BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan berfungsi sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan lebih lanjut penelitian yang sudah ada atau bahkan untuk melakukan penelitian baru, khususnya yang relevan dengan aspek psikologis dari seorang atlet (pemain sepakbola) dan atau performanya dalam pertandingan yang dijalaninya.
2. Bagi Pemain Sepak Bola
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai suatu bahan refleksi bagi pemain sepak bola mengenai keterampilan coping
yang dimilikinya dan performanya dalam suatu pertandingan yang dijalaninya.
3. Bagi Tim-tim Sepak Bola di Indonesia
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai suatu bahan atau materi pertimbangan dalam menentukan kebijakan mengenai pengembangan sumber daya dari para pemainnya.
4. Bagi Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI)
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan gambaran kepada BLI dan PSSI mengenai keterampilan
coping dan performa dalam pertandingan para pemain sepakbola di Indonesia. Disamping itu hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk mengembangkan kualitas kompetisi sepakbola yang ada di Indonesia.
5. Bagi Pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca dalam menambah atau memberikan wacana atau informasi mengenai keterampilan coping dan performa pemain sepakbola dalam suatu pertandingan.
A. Keterampilan Coping
1. Pengertian Coping
Dalam bahasa Indonesia, coping yang sering disebut sebagai suatu strategi atau cara untuk menghadapi masalah adalah mekanisme yang biasa dilakukan seseorang untuk menanggulangi stres yang sedang dihadapinya. Menurut Kamus Lengkap Psikologi (2002), coping behavior
(tingkah laku atau tindakan penanggulangan) adalah sembarang perbuatan; dalam mana individu melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan menyelesaikan sesuatu (tugas atau masalah).
Baron dan Byrne (2005), menyebutkan bahwa coping adalah respon terhadap stres dalam cara yang akan mengurangi ancaman dan efeknya; termaksud apa yang dilakukan, dirasakan, atau dipikirkan seseorang dalam rangka menguasai, menghadapi, ataupun mengurangi efek-efek negatif dari situasi-situasi penuh tekanan. Breakwell (dalam Liestiani, 2001), mengemukakan bahwa coping merupakan segala pikiran dan perilaku yang berhasil mengurangi atau menghilangkan ancaman, baik secara sadar ataupun tidak. Jadi seorang individu dapat dikatakan telah melakukan coping meskipun dirinya tidak menyadarinya. Halonen dan Santrock (1999), mengemukakan bahwa coping adalah usaha untuk
mengurangi tekanan. Rasmun (2004) berpendapat bahwa coping
merupakan proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi
stressfull. Lazarus (dalam Liestiani, 2001) mengemukakan bahwa coping
juga dapat dipandang sebagai faktor penyeimbang dalam usaha individu mempertahankan dirinya selama menghadapi situasi yang dapat menimbulkan stress.
Berdasarkan definisi-definisi dari para ahli mengenai coping yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa coping adalah usaha yang dilakukan individu untuk mengatasi suatu keadaan atau situasi yang menekan, menantang atau mengancam hidupnya yang nantinya dapat menimbulkan stres pada individu yang bersangkutan. Coping dilakukan baik secara sadar maupun tidak.
2. Pengertian Keterampilan Coping
Menurut Kamus Psikologi (2000), keterampilan atau skill adalah kecakapan atau keterampilan yang diperoleh melalui proses belajar. Kamus saku Bahasa Inggris (Oxford, 1991) menjelaskan bahwa skill atau keterampilan adalah kemampuan atau kecakapan untuk melakukan sesuatu.
Parry (1990), mengemukakan bahwa keterampilan coping
merupakan suatu keterampilan yang dimiliki oleh seorang individu dalam merespon stres yang terjadi ketika peristawa-peristiwa tertentu terjadi diluar prediksi rutinnya tentang dunia. Heerdijan (1987), menyebutkan
bahwa mekanisme coping adalah suatu keterampilan dalam hal penyesuaian diri terhadap masalah-masalah dalam hidup.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa keterampilan coping adalah suatu kecakapan atau kemampuan untuk merespon dan mengurangi situasi yang menekan atau mengancam dan situasi stressfull yang dimiliki oleh individu melalui proses belajar atau berdasarkan pengalaman.
3. Jenis-jenis Keterampilan Coping
Lazarus (dalam Pierce, 1995) membedakan keterampilan coping
menjadi dua jenis:
a. Instrumental coping skill
Jenis keterampilan coping ini berorientasi pada masalah atau problem individu. Biasanya digunakan untuk berhubungan dengan tuntutan lingkungan yang sedang terjadi.
b. Palliative coping skill
Jenis keterampilan coping ini dilakukan untuk membebaskan perasaan-perasaan negatif yang muncul beserta dengan kehadiran dari stressor. Usaha yang dilakukan dalam jenis keterampilan ini berupa pengalihan perhatian, relaksasi, restrukturisasi kognitif, dan sebagainya.
Contoh atau bentuk nyata, dalam kehidupan sehari-hari, dari keterampilan coping yang biasa dimiliki atau digunakan oleh individu berdasarkan pada dua jenis keterampilan coping diatas yaitu memiliki
hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya (sosial), menjalankan hobi yang disukai, selalu memiliki pikiran yang positif, memiliki kemampuan untuk fokus terhadap masalah atau pekerjaan yang sedang dihadapi, melakukan relaksasi, makan, merokok, dan sebagainya.
