• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan yang dikonsepkan untuk anak berkebutuhan khusus adalah pendidikan inklusi, melalui pendidikan inklusi anak yang memiliki kebutuhan khusus dapat ikut serta belajar bersama dengan teman sebayanya di sekolah reguler (Ilahi, 2013: 23). Pendidikan inklusi tidak hanya terfokus pada kekurangan atau keterbatasan anak berkebutuhan tetapi lebih terfokus pada kelebihan maupun potensi dalam diri anak tersebut agar dapat lebih berkembang (Ilahi, 2013:28). Anak yang memiliki kebutuhan khusus memiliki kelebihan dan potensi yang berbeda-beda, oleh sebab itu pendidikan inklusi diharapkan sebagai wadah untuk menuntun anak berkebutuhan khusus mengembangkan kelebihan dan potensi yang mereka miliki. Demi menunjang kelancaran proses pengembagan potensi setiap peserta didik khususnya anak berkebutuhan khusus, penyelenggaraan pendidikan inklusif yang sudah ditetapkan Direktorat PSLB 2004 menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian, baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik. Selain penyesuaian kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan maupun sistem pembelajaran, guru merupakan perantara dalam memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan setiap anak dan khususnya anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, guru harus memiliki keterampilan dan pengetahuan. Pendidikan inklusi ini ditujukan untuk anak yang memiliki kebutuhan khusus supaya anak dapat memeroleh kesempatan dalam menerima pendidikan yang bermutu sesuai dengan potensi dan kebutuhan yang dimiliki, selain itu juga dapat memerangi diskriminatif dalam pemerolehan pendidikan.

Layanan pendidikan yang dapat ditempuh anak berkebutuhan khusus adalah sekolah inklusi. Sekolah inklusi merupakan penyelenggara pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus dan memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan bersama

2

dengan peserta didik pada umumnya. Dewasa ini, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus masih perlu perhatian agar dapat melakukan proses pembelajaran di sekolah reguler. Penyelenggaraan pendidikan inklusi telah ditetapkan oleh pemerintah dalam Permendiknas No 70 tahun 2009 pasal bahwa setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/ atau bakat istimewa berhak mengikui pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengaan kebutuhan dan kemampuannya. Anak berkebutuhan khusus dapat menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) atau sekolah inklusi.

Sekolah luar biasa merupakan lembaga yang menerima jenis anak berkebutuhan khusus yang sama sehingga terdapat SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunadaksa, SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda. Sekolah inklusi ialah sekolah umum yang juga menerima anak berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar yang sama. Permendiknas No 70 tahun 2009 pasal 4 menetapkan bahwa setiap kecamatan harus menunjuk paling sedikit satu sekolah dasar dan satu sekolah menengah pertama untuk menyelenggarakan

pendidikan inklusi.

Sekolah inklusi dalam penyelenggaraannya harus memenuhi delapan aspek yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, kedelapan aspek tersebut adalah 1. Penerimaan Peserta Didik Baru; 2. Identifikasi; 3. Adaptasi Kurikulum (Kurikulum Fleksibel); 4. Merancang Bahan Ajar dan Kegiatan Pembelajaran yang Ramah Anak; 5. Penataan Kelas yang Ramah Anak; 6. Asesmen; 7.

Pengadaan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran Adaptif; 8. Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran. Penyelenggaraan sekolah inklusi tak lepas dari pentingnya adaptasi kurikulum yang diselenggarakan sekolah. Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengartikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan penegetahuan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

Kurikulum penting untuk menata arah dan tujuan kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak didik tanpa mengabaikakn hak-haknya yang belum

3

terpenuhi. Setiap kurikulum yang dikembangkan hendaknya memahami karakteristik dan tingkat kebutuhan anak dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga tidak terkesan mendapatkan tekanan psikologis yang bisa memengaruhi mental mereka. Kurikulum merupakan bagian penting dari setiap perencanaan pendidikan yang memengaruhi arah dan tujuan anak didik dalam lembaga pendidikan. Arah dan tujuan pendidikan yang hendaknya dicapai tidak bisa terlaksana dengan sendirinya tanpa adanya perecanan yang matang dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka (Ilahi, 2013:168). Kustawan (2013:109) memaparkan penyusunan kurikulum fleksibel seyogyanya dilakukan oleh Tim Pengembang Kurikulum di sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling (konseslor), guru pembimbing khusus, orang tua, dan ahli (profesional) lainnya sesuai kebutuhan misal psikolog dan terapis.

Sekolah penyelenggara inklusi harus mampu melaksanakan adaptasi kurikulum dalam penyelenggaraan sekolah inklusi. Adaptasi dilakukan dengan penyesuaian unsur-unsur dalam kurikulum nasional. Pihak sekolah juga harus mampu menyusun kurikulum fleksibel sehingga kurikulum yang disusun sesuai dengan kebutuhan dengan karakteristik dan kebutuhan anak.

Berdasarkan penelitian Suharsiwi (2016) mengenai adaptasi kurikulum menunjukkan hasil kurikulum yang diterapkan masih belum sepenuhnya menggunakan model pendidikan inklusi. Anak berkebutuhan khusus di SD Semut-semut rata-rata berada di kelas regular antara 50% sampai dengan 75%, sebagian waktu lainnya adalah di kelas LSD (Learning Support Department), dan belajar secara individual atau sekitar 3-4 anak. Adaptasi kurikulum dilihat dari kemampuan yang ada pada anak, itulah yang akan dikembangkan, meski kemampuan tersebut masih terbatas. Kata lain, penelitian yang dilakukan oleh Suharsiwi (2016) mengenai Adaptasi Kurikulum Pendidikan Inklusi Siswa dengan Hambatan Sosial Emosional di Sekolah Dasar Semu-semut menunjukkan bahwa sekolah masih mengalami kendala dalam menerapkan kurikulum yang sesuai dengan pendidikan inklusi.

4

Penelitian Suharsiwi (2016) di salah satu sekolah inklusi belum dapat menerapkan salah satu aspek penyelenggaraan sekolah inklusi, yaitu belum menggunakan model pendidikan inklusi dikarenakan faktor-faktor atau masalah tertentu yang dihadapi sekolah maupun guru. Latar belakang di atas sebagai salah satu alasan bagi peneliti melakukan penelitian mengenai salah satu aspek penyelenggaraan sekolah inklusi di salah satu sekolah dasar di wilayah Kota Yogyakarta. Peneliti akan mengangkat judul “Adaptasi Kurikulum di Sekolah Dasar Inklusi: Studi Deskriptif”.