (lembar kerja peserta didik) tersendiri dan belum memenuhi standarisasi pembuatan LKPD. Standarisasi dalam pembuatan LKPD ada kecenderungan masalah yang disajikan tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, tidak memuat materi ajar dan hanya berisikan soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik. (Prastowo, 2011) dan tidak memuat aktivitas belajar yang menarik dan melibatkan peserta didik secara langsung. LKPD (lembar kerja peserta didik) berdasarkan hasil observasi pun menunjukkan mulai dari sampul tidak menarik tidak menunjukkan ketertarikan membaca peserta didik, isi pada LKPD sangat singkat dan belum jelas tidak memuat materi sains, gambar dalam LKPD yang dibuat tidak berwarna, soal-soal dalam LKPD tidak menunjukkan pemecahan masalah masih LOST (Lower Order Thinking Skills) belum bersifat HOST (High Order Thinking Skills).

LKPD seperti ini tidak memberikan pengalaman yang menarik dalam menyelesaikan tugas IPA yang diberikan oleh guru dan tidak mendorong hasil belajar peserta didik lebih baik sehingga LKPD diperlukan dikembangkan agar peserta didik dikembangkan melalui LKPD untuk melatih keterampilan peserta didik untuk memecahkan masalah dan menggali informasi serta memperdalam

(21)

konsep IPA melalui pengalaman mengajar antara guru dan peserta didik.

Kesenjangan dalam proses belajar mengajar berdampak pada rendahnya kemampuan hasil belajar dalam memecahkan masalah melalui literasi sains pada konsep IPA terlihat masih ada peserta didik belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar < 75 yaitu sebanyak 37 orang peserta didik dari 69 peserta didik (54%) yang belum tuntas dan 32 peserta didik dari 69 (46%) peserta didik sudah tuntas.

Kesimpulan uraian di atas bahwa rendahnya ketertarikan peserta didik dalam memecahkan masalah melalui LKPD (lembar kerja peserta didik) pada konsep IPA dipenagruhi beberapa faktor yangdikarenakan (1) LKPD yang digunakan tidak menarik, isi dan materi tidak sesuai kebutuhan peserta didik, (2) LKPD yang disediakan tidak memberikan stimulus dan respon antara guru dan peserta didik. Dan (3) penyajian soal pada LKPD masih menggunakan soal lost.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengembangan LKPD (lembar kerja peserta didik) Berbasis Literasi Sains terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Eneregi Listrik Tema Globalisasi Kelas VI UPT SPF SD Negeri Mangkura 1 Makassar”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana wujud LKPD lieterasi sains di kembangkan ?

(22)

2. Apakah lembar kerja peserta didik berbasis literasi sains yang dikembangkan valid?

3. Apakah lembar kerja peserta didik berbasis literasi sains yang dikembangkan praktis untuk peserta didik?

4. Apakah lembar kerja peserta didik berbasis literasi sains yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis:

1. Wujud LKPD literasi sains dikembangkan.

2. Kevalidan LKPD berbasis literasi terhadap hasil belajar siswa siswa pada energi alternatif tema globalisasi kelas VI UPT SPF SD Negeri Mangkura 1 Makassar

3. Kelayakan LKPD berbasis literasi sains terhadap hasil belar siswa siswa pada energi alternatif tema globalisasi kelas VI UPT SPF SD Negeri Mangkura 1 Makassar

4. Keefektifan LKPD berbasis literasi sains terhadap hasil belajar siswa siswa pada energi alternatif tema globalisasi kelas VI UPT SPF SD Negeri Mangkura 1 Makassar

D. Spesifik Produk

Spesifikasi produk yang dikembangkan dalam penelitian ini yakni:

lembar kerja peserta didik (LKPD) peserta didik berbasis literasi sains untuk

(23)

meningkatkan hasil belajarmelalui konsep IPA kelas VI sekolah dasar. LKPD tersebut berisi pendahuluan, petunjuk penggunaan LKPD, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi, Langkah-langkah mengerjakan soal dan tugas akhir. Beberapa komponen yang saling berkaitan dan diharapkan dapat menghasilkan produk yang valid, praktis dan efesien pada konsep IPA kelas VI UPT SPF SD Negeri Mangkura 1 Makassar Kecamatan Ujungpandang.

E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini antara lain:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kemudahan mempelajari konsep IPA pada pembelajaran tematik di sekolah dasar

2. Manfaat praktis

Manfaat praktis penelitian ini sasarannya berbagi sebagai berikut:

a. Siswa

Bahan ajar yang berupa LKPD yang telah dikembangkan dapat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran agar memotivasi dan memabntu memahami konsep IPA dan memecahkan masalah sesuai tujuan pembelajaran.

b. Guru

(24)

Untuk menjadi bahan guru dalam proses pembelajaran di sekolah dan meningkatkan keterampilan mengajar guru dalam mengolah LKPD di kelas.

c. Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber belajar alternatif.

d. Peneliti

Penelitian dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman mengenai pengembangan LKPD dan peneliti juga dapat meningkatkan kreatifitas dan dalam merancang LKPD.

F. Asumsi dan Batasan Penelitian dan Pengembangan 1. Asumsi Penelitian dan Pengembangan

Beberapa asumsi yang mendasari pengembangan ini, yaitu:

a. Pembelajaran akan menarik dan memotivasi belajar peserta didik serta berwarna apabila LKPD (lembar kerja peserta didik) sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik.

b. LKPD yang disusun dan terstruktur sesuai capaian kompetensi pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar kognitif peserta didik melalui LKPD berbasis literasi sains siswa kelas VI sekolah dasar yang didesain secara individu maupun kelompok untuk menemukan pembelajaran IPA yang disajikan di LKPD yang lebih menarik dan mudah dipahami.

