• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga terpopuler di dunia. Sekjen Konfederasi Sepakbola Asia (AFC – Asian Football Confederation), Peter Veleppan, mengatakan bahwa sepakbola adalah cabang olahraga yang paling popular, paling banyak dimainkan orang, dan paling digemari di muka bumi (Bola, 15 Juli 2005). Piala Dunia 2002 yang lalu ditonton oleh total 28,8 miliar penonton di seluruh dunia (Scheunemann, 2005).

Dewasa ini sepakbola tidak hanya dipandang sebagai salah satu cabang olahraga semata akan tetapi sepakbola juga dapat dijadikan sebagai suatu lahan bisnis yang cukup menguntungkan, jadi dengan kata lain sepakbola merupakan suatu industri besar yang cukup menjanjikan. Seperti halnya industri-industri besar lainnya yang dapat memberikan penghasilan yang memadai bagi orang-orang yang terlibat didalamnya, demikian pula dengan sepakbola. Setiap pemain, pelatih, dan juga pemilik dari sebuah klub atau tim sepakbola profesional dimungkinkan untuk mendapat penghasilan atau upah yang cukup tinggi.

Menjadi seorang pemain sepakbola dengan bayaran yang tinggi tidaklah mudah. Pemain yang bersangkutan harus terlebih dahulu mampu untuk menunjukkan performansi yang baik dalam setiap pertandingan

pemain sepakbola pada hakikatnya merupakan gabungan dari banyak faktor (Gunarsa, 1996). John Billing (dalam Gunarsa, 1996), mengemukakan bahwa performansi seorang atlet merupakan gabungan dari sejumlah aspek, yaitu: fisik, kepribadian, ketrampilan (skill), kebugaran tubuh dan intelegensia. Jadi, jika seorang atlet sepakbola ingin menunjukkan performansi yang baik dalam setiap pertandingan yang dijalaninya maka atlet yang bersangkutan harus memiliki kemampuan teknik bermain sepakbola dan fisik yang memadai atau bahkan sempurna, disamping itu si atlet juga harus memiliki kontrol emosi, mental, dan kepribadian yang baik pula. Kemampuan intelegensia yang dimiliki oleh seorang atlet sepakbola juga dapat menentukan kualitas permainannya atau performansi dalam pertandingan.

Sepakbola adalah permainan atau salah satu cabang olahraga yang menantang secara fisik dan mental (Luxbacher, 2004). Dengan kata lain kedua faktor tersebut saling terkait dan dapat mempengaruhi penampilan atau performansi seorang atlet sepakbola dalam suatu pertandingan yang sedang dijalaninya (Gunarsa, 1999). Dalam suatu pertandingan sepakbola dengan durasi waktu + 90 menit, dengan situasi fisik dan mental yang lelah, dan sambil menghadapi lawan, seorang atlet sepakbola dituntut untuk selalu dapat melakukan gerakan yang terampil. Selain itu, dalam suatu pertandingan, seorang atlet sepakbola juga harus mampu berlari beberapa mil atau kilo meter, menanggapi berbagai perubahan situasi permainan yang berlangsung dengan cepat, dan juga harus mampu untuk memahami taktik permainan individu dan kelompok. Kemampuan seorang atlet sepakbola untuk dapat

memenuhi semua tantangan atau tuntutan seperti yang telah disebutkan sebelumnya akan dapat menentukan performa atau penampilannya dalam suatu pertandingan yang sedang dijalaninya (Luxbacher, 1999).

Secara garis besar, penampilan seorang atlet dalam suatu pertandingan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor teknis dan faktor non-teknis (Gunarsa, 1999). Faktor teknis adalah faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan olahraga itu sendiri, seperti perasaan takut akan kekalahan, kecemasan untuk tidak dapat menampilkan performa terbaiknya, dan sebagainya; termaksud juga hal-hal yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya. Sedangkan faktor non-teknis adalah faktor-faktor yang tidak memiliki hubungan secara langsung dengan olahraga itu sendiri, seperti terdapat persoalan pribadi dalam kehidupan sosial dari atlet yang bersangkutan.

Faktor teknis maupun non-teknis tersebut adalah faktor-faktor yang akan menimbulkan dampak yang negatif pada kehidupan psikis dan dapat mempengaruhi aspek mental dari seorang atlet yang bersangkutan. Dampak yang negatif itu harus segera diatasi supaya seorang atlet yang bersangkutan memiliki persiapan mental yang baik dalam menghadapi suatu pertandingan, dengan kata lain seorang atlet tidak memiliki kecemasan yang berlebih dalam persiapannya menghadapi suatu pertandingan. Sebab apabila seorang atlet memiliki tingkat kecemasan yang terlalu berlebih atau hilang rasa kepercayaan dirinya, baik dalam masa persiapan atau sedang dalam masa pertandingan, maka fungsi otot akan terganggu, sehingga kesalahan-kesalahan

