• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

C. HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN

1. Resdhia Maula Pracahya (108011000083, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2013) dalam skripsinya yang berjudul “Konsep K.H. Abdurrahman Wahid Tentang Pendidikan Islam Multikultural”.57 Adapun persamaan dan perbedaannya sebagai berikut Persamaan, menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif Perbedaannya, hanya sebatas judul 2. A. Ruspandi (D01206156, Institute Agama Islam Negeri Sunan Ampel

Surabaya, 2010) dalam skripsinya yang berjudul “Pendidikan Multikultural Dalam Perspektif KH. Abdurrahman Wahid”.58 Adapun persamaan dan perbedaannya sebagai berikut : Persamaannya, menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif Perbedaannya, hanya sebatas judul dan tidak terlalu banyak mendeskripsikan pendidikan islam nya.

54Sayyid Qutub, Islam Dan Perdamaian Dunia, (Pustaka Firdaus: Jakarta, 1987), hlm. 1

55Toha Andiko, Melacak Akar Konflik Dalam Islam Dan Solusi Bagi Kerukunan Umat Beragama Di Indonesia, MADANIA, XVII, no. 1, 2013. hlm. 39

56Op.cit, Sayyid Qutub, Islam Dan Perdamaian Dunia

57 Resdhia Maula Pracahya, Konsep K.H. Abdurrahman Wahid Tentang Pendidikan Islam Multikultural, Skripsi, (Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013)

58 A. Ruspandi, Pendidikan Multikultural Dalam Perspektif KH. Abdurrahman Wahid, Skripsi, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2010)

24

3. Liana Khoerunisa (1423301098, Institute Agama Islam Negeri Purwokerto Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, 2019) dalam skripsinya yang berjudul “Konsep Perdamaian Perspektif K.H. Abdurrahman Wahid Dan Penerapannya Dalam Pendidikan”.59 Adapun persamaan dan perbedaannya sebagai berikut : Persamaan, menggunakan penelitian kulitatif metode deskriptif Perbedaannya, pembahasan tidak terlalu banyak mendeskripsikan, penulisan judul.

4. Moh. Ishamuddin (05370033, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2010) dalam skripsinya yang berjudul “K.H Abdurrahman Wahid (Gusdur) Sebagai Political Man (Studi Ketokohan Gusdur Tahun 1999-2000)”.60 Adapun persamaan dan pebedaannya sebagai berikut: Persamaan, menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, Perbedaannya, hanya sebatas judul dan sedikit banyak pembahasannya.

5. Alfiyyah Nur Lailiyya (D91215047, Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2019) dalam skripsinya yang berjudul “Konsep Toleransi Dalam Pendidikan Islam Perspektif KH. Abdurrahman Wahid”.61 Adapun persamaan dan perbedaannya sebagai berikut: Persamaan, menggunakan penelitian kulitatif dengan metode deskriptif Perbedaannya, hanya sebatas judul dan sedikit pembahasannya.

59 Liana Khoerunisa, Konsep Perdamaian Perspektif K.H Abdurrahman Wahid Dan Penerapannya Dalam Pendidikan, Skripsi, (Purwokerto, FITK IAIN Purwokerto, 2019)

60 Moh. Ishamuddin, K.H Abdurrahman Wahid (Gusdur) Sebagai Political Man (Studi Ketokohan Gusdur Tahun 1999-2000, Skripsi, (Yogyakarta, FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2010)

61 Alfiyyah Nur Lailiyya, Konsep Toleransi Dalam Pendidikan Islam Perspektif KH.

Abdurrahman Wahid, Skripsi, (Surabaya, FITK UIN Sunan Ampel Surabaya, 2019)

25 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. OBJEK DAN WAKTU PENELITIAN

Objek yang dibahas dalam penelitian ini adalah Konsep Pendidikan Perdamaian KH. Abdurrahman Wahid dalam Perspektif Pendidikan Islam.

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa bulan, yakni terhitung dari bulan Juni 2021 sampai dengan bulan Desember 2021.

B. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. “Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang di tujukan untuk mendeskripsikan dan menganilisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.”62

Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode deskriprif analisis yang menggunakan tehnik analisis kajian melalui studi kepustakaan (Library Research) karena mengulas terkait tokoh yang sudah wafat, penulis mengutip dari karya ilmiah yang beliau tulis juga wawancara terkait komunitas The Wahid Institute dan Gusdurian dengan dalih melengkapi Judul yang penulis pakai yaitu Pendidikan Perdamaian KH. Abdurrahman Wahid dalam Perspektif Pendidikan Islam.

Karena penelitian ini merupakan library research, maka sumber data pada penelitian ini adalah berbagai literatur yang berkaitan dengan subjek serta sumber terkait baik fiksi maupun non fiksi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Maman,

“Sumber data penelitian kualitatif ialah tindakan dan perkataan manusia dalam suatu latar yang bersifat alamiah. Sumber data lainnya ialah bahan-bahan pustaka, seperti: dokumen, arsip, koran, majalah, jurnal ilmiah, buku, laporan tahunan dan lain sebagainya”.63

62 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. ke-31, hlm. 60

63 U. Maman Kh, dkk., Metodologi Penelitian Agama Teori dan Praktek, (Jakarta: Raja Grafindo Persada Press, 2006), hlm. 80

26

C. FOKUS PENELITIAN

Menurut Sugiyono, “Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus, yang berisi fokus masalah yang masih bersifat umum.”64

Dengan melihat pendapat Sugiyono, maka penulis mencantumkan apa yang ada dalam batasan masalah menjadi fokus penelitian dalam penulisan ini, yaitu mengenai konsep pendidikan perdamaian KH.

Abdurrahman Wahid dalam perspektif pendidikan Islam.

Dengan demikian dalam penelitian ini penulis bermaksud mengkaji tentang konsep pendidikan perdamaian KH. Abdurrahman Wahid dalam perspektif pendidikan Islam.

D. SUMBER DATA

Penulis akan memadukan data yang diperoleh dari sumber primer dan sekunder untuk memperkaya pemabahasan pada kajian teori dan hasil dari penelitian ini.

a. Data dari sumber primer diperoleh dari buku Dialog Peradaban Untuk Toleransi dan Perdamaian karya Kh Abdurrahman Wahid

& Daisaku Ikeda: mengurai pokok-pokok perdamaian dunia.

b. Sedangkan data yang diperoleh dari sumber sekunder ialah wawancara oleh salah satu pendiri The Wahid Institute mas Ahmad Suaedy, berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian, jurnal-jurnal terkait, serta buku- buku tentang pendidikan perdamaian dalam perspektif pendidikan Islam.

64 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods), (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm.287.

27

E. TEKNIS ANALISIS DATA

Analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode/tanda, dan mengkatagorikannya, sehingga diperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab.65

Dari data-data yang terkumpul akan dibahas dengan metode deskriptif analisis, yaitu metode pembahasan masalah dengan cara memaparkan atau menguraikan masalah secara teoritis, untuk kemudian menganalisisnya dalam rangka mendapatkan kesimpulan yang tepat.

Metode penarikan kesimpulan dipakai pola deduktif maupun induktif. Metode deduktif adalah cara penarikan kesimpulan yang dimulai dari masalah yang bersifat khusus, sedangkan induktif adalah metode penarikan kesimpulan yang dimulai dari fakta-fakta yang bersifat khusus ditarik pada kesimpulan yang bersifat umum.

65 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), hlm. 209

28

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. BIOGRAFI KH. ABDURRAHMAN WAHID

1. Riwayat Hidup

KH. Abdurrahman Wahid dilahirkan pada tanggal 4 Sya’ban atau bertepatan dengan 7 September 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur.

Beliau adalah anak sulung dari enam bersaudara pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Meskipun beliau lahir pada tanggal 7 September, teman-teman dan keluarga beliau merayakan ulang tahun beliau pada tanggal 4 Agustus 2000. 66 Perbedaan persepsi ini karena tahun yang menjadi acuan pada masa itu yaitu Tahun Hijriah.