2. Batasan Penelitian dan Pengembangan

(25)

a. Pengembangan ini batasi pada buatan LKPD ddengan berbasis literasi sains pada energi listrik secara global untuk meningkatkan Hasil belajar peserta didik.

b. Pengembangan ini hanya terbatas pada mata pelajaran IPA pada kelas VI sekolah dasar

c. Pengembangan LKPD ini dilakukan sampai penyebaran (Disseminate) untuk sekolah (guru, siswa sampai dinas Pendidikan kota makassar)

G. Defenisi Operasional

Defenisi operasional diperlukan untuk menghindari terjadinya kekeliruan penafsiran pembaca terhadap variabel-variabel atau kata-kata dan istilah-istilah teknis dan dinyatakan sebagai berikut:

1. LKPD berbasis literasi sains merupakan bahan ajar berupa lembaran yang berisi ringkasan materi dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik dalam rangka memecahkan masalah menghasilkan solusi, gagasan, desain, dan menjawab pertanyaan peserta didik dan mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami teks bacaan yang disajikan dalam LKPD untuk memperoleh pengetahuan dan mengacu pada kemampuan siswa menggunakan ilmu pengetahuan terutama untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan IPA. Literasi sains memiliki 3 indikator kompetensi yaitu (a) menjelaskan suatu fenomena ilmiah; (b) mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah; dan (c) menginterpretasikan data dan

(26)

bukti-bukti ilmiah. Pengembangan perangkat pembelajaran berupa yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Four-D oleh Thiagaraja, Semmel, dan Semmel (1974) yang terdiri atas empat tahap yaitu:

pendefinisian (Define), tahap perancanaan (Design), tahap pengembangan (Develop) dan tahap diseminasi (Dissemenation).

2. Hasil belajar merupakan kemampuan yang melibatkan hasil kogniti, psikomotorik dan afektif peserta didik dalam mengambil keputusan atau tindakan yang terarah dan logis untuk menyelesaikan tes/soal melalui evaluasi, dan memberikan jawaban berupa fakta atau fenomena sehingga peserta didik dapat menarik kesimpulal.

(27)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis 1. Literasi Sains

a. Definisi Literasi Sains

Literasi sains berasal dari dua kata yaitu literasi dan sains. Asal kata literasi yaitu literature yaitu mempunyai arti melek huruf dan asal kata sains yaitu scientia yang mempunyai arti pengetahuan. (Pertiwi, et al., 2008)

Literasi sains menurut PISA yaitu “the capacity to use scientific knowledge, to identifity questions and to draw evidence-based conclusions in order to understand and help make decisions about the natural world and the changes made to it through human activity (kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengindentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan melalui aktivitas manusia. (Yuliati, 2017)

Literasi sains adalah kemampuan seseorang untuk memahami sains, megkomunikasikan sains (lisan dan tulisan), serta menerapkan pengetahuan sains untuk memecahkan masalah sehingga memiliki sikap dan kepekaan yang tinggi terhadap diri dan lingkungannya dalam mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sains. Toharuddin (2011)

14

(28)

Literasi sains merupakan suatu ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan proses sains yang akan memungkinkan seseorang untuk membuat suatu keputusan dengan pengetahuan yang dimilikinya, serta turut terlibat dalam kenegaraan, budaya dan pertumbuhan ekonomi, termasuk didalamnya kemampuan spesifik yang dimilikinya. (cahyana, 2017).

Berdasarkan dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT menaikkan derajat manusia yang menuntut ilmu dan belajar melalui proses pembelajaran dan literasi sains adalah kemampuan peserta didik untuk mengetahui dan menerapkan konsep atau fakta yang didapatkan di sekolah atau lingkungan sekitar dengan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

b. Ruang Lingkup Literasi Sains

Dalam pengukuran literasi sains, PISA menetapkan tiga aspek yaitu kandungan literasi sains, proses sains dan konteks aplikasi sains. PISA 2003 memaparkan literasi sains sebagai berikut:

1) Kandungan Literasi Sains

Konsep ilmiah (scientific concepts), peserta didik perlu menangkap sejumlah konsep kunci atau esensial dapat memahami fenomena alam tertnetu dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan mansuia. Hal ini merupakan gagasan besar pemersatu yang berupaya menjelaskan aspek- aspek ingkungan fisik. PISA mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang

(29)

mempersatukan konsep-konsep fisika, kimia, biologi, serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa. (Toharuddin, et.al., 2011)

2) Proses Literasi Sains

Proses literasi sains dalam PISA mengkaji kemampuan peserta didik untuk menggunkan pengetahuan dan pemahaman ilmiah, seperti kemampuan peserta didik untuk menemukan, menafsirkan dan mencari bukti-bukti. PISA menguji lima proses semacam itu, yaitu: 1) mengenali pertanyaan ilmiah, 2) mengindetifikasi bukti, 3) menarik kesimpulan, 4) mengomunikasikan kesimpulan, dan 5) menunjukkan pemahaman konsep ilmiah. (Toharuddin, et.al., 2011)

3) Konteks Literasi Sains

Konteks literasi dalam PISA mengacu pada kehidupan sehari-hari daipada kelas atau laboratorium dan konteks sains pun melibatkan isu-isu yang sangat penting dalam kehidupan secara umum serta pertanyaan- pertanyaan dalam PISA 2000 dikelompokkan menjadi tiga tempat sains diterapkan yaitu kehidupan dan Kesehatan, bumi dan lingkungan, serta teknologi. (Toharuddin, et.al., 2011)

Seseorang yang memiliki literasi sains adalah orang yang menggunakan konsep sains, memiliki keterampilan proses sains untuk menilai dalam kehidupan sehari-hari. Semakin berkembangnya pemikiran seseorang

(30)

mengenai sains tetapi sains dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. (Abidin, Y. et al., 2017). Literasi sains diharapkan peserta didik mampu memenuhi berbagai tuntutan zaman yaitu menjadi problem solver dengan pribadi kompetitif, inovatif, serta berkarakter. Hal tersebut dikarenakan penguasaan kemampuan literasi sains dapat mendukung pengembangan dan penggunaan kompetensi abad ke 21. (Yuliati, 2017)

Seseorang yang memiliki lietarasi sains dan teknologi ditandai dengan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan mengguakan konsep-konsep sains yang diperoleh dalam Pendidikan sesuai dengan jenjangnya, mengenai produk yang ada disekitarnya beserta dampaknya, mapu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif dalam membuat hasil tenologi yang sederhanakan sehingga peserta didik mampu mengambil keputisan berdasarkan nilai dan budaya masyarakat setempat.