akan meningkat. Seiring dengan meningkatnya kesalahan, maka akan muncul pikiran-pikiran negatif, yang selanjutnya akan menambah goncangan, menambah kesalahan dan akibatnya seorang atlet akan menjadi panik atau performanya menjadi buruk dan dalam keadaan seperti itu tentu seorang atlet tinggal menunggu kekalahan saja (Gunarsa, 1999). Demikian pula dalam sepakbola, jika seorang atlet atau pemain sepakbola tidak dapat segera mengatasi kecemasan atau permasalahan yang terjadi, baik yang bersumber dari faktor teknis maupun faktor non-teknis, maka kemungkinan atlet yang bersangkutan tidak akan dapat menampilkan performansi terbaiknya dalam pertandingan yang akan dihadapinya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Institut Eta Meta (Gazzetta dello Sport, 8 Juli 2005 dalam Bola, 12 Juli 2005) menunjukkan bahwa hampir dua per tiga dari total 124 atlet sepakbola profesional yang ada di Italia mengaku stress dengan pekerjaan mereka sebagai pemain sepakbola profesional. Para pemain mengakui bahwa stress yang terjadi pada diri mereka disebabkan oleh karena berbagai macam alasan; diantaranya karena mereka selalu dituntut untuk tampil bagus dalam setiap pertandingan, meraih hasil yang positif, ketakutan dalam menghadapi atau mengalami cedera dan permasalahan yang sedang terjadi dalam kehidupan pribadinya. Para pemain juga mengaku merasa tertekan dengan pemberitaan-pemberitaan, baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan sepakbola maupun kegiatannya dalam kehidupan sosial, yang ditampilkan oleh media massa.

Sebagai salah satu contoh pemain sepak bola yang mengalami stres dalam hidupnya dan mempengaruhi performanya dalam pertandingan yang diikutinya adalah Adriano, pemain top asal negara Brazil yang bermain untuk tim Internazionale Milan, Italia. Selama berlangsungnya Liga Italia dalam periode Maret 2006 sampai dengan November – Desember 2006 Adriano tidak pernah mencetak satu gol pun ke gawang lawan. Sebagai seorang penyerang atau striker, tugas atau peran utamanya adalah untuk menciptakan gol ke gawang lawan dan selama karirnya sebagai pemain sepak bola, Adriano terkenal sebagai penyerang yang produktif menciptakan gol. Menurut pengamatan dari pelatih Internazionale Milan, Roberto Mancini, Adriano sedang mengalami kelelahan dan menderita beban psikologis yang berat. Beban psikologis yang dialami oleh Adriano bersumber dari masalah-masalah atau kejadian yang terjadi dalam kehidupannya, seperti harapan yang terlalu besar dari pendukungnya, masalah dengan kekasihnya, kehilangan ayahnya (meninggal), ditinggal pergi sahabatnya, dan semakin berkembangnya permainan para pesaingnya (Soccer, 11 November 2006).

Pemain sepakbola di Indonesia, dalam akhir-akhir ini, juga banyak yang mengalami stress atau merasa tertekan dalam setiap menghadapi suatu pertandingan. Fenomena tersebut dapat terlihat dari banyaknya pemain yang mudah terpancing emosinya dalam suatu pertandingan yang digelar dalam rangka Liga Djarum Indonesia 2005 yang telah berlalu. Faktor mental yang tidak siap menerima kekalahan, merasa diperlakukan tidak adil atau di-kerjai

sering memancing emosi seorang pemain, bahkan juga offisial tim (pelatih, asisten pelatih, dan manajer tim), dalam suatu pertandingan (Bola, 15 Juli 2005).

Dalam menghadapi berbagai macam tuntutan dan tekanan tersebut, setiap pemain sepakbola memiliki respon atau sikap yang berbeda-beda untuk mengatasi atau menyelesaikannya, dan jika pemain yang bersangkutan tidak dapat mengatasi atau menyelesaikan berbagai macam tuntutan dan tekanan itu maka si pemain akan mengalami stress. Istilah yang biasa dipakai untuk menyebut respon atau sikap untuk mengatasi tekanan atau stres adalah coping. Pearlin & Schooler (dalam Liestiani, 2001) mengemukakan bahwa coping

merupakan bentuk tingkah laku individu untuk melindungi diri dari tekanan-tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh problematika pengalaman sosial. Rasmun (2004) mengemukakan bahwa coping adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi stresfull, coping juga merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik.

Kemampuan seseorang individu untuk merasakan suatu situasi dengan teliti dan berdasar pada persepsi yang akurat, dan kemampuan untuk mengembangkan strategi yang menolong dan efektif untuk mengatasi sumber stress (stressors) dapat disebut sebagai keterampilan coping

(www.KidsHealth.org). Keterampilan coping juga merupakan suatu tingkah laku yang biasa digunakan oleh seorang individu untuk mengatasi suatu situasi yang dapat merugikan hidupnya (www.enpsychlopedia.com).