Gambar 4.1

Foto K.H Abdurrahman Wahid

KH. Abdurrahman Wahid yang akrab di sapa Gus Dur, kata Gus adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiyai laki-laki yang berarti mas. Beliau dihormati sebagai pangeran yakni cucu

66 Greg Barton, Biografi Gusdur: The Authorized Biography Of Abdurrahman Wahid, (LKis Yogyakarta, 2003), hlm. 1

29

dari Hadratus Syekh Kyai Hasyim Asy’ari pendiri organisasi islam terbesar berasaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah NU dan Gusdur dinisbatkan sebagai pewaris kedua organisasi islam terbesar di dunia.67

Kedua kakek Gus Dur KH Bisri Syansuri dari pihak ibu dan dari pihak bapak KH hasyim Asy’ari beliau sangat dihormati dikalangan NU baik karena peran mereka dalam mendirikan NU pada tangal 31 Januari 1926/ 16 Rajab 1344, maupun karena posisi mereka sebagai ulama.

Sebagian besar pesantren menjadi bagian dari longgar NU. Nahdhatul Ulama, yang berarti Kebangkitan Para Ulama, adalah organisasi Islam tradisional yang terkuat, baik di Jawa maupun di luar Jawa, seperti Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Kekuatan terbesar NU terletak di Jawa Timur, khususnya di kota Jombang, yang merupakan kota kelahiran keluarga Gus Dur, baik dari pihak ayah maupun ibu. 68

KH. Wahid Hasyim ayah dari KH Abdurrahman Wahid yang menjadi Menteri Agama pada era pemerintahan Presiden Soekarno juga dihormati oleh masyarakat menengah kota karena kedekatannya dengan gerakan nasionalis yang memimpin perjuangan revolusioner melawan penjajah Belanda setelah akhir Perang Dunia II. 69

Selain lahir dari keluarga pendiri NU, Gus Dur adalah salah seorang tokoh intelektual Indonesia yang menonjol dan sangat disegani. Salah satu aspek yang fleksibel dipahami dari Gus Dur adalah bahwa beliau penyeru pluralisme dan toleransi, pembela kaum minoritas. Gus Dur dipahami sebagai muslim non-chauvinis, sebagai figur yang memperjuangkan diterimanya kenyataan sosial bahwa Indonesia itu beragam. Gus Dur adalah

67 M.Khoirul Hadi, Abdurrahman Wahid dan Pribumisasi Pendidikan Islam, Hunafa:

Jurnal Studia Islamika, Vol. 12, No. 1, Juni 2015, hlm. 186-187

68 Op.cit, Greg Barton, hlm. 26

69 Ibid

30

orang yang bangga sebagai seorang muslim, beliau sangat mencintai kebudayaan Islam tradisionalnya dan juga pesan umat Islam itu sendiri.70

Tidak mudah untuk di sangkal oleh siapapun, Gus Dur adalah ikon pembaharuan pemikiran dan kehidupan sosial dalam dunia Muslim, khususnya di Indonesia hari ini. Menurut beliau seluruh pengetahuan manusia sah untuk dipelajari dan diambil manfaatnya bagi kemanusiaan.71 Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di situbondo. mukhtamar tersebut di kukuhkan sampai ke 28 di Krapyak Yogyakarta, dan di cipasung Jawa Barat pada tahun 1994.72 Setelah dua priode, Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden ke-4.

Setalah mengucapkan sumpah Presiden, Gus Dur menyatakan, “Kita harus mempertahankan keutuhan negara kita dihadapan negara lain yang terkadang menganggap ringan perasaan dan harga diri kita. Ini bukan tugas ringan, ini tugas berat. Apalagi karena kita sedang didera oleh perbedaan paham yang besar oleh longgarnya ikatan-ikatan bangsa.73 20 Oktober 1998 Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4.74

Periode awal dalam kepimpinan Presiden Abdurrahman Wahid saat yang paling penuh kesibukan. Ia sendiri telah memiliki banyak rencana mengenai apa yang mesti dilakukan dalam rentang waktu jangka pendek, mulai dari melanjutkan economic recovery yang belum tuntas, penyelesaian konflik horizontal masyarakat dan ancaman disintegrasi yang melanda