(Toharuddin, et.al., 2011)

Berdasarkan uraian diatas bahwa ruang lingkup literasi sains kemampuan peserta didik untuk mempelajari dan memahami isu-isu literasi sains untuk memecahkan masalah ilmiah berdasarkan konsep, keterampilan serta berbasi teknologi sehingga peserta didik dapat kompetitif, inovatif dan berkarakter dalam mengambil keputusan.

c. Tujuan Literasi Sains

(31)

Membangun Literasi Sains tidak terlepas dari tujuan utama yakni untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap memasuki Abad 21.

Oleh karena itu, tujuan operasional dari literasi sains bagi peserta didik adalah:

a) memiliki kemampuan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep ilmiah dan proses yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat di era digital, b) kemampuan mencari atau menentukan jawaban pertanyaan yang berasal dari rasa ingin tahu yang berhubungan dengan pengalaman sehari- hari, c) memiliki kemampuan, menjelaskan dan memprediksi fenomena. d) dapat melakukan percakapan sosial yang melibatkan kemampuan dalam membaca dalam mengerti artikel tentang Ilmu pengetahuan; e) dapat mengindentifikasi masalah-masalah ilmiah dan teknologi informasi; f) memiliki kemampuan dalam mengevaluasi informasi ilmiah atas dasar sumber dan metode yang dipergunakan; g) dapat menarik kesimpulan dan argument serta memiliki kapasitas mengevaluasi argument berdasarkan bukti. Untuk mengukur tingkat kemampuan literasi sain, diperlukan penilaian literasi sains tersebut. (Kusuma, 2018)

Ruba (Toharuddin, et.al., 2011) menyatakan bahwa peserta didik harus memiliki karakteristik individu yang harus dimiliki dalam lietrasi sains adalah sebagai berikut:

1) Bersikap positif terhadap sains 2) Mampu menggunakan proses sains

3) Berpengetahuan luas tentang hasil-hasil riset

(32)

4) Memiliki penegtahuan tentang konsep dan prinsip sains, serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat,

5) Memiliki pengertian hubungan antar sains, teknologi, masyarakat dan nilai- nilai manusia,

6) Berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut.

Dari hasil diatas berdasarkan dari tujuan dan karakteristik peserta didik harus dimiliki adalah peseserta didik harus mampun memahami dan memiliki pengetahuan yang luas dan mengambil keputusan serta mengikuti perkembangan teknologi terkait kehidupan sehari-hari.

d. Indikator Literasi Sains

Kemampuan peserta didik dalam memahami lietasi sains sangat diperlukan guna pembelajaran yang rancang secara optimal agar terjalin komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang disampaikan. Untuk mengukur seberapa baik tingkat kemampuan peserta didik tentunya diperlukan beberapa indikator yang berfungsi sebagai acuan dasar dalam pengukuran tersebut. Berikut ini beberapa indikator yaitu sengai berikut:

Tabel 2.1 Indikator Literasi Sains

Indikator Deskripsi Indikator

(33)

Menjelaskan fenomena Ilmiah

Mengevaluasi penjelasan untuk berbagai fenomena alam dan teknologi

Mengevaluasi dan mendesain

penelitian ilmiah

Menggambarkan Menafsirkan data

dan bukti ilmiah Mengalisis Sumber: OECD, 2015 (Abidin, 2017)

Pembelajaran lietrasi sains yaitu pembelajaran yang relevan untuk mengembangkan kemampuan literasi sains yang sesuai dengan proses dan produk kehidupan sehari-hari dalam masyarakat dan memasukkan isu-isu social yang memerlukan komponen konsep sains dalam pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah dan membantu peserta didik dalam hal penyelesaian masalah (Holbrook dan Miaa, 2009)

e. Aspek Literasi Sains

Domain lietasi sains terdiri atas konteks, pengetahuan, kompetensi dan sikap. Asesmen PISA dibuat agar siswa dapat memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki nilai tertentu bagi individu dan masyarakat dalam meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup dan dalam pengembangan kebijakan publik. (OECD, 2013)

Oleh karen aitu, soal-soal lietrasi saons PISA berfokus pada situasi terkait pada diri individu, sosial dan peraturan global sebagai konteks, atau situasi spesifik untuk Latihan penilaian. Asesmen literasi sains PISA tidak

(34)

menilai konteks, tetapi menilai kompetensi, pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan konteks. Penelitian ini merujuk pada asesmen PISA 2013, dimana domain literasi sains yang dinilai adalah aspek pengetauan dan kompetensi yaitu sebagai berikut:

1) Aspek Pengetahuan Sains

Tujuan penilaian PISA adalah untuk menggambarkan sejauh mana siswa dapat menerapkan pengetahuan dalam konteks yang relevan dengan kehidupan, oleh karen aitu, penilaian pengetahuan akan dipilih dari hiding utama fisika, kimia, biologi, ilmu bumi dan ruang angkasa dan teknologi.