Keterampilan coping yang dimiliki atau dikembangkan oleh seseorang pemain sepakbola dapat berbeda dengan pemain lainnya, sesuai dengan bentuk dari coping itu sendiri, yaitu Problem Focused Coping dan Emotional Focused Coping. Pemilihan strategi coping yang tepat sangatlah penting, jika seseorang pemain melakukan kesalahan dalam pemilihan strategi coping akan berdampak buruk dalam permainannya. Mengembangkan keterampilan

coping, ketika menghadapi suatu permasalahan atau stres, akan sangat berguna dan dapat memberikan suatu perbedaan yang besar dalam hidup (www.coolnurse.com). Jadi, jika seorang pemain sepakbola tidak dapat mengembangkan ketrampilan coping yang dimilikinya dengan baik maka pemain yang bersangkutan akan mendapatkan kesulitan untuk dapat bermain maksimal dan untuk menampilkan permainan (performa) terbaiknya.

Sebagai contoh bentuk pemilihan coping yang salah adalah seorang pemain sepakbola terkenal di Indonesia bernama Kurniawan Dwi Yulianto. Sebagai seorang pemain sepakbola yang sangat top dalam era 1990-an, dirinya merasakan mendapat tekanan atau tuntutan yang bisa dikatakan berlebihan. Dirinya merasa selalu mendapatkan tuntutan supaya berpenampilan atau berperforma bagus dalam setiap pertandingan dan juga harus mempersembahkan kemenangan. Dalam menghadapi keadaan tersebut Kurniawan melakukan kesalahan dalam mengembangkan keterampilan coping

yang telah dimilikinya. Dirinya lebih memilih mengkonsumsi obat-obatan terlarang (narkoba) untuk mengatasi segala macam tuntutan yang sedang dihadapinya ketika itu. Hal tersebut mungkin juga disebabkan oleh karena

pergaulan bebas yang telah ia rasakan semenjak dirinya memperoleh pengalaman bertanding di luar negeri. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, bahwa narkoba akan memberikan dampak atau efek yang buruk jika dikonsumsi secara tidak benar dan hal itu terlihat dalam kualitas permainan yang ditampilkan oleh Kurniawan dalam setiap pertandingan. Performansi Kurniawan waktu itu sangat menurun drastis dan juga dirinya sempat dikucilkan oleh komunitas sepakbola di Indonesia.

Contoh lain mengenai pentingnya keterampilan coping bagi seorang pemain sepak bola adalah berawal dari padatnya jadwal pertandingan yang harus dilalui oleh seorang pemain sepak bola, khususnya dalam kompetisi sepak bola Liga Indonesia. Mantan pelatih tim Persebaya Surabaya, Jacksen F. Tiago, mengatakan bahwa terlalu padatnya jadwal bertanding akan mengakibatkan kelelahan yang luar biasa pada diri pemain dan hal ini akan menimbulkan masalah psikologis pada pemain yang bersangkutan (Kompas, 5 Februari 2004).

Seorang pemain sepakbola dari klub Persik Kediri, Harianto, juga mengatakan bahwa padatnya jadwal juga dapat menimbulkan rasa bosan dalam diri seorang pemain; sebagai bukti adalah teman satu klubnya, Wawan Widiantoro, suatu ketika pernah mengalami situasi dimana dirinya merasa enggan atau jenuh untuk bermain. Jika situasi itu berlanjut, maka pada akhirnya pemain yang bersangkutan tidak dapat menampilkan performansinya secara maksimal dalam setiap atau suatu pertandingan yang dijalaninya.

Menurut penjelasan-penjelasan diatas tampak bahwa ketrampilan untuk menggunakan dan mengembangkan coping dengan baik bagi seorang pemain sepakbola akan dapat mempengaruhi performanya dalam setiap pertandingan. Sudrajat (dalam Gunarsa, 1996) mengatakan bahwa dimensi psikologi, yang dalam hal ini adalah ketrampilan untuk menggunakan coping, merupakan salah satu di antara beberapa faktor yang dapat menentukan tampilan atau performansi dari seorang atlet dalam suatu pertandingan. Gunarsa (1996) mengemukakan bahwa faktor mental merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh besar terhadap penampilan puncak (peak performance) seorang atlet. Singer (dalam Gunarsa, 1996) juga mengemukakan bahwa penampilan puncak seorang atlet melibatkan tiga aspek yang saling berhubungan secara harmonis, yaitu mental, emosi, dan fisik.

Berdasarkan penjelasan pada paragraf-paragraf sebelumnya, mengenai pentingnya aspek psikologis bagi seorang atlet, maka peneliti hendak melihat hubungan antara keterampilan coping dengan performansi yang akan dimunculkan oleh seorang pemain sepakbola dalam suatu pertandingan.

Dokumen terkait