70 Ibid, hlm xxii

71 Husein Muhammad, Samudra Kezuhudan Gus Dur, (Yogyakarta: DIVA Press, 2019), hlm. 24

72 Muhammad Zakki, Gus Dur Presiden Republik Akhirat, (Sidoarja: Masmedia Buana Pustaka, 2010), hlm 7

73 Virdika Rizky Utama, Menjerar Gus Dur, (Jakarta: PT. NUmedia Digital Indonesia, 2020), hlm. 107

74 M. Hamid, Gus Gerr Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa, (Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2010), hlm. 53

31

beberapa wilayah domestikasi peranan militer, penegakkan HAM, sampai dengan membuka ruang partisipasi dan otonomi masyarakat secara lebih luas dengan meminimalisir keterlibatan negara.75 Sebulan pertama pemerintahannya ditandai dengan eskalasi masalah Aceh yang semakin meningkat. Belum lagi tuntutan otonomi khusus yang diminta oleh berbagai provinsi. Di Riau, sebagian Sulawesi dan irian jaya tuntutannya bukan lagi otonomi, melainkan kemerdekaan yang terlepas dari pemerintahan pusat di Jakarta.76

Setelah 2 tahun menjabat sebagai presiden. Pada tanggal 23 Juli 2001 MPR secara resmi mengundurkan Gus dur dan menggantikan wakilnya. Karena Gus dur mengeluarkan dekrit pembekuan terhadap MPR dan DPR untuk menghindarkan terjadinya pergantian presiden secara inkonstitusional.77

Pada tanggal 30 Desember 2009 tepat hari rabu beliau wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pukul 18.45 WIB akibat komplikasi penyakit yang dideritanya sejak lama. Menurut Salahuddin Wahid adiknya Gus Dur beliau wafat akibat sumbatan pada arteri, seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta beliau sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur. K.H Salahudin Wahid yang akrab dipanggil Gus Sholah bertemu Gus Dur terakhir kali di Jombang sepekan sebelum wafatnya yaitu ketika Gus Dur sedang berziarah ke makam keluarganya. Gus Dur bilang kepada Gus Shalah “Dik, mengko tanggal 31 jemputen aku nang kene!” (Dik, nanti tanggal 31 jemput saya disini).78

75 Khamami Zada, Neraca Gus Dur Dipanggung Kekuasaan, (Jakarta: LAKPESDAM, 2002), hlm. 34

76 Hermawan Sulistio, Darah, Nasi, dan Kursi, (Jakarta:Pensil 324, 2011), hlm. 48-49

77 Angela Ervina, Rachmat Kriyantono, Maulina Pia Wulandari, Kontroversi Gaya Komunikasi Politik Presiden K.H Abdurrahman Wahid, Jurnal Ilmu Komunikasi MEDIAKOM Vol. 02 NO. 02 Tahun 2019, hlm. 95

78Muhammad Rifai, Gus Dur Biografi Singkat 1940-2009, (Jogjakarta: GARASI, 2017), hlm. 50

32

2. Latar Belakang Pendidikan

Sebagai keturunan seorang kiyai yang di segani di masyarakat Jawa, Gus Dur sejak kecil berada di lingkungan pesantren. Pada tahun 1944 Gus Dur belajar mengaji dan membaca Al-Qur’an pada sang kakek K.H. Hasyim Asy’ari, kemudian Gus Dur pindah dari Jombang ke Jakarta mengikuti ayahnya. Gus Dur masuk ke Sekolah Dasar KRIS yang sebelumnya pernah pindah dari SD Matraman Perwari. 79

Di samping kakek dan ayahnya, ada beberapa guru yang membentuk kepribadian dan pemikiran Gus Dur yaitu Kiai Bisri Sansuri, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Khudori Tegal Rejo Magelang yang merupakan tokoh-tokoh perintis NU, sedangkan guru yang lain yaitu Kiai Junaidi yang merupakan salah satu anggota majlis tarjih organisasi Muhammadiyah dan KH Ali Maksum dari pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Pada tahun 1953 Gus Dur sekolah di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak Jogyakarta. Pada tahun 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambak Beras di Jombang. Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajar di Pesantren Tegalrejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini di asuh oleh K.H Chudhari, sosok kiyai spiritual, humanis, dan shaleh yang memperkenalkan Gus Dur pada dunia sufistik dan mengenal ziarah ke makam-makam kramat para wali di Jawa.80

Setelah menghabiskan waktu dua tahun di Pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang dan tingal di Pesantren Tambak Beras.

Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji, kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar.81

79 Op. cit, Muhammad Zakki, Gus Dur Presiden Republik Akhirat, hlm. 2

80 Ibid. hlm 3

81 Ibid

33

Pada tahun 1963 beliau melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar Kairo, Mesir tepatnya di Department of Higher Islamic and Arabic Studies. Dari Kairo, beliau pindah ke Baghdad, Irak pada tahun 1970 mengambil jurusan sastra di Universitas Baghdad. Di Universitas Baghdad inilah beliau mengenal karya-karya tokoh terkemuka seperti Email Durkheim. Bahkan selama di perpustakaan Universitas Baghdad inilah ia menemukan informasi sejarah lengkap tentang Indonesia.82

Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademisnya ke sejumlah negara Eropa, dari satu universitas ke universitas lainnya, diantaranya Jerman dan Prancis. Dan terakhir beliau tinggal di Belanda selama sekitar enam bulan, dan sempat mendirikan perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia. 83

Sekalipun demikian, pengembaraan inteluktualnya tidak bisa dikatakan gagal, sebab sekalipun beliau lebih banyak belajar di luar bangku kuliah, namun ia pandai menyerap apa yang ada di dalam buku yang di bacanya kemudian merangkainya dengan berbagai hal yang didapatkannya dari luar. 84

3. Karya Tulis

Selain beliau berkiprah untuk empat pilar yakni untuk Islam, Indonesia, NU, dan keluarga. Beliau juga tekun dalam membuat karya intelektual sejak awal 1970 hinga akhir 1990. Karya intelektual beliau tersebar dalam berbagai bentuk tulisan. Karya intelektual dalam bentuk buku sebanyak 12, 1 buku terjemahan, 20 kata pengantar, 1 epilog buku, 41 antologi buku, 105 bentuk tulisan dalam bentuk kolom, 50 makalah, 263 artikel yang tersebar di majalah, surat kabar, jurnal dan media massa.85

82 Moch. Tohet, Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid Dan Implikasinya Bagi Pengembangan Pendidikan Islam Di Indonesia, Jurnal Pendidikan Agama Islam edureligia, Vol. 1, No.2, 2017, hlm. 181

83Ibid, hlm 182

84Ibid

85 Syamsul Hadi, KH. Abdurrahman Wahid Guru Bangsa, Bapak Pluralisme, (Jombang:

34

Penulis hanya memaparkan karya tulis beliau dalam bentuk buku, yaitu sebagai berikut:86

a. Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian, (Jakarta: Gramedia, 2010) buku ini membahas tentang dialog beliau dengan Presiden Soka Gakkai International Dr. Daisaku Ikeda. Paparan dua tokoh dalam buku ini menunjukkan pentingnya ketinggian etika dalam berdialog. Mereka saling memberikan informasi, saling mengisi. Keduanya juga memuji satu sama lain. bapak Ikeda memberikan banyak pujian kepada Gus Dur sebagai tokoh perdamaian dan Hak Asasi Manusia. Sementara Gus Dur membalas, “Orang yang saya hormati adalah orang yang memiliki semangat pantang menyerah walau apapun yang terjadi. Bagi saya bapak Ikeda adalah salah seorang yang saya hormati sebagaimana sosok orang tersebut.” Ini merupakan pengakuan dan pujian yang luar biasa.

b. Gus Dur Bertutur (Jakarta: Harian Pro Aksi, 2005), Dikumpulkan Alvian Muhammad dan Helmi Jacob.

c. Gus Dur Hanya Kalah dengan Orang Madura (Harian Bangsa, 2001), Dikumpulkan M. Mas`ud Adnan.

d. Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman (Jakarta: Kompas, 2010) e. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat (Jakarta: Kompas, 2007).

f. Islam Kosmopolitan (Jakarta: Wahid Institute, 2007).