2) Aspek Kompetensi Sains

Penilaian PISA dalam literasi sains memberikan prioritas terhadap beberapa kompetensi, yaitu:

a) Mengindetifikasi isu ilmiah, yaitu mengenal isu yang mungkin diselidiki secara ilmiah, mengidentifikasi kata-kata kunci untuk informasi ilmiah, mengenal ciri khas penyelidikan ilmiah.

b) Menjelaskan fenomena ilmiah, yaitu mengaplikasikan pengetahuan sains dalam situasi yangdiberikan, mendeskripsikan atau menafsirkan fenomena dan meprediksi perubahan, mengindetifikasi deskripsi, eksplanasi dan prediksi yang sesuai.

c) Menggunakan bukti ilmiah, yaitu menafsirkan bukti ilmiah dan menarik kesimpulan, memberikan alas an untuk mendukung atau menolak kesimpulan dan mengindentifikasi asumsi-asumsi yangdibuat dalam

(35)

mencapai kesimpulan, mengomunikasikan kesimpulan terkait bukti dan penalaran dibalik kesimpulan dan membuat refleksi berdasarkan implikasi sosial dari kesimpulan ilmiah. (OECD, 2013)

Berdasarkan hasil pemaparan diatas bahwa aspek literasi sains bagi peserta didik dari indikatornya adalah menjelaskan suatu fenomena ilmiah;

mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah; dan menginterpretasikan data dan bukti-bukti ilmiah yang diharapkan peserta didik dapat memahami berbagai displin ilmu dalam penegmbangan sains dan menfasirkan berbagai pokok permasalahan atau isu-isu lokal maupun global dari domain literasi sains dan menganalisis materi stimuluas peserta didik, kompetensi peserta didik dan menunjukkan tanggapan peserta didik dari permasalah dalam kehidupan sehari-hari.

2. Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar

Purwato (2011) Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian dari hasil adalah (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukan suatu aktifitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.

Abdurrahman (1999) menjelaskan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar menurutnya juga anak- anak yang berhasil dalam belajar ialah berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.

(36)

Hasil belajar dicapai oleh siswa dalam mengikuti program belajar mengajar, sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar suatu proses untuk melihat sejauh mana siswa dapat menguasai pembelajaran setelah mengikuti kegiatan proses belajar mengajar, atau keberhasilan yang dicapai seorang peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang ditandai dengan bentuk angka, huruf, atau simbol tertentu yang disepakati oleh pihak penyelenggara Pendidikan.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan hasil akhir yang diperoleh kognitif peserta didik dalam pemahamannya tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan proses mental (otak) dan merupakan dasar penguasaan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah ia melakukan suatu pembelajaran.

b. Ranah Hasil Belajar

Menurut Anderson dan Krathwol hasil revisi dari taksonomi Bloom (Nur Astriany, 2016), hasil peserta didik ditunjukkan oleh penguasaan tiga kompetensi yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

Dalam ranah kognitif meliputi kemampuan peserta didik dalam (1) mengingat, (2) memahami, (3) menerapkan, (4) menganalisis, (5) mengevaluasi, dan (6) menciptakan. Selain ranah kognitif, juga terdapat tingkatan ranah psikomotorik dan afektif. Ranah afektif meliputi (1) menerima, (2) merespon, (3) menghargai,

(37)

(4) mengorganisasikan, (5) karakterisasi. Sedangkan ranah psikomotorik meliputi (1) meniru, (2) manipulasi, (3) presisi, (4) artikulasi, (5) naturalisasi.

Suharsimi Arikunto (2007) mengungkapkan ranah kognitif pada siswa SD yang cocok diterapkan adalah ingatan, pemahaman dan aplikasi dan analisis. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, model atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah. Hasil belajar yang baik adalah hasil belajar yang memenuhi dan dapat mencapai tujuan belajar serta mencakup tiga ranah kecerdasan siswa, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar dari segi kognitif berupa penguasaan materi yang akan ditunjukkan dengan penilaian tes kognitif dengan jenjang kemampuan yang diperoleh siswa dibagi ke dalam tiga kategori yaitu pengetahuan, pemahaman, dan penerapan pada saat pembelajaran IPA dengan menggunakan LKPD siswa

c. Indikator Hasil Belajar Kognitif

Belajar merupakan suatu proses mencari informasi untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik seseorang. Menurut

(38)

Roger, belajar adalah sebuah proses internal yang menggerakkan anak didik agar menggunakan seluruh potensi kognitif, afektif dan psikomotoriknya agar memiliki berbagai kapabilitas intelektual, moral, dan keterampilan lainnya (Nata, 2011).

Penilaian Ranah Kognitif Ranah kognitif merupakan ranah yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan sesorang yang dapat dilihat melalui tes maupun nontes. Menurut Yanti (2020), Penilaian ranah kognitif bisa dilakukan dengan tes dan nontes. Penilaian dengan tes memerlukan instrumen berupa tes tertulis dan tes lisan. Tes tertulis bisa berupa pilihan ganda , menjodohkan, menguraikan, isian singkat, teslian bia dilkakukan dengan wawancara dan tanhya jawab. Dalam proses belajar mengajar, aspek kognitif inilah yang paling menonjol dan bisa dilihat langsung dari hasil tes. Dimana disini pendidik dituntut untuk melaksanakan semua tujuan tersebut. Hal ini bisa dilakukan oleh pendidik dengan cara memasukkan unsur tersebut kedalam pertanyaan yang diberikan. Pertanyaan yang diberikan kepada siswa harus memenuhi unsur tujuan dari segi kognitif, sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Ranah kognitif merupakan ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk ranah kognitif. Menurut Nana Sudjana (2010) Ranah kognitif meliputi lima tipe hasil belajar yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan

(39)

evaluasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 3 tahapan yaitu sebagai berikut:

a. Pengetahuan Pengetahuan diidentikkan dengan hafalan atau untuk diingat. Contoh tipe hasil belajar ini yaitu rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undangundang, nama tokoh, nama tempat (kota).

b. Pemahaman Tingkat pemahaman lebih tinggi daripada pengetahuan.

Contoh tipe pemahaman yaitu menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri, memberikan contoh lain dsb.

c. Aplikasi Tipe hasil belajar aplikasi merupakan penerapan sebuah ide, teori, atau petunjuk teknis pada situasi yang baru. Jika aplikasi atau penerapan ini dilakukan secara berulang-ulang maka akan menjadi hafalan atau keterampilan.

Dari pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa indikator hasil belajar kognitif siswa adalah proses pembelajaran yang mengkaji tentang masalah- masalah kehidupan sehari-hari.

d. Faktor-Faktor Mempengaruhi Hasil Belajar

Widoyoko (2010) Proses pembelajaran melibatkan dua subjek, yaitu guru dan siswa akan menghasilkan suatu perubahan pada diri siswa sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai akibat kegiatan pembelajaran bersifat non-fisik seperti perubahan sikap, pengetahuan maupun kecakapan. Berbagai perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai hasil proses pembelajaran.