Orang yang terampil melakukan coping adalah orang yang tanggap terhadap tekanan atau ancaman, yang nantinya dapat menimbulkan stres pada dirinya, yang sedang terjadi pada dirinya. Dengan kata lain orang tersebut akan segera mengatasi atau mengurangi situasi yang menekan atau mengancam hidupnya, supaya nantinya tidak menimbulkan stres dalam hidupnya. Keterampilan coping seseorang dapat dilatih dan dikembangkan (Jacksen, 2005).
Jenis atau strategi ketrampilan coping yang dipilih dan dipakai oleh seseorang tidak menunjukkan bahwa orang tersebut terampil atau tidak dalam melakukan coping. Tidak ada yang lebih baik diantara jenis atau strategi keterampilan coping yang ada, sebab pemilihan dan pemakaian jenis atau strategi keterampilan coping tersebut hanyalah berdasarkan dari kebiasaan dari masing-masing individu dalam melakukan coping dan juga disesuaikan dengan kondisi atau keadaan pada saat berlangsungnya tekanan atau ancaman. Jadi, keterampilan coping seseorang tidak bergantung dari strategi coping yang dipilih dan dipakainya.
4. Aspek Keterampilan Coping
Keterampilan coping memiliki beberapa aspek didalamnya (NN.,
www.journal-writing.webdjinni.net, 2006): a. Reaksi terhadap stres
Dimaksudkan dalam hal ini adalah mengacu pada keterampilan atau kemampuan untuk tetap berfungsi secara normal atau seperti biasa pada saat berada dalam keadaan stres atau dalam keadaan tertekan. Hal ini berhubungan juga dengan bagaimana seseorang memandang hal-hal mengecewakan (kesalahan) yang terjadi dalam hidupnya. Kuncinya adalah belajar dari kesalahan kita, juga belajar dari segala hal, dan menikmati keberhasilan kita.
b. Percaya atau bersandar pada diri sendiri
Keterampilan atau kemampuan untuk mempercayai atau bergantung pada diri kita sendiri. Ada kalanya kita merasa terbantu oleh orang lain saat kita bertanya atau meminta pendapat dari mereka, akan tetapi pada akhirnya, diri kita sendirilah yang harus memutuskan pendapat mana yang harus diikuti dan memilih jalan hidup kita sendiri.
c. Kemampuan untuk melakukan pendekatan secara tepat terhadap situasi Dimaksudkan dalam hal ini adalah keterampilan atau kemampuan untuk mengamati atau menganalisa dan dapat masuk dalam segala situasi pada lingkungan sekitar kita. Dengan mempercayai insting serta kemampuan untuk membuat keputusan, kita dapat dengan cepat
merespon segala hal atau situasi baru yang ada dalam lingkungan sekitar kita.
d. Memiliki sumber daya
Maksudnya adalah keterampilan atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar terhadap segala permasalahan yang sedang dihadapi. Menemukan jalan keluar tidaklah mudah, namun dengan memiliki sumber daya atau kecerdikan dari diri kita sendiri, kita dapat menemukan jalan keluar itu.
e. Kemampuan untuk beradaptasi (adaptif)
Keterampilan atau kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan, fleksibilitas, dan berpikiran yang terbuka. Keterampilan tersebut akan dapat membantu kita dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi dalam hidup kita.
f. Sikap proaktif
Dimaksudkan dalam hal ini adalah keterampilan atau kemampuan untuk mengatasi masalah sebelum masalah tersebut muncul, dengan kata lain, kemampuan untuk memahami apa yang kita inginkan atau butuhkan dan kemampuan mengambil tindakan saat diperlukan. Diperlukan suatu keberanian untuk mengambil atau menanggung resiko dari tindakan-tindakan yang akan dilakukannya itu.
g. Kemampuan untuk menikmati saat tenang
Maksudnya adalah keterampilan atau kemampuan untuk mencari waktu hanya untuk diri kita sendiri, menikmati hidup serta lingkungan
sekitar kita, dan menghargai hidup kita yang berada dalam dunia yang sangat sibuk. Disamping itu juga termaksud kemampuan untuk membiarkan sisi kekanakan yang ada dalam diri kita untuk muncul ke permukaan pada saat yang tepat.
5. Hasil Keterampilan Coping
Menurut Breakwell (1986), coping atau keterampilan coping yang dimiliki oleh seorang individu terdapat tiga target hasil yang harus dicapai, minimal satu diantaranya, yaitu:
a. Penghilangan aspek yang mengancam.
b. Pergerakan individu ke dalam situasi yang tidak mengancam. c. Perbaikan struktur individu.
Hasil dari suatu coping atau keterampilan coping akan berpengaruh pada satu atau lebih dari wilayah-wilayah berikut:
a. Wilayah psikologis
Hasil-hasil psikologis meliputi reaksi emosional, kesehatan mental secara umum dan kinerja (performance) dalam mengerjakan suatu tugas.
b. Wilayah sosial
Hasil-hasil sosial mencakup perubahan dalam hubungan interpersonal dan kemampuan untuk memenuhi peran sosial.
c. Wilayah fisiologis
Hasil-hasil fisiologis meliputi tingkat reaksi fisiologis jangka pendek (sistem syaraf otonom, hormon, kekebalan, dan perubahan neuroregulator) hingga perubahan kesehatan jangka pendek (misal, perkembangan penyakit jantung koroner).
Seorang individu yang memiliki keterampilan coping yang baik akan memproduksi atau menghasilkan hal-hal yang mempertahankan dan bahkan mengembangkan kecenderungan-kecenderungan positif yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan. Sebagai contoh: performa kerjanya semakin meningkat, memiliki kehidupan sosial yang baik, tidak mengidap penyakit-penyakit yang berbahaya (misal: jantung), dan sebagainya.
B. Performa Saat Pertandingan Sepak Bola