Buku ini menyatakan bahwa berbagai peristiwa sosial, politik, dan budaya yang menyisakan konflik harus didekati dengan kacamata sosiologis dan pengertian yang bijak. Bukan malah memposisikan agama sebagai pihak yang terpenjara dan melemahkan fungsi agama dalam ranah sosial. Agama menurutnya tetap menemukan sisi progresivitasnya. Terutama setelah ia berhadapan dengan realitas sosial yang berbalik arah dengan misi universalitas agama, seperti memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban menegakkan keadilan.

Zahra Book, TH). hlm. 17

86Di kutip dari Media Sosial Gusdurian Jakarta,.

35

Kontekstualisasi Islam atau istilah yang sering disebut Gus Dur pribumisasi Islam pada hakekatnya bekerja secara dialogis dengan kebudayaan lokal yang telah ada.

g. Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Yogyakarta: Wahid Institute, 2006).

h. Islam, Negara, dan Demokrasi: Himpunan Percikan Perenungan Gus Dur (Jakarta: Erlangga, 1999)

i. Kiai Nyentrik Membela Pemerintah (Yogyakarta: LKiS, 1997, 2000, 2010).

j. Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser (Yogyakarta: LKiS, 2002).

k. Melawan Melalui Lelucon: Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid Di Tempo (Jakarta: Tempo, 2000)

l. Membaca Sejarah Nusantara: Membaca 25 Sejarah Kolom Gus Dur (Yogyakarta: LKiS, 2010).

Selain beliau sebagai seorang kiai, negarawan, budayawan, tokoh politik, beliau juga seorang akademisi yang memberikan perhatian yang cukup besar terhadap maju mundurnya pendidikan Islam, politik, dan sebagainya. Gus Dur yang terkenal humoris akan jokes-nya memiliki makna mendalam, baik berupa kritik maupun pengalaman-pengalaman yang telah di alami semasa hidupnya, humor-humornya pun di bukukan, karena humor yang di bawakan di samping lucu, merupakan humor yang sarat dengan pandangan dan pemikirannya.

4. Pilar Utama

Sembilan pilar utama Gus Dur yang dirumuskan oleh komunitas Gusdurian merupakan basis perjuangan dan pemikiran Gus Dur. Pemikiran dan perjuangannya dirumuskan kedalam sembilan pilar utama Gus Dur.

Berikut penulis akan sebutkan 9 nilai-nilai utama Gus Dur yaitu:87 a. Ketauhidan

87 Muhammad Aqil, Nilai-nilai Humanis Dalam Dialog Antar Agama Perspektif Gus Dur, Jurnal Al-Adyan Journal Of Religious Studies, Vol. 1, No. 1, Juni 2020. hlm. 59

36

Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah SWT sebagai yang maha ada, satu-satunya Dzat hakiki yang Maha Cinta Kasih, yang disebut dengan berbagai nama. Ketauhidan didapatkan lebih dari sekedar diucapkan dan dihafalkan. Tetapi juga disaksikan dan sikapkan. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang di perjuangkan Gus Dur melampaui kelembagaan dan birokrasi agama.

Ketauhidan yang bersifat Ilahi itu diwujudkan dalam prilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

b. Kemanusiaan

Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat tuhan. Kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati.

Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Demikian merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta.

c. Keadilan

Keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang di perlakukan tidak adil, merupakan tanggung jawab moral kemanusiaan.

d. Kesetaraan

Kesetaraan meniscayakan adanya perlakuan yang adil, hubungan sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat.

e. Pembebasan

Semangat pembebasan hanya dimiliki oleh jiwa ayng merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik. Dengan nilai pembebasan ini, Gus

37

Dur selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dari manusia lain.

f. Kesederhanaan

Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan prilaku hidup wajar dan patut. Kesederhaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakoni sehingga menjadi jati diri.

Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, materialistis, dan koruptif.

g. Persaudaraan

Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradaban.

h. Keksatriaan

Bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan mencerminkan integritas pribadi:

penuh rasa tanggung jawab atas proses yang dijalankan dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah.

Keksatriaan yang dimili Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjadi proses, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya.

i. Kearifan tradisi

Bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan tradisi Indonesia diantaranya berwujud pada dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, serta seluruh tatanan nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. Gus Dur menggerakkan kearifan tradisi dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Dokumen terkait