(40)

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, yang meliputi kondisi lingkungan disekitar.

Kemudian faktor yang berasal dari dalam diri siswa, yang meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa. Menurut Slameto (2003) ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu (1) Faktor internal (berasal dari dalam diri), (2) Faktor eksternal (berasal dari luar diri.

Slameto (2003) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Yang termasuk dalam faktor intern seperti, faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.

Sedangkan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu, faktor keluarga, faktor sekolah (organisasi) dan faktor masyarakat.

Faktor-faktor di atas sangat bepengaruh terhadap proses belajar mengajar. Ketika dalam proses belajar peserta didik tidak memenuhi faktor tersebut dengan baik, maka hal tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Untuk mencapai hasil belajar yang telah direncanakan sesuai dengan tujuan dalam pembelajaran, seorang guru harus memperhatikan faktor-faktor diatas agar hasil belajar yang dicapai peserta didik bisa maksimal.

(41)

Menurut Muhibbin Syah (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik yaitu:

1. Faktor internal meliputi dua aspek yaitu:

a) Aspek fisiologis b) Aspek psikologis 2. Faktor eksternal meliputi:

a) Faktor lingkungan sosial

b) Faktor lingkungan nonsosial Faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain:

1) Faktor internal yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani peserta didik.

2) Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar peserta didik misalnya faktor lingkungan.

3) Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pembelajaran.

Sudjana dan Rivai (2001) Faktor yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya faktor jasmani dan rohani siswa, hal ini berkaitan dengan masalah kesehatan siswa baik kondisi fisiknya secara umum, sedangkan faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi. Hasil belajar siswa di sekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan.

(42)

Menurut Chalijah Hasan (1994) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar antara lain:

1. Faktor yang terjadi pada diri organisme itu sendiri disebut dengan faktor individual adalah faktor kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi.

2. Faktor yang ada diluar individu yang kita sebut dengan faktor sosial, faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan atau media pengajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.

Sabri (2010) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa secara garis besar terbagi dua bagian, yaitu factor internal dan eksternal.

1. Faktor internal siswa

a. Faktor fisiologis siswa, seperti kondisi kesehatan dan kebugaran fisik, serta kondisi panca inderanya terutama penglihatan dan pendengaran.

b. Faktor psikologis siswa, seperti minat, bakat, intelegensi, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif seperti kemampuan persepsi, ingatan, berpikir dan kemampuan dasar pengetahuan yang dimiliki.

2. Faktor-faktor eksternal siswa

a. Faktor lingkungan siswa Faktor ini terbagi dua, yaitu pertama, faktor lingkungan alam atau non sosial seperti keadaan suhu, kelembaban

(43)

udara, waktu (pagi, siang, sore, malam), letak madrasah, dan sebagainya. Kedua, faktor lingkungan sosial seperti manusia dan budayanya.

b. Faktor instrumental Yang termasuk faktor instrumental antara lain gedung atau sarana fisik kelas, sarana atau alat pembelajaran, media pembelajaran, guru, dan kurikulum atau materi pelajaran serta strategi pembelajaran.

Tinggi rendahnya hasil belajar peserta didik dipengaruhi banyak faktorfaktor yang ada, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor- faktor tersebut sangat mempengaruhi upaya pencapaian hasil belajar siswa dan dapat mendukung terselenggaranya kegiatan proses pembelajaran, sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran.

3. IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) a. Pengertian IPA

Menurut Trianto (2009), pemahaman konsep adalah pemahaman siswa terhadap dasar kualitatif di mana fakta-fakta saling berkaitan dengan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru. Tjandra (2010) konsep merupakan kesimpulan dari suatu pengertian yang terdiri dari dua atau lebih fakta dengan memiliki ciri-ciri yang sama. Untuk menanamkan suatu konsep dalam pelajaran, seorang guru perlu mengajarkannya dalam konteks nyata dengan mengaitkannya terhadap lingkungan sekitar. Hal ini akan mampu mengembangkan kemampuan berpikir

(44)

kritis siswa dan meningkatkan pemahaman konsepnya terhadap materi yang diajarkan.

Menurut Samatowa (2016) Konsep merupakan abstraksi yang berdasarkan pengalaman. Letak sebuah konsep dalam pembelajaran IPA merupakan bagian dari produk yang meliputi fakta-fakta IPA. Hal itu sejalan dengan Susanto (2016) menjelaskan bahwa Konsep IPA merupakan suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA. Selanjutnya Susanto menjelaskan bahwa Konsep merupakan penghubung antara fakta-fakta yang ada hubungannya.

Berdasarkan penjelasan diatas tentang pemahaman konsep IPA adalah kemampuan peserta didik untuk dapat memahami suatu konsep atau fakta dan menjawabnya dengan menggunakan kalimat sendiri tanpa mengubah arti dari konsep yang dimaksudkan dengan melibatkan fenomena alam dilingkungan sekitar.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip- prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya

(45)

menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.

Asy’ari (2006) mengemukakan bahwa “IPA adalah pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh alam dengan cara yang terkontrol.

Trianto (2010) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematis dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menurut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya.

IPA merupakan rumpun ilmu yang memiliki karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena alam yang faktual (factual), baik berupa kenyataan (reality) atau kejadian (event) dan hubungan sebab akibatnya. Cabang ilmu yang termasuk anggota rumpun IPA saat ini antara lain Biologi, Fisika, IPA, Astronomi/Astrofisika, dan Geologi. (Wisudawati dan Sulistyowati, 2014) b. Tujuan IPA SD

Menurut Depdiknas Ditjen Manajemen dan Dikdasmen TK dan SD (2007) Sains di sekolah dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA) . Konsep IPA di SD merupakan konsep yang masih terpadu karena belum dipsahkan secara tersendiri. Adapun tujuan IPA/Sains di SD yaitu: 1) memperoleh keyakinan terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam citpaan-Nya, 2) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang

(46)

bermafaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 30 mengembangkan rasa ingin tahu (Curiosity), sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling memengaruhi antara IPA, lingkungan teknologi dan masyarakat, 4) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar dan pemecahan masalah dan membuat keputusan, 5) meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam, 6) meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segalanya keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan, dan 7) memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan Pendidikan ke SMP.

Samatowa (2011) mengungkapkan bahwa aspek pokok dalam pembelajaran IPA adalah anak dapat menyadari keterbatasan pengetahuan mereka, memiliki rasa ingin tahu untuk menggali berbagai pengetahuan baru, dan akhirnya dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.

Sedangkan aspek yang perlu diperhatikan guru adalah: (1) pentingnya memahami bahwa pada saat memulai kegiatan pembelajaran, anak telah memiliki berbagai konsepsi, pengetahuan yang relevan dengan apa yang mereka pelajari; (2) aktivitas anak melalui berbagai kegiatan nyata dengan alam menjadi hal utama dalam pembelajaran IPA; (3) dalam setiap pembelajaran IPA kegiatan bertanyalah menjadi bagian yang penting, bahkan menjadi bagian yang paling utama dalam pembelajaran; (4) dalam

(47)

pembelajaran IPA memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya dalam menjelaskan suatu masalah.

Bandu (2006) menyatakan bahwa proses sains adalah sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara tertentu dan pengembangan ilmu itu selanjutnya. Keterampilan dasar yang diperlukan dalam proses mendapatkan IPA disebut keterampilan proses. Keterampilan proses yang dikembangkan untuk siswa SD meliputi keterampilan mengamati, melakukan percobaan, mengelompokkan, menafsirkan hasil pecobaan, meramalkan, menerapkan, mengkomunikasikan, dan mengajukan pertanyaan (Samatowa, 2011). Contoh IPA sebagai proses yaitu mengetahui proses pelapukan batuan akibat pengaruh panas.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa IPA atau Sains merupakan pengetahuan yang dibentuk dari suatu beberapa konsep serta skema konseptual yang saling berhubungan satu sama lain yang diperoleh dengan mengumpulkan data menggunakan metode observasi atau eksperimen yang dikontrol untuk mengolahnya sesuai kebutuhan manusia dan mengkajinya menggunakan metode ilmiah.

c. Prinsip-prinsip IPA SD

Seorang ahli IPA Jhon S. Richardson dalam Hendro Darmodjo (1992) menyarankan digunakannya tujuh prinsip dalam proses belajar mengajar agar suatu pengajaran IPA dapat berhasil. Ketujuh prinsip itu adalah:

(48)

1) Prinsip keterlibatan siswa secara aktif Dalam pembelajaran IPA sering dilupakan bahwa keterlibatan siswa secara aktif ini merupakan bagian yang esensial dari suatu proses belajar mengajar dalam pembelajaran IPA, yang dimaksud dengan keterlibatan siswa secara aktif menurut Richardson adalah “learning by doing”, siswa harus ikut berbuat sesuatu untuk memperoleh ilmu yang mereka cari.

2) Prinsip belajar berkesinambungan Prinsip belajar berkesinambungan adalah proses belajar yang selalu dimulai dari apa-apa yang telah dimiliki oleh siswa. Dalam hal ini pengembangan yang telah dimiliki oleh siswa itu seolah-olah merupakan jembatan yang sangat esensial bagi siswa untuk dapat meraih pengetahuan yang baru. Untuk melaksanakan prinsip ini tentu saja harus mengetahui sejauh mana pengetahuan yang telah dimiliki siswanya.

3) Prinsip motivasi Motivasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan yang menyebabkan seseorang ingin berbuat sesuatu. Dalam proses pembelajaran IPA tentunya motivasi yang dimaksud sebagai dorongan untuk berkeinginan belajar IPA, dorongan ini dapat bersumber dari kebutuhan yang hakiki dari manusia yang disebut sebagai motivasi intrinsik.

Motivasi ini juga dapat timbul dari pengaruh yang datang dari luar dirinya, misalnya hadiah yang akan diberikan kepada siswa yang jadi juara di kelasnya. Motivasi semacam ini dapat disebut sebagai motivasi ekstrinsik.

(49)

4) Prinsip multi saluran Dalam proses pembelajaran IPA ada siswa yang mudah belajar melalui membaca, ada siswa yang mudah mengerti apabila diberi ceramah oleh guru, ada pula yang baru mengerti jika ia ikut aktif dalam melakukan percobaan. Oleh karena itu penggunaan multi saluran dalam proses belajar IPA sangat diperlukan agar semua siswa dengan berbagai kemampuan daya tangkap dapat menerima pembelajaran dengan baik.

5) Prinsip penemuan Prinsip penemuan adalah memahami suatu konsep atau simbolsimbol, siswa tidak diberi tahu oleh guru, tetapi guru memberi peluang agar siswa dapat memperoleh sendiri pengertian-pengertian itu melalui pengalamannya. Misalnya untuk mengetahui hukum Boyle, siswa tidak langsung diberitahu oleh guru, tetapi guru memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan yang kesimpulannya adalah hukum Boyle.

6) Prinsip totalitas Prinsip totalitas bertolak dari suatu paham bahwa siswa belajar dari segenap kemampuan yang ia miliki sebagai makhluk hidup, yaitu panca indranya, perasaan satu pikirannya, dalam proses belajar siswa tidak hanya memperhatikan materi pelajaran (misalnya IPA) tetapi meliputi bagaimana cara guru mengajar, lingkungan sekitar, temantemannya, dan semua hal-hal yang berkenaan dengan jiwa raganya. Itu semua merupakan bagian penentu keberhasilan belajar siswa. Yang dimaksud hasil belajar

(50)

tidak hanya berupa pengetahuan intelektual, tetapi juga meliputi bidang sikap dan kepribadian siswa.

7) Prinsip perbedaan individu Prinsip ini tidak dimaksudkan untuk membeda- bedakan siswa, tetapi bertolak pada suatu kenyataan bahwa setiap siswa berbeda yang satu terhadap yang lain. Perbedaan individu ini terutama ditunjukan kepada adanya perbedaan kemampuan (termasuk kecerdasan dan kecepatan belajar) dan perbedaan minat termasuk motivasi belajar.

Prinsip perbedaan individu dimaksudkan agar siswa mendapatkan kesempatan belajar sesuai dengan kapasitas dan minatnya.

Berdasarkan pendapat di atas, dalam pembelajaran IPA terdapat tujuh prinsip yang harus diperhatikan, yaitu: 1) prinsip keterlibatan siswa secara aktif, 2) prinsip belajar berkesinambungan, 3) prinsip motivasi, 4) prinsip multisaluran, 5) prinsip penemuan, 6) prinsip totalitas, dan 7) prinsip perbedaan individu.

Berdasarkan penjelasan di atas tentang prinsip pembelajaran IPA, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA merupakan interaksi antara guru dan peserta didik untuk proses belajar mengajar dalam mempelajari pembelajaran IPA dan fakta serta fenomena secara rasional dan obyektif.

4. Lembar kerja peserta didik (LKPD) Materi Energi Listrik a. Pengertian LKPD

Lembar kerja peserta didik (LKPD) salah satu sumber belajar yang dikembangkan oleh guru sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar.

(51)

Trianto (2009) mengemukakan bahwa LKPD dapat berupa panduan untuk Latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk mengembangkan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi. Menurut Hendro dan Jenny R.E Kaligis (1992), lembar kerja peserta didik merupakan sarana pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam meningkatkan keterlibatan atau aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.

Prastowo (2011) mengemukakan bahwa LKPD merupakan bahan ajar cetak berupa lembaran kertas berisi ringkasan materi dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai.

Berdasarkan pengertian diatas dari beberapa pendapat tersebut menjelaskan bahwa lembar kerja peserta didik adalah lembar kerja berupa panduan untuk peserta didik yang berisi informasi, pertanyaan, perintah dan petunjuk dari guru kepada peserta didik untuk melaksanakan eksperimen atau kegiatan dan memecahkan masalah dalam bentuk kerja, praktek atau percobaan yang didalamnya dapat mengembangkan semua aspek kognitif karena dengan lembar kerja peserta didik membuat peserta didik lebih mudah seorang guru menyampaikan materi ajar yang dapat mengefektifkan waktu, serta akan meningkatkan keterampilan interaksi antara guru dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar.

(52)

Prastowo (2011) bahan ajar lembar kerja peserta didik (LKPD) memiliki empat fungsi yaitu: 1) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lebih mengaktifkan peserta didik, 2) Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan, 3) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan tugas untuk berlatih, dan 4) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik. Setiap LKPD disusun dengan materi dan tugas tertentu yang dikemas sedemikian rupa untuk tujuan tertentu yang memiliki perbedaan maksud dan tujuan pengemasan materi sehingga LKPD memiliki berbagai macam bentuk menurut Prastowo (2011) ada beberapa bentuk LKPD yaitu: 1) LKPD yang membantu peserta didik menemukan suatu konsep, 2) LKPD yang membantu peserta didik menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang ditemukan, 3) LKPD berfungsi sebagai panuntun belaja, 4) LKPD yang berfungsi sebagai penguatan, dan 5) LKPD yang berfungsi sebagai petunjuk praktikum.

Lembar kerja peserta didik ditinjau dari strukturnya lebih sederhana daripada modul, namun lebih kompleks dari pada buku. Bahan ajar LKPD terdiri atas enam unsur utama meliputi yaitu: 1) judul, 2) petunjuk belajar, 3) kompetensi dasar atau materi pokok, 4) informasi pendukung, 5) tugas atau Langkah kerja, dan 6) penilaian. (Prastowo, 2011)

Syarat-syarat yang harus dimiliki dalam Menyusun LKPD menurut Darmodjo & Jenny (dalam Susilo, 2012) sebagai berikut:

1) Syarat-syarat Didaktik

(53)

Lembar kerja peserta didik sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya proses pembelajaran haruslah memenuhi persyaratan didaktik, artinya ia harus mengikuti asas-asas pembelajaran yang efektif, yaitu:

a. Lembar kerja peserta didik memperhatikan adanya perbedaan kemampuan individual siswa, sehingga dapat digunakan oleh siswa yang lamban, sedang maupun pandai.

b. Lembar kerja peserta didik menekan pada proses untuk menemukan prinsip/konsep sehingga berfungsi sebagai petunjuk bagi peserta didik untuk mencari informasi dan bukan sebagai alat pemberi tahu informasi.

c. Lembar kerja peserta didik memiliki variasi stimulus melalui berbagai kegiatan peserta didik sehingga dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik sehingga dapat memberikan kesempatan kepada untuk menulis, menggambar, berdialog dengan temannya dan lain sebagainya.

d. Lembar kerja peserta didik mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan emosional pada diri anak sehingga tidak hanya ditujukan untuk mengenal fakta-fakta dan konsep akademis saja. Bentuk kegiatan yang ada memungkinkan peserta didik dapat berhubungan dengan orang lain dan mengkomunikasikan pendapat serta hasil kerjanya.

2) Syarat-syarat konstruksi

Syarat konstruksi adalah syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan Bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang pada hakikatnya haruslah tepat guna tingkat kesukaran dan

(54)

kejelasan yang pada hakikatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh pihak penggunaan yaitu anak didik.

a. Lembar kerja peserta didik menggunakan Bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak.

b. Lembar kerja peserta didik menggunakan struktur kalimat yang jelas c. Lembar kerja peserta didik memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai

dengan tingkat kemampuan anak.

d. Lembar kerja peserta didik menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka, yang dianjurkan adalah isian atau jawaban yang didapat dari hasil pengolahan informasi, bukan mengambil dari pembedaharaan pengetahuan yang tidak terbatas.

e. Lembar kerja peserta didik mengacu pada buku sumber yang diluar kemampuan dan keterbacaan peserta didik.

f. Lembar kerja peserta didik menyediakan ruangan/tempat yang cukup untuk memberi keleluasaan pada peserta didik untuk menulis maupun menggambar hal-hal yang ingin peserta didik sampaikan dengan memberi tempat menulis dan menggambar jawaban.

g. Lembar kerja peserta didik menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek. Kalimat yang panjang tidak menjamin kejelasan isi namun kalimat yang terlalu pendek juga dapat mengundang pertanyaan.

h. Lembar kerja peserta didik menggunakan kalimat komunikatif dan interaktif.

Pengguna kalimat komunikatif dan kata sesuai dengan tingkat

(55)

perkembangan kognitif peserta didik sehingga dapat dimengerti oleh peserta didik yang lambat maupun yang cepat.

i. Lembar kerja peserta didik memiliki tujuan belajar yang jelas serta bermanfaat sebagai sumber motivasi belajar.

j. Lembar kerja peserta didik memuat identitas, seperti: topik, kela, nama kelompok dan anggotanya.

3) Syarat-syarat Teknis

a. Tulisan, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Menggunakan huruf yang jelas dan mudah dibaca, meliputi jenis dan ukuran huruf

2. Menggunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik 3. Perbandingan ukuran huruf dan ukuran gambar serasi b. Gambar

Gambar yang baik dapat menyampaikan pesan secara efektif pada pengguna lembar kerja peserta didik untuk mendukung kejelasan konsep.

c. Penampilan

Penampilan dibuat menarik. Kemenarikan penampilan lembar kerja peserta didik akan menarik perhatian siswa, tidak menimbulkan kesan jenuh dan membosankan. Lembar kerja peserta didik yang menarik adalah lembar kerja peserta didik yang memiliki kombinasi antar gambar, warna dan tulisan yang sesuai.

(56)

e. Pengembangan LKPD

Pengembangan lembar kerja peserta didik peserta didik merupakan suatu proses pembelajaran untuk mengembangkan lembar kerja peserta didik baru atau menyempurnakan yang telah ada. Berikut adalah penjebaran mengenai pengembangan lembar kerja peserta didik.

1. Desain pengembangan Lembar kerja peserta didik

Prastowo (2011) mengungkapkan bahwa dua faktor yang perlu diperhatikan pada saat mendesain lembar kerja peserta didik yaitu tingkat kemampuan membaca peserta didik dan pengetahuan peserta didik. Lembar kerja peserta didik didesain untuk digunakan peserta didik secara mandiri, artinya kita sebagai fasilitator, dan peserta didik yang diharapkan berperan secara aktif dalam mempelajari materi yang terdepat dalam lembar kerja peserta didik. Adapun Batasan umum pedoman pada saat menentukan desain lembar kerja peserta didik yaitu:

a) Ukuran yaitu disarankan untuk menggunakan ukuran yang dapat mengakomodasikan kebutuhan pembelajaran yang telah ditetapkan.

b) Kepadatan halaman yaitu usahakan agar halaman tidak terlalu didapati dengan tulisan. Halaman yang terlalu padat akan mengakibatkan peserta didik sulit memfokuskan perhatian.

c) Penomoran yaitu pemberian nomor pada lembar kerja peserta didik ditujukan untuk membantu para peserta didik yang mengambil kesulitan

(57)

untuk menentukan nama judul dari materi yang diberikan dalam lembar kerja peserta didik.

d) Kejelasan yaitu kejelasan yang dimaksud disini ialah kejelasan cetakan tulisan, baik tulisan yang memuat materi dan intruksi sehingga dapat dibaca jelas.

2. Langkah-langkah Pengembangan LKPD

Prastowo (2011) mengungkapkan bahwa untuk mengembangkan lembar kerja peserta didik yang menarik dan dapat digunakan secara maksimal oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, ada empat Langkah yang dapat ditempuh, yaitu:

a) Menentukan tujuan pembelajaran yang akan direncanakan dalam lembar kerja peserta didik. Kita harus menentukan desain menurut tujuan pembelajaran yang kit aacu. Perhatikan variabel ukuran, kepadatan halaman, penomoran halaman, dan kejelasan.

b) Pengumpulan materi. Dalam pengumpulan materi hal yang perlu dilakukan adalah menentukan materi dan tugas yang akan dimasukkan ke dalam lembar kerja peserta didik. Pastikan bahwa materi dan buat rincian yang harus dilaksanakan oleh peserta didik. Bahan yang akan dimuat dalam lembar kerja peserta didik dapat dikembangkan sendiri atau dapat memanfaatkan materi yang sudah ada. Tambahkan pula ilustrasi atau bagan yang adapat memperjelas penjelasan naratif yang kita sajikan.

Referensi

Dokumen terkait

4.12 Data Flow Diagram Level 2 untuk Proses 2 Sistem Informasi Geografis Berbasis Web untuk Identifikasi Pengaruh Lokasi Usaha Terhadap Tingkat Keberhasilan Usaha

Metode analisis yang digunakan yaitu metode kuantitatif hasil penelitian ini menunjukan bahwa Akuntabilitas dan Transparansi Anggaran Berbasis Kinerja berpengaruh secara

Untuk mencapai tujuan ini, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) dapat ikut berperan antara lain dalam meningkatkan daya saing ekonomi melalui: (1) ekonomi berbasis

Penelitian ini termotivasi oleh penelitian Scheresberg (2013) yang menyatakan bahwa dengan seseorang memiliki literasi keuangan yang tinggi dapat membantu seseorang dalam

pelayanan publik di lingkungan Sekretariat Kabinet serta meningkatkan kualitas pengelolaan arsip berbasis digital secara bertahap dan mendukung keterbukaan informasi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran berbasis video animasi yang digunakan sebagai sumber belajar peserta didik pada mata

Menimbang bahwa berdasarkan uraian pengertian serta fakta hukum tersebut Majelis Hakim menyimpulkan bahwa Terdakwa membubuhkan tanda tangan Saksi ABDUL RASYID dan

Material koignimbrit tersusun atas frag- men batuan magmatik, asesoris dan accidental, yang dihasilkan dari erupsi eksplosif yang bersifat destruktif, sedang- kan material gunung api